Jumat, 30 September 2016

Kampung Kami (2)



Novel  Lepas
Kampung Kami (2)
(Edisi Kedua)
By Mang Amin

I
HUUUP …
Melompat tanpa bersuara dari atas pohon dua lelaki bertopeng dan  berpakaian serba hitam dengan pedang di tangan ala Ninja, siang menjelang sore di hutan perbukitan.
Ki Saleh, seorang pemuda dari kampung nan jauh, menghentikan langkahnya. Sorot matanya masih me mandang lurus ke depan. Tapi dengan mata batinnya dia melihat dua lelaki tegap siap menyerangnya dari arah belakang.
“Maaf Ki sanak … Apa maksud kalian berdua hendak menyerang saya?” Ki Saleh memutar badannya. Kini ia berhadapan langsung dengan dua lelaki asing di depannya.
“Jangan banyak tanya,” kata keduanya serempak dengan nada mengancam.
Hiyaaaat …
Kedua lelaki bertopeng itu pun menyerang secara bersamaan dari arah kiri dan kanan. Ki Saleh menghin dar dengan melompat ke atas pohon, lalu melompat lagi ke pohon yang lain. Setiap kali dia melompat, ranting pepohonan yang ia injak hancur lebur terkena sabetan pedang.
Triiing … deep …
Sebuah pisau kecil nyaris mengenai kepala Ki Saleh. Menunduk sedikit, itu pisau menancap di batang pe pohonan.  Sampai  belasan pisau menancap di batang pohon yang kokoh besar itu.
“Sekali lagi saya tanya, kenapa Ki sanak ingin membunuh saya?” Ki Saleh melompat dengan bersalto ke bawah pohon.
Dia ketawa lebar.
“Sebaiknya urungkanlah niat kalian berdua untuk membunuh saya. Anda berdua bukan level saya. Masih ingusan,” ejek Ki Saleh.
“Kurang ajar …”
Hiyaaat …
Sambil koprol, dua lelaki yang sudah terpancing emosi itu mengayunkan pedang ke arah Ki Saleh. Kedua nya yakin pria yang kini berdiri di depannya ini bakal mampus dengan leher terputus. Sayang itu tidak terwujud.
Kenapa?
Karena saat mata pedang siap menebas habis kepala Ki Saleh, yang bersangkutan dengan cepat menun dukkan kepalanya sambi memperagakan jurus Kaki Memutar. Jurus ini berkekuatan dahsyat. Selain ten dangan memutar menyusur tanah secepat kilat menyambar, juga meluluh-lantakkan apa saja yang ada di sekitarnya.
Triiing … Guaaar …
Lawan terpental. Pedang pun jatuh. Kini sudah berpindah tangan pada Ki Saleh.
“Gimana Ki sanak. Mau coba lagi?” Ki Saleh melemparkan pedang itu ke dekat dua lelaki yang masih memendam amarah itu.
“Bangsaaat … Cuma segitu sudah sombongnya minta ampun,” kata salah seorang dari keduanya, ber postur tubuh pendek.
“Rasakan jurus ini …”
Si Pendek dan si Tinggi bergantian melompat ke atas pohon. Lalu menghilang. Tiba-tiba sudah berada di belakang Ki Saleh. Agak lengah, tendangan geledek yang dilepaskan keduanya secara beruntun, membuat Ki  Saleh jatuh tersungkur.
Untunglah Ki Saleh masih bisa menghindar dengan bergerak ke kanan setelah kedua lawannya itu me ngarahkan mata pedang tepat ke dada dan perut. Andaikata saja tidak cepat mengelak, Ki Saleh bakal tewas secara tragis dan mengerikan.
Dari balik batu tempat dimana ia sembunyi saat ini, Ki Saleh masih menunggu serangan berikutnya dari si Pendek dan si Tinggi. Keduanya secara  membabi buta melepaskan panas beracun. Hanya beberapa sentimeter melintas di atas kepala lawan mereka,  dengan gerak refleksnya berhasil  menunduk sambil mundur beberapa langkah ke belakang.
“Hai tengik. Keluarlah! Jangan jadi pengecut,” teriak si Tinggi, teman si Pendek dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Duuup … Praaak …
Sebuah batu mengenai belakang kepala si Pendek. Sakit rasanya. Bukan hanya tajam dan runcing di depan, itu batu begitu cepat datangnya, tepat saat lawan berusaha mendekati  semak perbukitan.
“Oi salah. Aku di sini.  Bukan disana.” Teriak Ki Saleh . Rumput panjang di sebelah kanan bergerak-gerak.
“Itu dia … seraaang!” Ucap si Pendek. Sebuah anak panah dilepaskan, mengenai  rumput yang setelah didekati ternyata menempel di tanah tempat tumbuh rerumputan.
“Kampret. Kena tipu kita,” ujar si Pendek kesal dan jengkel.
“Hei manusia tengik. Jangan terus-terusan sembunyilah. Jangan suka menipu orang. Tak baik dan tak boleh dilakukan oleh petarung,” sindir si Tinggi.
Craaash .. Kreceeet …
Sabetan pedang  Ki Saleh berhasil memutus tali celana si Tinggi.  Melorot hingga ke kaki. Karena kaget, si Tinggi berusaha menaikkan celana itu. Keburu ditarik Ki Saleh dengan mata pedangnya.
Hua ha ha ha …
“Kolor lu bagus juga,” olok Ki Saleh .
“Kurang ajar. Dasar tak pernah diajar …”
Si Tinggi malunya minta ampun. Kendati tak ada seorang wanita pun di sana, dilihat si Pendek saja dia sudah tak enak hati. Apalagi sampai diolok-oloki Ki Saleh.
 Tak terima rekannya dipermalukan, si Pendek mengeluarkan jurus Sapu Jagat.   Batu-batu pada pecah, rumput dan semak belukar tercabut dari tanah.  Jurus ini diawali dengan tiupan angin kencang disertai percikan api yang keluar dari pukulan tangan si Pendek.
Hua ha ha ha …
“Mampuslah kau kutu busuk,” ucap si Pendek yang ikut membantu memakaikan celana rekannya, si Tinggi, sehingga sudah bisa bercelana lagi.
Ha ha huhu ha ha huh u …
“Kalian berdualah yang kutu busuk,” balas Ki Saleh dari arah belakang.
Keduanya serempak menoleh. Saat itulah Ki Saleh mengangkat tinggi badan keduanya, lalu dilempar sekuat tenaga ke dekat pohon besar.
Gedebuk … Duuup …
Eeeegh …
Si Tinggi dan si Pendek, keduanya jatuh terguling dengan kedua punggung membentur batang pohon. Mengerang kesakitan.
“Dek … tolooong.” Erang si Tinggi, meminta tangannya ditarik agar bisa berdiri. Sayangnya, si Pendek tak bisa berbuat banyak. Seluruh persendiannya tiba-tiba kaku, lemas dan tanpa daya. Jangankan menarik tangan  rekannya , menggerakkan kedua kaki dan tangannya saja, dia tak kuasa.
“Maaf Ting. Bukan aku tak mau menolongmu. Tapi aku juga tak bisa menggerakkan anggota badanku ….”
“Kenapa, apa kau lumpuh?”
“Tak tahulah aku. Badan terasa lemas dan mati daya,” aku si Pendek. Hanya bisa pasrah dengan keadaannya saat ini.
“Kita tak boleh begini terus, Dek. Kita harus kuat …”
Si Tinggi dengan semampu daya merapatkan badannya ke batang pohon. Dia berusaha jongkok, dan itu bisa ia lakukan. Lalu, dengan kedua tangannya, kanan menekan tanah,  kiri memegang batang pohon, di semangati si Pendek, bisa berdiri akhirnya.
Tapi masih harus bersandar di batang pohon. Nafasnya turun nai tak teratur. Mengas. Sedangkan si Pendek merayap dekat kaki si Tinggi.
“Ting. Bantu aku berdiri …! Katanya penuh harap.
“Kau pegang saja celanaku,” kata si Tinggi.
“Nanti melorot lagi,” ujar si Pendek.
“Enggak,” kata si Tinggi. “Cobalah dulu .. pasti bisa. Cepatlah …!”
“Oke …”
Hiiiip …
Dua tiga kali  tangan itu berusaha meraih celana yang dikenakan si Tinggi.
Breeet …
Ha ha ha ha …
Ki Saleh tertawa lebar. Celana si Tinggi kali ini bukan hanya melorot, tapi terlepas dari ikatannya dan robek belah dua.
“BUsyeeet. Rasakan ini …”
Si Tinggi mengerahkan jurus Gadis Merayu. Tapi belum sempat jurus itu ‘meluncur’, Ki Saleh sudah lebih dulu mengurungnya dengan jurus Pagar Kilat. Kaki dan tangan si Tinggi dan si Pendek seolah dipaku. 
“Menyerahlah sebelum terlambat,” ucap Ki Saleh, mendekati keduanya, lalu berbisik di telinga si Tinggi.
“Kalian menyerah, aku pergi …”
“Kalau kami tak mau?” Tanya si Pendek dengan suara nyaris tak terdengar.
“Aku akan pergi juga …”
“Masa bodoh,” kata si Tinggi ketus. Malu dan kesal jadi satu.
“Daaaagh …”
Ki Saleh masih tertawa. Sedangkan si Tinggi dan si Pendek  hanya membisu. Mulut terkunci rapat, anggota badan tak bisa bergerak.
Semalaman mereka berdua di bawah pohon. Hujan turun mereka basah kuyup. Perut lapar. Tak seorang pun yang lewat di sekitar tempat itu.
Hanya sayup-sayup terdengar suara lolongan anjing hutan dan srigala dari kejauhan, balik hutan perbuki tan. Tak satu pun bintang yang tampak menghiasi indahnya angkasa. Bulan sempat timbul, lalu hilang lagi bersamaan turunya hujan lebat tadi.
Keduanya terlelap dengan caranya sendiri-sendiri. Si Tinggi bersandar di batang pohon. Sedangkan si Pendek menggeletak di tanah. Pulas nian tidur mereka.
“Banguuuun …
“Banguuun …”
Keduanya bangun dengan perasaan sangat malu karena yang membangunkan mereka berdua adalah Ki Duren, pemimpin perguruan silat Lampu Merah, sekaligus guru si Tinggi dan si Pendek.

