Minggu, 11 Oktober 2015

Album Mama (6-7)



Cerbung  ALBUM  MAMA (6)
Oleh aminuddin

LUSANYA ….
Aku membaca kisah berikutnya.  Inilah kisahnya 
PADA zaman Rasulullah SAW masih hidup, karena kesal dan baru saja bertengkar, seorang laki-laki menghardik isterinya sambil keluar dari rumahnya.
“Kamu tidak boleh keluar kamar sebelum aku pulang.”  Laki-laki itu pun berangkat meninggalkan isterinya unuk melakukan perjalanan ke luar daerah.
Sedangkan sang isteri, karena menaati perintah suaminya, selama kepergian laki-laki itu tidak berani keluar dari rumahnya. Semua keperluan sehari-hari dia beli dari dalam rumah. Untuk ke pasar saja ia terhalang oleh perintah suaminya sebelum berangkat .
Sudah dua hari laki-laki itu belum pulang. Isteri yang patuh itu hanya bisa menunggu dari balik pintu saja. Tiba-tiba, ketika hari hampirrr sore dan perempuan tersebut sedang termangu-mangu mengharap kan kedatangan suaminya, muncullah bayangan laki-laki dari jauh. Ia tengah berjalan cepat-cepat dan dengan tergopoh-gopoh menuju ke tempat perempuan tadi, dan ternyata adalah familinya yang tinggal di kampung tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.
Karena bukan muhrim, meskipun laki-laki itu masih termasuk keluarganya, perempuan tersebut tidak berani membukakan pintu. Pantang bagi seorang isteri yang taat menerima tamu pria sendirian ketika suaminya tidak ada di rumah.
“Saya lihat engkau tergesa-gesa sekali. Ada kabar apa dari rumah?” Begitu tanya perempuan tadi setelah menjawab salam laki-laki yang baru datang itu.
“Bapakmu sakit payah,” kata laki-laki tersebut. “Engkau diharapkan segera datang karena ada pesan bapak yang akan disampaikan kepadamu.”
“Innalillah …,” pekik perempuan itu kaget.
Dia bingung bapaknya sakit payah. Satu-satunya orang tua baginya setelah sang bunda meninggal dunia beberapa waktu yang lewat.  Dan orang tua ini agaknya ingin bertemu dengan si anak sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun ia terikat oleh larangan suaminya agar jangan keluar rumah.
Manakah yang harus diberatkan? Perintah suamikah atau harapan bapaknya?
Karena   ia tida bisa memutuskan dengan ceroboh, maka ia minta tolong kepada utusan bapaknya itu.
“Coba kau tanyakan kepada Rasulullah, bapak sakit payah, sedangkan suamiku, sebelum berangkat, berpesan agar saya jangan keluar rumah. Apa perkataan Rasulullah, itulah yang akan saya kerjakan.”
Kemudian pergilan si utusan adi kepada Rasulullah SAW. Setelah diceritakan masalah itu, Nabi SAW berkata, “Sampaikanlah kepada fulanah agar dia taati perintah suami.”
Kembalilah si utusan kepada perempuan itu menyampaikan amanat Nabi. Maka pulanglah si utusan ke kampugnya dengan tangan hampa.
Malam itu fulanah tidur denga gelisah. Terbayang wajah bapaknya yang kurus dan ceking. Terngiang perintah suaminya yang harus dia taati. Ketika pagi-pagi ia terbangun, dengan harap-harap cemas menantikan  kedatangan suaminya, agar bisa berangkat  ke kampung setelah mendapat izin, sia-sia. Karena yang tampak muncul adalah laki-laki yang kemarin. Makin pucat fulanah.
“Jangan- jangan …”
Betul. Apa yang dikhawatirkan terjadi.
“Bapakmu meninggal dunia dengan tenang tadi malam,” demikianlah berita yang didengarnya dari utusan itu.
Menetes air mata fulanah sambil mulutnya menggumam, “Innalillah wa inna ilaihi roji’un …”
“Dan kalau kau ingin berjumpa, sekaranglah waktunya,” sambung si utusan.
“Tapi suamiku belum pulang,” jawab fulanah dengan sedih. “Coba tolong tanyakan kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat beliau.”
Maka pergilah laki-laki itu menemui  Rasulullah SAW. Begitu tiba kembali, fulanah buru-buru bertanya.
“Bagaimana?”
“Beliau berpesan agar engkau taat kepada perintah suami,” jawab utusan tersebut.
Sekali lagi si utusan pulang ke kampung dengan sia-sia.
Sehabis Zuhur, ketika fulanah tengah berdiri di balik pintu mengharap-harap kepulangan suaminya, si utusan datang kembali. Dari luar dia berkata, “ Bapakmu akan segera dimakamkan. Apakah kau tidak ingin melihatnya buat terakhir kali?”
Fulanah hanya meneteskan air mata sambil menggeleng.
“Pulanglah engkau, tanamkanlah jenazah bapak baik-baik. Aku tidak bisa hadir karena suamiku belum pulang juga.”
Hingga pagi esoknya suami fulanah belum juga pulang. Baru setelah menjelang sore tampak bayangan tubuh yng dinanti-nantikan itu dari kejauhan. Fulanah segera bersiap-siap. Badan rambutnya dia rapikan sementara masakan buru-buru dipanaskan kembali.
Begitu suaminya masuk, fulanah menyambut  dengan tawa. Dibiarkan suami membersihkan badan, istirahat dan makan malam. Setelah itu barulah fulanah berkata:
“Bang, bapak saya kemarin meninggal dunia.”
Laki-laki itu tampak terkejut sekali.
“Innalillah …,” serunya.
“Dan kau sudah melawat?”
Fulanah menggeleng.
“Tidak Bang, karena engkau berpesan sebelum pergi agar saya tidak keluar rumah sebelum engkau datang,” jawab isteri yang taat itu dengan sabar.
“Astaghfirullah ..” seru si suami menyesal.
Dia merasa bersalah telah menghamburkan larangan dengan gegabah karena menuruti ajakan hawa marah. Maka pada kesempatan lain dia menghadap Rasulullah SAW menyampaikan penyesalannya.
Nabi berkata:
“Kali ini engkau tidak berdosa,karen tidak sengaja dan sudah menyesal. Itu adalah pelajaran bagimu agar dalam keadaan marah sekali pun jangan kau patuhi dorongan hawa nafsu. Sedangkan isterimu, dia betul-betul calon penghuni surga karena taatnya kepada suami.” (bersambung)



