Jumat, 28 April 2017

Kobok Tay (2)



Novel

Kobok Tay (2)
By  Wak Amin

7

“JADI saya mengajak adik-adikku sekalian yang belum bekerja, mari kita singsingkan lengan baju. Mulai bekerja. Bekerja apa saja, asalkan halal dan dibenarkan.” Imbau Mr President. Mereka yang hadir terutama kalangan pemuda yang putus sekolah dan belum bekerja tampak antusias menyimak himbauan barusan.
Tak ada yang tertawa, apalagi tersipu malu dan berbisik-bisik. Semua pandangan tertuju ke depan. Cuma Mr Clean cs yang kerap mondar-mandir dan tiada henti-hentinya mencermati keadaan. Mereka tetap mewaspadai  warga yang masih berdatangan serta berdiri jauh di luar arena peresmian.
“Clean …”
“Aman Let.”
“Mr Jones.”
“Eheeem … aman Let.”
“Oke. Tingkatkan pengawasan dan teruslah berkoordinasi dengan yang lain.”
“Siap Let.”
“Jangan malu,” kata Mr President, “Sebab kalau kita sampai malu, maka kita tak akan mendapatkan pekerjaan selama-lamanya.”
“Seperti bapak kita tadi, walau sudah berusia lanjut, dia tetap bekerja meski hanya dengan ngelem kantong. Kita salut sama bapak kita ini,” puji Mr President sambil menunjuk bapak berusia lanjut tadi yang tampak  manggut-manggut dan senang karena merasa telah diperhatikan.
“Seharusnya kita yang muda-muda ini  meniru beliau,”  Mr President mengingatkan.
Para tamu undangan serentak menoleh ke bapak lansia yang datang bersama cucu laki-lakinya yang berusia belasan tahun.
“Saya lebih senang jika kalian semua adik-adikku yang gagah perkasa ini punya keterampilan. Mau ber saing dan bukan hanya bisa bekerja sesuai dengan keahliannya. Tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi yang lain untuk tetap optimis menatap masa depan.”
“Jangan pesimis. Jangan cengeng. Allah SWT pasti kasih kita jalan kalau kita selalu berdoa dan tak henti-hentinya berusaha. Rezeki Dia yang tentukan, tapi kita harus mencarinya dengan cara yang benar.”
“Clean …”
“Siap Letnan.”
“Sepertinya di sekitar pabrik ada yang berubah.”
“Sudah saya periksa tadi Let. Tak ada apa-apa,” jawab Mr Clean.
“Coba periksa lagi Clean.”
“Baik Let.”
Tadinya di sekitaran pabrik sepi dan ketika ditengok Mr Clean dari dekat, ada lima belasan pasukan khusus yang berjaga-jaga di sekitar pabrik.
Makanya, Mr Clean hanya sebentar mengawasi. Karena setelah itu dia kembali ke posisinya semula. Tak jauh dari lokasi pabrik yang bakal diresmikan penggunaannya sebentar lagi.
Namun kedatangan Mr Clean kali kedua ini agak sedikit berbeda. Anggota pasukan yang ditempatkan di sekitar pabrik makin sedikit jumlahnya karena telah menyebar ke beberapa lokasi yang lain.
Takutnya, kata Mr Clean, jika sampai tidak jelas kemana arah sebaran dan peruntukannya, tingkat penga was an semakin menurun dan boleh jadi tidak bisa terkontrol lagi secara maksimal.
“Lapor Let.”
“Ya Clean.”
“Memang ada perubahan suasana Let.”
“Apa masalahnya?”
Mr Clean menceritakan secara singkat duduk masalahnya. Tapi dia tetap berkeyakinan situasi masih terkendali.
“Clean.”
“Ya Let.”
“Bila perlu bantuan cepat katakan.”
“Saat ini belum Let. Saya usahakan nantinya mengontak Letnan dan Mr Jones.”
“Oke …”
Bagaimana dengan Mr Jones?
Dia baru kembali dari belakang panggung. Melihat dari dekat keadaan sekitar. Lalu bergeser ke samping kiri dan kanan sebelum melangkahkan kaki ke depan.
Dia menyempatkan diri berbicara sejenak dengan beberapa temannya dari  kepolisian. Lepas itu dia me ngontak Nona Elizabeth. Sang Nona rupanya sibuk mengontrol kendaraan yang parkir, berikut petuga jaganya yang berjumlah lebih dari enam orang.
Plak .. pak .. plak .. pak …
Terdengar tepuk tangan meriah. Para undangan tertawa melihat seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar berdiri sambil memegang secarik kertas berisikan puisi dihadapan Mr President dan para undangan.
Si anak baru membacakan puisi setelah mencium hangat dan penuh hormat tangan Mr President. Inilah puisi yang dia bacakan dengan suara lantang dan enak didengar.