II
“LHO … Tinggi, Pendek. Kenapa kalian ada di sini?” Sapa Ki Duren, pemimpin perguruan (padepokan) silat Lampu Merah, bersama dua anak muridnya hendak menghadiri ulang tahun Perguruan Lampu Hijau.
“Guru …?!”
Kaget bercampur malu. Sang Guru memerintahkan dua anak muridnya, Karim dan Mamat melepaskan jeratan di badan  Pendek dan  Tinggi.
Selanjutnya Sang Guru melanjutkan perjalanannya ke Selatan. Karena dia tak ingin terlambat menghadiri undangan teman dekatnya, Ki Semangka. Kehadirannya sangat penting, di antaranya untuk membahas perkembangan  dunia persilatan saat ini.
“Dasar goblok. Harusnya kalian lapor. Jangan diam saja,” bentak Karim, membuat si Tinggi dan si Pendek nyaris terkencing di celana.
“Goblok itu bagi-bagi dong,” ejek Mamat, teman seperguruan Karim.
“Maafkan kami, Kak. Kami telah berusaha untuk menghabisinya, tapi tidak bisa.” Terang si Tinggi dengan nada pasrah.
“Kalian gagal artinya kan?”
“Bukan, Kak. Cuma ….” Sahut si Pendek.
“Cuma apa? Cuma … cuma …”
“Cuma belum  berhasil,” aku si Tinggi.
Hik … hik … hik …
“Hei … kenapa kamu tertawa haaa?” Sergah Mamat.
“Tidak kenapa-kenapa, Kak. Ketawa saja.”
“Bohong … ngakulah, kenapa?” Sempat ditarik kerah bajunya, keburu dilerai Karim.
“Anu Kak. Lucu aja dengar si Tinggi ngomong belum berhasil. Walaupun sebenarnya kami memang bukan gagal, tapi belum berhasil …”
“Tahu hukuman bagi yang gagal?” Mamat bertanya.
“Belum, Kak,” jawab si Pendek sambil menundukkan mukanya.
Sejenak Mamat dan Karim berembuk. Setelah itu mereka kembali menghampiri adik seperguruannya itu.
 “Siap menerima hukuman?”
“Siap Kak.”
“Laksanakan …!”
“Siap, Kak.”
Si Tinggi dan si Pendek disuruh berjongkok. Keduanya belum tahu hukuman apa yang bakal mereka terima sebentar lagi. Yang mereka tahu cuma 
Kreeek … eeeet.
Adowww …
Rupanya mereka harus menggendong Karim dan Mamat sampai ke lokasii perguruan silat Lampu Hijau. Mereka tidak membayangkan akan berjalan sambil menggendong, melewati hutan, jalan mendaki dan menurun serta bebatuan.
Sementara Ki Duren sendiri telah sampai di kompleks perguruan Lampu Hijau. Dia disambut hangat sobat kentalnya, Ki Semangka. Mereka berpelukan erat. Tertawa, saling tepuk-menepuk pundak.
“Lama kita tak  ketemu, padahal perguruanku dan perguruanmu tak pula jauh lokasinya,” kata Ki Semangka saat keduanya memasuki ruang pertemuan dekat tanah lapang tempat siswa perguruan Lampu Hijau berlatih.
“Ya. Aku juga heran, kenapa sesama kita seperti orang yang baru kenal saja,” ucap Ki Duren.
“Mungkin kita jarang bertemu kali,” ujar  Ki Semangka. Mempersilakan Ki Duren memasuki pintu kecil menuju ruang pertemuan.
“Mungkin Ki Semangka. Karena kalau tidak ada perayaan atau hajatan, kita tak pernah bertemu …”
“MUdah-mudahan saja pertemuan kita kali ini bisa mengobati sekaligus memuaskan rasa rindu bersua sesama kita …”
Keduanya tertawa.
Di lain tempat …
“Istirahat dulu, Kak.” Kata si Pendek, kelelahan.
“Aku juga, Kak.” Ucap si Tinggi dengan nafas tersengal-sengal.
“Badan saja yang tinggi,” ejek Karim, duduk bersandar di batang pohon bersama Mamat. Sedangkan si Pendek dan si Tinggi masih terlentang kepayahan di atas rerumputan dekat perbukitan.
Langit cerah. Hari sudah beranjak siang. Tengah hari. Tak ada tanda-tanda hujan bakal turun. Suara cicit burung bersahut-sahutan. Angin bertiup kencang, membuat Karim dan Mamat diserang kantuk hebat.
Keduanya pun terlelap.
Beberapa saat kemudian …
“Ting … Ting, bangun!” colek si Pendek yang baru saja bangun dari tidurnya.
“ ‘Ntar lagi ah,” jawab si Tinggi, membalikkan badannya ke kanan dengan mata masih terpejam.
“Tinggi .. cepat bangun.” Pendek lebih keras lagi mencoleknya.
“Kamu dululah mandi sana. ‘Ntar aku menyusul. Payah amat kamu Dek …”
Tiga kali dicolek tak mempan, si Pendek menggelitiki ketiak sobatnya itu berkali-kali.
Ssssst …
Si Pendek buru-buru menutup mulut si Tinggi yang hendak mengucapkan sesuatu, entah apa …
“Diam …” Bisik si Pendek.
“Kenapa?” Tanya si Tinggi dengan berbisik pula.
“Kita lari saja yuk!” Ajak si Pendek.
“Lari kemana?”
“Kemana saja. Pokoknya lari. Mumpung mereka masih tidur ngorok,” kata si Pendek.
Karim dan Mamat, keduanya tertidur pulas. Sama-sama beradu kepala dan merebah ke pundak, mulut ‘ngangap’, kaki menjolor sedangkan tangan melipat ke perut.
Terdengar suara dengkur. Andaikata tidak diganggu hembusan angin, dengkur keduanya jelas terdengar puluhan meter dari tempat mereka melepas lelah dan pejamkan mata saat ini.