Cerbung  ALBUM  MAMA (7)
Oleh aminuddin

USAI salat Magrib dan santap malam, pintu kamarku diketuk dari luar. Kudekati pintu dengan penuh rasa ingin tahu, dan ….
“Mama?!”
Bermimpikah aku. Wanita yang berdiri di depanku saat ini adalah ibuku, yang telah meninggal
dunia dua tahun yang lalu. Kupeluk erat dia. Ada sesuatu yang dia bisikkan di telingaku.
“Teman-teman mama sudah menunggmu, Nak.” Katanya.
Aku tercenung. Tak lama. Hanya beberapa menit. Lepas itu, setelah mengenakan busana muslimah kesukaanku, kami berdua menuju ruang depan samping  kanan gedung tempatku bermalam.
Tepuk tangan riuh terdengar. Kusalami satu-satu wanita teman ibuku.  Aku kenal mereka sebenarnya, tapi cuma lewat buku sejarah dan cerita.
Siapa mereka?
Banyak. Tak bisa kusebutkan satu persatu. Yang kuingat cuma RA Kartini, Fatmawati, Ainun Habibie, Cut Nya’ Dien, Cut Mutia, Maria Walanda Maramis, Dew Sartika, Kristina Martha Tiahahu. Ny Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang dan Hajjah Rasuna Said.
Kemudian juga kuingat Indira Gandhi, Benazir Butho,  Ratu Elizabeth 1, Irene Juliot- Curie, Margaret Mead, Barbara Mc Clintock,  Grace Brewster Murray Hopper, Mari Gaeppeat-Mayor, Ratu Makare Hatshepsut, Debora,  Sappho, Aspasia, Cleopatra VII, BUnda Maria, Boadicea, St. Helena, Zenobia, Hypatia, Theodora, Eleanor dari Aquitaine, Ratu Tamara,  Ratu Margaret, Joan dari ARC, Isabella I, Ratu Jinga, Emilie Du Chatelet dan Caroline Herschel.
Menyusul Elizabeth Fry, Sacajawea, Maria Agustin, Charlotte Bronte, Emily Bronte, Ratu Victoria, Flo rence Nightingale, Lakshmi Bai, Jane Addams, Marie Curie, Alce Hamilton, Rosa Luxemburg, Julia Mor gan, Eleanor Roosevelt, Agatha Christie, Golda Meir, Mother Teresa, Anne Frank, Anna Freud, Suster Elizabeth Keny, Mary Kingslay, Clara Barton dan Louisa  May Alcot.
Kudipersilakan naik ke podium untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, tentunya diawali tepk tangan yang meriah dan tiada henti  selama kurang lebih lima menit.
Inilah petikan uneg-unegku …
“Lima ratus tahun sebelum masehi, Cariolan, seorang prajurit Romawi, memberontak kepada peme rintah masa itu. Cariolan adalah seorang prajurit yang besar sekali jasanya kepada Negara. Tetapi ia merasa kurang mendapat penghargaan dari pemerintah.  
Cariolan pernah memita suatu kedudukan dalam pemerintahan, namun permintaannya itu tidak dika bulkan, sebab tidak sesuai  dengan kecakapan yang dimilikinya. Penolakan itu dianggapnya sebagai tind akan yang tidak menghargai dirinya yang telah cukup berjasa itu. Oleh karena itu ia memberontak.
Pemberontakan yang dilakukan Cariolan sungguh menggelisahkan masyarakat dan pemerintah. Rakyat tidak tentram dan senantiasa merasa terancam oleh keganasannya. Pemerintah sudah kehabisan akal untuk menumpas pemberontakan itu. Tentara dan polisi sudah dikerahkan semuanya, tetapi Cariolan belum juga dapat ditaklukkan.
Kemudian digelarlah musyawarah guna mencari akal untuk menangkap Cariolan. Akhirnya dalam musya warah itu timbul pikiran untuk meminta ibu Cariolan  menasihati anaknya  agar menghentikan perbua tan buruknya itu, sebab eah mengganggu ketentraman masyarakat dan negara.
