Jumat, 24 Februari 2017

Kota Baru (2-TAMAT)





Cerita Fiksi

Kota Baru (2)
Ditulis oleh  aminuddin

7
KARENA sudah kehabisan daya upaya, kata Kolonel Madi meneruskan ceritanya, akhirnya Nabi Luth mengangkat kedua tangan, mengadu kehadirat Allah SWT.
“Ya Tuhan, tunjukilah kaum kami yang sesat ini. Andaikata petunjuk itu ditolak juga, turunkanlah kepada mereka nasihat yang bukan berupa kata-kata atau ancaman saja. Datangkanlah azab yang dahsyat agar mereka mau kembali. Kalau tidak mempan juga nasihat itu, musnahkanlah mereka sama sekali. Sebab tidak ada gunanya lagi hidup mereka, cuma menambah sengsara dan kerusakan atas prikemanusiaan belaka.”
Doa itu diperhatikan Allah SWT. Turunlah para malaikat dari langit. Mereka singgah di tempat Nabi Ibra him, menyaru sebagai manusia. Setelah dihormati seperti layaknya tamu-tamu biasa, barulah mereka menerangkan bahwa sebenarnya mereka adalah malaikat-malaikat-Nya.
Alangkah ngerinya Nabi Ibrahim mendengar penuturan mereka tentang azab yang bakal diturunkan atas orang-orang Sadum, kaumnya Nabi Luth itu.
Para malaikat itu kemudian berangkat meninggalkan rumah Nabi Ibrahim menuju ke Sadum yang pendu duknya  amat durhaka itu. Dengan menyamar sebagai pemuda-pemuda yang halus dan menarik, akhir nya tibalah mereka di batas Desa Sadum.
Di tengah jalan terlihat ada seorang gadis sedang mengambil air minum. Para malaikat tersebut meng hampiri, lalu minta agar diterima sebagai tamu-tamu di rumahnya.
Gadis itu dengan ketakutan menceritakan perangai penduduk kampung Sadum yang suka berbunuh-bu nuhan karena memperebutkan anak-anak muda yang ganteng. Diberitahukannya betapa mereka senang sekali memperkosa laki-laki belia dengan cara yang amat kotor dan mesum.
Namun mereka tetap berkeinginan ingin bertamu. Gadis itu belum berani menerimanya kalau tidak men dapat izin bapaknya, yaitu Nabi Luth.  Maka pulanglah ia dan berkata kepada bapaknya:
“Ayah, di balai desa ada dua orang laki-laki muda yang sangat tampan. Belum ada laki-laki yang lebih tampan dari keduanya. Mereka ingin menumpang tidur di rumah kita.
“Bagaimana ayah? Apakah akan kita terima?”
Nabi Luth terperanjat dan bingung. Bila diterimanya permintaan kedua laki-laki itu, ia kuatir bakal terjadi bencana besar atas mereka. Dapat dibayangkannya bagaimana orang-orang kampung akan berebutan untuk memperkosa mereka. Tapi kalau ditolak, kepada siapa lagi mereka bisa menumpang?
Akhirnya, dengan sembunyi-sembunyi Nabi Luth berangkat menemui mereka. Betul, alangkah cakapnya pemuda-pemuda itu. Setelah bersalaman dan bertutur kata sebentar, lalu Nabi Luth memberitahukan cara-caranya agar kedatangan mereka tidak diketahui penduduk kampung. Mereka harus hati-hati benar. Jangan sampai terbuka rahasia iu.
Ketika hari telah berubah gelap, dengan mengendap-endap mereka seorang demi seorang memasuki Sadum, dan buru-buru ke rumah Nabi Luth. Tapi alangkah kagetnya Nabi Luth, begitu tiba di rumahnya orang-orang kampung sudah berkerumun dengan wajah yang beringas. Ternyata isteri Nabi Luth sendiri yang telah membocorkan rahasia itu.
Mereka berteriak-teriak :
“Hai Luth, serahkan kedua pemuda itu kepada kami. Jangan kau habisi sendiri makanan yang lezat itu.”
Merinding bulu kuduk Nabi Luth mendengar teriakan-teriakan histeris itu. Dengan keberanian yang membaja selaku Nabi, dia keluar dan berbicara kepada penduduk Sadum itu.
“Wahai kaumku sekalian. Bertobatlah kamu dari perbuatan keji ini. Kembalilah kepada aturan Allah SWT, dan takutlah siksaan-siksaan-Nya yang dahsyat.”
Suara Nabi Allah itu lewat tanpa kesan. Hilang tertelan oleh teriakan-teriakan kemarahan. Malah seba gian sudah mulai bergerak hendak menyerbu. Menyaksikan keadaan yang genting itu, Nabi Luth buru-buru masuk dan mengunci pintu. Ia membuka sebuah jendela. Kepada kaumnya ia berbicara sekali lagi melalui jendela tersebut.
“Hai saudara-saudara!Kembalilah kalian kepada perempuan-perempuan yang telah dihalalkan sebagai isteri yang sah. Turutilah hidup yang wajar, sesuai dengan fitrah laki-laki. Apabila tidak kalian taati nasihat-nasihat ini, aku takut siksaan Allah akan segera membinasakanmu.”
Jika nafsu telah berlabuh di puncaknya, jika birahi telah sarat dengan rangsangan setannya, apakah lagi yang dapat menghalangi kecuali iman? Sedangkan mereka tidak punya iman sama sekali. Maka seruan terakhir Nabi Luth ini tidak diacuhkan sedikit pun. Bagaikan binatang buas mereka mendobrak masuk dan hendak merebut kedua pemuda yang tampan itu.
Nabi Luth sudah kehilangan akal. Dengan tenaga tuanya ia melawan, mempertahankan kehormatan rumahnya. Tapi ia tidak kuat. Dalam saat=saat  gawat itulah kedua pemuda itu berkata :
“Hai Luth, jangan kau kuatir atau takut. Kami berdua adalah malaikat yang diutus Allah SWT untuk men gabulkan doamu. Mereka takakan mampu mengganggu kita. Bahkan sebentar lagi mereka akan di han curkan. Ayo, kita meloloskan diri, ikuti kami. Ajak kedua anakmu yang shalihah itu, tinggalkan isteri dur hakamu, sebab dia termasuk yang harus kena kutukan.”
Dalam tempo yang singkat, dengan cara di luar kekuasaan manusia, Nabi Luth dan kedua anaknya, ber sama beberapa orang yang beriman serta kedua malaikat itu sendiri, dapat lolos dan selamat hingga keluar dari desa terlaknat itu.
Begitu orang-orang yang saleh sudah tidak ada lagi di Sadum, dan yang tinggal hanyalah pendurhaka yang tengah dihinggapi nafsu kesetanan itu, turunlah azab Allah  yang dijanjikan tersebut. Mula-mula bumi berguncang. Kuil-kuil bergetar. Matahari yang baru terbit, gelap seketika.  Mendung bertebaran, gelap laksana malam tanpa bintang.
Orang-orang menjerit-jerit ketakutan. Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar. Gedung-gedung runtuh. Tembok-tembok pecah. Gunung-gunung meletus. Sungai meluap. Gelombang di lautan mengganas. Ma ka turunlah hujan batu berbongkah-bongkah sehingga Sadum bersama penghuninya tewas.

8
“KANAN atau kiri Kolonel?”
“Kanan saja sersan.” Lima menit setelah berbelok ke kanan, ada sebuah danau kecil. Sersan Ipung menghentikan laju mobil.
Celedup …
Seeert …
Serempak turun.
Belum bergerak ke sasaran. Masih mengamankan kondisi mobil agar tidak terlihat pasukan musuh. Ca ranya dengan menutup bodi mobil dengan ranting pepohonan dan semak belantara di sekitar danau.
Setelah itu Kolonel Madi menginstruksikan anak buahnya segera merapatkan barisan dan bergerak menu ju sasaran. Tentu harus melewati beberapa tahapan dengan menempati pos masing-masing secara bergantian.
Pertama kali ia mempersilakan Kopral Hanafi dan Sersan Wini menempati posisi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada sebuah tanah gundukan yang di sekitarnya ditumbuhi ilalang dan semak belukar.
“Kopral Hanafi kiri, Sersan Wini kanan,” kata Kolonel Madi.
Keduanya sama-sama tiarap dengan senjata lurus ke depan, mengarah ke kediaman Jenderal Kick. Selain senjata laras panjang, keduanya juga dibekali bom lempar asap dan granat serta bambu runcing.
Lepas itu, Kolonel Madi memerintahkan Sersan Kifli dan Kopral Agus untuk bersiap. Keduanya dibekali pistol, besi, bom lempar asap dan granat.
Agar tak terlihat pasukan lawan, seluruh badan mulai dari kaki hingga ujung rambut Sersan Kifli dan Kopral Agusditutupi  dedaunan dan ranting pepohonan dengan muka dilumuri tanah hitam.
Sama seperti Sersan Wini dan Kopral Hanafi, keduanya belum diizinkan beraksi sebelum semua anggota pasukan siap di tempat dan situasi aman terkendali.
Berikutnya adalah Kopral Murti dan Letnan Basri. Menempati posisi samping kanan kediaman Jenderal Kick. Ada tumpukan bebatuan besar dan kecil. Di sanalah keduanya bersembunyi.
Kini giliran Kopral Madi dan Sersan Ipung. Mereka menempati posisi sebelah kiri.  Kolonel  Madi melirik jam tangannya. Bergerak mendekati angka setengah empat.
Dia kemudian mengecek satu persatu tujuh anak buahnya.  Dia menanyakan keadaan sekitar, termasuk keamanan dan keleluasan bergerak.
“Sersan Kifli.”
“Siap Kolonel.”
“Kopral Agus.”
“Siap Kolonel.”
“Bisa masuk sekarang?”
“Bisa Kolonel,” jawab Sersan Kifli.
Sambil merangkak dan tiarap bergerak, keduanya berhasil mendekati pagar pembatas yang dipasang lis trik bertegangan tinggi. Namun dengan hanya satu kali pitingan dengan besi, kawat berhasil dipotong Kopral Agus dengan amat cepat, sehingga keduanya bisa memasuki areal dalam kediaman Jenderal Kick.
Lampu sorot bergerak lambat ke kanan, kiri, belakang dan depan. Beberapa anggota pasukan pengama nan keluar dari pos jaga. Mereka berpatroli. Rutin dilakukan  satu jam sekali dengan komposisi personil yang berganti-ganti.
“Ada berapa Sersan Kifli?”
“Tiga orang Kolonel, yang kami lihat.”
“Bisa masuk?”
“Kayaknya sulit Kolonel kecuali …”
“Sikat saja, sersan.”
“Baik Kolonel.”
Satu  persatu  anggota pasukan pengaman terlatih itu berhasil dilumpuhkan Sersan Kifli dan Kopral Agus dengan tangan kosong.

9
“KOPRAL Murti.”
“Siap komandan.”
“Masuk.”
“Siap Dan.”
Triiing …
Kretek …
Satu kali lompatan, Kopral Murti dan Letnan Basri berhasil memanjat  setinggi dua puluh meter. Kaki dan tangan dengan lengketnya menempel di dinding. Sampai dekat jendela berterali besi, mereka serempak berhenti dan mengeluarkan besi kecil runcing.
Dengan besi itu keduanya secara perlahan berhasil mencongkel terali jendela. Sempat menengok ke da lam. Setelah aman Kopral Murti melompat masuk, disusul Letnan Basri.
Usai mengenakan kembali terali jendela dan menutup jendelanya rapat-rapat, Kopral Murti dan Letnan Basri mulai beraksi. Mereka menyelinap masuk dengan melewati terowongan bawah tanah. Dari terowo ngan yang sangat kokoh inilah mereka bisa sampai ke ruangan tengah.
Di ruangan yang amat luas ini tampak lengang. Tak seorang manusia pun di sana. Berjalan beberapa me ter ke depan, keduanya bersembunyi di balik dinding dekat pintu emergency. Mereka pasang kuping te rang-terang. Ada suara orang sedang mengobrol.
Kopral Murti belum memberikan reaksi apa pun. Dia masih tekun mendengar secara cermat suara itu. Sedangkan Letnan Basri mengontak Kolonel Madi, atasannya.
Dia ceritakan kejadian barusan.
“Sebaiknya tunggu kami masuk terlebih dulu letnan.”
“Siap Dan.”
“Selebihnya anda berdua yang lebih tahu situasinya.”
“Siap Dan.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung mengendap-endap melewati pagar besi setinggi tiga meter. Pagar itu tidak dipotong. Keduanya hanya melompat tanpa suara, dan sesaat kemudian sudah berada di dekat pintu masuk.
Pintu itu terkunci rapat. Sersan Ipung mengeluarkan pisau kecil lipat dari saku celananya. Pisau itu amat tajam. Kolonel  Madi mendekatkan mata pisau ke lubang pintu.  Hanya dengan satu kali putaran …
Kletek …
Sreeet …
Pintu pun terbuka sedikit. Keduanya masuk dengan sangat hati-hati. Melihat ke sekeliling jalan panjang selebar enam meter , Sersan Ipung berkata:
“Aman Dan.”
Kolonel Madi mengacungkan ibu jarinya.
“Sersan Wini.”
“Siap Kolonel.”
“Siaga dua.”
“Siap Kolonel.”
Sersan Kifli tengah berbincang serius dengan rekannya, Kopral Agus. Mereka  masuk lebih ke dalam sete lah berhasil melumpuhkan dua penjaga bersenjata. Kini mereka dihadapkan pada pagar betis anggota pa sukan khusus keamanan Jenderal Kick yang jumlahnya sekitar dua puluhan. Selain berbadan tegap dan kekar, mereka bersenjatakan lengkap.
“Aman sersan. Pilih yang terbaik,” saran Kolonel Madi.
“Siap  komandan.”
Diputuskan cepat dan taktis, Kopral Agus dan Sersan Kifli melemparkan tiga bom lempar asap. Bom ini menyerupai granat tapi bentuknya persegi empat. Saa dilempar dengan menggelindingkannya di lantai, bom dalam keadaan berputar.
Tidak langsung meledak. Ada jeda waktu yang bisa dikontrol di bagian bawah bom. Ada lubang kecil. Dari lubang inilah asap beracun akan keluar.
Satu menit berselang, bom berhenti berputar. Lalu keluarlah asap secara bertahap. Pertama kali menye rupai angin yang bergerak  lambat tapi menyebar.  Tidak bakal ter deteksi oleh orang yang berada di se kitarnya.
Baru kemudian berubah memutih dan bila terkena orang akan tewas seketika. Andaikata bisa selamat akan mengalami cacat seumur hidupnya.

10
CEESSSSS …
Ciiiiiisssss …
Seeeer …
Asap mulai memutih. Terdengar letusan berskala ringan. Nyaris tak kedengaran. Mulai mengenai satu persatu anggota pasukan lawan.
Tanpa terasa, satu-satu berjatuhan yang ditandai lemas di persendian, pusing dan akhirnya jatuh ke lantai.
Anggota badan mulai dari telapak kaki hingga kepala bergerak-gerak. Mengalami kejang yang hebat . Dari mulut keluarlah cairan putih sebelum akhirnya tewas secara mengenaskan.
Ada sekitar lima anggota pasukan tersisa yang mencoba melarikan diri. Karena sudah terkepung asap, mereka  hanya bisa pasrah dan mengatasinya dengan melepas pakaian untuk mengusir sebaran asap, se kaligus melempar jauh-jauh bom asap kea rah di mana Sersan Kifli dan Kopral Agus bersembunyi.
Namun dengan cekatan dua anak buah Kolonel Madi ini melempar ulang bom lempar asap itu ke arah lima tentara tak berbaju tadi itu.
Karena panik dikepung asap, mereka pun tersandar ke dinding sebelum jatuh berguling-gulingan di lan tai karena tak kuat menahan sakit di dada dan tersendatnya alur pernafasan.
Mereka coba berdiri. Bisa awalnya, tapi tak lama kemudian jatuh lagi. Sama seperti rekan mereka yang telah tewas barusan, selain terganggungnya pernafasan dan rasa sakit di dada, seluruh persendian tera sa lemas seketika, dan mengalami kejang-ke jang.
Kejang-kejang itu terjadi secara bertahap. Dimulai dari skala ringan, sedang dan cepat pergerakannya. Badan memerah, lalu membiru dan menghitam.
Kelimanya tewas dalam keadaan terlentang dengan kedua mata terbelalak, mulut penuh cairan dan sulit bicara, apalagi harus berteriak meminta pertolongan.
Tanpa membuang waktu lagi, Sersan Kifli dan Kopral Agus memunguti senjata yang berserakan di lantai. Mereka kumpulkan jadi satu.
Mereka belum melanjutkan aksi berikutnya. Mereka lebih memilih bersembunyi di tempat semula dalam keadaan siaga dan waspada.
Sementara Kolonel Madi meminta Kopral Muti dan Letnan Basri untuk bergerak lebih mendekat ke asal suara yang mereka dengar sebelumnya.
Dengan  mengendap-endap sambil tiarap, keduanya mengintip dari balik celah dinding pembatas. Betul, ada beberapa anggota pasukan sedang berjaga-jaga di sana.
Jumlahnya ada sekitar tujuh orang. Bersenjatakan lengkap. Mereka adalah pasukan pengawal khusus. Mereka tidak terpisah, tapi punya tugas dan misi masing-masing.
Ada yang berdiri di balik jendela. Mengintip keluar dan hilir mudik dari satu jendela ke jendela yang lain. Juga ada yang berdiri dekat pintu. Mengawal setiap tamu atau siapa saja yang keluar masuk melalui pin tu besi itu.
Sebagian lagi sibuk menelepon, berbicara dan tengah merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan langkah pengamanan terhadap Jenderal Kick yang direncanakan mengunjungi beberapa tempat di luar kota.
Atas instruksi Kolonel Madi, Letnan Basri diminta mengontak Sersan Kifli dan Kopral Agus untuk segera bergabung menambah kekuatan, dan dengan empat personil cukup kuat menghadapi pasukan khusus bentukan Jenderal Kick.
Dari menit ke menit, kurang dari lima menit berselang, Kopral Murti dan Letnan Basri sudah bergabung dengan kedua rekannya. Senjata rampasan itu mereka bagi berempat, sehingga setiap dari mereka me miliki tambahan senjata.
Apa yang terjadi kemudian, mereka berempat bergerak serempak dengan posisi yang tidak berjauhan, saling membentengi, berlapis dari belakang, kiri dan kanan.