“Presidenku …
setiap hari kami ke sekolah
tak kenal lelah apalagi menyerah
hanya untuk mencari ilmu
agar bisa jadi orang berguna nantinya

Presidenku …
setiap sore dan malam kami belajar
membantu orang tua mengasuh adik tercinta
kami tak pernah mengeluh
karena guru kami di sekolah mengajarkan
kepada kami untuk tidak mengeluh

Presidenku …
setelah ini kami mungkin
tak akan bertemu bapak lagi
sebab bapak harus mengunjungi tempat lain
di mana sudah menunggu
teman-teman kami  berseragam putih merah
putih biru dan berseragam lain
yang elok dipandang

Presidenku …
terima kasih kami haturkan
atas kesediaan bapak datang
berkunjung ke tempat kami
dan mau bertemu dengan kami
semogalah bapak selalu sehat
selalu dilindungi Yang Kuasa
dekat dengan rakyat
selamat dunia dan akherat
Amiiiin …..”

8
SETELAH penekanan tombol tanda diresmikannya beberapa proyek besar dan kecil, Mr President dan is teri diminta para hadirin untuk bernyanyi, menyumbangkan suara. Semula menolak halus. Tapi karena warga yang hadir terutama yang berdiri di luar arena panggung memintanya untuk bernyanyi, beliau akhirnya menyanggupi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Mr President. “Sebelum saya meninjau pabrik, saya dan isteri akan terlebih dulu bernyanyi. Setuju ya?!”
“Setujuuu Pak Presiden,” jawab hadirin serempak.
“Judulnya apa ya?” Mr President melirik Sang Isteri. Keduanya berbicara sejenak. Kemudian melempar senyuman kepada para tamu dan undangan.
“Rasanya kalau saya sama ibu yang bernyanyi, kurang ramelah. Jadi, supaya lebih rame, saya harus tambah oranglah. Orangnya siapa? Mungkin para pembantu saya …”
Para menteri saling pandang. Mereka diminta Mr President naik ke atas panggung kehormatan sekarang. Hanya masalahnya, apakah seluruh menteri, atau sebagian saja.
“Supaya lebih seru, semuanyalah naik ke atas panggung ini. Betul tidak hadirin sekalian?”
“Betuuuul Pak Presiden …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Naik ke atas panggung sepuluh menteri yang dibawa secara khusus oleh Mr President. Sebelum bernya nyi, kesepuluh menteri ini diminta memperkenalkan diri. Walaupun, lewat koran, majalah, radio dan televisi sudah seringkali dipublikasikan.
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Mr President meminta para menteri berbaris rapi menyam ping di belakangnya.  Beliau sendiri berada di depan bersama isteri tercinta.
“Mau tahu judul lagunya?” Tanya Mr President  kepada para hadirin.
“Mau Pak President,” jawab hadirin. Para ibu tampak antusias menunggu lagu apakah yang bakal dinyanyikan Mr President dan isteri.
“Judulnya adalah Kemesraan …”
Haaaa …?
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Tahu kan lagu Kemesraan?” Tanya Mr President pada seorang remaja yang datang bersama ayahnya, di kursi urutan ketiga dari depan.
“Siapa yang sering menyanyikannya?”
“Iwan Fals Pak Presiden,” jawab remaja berambut ikal hitam dan tampan itu.
“Seratus untuk anda,” kata Mr President. Dia pun meminta para menterinya bersiap-siap karena nyanyi bareng sebentar lagi dimulai.
Personil band pengiring tampak saling menyesuaikan posisi dan pemilihan nada yang pas buat Mr Presi dent dan isteri ketika bernyanyi.
Satu .. dua .. tiii …ga.
“Satu hari
Di kala kita duduk di tepi pantai
dan memandang
ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar
terbang bermain di derunya air
suara alam ini
hangatkan jiwa kita

Sementara
sinar surya perlahan mulai tenggelam
suara gitarmu
mengalunkan melodi
tentang cinta

Ada hati
membara erat bersatu
getar seluruh jiwa
tercurah saat itu

Kemesraan ini
janganlah cepat berlalu
kemesraan ini
ingin kukenang selalu

Hatiku damai
jiwaku tentram di sampingmu
hatiku damai
jiwaku tentram bersamamu

Bersamamu … “

“Terima kasih .. terima kasih.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Cukup ya?”
“Satu lagu lagi Pak President,” pinta seorang ibu dengan penuh harap. Dia belum puas Mr President hanya menyumbangkan sebuah lagu. Paling tidak dua, kalau bisa tiga.
Ha ha ha ha …
Mr President dan isteri tertawa mendengarnya.
“Kan masih ada waktu Pak President,” jelas si ibu. Ingin rasanya dia naik ke panggung kehormatan menemani Mr  President bernyanyi.
“Mari Bu, temani kami bernyanyi,” kata Mr President. Si ibu kegirangan. Apalagi ketika naik podium. Tangannya  ditarik pelan Mrs President. Ingin jatuh rasanya, saking senangnya.
Hadirin bertepuk tangan.
“Siap ya Bu? Tanya Mrs President sambil tersenyum.
“Siap Bu President.”
“Bagus. Kita mulai. Lagunya apa ya Bu?”
“Terserah bapak President ajalah,” jawab si ibu rada malu-malu.
Setelah dibujuk Mr Presiden dan isteri, si ibu akhirnya menyebut lagu ‘Setangkai Anggrek Bulan.”
Plak .. pak .. plak .. pak …