Ibu Cariolan meluluskan perminaan itu. Ia pergi menemui putranya. Cariolan dinasihatinya baik-baik, dan akhirnya dengan mudah Cariolan menyadari kesalahan dan keburukan perbuatannya itu. Cariolan kembali ke jalan yang benar, dan sejak itu ia meninggalkan jalan sesat yang telah ditempuhnya itu.
Alangkah mudahnya mengamankan negara dari ancaman seorang pemberontak, dengan cukup me ngirimkan ibunya untuk menasihati si pemberontak. Betapa sukarnya kita memercayai peristiwa Cari olan ini bila kita lihat keadaan zaman yang telah kita alami sekarang ini. Sungguh banyak Cariolan abad ini di msyarakat kita sehingga pemerintah dengan segala daya dan usahanya tak dapat menghentikan perbuatan jahat mereka.
Telah dicoba oleh pemerintah kita untuk menundukkan mereka dengan jalan menggunting rambut gon drong di tempat-tempat umum, menggunting celana-celana sempit di jalan umum, menggunting rok ke tat serta macam-macam hukuman lainnya. Tetapi ternyata setelah berubah malah semakin parah. Main ngebut terus berlangsung, pakaian mini tak berhenti dipakai, pelanggaran dan kejahatan susila tak kunjung lenyap.
Sudahkah pemerintah kita meminta bantuan ibu para Cariolan itu?
Telah berhati-hati pemerintah meminta bantuan para ibu, tetapi ternyata si ibu tidak mendapatkan telinga anaknya. Kata dan nasihat si ibu keluar bagaikan angin yang lalu, tanpa kesan perubahan. Maka lihatlah apa rahasia yang terjadi pada Cariolan dahulu.
Cariolan adalah seorag yang masih mau menyediakan telinganya untuk mendengarkan kata-kata ibunya. Ia masih menaruh hormat dan khidmat kepada ibunya. Ibunya masih memliki wibawa teradap anaknya. Dan dengan wibawanya itu, Cariolan dapat kembali disadarkannya.
Sesungguhnya kebejatan akhlak, keruntuhan moral dan budi, meningkatnya kejahatan di kalangan pemudapemuda tanggung, pelanggaran kesusilaan lainnya yang merupakan kemesuman-kemesuman dalam masyarakat kita ini berpokok pangkal pada ilangnya wibawa sang ibu.  Akibatnya tidak ada lagi yang disegani sang Cariolan; tidak ada lagi yang ditaati dan dikhidmati, dan karenanya ia bebs berbuat segala macam keburukan.  
Bila wibawa sang ibu hilang, akan hilang rasa hormat dan khidmat si anak terhadap orang tuanya. Kata-kata dan nasihatnya tidak mendapatkan telinga, perintah serta larangannya tidak dihiraukan atau dira sakan anaknya sebagai penghalang untuk kemajuan dirinya, sebab bertentangan dengan nafsunya.
Memang tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa akan kiamat, akan hancur dunia, bila ibu-ibu telah melahirkan majikannya. Ibu bapak yang telah memelihara dan mengasuhnya sejak ke cil telah dirasakan oleh anaknya sebagai bantuan atau perlakuan yang semestinya wajar sebagaimana halnya seorang khadam atau pelayan kepada majikannya. Tidak perlu lagi majikannya berterima kasih, justru memandangnya sebagai risiko dan kewajiban  “seorang manusia yang mau menyediakan dirinya menjadi ibu atau bapak.”