“Kalau ketahuan gimana Dek?” Si Tinggi ragu karena selain tidak ada jalan di sekitar  mereka, juga mereka bisa saja tersesat   karena sudah lama tidak melewati hutan perawan ini.
“Sudah … ayooo!”
Tarik menarik. Satu kali tarikan kencang dari si Pendek membuat si Tinggi sempoyongan, lalu bergegas mengikuti ke mana kaki si Pendek melangkah.
Lima belas menit kemudian,  Karim dan Mamat terjaga dari tidur mereka. Mamat terkejut melihat si Tinggi dan si Pendek sudah tidak ada lagi di tempat mereka tadi.
“Kemana ya mereka?”
Mamat berdiri. Lalu berjalan mendekati tempat Tinggi dan Pendek mengaso tadi. Dia tengok ke depan, tak ada siapa-siapa. Ke belakang, hanya hutan membentang luas. Lihat ke kiri dan kanan.  Deretan ba tang pepohonan yang berjejer tidak teratur.
“Rim … Rim.” Membangunkan rekannya Karim yang masih bermalas-malasan untuk bangun, apalagi berdiri dan siap mencari keberadaan dua adik seperguruan mereka.
“Sudah kamu cari?”
“Sudah semuanya, Rim.  Mereka pada enggak ada,” jelas Mamat
“Menurut kamu, kemana ya mereka larinya?”
“Kalau enggak ke Utara, pasti ke Selatan. Aku kira …”
“Oke. Kita segera berangkat,” kata si Karim penuh semangat.
Sementara si Tinggi dan si Pendek sebentar lagi bakal sampai di markas perguruan Lampu Hijau. Menyi sa kan  setengah kilometer lagi.  Tapi, karena jalan yang dilalui penuh lika-liku, keduanya harus  memu tar.  Selain lebih aman juga tidak menimbulkan banyak risiko, seperti diganggu binatang hutan.
Sebaliknya Karim dan Mamat, agar lebih cepat menemukan jejak Tinggi dan Pendek, terpaksa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Mirip aksinya Tarzan, penguasa hutan belantara. Bedanya tidak me ng gunakan tali dan berayun-ayun.
Sialnya, meski sudah lebih dari sepuluh pohon berhasil  dilompati, keduanya belum juga menemukan orang yang mereka cari.
“Jadi bagaimana Mat, menurutmu?” Karim menyeka peluh di lehernya sambil duduk di ranting pepohonan besar dan kokoh.
“Tidak ada jalan lain selain kita harus dapatkan mereka. Sebab, jika kita tidak menemukan mereka, kita bakal habis kena marah guru,” kata si Mamat beralasan.
“Terus menurutmu, kita harus cari kemana lagi, Mat?”
“Kita cari saja terus. Sebab, aku yakin mereka pasti akan menyusul guru, Ki Duren.”
“Untuk apa?”
“Untuk menjelaskan semuanya,” terang Mamat.
“Maksudmu tentang kita?”
“Bukan. Tapi orang asing yang telah menyandera mereka di pohon itu.
Karim terdiam.
“Lalu?”
“Ya paling tidak, mereka berdua mengharapkan pengampunan dari guru. Bahwa mereka telah bekerja, gagal dan berhasil, itu urusan dan pertimbangan guru.
“Tapi Mat, aku kuatir. Mereka juga akan menceritakan tentang kita …”
Ha ha ha ha ha …
“Itu sih gampang, Rim. Bilang saja kalau kita telah dikadali mereka,” jelas Mamat. Belum juga reda katawanya.
“Terus …”
“Kita lompat lagi …”
Huuuup
Dari satu pohon ke pohon satunya. Dekat jaraknya, sehingga tak begitu susah untuk melompat. Tak berapa lama mereka sudah tiba di muara bukit.
Sreeeut … sreeet …
“Awas Dek. Ada ular di atas kepalamu,” teriak si Tinggi menunjuk ke batang pohon. Ada seekor ular bergelantungan di ranting pepohonan. Badannya besar.
Ciiiiis … ciiiiis …
“Merangkak saja,” saran si Tinggi.
Si Pendek menggerakkan kaki kanannya, tapi menyangkut di sela dua batu besar.
“Mundur sedikit, tarik ke atas kakimu …”
Mundur setengah meter. Si Pendek menggerak-gerakkan kakinya. Sakit terasa.  Lecet sedikit, digeser ke kanan, lalu …
Greseeeeak …
Bisa akhirnya.  
“Cepaaat!”

Si ular mulai perlahan turun. Dengan tenaga yang masih tersisa, si Tinggi menarik sekuat mungkin lengan
Rekannya sejak kecil itu. Berhasil melewati akar  pohon yang menghadang, lalu dengan satu kali tarikan kuat, Pendek seolah melompat sampai ke rerumputan jalan setapak.