11   
“SERSAN …”
“Siap Kolonel.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung, setelah berjalan beberapa langkah ke depan,  berhenti di bawah lobang pengatur suhu yang dilapisi terali.
Sersan Ipung melompat ke pundak Kolonel Madi. Mengeluarkan besi kecil runcing, terali lubang persegi empat itu dengan cepat ia utak-atik dan terbuka.
Tak lama kemudian, Kolonel Madi jongkok dan dengan satu kali dorongan ke atas, Sersan Ipung sudah berada di mulut lubang. Miring ke kanan, mendorong tubuhnya terutama kaki, berhasil masuk dan siap membantu atasannya yang siap melompat.
Huuup …
Kolonel Madi melompat. Sersan Ipung mengulurkan tangannya. Dengan satu kali mendorong kepalanya ke depan, kedua tangannya sudah bergelantungan di besi penyangga terali.
Dreeep …
Dengan mudahnya Ipung menarik tangan Kolonel Madi. Keduanya kini aman bersembunyi di lubang pla fon.
Mendengar suara berisik, seorang anggota pasukan yang tengah berpatroli mendekati asal suara yang mencurigakan itu. Dia berhenti persis di basah lubang plafon tadi.  Melihat ke sekitar. Aman. Tapi saat dia melihat ke atas dan bermaksud melaporkan  ke atasannya ada lubang plafon yang terbuka, Sersan Ipung dengan cepat beraksi.
Dia julurkan tangan dan kepalanya, persis di bagian belakang kepala laki-laki bermata biru itu. Dengan satu kali pitingan, ia putar leher ke kanan.
Kreeek …
Tewas seketika.
Dengan memutar dan mendorongnya kepala ke depan, sambil ditarik Kolonel Madi, Sersan Ipung sudah berada di mulut bagian dalam lubang plafon itu.
Agar tak ketahuan rekan-rekannya yang lain, Kolonel Madi berinisiatif turun dengan melompat, lalu menyeret anak buah Jenderal Kick yang tewas itu ke dekat pintu masuk.
Namun, ketika ingin kembali ke tempatnya semula, Kolonel Madi melompat ke belakang setelah dua anggotna pasukan pengaman berbelok ke arah persembunyiannya.
Keduanya sempat berhenti di dekat lubang plafon yang menganga tadi. Karena cepat ditutup Sersan Ipu ng, keduanya lantas meneruskan patrol ke ruangan lain.
Beberapa saat setelah kedua rekan lasykar yang tewas itu berbelok ke kanan, Kolonel Madi dengan ta ngkas keluar dari persembunyiannya.
“Sersan …!
Treeeng.
Terali dibuka. Kolonel Madi melompat  dan dengan satu kali dorongan kaki ia sudah berada di dalam plafon bersama  Sersan Ipung.  
Treeeng …     
Lubang plafon sudah ditutup.
Sssst …
Dua lasykar muda usia tadi balik arah lagi.
“Tunggu sebentar sersan!” Bisik Kolonel Madi.  Dia meminta Sersan Ipung mengintip dari balik terali tingkah kedua tentara musuh itu.
Salah satu dari keduanya, berkulit putih bersih menanyakan kemana rekan mereka yang tadi berpatroli.
“Mungkin lagi ke toilet sersan, siapa tahu.” Kata temannya berkulit hitam manis.
“Buang air begitu?
“Mungkis sersan.”
“Mana diperbolehkan buang air  segala saat bertugas sersan.”
“Kalau kebelet gimana sersan?”
“Ya tahankan sajalah.”
“Susah sersan. Sersan belum ngerasain bagaimana orang kebelet,” terang si hitam manis.
“Belum ngerasain gimana. Wong sudah sering begitu kok,” ujar si kulit putih.
“Gimana cara nahannya sersan?”
“Tarik nafas …”
Ha ha ha ha …

12
“KOPRAL Hanafi!”
“Siap Kolonel.”
“Mobilnya sudah siap?”
“Sudah siap Kolonel.”
“Tetap siaga.”
“Siap Kolonel.”
Kopral Hanafi baru beberapa menit lalu memindahkan mobil dari dekat danau ke bawah pohon tak jauh dari tempat persembunyian dia dan Sersan Wini.
Selanjutnya mereka belum diperbolehkan melepaskan tembakan sebelum ada perintah dari Kolonel Ma di. Padahal mereka sudah tak sabar untuk masuk ke kediaman Jenderal Kick. Mereka kuatir rekan-rekan mereka yang kini ada di dalam rumah sangat besar dan luas itu mengalami kesulitan. Apalagi di berbagai tempat tertentu dipasang alarm yang memungkinkan Kolonel Madi dan beberapa anak buahnya  tertang kap dan ditawan pasukan lawan.
Namun kekuatiran itu sirna setelah mendengar penjelasan langsung dari sang atasan, disusul komen Letnan Basri dan Kopral Agus.
 Sersan Wini dan Kopral Hanafi tidak lagi menunggu.  Keduanya sudah menyiapkan beberapa alat dan bahan peledak seperti bom lempar asap dan granat.
Sersan Wini yang sedari tadi ikut membantu Kopral Hanafi menggali lubang beberapa meter ke arah kediaman Jenderal Kick, kini mulai bernafas lega.
Dia sudah bisa memasukkan dua bom lempar asap itu ke dalam lubang berbentuk L itu. Bom itu akan me ngeluarkan asap dan menyesap masuk membongkar bongkahan tanah di depannya berbentuk lubang.
Asap itu kemudian terus menyebar hingga beberapa meter ke depan. Tepat di bawah kediaman Jenderal Kick, asap itu diperkirakan berhenti menyebar, justru  beralih  membentuk gumpalan. Gumpalan itu ke mudian mengeras, lalu terdorong ke atas dan terjadilah ledakan.
Meski tidak sedahsyat bom atom, ledakan ini paling tidak membuat kocar-kacir pasukan khusus Jenderal Kick. Mereka tidak akan fokus lagi mencari asal ledakan dan penyerangan mendadak yang dipimpin Kolo nel Madi.  Dengan demikian target menangkap hidup-hidup sang jenderal bisa berjalan lancar dan sesuai rencana.
“Bagaimana Sersan Wini?”
“Lumayan menguras tenaga Kopral Hanafi.”
“Ya. Mudah-mudahan saja kita berhasil sersan. Sehingga kita pulang dengan membawa sebuah keme nangan besar, bukan kekalahan,” harap Kopral Hanafi yang menyempatkan diri berzikir di sela-sela ke sibukannya memindahkan mobil  dan bersama Sersan Wini menggali lubang.
“Mudah-mudahan saja kopral. Kita sama berdoa,” kata Sersan Wini.  Tak lama setelah itu dia mendapat kabar dari Kolonel Madi  bahwa target sasaran telah dekat dan meminta penyiagaan terus ditingkatkan.
Apa yang terjadi kemudian?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung berhasil menemukan letak kamar tidur Jenderal Kick. Sang Jenderal me nempat kamar paling belakang yang dijaga secara berlapis oleh pasukan pengaman khusus.
Tidak mudah memang untuk bisa masuk ke kamar yang lumayan besar itu. Hampir tidak ada celah.  Dari berbagai sisi sulit buat dilalui karena dipasang alat pengintai dan tombol merah pertanda ada maraba haya.
Solusinya?
Kolonel Madi dan Sersan Ipung melubangi atap plafon dengan besi runcing menyerupai pisau. Lubang itu tidak besar. Tapi cukuplah untuk melihat mereka yang ada di dalam kamar. Ternyata tidak mudah. Perlu waktu lima menit untuk melubangi atap itu.
Selain harus tidak menimbulkan suara berisik, juga tidak bisa cepat dikerjakan karena atap plafon ter bikin dari bahan material pelapis yang amat kuat.
Sersan Ipung memicingkan matanya sebelah kanan. Sekilas tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Namun, ketika dia menggeser letak mata kirinya sedikit ke bawah, terlihat Jenderal Kick sedang tertidur pulas. Ngorok.

13
“SERSAN Wini …”
“Siap Kolonel.”
“Berapa waktu yang tersisa?”
“Sepuluh menit dari sekarang Kolonel.”
“Oke. Tetaplah siaga sersan. Kami akan masuk …”
“Siap Kolonel.”
Setelah memperbesar cakupan lubang atap plafon yang dilakukan Sersan Ipung, Kolonel Madi bersiap tu run dengan melompat dari ketinggian sepuluh meter.
Sejenak dia mengambil ancang-ancang dengan menurunkan kepalanya terlebih dulu beberapa sentime ter, keluar dari lubang. Setelah dirasa aman, dia menurunkan seluruh badannya termasuk kedua kaki nya, dibantu Sersan Ipung dengan mendorongnya pelan-pelan.
Cuuuuusss …
Meluncur dengan kepala di bawah. Kedua tangannya lebih dulu menyentuh lantai, tanpa suara. Sukses ia lakukan setelah dengan cepatnya ia putar ke depan kedua kakinya. Bergulingan di lantai. Bersembunyi persis di balik tempat tidur Jendera Kick.
Kolonel Madi belum beraksi. Dia masih mengamankan posisi. Dia hanya bisa melihat dari jarak kurang  setengah meter  Jenderal Kick yang masih tidur pulas. Dia mengisyaratkan pada Sersan Ipung agar Kop ral Agus dan kawan-kawan segera masuk.
Bagaimana?
Kopral Agus dan Sersan Kifli mendekati pintu masuk menuju ruangan Jenderal Kick. Lalu keduanya me nempelkan bom lempar asap.  Setelah itu keduanya mundur beberapa langkah ke belakang setelah dari depan pintu mulai ada asap yang mulai menyebar masuk ke bagian bawah, atas dan lubang kunci pintu.
Kletek …
Pintu terbuka.
Beberapa anggota pasukan pengaman bergerak cepat. Mereka mendekat ke pintu  dengan senjata siap ditembakkan.
“Buka sersan!” Kata salah seorang dari lima anak buah Jenderal Kick dengan suara tak terlalu keras.
Kreeeng …
Cessss …
Asap  menyebar. Belum sempat menengok ke luar pintu, kelimanya mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya tewas dengan seluruh tubuh membiru.  Beberapa rekan mereka yang masih tersisa serentak mendekat setelah mendengar  suara erangan sesaat tadi.  Mereka hanya ingin memastikan apa gera ngan yang telah terjadi.
Saat itulah, ketika Jenderal Kick membalikkan tubuhnya dari tidur telentang miring ke kanan, Kolonel Ma di bergerak cepat. Dia hantam kepala bagian belakang sang jenderal  Kick dengan besi runcing. Tentu sa ja pingsan dan tak sadarkan diri.
Dibantu Sersan Ipung yang turun beberapa detik kemudian, keduanya membopong Jenderal Kick keluar dari kamar  tidurnya. Semua berjalan sesuai rencana. Tak ada adu jotos dan saling melepaskan temba kan.
Beberapa prajurit  musuh yang tersisa dengan mudahnya dihantam Kopral Agus dan kawan-kawan de ngan bam bu runcing. Beberapa saat terdengar erangan, namun setelah itu hilang.
Suasana berubah senyap.
Kepanikan mulai terjadi setelah Kolonel Madi dan anak buahnya sudah berada di depan pintu gerbang kediaman Jenderal Kick. Sempat terjadi baku tembak yang seru.
Sayang, adu tembak itu hanya berlangung sekitar dua menit, karena setelah itu  terdengar ledakan sa ngat dahsyat . Saking dahsyatnya, tubuh prajurit yang tadinya masih hidup, terpental ke udara dalam kondisi hancur berkeping-keping.
Tak ada lagi teriakan.  Selain hanya menyisakan asap tebal putih dan kobaran api yan memakan setiap sudut bangunan kediaman Jenderal Kick yang mash tersisa.

TAMAT
(Sambungan dari cerita fiksi sebelumnya:  ‘KOTA LAMA’)