Bila demikian, apakah maksud dari kata-kata “surga di bawah telapak kaki ibu  “ dan hadist  yang me nyatakan “’uququl walidain’ atau durhaka kepada ibu bapak itu, yang pasti akan dibuktikan dengan siksaan sebagai akibatnya selama masih hidup di dunia alam fana ini?
Penghormatan dan kedudukan yang diberikan kepada seseorang, sesungguhnya bersangkutan dengan tanggung jawabnya. Tanggung jawab itulah yang menentukan kedudukan dan penghormatan yang di berikan. Bila tanggung jawab tidak ada maka penghormatan dan kedudukan itu akan hilang dengan sendirinya.
Demikian pula halnya kedudukan dan penghormatn yang telah diberikan Allah SWT dan Rasul-Nya ke pada sang ibu berdasarkan tanggung jawabnya , yang berkemampuan untuk meyahudikan, menasra nikannya, memajuzikannya, dan bahkan meng-cross-boy-kannya dan meng-cross-girl-kannya.
Bila tanggung jawab itu sudah  tidak dipikul lagi dengan jalan memberi contoh dan teladan kepada sang anak dan bimbingan yang wajar, maka kedudukan dan penghormatan yang diberikan itu dengan sendirinya i akan hilang.
Gandhi, seorang pemimpin India yang terkenal,  kala menyatakan penghormatan kepada ibunya per nah berkata,  “ dari ibu saya yang buta huruf dan tidak pernah duduk di pergruan tinggi, saya mendapat pendidikan dan pengajaran untuk menjadi seorang warga negara yang baik.”
Untuk para ibu yang bertanggung jawab atas kehormatan anak-anaknya, Islam memberikan
kedudukan dan penghormatan yang tinggi.” (TAMAT)


Sumber Bacaan:
1.       Risalah Wanita oleh KHE Abdurrahman
CV Sinar Baru Bandung, Cetakan  I, 1988
2.       Kisah-kisah Teladan oleh MB Rohimsyh AR
Karya Agung Surabaya, Cetakan I, 2003
3.       Petunjuk Membangun dan Membina Keluargs menurut Ajaran Islam oleh Sukamto Nuri, BA
Al-Ikhlas Surabaya, 1981
4.       Panduan Ibu Muslim oleh Sim Mikhbar
Zahra Publishing House, Cetakan 2, 2008
5.       Ibu, Dengarkan Aku Oley Dra V. Dwiyani
6.       Elex Media Komputindo 2002
7.        