“Setangkai anggrek bulan
yang hampir gugur layu
kini segar kembali
entah mengapa …

#
Bunga anggrek yang kusayang
kini tersenyum berdendang
bila engkau berduka
matahari tak bersinar lagi

Hatiku .. untukmu …
hanyalah untukku
kuserahkan
kudambakan

Dirimu .. diriku …
permata hatiku
kubayangkan
di setiap waktu …

Bagai embun pagi hari
bunga-bunga segar lagi
berkembang harapan hati
hari bahagia … menanti …”

(Repeat #)

9
JEGUAAAAR …
Guaaammm …
Drug ..  dug .. drug .. dug ..
Guaaam …
Sebuah ledakan besar terjadi. Mr Presidet yang baru saja turun dari panggung kehormatan untuk menin jau beberapa pabrik besar dan kecil, terkejut. Secepatnya diamankan pasukan pengawal Presiden dan sejumlah pasukan pengaman khusus dari pihak kepolisian.
Suasana berubah mencekam. Panik seketika. Jeris histeris dan tangis pili terdengar di mana-aman. Apa rat keamanan tak mampu menahan laju para undangan dan warga yang berlari sambil berdesak-desa kan untuk bisa keluar dari arena peresmian.
Mr Clean, Mr Jones, Letnan Salam dan Nona Elizabeth berusaha menyelamatkan warga, terutama mere ka yang sudah berusia lanjut. Harus tertatih-tatih, jatuh dan bangun saat mencoba berlari.
“Clean ….””
“Ya Let.”
“Posisimu dimana sekarang?”
“Di dekat podium bersama Mr Jones, Let.”
“Syukurlah,” kata Letnan Salam, lega. Dia kuatir Mr Clean ikut tewas dalam ledakan barusan. Tak ada kor ban jiwa, namun banyak yang terluka parah dan kritis.
“Amankan semuanya.”
“Siap Letnan
Meski tak menimbulkan korban jiwa, puluhan petugas keamanan ikut terluka parah. Ledakan itu tak me nimbulkan kerusakan menyeluruh. Hanya tiga dari sepuluh buah pabrik hancur, pos jaga rata dengan ta nah.
Namun jaringan listrik yang sudah terpasang di sekitar pabrik padam seketika seusai ledakan. Beberapa karyawan  yang siaga di tempat untuk menyambut dan menjelaskan beberapa hal saat Mr President meninjau pabrik, terpaksa ditandu dan dipapah petugas keamanan.
Sebagian besar dari mereka mengalami luka berat dan ringan, syok karena ledakan terjadi sangat tiba-ti ba. Ledakan itu membuat aktivitas pabrik beberapa hari ke depan belum dapat beroperasi karena telah terjadi kerusakan di sana-sini.
Beberapa wartawan yang hendak melakukan jumpa pers dan bertanya panjang lebar kepada Mr Presi dent tentang pabrik dan isu terkini lainnya, terpaksa gigit jari karena acara yang ditunggu-tunggu kuli disket itu akhirnya dibatalkan.
Mr President dan isteri  langsung dibawa pergi ke istana kepresidenan, bersama para menteri dan rom bongan duta besar negara sahabat, para pengusaha dan pejabat terkait.
Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mr President. Hanya terdengar pelan dari mulutnya ucapan istighfar dan doa keselamatan bagi rakyatnya. Begitu juga dengan Sang Isteri. Tak henti-hentinya mengu capkan rasa syukur kepada Allah SWT karena bisa selamat dari ledakan.
Lima belas menit berselang, lokasi peresmian, pabrik dan beberapa proyek besar yang bakal diresmikan, berubah lengang. Asap hitam masih membubung tingi walau tidak setinggi tadi.
Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk menyemprotkan air dengan menggunakan selang besar dan panjang. Ada sekitar sepuluh mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi ledakan untuk mema damkan kobaran api.
Mereka menyebar ke beberapa sudut. Semperotan besar dan sedang terlihat bergantian di sekitar pab rik, panggung kehormatan dan lokasi parkir. Kedua tempat itu, beberapa saat setelah ditinggal pergi  Mr President, undangan dan warga yang menyaksikan, ikut terkena percikan api.
Kendati tak menimbulkan ledakan susulan, percikan api itu sempat memakan kayu, besi dan benda-benda lain di lokasi parkir serta panggung kehormatan.
Hanya dalam tempo kurang dari lima menit, kebakaran pasca ledakan berhasil diatasi. Beberapa patugas pemadam kebakaran tampak lega. Sesekali mereka menanyakan keadaan Mr Presiden dan isteri kepada petugas keamanan. Selamatkah mereka atau justru tewas di saat terjadinya ledakan.
Kemana Letnan Salam cs?
“Clean …”
“Ya Let.”
“Cepat kejar orang itu!”
“Siap Let.”
Seorang pengendara motor yang sempat dilihat oleh seorang warga beberapa saat sebelum terjadinya ledakan, kabur bersama motornya ketika hendak didekati Nona Elizabeth.
Bersama Letnan Salam dan Mr Jones, Nona Elizabeth nekat menyusul si pengendara. Beberapa kali dia melakukan zig-zug hanya untuk menghindari padatnya arus kendaraan roda dua dan empat di jalan raya utama.
Sang pengendara motor, setelah berada di simpang empat tugu kota, belok kiri dan menempuh jalan pintas melewati beberapa lorong yang sambung menyambung.
“Terus saja Non Eli,” kata Letnan Salam yang sedari tadi tampak gelisah dan sudah tak sabar ingin  menangkap si pengendara.
“Helo Let.”
“Ya Clean.”
“Saya di belakang Letnan sekarang.”
Ketika Letnan Salam menoleh ke belakang, ada sebuah mobil berplat hitam dan berwarna biru. Mr Clean mengeluarkan kepalanya sebagai isyarat dia akan lebih mendekat.
Persis di lampu merah, Mr Clean keluar dari mobil. Dia mendekati Nona Elizabeth yang pura-pura tidak tahu.
“Selamat siang Mbak. Boleh tanya enggak?” Tanya Mr Clean, pura-pura serius.
“Boleh. Mau tanya apa Om?”
“Perempuan yang bernama Elizabeth itu, apakah anda ya?”
“Ooo, bukan Om.”
“Lalu anda siapa?”
“Cewek Om,” gurau Nona Elizabeth. Mr Jones membuka pintu, Mr Clean masuk. Dia ikut gabung ke mobil yang disopiri Nona Elizabeth.
“Mobilmu kenapa Clean?”
“Mogok Let.”
“Belum mandi kali sopirnya,” ledek Nona Elizabeth.
“Atau baru bisa jalan kalau disopiri cewek,” sahut Mr Jones.
Hua ha ha ha …
Candaan Mr Jones ditanggapi Letnan serius oleh Letnan Salam. Dia tak ingin mereka berempat bertum puk jadi satu. Akan sulit mendapatkan jejak si pengendara ketimbang mereka pisah dua dengan mobil masing-masing.
“Oke. Mr Jones gantikan Non Eli. Non Eli langsung ke mobil belakang bersama Mr Clean,” perintah Let nan Salam. Turun dari mobil, Mr Clean menyilakan Nona Elizabeth secepatnya mengutak-atik mobil bermuatan lebih dari empat orang itu.
Merah ke hijau, tinggal semenit lagi. Nona Elizabeth berhasil menyalakan mesin mobil. Lampu berubah hijau, mobil akhirnya melaju dengan cepatnya.