III
SEORANG pendekar muda berlari mengitari lapangan tanah rerumputan beberapa kali. Dia mendapat tepuk tangan meriah. Kepalanya gundul, rambut panjang berkuncir, tak pakai baju dan bercelana panjang dengan alas kaki sepatu karet hitam.
“Lucu ya Ma!” Ujar seorang bocah berusia lima tahun pada ibunya kala melihat sang pendekar berlari mengelilingi lapangan sambil bersalto, melompat dan menendang.
Sang bocah datang bersama ibunya, satu dari sekian banyak undangan yang hadir guna menyaksikan atraksi memeriahkan HUT perguruan silat Lampu Hijau. Keduanya duduk sopan bersama ibu-ibu yang lain di dekat pintu masuk utama gerbang perguruan.
“Ma, boleh tidak Tile seperti abang pendekar itu?” Tanya si bocah penuh harap sang bunda memenuhi keinginannya.
“Boleh sayang, tapi apa Tile sudah tahu caranya. Abang itu kan berlatih dulu sebelum tampil agar saat tampil memuaskan penonton. Kita-kita ini sayang …”
“Memang susah latihannya ya Ma?”
“Iyalah sayang. Coba Tile tengok abangtu. Gerakannya bagus, tak ada yang salah. Lincah dan tangkas kan.” Sang Bunda  memeluk anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang, menciuminya dan sejenak mengajaknya bercanda sambil memandang abang pendekar beraksi.
Sang pendekar, setelah mengitari lapangan, memberi hormat kepada penonton dengan membungkuk kan badannya, penonton kembali bertepuk tangan. Sesaat kemudian,  si pendekar melemparkan bola ke atas, secepat kilat dia melompat, lalu menyundul bola itu. Kemudian ditendang lagi, disundul sampai puluhan kali.
Yang membuat penonton takjub saat rekannya sesama pendekar muda muncul ke lapangan. Menahan sundulan, justru terpental saking kencang larinya bola. Bergegas bangun, lalu menendang itu bola seken cang mungkin. Oleh si pendekar, bola itu ditangkap menggunakan lehernya.
Pleeeek …
Bola menyangkut di lehernya, persis di bawa dagu. Setelah bola menyentuh tanah, penonton bertepuk tangan manakala itu bola berhasil dia ‘mental’kan lewat ilmu tanaga dalam. Ditangkis rekannya dengan menyilangkan kedua tangan, melambung ke atas, ditangkap dengan kepala, lalu disundul   ke pendekar satunya.
Duuup … buuul.
Sampai dua puluh kali keduanya saling melempar bola dengan kepala. Menyundul dalam posisi kaki di atas tanah, gingkang, melompat, salto dan berdiri kembali di atas tanah lapang. Bola akhirnya berhenti di tengah, sang pendekar dan rekannya memberi hormat sebagai tanda berakhirnya pertunjukan silat jurus ‘Bola Api.’
Berikutnya ditampilkan jurus ‘Angin Berbisa.’ Mula-mula satu pendekar keluar dari sebuah pintu menuju tengah lapangan. Disusul sepuluh rekannya yang berlari rapi, berdiri dengan memutar sambil membungkukkan badan.
HIyaaaat …
Pendekar utama melompat ke kanan. Kesepuluh rekannya mengelilinginya dengan mempertontonkan jurus ‘Tangkap Sama-sama.’ Kedua tangan bergerak silih berganti ke depan, kiri, kanan, atas dan bawah. Siap menyerang.
HUsyaaaaa …
Kesepuluh pendekar muda menyerang bersama-sama. Si pendekar utama melompat menghindari  ke pungan itu, lalu dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, sudah berdiri membelakangi kesepuluh lelaki tak berambut itu.
Huuuup …. Sreaaang.
Dari telapak tangannya keluar gumpalan menyerupai bola, lalu dilepaskan, memecah membentuk angin. Menerjang kesepuluh pendekar, dibuat terpental amat jauh.
Karena sudah terlatih, mereka masih bisa berdiri. Kembali menyerang pendekar utama dengan cara berlari sekuat mungkin sambil mengepalkan tinju.
Krataaak … buuuum.
Si pendekar utama memutar badannya sambil melepaskan tendangan dahsyat. Bukan telapak kaki itu yan bikin penyerang terjengkang, tapi dari telapak kaki itu keluar asap dan asap itu kemudian menggum pal sebelum menghantam lawan.
 Gruduuuuk … gaaaam ..
Kesepuluh pria berpostur tinggi dan langsing itu jatuh berguling-gulingan di tanah. Celana yang mereka kenakan berlobang-lobang, bahkan ada yang robek. Muka berubah hitam dengan kedua kaki terluka walau tidak sampai parah.
Hebatnya, dengan tenaga yang masih tersisa, kesepuluh pendekar silat itu berhasil bangkit dan berdiri lagi. Mereka berlari dengan tertatih-tatih ke tengah lapangan, bukan untuk kembali menyerang, tapi menyudahi pertunjukan.
Plak .. pak … plak … pak …
“Itu mereka, Rim. Ayo kejar!” Teriak Mamat. Tanpa berpikir panjang lagi masuk ke tengah lapangan mengejar si Tinggi dan si Pendek.
Para penonton, termasuk Ki Duren hanya mengembangkan senyumnya menyaksikan empat anak murid nya saling berkejar-kejaran. Apalagi saat keempatnya berkeliling. Sempat jatuh bangun beberapa kali dan  menghindar dari sergapan.
Si Tinggi misalnya. Ketika disergap Karim, dia berhasil mengelak, akhirnya Karim hanya bisa menangkap angin, jatuh tersungkur dengan muka berlepotan tanah.
Ha ha ha ha …
Ketika akan bangun, si Tinggi menindih bagian belakang Karim. Dia anggap sedang menunggangi kuda.
Hiyaaa … hiyaaa …
Ditepak-tepaknya kepala Karim, sedangkan pantatnya digerak-gerakkan dengan cara turun naik menindih punggung Karim.
“Adowww … sakit,” jerit Karim.
Hua ha ha ha …
Karim berhasil membalikkan badannya. Namun, ketika berada dalam poisisi menelentang, si Tinggi sudah tidak ada lagi di hadapannya.
“Kak Karim !” Panggil si Tinggi dari samping kanan. Dia mengisyaratkan kakak seperguruannya itu mengejarnya.
“Awas kamu …!”
“Wulu … wulu … tak uk uk …”
Ha ha ha ha …
Sementara Karim mengejar si Tinggi, si Pendek malah terlibat perkelahian seru. Saling serang sampai berguling-gulingan di tanah. Saling tindih dan tarik menarik rambut.
 “Rasakan ini,” ujar Mamat seraya mendaratkan pukulan ke muka. Tepat mengenai batang hidung, membuat suara Pendek berubah sengau.
“Ayo pukul aku lagi,” kata Pendek. Saat Mamat hendak memukul kali kedua batang hidungnya, Pendek menangkap kepalan tangan itu, lalu dipelintirnya, Mamat mengerang kesakitan.
Kraaak … geeeegek …
Guaaam … buk …
Didorongnya  Mamat sekuat tenaga. Terpental jauh dengan tangan kanan keseleo karena terkilir dan me nyentuh batu koral. Dia mencoba memberikan perlawanan dengan hanya mengandalkan tangan kiri.
Hiyaaat …
Ha ha ha ha …
Dia lepaskan pukulan tangan kirinya, berhasil dielakkan si Pendek. Dia mundur beberapa langkah, lalu mengejek si Mamat karena tidak mau menyerangnya lagi.
“Ayo serang,” kata si Pendek.
“Ogah,” jawab Mamat. Meringis kesakitan karena tangan kanannya terasa sakit saat digerakkan.
“Kenapa? Takut, Kak Mamat?”
“Enggak. Siapa takut.”
“Lalu kenapa?”
Tiba-tiba dia menangis sesunggukan, lalu berlutut di hadapan si Pendek.
“Tolonglah kakak, Dek!” Rengek si Mamat.
“Tolong apa, Kak?”
“Urutkan dulu tangan kanan kakak ini, sepertinya mau patah …”
“Tak mau ah. Nanti waktu aku urut tangan kakak, kakak mukul aku.”
“Tidaklah wahai adik seperguruan. Kakak tak mungkin tega berbuat seperti itu pada adik seperguruan ………………”
“Itu kan kata kakak. Kataku kan tidak …”
Panas hati Mamat mendengarnya.
HIyaaaat …
Dia daratkan pukulan ke muka si Pendek.
Praaak … gedebuk …
Kena. Saking kerasnya  pukulan itu, si Pendek jatuh sempoyongan dengan mata  berkunang-kunang. Seolah mau pingsan dia.
Dia gerakkan kepalanya. Lalu berdiri dan bersiap meladeni Mamat yang mulai membabi buta melepas kan pukulan tangan kirinya. Anehnya, pukulan yang dilayangkan itu semakin lama semakin melambat, lalu terkulai lesu.
“Wuuuuu  …. Loyoooooo…”
Mamat bukannya diam. Malah terus menyerang habis-habisan. Dia tak perduli lagi dengan kondisi tangan kanannya yang mulai mengeluarkan darah.
Tak tega melihat Mamat kelelahan dan terluka di tangan, si Pendek memilih mundur beberapa langkah ke belakang.
Hua ha ha ha …
Dengan hanya satu tangan, Mamat mengejar si Pendek hingga keluar dari pintu masuk lapangan. Se dangkan Karim dan si Tinggi belum juga mau berhenti berlari dan kejar mengejar sedari tadi.
“Ayo kejar terus sampai pagi,” teriak si Tinggi. Berhenti sejenak, lalu menoleh kea rah Karim sambil mencibir.
“Capek, Kak?”
“Iyalah. Kamu enggak apa?”
Si Tinggi menggelengkan kepalanya berulangkali setelah melihat Karim ngos-ngosan seperti mau pingsan.
“Makanya kakak seperguruan, kalau bangun jangan siang. Pagi, biar sehat itu punya badan.”
“Taik kucing lu nasihati gue. Kuwalat lu …”
“Enggak apa-apa kuwalat, yang penting selamat …”
“Taik kebo …”
Karim mengeluarkan jurus andalannya, ‘Buaya Bernyanyi’. Penonton terpana tiba-tiba. Menunggu apa yang bakal dilakukan si Mamat dengan jurusnya itu. Dagu menyentuh tanah dengan tangan dalam posisi mencakar ditopang kaki yang mengangkang lebar.
Tak mau kalah. Si Tinggi mengeluarkan jurut mautnya. Apa? “Ikan Menari.” Berpura-pura menyilangkan kedua tangan ke depan, kedua kaki tak mengangkang, lalu balik badan meninggalkan tanah lapang.
Penonton terdiam.
Lalu bertepuk tangan.