  

Kamis, 08 Oktober 2015

Album Mama (5)



Cerbung ALBUM  MAMA (5)
Oleh aminuddin

ESOKNYA kubermimpi membaca kisah isteri yang berkhianat. Dikisahkan, pada zaman Nabi Isa diutus menjadi seorang Rasul, orang-orang Yahudi sedang tergila-gla dengan ilmu ketabiban. Maka oleh Allah SWT, Nabi Isa dibekali mukjizat yang sanggup menundukkan mereka, yaitu kemampuan menyembuh kan penyakit,  parah sekalipun. Bahkan ia bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati.
Suatu ketika Isa Al-Masih sedang berkelana. Ketika melewati sebuah kuburan, ia melihat ada seorang lelaki menelungkupi sebuah makam yang masih merah tanahnya. Laki-laki itu menangis terguguk-guguk sambil meratap.
Nabi Isa mendekat pelan-pelan dan menyapa. Laki-laki itu menengok, memperhatikan siapa yang datang. Ia tidk dikenal. Maka kembali ia tertelungkup dan makin hebat saja tangisnya.
“Kenapa kau tangisi kuburan itu, wahai saudara?” Tanya Nabi Isa.
Sambil terisak-isak orang itu berkata , “yang berada dalam kuburan ini adalah isteriku.”
“Dia sudah meninggal, mengapa masih kau ratapi juga? Apa tidak ada perempuan lain?”
Laki-laki itu mendongak. “Perempuan memang banyak. Tapi yang seperti dia tidak ada. Coba bayangkan, dia begitu setia pada suami. Mana parasnya cantik, pipinya merah seperti apel, dan selalu hangat kepadaku. Baru dua bulan kami kawin. Kami sedang saling mengasihi satu sama lain. Teryata harus menanggung derita kehiduan semacam ini, coba.”
Nabi Isa tertunduk. Lalu dengan penuh keyakinan serta kasih sayag ia berkata, “Bagaimana kira-kira kalau isterimu bisa hidup lagi?”
Laki-laki itu terperanjat. Ia berteriak, “Aku akan bersujud kepada Allah lebih khusyuk dari pada sebelumnya.”
Nabi Isa pun menyuruh orang itu minggir. Berkatalah Nabi Isa kepada sang kuburan. “Ya ahlal qubur, qumi bi idznillah! Hai penghun kubur, bangkitlah dengan izin Allah!”
Serentak bumi terbelah, dan muncullah seorang laki-laki tinggi besar, kuitnya hitam legam.  Begitu berdiri  dihadapan Nabi Isa, laki-laki itu pun berikrar: “Asyhadu alla ilahaillallah, wa asyhadu anna isa rasulullah.”
Nabi Isa bertanya kepada suami yang ditinggal mati isterinya itu. “Apakah dia isterimu?”
Laki-laki itu menjawab, “Bukan, demi Alllah,  dia bukan isteriku.”
“Jadi siapa kamu?” Tanya Nabi Isa kepada orang yang baru bangun dari kubur itu.
“Saya adalah seorang pembunuh dan pemerkosa   yang mati kafr,” jawab bekas mayat tersebut. “Tapi sekarang saya beriman kepadamu.”
Karena bukan orang itu yang dimaksud, dia pun mati kembali. Namun keuntungannya, sekarang yang bersangkutan mati dalam keadaan beriman.
“Yang mana kuburan isterimu?” Bertanyalah Nabi Isa kepada sang duda itu.
“Tadi rupanya keliru. Pastilah yang ini. Tidak salah lagi,” jawabnya sambil menunjuk kuburan yang berada di sebelahnya.
Dengan sabar Nabi Isa berdiri menghadap kuburan itu dan berkata: “Ya ahlal qubur, qumi biidznillah!”
Kuburan itupun terbelah, lalu keluarlah seorang perempuan yang sangat cantik sambil tersenyum manis. Begitu melihat suaminya, isteri yang telah terpisah oleh maut itu langsung memelukny a dengan mesra. Lantas, sambil bergandengan tangan, mereka pulang ke rumah setelah mngucapkan terima kasih kepada Nabi Isa as.
Setibanya di rumah, mereka duduk-duduk di depan rumah. Si suami tiduran berbantalkan paha isterinya. Saking kesyikan, akhirnya si suami terlelap.
Ketika sang suami terlelap, tidur mendengkur, lewatlah seorang pengendara kuda yang gagah dan tampan. Dia adalah sang pangeran, putra raja. Pangeran itu melirik kea rah kedua suami isteri yang sedang bermesraan tersebut.
Alangkah cantiknya perempuan itu, pikir pangeran seraya mengedipkan mata dan tersenyum kepada isteri laki-laki itu. Perempuan ini pun berpikir yang sama. Betapa gagah dan kukuhnya pangeran. Begitu jantan di atas punggung kuda putihnya. Beda benar dengan suamiku yang penyakitan.
Melihat sambutan yang hangat dari perempuan itu, pangeran melambaikan tangan. Bergoyang langit di atas perempuan itu, terlupakan olehnya daratan tempatya berpijak. Tanpa berpikir lebih jauh lagi, disingkirkannya kepala suaminya dengan kasar.
Lelaki itu pun kaget dan terbangun. Dilihatnya sang isteri dibawa kabur oleh seorang laki-laki. Buru-buru ia mengambil kudanya dan mengejar  sambil berteriak-teriak, “Penculik, penculik. Ia melarikan isteriku!”
Pangeran, begitu mendengar terikan itu, menghentikan kudanya. Ia menunggu. Sampailah suami perem puan  tadi di situ. Terjadilah pertengkaran yang hebat di antara mereka. Memperebutkan steri yang kini berubah cintanya itu.
Akhirnya pangeran menyerahkn keputusannya kepada si perempuan.  “Aku bukan isterinya. Aku masih perawan,” ucap perempuan itu membantah keterangan suaminya.
Hancur hati suami yang tadinya begitu meluap-luap cinta dan kasih sayangnya kepada si isteri. Dalam kondisi berputus asa semacam itu, datanglah Nabi Isa. Dengan raut muka gembira, sang suami  menengok ke arah Nabi Isa dan berkata:
“Tuan, dia adalah isteriku yang tadinya sudah meninggal dunia. Namun, setelah tuan hidupkan lagi, dia mengaku bukan isteriku, karena tergoda oleh pangeran yang tampan ini.”
Si  isteri kembali berteriak lantang. “Bukan, aku bukan isterinya! Aku tidak punya suami yang ceking seperti itu.”
Nabi Isa as dengan tenang menjawab. “Baiklah, akan kita buktikan nanti. Kalau kau betul-betul  bukan isterinya, maka engkau pasti akan hidup  senang  dengan sang pangeran,” katanya kepada perempuan tersebut.
“Tapi kalau ternyata kau memang isteriya, maka kau pasti akan mati kembali. Mati seperti semula, sebelum kuhidupkan tadi.”
Begitu selesai Nabi Isa berkata demikian, lepaslah nyawa perempuan durhaka itu. Sekarang dia mati dalam keadaan ingkar kepada suami dan maksiat kepada Allah SWT.   (bersambung)    
       