(Tobe Continued)            

Senai-Senai



SASTRA

Senai-Senai
(Kumpulan Sajak Bebaso Bengkulu)
Abu Hilman

By  Wak Amin


A.      Prolog
ABU Hilman, kelahiran Kepahiang, Bengkulu, pada 21 Februari 1921. Kegemarannya menulis sajak-sajak telah dimulai sejak tahun 1943. Tiada menganut aliran atau periode tertentu. Pan dangan hidupnya penuh harap dan optimis, sesuai dengan iman dan kepercayaannya yang senantiasa tiada lepas berharap pada Allah SWT. Kegiatannya adalah dalam bidang pendidikan dan dakwah. Abu Hilman adalah sebuah nama samara semata.

B.      Berikut beberapa sajaknya:

-          TABOT
KALU’lah tibo bulan Muharram,
Mulai sibuk ba siap-siap.
Ambik tanah jo batang pisang,
Genokkan segalo mano nang perlu,
bulan Tabot datang menjelang.

Entah dari mano asal mulonyo,
Pokoknyo’lah ado sejak da-ulu.
Makmano nimbulnyo, idak tahu,
Nang kiniko ‘dak ingek lupo,
tapi di Bengkulu iko.
Soal tabot, idak ‘kan lupo,
Tiok tahun, tetap ado

Sepanjang cerito sejarah,
Tabot ‘ko cuma ad di duo daerah!
Di Padang Pariaman, pertamo,
Kaduo di Bengkulu iko.
Di daerah lain dak basuo.
Kalu ‘ndak disebut budayo bangso,
Agaknyo bulih jugolah.

Hiruk pikuk batobo-tobo,
Bunyi dol basaut tasa.
Maradai, manjarah,
Arak jari-jari, arak saroban.
Arak gedang, tabot tabuang.

Balago bekas jo Pondok Besi,
Pasar Baru, Tapak Paderi,
Kebun Ros jo Pasar Bengkulu.
Balago elok, balomban tinggi.
Hoyak Hosen, Hoyak Hosen.
Gasak nianlah, kabilo lagi.