Senin, 20 Februari 2017

Doger



Cerita Fiksi Lepas

Doger
By  Bang Amin

I
GUK … guk … guk …
Guk … guk … guk …
Doger, anjing kesayangan Tuan Rahmat, malam it uterus menyalak di teras rumah mewah bertingkat tiga.
Tuan Rahmat adalah pengusaha perkebunan yang sukses. Dia memiliki berhektar-hektar areal perke bunan sawit, karet, tebu, teh, cabai dan kopi. Selain pabrik pengolahan minyak sawit, karet dan padi.
Hingga mala mini  Tuan Rahmat belum pulang dari rumah sakit mengantar isterinya berobat. Sudah seminggu ini, teman hidupnya itu merasa tak enak badan. Rutin berobat dan check-up akhir-akhir ini.
Entah apa gerangan yang dilihat Doger, sehingga terus-terusan menyalak. Beberapa warga yang mele wati depan rumah Tuan Rahmat heran karena tak biasanya Doger menyalak dan menggonggong. Selain memang ada orang yang baru ia kenal bertamu ke rumah paling besar di pinggiran kota itu.
“Ngeri aku Sis,” bisik  temannya Monica kala keduanya hendak ke warung membeli gula dan kopi.
“Aku juga Ca. Kenapa tiba-tiba merinding aku.” Siska sempat menoleh ke pintu pagar tinggi itu dengan penuh tanda tanya. Sebelumnya  teduh dan sejuk ketika melihatnya, kini terkesan angker dan mena kutkan.
“Udah … Yuk cepat sedikit …” Kata Monica, mempercepat langkahnya. Pasalnya, dari warung nanti bakal lewat jalan yang sama. Mumpung belum terlalu malam, dan warung belum banyak pembelinya, cepat sampai. Dapat yang dibeli, langsung pulang ke rumah lagi.
Sementara di rumah sakit, Tuan Rahmat, setelah membayar ongkos perawatan dan obat isterinya, ber dua keluar dari rumah sakit. Dengan senyumnya yang khas, dia peluk hangat isterinya sebelum memper silakannya lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Chaaar …
Lampu mobil menyala. Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit. Melewati tikungan, memasuki jalan raya besar.
Lampu-lampu jalan bercahaya terang. Kepada isterinya, Tuan Rahmat melontarkan canda yang saking lucunya, membuat sang isteri tak bisa tertawa lagi. Hanya menunduk sambil mengusap perutnya yang terasa sakit karena menahan ketawa.
“Aku ingat saat kita pacaran dulu yang,” ucap Tuan Rahmat, sesaat setelah mobil melewati tempat yang sepi dengan kiri dan kanan banyak orang berjalan di pinggir jalan.
“Malas ah …” Jawab isterinya bergelayut manja di pundak Tuan Rahmat.
“Lha, jangan begitu sayang. Tanpa pacaran mungkin kita tidak saling kenal. Betul tidak?” Pancing sang suami yang membunyikan klakson ketika ada orang menyeberang jalan di kawasan traffic light.
“Oh ya?”
“Iya dong Ma. Apa mama kurang suka papa cerita soal pacaran kita dulu?” Tuan Rahmat menyalakan radio. Terdengar tembang lawas Widuri-nya Bob Tutupoli.
“Sukalah dong yang. Masa enggak suka. Cuma kenapa papa tiba-tiba ngomongin soal  … “Nurbaya mem perkecil volume suara radio, agar alunan lembut suara penyanyi kenamaan tanah air itu lebih enak kede ngarannya di telinga.
“Papa hanya ingin kamu senang sayang. Papa tak ingin kamu sedih terus-terusan sakit. Papa ingin hibur kamu. Salah satu caranya, ya itu. Cerita-cerita yang lucu dan mengenang masa pacaran kita dulu. Tentu yang indah-indah agar mama senang,” kata Tuan Rahmat dengan suara yang sedikit melemah tapi men desah lembut. Matanya berkaca-kaca. Entah dengan cara bagaimana nantinya bisa lebih enjoy. Dia tak ingin orang yang paling disayang ini selalu merenungi diri divonis kena penyakit jantung.
Makanya, saat tembang Widuri berlalu, berganti tembang ‘Angin Malam’ nya Broery Pesolima, sang is teri  tertawa kecil sembari menepuk pelan pundak suami tercinta.
“Mama lalu ingat sesuatu, Pa.” Kata Nurbaya. Dia meminta suaminya menepikan sejenak mobil, agar enak bercerita.
Syiiiiit …
Resh …
Mobil berhenti tak jauh dari deretan gerobak makanan gorengan  dan bakso.
“Papa ingat eggak waktu datang ke rumah, mama tutup pintu, dan papa langsung pulang, tak pamit lagi?”
Tuan Rahmat mengingat-ingat sebentar. Dia tepuk-tepuk jidatnya supaya cepat ingat.
“Malam kejadiannya. Ingat kan Pa?”
Tuan Rahmat terdiam. Lalu …
“Ooo .. itu .. Ingat Ma … Eeeem … “
“Marah enggak papa waktu itu sama mama?”
Tuan Rahmat menggelengkan kepala.
“Biasa ajalah Ma. Ya, ditolak enggak apa-apa. Buktinya, besoknya aku kan datang lagi. Mama akhirnya mau buka pintu dan papa masuk …”
“Naaa .. itu dong Pa. Papa enggak marah, tapi mama keki amat sama papa. Tahu enggak kenapa?”
“Ya mungkin karena papa langsung pulang aja gitu, barangkali.”
“Bukan Pa …”
“Lalu apa dong Ma?”
“Karena menurut mama waktu itu, papa itu banci …”
“Haaa …!”
Piiiiiin …
Saking kagetnya, Tuan Rahmat kepencet klakson. Sebagian pedagang mendekat, menanyakan mau apa, biar diantar saja. Tak usah turun dari mobil.
Pasutri ini akhirnya memesan  dua porsi bakso daging dengan dua gelas air teh manis hangat. Sambil menunggu pesanan, Nurbaya melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu mama bertanya pada diri sendiri. Orang ini cowok apa cewek. Udah pendiam, loyo pula.”  Kata sang isteri tertawa geli.
“Tapi terbukti kan cowok tulen?”
“Iya sekarang. Dulunya enggak kan Pa. Ayo .. takut kan. Ngaku ajalah Pa,” ledek isterinya.
Tuan Rahmat hanya tertawa. Tapi cuma sesaat. Setelah itu dia peluk isterinya. Kecup bibir dan kening nya. Mesra nian …
“Mama … Papa cinta mama,” ucap Tuan Rahmat. Membuka jendela mobil, mengambil pesanan bakso dan air teh manis.
“Hati-hati dong Pa. Panas …” Nurbaya mengingatkan. Dia melihat suaminya buru-buru menyendok mie bakso dengan pentolnya.
Lahap nian makan bakso di pinggir jalan. Berduaan pula. Ingat kala pacaran dulu, Tuan Rahmat dan isteri nya ingin menikmatinya mala mini dalam suasana yang hangat dan khidmat.
Alunan tembang lawas terdengar sahdu. Dari Bob Tutupoli, Broery Pesolima, Teti Kadi, kini Edi Silitonga  dengan tembangnya ‘Mama’.
Suasana tempat jajanan mulai ramah. Terus menerus didatangi pembeli, yang datang silih berganti. Ada yang memesan dan dibawa pulang. Juga ada yang makan di tempat bersama pacar, teman, anak dan is teri.
“Papa serasa belum kenal beberapa lama …”
“Gombal …”
“Auuw … sakit ..” Ringis Tuan Rahmat. Perutnya dicubit  sang isteri. Walau hanya cubit sayang, karena dilakukan tiba-tiba, sakit juga.
“Mau tambah lagi tuan?” Tanya pedagang bakso. Dia menghampiri karena dikira kedua suami isteri itu memanggilnya, padahal tidak.
Suara menyerupai panggilan itu memang berasal dari Tuan Rahmat dan isteri. Satu menjerit tak kencang karena kesakitan dicubit, satunya lagi ketawa sambil meminta jangan terlalu keras berteriaknya.
“Mama sih enggak bilang-bilang kalau mau cubit …”
“Papa juga enggak bilang-bilang sama mama kalau belum kenal beberapa lama dengan mama. Jadi sela ma ini mama ini enggak ada dong di mata papa …”
“Bukan itu maksud papa, Ma. Saking cintanya papa sama mama, sepertinya papa tetap muda. Hangat  dan memesona. Tul kan Ma?”
Nurbaya senang mendengarnya. Tapi dia tak menjawabnya. Karena sejak mereka menikah, sang suami memang sangat sayang kepadanya. Apalagi setelah Nurbaya jatuh sakit. Tetap setia mendampingi, pa dahal banyak agenda acara yang harus dihadiri.
Sang isteri sudah mengingatkan agar jangan lupa dengan pekerjaan. Tak usah berlebihan memperlaku kan isteri dengan mengabaikan tugas sehari-hari di tengah sibuknya mencari rezeki.
“Papa enggak boleh abaikan pekerjaan papa. Kasihan mereka …” Kata Nurbaya. Luasnya areal perkebu nan mengharuskan Tuan Rahmat rutin mengawasi. Sebab kalau tidak, rentan  terjadi korupsi di sana sini.
Namanya juga karyawan. Karena sulit menahan godaan, tidak korupsi uang, korupsi waktu. Merasa tidak diawasi, seenaknya bekerja tanpa memikirkan maju tidaknya perusahaan. Timbul pikiran kotor. Perusa haan boleh bangkrut, asalkan diri kenyang perut.
Nurbaya ingin suaminya tetap eksis. Sakit dan sehat, itu adalah perjalanan hidup. Tak selamanya kita sehat wal afiat, sesekali jatuh sakit dan menghadapinya dengan sabar dan tidak berlebihan.
Nurbaya dikaruniai  seorang anak. Usianya kini sudah mendekati  dua puluh tahun. Dia masih kuliah di Fakultas Pertanian di salah satu perguruan tinggi negeri di luar kota.
Candra ikut neneknya. Selain karena sudah dekat dengan sang nenek sejak masih bayi, kuliah di luar tempat tinggal memang menyenangkan.
Di antaranya bisa tahu keadaan kota lain, perilaku warga dan saat pulang liburan, amboi sungguh me nyenangkan.  Seperti baru pertama kali  datang, semua berubah tanpa mengorbankan lingkungan.
Candra sangat menyayangi ibunya. Tentu juga ayahnya. Dia seringkali, jika ada waktu luang, menelepon Sang Mama. Bercerita apa saja, curhat soal kuliah, teman dan semuanya yang terjadi pada hari itu dan sebelumnya.
Bagi Candra, kehadiran Sang Mama di hatinya, menambah semangat hidupnya. Tak terasa capek kendati harus pulang malam dari kampus. Hidup terasa lebih terarah. Mau kemana dan berhentinya dimana. Doa ibu sangatlah mustajab. Dia mengalahkan segala rintangan yang dihadapi sang anak.
Sekeras  apapun rintangan itu, Candra tahu doa dan kehadiran ibu sangat ia perlukan. Hal ini dikarena kan dapat ‘mempermuda’ usia, serta apa yang dikerjakan, selalu dilandasi rasa tulus, ikhlas, niat yang suci, demi mendapat ridha-Nya semata.

II
“MAS. Kok sepi ya. Kemana Doger?” Nurbaya turun dari mobil. Pintu pagar dia buka. Ditutup lagi setelah mobil masuk pelataran teras sebelum dikunci dalam garasi.
“Dogeeer … Dogeeeer …!”
Tak ada sahutan. Merasa takut, Nurbaya menunggu suaminya turun dari mobil. Keluar dari pintu garasi.
“Mas Rahmat …”
“Mas …”
Belum ada sahutan. Namun saat hendak menoleh ke belakang, suami tercinta sudah ada. Bikin kaget tapi tidak sampat terkejut.
“Doger Mas …”
“Di dalam mungkin,” jawab Tuan Rahmat. Mendekati pintu. Membukanya sambil memanggil Doger.
Ke setiap sudut pasutri ini memanggil-manggil anjing kesayangan mereka. Tetapi tetap tak diketemukan juga.
Kemana gerangan dia?
Heeeegh … zzzz..
Heeeeg … zzz ..
 Tuan Rahmat tertawa. Dia panggil isterinya. Saat tahu Doger tertidur pulas, juga ikut tertawa.
“Bangunin ajalah Yang,” saran Sang Suami.
“Dogeeer …!”
“Dogeeer …!”
“Dogeeer …!”
Sampai harus dibelai-belai kepalanya berulangkali, Doger baru terjaga dari tidurnya.
Uuuuukh …
Uuuuukh …
Uuuuuukh …
Menggeliat manja di pangkuan Sang Nyonya, tertawa lalu dibawanya masuk ke sofa ruang tamu. Di tem pat inilah Doger biasa tidur, bermain sendirian jika majikannya sedang tidak berada di rumah.
“Kenapa aku bisa tertidur ya?” Tanya Doger dalam hati. Siapakah yang telah membuatku tertidur pulas. Padahal tadinya tidak makan sesuatu apa pun.
Uuuukkh …
Doger melompat ke sofa empuk. Lalu tidur melingkar. Matanya sesekali terbuka, lalu terpejam. Kemu dian terbuka dan terpejam lagi.
Malam semakin larut. Di luar rumah tampak sepi. Lengang. Seekor anjing berjalan mencari makan. Men dekati tempat  sampah. Lalu dibukanya penutup kaleng besar itu. Ditariknya kantong berisi aneka ma kanan yang tersisa, lalu  dimakannya yang dia suka, seperti daging dan tulang ayam.
Beberapa kendaraan roda dua dan empat masih beseliweran. Ada yang membawa barang, juga berbon cengan. Bahkan ada juga bermotor sendirian. Menembus  dinginnya udara malam demi mencari sesuap nasi buat menafkahi anak bini.
 Cuaca tidak terlalu dingin dan tidak juga panas. Angin berhembus tidak terlalu kencang. Pos ronda su dah  didatangi penjaganya.  Ada yang bermain gaple, juga ada yang sekadar tidur-tiduran. Sebagian mu lai mengelilingi kampung dan kompleks perumahan mengawasi rumah warga.
Di atas pukul sepuluh, warga pinggiran kota ini mulai tak terlihat lagi di depan rumah mereka. Kelayapan ke sana kemari. Mereka sudah tertidur pulas. Mengistirahatkan badan dan pikiran untuk bersiap diri me nyambut datangnya hari esok.
Demikian pula halnya Tuan Rahmat dan isteri. Selaku pelaku bisnis yang sibuk, dia harus bisa dan pandai membagi waktu. Jarang berada di rumah. Lebih banyak keluar rumah untuk urusan bisnis.
Setibanya di rumah, jika tidak melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan, Tuan Rahmat selalu me nyempatkan diri mengajak Nurbaya santap malam di luar rumah. Mulai dari pusat  kuliner di kaki lima hingga restoran ternama.
Sesekali dia ‘berkurung’ diri di rumah. Menanam bunga mencangkul tanah dan mengajak isterinya ber santai  di belakang rumah. Sambil duduk berdua di ayunan, keduanya leluasa menyaksikan burung pipit hinggap di ranting pepohonan sebelum terbang ke atap rumah.
Bagaimana dengan Doger?
Malam ini Doger merasa lebih nyaman. Ia tak mendengar suara-suara yang dapat mengganggu istirahat nya. Hanya yang mengusik pikirannya saat ini, siapa gerangan yang menyebabkan dirinya  tertidur pulas di samping teras rumah.
“Untung tuan tidak marah. Coba kalau marah, bakal terusir gue,” kata Doger. Dia berpindah tempat ti dur. Semula di atas sofa, kini beralih ke atas karpet permadani.
Kletek …
Doger terjaga. Lalu mencari tahu asal suara itu. Dia perkirakan di teras depan. Dia belum menyalak. Ha nya ingin memastikan suara apa gerangan.
Kletek …
Suara itu berpindah ke samping. Saat Doger mendekati jendela kaca samping, suara aneh itu pun hilang. Doger mulai kesal. Lidahnya menjulur liar keluar. Nafasnya turun naik teramat kencang.
Kletek …
Gresek …
Kali ini suara mirip benda jatuh itu terdengar lagi. Jika tadi di samping, kini di belakang.
Uuuuukh …
Doger melompat ke lemari dekat jendela belakang. Dari sini ia leluasa melihat keluar. Tak ada siapa-sia pa. Orang atau hewan misalnya.
“Siapa ya?” Tanyanya dalam hati. Penasaran, ia turun dengan melompat dari lemari besi itu.
Dia kembali ke ruang tamu. Suara itu tak terdengar lagi. Namun, saat keesokan harinya, Tuan Rahmat menemukan satu ekor ayam jagonya mati. Diketemukan tak bernyawa lagi di teras belakang rumah.
Nurbaya ikut berduka. Soalnya, ayam yang mati itu adalah ayam jago kesayangan suaminya. Suara kokok nya sangat merdu. Selalu berkokok menjelang subuh.
Kokoknya itulah yang membikin Tuan Rahmat jatuh cinta. Jinak dan tidak suka mengganggu ayam yang lain. Makan apa saja dia mau. Tidak suka berkeliaran jauh. Hanya di sekitar rumah.
Tapi soal berkelahi, si jago memang jagonya. Dia siap mengawal ayam lain dari gangguan sesama jenis termasuk Doger. Namun, ketika teman bisnis Tuan Rahmat bermaksud ingin membelinya, dia tolak ha lus.
Bukan perkara uang. Tapi hobi dan kesenangan. Jika kita senang, maka kita akan terpuaskan. Itulah kira-kira jalan pikiran Tuan Rahmat. Tak heran, ketika diajak duel sesama ayam jago, pebisnis tanggung ini juga menolaknya.
Namun pagi ini, tuannya Doger tak bisa berbuat banyak. Dia harus rela ayam jagonya mati. Tidak ada darah, apalagi bercak di lantai. Bau busuk dan anyir pun tidak.
Doger  juga merasa kehilangan teman setianya di rumah. Ikut menemani Tuan Rahmat membuang bang kai ayam jago ke dalam kotak sampah sebelum diangkut menggunakan mobil pengangkut sampah ke tempat akhir pembuangan sampah.
Tak banyak yang bisa dikomentari Doger. Dia hanya duduk termenung di dekat ayunan. Sementara Tuan Rahmat dan isteri baru saja pergi berbelanja ke pasar. Dia kini hanya ditemani cicit burung pipit dan sua ra berisik dari beberapa ekor ayam di dalam sangkar.
“Melamunkan apa Dog?” Tanya seekor burung pipit pada Doger dari atas ranting pepohonan.
“Ah mau tau aja lu,” jawab Doger sewot.
“Aku ini kan temanmu juga. Walau badanku ini kecil, soal kesetiakawanan aku barangkali nomor satu ..”
“Gombal ah.”
“Lha, kalau aku tak setia kawan, kenapa aku sekarang ini berada di dekatmu yang sedang melamun seorang diri.”
Doger diam.
“Ceritakanlah kepadaku Ger, apa yang kau lamunkan. Berbagilah sesama aku. Jangan kau simpan sen diri. Tak baik itu buat kesehatanmu.”
Doger masih diam.
Burung pipit mulai gerah.
“Sudah,” katanya.  “Kalau begitu aku terbang dulu ai.”
“Tunggu Pit!” Teriak Doger.
Burung pipit mengurungkan niatnya untuk terbang.
“Baiklah,” kata Doger, “Aku bersedia membagi kisahku ini kepadamu …”
“Nah, begitu dong, Ger. Itu baru namanya teman. Cepat ceritakanlah kepadaku. Aku sudah tidak sabar mendengarnya,” pinta si burung pipit. Meminta teman-temannya sesama burung pipit menunda terba ng. Sama-sama mendengar kisah seru dari Doger.
“Semalam,” ujar Doger memulai kisahnya,” Aku tiba-tiba tertidur pulas. Apa sebabnya, aku sendiri tidak tahu. Tapi sebelumnya aku melihat sesuatu yang sulit aku lukiskan. Karena gelap, jadi tidak jelas ku lihat.”
“Setelah tuan dan nyonya pulang,” lanjut Doger, “Kemudian istirahat di kamar, aku mendengar suara, en tah dari mana suara itu. Selalu berpindah-pindah. Awalnya di teras depan, aku dekati. Hilanglah suara itu. Namun berlanjut di samping rumah. Terakhir, suara itu terdengar di belakang rumah.”
“Setelah itu,” kata Doger, “aku tidur dan bangun keesokan harinya. Ternyata ayam jago kesayangan tuan telah mati.”
“Itulah kawanku,” jelas Doger, “Sekelumit kisah dariku. Sekarang terserah kau dan teman-temanmu yang lain, mau menanggapinya atau tidak. Tugasku selesai. Permintaanmu telah kupenuhi,” terang Doger. Lega rasanya telah berbagi kisah dengan si burung pipit.
Menurutku, kata si burung pipit,” Kamu harus hati-hati Ger. Karena sekarang bahaya besar mengancam mu dan majikan kamu …”
“Ah yang benar Pit?” Tak percaya Doger. Karena seringkali burung pipit membesar-besarkan masalah ya ng sebenarnya tidak bermasalah.
“Tapi tenang saja Ger. Kan ada aku. Aku siap membantumu bila kau butuhkan. Tapi jika tidak, ya tidak apa-apa,” kata pipit.
Doger cuma tersenyum.
“Gerrr!”
“Ya Pit.”
“Dengar omonganku tadi?”
“Dengarlah …”
“Bagaimana menurut kamu?”
“Siplah. Nanti aku beritahu ketika aku perlu kamu, kawan.”
“Siiip. Aku terbang dulu ah. Biasa, cari makan.”
Klepek …
Klepek …
Cit … cit …
Cit .. cit …
Doger kemudian mendekati sangkar ayam yang terbikin dari kayu. Dia tengok ke dalam sangkar empat persegi panjang itu. Ayam pada istirahat. Ada yang mengeram, sekadar duduk, bahkan ada yang pejam kan mata.
Mereka tak hiraukan kehadiran Doger. Bukan karena tidak berteman.  Ibarat satpam, Doger mengawasi sudah biasa. Diam dan istirahat di tempat.
Doger kembali tidur di ayunan.