Senin, 05 Oktober 2015

Album Mama (3)




Cerbung  ALBUM  MAMA (3)
Oleh  aminuddin

Renungan Ketiga ….
“PELIT, cemburu atau iri hati bisa berarti suatu cerminan kerinduan seorang anak untuk dianggap bertanggung jawab dan mampu menjaga hak miliknya. Rasa kurang percaya diri merupakan jawaban atas pertanyaan yang muncul dari dalam hati anak, apakah aku memang  tidak mampu dipercaya?
Perilaku anak-anak kita di luar rumah sering kali menjadi salah satu cara menyalurkan obsesinya. Tidak menutup kemungkinan merupakan cermin dari situasi dan kondisi di dalam rumah kita. Alangkah bijaksananya jika sekali waktu menyempatkan diri untuk mengamati perilaku anak-anak kita sebagai salah satu cara merefleksi diri.
Memang sakit jika kita harus mengakui bahwa anak kita lebih memilih orang lain daripada kita orang tuanya. Sayangnya,  rasa tersaingi dan iri hati lebih banyak menyeret  kita pada perbuatan yang justru memperburuk penilaian anak kita terhadap kita. Kita sering lupa bahwa untuk memperebutkan hati anak kita, kita harus sportif dan akan lebih baik jika kita belajar dari pesaing kita dalam berkompetisi.”