Sepuluh Muharram, tutup cerito.
Tabot tabuang di Karabela,
Habis pitis, badan ‘lah payah,
Tahun muko, mendo pulo.



-          SALERO DATUK
BEE-LILAH, bee-lilah ikan pais,
Ikan pais andung Tipa …
Eeee … pik, siko, baok kasiko!
‘Lah lamo ambo manunggu.
Bukaklah sekali bungkusnyo,
sedang ambo makan ko!

Alamak … pik …
Mangapo gatal manggarenyit?
Rempahnyo tipis, dikit pulo.
Pembungkusnyo ajo nang tebal.
Alamak … pik …
Mangapo gatal manggarenyit?

Eeee .. yo … bee, tuk,
Maso gatal taraso kek datuk?
Memang keladi rasonyo gatal.
Kalau tak gatal bukan keladi,
Tapi kalu ‘lah jadi ikan pais,
Buatan ndung Tip pulo,
Dijamin tidak taraso gatal.
Tambah lemak lagi ado!
Pauncu sebelah ‘ko ngambol duo,
tak gatal sebaga-bagai?
Kalau lidah datuk ‘tu dang naik gatal, dak?
Sejak andung dak do lagi ko,
Datuk ko macam-macam ajo?

Ee … pik, jangan banyak mancereco,
Pailah, baoklah, kesitu pulo!
Pagi baokkan duo bungkus, yo,
Nang lemak, nang tebal!
Tapi kato datuk, gata?
Dak apo-apo gatal-gatal lemak.
Baangko urang manggaut kepalak,
Kalu tak gatal apo digaut?
Tapi rempahnyo dobal tebalnyo.
Rego mahal, tidak mangapo!


-          PANTAI PANJANG
PANTAINYO luas jauh tebentang,
pue nengok sayup memandang.
Batang runyo tinggi-tinggi,
Lemak beteduh di pane hari.
Pandang kesitu kualo Buayo
laju terus ke Pulau Bai.
Itu Nala, situ Berkas,
Malabero laju ke Tapak Paderi,
Pulau Tikus jauh di tengah.
Sambil diembus angin laut.
Kalau ‘lah terasp agak kendur,
bagayo mandi ke laut pulo.
Bekejar-kejar, besimbur-simbur,
idak teraso ‘lah senjo rayo.
Dibanding jo tempek lain,
lebih acik pantai kito.
Hoi, sanak-sanak di rantau …
Siapalis idak tekenang belanju balik?
Singgah pulolah ke Pantai Panjang.
Bakayak, ‘dak sempat datang,
nang lain pacak lupo,
Pantai kito arok dijelang.


-          SENAI-SENAI
WALAU menggeramat dalam hati,
menengok sarok menggunung tinggi,
atau sebatas Bukit Jupi.
Senai-senai sajo …
lambek-lambek terencana.
jangan kelewat capek,
Kuis siko, kais situ.
Jangan tekais pado pantangan,
Tabik-tabik, lambek-lambek,
Lain kali pulo, senai-senai …
Kalau tebabut bulu sapu,
atau tangkai patah tigo,
Palo- gho, senai-senai ajo!
Pagi-luso dogoyo pulo …





 
 










Senin, 24 April 2017

Kobok Tay (1)



Novel

Kobok Tay (1)
By  Wak Amin

1
“MARI Tuan, ikut saya …” Kata salah seorang pengemudi taksi yang biasa mangkal di bandara. Dia memperkenalkan diri, lalu mempersilakan Mr Jones memasuki taksinya.
Tengah hari …
Bukan hanya Mr Jones yang baru tiba di kota ini dengan menggunakan pesawat berbadan lebar. Banyak penumpang lain yang turun bergantian dari pesawat dan kota yang berbeda pula.
Tak heran jika bandara penuh sesak, terutama di ruang pengambilan bagasi. Sementara di luar pintu ma suk bandara, para penjemput berjubel. Mereka khusus datang bersama keluarga, saudara dan handai tolan.
“Beginilah keadaannya Tuan kalau tengah hari. Penuh sesak,” kata si pengemudi yang mengaku bernama Rahmat Kurniawan. Dia membelokkan mobil sedan biru muda yang ia sopiri ke kanan menuju pintu gerbang utama bandara.
“Di tempat saya juga begitu Pak,” kata Mr Jones sembari mengalihkan pandangan sejenak ke area persawahan nan luas serba menghijau di kanan dan kiri jalan.
“Betul Tuan? Wah kalau begitu sama dong dengan bandara di tempat saya ini.”
Syiiiiit …
Mobil berhenti di pos jaga.
Hanya sebentar. Lalu berjalan lagi.
Kini taksi bersiap memasuki kawasan perkotaan. Di kanan kiri dinaungi aneka tanaman hias dan pepoho nan rindang. Beberapa kendaraan roda dua dan empat tampak berseliweran silih berganti.
“Tuan kayaknya baru pertama kali datang ke kota ini ya ,” kata Pak Rahmat menyambung obrolan yang sempat terhenti beberapa saat tadi.  Dengan penumpang lain hal ini sering ia lakukan, kenapa dengan Mr Jones tidak. Orangnya ramah, penampilan rapi dan ganteng pula.
“Anda orang sini Pak?”