III  
ATAS permintaan Doger, burung pipit bersedia mengintai dari balik pepohonan dan atap rumah. Siapa gerangan yang sering berbuat aneh di malam hari. Juga ayam Tuan Rahmat yang mati mendadak, apa ada kaitannya dengan suara-suara  aneh itu.
Tuk … tuk .. tuk …
Ada suara sepatu. Tapi siapa, itulah yang bikin penasaran burung pipit. Mereka yang jumlahnya lebih dari lima ini turun dari pepohonan. Mendekati ayunan dan bertengger di tiang besi penyangganya.
“Eeem … sepertinya pintu itu akan dibuka,” kata Pipit. Gagang pintunya bergerak-gerak.
Celetek …
Celetek …
Pintu terbuka setelah teralis pintu dibuka. Tapi siapa yang membukanya. Sesuai  kesepakatan dengan Doger, jika suasananya sudah membahayakan, burung pipit bersiul.
Doger mendengarnya.
Tapi tidak menyalak.
Doger justru berjalan mendekati pintu belakang. Dilihatnya pintu terbuka. Dia dekati pintu itu. Kemu dian dia keluar …
“Tutuplah kau pintu itu,” kata Pipit dari tiang ayunan.
Doger menarik gagang kunci pintu pelan-pelan. Pintu pun tertutup, disusul teralis. Meski tidak terkunci, paling tidak bisa tahu siapa yang masuk rumah. Karena setelah masuk, dia akan keluar lewat pintu.
Pintu manakah?
“Sementara ini kita menunggu saja di sini,” kata si Pipit, terbang rendah ke tempat duduk ayunan.
“Aku mau keliling-keliling dulu ya Pit.” Doger penasaran. Dia ingin mengontrol rumah dengan cara berke liling dari luar. Mengintip ke dalam. Mencari tahu apa ada sesuatu yang aneh di dalam rumah.
Agak lama juga Doger berkeliling. Karena tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sekitar kedia man majikannya, dia kembali lagi menemui si Pipit.
“Sudah kubilang tunggulah disini. Sebentar dia keluar,” ujar Pipit. Matanya mengantuk. Ingin tidur rasa nya.  Karena seharian terbang dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu ranting pepohonan ke ran ting pepohonan yang lain.
“Janganlah kau pergi dulu, Pit.” Pinta Doger. Sebelum pintu terbuka lagi, kita bakal tahu kerjaan siapa. “Barulah terbang ke mana kau sukalah.”
“Oke,” jawab Pipit.
Belum semenit mereka menunggu, sudah ketiduran. Sementara sang misterius sudah keluar dari rumah. Nurbaya, menengok Doger tak ada di ruang tamu, bergegas  mencarinya. Dari balik jendela ia mengintip ke teras rumah. Sepi. Tak ada siapapun di sana.
Ingin rasanya dia keluar. Tapi, karena sendirian sementara suami tercinta masih tertidur pulas, Nurbaya urungkan niatnya.
“Mungkin tidur di tempat lain,” bisiknya dalam hati. Mulutnya menguap. Nurbaya masuk ke kamar lagi, tidur di samping suaminya.

“Ger .. Doger …” Bisik Pipit membangunkan Doger yang ketiduran.
“Mana … Mana Pit?” Doger siap mendekati pintu belakang.
“Nanti dulu …” Cegah Pipit. Setelah Doger tenang, barulah Pipit mempersilakannya mendekati pintu.
Doger mencium sisa-sisa jejak dekat pintu. Tak ada. Namun dia berkesimpulan  makhluk misterius yang masuk lewat pintu belakang tadi itu sudah keluar. Ini bisa dilihat dari tidak tertutup rapatnya pintu te rali.  Padahal tadinya tertutup rapat bersama pintu.
Pipit menunggu di luar pintu saat Doger masuk ke dalam rumah. Supaya tak bosa menunggu, burung pipit terbang rendah.  Ia berjalan melenggang mengelilingi rumah.
Pipit tak merasakan hal yang aneh. Meski tadinya dia melihat pintu terbuka dan suara orang berjalan. Dari jendela depan ia mengintip ke dalam. Lalu ke belakang. Doger baru saja membuka pintu, keluar menemuinya.
Doger menggelengkan kepalanya.
“Nihil,” katanya pada burung pipit. Disepakati tengah malam menjelang pagi ini keduanya berpisah. Buat sementara tugas mereka  sudah selesai, walaupun belum membuahkan hasil apapun.
Seperti biasa, setelah mengunci pintu dengan kedua tangan dan mulutnya, Doger beristirahat di ruang tamu. Bukan di sofa, tapi dekat pintu agar mudah terlihat Tuan Rahmat dan isterinya.
Ketika bangun keesokan harinya, Tuan Rahmat menemukan ayam betinanya mati. Dia beritahu isterinya di dapur yang tengah menyiapkan sarapan pagi, bergegaslah ia melihatnya.
Tak ada darah sedikitpun. Bekas luka atau gigitan apalagi.
“Kerjaan siapa ya Mas?” Sang Isteri menduga ayam betinanya sengaja dimatikan, tapi oleh siapa, itu yang masih meraba-raba.
“Doger!” Panggil Tuan Rahmat.
Doger yang tampak lesu mendekati tuannya, lalu duduk sopan dan lebih banyak diam.
Sehatkah ia?
“Doger …!”
Doger belum bisa memastikan siapa pelakunya. Boleh jadi ayam mati karena salah makan. Diracun mung kin, atau bisa saja dipatuk ular dan binatang berbisa lainnya sampai mati.
Tak ingin berlama-lama berspekulasi,  bangkai ayam dibuang ke kotak sampah. Ayam betina yang sehat dengan bulu-bulu yang indah, hati siapa yang tak terenyuh dibuatnya.
Nurbaya amat menyayangi ayam betinanya itu. Setiap pagi ia beri makan beras ayam yang  dibeli di toko  penjual pakan ayam.
Saking sayangnya Nurbaya pada si betina, setiap kali ada teman-temannya yang datang berkunjung ke rumah, selalu ia perlihatkan dan perkenalkan ayam peliharaannya itu. Banyak yang memujinya sebagai ayam yang pertumbuhannya luar biasa. Sayang, ia menolak ikut kontes ayam sehat.
Dia hanya ingin, meski cuma ditemani Doger dan suami tercinta, keh diran  hewan yang dagingnya em puk bila dimakan, bersama kokok khasnya si ayam jantan yang telah tiada, menghibur hatinya yang ter kadang merasa sepi dan sunyi.
“Aku sayang mereka, Mas. Apa mungkin karena kita tak punya …” Kata Nurbaya pada suaminya saat minum teh berdua di kamar. Menemani Tuan Rahmat menyelesaikan pekerjaan kantornya.
“Kan sudah ada Candra. Mama rindu ya?” Ledek sang suami. “Kalau rindu, kenapa enggak telepon aja mama.”
Nurbaya tertawa.
“Oh iya Mas. Mama kelupaan. Belum tua sungguhan sudah pelupa. Gimana kalau sudah tua beneran …”
“Balik muda lagi, Ma.” Jawab Tuan Rahmat, melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti karena sang isteri menertawai diri sendiri.
Sembari ditemani Doger dekat meja telepon ruang tam, Nurbaya menelepon sang buah hati belahan jan tung, Candra.  Kebetulan tidak ada perkuliahan di kampus, sang anak berkenan menyambut telepon ma manya.
“Enggak rindu mama ya!.” Desah manja suara Nurbaya. Bak gadis remaja yang lagi jatuh cinta, Candra ha nya bisa ketawa tanpa bisa mengomentari sepatah kata.
“Can …!”
“Candra di sini Ma.”
“Belum dijawab dong pertanyaan mama tadi.”
“Sekarang Candra jawab. Candra rindu mama.”
“Nah gitu dong. Lantas, kenapa enggak pulang sayang?” Nurbaya  menurunkan volume suaranya. Lebih halus dan tidak mendesah manja lagi.
“Bentar pulang Ma,” kata Candra. Sambil menelepon, dia menyantap mie goreng campur telur ceplok karena belum sarapan sejak pagi.
“Kapan sayang?”
“Libur semesteran Ma.”
“Ya mama tahu. Tapi kapan libur semesternya Yang?”
“Eeeem … seminggu lagilah Ma.”
“Enggak bisa dipercepat aja Yang?”
Ha ha ha ha …
“Enggak bisalah Ma. Kan masih ujian sekarang. Nanti setelah ujian baru Candra pulang. Mama harus sa bar dong ya. Kan dulu mama udah bilang ke Candra, mama  akan sabar menunggu kepulangan Candra. Masih ingat enggak Ma?”   
“Apanya?”
“Omongan mama yang dulu itu.”
“Udah lupa say …”
“Aduh mama. Gimana sih lupa terus. Nanti dengan anaknya juga lupa …”
“Enggak bakalan. Buktinya, sekarang mama telepon kamu. Enggak lupa kan? Malah menurut mama, kamu yang sengaja ngelupain mama.”
“Enggak dong Ma.”
“Buktinya, kalau enggak mama telepon, kamu enggak telepon mama. Itu berarti kamu udah lupa sama mama.”
“Maafkan Candra ya Ma. Candra bukan enggak ingat. Tapi sibuk dengan kuliah. Soalnya, Candra ingin cepat selesain kuliah ini, biar cepat pulangnya. Gitu lho Ma.”
“Pacar gimana? Udah dapat belum?”
“Kalau itu belum Ma. Belum kepikiran sama Candra. Candra pinginnya tuntas studi dulu. Baru mikirin cewek. Enggak salah kan Ma?”
“Enggak juga sih. Mama cuma nanya aja say. Sudah pa belum. Kalau sudah ya bagus. Kalau belum …”
“Kenapa Ma?”
“Siap-siap jadi perjaka tua.”
Ha ha ha ha …
“Mama gitu sih sama anak.’Ntar beneran perjaka tua gimana Ma. Mama juga kan yang rugi.”
“Kok mama yang rugi. Yang perjaka kan kamu sayang.”
“Maksud Candra Ma. Kalau Candra tak sampai kawin, kan sampai mati mama enggak bakalan menimang cucu …”
Nurbaya diam.
“Ma …!”
“Papamu mau bicara say …” Telepon beralih tangan ke Tuan Rahmat.
“Pulanglah kalau udah libur. Hibur mama yang lagi sedih …”
“Sedih kenapa Pa? Mama enggak bilang-bilang tadi sama Candra …”
“Tidak maulah mamamu cerita. Malulah dia …”
Telepon terputus.
Karena terlepas dari tangan Tuan Rahmat. Karena harus berkali-kali menghindari cubitan keki dari sang isteri. Enggak terima disebut suaminya malu hati pada Candra, anak semata wayangnya.
Kriiiing …
Kriiiing …
Nurbayalah yang mengangkatnya. Tuan Rahmat senyum-senyum di sebelah kanannya.
“Ayam mama baru aja mati pagi tadi Yang. Mama sedih …”
“Oooo gitu. Candra kira apa Ma.”

IV
  
“AKU sedih Pit. Aku merasa tak berguna,” aku Doger pada burung pipit kala keduanya beristirahat di bawah pohon.
“Jangan begitulah kau, Ger. Tak baiklah kau berkata seperti itu,” kata pipit. Melompat naik ke ranting pepohonan.  Sedangkan Doger duduk bersandar di batang pohon.
“Seperti kau lihat Pit. Sampai saat ini aku belum bisa berbuat apa-apa sejak sepasang ayam majikanku mati mendadak.”
“Itu namanya putus asa. Tak baik berputus asa itu kawan. Yang baik adalah teruslah berbuat …”
“Berbuat apa yang kau maksudkan itu Pit?” Tanya Doger menggerak-gerakkan kepalanya memandang teduh ke sekitar, lalu rebahan di rerumputan.
“Banyak kawan. Sungguh beruntung kau punya majikan yang baik hati kepadamu. Menurutku, kau harus berbuat sesuatu yang dapat menyenangkan hati mereka.”
“Apa misalnya Pit?”
“Saat Nyonya mengantar tuanmu kerja, kau jangan diam saja. Kau harus ikut juga mengantar sampai ke teras. Tak usah malu. Kau harus kreatiflah. Jangan pasif …”
“Lantas, apa yang harus kulakukan?”
“Mudah saja Pit. Kau bukakan pintu pagar. Atau membantu tuanmu membuka pintu garasi. Walau itu tak seberapa, bila kau lakukan terus menerus, jadi luar biasa. Majikanmu pasti akan senang …”
Doger tersenyum.
“Atau misalnya Ger, saat ada tamu Tuan dan Nyonya mu, jangan kau marahi. Jangan kau usir mereka. Tapi terimalah dengan baik dan ramah,” terang Pipit.
“Bagaimana caranya Pit?”
“Gampang saja Ger. Kau berdiri dekat Tuan dan Nyonya mu. Sebagai penyambut tamulah, atau bisa juga kau bukakan pintu pagar dan pintu rumah bersama-sama dengan majikanmu. Dengan begitu mereka kenal kau. Kau juga kenal dengan mereka.”
Doger mengangguk. Perasaannya mulai tenang. Tidak merasa kuatir lagi bakal ‘terusir’ dari kediaman Tu an Rahmat. Karen bukan tidak mungkin, melihat Doger tak bisa bersikap ramah dan mengamankan ru mah dari segala macam gangguan, majikannya justru mencari hewan peliharaan lain yang lebih pintar dan berdaya guna.
“Itulah yang sebelumnya  aku kuatirkan Pit,” kata Doger membagi kegundahannya, yang walapun tak suka, ia terpaksa bagikan kepada sahabat karibnya itu.
“Tak usah kuatirlah kau, Ger. Yang penting ingatlah selalu pesanku  tadi. Mudah-mudahan kamu betah dan disenangi majikanmu.”
“Sepertinya kamu mau pergi Pit?”
“Betul katamu Ger. Enggak kemana-mana. Aku cuma  mau cari makan saja.”
“Kalau cuma cari makan, gampanglah itu Pit.”
Doger bangun dari rebahannyal. Dia pergi menuju gudang. Di sana ada beras dan padi. Makanan ini bia sa dimakan ayam peliharaan Tuan Rahmat.
“Tapi sekali-sekali tak apalah kuambil sedikit buat si pipit,” bisik Doger.
Dia menjepit dengan mulutnya cedok berisi beras dan padi. Diambilnya kira-kira setengah cedok, lalu dibawanya pergi ke bawah pohon mangga.
“Pipit …”
Tak ada sahutan.
Tiba-tiba …
“Braaaa ba ba …”
Doger terperanjat setelah burung pipit mengagetkannya dari belakang. Bertambah kaget ketika si pipit melompat di atas kepalanya.
Celetak …
Begeeees …
“Terima kasih Ger. Kamu baik sekali,” ucap pipit dengan lahapnya ia memakan padi dan beras itu. Dia memang lapar. Jadi tak heran bila ia makan dengan lahapnya.
“Kamu tidak makan Ger?”
“Aku masih kenyang Pit. Makanlah kau. Bila kau kenyang, senanglah hatiku. Tapi bila kau lapar susahlah hatiku …”
Pipit ketawa mendengarnya.
Sementara dari airport, Candra yang dijemput Sang Mama, sempat singgah sejenak ke pusat jajanan se belum menuju rumah. Ia senang melihat mamanya ceria. Ia kuatir ibunda tercinta masih berat hati me lepas kepergian  ayam kesayangannya.
Dalam perjalanan pulang, Candra tak henti-hentinya melucu. Apa saja dia lucukan. Yang penting mama nya senang hati dan girang.
“Mama tahu tidak kenapa bumi enggak segi empat?”
Sang Mama menggelengkan kepala.
“Kalau segi empat ya Ma, muka kita ini juga segi empat …”
Hi hi hi hi …
“Ada-ada saja kamu Can,” kata Sang Mama. Hatinya sedikit tenang saat duduk  berdekatan dengan Can dra, anaknya. Tak terasa sudah dewasa. Dulu, saat masih bayi, dia selalu menggendongnya. Mengajak pergi kemana yang Candra ingini.
“Sekarang Canda yang ngajakin mama jalan-jalan ya sayang. “ Nurbaya mencium hangat pipi Candra.  Walau tak sehangat saat masih bayi dulu, ia merasa rindu bertemu sudah terlampiaskan. Naluri keibuan nya muncul lagi. Ia ingin sekali menggendong sang buah hati.
“Jangan mama. Kalau Candra jatuh gimana?”
“Paling ke bawah. Mana ada jatuh ke atas. Ya kan say?”
Candra hanya diam. Ia tersenyum. Tanpa terasa sudah sampai di rumah.  Keduanya turun dari mobil, di sambut Doger dengan tatapan ceria.
“Doger …”
Candra memberikan makanan kesukaan Doger. Ciki keju. Terbungkus dalam plastik besar. Doger ke sulitan membukanya. Candra membantunya dengan merobek sedikit bagian atas plastik itu.
Pek .. pek .. pek …
Creees … creees … creees ..
Keluarlah dari plastik berwarna hitam itu bulatan  berwarna kecoklat-coklatan. Baru saja menggelinding  di lantai teras, Doger mengejarnya  dan  melahapnya.
“Taruhlah lagi say!” kata sang mama.
Candra menumpahkan lagi makanan kesukaan Doger itu sebelum berdua  mamanya masuk ke dalam rumah. Tak ada yang berubah di rumah ini selain hati dan perasaan ini, bisik Candra, lebih tenang dan sejuk dekat sang mama.
Malam tiba.
Karena Tuan Rahmat baru kembali dari luar kota esok pagi, Candra mengajak mamanya menonton per tunjukan anjing berbakat di gedung seni pusat kota. Informasi ini ia dapatkan setelah menonton acara televisi beberapa saat sebelum berganti pakaian di kamarnya.
Doger yang mulanya ragu, akhirnya memutuskan ikut bersama Candra dan mamanya. Rumah jadi tak berpenghuni. Dititipkan pada petugas jaga yang sering meronda setiap malam sampai tubuh tiba.
Senangkah Doger?
“Tentu dong,” katanya dalam hati seraya masuk mobil, duduk sendirian di jok belakang.
Gedung pertunjukan seni sudah dipadati pengunjung. Tua dan muda berbaur bersama. Antrean mem beli tiket masuk, tak terkecuali Doger. Dia bersama pengantre yang lain harus sabar berdiri menunggu giliran membeli tiket.
Ketika pertunjukan belum dimulai, pintu masuk gedung masih tertutup rapat. Para pengunjung yang su dah membeli tiket masuk memilih tempat duduk yang telah disediakan. Deretan kursi panjang dekat pintu masuk, kursi taman dan beberapa tempat duduk yang terbikin dari batuan marmer  semen bercorak.
Doger sendiri menemani Candra dan ibunya membeli makanan dan minuman untuk dibawa masuk. Sem bari menyaksikan atraksi pertunjukan anjing dan kucing, menikmati kudapan akan menambah nikmat mengarahkan pandangan ke atas panggung pertujukan.
 Mereka memilih duduk di bangku taman. Dikitari aneka bunga berwarna warni, ibu dan anak ini tampak mesra nian bagaikan sepasang kekasih yang lagi kasmaran.
 “Baya!
Sampai akhirnya Nurbaya dikagetkan oleh sapaan dan colekan seorang ibu muda dengan suami dan anak gadisnya.
 “Ini aku … Yuli. Ingat kagak?”
Tanpa basa basi lagi, Yuli memeluknya.  Karena masih antara ingat dengan tidak, Nurbaya balas meme luk Yulis tapi terkesan biasa-biasa saja.
“Ingat kan?”
Nurbaya belum juga berhasil mengingatnya. Namun setelah Yuli memberitahu nama teman-temannya semasa es em a dulu, sedikit demi sedikit ingatan Nurbaya kembali pulih.
“Yuli yang tomboy itu kan?” Nurbaya coba menebak-nebak.
“Betul sekali …”
“Yang pernah nutup pintu toilet waktu aku buang air kecil itu kan?”
“Betul …”
“Yang paling suka berantem dengan cowok kan?”
“Betul …”
“Yang hobi makan gado-gado kan?”
“Betul …”
“Yang hobi …”
“Udah .. udah. Cukup,” kata Yuli. Ia kemudian memperkenalkan suami dan anak perempuannya.
Yuli pun tak sungkan bercerita. Katanya, baru seminggu ini dia menetap di kota ini. Ia pindah tugas me ngikuti suami yang ditempatkan di kota yang warganya amat ramah ini.
Awalnya memang berat. Karena selain harus dimulai dari awal lagi, terutama teman sekerja yang baru, juga harus membina hubungan baik dengan tetangga sebelah menyebelah.
“Alhamdulillah sudah ada teman. Jadi enggak kesepian saat pertama kali pindah kerja tempo hari,” terang Yuli. Mempersilakan Candra dan Nurbaya mencicipi keripik pisang terenak di kota ini.
Candra yang ikut mencicipi keripik pisang bersama Doger, ketawa geli melihat tingkah anjing peliharaan orang tuanya itu kala mendekati Anita. Tak henti mengibas-ibaskan ekornya, membuat  puteri  sahabat karib mamanya ini ketakutan karena tak terbiasa dengan kehadiran anjing.
“Doger … sini ….. sini …!”
Doger menurut. Dia kembali duduk dekat Candra. Menawarinya keripik pisang, disantap malu-malu ka rena diperhatikan Anita dan ayahnya Darwin.
“Aduh kelupaan. Maaf ya.” Tiba-tiba Yuli menghentikan oborolannya, menyilakan suami dan anaknya saling berjabatan tangan dengan Candra, Nurbaya dan juga Doger tentunya.
Sebab, kata Yuli, perkenalan itu tak cukup dengan menyebut nama dan melepas senyum saja. Dengan saling berjabat  tangan, keakraban masing-masing pihak semakin kentara. Tak ada sekat lagi. Tak ada yang tertutupi, berpura-pura apalagi.
Ha ha ha ha    
“Saya minta maaf atas keterlambatan berjabat tangan ini,” kata Pak Darwin sembari mengunyah keripik pisang.
“Tak apa-apa Pak. Saya juga minta maaf. Seharusnya yang muda dulu menyapa dan memperkenalkan diri, bukan sebaliknya orang yang lebih tua usianya,” ucap Candra. Sangat senang ia bisa berkenalan dengan Pak Darwin dan isterinya, terutama Anita, gadis manis tinggi semampai.