IV
“BAGAIMANA  pendapatmu Ki Saleh?” Ki Duren mempersilakan Ki Saleh bicara tentang upaya mengatasi kian merajalelanya ulah saudara kembar, Ki Baut dan Ki Mur beserta para anak buahnya.
“Baiklah Ki,” ujar Ki Saleh, setelah mengucapkan ‘salam sejahtera’, dia pun sempat melontarkan kelakar ‘andaikata saja Ki Baut dan Ki Mur tidak membuat ulah, maka kita para  pendekar negeri ini tak bakalan kumpul di tempat Ki Semangka ini.’
Kelakar ini disambut tawa oleh semua yang hadir, apalagi Ki Saleh menambahkan kelakarnya, ‘andai saja aku bisa mencabut nyawa Ki Baut dan Ki Mur diam-diam, tentulah tak perlu bersusah-susah kumpul di padepokan perguruan silat Lampu Hijau ini.’
Semua mata pendekar tertuju ke depan, papan tulis ketika Ki Saleh mulai menuliskan nama Ki Baut dan Ki Mur beserta sebuah rumah besar di salah satu tempat.
“Nah, seperti kita ketahui abang-abang pendekar sekalian. Kekacauan yang sering melanda beberapa kampung kita ini terpusat pada sosok Ki Baut dan Ki Mur. Segala perintah mereka ditaati, segala lara ngan tidak dijalankan, sekecil apa pun dia. Keduanya adalah pemimpin yang hebat bagi para anak buahnya, anggota kelompoknya.”
Keduanya adalah pelindung dan penyelamat bagi pengikutnya, dan seperti kita tahu, apa saja yang di inginkan anak buahnya, Ki Baut dan Ki Mur pasti memenuhinya. Sebaliknya apa yang diinginkan  dua saudara kembar itu, dilaksanakan anak buahnya. Ada timbal balik. Ada yang meminta, ada pula yang memenuhi permintaan. Ini semua menyebabkan keterikatan yang kuat sesama mereka ….”
“Lalu apa yang hendak Ki Saleh katakan kepada kami tentang kekompakan pengikut Ki Baut dan Ki Mur ini?” Tanya Ki Semangka.
“Yang hendak saya katakan bahwasanya kekuatan mereka dibentuk oleh persaudaraan yang kuat. Me reka tidak kepalang tanggung dalam merekatkan tali persaudaraan. Jadi tak heran bila ada satu saja ang gota kelompok mereka yang terbunuh, anggota lain segera memberikan pertolongan. Angkat senjata dan bila perlu membunuh orang …”  
“Maksud Ki, ini sisi positifnya dari Ki Baut dan Ki Mur?” Tanya Ki Solar berapi-api.
“Betul sekali, Ki,” kata Ki Saleh. “Tapi bukan berarti saya membenarkan keberadaan dan ulah mereka. Yang saya ingin tekankan bahwasanya dari kekompakan dan eratnya hubungan yang terjalin antar mereka, membuat mereka leluasa melakukan aksi. Yang membuat saya bertanya-tanya, apa tujuan mereka melakukan aksi tak berprikemanusiaan itu?”
Para pendekar saling lempar pandang.
“Yang saya tahu mereka senang mengganggu orang. Tak segan-segan merampok, memperkosa dan bahkan membunuh,” jelas Ki Tama.
“Betul apa yang dikatakan barusan oleh Ki Tama itu,” sahut Ki Saung, yang membuat kita terpaksa berkum pul di tempat ini adalah, salah satunya, keresahan warga. Waga resah dan banyak yang me ngadu kepada saya  bahwasanya kampung mereka akhir-akhir ini sudah  tidak aman lagi.”   
“Kenapa Ki, kalau boleh saya tahu?” Giliran Ki Saleh yang bertanya.
“Menurut pengakuan warga, ini terjadi karena ulah pengikut Ki Baut dan Ki Mur. Mereka tidak sampai membunuh memang, tapi segala milik warga dijarah, seperti beras, hewan ternak, uang dan sejumlah perhiasan serta barang berharga lainnya …”
“Apa itu rutin terjadi Ki Saung?”
“Tidak juga Ki Saleh. Mungkin beberapa bulan ke depan baru terjadi lagi. Tapi Ki, walaupun tidak rutin, dampaknya itu yang berbahaya …”
“Sejauhmana Ki ?” Tanya Ki Duren.
“Kita sama-sama tahu kan, bahwasanya warga termasuk kita-kita di sini, menggantungkan hidup dari per tanian. Dan kita juga tahu berapa lama kita baru memetik hasilnya. Setelah panen hasilnya kita jual atau disimpan di gudang. Nah, betapa syoknya mereka setelah tahu barang keperluan hidup sehari-hari justru dijarah habis. Warga mau makan apa, coba?”
Semua tekun menyimak.
“Inilah kenapa kita harus sepakat menghentikan ulah Ki Baut dan Ki Mur beserta anak buahnya. Sebab kalau tidak, warga bukan saja semakin resah dan gelisah, tapi boleh jadi mereka akan mengungsi ke tempat lain karena diliputi rasa takut.  Lantas tanah kelahiran, kampung halaman mereka jadi tak berpenghuni. Kosong melompong. Jadi kampung hantu. Menyeramkan. Sekali lagi saya katakan, jangan sampai ini terjadi …”
Belum ada komentar.
“Terima kasih Ki Saung,” tiba-tiba Ki Saleh melanjutkan penjelasannya di papan tulis. “Kalau demikian, apa perlu kita ambil langkah segera dan secepat mungkin?”
“Perluuuuu …”
“Terima kasih abang-abangku sekalian. Jika demikian halnya, saya punya usul begini.” Ki Saleh membuat kotak-kotak segi empat, lalu di tengahnya dia buat lingkaran bulat yang di dalam lingkaran itu ada Ki Baut dan Ki Mur.
“Nah, saya punya dua usul. Pertama, kita langsung serang. Kedua, kita pilih waktu yang tepat untuk menyerang. Sekarang tinggal kesepakatan kita yang hadir di sini. Mau menyerang langsung, detik ini juga atau kita beri tempo dulu …?”
“Saya Ki!” KI Badrun tunjuk tangan.
“Silakan Ki,” kata Ki Saleh.
“Minum dulu ya Ki, biar tidak keselek,” seloroh Ki Daus.
“Iya Ki, biar ngomongnya tahan berjam-jam,” sahut Ki Suri.
Ki Badrun cuma tersenyum. Dia atur nafas  lebih dulu dan …
“Kita serang langsung saja, Ki.”
Semua pendekar serempak menoleh pada Ki Badrun yang duduk paling belakang.
“Alasan saya sederhana. Warga sudah resah. Kengerian ada di mana-mana. Bukan hanya di satu kampung. Tapi hampir setiap kampung dimasuki kelompok Ki Baut dan Ki Mur.”
“Caranya Ki?” Ki Duren berdiri, lalu duduk lagi karena capek terlalu lama duduk di kursi.
“MUdah saudara-saudaraku sekalian. Kita kumpulkan teman-teman dan teman-teman kita diminta tolong beritahu warga untuk siaga penuh. Lalu kita tentukan siapa di antara kita yang bertindak sebagai  pemimpin penyerangan ini. Kan rebes … eeeh salah, beres …”
Plak pak plak pak …
“Pendapat lain kalau ada?” Ki Saleh melemparkan pertanyaan kepada para pendekar yang masih muda usia untuk penyeimbang suara yang tadinya berasal dari pendekar  berusia lanjut.
“Ana Ki Saleh.”  Ki Daus mengangkat tinggi-tinggi jari telunjuknya.
“Silakan Ki.”
“Terima kasih para pendekar hebat yang hadir di sini. Terus terang saya setuju sekali dengan pendapat Ki Badrun tadi. Sebab, jika kita terlambat, warga dan kita semua disini bakal tamat. Tamat gimana? Dihabisi Ki Baut dan Ki Mur. Kita tak boleh tinggal diam. Kita harus bergerak cepat. Tapi alangkah baiknya bila kita susun rencana penyerangan lebih dulu. Setelah matang baru kita gempur habis.”
“Tapi jangan lama-lama Ki.” Kita Semangka separo bercanda. ”Sebab, kalau terlalu lama kita semua yang ada di sini cuma tinggal nama …”
Ha ha ha ha …
“Betul Ki,” kata Ki Solar.
“Tergantung kita,” jawab Ki Daus. “Yang penting kita siap atau tidak. Lebih cepat lebih baik.”
Karena ada dua pendapat akhirnya diambil suara terbanyak. Caranya? Ki Saleh membagikan kertas kecil. Lalu di atas kertas kecil itu tertulis dua jawaban pilihan. Pertama, serangan langsung, dilingkari. Kedua, serangan bertempo, juga dilingkari.
Ternyata tidak mudah memilih di antara dua pilihan ini. Masing-masing pendekar sangat hati-hati me nentukan pilihannya. Cuma bedanya, ada yang biasa-biasa saja. Ada juga sampai mengerutkan kening nya. Malah ada yang senyum-senyum, entah karena lucu atau sengaja untuk memancing perhatian sesama pendekar yang lain.
Hampir satu jam belum semua jawaban terkumpul di meja tempat Ki saleh dudul dan berdiri menyam paikan presentasi. Sambil menyantap hidangan ala kadarnya, Ki Saleh tampak santai dan penuh canda bincang-bincang dengan Ki Duren dan Ki Semangka.
Lepas salat ashar berjamaah, kesepuluh pendekar akhirnya menyepakati untuk melakukan serangan bertahap, bukan secara langsung, apalagi sampai membabi buta. Serangan dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada Ki Baut dan Ki Mur beserta pengikutnya bahw  tindak kejahatan, apa pun bentuknya, tidak boleh diabaikan, apalagi sengaja didiamkan dan dibiarkan karena akan tumbuh semakin  subur  yang mengakibatkan timbulnya keresahan di masyarakat.
Para pendekar juga sepakat untuk tidak membunuh siapapun, termasuk Ki Baut dan Ki Mur, kecuali ha nya untuk mempertahankan diri. Warga harus dilindungi tanpa pandang bulu, pilih kasih.
Para pendekar juga sepakat beberapa hari ke depan kampung warga aman dari segala bentuk kejahatan. Tidak ada lagi rasa takut warga untuk melakukan perjalanan antar kampung, kumpul-kumpul sedekahan da ronda sama-sama di kala malam. Mereka aman ke mana saja. Tentram, saat pertama kali mereka membangun dan mendiami kampung yang mereka huni saat ini.
Terealisasikah?   