“Iya Tuan. Saya lahir dan dibesarkan di sini. Inilah tanah kelahiran saya Tuan …”
“Sudah menikah Pak?”
“Sudah Tuan. Baru setahun yang lalu. Setelah menikah pikiran ini rasanya plong. Tenang. Dulu, ketika masih bujang selalu merasa kurang Tuan. Tapi sekarang, entah kenapa cukup dicukupkan. Enggak me rasa kekurangan. Mungkin karena belum punya anak ya Tuan,” ujar Pak Rahmat sembari tertawa lebar.
Tiba di lampu merah, Mr Jones membuka separo kaca jendela taksi. Dia membeli koran edisi siang dari penjaja koran yang  biasa mangkal di tepi jalan dan sebotol air mineral dingin sekadar untuk membasahi kerongkongan.
“Tuan rupanya hobi baca koran juga ya?”
“Hobi juga sih enggak Pak. Bila saya perlu, ya saya belilah. Enggak mahal juga kan Pak ya.”
Ha ha ha ha …
Telepon seluler berdering.
“Mr Jones. Ini Elizabeth. Sudah menunggu di Hotel Karimun.”
“Saya masih di perjalanan Nona Eli. Mungkin tak lama lagi saya sampai ke hotel jika tidak macet.”
“Oke Mr Jones.”
“Oh ya Non Eli. Lokasi persisnya Karimun Hotel dimana ya?”
“Simpang Lima. Belok kanan, nomor dua.”
“Thank’s Non Eli. Cukup ya!”
Telepon ditutup.
Taksi kembali berbaris rapi dengan kendaraan lain di perempatan lampu merah.
“Apa sudah dekat kita Pak Rahmat?”
“Satu lampu merah lagi Tuan. Belok kiri dan jalan sedikit, sampailah kita.”
“Syukurlah kalau begitu. Pas betul Pak.”
“Pas betul kenapa Tuan?”
“Sampai di hotel saya makan Pak.”
Hua ha ha ha …
Dari pagi ketemu pagi dijamin tak bakal kelaparan. Beberapa rumah makan tetap buka selama dua puluh empat jam. Mengenai harga sesuai dengan jenis dan kualitas makanan yang dimakan.
“Kalau mau yang murah banget ada Tuan. Yang mahal selangit juga ada. Banyak Tuan.”
Ha ha ha ha …
Tanpa terasa Hotel Karimun sudah di depan mata. Dari balik pepohonan rindang, setelah turun dari taksi dan membayar ongkos, Mr Jones bergegas menuju pintu hotel.
Pintu terbuka …
“Selamat datang Mr Jones. Kami senang anda datang,” ucap Nona Elizabeth bersama rekannya sesama wanita. Satu persatu mereka menyalami Mr Jones. Menemaninya hingga ke kamar tempat menginap yang telah dipesan seminggu sebelumnya.