 V
ADA sebuah piring di tengah panggung. Di dalam piring ada ayam dan nasi kuning. Seekor anjing duduk melamun. Dia melamun bukan karena tak mau makan. Tapi belum tahu kepunyaan siapa gerangan maka nan super lezat dan nikmat itu.
“Udah Jing. Sikat aja. Malu amat sih lu,” kata penonton yang menempati deretan kursi paling depan dalam Gedung Seni.
“Sikat aja deh,” bisik pemuda berkacamata minus pada rekan wanitanya yang tampak gemas tengok anjing pura-pura alim.
Si anjing mendekat. Lalu diciumnya itu piring, ayam goreng dan nasi kuning.
“Eeeem … lezaaat,” katanya. Perutnya yang lapar semakin lapar. Tapi dia tak jua memakan hidangan  yang tersaji di atas piring itu.
“Anjing bego ah. Sebel gue,” gerutu cewek tomboy berambut pirang.
“Tonton aja kenapa sih,” saran teman di sebelahnya. Ia tak ingin penonton lain terganggu karena men dengar komentar yang enggak-enggak.
Dari balik pot bunga besar, seekor kucing berbulu indah mengintip kelakuan anjing yang menurutnya bikin aneh dan di luar kebiasaan.
“Biasanya langsung dibadok,” kata si kucing sembari memainkan ekornya yang panjang, bergerak ke atas, bawah, kiri dan kanan.
“Ayo Cing, sikat aja,” celetuk ibu muda yang menonton pertunjukan kucing dan anjing bersama dua anaknya yang sudah menginjak remaja.
“Takut kali Ma,” kata si anak bermata sipit.
“Masa takut. Ajak aja berantem,” jawab si ibu sekenanya. Mata tertuju ke depan panggung. Mulut tak henti-hentinya mengunyah kacang dan jagung.
Saat anjing duduk di tempatnya semula, kucing mulai hilang kesabaran. Dia tak ingin sekadar menunggu dan melihat perilaku si anjing.
“Gue sikat aja deh,” tekad si kucing. Mengendap-endap, beberapa sentimeter di belakang anjing yang tak bereaksi, si kucing sambil berlari kencang membawa sepotong ayam panggang paha yang telah dibumbui.
Guk … guk … guk …
“Rasain lu,” kata penonton di barisan tengah.  Mereka tertawa terpingkal-pingkal melihat si anjing pontang-panting mengejar kucing yang turun naik panggung, lalu menghilang di balik pintu arena pertunjukan.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Penonton bertepuk tangan.
Lampu panggung padam sesaat.
Biyaaar …
Menyala dan terang kembali.
Di atas panggung, seorang kakek yang sudah uzur duduk lesehan sambil melihat cucu-cucunya bermain kejar-kejaran di teras rumah. Kadang tertawa, lain waktu menitikkan air mata, tanpa sebab musabab.
Melihat kelakuan sang kakek yang di luar kebiasaan ini, biasanya kalau sudah uzur lebih suka tidur-tidur an di kamar.  Kucing dan anjing sepakat bikin kaget si kakek.
“Mau ngapain mereka ya,” kata si bapak yang rambutnya penuh uban.
“Mau bikin kakek tertawa barangkali Yah,” jawab anaknya. Dia meminta sang ayah jangan berisik karena mengganggu ketenangan dan kenyamanan penonton yang lain.
Benar saja. Kucing dan anjing ingin bikin kakek tertawa.
Bagaimana caranya?
Mereka bawa kaset dangdut. Kumpulan tembang berirama gembira itu dimasukkan si anjing dalam DVD Player.
Tak lama kemudian terlihat layar hijau di pesawat televisi. Lalu ada beberapa tulisan judul tembang. Dipilihlah lagi ‘Begadang.’
Flaaash …
Si kakek bereaksi. Dia mendekati kucing dan anjing yang bersiap menonton video tembang ‘Begadang.’
“Goyang Kek …!” Teriak beberapa penonton. Suasana dalam gedung berubah riuh ketika si kakek ter tawa terpingkal-pingkal melihat kucing dan anjing berjoget.
Mulanya biasa saja. Tapi, si kakek akhirnya tergoda juga melihat anjing dan kucing asyik berjoget. Dari pa da bengong sendirian melamun cuma tengok cucu bermain, menggerak-gerakkan badan menambah se hat badan.
“Ayo Kek. Goyang yang kuat,” teriak cucunya yang berhenti bermain setelah melihat kakek mereka   berjoget bertiga dengan kucing dan anjing.
Bukan hanya cucu yang tertawa melihat kakek mereka berjoget. Para penonton yang sudah berkepala empat pun ikut-ikutan tertawa. Tak sedikit dari mereka yang menyayangkan kelakuan si kakek.
“Udah tua, masih bergaya aja kakek kita ini,” kata ibu berusia lanjut sambil nginang.
“Masa kecil yang tak bahagia ya Ma,” kata dara yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
“Husssy  … tak boleh begitu Yang,” tegur Sang Mama, lembut keibuan.
“Abis. Udah celana pendek, baju kelihatan kelek, belum mandi pula. Iya kalau masih muda … ini kan udah tua dong Ma.”
“Ya sudah,” kata Sang Mama, “Kita tonton saja sampai habis.”
Karena kecapekan, si kakek sempoyongan. Kucing dan anjing menarik kursi kayu dekat pintu kamar. Kursi itu diletakkan di depan si kakek.
Ngeoong ..
Uuukh 
Si kakek berhasil duduk. Saat bersamaan si anjing mengecilkan volume suara televisi. Bersama kucing, dan cucu tercinta mengelilingi kakek yang tertidur pulas.
Penonton bertepuk tangan.
Lampu panggung padam kembali.
Lama juga baru menyala. Hampir lima menit. Agar tak gelap gulita, pihak panitia memasang beberapa lampu kecil di kanan dan kiri kursi penonton.Ketika lampu menyala kembali, seorang dara tengah duduk di sofa ruang tamu.
Kenapa dia?
Si dara tengah menunggu kekasih hati, apel di rumah malam ini. Berpakaian serba bagus, minyak wangi disemprotkan ke seluruh pakaian, sengaja dipersiapkan buat pujaan hati yang sudah lama tak bertan dang ke rumah.
“Kamu suka Anita?” Tanya Candra mengalihkan perhatian Anita yang duduk di sebelahnya bersama Sang Mama.
“Suka yang mananya Kak?”
“Itu … yang di atas panggung itu …”
“Cewek itu maksudnya?”
“Bukan. Yang dilakoninya sekarang ini ..” Pancing Candra. Dia menginginkan ada reaksi bagus dari Anita.
“Oooo … ya sukalah Kak. Kan cuma duduk dan berpakaian bagus. Wangi lagi sambil menunggu pujaan hati …”
“Benar suka?”
Anita mengangguk.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Penonton bertepuk tangan setelah sang pujaan hati datang untuk ngapelin sang pacar. Berpakain rapi, bawa oleh-oleh lagi.
Apaan sih oleh-olehnya?
“Gula pasir satu kilo, tomat seperempat, cabe dan gandum. Itu oleh-oleh diteria si dara dengan lapang dada. Dia taruh di atas meja.
“Masih sibuk Mas?” Tanya si dara yang mulai salah tingkah melihat si cowok kedip-kedip mata.
Cacingan barangkali.
Tak lama kemudian keluarlah seekor anjing. Duduk sopan di tengah sofa antara si dara dan perjaka. Supa ya si dara enggak stres, anjing pura-pura tidur. Saat itulah rayuan maut si pemuda muncul.
“Kamu sangat cantik malam ini Yang,” puji si perjaka tersenyum penuh arti.
Buuuut …
Anjing kentut …
Penonton tertawa.
Sang pemuda menggeser sedikit posisi duduknya, agar tak terlalu dekat dengan si anjing.
Si anjing pejamkan mati lagi.
“Yang … Kita nonton yuk …!” Ajak si pemuda malu-malu ayam.
“Sekarang Mas?”
“Ya ialah. Masa besok …”
Huuup …
Klebeeek …
Si pemuda terkejut saat anjing melompat melewati pangkuannya menuju pesawat televisi.
Pesawat televisi menyala.
 Si dara tersenyum. Ada pertandingan sepakbola. Si pemuda yan tadinya mau mengajak si doi nonton di luar rumah, duduk lesehan di depan pesawat televisi.
“Ayo say!” Ajaknya.  Berdua menonton pertandingan sepakbola.
Keduanya lupa dengan makanan yang tersaji di atas meja. Satu-satu dimakan anjing. Habis seketika.
Eeeeegh ..
Anjing kekenyangan. Duduk sambil menjulurkan kedua kakinya di atas meja.
Penonton kembali bertepuk tangan.
Hening seketika.
Lampu panggung tidak dipadamkan.
Kenapa?
Seorang pemuda memasuki arena panggung pertunjukan. Tak lama kemudian muncullah empat ekor kucing dan empat ekor anjing.
Yang membuat penonton terpingkal-pingkal, ke delapan hewan ini mengenakan pakaian mirip manusia. Tentu sesuai dengan jenisnya. Jenis betina pakai rok, jantan mengenakan celana.
Topinya juga. Kucing dan anjing betina bertopi segi lima dengan motif bunga. Sedangkan kelamin jantan bertopi segi empat tanpa motif.
Mereka berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik. Ada empat warna musik. Lambat, sedang, cepat dan sangat cepat.
Ketika musik pengiring beralur lambat, kucing dan anjing saling berangkulan. Mirip berdansa.
Tapi bila musik berpindah iramanya ke sedang, mereka berpegangan tangan. Berjalan ke depan dan bela kang sambil mengangkat kedua kaki secara bergantian.
Saat musik bergerak cepat lain pula penampilan mereka. Mereka berguling-gulingan, mengelilingi pang gung sambil tak henti-hentinya saling melompat melewati posisi badan teman mereka yang menggele tak di lantai.
Penonton dibikin takjub ketika musik pengiring beralur lebih cepat, para kucing dan anjing ini memben tuk barisan untuk saling melewati satu sama lain.
Misalnya, ketika empat ekor kucing berada di depan, empat ekor anjing yang di belakangnya melompat, disusul kucing yang gantian melompat. Begitulah seterusnya dalam posisi maju dan mundur ke belakang.