KEPRIBADIAN, independensi, keinginan dan kepercayaan diri, demikian juga keburukan, kehinaan dan ketidk percayaan diri adalah dari sifat-sifat yang dasarnya terbentuk mulai dari buaian kedua oran tua. Orang tua yang tidak memperlakukan anak layaknya seorang manusia (tidak mengganggap keberadaan nya) atau pun tidak menganggapnya sebagai salah seorang anggota keluarga, maka di masa yang akan datang si anak tidak dapat diharapkan memiliki independensi dan kepribadian.
Hendaklah orang tua menepat  janji kepada anaknya. Dalam Islam, menepati janji merupakan salah satu tanda keimanan. Allah SWT berfirman: “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta perta nggung jawabannya.” Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”  (QS Al-Isra’ 34 dan Al-Mu’minuun 8).
Menepati janji adalah salah satu rukun kebahagiaan manusia dan akhlak manusia yang teragung. Dasar dari sifat ini hendaklh dibentuk di masa kanak-kanak. Rasulullah SAW bersabda: “Cintailah anak-anak kalian dan (perlakukanlah  mereka) dengan kasih sayang dan lemah lembut. Dan di saat kalian berjanji kepada mereka, maka tepatilah janji tersebut karena mereka menganggap kalian  sebagai pemberi rezeki bagi mereka.”
Hendaklah orang tua mengontrol hubungan sosial anak dan juga menjauhkannya dari segala aktivitas ya ng dapat membangkitkan insting seksualnya. Ingatlah bahwa rasa ingin tahu anak kecil sangatlah besar. Anak-anak juga selalu ingin mempraktikkan apa yang telah mereka  lihat. Anak-anak sama sekali tidak memikirkan baik-burukny setiap perbuatan.
Jangan meruntuhkan kepercayaan dirinya. Jangan pernah mengatakan kepadanya: “Jangan bodoh,” atau “kamu tak akan bisa” atau “kau tidak punya kemampun seperti dia.”
Hendaklah orang tua berdoa untuk anaknya. Nabi Ibrahim as berdoa meminta anak yang saleh kepada Allah SWT, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. Demikian pula yang diminta oleh Nabi Zakaria as.
Hendaklah orang tua membaca doa dari Imam Zainal Abidin: “Dengan nama Allah yng Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, berkahilah aku dengan kelanjutan hidup anak-anakku, dengan kesempatan mendidik mereka, dengan kesempatan bermain-main dengan mereka.
Ya Allah, panjangkanlah umurku bersama mereka, tambahkanlah usiaku bersama mereka,didiklah yang terkecil di antara mereka untukku.  Kuatkanlah yang terlemah di ntara mereka untukku, teguhkan tubuh, agama dan akhlak mereka. Sehatkannlah tubuh dan segenap anggota badan mereka dan apa saja yang menjadi perhatianku.
Melalui tanganku, limpahkanlah rezeki bagi mereka. Jadikanlah mereka sebagai anak-anakyang bertakwa dan saleh, mendengar da selalu taat kepada-Mu dan para kekasih-Mu, mencintai dan menasihati serta memusuhi dan membenci seluruh  musuh-Mu. Amin.” (bersambung).


Minggu, 04 Oktober 2015

Album Mama (2)