2
TAK lama kemudian datanglah Mr Clean dan Letnan Salam. Ditemani Nona Elizabeth, mereka melakukan pertemuan khusus di lobi hotel Karimun sore hari. Hanya sebentar. Setelah itu mereka beranjak pergi ke luar hotel. Berjalan kaki dan singgah di warung kopi.
Jelang Magrib, mereka kembali ke hotel. Lepas Magrib mereka makan malam bersama di restoran Kari mun. Karena hampir semua tempat duduk terisi, mereka akhirnya memilih duduk di  kursi paling ujung. Lebih sejuk karena dihiasi aneka bunga berwarna-warni.
Tak lama. Setengah jam lebih sepuluh menit mereka kembali ke lobi hotel. Lalu melanjutkan perjalanan ke gedung Graha Police. Mereka sudah ditunggu beberapa perwira senior dari kepolisian. Mereka menyambut dengan ramah kedatangan Mr Jones.
Meeting sudah dimulai lima menit lalu. Jadi tak ada waktu lagi buat Mr Jones untuk bersantai dan saling curhat-curhatan. Meeting berlangsung amat singkat.
Mr Jones diberi kesempatan memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya kepada pe serta meeting. Setelah itu meeting disudahi.
Bersama Kolonel Agus, Mr Jones, Letnan Salam, Mr Clean dan Nona Elizabeth menuju ruangan khusus pertemuan antar perwira.
“Mari Mr Jones. Disini kita lebih santai,” kata Kolonel Agus memulai obrolan.
“Kopi, teh atau susu Mr Jones?” Nona Elizabeth menjawab Mr Jones lebih suka kopi. “Saya susunya.” Disambut tawa yang lain.
Slide sudah terpasang. Kini, bersamaan terhidangnya beberapa gelas air minum di meja panjang dekat slide, Kolonel Agus memulai pembicaraan.
“Jadi Mr Jones dan kawan-kawan. Mr President besok akan hadir di tempat ini. Dia meresmikan beberapa proyek besar sekaligus bertatap muka dan berdialog dengan masyarakat.”
Kolonel Agus menunjuk tiga titik. “Jadi inilah tiga titik yang menjadi fokus pembicaraan kita hari ini,” jelasnya. Titik pertama di panggung dan podium kehormatan. Titik kedua, di pabrik dan beberapa bangunan yang diresmikan. Titik ketiga adalah tempat parkir kendaraan Mr President dan rombongan.
“Ketiga titik ini kita akan tempatkan beberapa personil khusus dan terlatih. Mereka bertugas mengamankan Mr President dan rombongan,” jelas Kolonel Agus.
Tentu, kata Kolonel Agus, petugas yang ditempatkan di tiga titik bukan cuma mengamankan dan melindungi keselamatan Mr President dan rombongan. Tapi juga masyarakat dari berbagai lapisan yang hadir dalam acara peresmian itu.
“Ini dulu dari saya. Silakan untuk memberi saran, ide dan masukan,” ujar Kolonel Agus sembari menyeruput air kopi hangat kental manis.
“Mr Jones?”
“Thank’s Letnan.” Dari ketiga titik itu, dia bersama Mr Clean dan Letnan Salam akan ditempatkan di mana.
“Di antara tiga titik inilah Mr Jones. Enggak kemana-mana,” kata Kolonel Agus. Dia menggaris bawahi ketiga titik itu dengan penekanan bahwasanya Mr Clean, Letnan Salam dan Mr Jones saling berbagi nantinya di tiga titik itu.
“Pertanyaannya Kolonel. Bagaimana dengan Nona Elizabeth?” Sindir Mr Jones. Yang disindir cuma senyum-senyum saja. Manis pula senyumnya.
“Kalau soal Nona Elizabeth, itu terserah kalianlah. Silakan pilih mana yang dia suka,” terang Kolonel Agus.
Derai tawa pun tak terhindarkan.
“Saya siap dimana saja. Terserah tuan-tuan bertiga inilah,” kata Nona Elizabeth. Di mana saja ditem patkan dia siap asalkan jelas dan sesuai dengan peruntukannya.
Ha ha ha ha …
“Oke kalau begitu. Nantilah kita putuskan. Sekarang kita lanjutan dengan langkah antisipasi,” ujar Kolonel Agus. “Saya cenderung di masing-masing tiga titik ini ditempatkan juga beberapa orang untuk mengontrol keadaan.”
Semua serius menyimak penjelasan.

“Tapi Kolonel,” kata Nona Elizabeth, apa kita justru tidak kebanyakan petugas. Kan sudah ada kita-kita dan petugas khusus yang ditempatkan di tiga titik itu. Saran saya, lebih baik kita tempatkan mereka, kalau memang ada dan perlu tambahan personil, di luar arena peresmian.”
“Di luar arena peresmian biasanya akan lebih ramai dengan suasana yang terkadang tidak terkendali. Siapa tahu, makin dekat peresmian justru makin banyak yang datang ke lokasi peresmian, dan saat itulah pihak lain memanfaatkannya buat kepentingan mereka tentunya,” jelas Nona Elizabeth berapi-api.
“Khusus di luar arena peresmian akan kita tempatkan beberapa personil bersenjatakan lengkap. Jadi Nona Elizabeth, hal itu sudah menjadi perhatian kita bersama,” terang Kolonel Agus.
Namun, kata Kolonel Agus, masih ada kemungkinan pihak kepolisian menempatkan beberapa personil bayangan yang bertugas mengawal pergerakan massa yang hadir.
“Bila memungkinkan kita tempat salah seorang dari kalian di luar arena peresmian,” tegas Kolonel Agus sembari memperhatikan satu persatu peserta yang hadir dalam pertemuan yang sudah berlangsung hampir dua jam itu.