VI
PENONTON kembali bertepuk tangan setelah sekawanan kucing bermain sepakbola. Dibantu dua lelaki muda usia, kucing yang berjumlah delapan ekor itu dibagi dua. Empat lawan empat.
Ada tiang gawang. Menempati sebelah kiri dan kanan. Dua penjaga gawang, satu wasit memimpin per tandingan, dan satu wasit lagi berada di luar lapangan. Tugasnya membantu wasit pertama. Mulai dari pelanggaran hingga keluar tidaknya bola dari garis ‘in’ arena pertandingan.
Pertama-tama kedua kesebelasan kucing ini memberi hormat kepaa penonton. Setelah itu menyalami wasit dan sesama pemain. Bola yang digunakan adalah bola lembut yang bisa ditiup dan bisa melayang ke udara dan enak ditendang ke mana suka.
Tim A dipimpin kucing Meong sebagai kiper dan tiga pemain masing-masing Miing, Meeng dan Meing. Sedangkan Tim B diketuai Moung, juga sebagai penjaga gawang. Dibantu ketiga temannya masing-ma sing Maung, Maing dan Maeng.
Mereka kini sudah berada di lapangan. Wasit sudah mengundi mereka dengan melemparkan koin uang ke udara. Ketika jatuh di lantai pilihan Tim A berupa burung berada di atas. Jadi Tim A lah yang memulai pertandingan. 
Priiit …
Meong membagi bola ke rekannya Meeng. Bola disundul melambung. Pemain kedua tim sama berkum pul menunggu bola turun.
Duuup …
Belum sempat menyentuh lantai, Maung berhasil merebutnya dengan menyundul bola ke arena per mainan Tim A. Karena sangat kuat menyundulnya, bola melayang-layang mendekati lampu pentas, sebelum akhirnya nyangkut.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Penonton tertawa melihat para kucing saling melompat. Bingung bagaimana mengambil bola yang nyangkut itu untuk kemudian dimasukkan ke gawang lawan.
Priiit …
Wasit meminta para kucing berada dalam posisi masing-masing. Panitia akan mengambil lebih dulu bola yang nyangkut itu. Karena tinggi harus menggunakan kursi dan kayu panjang (julukan).
Ha ha ha ha …
Sambil menunggu bola diambil panitia, kedua tim kompak rebahan dulu di lantai. Enak juga karena sela in lantai yang memang dingin, juga sejuk dihembus kipas angin dan pendingin ruangan.
Priiiit …
Wasit mengambil bola yang diserahkan panitia. Lalu dilemparnya ke atas. Pemain kedua tim harus bere butan mengambil itu bola. Karena berebutan, bola akhirnya menggelinding ke lantai. Berhasil diambil Maeng. Dia bawa dengan mulutnya. Setengah meter di depan gawang lawan, bola itu ditaruhnya dan …
Huuup …
Bola ditendang Maeng dengan tangannya.  Kena mistar gawang. Memantul kembali mengenai kepala Maeng.
Ha ha ha …
Maeng terpental. Bola itu berusaha direbutnya, padahal sudah berada dalam dekapan penjaga gawang Tim A yang dijaga Meong.
Priiit …
Wasit terpaksa memberi peringatan kepada Maeng karena jika bola sudah berada di tangan kiper, tak boleh lagi diambil paksa.
“Mengerti kan?”
Ngeoooong …
Pertandingan dilanjutkan kembali. Meong menendang bola. Melambung tinggi. Jatuh di pelukan penjaga gawang Tim B, Moung.
Moung membalasnya dengan tendangan melambung. Karena kuat ditendang, bola sukses  diamankan Meing dengan kepalanya. Melihat sejenak ke teman-temannya.
Ngeooong …
Dia tak mau memberi bola karena teman-temannya ditempel ketat tim lawan. Dia putuskan untuk me nendang sekuat mungkin itu bola ke gawang lawan. Hampir saja masuk kalau tidak ditepis Meong.
Priiit …
Wasit memanggil kedua penjaga gawang. Ada apa? Diberitahukan bahwasanya bola harus diberikan kepada pemain, boleh dengan melambung atau menyusur lantai.
“Kalau anda berdua begitu-begitu terus, saling tendang dan tangkap, teman-teman kalian mau main apa, coba.”
Ngeooong …
Kedua kiper tidak mengajukan protes. Masuk akal juga, kata keduanya serempak. Tidak seru kalau bola tidak ‘dikelit’ , diover dan ditendang kea rah gawang.
Meeng mengambil tendangan penjuru. Ditendang, sayang tak sampai ke depan penjaga gawang. Bola memutar sebelum dinyatakan wasit ke luar lapangan.
 Bola ditendang Moung. Tidak kuat. Seadanya saja. Lalu digiring Maung dan Maing. Saling mengover bola. Keduanya berhasil melewati tiga pemain lawan. Tepat di depan gawang, bola ditendang Maung dan …
Masuuuuuuk …
Satu nol untuk Tim B. Maung dan kawan-kawan merayakan kemenangan mereka dengan joget kucing. Mengeong sambil menggoyangkan pantat dan ekornya.
Tertinggal satu nol, Tim A ngotot membalasnya. Bola ditaruh di tengah lapangan. Diover Miing ke Meeng, langsung ditendang keras ke gawang lawan.
Moung santai saja. Dia tak bereaksi apa-apa. Hampir menyentuh lantai, dia gerakkan ekornya, menyen tuh bola sebelum membalikkan badan, menangkap itu bola dengan cepat.
Penonton bertepuk tangan.
“Gimana Ing. Kalau begini terus bisa kalah kita,” kata Meeng kuatir timnya bakal kalah dengan kebobolan banyak gol.
“Tenang saja Eng. Serahkan sajalah ke aku,”ujar Miing yang merasa yakin bisa memasukkan gol ke gawang lawan sebelum babak pertama berakhir.
Bagaimana caranya?
Miing berpura-pura jatuh. Saat berhadap-hadapan dengan Maeng, salah seorang pemain Tim B. Dia sengaja membenturkan badannya ke badan Maeng, lalu menjatuhkan diri.
Priiit …
Wasit yang memimpin pertandingan menunjuk titik putih. Pemain Tim B mengajukan protes. Karena menurut penuturan Maeng, dia tidak menjatuhkan Miing, justru Miinglah yang menabraknya sebelum menjatuhkan diri.
Sayang wasit tetap pada keputusannya.
“Bola di sini …” Kata wasit meminta Maeng menyerahkan bola, lalu diletakkan wasit di titik putih.
Siapa yang mengeksekusinya?
“Kamu aja Eng,” kata Miing.
“Kamu ajalah,” jawab Meeng.
“Udah kalau gitu kamu aja Meing.”
“Enggak ah. Aku tak mau …” Kata Meing. Dia takut bola tak masuk dia kena sasaran kemarahan rekan-rekannya.
Priiit …
Wasit mendekati ketiganya. Dia menunjuk Miing, menggelengkan kepala. Meeng sama juga. Meing apalagi.
“Meong …” panggil wast.
Meong pun berlari. Dia mendengarkan saran dan masukan dari wasit. Kalau tak ada yang mau menen dang, finalty digugurkan.  Jadi sebaiknya jangan berpikir yang macam-macam dulu. Tentukan siapa pe nendangnya. Lalu cepat tendang ke gawang lawan.
Ngeooong …
Akhirnya Meong, sang kiper bersedia menjadi eksekutor. Bola siap ditendang. Harus beberapa kali ia menendang. Tendangan pertama tak jadi karena bola tidak kena saat ditendang.
Ngeooong …
Pada tendangan kedua, Meong terpeleset. Tendangan ketiga, saat maju ingin menendang, itu bola terbang melayang, jatuh di atas tiang gawang.
Tendangan keempat, Meong berpikir sejenak. Bagaimana caranya agar  bola benar-benar ditendang dan tentu menghasilkan gol.
Ngeooong …
Bola ditendang amat kuat. Melambung tinggi. Moung yang semula berdiri di depan gawang harus memi cingkan matanya untuk melihat arah jatuhnya bola.
Dia terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Dia mengira bola akan jatuh dan tepat dia tangkap manakala dia mundur beberapa langkah mendekati mistar gawang.
Kini posisinya sejajar tiang gawang.
Huuup …
Bola yang sempat melayang ke kiri, berhasil ia tangkap. Namun badannya sudah masuk sedikit melewati garis gawang. Dengan demikian bola tangkapan Moung dinyatakan masuk.
Ngeooong …
Meong merayakan gol yang ia lesakkan dengan melompat-lompat, bergoyang ala kucing. Mereka bergu ling-gulingan. Setelah itu berdiri pelan dan berjalan mengitari lapangan pertandingan.
“Benar-benar hebat ya Kak,” kata Anita sembari melirik penonton di depannya yang sedari tadi tak henti-hentinya ketawa.
“Doger!” Sapa Candra. Usai melepas senyum pada Anita, anak satu-satunya Tuan Rahmat ni mengusap lembut kepala Doger yang cuma diam sejak tadi. Soalnya, kalau sampai dia menyalak, ramailah penon ton di dalam gedung pertunjukan.
Priiit …
Babak pertama berakhir.  Sambil menunggu pertandingan babak kedua, pihak panitia sudah menyiapkan tari anjing.
Kok bisa?
Tentu. Penonton dibuat geleng-geleng kepala ketika sepuluh ekor anjing masuk panggung lewat pintu samping. Mereka membentuk berbagai huruf. Mulai dari O sampai Z dengan figurasi yang berubah-ubah sesuai huruf.
Pelatih mereka, seorang lelaki tua kurus kerempeng tapi tinggi melebihi satu setengah meter, dengan menggunakan tali memukul-mukulkannya ke lantai berulangkali.
Uniknya, kesepuluh ekor anak anjing itu sangat kompak kala membawakan tarian baris berbaris. Penon ton bertepuk tangan setelah lima anjing pertama berjalan rapi sambil menggoyangkan kepala, ekor dan mengangkat tangan serta kaki mereka secara bergantian.
Lepas itu mereka duduk. Lima ekor kedua jalan mundur sambil berpegangan. Sementara yang di belaka ng, karena tak ada teman yang memegang badannya, menggoyang-goyangkan ekornya membentuk huruf S, P dan L.
Penonton  kembali bertepuk tangan.
Penonton, walau tak lebih dari lima menit menyaksikan pertunjukan, terpuaskan saat kesepuluh ekor anak anjing itu satu persatu berhasil  melewati bola api, gawang besi dan kursi segitiga setinggi satu meter.

VII
PADA babak kedua,kedua tim sama-sama ingin menang. Tak heran jika pertandingan baru berjalan dua menit, wasit sudah mengeluarkan enam kartu kuning karena melakukan pelanggaran keras kepada sesa ma pemain.
Meing misalnya. Dia terpaksa menggigit ekor Maung saat menggiring bola di depan kotak finalti. Walau pun tak mengalami cedera, bola gagal dilesakkan Maung. Meing mendapat peringatan keras.
“Meing. Sekali lagi kamu melakukan pelanggaran, kamu kena kartu merah,” kata wasit dengan raut muka marah.
Ngeooong …
Setelah Meing, giliran Maung yang dapat mendapat kartu kuning setelah dia dengan sengaja, saat be re but bola di udara, mencakar kepala Meeng sampai berdarah. Sempat mengalami perawatan dari tim me dis, Meeng yang masih emosi karena dilanggar dengan sengaja oleh pemain lawan, balas mencederai dagu Maeng dengan kakinya. Jatuh terkapar.
Pertandingan sempat terhenti beberapa menit. Belum dia menit pertandingan berlansung, giliran Maing mendorong Miing. Jatuh tersungkur.
“Maing. Sini kau!” Wasit marah dan mengeluarkan kartu kuning. Kartu itu didekatkan ke kumis kucing.
Ngeooong …
Tak lama setelah itu, pertandingan berjalan normal kembali. Kedua pemain Tim A dan Tim B tampak bermain lepas. Enak ditonton. Sesekali penonton memberikan tepuk tangan meriah karena atraksi mereka yang  memesona dan sungguh luar biasa
Penjaga gawang Meong misalnya. Terpaksa keluar dari sarangnya saat mengambil bola sepakan Maung yang mengenai mistar gawang.
Bola memantul ke sisi lapangan. Meong berebut bola dengan Maung. Perebutan bola ini dimenangkan Meong setelah berhasil menendang bola itu pelan ke kanan. Mengecoh Maung yang terpeleset.
Meing kemudian menggiring bola ke tengah lapangan. Saat itu ia dihadang Maing dan Maeng. Sesaat ia menghentikan bola. Lalu memandang kedua pemain lawan sambil tersenyum.
“Ayo Maeng. “Pancing Meing bersemangat.
Maing dan Meng serempak maju.  Bola ditaruh Meing di mulutnya.  Berhasil mengecoh keduanya lewat jalan tengah yang terbuka sedikit di antara dua pemain lawan.
Merasa dipermainkan, Maing dan Maeng marah. Saat keduanya marah, bola sudah berpindah ke kaki Meeng yang menendang bola sambil salto di udara ke gawang Tim B yang dijaga Moung.
Tidak membuahkan gol memang. Karena Moung berhasil melompat ke kanan, tepat di pelukannya. Se mentara Meong yang tadinya  bertengger di atas tiang gawang sambil mengeong , menggerak-gerakkan ekornya, sudah turun dan berdiri di depan gawangnya.
Begitu juga misalnya kala Maeng berhasil melewati Miing. Membuat deg-degan penonton. Dia meliuk-liukkan badannya, melewati satu persatu pemain lawan. Nyaris jatuh karena ditekel Meeng, Maeng tinggal berhadapan  dengan penjaga gawang.
Ketika satu lawan satu itulah, mungkin karena kelelahan, Maeng kehabisan nafas. Lalu jatuh, menggele par-gelepar dan tidur.
Priiit …
Wasit menanyai Meong.
“Anda memukulnya Meong?” Tanya wasit.
Meong menggelengkan kepala sebagai isyarat dia tidak melakukan pelanggaran apapun terhadap Maeng.
Permainan terhenti sesaat.
Wasit mengelus-elus badan Maeng. Lalu menggeliat dan bangun. Sudah berdiri dan siap melanjutkan pertandingan.
Wasit memutuskan bola dilempar ke atas. Pemain kedua tim saling berebutan untuk mendapatkan bola. Karena terlalu banyak yang ingin menyundul  bola, secara bersamaan jatuh bergulingan sementara bola yang sempat terhimpit badan beberapa pemain, kempes seketika.
Bola ditukar dengan yang baru. Tapi keributan pun terjadi setelah Miing meninju kepala Maung. Merasa tak terima, Maung balas meninju, tapi bukan Miing yang dia tinju, tapi Meing.
Sejak itulah mereka saling melayangkan tinju, cakar-cakaran dan menendang satu sama lain. Wasit yang memimpin pertandingan tanpa ampun memberikan kartu merah.
Ngeooong …
Pemain kedua tim sama memandang kea rah wasit. Mereka diam dan mengharapkan wasit mau bermu rah hati menganulir kartu merah kepada pemain.
Apalagi kartu merah bukan untuk satu dua orang pemain. Tapi keseluruhan tim. Seluruh pemain dinilai wasit sama-sama melakukan pelanggaran.
Ngeooong …
Karena tetap diprotes, akhirnya wasit memperlihatkan kartu merah kepada enam pemain. Mereka me nunduk dan tidak mau melihatnya. Setelah itu mereka mencium kaki wasit sebelum berbaris rapi ke luar lapangan.
Pertandingan tetap dilanjutkan, meski hanya dua penjaga gawang tanpa pemain di lapangan.  Awalnya saling menendang bola yang diarahkan ke gawang masing-masing.
Namun tak lama kemudian, gawang kecil yang bisa dilipat dan bisa dibawa kemana-mana itu dilepas ol eh penjaga gawang. Diikatkan di bagian belakang  Moung dan Meong.  Wasit cuma tersenyum melihat keduanya bermain bola tanpa penjaga gawang.
Priiiit …
Pertandingan berakhir. Skor 1-1 tetap tidak berubah. Dua penjaga gawang saling berpelukan, lalu meng hampiri kedua wasit. Mencium tangan keduanya sebelum keluar panggung bersama keenam teman me reka yang lain.
Layar panggung bergerak menutup sementara arena pementasan. Memberikan penonton kesempatan untuk beristirahat sambil menikmati bekal yang mereka bawa dan beli tadinya.
“Panas ya Yul?” Kata Nurbaya menawari rekannya itu es cendol.
“Mungkin karena kita menontonnya terlalu sinis dan terbawa emosi,” kata Yuli. Dua gelas es cendol. Sa tu gelas ia berikan kepada suami tercinta, Darwin.
“Ah, masa?”
“Buktinya kedua anak kita tenang-tenang saja,” jelas Yuli.
Keduanya tak percaya begitu akrabnya Candra dan Anita. Padahal baru di Gedung Seni inilah keduanya bertemu pandang.
Kok bisa ya?