V
“BAKAR semua rumah warga!” Teriak Ki Baut kepada ana buahnya dari atas kuda, sedengkan Ki Mur me mimpin pasukan menjarah barang-barang berharga untuk dibawa ke markas mereka dekat kawasan perbukitan.
Weleee .. wele .. weleee …
Ha ha ha ha …
Api .. api … bakar …!
Seketika itu juga puluhan rumah warga berhasil dibakar. Api berkobar dan terus membesar, meroboh kan bangunan kayu dan  memporak-porandakan atap yang terbikin dari rumbia dan genteng tanah.
Warga panik. Mereka tak menyangka siang hari ini rumah mereka sudah tidak berbentuk lagi. Yang ter sisa cuma puing-puing sisa pembakaran berwarna hitam. Asap hitam membumbung tinggi. Belum lagi jerit tangis anak-anak dan wanita yang berlari menyelamatkan diri dari kobaran api yang begitu cepat melumat habis bangunan rumah.
Tak tahu harus kemana mengadu. Mereka hanya terus berlari. Dalam keadaan bingung hendak berjalan kea rah mana, mereka sudah ditunggu anak buah Ki Baut dan Ki Mur. Mereka dipaksa untuk berkumpul di tanah lapang.
Keadaan mereka benar-benar miris. Dengan hanya mengenakan pakaian seadanya, bahkan hanya ber sarung tanpa sempat mengenakan celana dalam, mereka dibariskan jadi satu dengan anak-anak dan wanita di barisan terdepan, sedangkan kaum laki-laki berada di baris kedua.
Di tengah panas terik yang tiada terkira, warga dipaksa berlutut dengan kepala menunduk.  Mereka tidak boleh melihat ke atas, apalagi sampai berbicara dengan sesamanya. Bila melanggar maka hukumannya adalah dicambuk sampai mati.
Warga tak punya pilihan lain selain hanya menuruti keinginan anak buah  Ki Baut dan Ki Mur. Hampir dua jam mereka dijemur, dipanggang di tengah panas membakarnya sinar matahari. Ada, karena tidak kuat lagi, akhirnya jatuh pingsan. Kebanyakan anak-anak dan kaum ibu serta remaja putri.
Mereka yang pingsan tidak boleh ditolong. Hukumannya akan ditambah. Warga tak bisa berbuat apa-apa. Hanya membiarkan dan menyaksikan rekan-rekan mereka terlentang tanpa alas dan tudung. Me reka tak sadarkan diri. Juga tak sadar kalau diri mereka dibiarkan terbakar matahari.
Tak lama kemudian muncullah Ki Baut dan Ki Mur. Keduanya memandang tajam satu persatu warga. Ki Baut  turun dari kudanya, diikuti saudara kembarnya sambil ketawa lebar.
“Aduh, cantik juga,” ucap Ki Mur sambil mengusap lembut penuh birahi pipi seorang kembang kampung yang manis dan menarik hati.
“Puiiiih …”
Si gadis meludahi mukanya. Ki Mur murka. Dia pelototi  dara di depannya, yang tak berkedip sedikit pun matanya yang lentik itu, lalu …
Breeeet …
Ki Mur berhasil merobek baju si gadis. Ketika mau mendaratkan pukulan, tangannya ditangkap Ki Mur, kemudian dia pelintir dan patahkan  tangan itu …
Kraaak 
“Auuuw,” jerit perawan ting-ting itu.
Belum habis mengaduh kesakitan, Ki Mur melucuti semua pakaian si gadis dan hanya menyisakan beha serta celana dalam.
“Kurang ajar …” Jerit si gadis. Sempat mendaratkan pukulan ke wajah Ki Mur, kena dagunya.
Ki Mur tidak marah. Dia malah tertawa lebar. Sesaat kemudian, dia bawa gadis itu ke sebuah gubuk yang terbakar sebagian. Dia perkosa  sebelum ditembak mati .
Warga hanya menunduk pasrah. Ada yang berlinang air matanya, ada yang memukul-mukul kepalanya, bahkan ada yang mencoba memukul anak buah Ki Mur, tapi karena keburu ketahuan, berhasil diaman kan.
Hua ha ha ha ha …
“Gimana Dik?” Tanya Ki Baut. Ketawa lebar, diikuti anak buahnya yang baru berhenti ketawa setelah Ki Mur menyuruh diam.
Ha ha ha ha ha …
“Kamu …!” Tunjuk Ki Mur pada seorang ibu muda beranak satu yang ketakutan setengah mati. Saking takutnya, dia hanya bisa menunduk dan tak bisa berkata walau cuma sepatah kata.
“Cepat katakan … Dimana Ki Saleh berada?”  Hardik Ki Baut.
“Tidak … tidak …”
Kelepaaaak …
Si ibu hanya bisa menangis saat tangan kanan Ki Baut mendarat tepat di mukanya. Lelaki di belakangnya  tak ingin tinggal diam. Dengan cepat dia tahan  pukulan Ki Baut yang kedua. Tak ingin dipermalukan di depan anak buahnya, saudara mudanya, Ki Mur ini pun berteriak lantang.
“Seret dia!”
Sempat melawan. Tapi tak berdaya setelah dipukuli bertubi-tubi oleh ana buah Ki Baut dan Ki Mur.