Cerbung Album Mama (2)
Oleh aminuddin

Renungan Dua 
“Sikap dan perilaku anak seringkali mencerminkan suasana keluarga dimana ia dibesarkan. Pengalaman yang dirasakan anak akan membentuk perilakunya, baik pengalaman yang indah maupun pengalaman yang pahit.  Dan pengalaman buruk bisa memotivasi anak untuk berprilaku buruk. Karena itu, perilaku buruk janganlah dihadapi dengan perlakuan buruk juga. Namun,  hadapilah dengan perlakuan yang baik, karena anak akan belajar dari pengalaman yang dirasakannya.”
MASA depan anak tergantung pada pola pengasuhan dan pendidikan yang ia terima.  Ini memiliki hu bungan dengan beberapa faktor, seperti pembentukan budaya keluarga (ayah, ibu, saudara, saudari, paman, bibi dan seluruh kaum kerabat), lingkungan belajar, lingkungan masyarakat, lingkungan kerja, pemerintahan, kualitas dan kuantitas pengajaran.
Faktor-faktor ini mempunyai hubungan positif antara satu dengan yang lainnya. Dari setiap sisi, seluruh faktor itu bertanggung jawab atas pengajaran dan pendidikan manusia. Dari sudut pandang ini, tang gung  jawab ayah dan ibu terhadap  anaknya lebih penting dan melebihi yang lainnya. Tentunya, pe ranan para ibu memiliki tempat yang khusus bagi dirinya. Karena akhlak dari anggota masyarakat berhubungan erat dengan akhlak para ibu.
Aktivitas etika, sosial dan budaya ibu sangat berdampak pada anaknya, dapat menjadikan anaknya itu seorang manusia yang madani dan maknawi ataupun sekadar ciptaan dan robot. Kekerasan-kekerasan, tidak perhatian dengan dasar-dasar etika sosial, dan pelanggaran-pelanggaran, banyak memiliki hubungan dengan pola pikir seorang ibu.
Suatu masyarakat sapat menjadi penuh cinta ataupun tanpa perasaan, beradab maupun biadab, semua itu bergantung pada individu-individu di dalamnya, yang menyerap warna perilaku dari ibu-ibu mereka.
Perdamaian dn peperangan jug erat kaitannya dengan keluarga, terutama ibu. Perlakuan seseorang terhadap keluarganya, baik kasar maupun penuh kasih sayang, amat tergantung pada peran sang ibu di masa kecilnya.
Salah satu kekhususan tanggung jawab ayah dan ibu adalah kebersamaan mereka sepanjang masa  kehidupan anak-anak mereka, yang cakupannya adalah masa sebelum kelahiran anak (yakni masa pemilihan pasangan, menetapnya sperma, masa penetrasi dan masa kehamilan), kelahiran serta  masa kecil anak-anak, baligh, remaja, perkawinan anak, dan pengawasan serta pemberian petunjuk (arahan) di masa perkawinan.
Di antara seluruh masa yang telah disebutkan, masa sebelum kelahiran adalah masa yang amat sensitif. Masa itu seperti batu bata pertama yang akan menjadi bangunan pedidikan yang jika diletakkan  tidak lurus dan benar maka  bangunan akan mengalami kerusakan yang sangat. Dan perbaikan bangunan seperti  ini sangatlah sulit dan pelik -- untuk tidak mengatakannya mustahil.
Oleh karena itu, pihak pertama yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak adalah ayah dan ibu. Hendaknya mereka sedini mungkin memberikan perhatian dalam pendidikan anak. Hendaklah para orang tua memiirkan pendidikan anak mereka, agar anak-anak merekaini  menjadi orang-orang yang taat dan takut kepada Allah SWT.
Selain masalah giz (makanan), penting juga bagi para orang tua untuk mengawasi dengan ketat apa-apa saja yang didengar dan dilihat – yang masuk ke otak – sang anak. Satu ucapan kotor dan pemandangan yang buruk sudah cukup menggelincirkan  serta memalingkan seorang anak dari jalan yang lurus.
Masa kanak-kanak memiliki peran yang luar biasa. Pendidikan yag benar dan salah adalah mata air pen ting bagi baik dan buruknya seluruh umur seseorang.  Seorang manusia selama hidupnya berbuat atas dasar akhlaknya sementara akhlak dan perilakunya terbentuk di masa kecilnya.
Dari minggu-minggu pertama kelahiran, saat-saat pemberian susu dan makanan, hari-hari dimana anak menjalani hidupnya dalam buaian kekerasan dan kekasaran ataupun cinta dan kasih sayang memberikan dampak kepada roh (jiwa) sang anak.
Jadi, hal penting yang harus diperhatikan bagi pendidikan anak yang saleh adalah bahwa ayah dan ibu harus benar-benar menjaga perilaku mereka. Karena seluruh sikap dan ucapan mereka menjadi contoh bagi anak dan akan membentuk kepribadiannya kelak. (bersambung)