VIII    
“KEJAR Ger …!” Teriak Candra setelah melempar bola ke depan, jatuh dekat parit.
Doger dengan gagahnya mengejar  bola karet berwarna hitam putih yang masuk ke dalam parit itu. Dia bingung bagaimana mau mengambilnya.
Dia berputar-putar sebentar. Lalu turun ke dalam parit.
Huuup …
Bola berhasil ia ambil dengan tangannya. Setelah bersila sejenak di atas lapangan rumput, bola itu ia giring dengan tangan dan kakinya. Tanpa terasa sudah berada di dekat Candra.
“Bagus. Doger sudah pintar,” puji Candra. Kemudian dia mengajak Doger ke bawah pohon mangga.
Di bawah pohon itu ia pasang besi bulat yang tidak terlalu tinggi. Besi menyerupai lingkaran bulat itu sengaja dibuat Candra untuk melatih Doger melompat.
“Doger … sini .. sini.!”
Doger yang sempat tercenung melihat besi terpasang di batang pohon mangga itu, menghampiri Candra.
“Sekarang Doger melompat. Mau ya.”  Candra mengusap lembut bulu yang menutupi badan Doger yang indah itu.
Doger beraksi dengan berlari ke samping pohon mangga. Seolah dia tahu bakalan diminta Candra untuk melompat.
Candra ketawa.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Terdengar suara orang bertepuk tangan. Ternyata berasal dari Tuan Rahmat dan isteri. Keduanya baru pulang dari berbelanja berbagai keperluan dapur.
Setelah memeluk bergantian kedua orangtuanya, Candra meneruskan  melatih Doger  melompat dengan baik dan benar.
“Kesana yuk Pa!” Ajak Nurbaya sembari menarik lembut lengan suami tercinta. Masih capek, karena ba ru semalam tiba dari luar kota, demi menyenangkan hati sang isteri, tak apalah sesekali,  bisik Tuan Rah mat dalam hati.
“Okeee …”
“Lompat Ger …!”
Doger berlari kencang. Lantaran tak sempat melihat lagi besi yang harus dilompati, tak jadi melompat  karena terlalu dekat.
Ha ha ha ha …
Tuan Rahmat ketawa.
“Pandai melucu juga Doger ini ya Ma,” kata Tuan Rahmat, mencium hangat pipi isterinya.
“Okeee … Lari .. lompat.”
Doger tak ingin mengulangi lagi kesalahannya. Makanya dia kali ini sudah tahu kapan berlari kencang dan kapan pula melompat.
Huuup …
Breeesh …
Plak pak plak pak …
Doger puas karena kali ini dia sukses melompati lingkaran besi yang tertancap di batang pohon mangga.
Sayang …
“Nyonya … Nyonya!” Teriak Mpok Yeni yang memberi tahu Nurbaya ada telepon barusan dari Nona Anita.
“Bilang tunggu sebentar,” kata Nurbaya. Saat memberi makan Doger dengan ciki anjing, ia mendekati Candra. Lalu dengan setengah berbisik memberitahu Anita telah menunggunya di telepon.
“Tolong Ma, Pa, Dogernya,” kata Candra. Doger yang semula hendak menyusul Candra, keburu dicegah Nurbaya dan suaminya.
“Sama Nyonya kan bisa,” ucap Nurbaya. Seketika itu juga Doger mengurungkan niatnya mengikuti  Candra ke ruang tamu. Ia malah keenakan dipeluk dan dibelai-belai majikannya itu.
“Pa!” Sapa Nurbaya mengisyaratkan pada suaminya agar meneruskan latihan khusus buat Doger.
Di ruang tamu …
“Lagi ngapain Kak Candra?” Anita membetulkan letak duduknya. Setelah itu dia memilih untuk duduk menghadap ke jendela kamar.
“Enggak ngapa-ngapain Ta. Cuma ngelatih Doger  ajalah.” Kata Candra sambil menyeka peluh di seputar lehernya dengan handuk kecil.
“Udahan lum ngelatihnya?”
“Belum kayaknya. Tapi tadi sudah mama dan papa yang nerusin. Beres. Mudah-mudahan lancar dan Doger sudah bisa mengejar, mencari dan membawa bola serta melompati lingkaran besi …”
Anita berdiri sebentar.
“Kak Can. Ada waktu kagak ya?”
“Selalu ada kalau buat Anita.”
“Bukan. Maksud Nita, bisa enggak ya Kak Candra main gitu ke rumah sore nanti?”
“Oooo bisa. Emangnya, maaf ya Nita, ada keperluan apa ya?”
“Enggak. Mau ya kakak sore nanti?”
“Mauuu ...”
“Alhamdulillah.” Anita mendekap dadanya. Telepon genggam lupa dimatikan. Saking gembiranya, dia melompat ke atas tempat tidur. Berguling-gulingan sebelum akhirnya, seperti ada suara orang mema nggil lewat telepon genggam, Anita bangun dan …
He he he he …
“Maaf ya Kak Candra. Lupa dimatiin hapenya,” kata Anita. Malu juga untuk terus terang, akhirnya bilang begini …
“Mata ngantuk setelah makan siang. Ngantuk banget,” jawab Anita tersipu malu.
“Jam sepuluh gini udah makan Nita. Cepat banget.”
Anita jadi salah tingkah.
“Sori Kak Candra. Salah sebut. Maksud Anita, disuruh mama ngehabisin sisa sarapan pagi tadi gitu …”
“Oooo begitu. Kakak kira apa. Setahu Kak Candra, jam segini ibu-ibu baru pulang dari belanja di pasar dan baru akan masak untuk makan siang.”
Anita ketawa geli. Tapi dia tahan agar tidak kedengaran.
“Nita!”
“Ya kak.”
“Jam berapa ya kira-kira kakak ke rumah nanti? Biar enggak kesorean gitu.”
“Eeem .. jam limalah kak. Jangan lebih, kurang boleh.”
“Oke … Udahan dulu ya.”
“Ya …”
Celetek.
Telepon genggam dimatikan.
Sore harinya …
Piiiin …
Piiiin …
Piiiin …
Seorang wanita paruh baya bergegas menuju pintu pagar. Belum sempat kunci pintu pagar dibuka, Candra sudah menyapanya dengan ramah.
“Mbak. Sore!”
“Dik Candra kan?”
“Betul Mbak.”
“Mbak Leni …”
“Oh ya Mbak Leni.”
Dreeeng …
Pintu pagar terbuka lebar.
“Mobilnya juga jangan lupa Dik Candra. Biar lebih aman.” Mbak Leni mengingatkan.
Dari balik jendela kamarnya, Anita tersenyum bahagia melihat Candra dengan mobilnya memasuki pela taran rumah. Dia turun dari mobil dengan berpakaian serba putih.
Candra disambut hangat ibundanya Anita, Yuli. Anita menyusul dari belakang. Dia taruh sebentar tas jinjingan, menyalami Candra, lalu duduk dengan membawa tasnya ke dekat sang bunda.
Tak perlu berlama-lama. Usai Nyonya Yuli pamit ke belakang karena harus ada pekerjaan yang segera dituntaskan, Candra tercenung sesaat melihat pakaian  yang dikenakan Anita. Baju kaos abu-abu tapi berdasi, celana levis warna biru dengan tas pinggang kulit melilit di pinggang sebelah kanannya.
“Jadi kita …”
“Ke rumah saki ya Kak Candra.”
Candra mengangguk. Tadinya dia mengira bakal jalan-jalan, bukan urusan kuliah. Barangkali Anita se ngaja bikin surprise kepadanya sore hari ini.
Selama dalam perjalanan Anita lebih banyak bercerita tentang dirinya dan studi akhirnya di fakultas ke dokteran. Bagaimana dia harus praktik, pengabdian ke masyarakat dengan mengunjungi desa yang teri solir dan membutuhkan pengobatan dengan cuma-cuma.
“Kak Candra gitu juga kan?”
Canda ketawa.
“Kok ketawa sih Kak. Eggak lucu ah,” kata Anita. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Sejauh mata memandang jalan beraspal mulus dengan kiri kanan areal persawahan yang indah serba hijau membentang.
“Sibuk juga Nita. Tapi Alhamdulillah bisa teratasilah. Sebentar lagi ujian dan tak lama setelah itu wisuda.”
“Terus …”
“Melamar kamu.”
Hek  hek  hek  hek …
Syiiiiit …
Dreeep …
Candra menghentikan laju mobilnya dekat trotoar setelah melihat Anita terbatuk-batuk.
“Nita. Kamu tak apa-apa kan?”
“Enggak. Cuma batuk biasa saja.”
Dari balik tempat duduknya , Candra mengambil sebotol air minuman.
“Minum ya!”
Candra tak segan menuangkan air mineral itu ke mulutnya Anita. Mulanya keberatan. Tapi, melihat ke lembutan dan keikhlasan hati  cowok di dekatnya ini, tak sampai hati dia menolaknya.
Apalagi sayup-sayup terdengar dari radio senandung ‘I Love How You Love Me’ nya Kohier/Monn …

      “I love how your eyes close
        Whenever you kiss me
        And when I’m away from you
       
           I love how you miss me
           I love the way you aways
           Treatme tenderly

               But darling most of all
               I love how you love me
               I love how your heart
               Beats whenever I hold yu
               I love  how you think of me
               Without being told to

                    I love the way your touch
                    Is always heavenly
                    But darling most of all
                    I love how you love me

                        I love how you hug me
                        I love how you squeeze me
                        Tease me
                         Please me love
                        
                              How you love me
                              I love how you love me …”       
 

IX
“DOGER … Doger …!” Teriak si Pipit. Dia sudah lama singgah di kediaman Tuan Rahmat. Dia kini harus terbang berpindah-pindah tempat.
“Aku belum lihat dari tadi,” kata teman si Pipit yang sudah lebih dulu bertengger  di pohon mangga. Sudah beberapa hari ini dia belum melihat Doger.
“Tapi aku yakin dia masih di rumah ini,” kata teman si Pipit.
“Mudah-mudahan saja.”
Tak lama kemudian keluarlah Doger dari pintu belakang. Berlari-lari ke sana kemari. Tak peduli ada Pipit di pohon mangga. Bukan sombong tapi dia tidak tahu temannya itu datang dan singgah lagi ke tempat di mana ia sering bertengger.
“Doger …”
Doger mendongak ke atas. Lama dia memandang. Lalu tersenyum lega setelah tahu yang memanggil na manya barusan adalah si Pipit, teman curhatnya.
“Apa kabar Ger,” kata si Pipit terbang rendah ke atas tiang ayunan.
“Baik, kabarku Pit. Kamu sendiri gimana. Sudah lama aku tak melihat kamu.”
Si Pipit ketawa.
“Aku sedih Pit. Aku cari kamu. Aku kira kamu sudah pindah jauh.”
“Maafkan aku Ger. Aku tak memberitahumu karena beberapa hari ini aku memang berpindah-pindah tempat untuk mencari makanan. Untunglah kemarin aku baru ingat kamu Ger. Aku ingin melihat keada anmu. Bukankah kau cerita kepadaku soal keluh kesahmu. Mumpung aku singgah di sini, bagaimana ke lanjutan curhatmu dulu, Ger?”
“Alhamdulillah,” jawab Doger. Ketawa ceria. Tampak sekali di mata Pipit, Doger lebih segar, sehat dan gemuk. Bulunya semakin indah dan berkilau. Badannya bersih, sangat terawatt.
“Kamu kelihatan lebih segar, Ger. Coba ceritakan kepadaku apa yang membuatmu lebih senang dan lebih bugar hari ini …”
Mulanya Doger enggan bercerita soal kehidupannya kini bersama Tuan Rahmat. Tapi dia tak tega juga melihat sohibnya yang sudah jauh-jauh datang menjenguk hanya bisa memendam rasa kecewa.
“Boleh Pit,” kata Doger. Pipit lega. Dia siap menjadi pendengar yang baik buat Doger.
“Sejak kehadiran tuan muda Candra, aku sekarang sudah bisa mengejar dan menangkap bola, Pit.”
“Oh ya? Baguslah itu Ger. Senang sekali aku mendengarnya. Teruskanlah ceritamu …”
“Tuan muda mengajariku bagaimana mengejar bola, mencari dan sampai menemukannya. Aku senang Pit. Karena lambat laun aku sekarang sudah terbiasa menangkap bola.”
“Yang lain ada Ger?”
“Aku juga diajari melompati lingkaran. Jadi ada besi yang berbentuk bulat. Besi itu tuan muda pakukan ke batang pohon. Nah, oleh tuan muda aku disuruh berlari lebih dulu. Setelah dekat lingkaran besi tadi aku melompat masuk dan melewati lingkaran bulat itu.”
“Kamu suka Ger?”
“Suka Pit. Dengan aku bisa melompat berarti aku tak perlu berpayah-payah lagi mengejar.”
“Maling maksudmu?”
“Betul Pit.”
Pipit pun tiba-tiba ingat dengan rencana mereka dulu menemukan siapa pelaku yang menyebabkan matinya ayam Tuan Rahmat.”
“Kamu masih ingat kan Ger?”
“Masih Pit. Aku masih ingat suara langkah kaki dan pintu yang tiba-tiba terbuka. Lalu tertutup lagi.”
“Apa rencanamu selanjutnya Ger?”
“Belum ada Pit,” jawab Doger seadanya.
“Kenapa Ger? Apa kamu takut?”
“Tidak Pit. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bersemangat lagi untuk mencari tahu penyebab matinya se pasang ayam milik Tuan Rahmat. Mungkin karena aku sekarang punya kesibukan baru. Belajar berbagai kepandaian hewan anjing seperti aku.”
“Menurutku, kamu tak boleh begitu Ger. Itu artinya kamu sombong, congkak dan memandang remeh suatu urusan.”
“Tidaklah Pit. Sifat-sifat buruk seperti itu tak pernah ada dalam hidupku.”
“Itu katamu Ger. Tidak demikian kataku dan teman-teman yang lain. Jadi menurutku, sambil kau berla tih, tetaplah kau cari tahu masalah yang dihadapi tuan dan nyonya dulu. Gunakanlah keahlianmu untuk menemukan siapa pelakunya. Kalau kau butuh bantuanku, aku siap membantumu kapan saja.”
“Tapi bagaimana aku meminta bantuanmu sementara kau sekarang sudah jarang kemari?”
Si Pipit ketawa.
“Mudah itu Ger. Tak usah kau pikirkan itu. Yang penting sekarang, sebelum aku pergi, kau katakanlah du lu, kapan aku datang lagi. Setelah itu, sesuai hari yang telah ditentukan, aku siap datang kemari. Mudah bukan?”
Doger ketawa lebar.
Dia setuju dengan masukn Pipit barusan. Dia dan Pipit sepakat malam ini juga keduanya bertemu kem bali, untuk sama-sama  menyelidiki kasus yang sempat bikin keki Doger dan burung pipit yang baik hati.
Malam cerah.
Bulan bersinar terang.
Tuan dan Nyonya Rahmat barusan masuk ke kamarnya. Mpok Yeni masih menyeterika pakaian di kamar belakang, sedangkan Candra sibuk di depan komputer  selepas Magrib tadi.
Diam-diam Doger menuju pintu belakang. Dia buka pintu yang sudah terkunci itu dengan mulut dan ta ngannya. Sebelum duduk di ayunan dia tutup rapat lagi.
Sambil menunggu Pipit, Doger tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu orang yang membunuh ayam majikannya.
Pertemuan itu sangat sederhana. Si pelaku menghadang Doger. Ia mengaku telah mencekik mati ayam Tuan Rahmat dan mengganggu ketentraman pengusaha besar itu.
Dia menantang Doger untuk menangkapnya. Lepas itu, Doger pun terbangun.
“Doger …”
“Doger …”
“Doger …”
Si Pipit menyadarkannya.


X  
“NAH, itu dia Ger. Hati-hati.!” Bisik Pipit. Dia melihat sesuatu bergerak dekat pohon mangga. Doger yang diberitahu Pipit hendak mendekatinya. Namun dicegah Pipit karena belum tahu apakah itu hanya dedau nan yang bergerak ditiup angin, ataukah memang makhluk asing yang tidak kelihatan.
Jreeesh …
Doger dan Pipit mengikuti arah tapak kaki yang layaknya orang berjalan menuju pintu belakang. Sesaat senyap, lalu …
Kletek …
Greeeg …
Ceuuuuth …
Pintu terbuka. Lalu ditutup lagi. Doger dan Pipit belum beranjak dari balik tiang belakang rumah. Kedua nya baru masuk setelah benar-benar dirasa aman.
“Kayaknya kesana Pit.” Bisik Doger menunjuk ke kanan. Dapur.
“Hati-hati,” pesan Pipit.
“Siap Bos.”
Mereka tidak lagi melihat tapak kaki, tapi ada seperti tangan yang mengutak-atik piring dan gelas.
“Mau makan kayaknya.” Pipit mengamati penuh selidik.
Tak lama kemudian tutup panci wadah nasi terbuka. Terdengar suara  orang mengambil nasi. Tak lama. Karena setelah itu tutupnya panci ditutup lagi. Suara itu kemudian beralih ke meja makan.
Cuuuur …
Gleeeg … gek …
“Minum dia, Pit.” Kata Doger. Herannya Doger tak terlihat wujud makhluk apa gerangan yang sedang makan malam di meja makan itu.
Keduanya hanya bisa melongo ketika penutup hidangan yang menyerupai payung itu terbuka. Lauk di piring seperti ikan, ayam dan sayur mayur ludes seketika.
Setelah hidangan di atas meja makan ditutup lagi dengan ‘songkok’, si makhluk tak kasat mata itu menu angkan air dari termos ke dalam gelas berukuran besar.
Glek gek …
Akkkh ..
Eeeekh …
Kekenyangan.
Doger dan Pipit yang bersembunyi di balik lemari dekat kompor gas bengong. Tak tahu harus berbuat apa. Keduanya malah tak berani bertindak. Karena yang akan ditindak juga tidak kelihatan. Makhluk halus atau manusia jadi-jadian kah?
“Sebaiknya kita tunggu saja,” saran Doger. Keduanya menunggu reaksi berikutnya si makhluk aneh itu.
Klik …
Deeep …
Lampu dapur dimatikan. Doger dan Pipit mulai mendekati pintu dapur setelah si makhluk menutup pintu menuju ruang keluarga.
Di sana ada Candra sedang tertidur pulas. Sedangkan pesawat televisi masih menyala. Kemudian kursi Candra bergerak dan bergeser ke samping kiri dekat jendela. Begitu juga dengan meja. Jadi ruangan ba gian tengah tampak lebih luas. Hanya hambal permadani yang terhampar.
Ada beberapa buah bantal berjejer  di kursi sofa. Dua di antara enam bantal itu bergerak seperti ada yang menggerakkannya. Melayang rendah, lalu berhenti dan turun tak jauh dari pesawat televisi.
Bersamaan dengan agak mengerasnya volume suara televisi, sehingga kita yang menonton jadi tahu apa yang diomongi  penyiar, suara langkah kaki yang semula hilang, kini terdengar lagi.
“Kelihatan enggak Ger?”
“Enggak …”
Doger menggelengkan kepala. Belum sempat mencari tahu asal suara tapak kaki itu,  terdengar suara orang mengorok. Tidur lelap.
Doger dan Pipit mendekati Candra. Keduanya tampak lemas setelah tahu tuan muda yang ganteng itu juga tidur pulas. Tak ada cara lain selain menunggu Candra terjaga dari tidurnya.
“Sampai kapan Ger?”
“Kita tunggulah dulu.”
“Aku mengantuk Ger. Aku tidur duluan ya,” kata Pipit.
Kini, setelah Pipit tertidur pulas, Doger berusaha untuk tetap terjaga. Dia penasaran.  Dia ingin melihat kejadian berikutnya. Maka itu, dia berjaga-jaga di bawah kursi tak jauh dari makhluk tak bersuara itu tidur.
Heeerg h…
 Heeergh …
Heeergh …
Doger hanya mendengar suara dengkur Candra dan makhluk tak nyata itu. Sedangkan Pipit bergerak-gerak . Tidurnya lucu. Pejam melek. Mata terpejam, melek lagi. Begitulah berulangkali.
Fleesh …
Leeep …
Pesawat televisi mati seketika. Disusul lampu ruang keluarga. Doger yang semula bersikukuh hendak berjaga-jaga sampai tuan muda terbangun dari tidurnya, tak kesampaian.
Dia tertidur juga. Nyenyak nian tidurnya malam ini. Bangun menjelang pagi. Ketika bangun, makhluk incaran mereka sudah tidak ada lagi di ruangan keluarga.
“Doger …”
Doger membiarkan badannya dipeluk Tuan Candra. Mengusap-usapnya penuh kasih sayang. Sedangkan Pipit sudah tidak ada lagi. Dia sudah terbang mencari makan.
Doger tahu tuan mudanya tak tahu kejadian semalam. Bagaimana serunya makhluk tak berwujud masuk rumah lewat pintu belakang.
Si makhluk memang tidak mencuri. Mengambil satu pun benda berharga di dalam rumah. Namun yang membuat kaget Candra, saat dia ke dapur, lauk pauk yang masih tersisa banyak semalam di atas meja makan sudah tak bersisa lagi.
Siapa yang menyantapnya?
Dia tanya Mpok Yeni yang sedang mencuci pakaian di kamar mandi. Tidak ada jawaban selain mengge lengkan kepala.
Karena kedua orang tuanya masih tertidur pulas di kamar, Candra tak berani membangunkan mereka. Lagi pula hari masih pagi. Belum pukul enam. Orang salat subuh di masjid baru saja pulang ke rumah masing-masing.
“Doger.”
Candra bertanya pada Doger. Walau sekadar iseng saja, Doger kemudian mengajak tuan mudanya itu ke belakang rumah. Di sana masih ada jejak telapak kaki.
Tapi kaki siapakah?
Doger kemudian mengajak Candra ke dapur. Dia melompat ke atas rak piring. Lalu mengotak-atik piring dan gelas.
Heeep …
Doger melompat ke meja makan. Piring lauk yang kosong ia jejerkan. Juga gelas air minum. Kemudian dia duduk santai di kursi, menghadapkan mukanya ke piring dan gelas.
“Terima kasih Ger,” ucap Candra. Dia tersenyum dan terus mengiringi ke mana Doger pergi.
Rupanya Doger menuju ke ruang tamu. Lalu menekan tombol penyala pesawat televisi. Dan meminta tuannya memindahkan channel.
“Ini Ger?”
Doger menggelengkan kepala.
“Ini Ger?”
Doger masih menggelengkan kepala ketika Candra memperlihatkan channel olah raga sepakbola.
Candra berpikir sejenak.
“Mungkin yang ini,” kata Candra dalam hati.
Dia alihkan channel  ke tempat yang tidak ada sinyal kecuali warna biru langit.
Doger mengangguk.
“Yah, inilah …”
Mulai ada titik terang. Setelah Doger mengangguk, Candra menuju pintu belakang. Dari luar keduaya antri memasuki pintu.
Doger meminta tuannya terlebih dulu yang masuk. Pintu ditutup tapi tidak dikunci. Kemudian Doger membukanya, lalu ditutup lagi.
“Doger.”
Doger mencium kedua belah pipi Candra. Ia lalu mengajak Candra duduk di ayunan. Ada seekor burung pipit  terbang dan singgah bertengger dekat ayunan.
Karena sudah saling kenal mengenal, burung pipit itu pun hinggap di kaki Candra. Lalu mengitari Doger.
Si Pipit hanya diam saat kepalanya dielus-elus Candra. Dipegangnya dengan penuh kelembutan, lalu diajaknya bersiul.
Walau siulan burung pipit tak seindah burung kutilang, bagi Candra lebih dari cukup setelah tahu dia Pipit sangat akrab dengan Doger yang  sendirian di rumah.
Candra memang tak hendak berlama-lama dengan Doger dan Pipit. Kehadirannya justru akan menggang gu keakraban mereka berdua. Buktinya, ketika Candra berlalu pergi, Doger tidak menyusulnya.
Kemana gerangan perginya Candra?
Tak kemana-mana. Dia berada di ruang tamu sebentar. Lalu menelepon Anita. Memberitahu kekasihnya itu  kalau dia ingin bertemu dengannya.
Lepas itu dia mandi. Setelah sarapan pagi, dia ikut mengantar ayahnya berangkat kerja. Dengan isterinya dia pamitan. Baru setelah itu, keluarlah sebuah mobil sedan warna putih dari garasi.
Guk … guk … guk …
Doger mengejarnya. Dari balik kaca spion dia melihat Doger berlari –lari kecil menghampiri Tuan Rah mat.
Cuuup … cuuup …
Mencium pipi. Dia tak ikut naik, masuk ke mobil. Padahal sudah ditawari Candra. Doger justru kembali ke belakang, menemui si Pipit yang setia menunggunya.