“Melawan ya?”
Diangkat  dia punya dagu. Lalu Ki Baut menghantamnya dengan dengkul dan kepala.
Gedebuk … paaar …
Dari mulut dan hidung lelaki berkulit hitam itu keluar darah segar.
“Banci kalian semua …!”
Si lelaki masih bisa mengejek dan meludahi muka Ki Baut.
“Sabar, sabar, Kak.” Ki Mur menenangkan Ki Baut yang mulai memuncak emosinya.  Hampir saja dia daratkan pukulan geledek ke leher bapak berambut lurus tegak itu.
Ha ha ha ha …
Ki Mur cuma tertawa. Dia tatap tajam dari kaki hingga rambut si lelaki tak berbaju itu. Lalu dia perintah kan  anak buahnya untuk mengikat  tangan warga kampung Falah itu , lalu diseret sampai mati dengan dua ekor kuda.
Beberapa warga yang hendak menolongnya, diamankan anak buah dua Ki. Begitu juga ketika rekan mere ka diseret paksa dengan kuda mengelilingi tanah lapang. Tak bisa berbuat banyak. Langsung diamankan dan jika masih melawan, disiksa sampai mati.
Badan  berlumuran darah.  Kuda tetap menyeret lelaki berperawakan tinggi besar itu. Warga hanya bisa menangisi. Menjerit histeris karena tak kuasa lagi melihat dengan mata telanjang penyiksaan yang kele wat batas dan tak berprikemanusiaan itu.
Buk  preeet …
Tali ikatan dilepas. Tubuh si lelaki dilempar tak jauh dari barisan warga yang dijemur paksa. Ki Mur men dekatinya, lalu, dengan menggunakan kaki kanannya, dia angkat dan dorong kepala si lelaki, tampak masih bisa melihat dan bernafas.
“Bangsat,” bisik si lelaki pada Ki Mur ketika berjongkok untuk mendengar suaranya yag kian melemah itu.
“Apa?”
“Bangsat lu …”
Ki Mur berdiri. Lalu memerintahkan anak buahnya untuk menembak si lelaki, keburu didahului Ki Baut.
Dooor … door … door …
Tiga timah panas berhasil menembus kepala, dada dan kemaluan. Si lelaki itu pun tewas seketika.
Jerit tangis dari kaum perempuan dan anak-anak pun pecah. Sumpah serapah tak henti mengiringi se tiap langkah  kaki dua anak buah Ki Baut dan Ki Mur  kala membawa mayat si lelaki untuk kemudian dilempar ke jurang.
Sumpah serapah itu baru berhenti setelah Ki Baut melepaskan tembakan ke udara. Dia tidak main-main. Ditariknya paksa beberapa warga ke dekat dia berdiri, disuruh menunjukkan dimana Ki Saleh kini bersembunyi.
Dooor … door …
Terdengar suara letusan berkali-kali dari muncung senjata api Ki Baut. Letusan itu berhasil menewaskan sepuluh warga yang tetap bersikukuh tak mau mengatakan di mana Ki Saleh berada saat ini.
“Sepuluh lagi,” teriak Ki Mur berapi-api.
Kali ini semuanya wanita. Setelah diperkosa dengan keji, mereka dibunuh secara sadis. Tubuh mereka dipotong-potong, ditelanjangi dan jadi bahan tertawaan anak buah Ki Baut dan Ki Mur. Malah, ada di antara mereka, walau sudah tidak bernyawa lagi, karena melihat kemolekan tubuh, bermaksud menye tubuhinya.
Dooor … door … door…
Ki Mur menembaknya. Si anak buah tewas dengan kepala pecah jadi dua. Otak berceceran di mana-mana. Sungguh mengerikan. Semua warga menundukkan kepala. Tak berani menyaksikan peristiwa di luar batas kewajaran itu.
“Dua puluh … cepat bawa kemari!” Perintah Ki Baut.
Kali ini, karena tak ada juga yang mau mengatakan di mana Ki Saleh berada, Ki Baut sendirilah yang mengeksekusinya. Bukan hanya dengan tembakan, tapi juga pedang yang membuat tubuh warga tercabik-cabik dan tercerai berai di sana sini.
“Terakhir …!” Teriak Ki Mur.
Tiga puluh warga yang tersisa sempat berlutut dan memohon ampun kepada Ki Baut dan Ki Mur, agar mereka jangan dihukum.
Tapi apa kata Ki Baut?
“Katakan Ki Saleh sembunyi di mana, kalian aku bebaskan.” Kata Ki Baut, yang asyik meniup-niup asap yang keluar dari moncong senjatanya.
“Maafkan kami tuan. Kami benar-benar tidak tahu.” Ucap seorang lelaki berewokan memelas dan penuh harap tidak ikut dieksekusi.
Ki Mur berbisik pada Ki Baut. Lalu …
“Pasukan …!”
“Siaaaap …”
“Tembaaaak …”

VI
SAMBIL mengelilingi tiang bendera dengan sang saka merah putih berkibar ditiup angin di pelataran be lakang masjid Nurul Falah, siswa didik Bu Sri Hapsari  mengatur nafas dan bersiap menyanyikan lagu wajib kebangsaan.
“Siap anak-anak ya!” Ucap Bu Sri yang berdiri dekat tiang bendera.
“Satu … dua … tiiiiga …”
         
                     Bendera merah putih
                        Bendera tanah airku
                          Gagah dan jernih tampak warnamu
                            Berkibaran di langit yang biru

                                              Bendera merah putih
                                                              Bendera bangsaku …..

Satu … dua … satu dua …
             
                                         Tujuh belas Agustus tahun empat lima
                                                Itulah hari kemerdekaan kita
                                                    Hari merdeka
            
                                                         Nusa dan bangsa

                                                      Hari lahirnya bangsa  Indonesia
                                                        Merdeka
                                                          Sekali merdeka
                                                             Tetap merdeka
                                                              Selama hayat masih di kandung badan

             
                                                                Kita tetap setia
                                                                  Tetap setia
                                                                     Mempertahankan Indonesia
                                                                         Kita tetap setia
                                                                             Kita tetap setia
                                                                                Mempertahankan Indonesia

                                                                     Kita tetap setia
                                                                        Membela Negara kita
                                                                             Kesatuan jiwa Indonesia
                                                                                 Bahagia …

Satu dua … satu dua …

                                                                                                                                            
                                                           
                           Halo halo Bandung
                              Ibukota Periangan
                                   Halo halo Bandung
                                       Kota kenang-kenangan

                                                    Sudah lama beta
                                                          Tidak berjumpa dengan kau
                                                              Sekarang telah menjadi  lautan api
                                                                  Mari Bung rebut kembali ….

Satu dua … satu dua …
 
                                      Garuda Pancasila
                                         Aku-lah pendukungmu
                                            Patriot proklamasi
                                                Setia berkorban untukmu

                                                      Pancasila dasar Negara
                                                          Rakyat adil makmur sentosa
                                                             Pribadi bangsaku
                                                               Ayo maju … maju
                                                                Ayo maju … maju
                                                                Ayo maju … maju

Satu dua … satu dua …

                                     Maju tak gentar
                                          Membela yang benar
                                                Maju tak gentar
                                                   Hak kita diserang

                                                 Maju tak gentar
                                                    Mengusir penyerang
                                                           Maju serentak
                                                                Tentu kita menang

                                             Bergerak serentak
                                                  Menerkam menerjang terjang
                                                      Tak gentar
                                                        Tak gentar
                                                               Menyerang
                                                                  Menyerang
                                                                       Majulah
                                                                           Majulah
                                                                               Menang …

Satu dua … satu dua …

                                                 Satu nusa satu bangsa
                                                     Satu bahasa kita
                                                           Tanah air pasti jaya
                                                              Untuk s’lama-lamanya

                                              Indonesia pusaka
                                                  Indonesia tercinta
                                                        Nusa bangsa dan bahasa
                                                          Kita bela bersama …
                                                          
        Satu dua … satu dua …

                           Indonesia tanah air beta
                                Pusaka abadi nan jaya
                                   Indonesia sejak dulu kala
                                       Selalu dipuja-puja bangsa

                                           Di sana tempat lahir beta
                                              Dibuai dibesarkan bunda
                                                 Tempat berlindung di hari tua
                                                    Tempat akhir menutup mata …

Satu dua … satu dua …

                                 Padamu negeri kami berjanji
                                       Padamu negeri kami berbakti
                                             Padamu negeri kami mengabdi
                                                    Bagimu negeri jiwa raga kami 

Satu dua … satu dua …

                               Dari yakin kuteguh
                                  Hati ikhlasku penuh
                                      Akan karunia-Mu

                                          Tanah air pusaka
                                              Indonesia merdeka
                                                 Syukur aku sembahkan
                                                     Ke hadlirat-Mu Tuhan ….

Satu dua … satu dua …

                                           Bangun pemuda pemudi
                                                 Indonesia
                                                         Tangan bajumu singsingkan
                                                              Untuk  negara

                                    Masa yang akan datang
                                            Kewajibanmulah
                                               Menjadi tanggunganmu
                                                   Terhadap nusa
                                                      Menjadi tanggunganmu
                                                           Terhadap nusa

                                 Sudi tetap berusaha
                                    Jujur dan ikhlas
                                        Tak usah banyak bicara
                                           Trus kerja keras

                                              Hati teguh dan lurus
                                                 Pikir tetap jernih
                                                    Bertingkah laku halus
                                                         Hai putra negeri

                                                                 Bertingkah laku halus
                                                                    Hai putra negeri ….

Satu dua … satu dua …

                                   Terpujilah wahai engkau
                                     Ibu bapak guru
                                        Namamu akan selalu hidup
                                            dalam sanubarimu
                                              
                                 Semua baktimu akan kuukir
                                      Di dalam hatiku
                                           S’bagai prasasti trima kasihku
                                                   ‘Ntuk pengabdianmu
          
                                         Engkau bagaikan pelita
                                              dalam kegelapan
                                                 Engkau laksana embun
                                                     Penyejuk dalam kehausan

                                              Engkau patriot pahlawan bangsa
                                                 Tanpa tanda jasa …

Satu dua … satu dua …

                                       Tanah airku Indonesia
                                            Negeri elok sangat kucinta
                                                   Tanah tumpah darahku mulia
                                                        yang kupuja sepanjang masa

                                             Tanah airku aman dan makmur
                                                  Pulau kelapa nan amat subur
                                                    Pulau melati pujaan bangsa
                                                        Sejak dulu kala
                                                           
                                                   Melambai-lambai
                                                       Nyiur di pantai
                                                           Berbisik-bisik Raja Kelana
                                                               Memuja Pulau
                                                                  Nan indah permai

                                                 Tanah airku
                                                       Indonesia …

Satu dua … satu dua …

                                                           Kulihat ibu pertiwi
                                                                 Sedang bersusah hati
                                                                         Air matamu berlinang
                                                                            Mas intanmu terkenang

                                                       Hutan sawah gunung lautan
                                                             Simpanan kekayaan
                                                                  Kini ibu sedang  susah
                                                                       Merintih dan berdoa …

Satu dua … satu dua …

                                                Desaku yang kucinta
                                                      Pujaan hatiku
                                                         Tempat ayah dan bunda
                                                            dan handai tolanku

                                             Tak mudah kulupakan
                                                    Tak mudah bercerai
                                                           Selalu kurindukan
                                                               Desaku yang permai …

Doooor … door …
Guam …
Ha ha ha ha ha …

Bersambung lagi  ah …