XI
ATAS saran Anita, sore harinya mereka berdua berkunjung ke kediaman Bang Husin. Orang pandai di kota ini. Selain berceramah, dia juga punya usaha kecil-kecilan, di antaranya warung sembako dan cucian mobil.
Tapi sebagian besar orang banyak yang belum tahu. Ternyata ustad yang masih muda usia ini punya ke ahlian khusus di bidang supranatural. Mereka yang kemasukan jin, diguna-gunai, dan rumah berhan tu, seringkali meminta bantuan pada lelaki yang sudah bergelar haji  dan beberapa kali menunaikan ibadah umrah ini.
Bang Husin yang sudah banyak menolong orang ini, dalam praktiknya tidak pernah memungut bayaran sepeser pun. Hanya sukarela dan seikhlas pasiennya saja. Mau kasih banyak diterima. Sedikit tidak dito lak, tak dikasih juga tak apa-apa.
Ketika Candra dan Anita berkunjung ke kediaman Bang Husin, banyak pasien yang berobat. Pelataran yang luas itu disesaki warga yang sejak pagi tadi sudah antri menunggu panggilan untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.
Anita dan Candra menempati kursi dekat pohon belimbing setelah mencatatkan nama lengkap mereka dengan nomor urutnya  di buku ‘Daftar Pasien yang Berobat.’
“Enggak apa-apa kan Anita?” Tanya Candra, memberikan tissue untuk menyeka peluh di seputar leher Anita.
“Enggak,” jawab Anita, mengambil sebotol air minum dari dalam tasnya.
“Maksud Kak Candra, supaya kamu enggak capek atau ada kerjaan lain, antar pulang ya?”
Anita menggelengkan kepala.
“Benar enggak?”
“Benar Kak. Masa Anita bohong.”
“Enggak nyesel?”
“Enggak. Kenapa Kak Candra usil banget sih?”
“Bukan usil. Ini kayaknya lama dong Nita. Mungkin sampai malam. Maksud Kak Candra, kamu pulang duluan. Kakak antar kamu. Kemudian biar Kak Candra sendirian saja kemari lagi. Begitu …”
“Enggak usah Kak Can. Lagian enak kok di sini. Hati ini Nita lagi kagak ada kegiatan di rumah sakit. Gan tian teman Nita yang masuk.  Besok giliran Nita yang masuk,” terang Anita. Tatapan matanya menari-nari di sela kaki pasien yang duduk mengantri di sebelahnya.
“Kak,” bisiknya pada Candra. Dia lihat sandal yang dikenakan Candra terbalik. Kiri ke kanan, kanan di kiri. Luput dari perhatian pasien yang menunggu panggilan.
“Kok bisa ya?”
“Kakak enggak lihat apa?”
“Lihat. Tapi sepintas saja,” bisik Candra. Tukar posisi sandal, lalu …
“Terima kasih ya Nit atas perhatiannya.”
“Gitu aja?”
“Iyalah. Emangnya Nita mau …”
“Ada deh …”
“Malu ah ditengokin orang …”
Anita tertawa.
“Kok ketawa?”
“Kak Canda pikirannya  jorok selalu. Bukan yang itu …”
“Lalu yang mana?”
“Traktir makan.”
Anita tersenyum lebar. Sekadar senda gurau. Candra yang semula ingin mengajaknya ke warteg tak jauh dari kediaman Bang Husin, ketawa juga akhirnya. Dia tak menyangka Anita punya selera humor yang ting gi.
“Candraaaa …!” Panggil salah seorang karyawan Bang Husin lewat pengeras suara menjelang Magrib.
Candra yang semula tak menduga namanya dipanggil, sambil membungkukkan badan, berjalan beriri ngan dengan Anita melewati puluhan pasien yang masih antri menunggu.
Keduanya disambut ramah Bang Husin yang lesehan di atas hambal tebal berwarna merah bermotifkan bunga di tengah ruangan. Luas, mampu menampung lebih dari lima puluh orang. Tempat ini sering dija dikan temu majelis taklim ibu-ibu dengan mengundang penceramah yang juga wanita.
“Abang sudah tahu, Dik ..”
“Candra Bang,” kata Candra sambil menundukkan kepalanya.
“Ya Dik Candra. Nanti abang kesana entar malam,” janji Bang Husin.
“Sekalian kami …”
“Tak usahlah Dik Candra,” kata Bang Husin ketawa lebar. “Capek kalian menunggu. Abang punya sopir. Nanti beliau yang antar abang. Pokoknya Dik Candra tunggu saja di rumah. Bagaimana?”
“Apa Bang Husin yang kira-kira harus dipersiapkan?”
“Enggak ada untuk sementara …”
Candra dan Anita berbincang sejenak.
“Kalau begitu kami pamit dulu Bang Husin,” ucap Anita.
“Baiklah.”
Anita tampak lega. Lain halnya dengan Candra. Di benaknya masih menyimpan tanda tanya besar.
“Udah Kak Candra.  Nanti rontok semua rambut kakak berpikir terus. Apalagi yang dipikirin yang enggak-enggak …”
“Yang enggak-enggak gimana?”
“Soal Bang Husin tadi kan? Udah. Udah Anita omongin semuanya dari A sampai Z. Pokoknya tenang aja lah Kak Candra. Abang husin datang, Kak Canda sambut dan turuti saja apa yang dia omongin. Unders tand?”
Syiiiit …
Mobil berhenti.
“Apa Nita perlu juga datang wahai kakak ter …”
“Ter … ter apa. Ayo …”
Canda dengan sengaja memeluk Anita sebelum kekasihnya itu menjawab kalimat yang terputus darinya. Pelukan itu begitu lembut dan penuh kasih sayang bagaikan antara seorang kakak kepada adiknya.
“Kakak antar pulang ya?”
Anita yang tadinya  begitu bersemangat dan riang kala berbicara, berubah lembut setelah dipeluk Can dra, orang terdekatnya saat ini.
Ia tak juga menjawab pertanyaan Candra barusan. Ia hanya menjawabnya dengan pelukan yang untuk sementara jangan dilepaskan dulu. Biar terasa lebih indah dan semakin mendekatkan hati yang sering kali masih menduga-duga ini.
“Nita …”
Anita mengangkat mukanya.
“Kakak antar pulang ya?”
Anita mengangguk.
Mobil pun melaju. Yang ada di benak Anita  adalah sesuatu yang berbeda ia rasakan malam ini. Demikian pula halnya dengan Candra. Bedanya, Candra lega karena Bang Husin telah tahu semua kejadiannya.
Maka itu, ketika menyambut lelaki tinggi semampai itu, Candra tampak lebih rileks dan lebih banyak mendengar daripada berbicara.  Terutama ketika kedua orang tuanya asyik bertanya sesuatu yang mereka belum mengerti duduk soalnya.
“Kita mulai saja ya,” kata Bang Husin. Ditemani Candra, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Bang Husin memang sengaja mengajak Candra dan orang tuanya, termasuk Mpok Yeni untuk menunai kan salat Isya berjamaah di ruang tamu yang lumayan besar dan luas.
Seusai salat, Bang Husin memanjatkan doa agar dijauhkan bala’, dimudahkan segala urusan dan mendapat perlindungan dari-Nya.
“Dik Candra. Tolong ambilkan air putih segelas,” pinta Bang Husin. Dia berdiri kembali, menunaikan salat sunnat dua rakaat.
Kepada Candra, dia berpesan agar tetap berada di belakangnya. Menunggu sambil berdoa tanpa bersua ra, meminta supaya hajat bisa dikabulkan.
Bang Husin mulai berzikir dengan mata terpejam. Lalu zikir itu pun terhenti sejenak. Mulutnya terkatup rapat. Dia kini tanpa ekspresi. Diam mematung.
Tak lama kemudian, mulut itu berzikir lagi. Lalu bergerak-gerak seperti sedang berbicara dengan sese orang, entah siapa. Sayang, Candra tak mendengar sepatah katapun selain jari jemari memegang tasbih itu bergerak-gerak mengikuti gerakan mulut yang bergerak lambat.
Hening seketika. Badan Candra tiba-tiba dingin padahal AC  di ruang tamu baru saja dimatikan. Doger tak berani mendekat. Dia duduk dekat pintu belakang rumah. Sedangkan si Pipit baru saja terbang menuju tempat lain yang ia tinggalkan bersama anaknya sejak pagi di  sungai seberang.
Tuan Rahmat dan Nurbaya hanya menunduk. Begitu juga dengan Mpok Yeni. Bang Husin masih dalam zikirnya. Candra berharap semua berjalan lancar.
“Alhamdulillah,” ucap Bang Husin setengah jam kemudian. Dia menyalami Candra, disusul Tuan Rahmat, Nurbaya dan Mpok Yeni.
Berempat duduk lesehan menghadap ke Bang Husin yang juga lesehan. Ibarat guru dan murid, satu memberitahu, yang lain tekun mendengarkan.
 “Jadi Dik Candra, Pak Rahmat dan semuanya. Saya baru saja mengajak beliau itu berbicara,” kata Bang Husin.
“Beliau itu siapa Bang, kalau boleh tahu?” Tanya Candra ingin tahu.
“Beliau itu adalah penunggu rumah ini. Baik dan tidak mengganggu. Mau dia diajak berteman …”
Semua khusyuk menyimak.
“Soal beberapa kejadian yang dialami seperti ayam mati dan lain-lain, semuanya itu biasa-biasa saja. Tak usah terlalu dipikirkan. Beliau berjanji, insya Allah tidak akan terjadi lagi di hari-hari berikutnya. Cuma beliau juga minta tolong …” Bang Husin minum sebentar, lalu memuji kebesaran Allah SWT.
“Minta apa Bang Husin?” Candra sudah tak sabar mendengarnya. Mudah-mudahan saja tidak sulit dan mudah dipenuhi permintaan itu.

XII
“JAGALAH salat dan perhatikanlah anjing kalian yang bernama Doger itu,” jelas Bang Husin dengan suara lantang dan enak didengarkan.
Tuan Rahmat, Nurbaya dan Candra merasa malu karena selama ini mereka jarang menunaikan salat lima waktu dengan alasan sibuk urusan masing-masing.
“Apapun sibuknya kalian, salat tetap harus dikerjakan. Karena itu wajib dan perintah Allah SWT itu wajib ditaati. Bagi yang melanggarnya akan mendapatkan hukuman kelak di akherat,” terang Bang Husin.
Terkait soal Doger, kata Bang Husin, harus dicarikan tempat lain. “Jangan di dalam rumah,” katanya. Di tempatkan di kebun, misalnya. Tugasnya untuk menjaga tanaman atau kebun agar bisa terhindar dari orang yang bermaksud jahat.
“Adanya anjing dalam rumah seorang muslim memungkinkan terdapatnya najis pada bejana dan seba gainya karena jilatan anjing itu,” kata Bang Husin dengan nada lemah lembut.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila anjing itu menjilat dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah,” jelas Bang Husin.
Hikmah dilarangnya memelihara anjing di rumah, kata Bang Husin, kalau anjing menyalak dapat mena kutkan tamu yang datang. Orang akan enggan datang bertandang, tentu saja dapat mengganggu kenya manan orang yang sedang berjalan.
Baginda Rasulullah SAW pernah mengatakan:
“Malaikat Jibril datang kepadaku. Kemudian dia berkata kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun menghalang-halangi aku untuk masuk kecuali pintu di rumahmu itu ada patung dan di dalamnya ada gorden yang bergambar, dan di dalam rumah itu juga ada anjing.
Oleh karena itu, perintahanlah supaya kepala patung itu dipotong untuk dijadikan seperti keadaan po hon dan perintahkanlah pula supaya gorden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan perintahkanlah anjing itu supaya dikeluarkan.”
“Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, An-Nasa’I, Tarmidzi dan Ibnu Hibban,” terang Bang Husin.
“Seperti yang saya katakana tadi, anjing yang dilarang dalam hadist ini hanyalah anjing yang dipelihara tanpa ada keperluan,” jelas Bang Husin. Dia meminta Tuan Rahmat untuk rileks dan tenang menghadapi masalah ini.
“Tapi Bang Husin, sepertinya sayang sekali melepas si Doger ini. Bukan apa-apa. Tapi sudah begitu akrab sama kita di rumah ini,” ungkap Candra, meminta Bang Husin mempertimbangkan faktor kedekatan Do ger dengannya dan kedua orang tuanya.
Ha ha ha ha …
“Betul  Bang Husin,” sahut Nurbaya. “Rasanya berat sekali melepas Doger ini. Sudah seperti keluarga sendiri. Lagian dia tidak mengganggu siapapun, termasuk pembantu saya, ayahnya Candra dan juga Candra.”
Ha ha ha ha …
“Eeeem … Bagaimana dengan Pak Rahmat sendiri. Mungkin ada usul?”
Tuan Rahmat kini sudah bisa tertawa. Kenapa? Di benaknya kini sudah ada solusi. Anjing dilepas, sebagai penggantinya kucing.
“Bagaimana Pak Rahmat?”
“Saya sudah putuskan Bang Husin. Si Doger kita tempatkan di kebun kami, dan sebagai penggantinya kami akan datangkan seekor kucing yang bagus.”
“Alhamdulillah,” ucap Bang Husin lega.
Dia mengingatkan sekali lagi, dilarangnya kita memelihara anjing di dalam rumah, bukan berarti kita bersikap keras terhadap anjing atau kita diperintahkan untuk membunuhnya. Sebab, Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda:
“Andaikata anjing-anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” Hadist ini, terang Bang Husin, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan At-Tarmidzi.
Rasulullah SAW juga pernah mengisahkan kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki yang men jumpai anjing di padang pasir. Anjing itu menyalak-nyalak sambil makan debu karena kehausan.  Lantas orang laki-laki tadi menuju sebuah sumur dan melepas sepatunya, kemudian dipenuhi air. Lantas minum lah anjing tersebut dengan puasnya.
Setelah itu Nabi SAW pun bersabda:
“Karena itu Allah SWT berterima kasih kepada orang yang memberi pertolongan itu dan mengampuni dosanya.”

TAMAT