3
SUASANA penyambutan tampak ramai dan meriah sesaat sebelum kedatangan orang nomor satu di negeri ini. Jarum jam baru menunjukkan ke angka tujuh. Tapi sudah penuh sesak warga yang datang ingin menyaksikan peresmian sekaligus melihat dari dekat Mr President dan isteri.
Mr Jones menempati titik nomor satu bersama anggota kepolisian yang lain dan khusus ditempatkan di titik satu. Titik kedua ditempati Mr Clean sedangkandi  titik ketiga ditempati Letnan Salam dan Nona Elizabeth.
Kolonel Agus sendiri ikut bersama tim yang menyambut kedatangan Mr President dan rombongan. Ten tu dia tidak sendirian. Dia dikawal beberapa petugas kepolisian. Kolonel Agus, sebelum menempatkan po sisi anak buahnya, menginstruksikan Letnan Salam dan kawan-kawan terus menjaga kontak dan fokus pada pekerjaan serta tugas utama masing-masing.
“Clean …”
“Titik dua aman Let. Roger.”
“Roger. Aman diterima. Lanjut .. Mr Jones.”
“Ya Let. Mr Jones di titik satu. Sampai detik ini aman terkendali Let.”
“Okeee …”
“Saya Let,” kata Nona Elizabeth.
“Kan udah tadi.”
“Kapan Let?”
“Lho tadi bilang … Saya Let.”
Ha ha ha ha …
“Letnan bisa aja.”
Para undangan dan tamu kehormatan mulai berdatangan. Mereka menempati tempat duduk yang telah disediakan di bawah tenda yang di depannya sudah terpasang panggung khusus untuk Mr President me nekan tombol sirene sebagai tanda telah diresmikannya beberapa proyek dan pabrik besar serta kecil di kota ini.
Tak jauh dari panggung dan tempat duduk tamu kehormatan dipasang batas pemisah bagi warga yang ikut menyaksikan. Batas pemisah itu hanya berupa tapi beberapa lapis yang dijaga oleh beberapa petu gas keamanan.  Diharapkan pada puncak acara warga tetap sopan dengan tidak berdesak-desakan dan berusaha menerobos masuk mendekat ke podium kehormaan.
Tak terkecuali para kuli tinta. Dengan mengenakan tanda pengenal di dada, sambil menenteng tustel  dan hape android mereka hilir mudik mencari momen yang tepat untuk memotret dan merekam kejadian yang saat ini sedang terjadi dan berlangsung di arena peresmian.
Jumlah mereka tidak sedikit. Ditaksir melebihi angka lima puluh. Sebagian besar dari mereka masih berusia muda. Mereka adalah jurnalis dari berbagai media cetak, online dan elektronika.
Tentu saja kehadiran para kuli disket ini tidak sampai mengganggu ketenangan dan kenyamanan tamu dan warga yang menyaksikan. Mereka hanya fokus pada pengambilan gambar di tempat yang telah dise dikan dan diatur pihak panitia. Mereka baru boleh mewawancarai Mr President setelah acara peresmi an.
Jelang lima menit Mr President dan rombongan datang, aparat keamanan semakin memperketat penja gaan dan pengawasan. Setiap celah diantisipasi dengan tidak memberikan keleluasaan kepada warga untu lebih mendekat.
Dan, ketika Mr President dan rombongan tiba di lokasi, kesibukan petugas keamanan semakin bertam bah. Hanya saja di jalan yang harus dilewati orang terhormat di negeri ini tampak streril dan lengang. Sementara di kanan kirinya warga antri berjubel tapi teratur ingin melihat dari dekat Mr President dan isteri tercinta.
Diawali dengan tarian selamat datang, Mr President dan isteri turun dari mobil kepresidenan, diiiringi rombongan para menteri, duta besar negara sahabat, sejumlah pengusaha kenamaan dan pejabat ter kait lainnya.  Dua menit kemudian, Mr President berdiri, menerima kalungan bunga dan menyaksikan lemah gemulainya para gadis belia cantik jelita menarikan tarian.
“Halo Pak Presiden,” ucap salah seorang ibu dengan raut muka senang sesaat setelah Mr President sele sai menyaksikan tarian.  
Bukan cuma ibu berparas lumayan cantik dan masih muda itu yang mendapat kesempatan bersalaman  dengan Mr President. Tapi juga para ibu yang lain, remaja, kaum bapak dan anak-anak yang tampak sangat antusias bertemu dan melihat dari dekat orang yang mereka cintai dan sayangi itu.
Dengan sabarnya Mr President menyalami dan menyapa satu persatu warga yang telah menunggunya sedari pagi. Sayang, karena keterbatasan waktu dan tempat, Mr President tak bisa memenuhi semua per mintaan sebagian kecil rakyatnya yang mau berselfie ria. Hanya beberapa orang, itu pun tidak lama kare na para pengawal berbadan tegap dan sigap sudah mendekat serta merapat.
“Sudah ya!”
“Lagi Pak Presiden,” teriak seorang remaja putri. Dia minta Mr President berhenti sejenak dan mendekat ke dia.
Flaaaash …
“Terima kasih Pak Presiden,” ucapnya senang bukan main.

4
“MR Jones … Roger.”
“Sebentar Let. Ada anak mau pipis nich.”
Ha ha ha ha …
“Ada yang lucu Let?” Tanya Nona Elizabeth keheranan.
“Ada anak kebelet mau pipis.”
“Oooo … Eli kira apa … Tapi Let, hati-hati lho Let. Siapa tahu …” Nona Elizabeth tak melanjutkan ucapan nya karena rombongan terakhir Mr President dan isteri akan lewat menuju deretan kursi yang telah disediakan.
“Clean … Roger.”
“Aman Let.”
“Di mana kamu Clean?”
“Di tempat Let.”
“Maksud saya, lagi ngapain?”
“Tengok-tengok oranglah Let.”
“Oke .. Lanjutkan.”
“Siap Letnan.”
Dari tempat Letnan Salam dan Nona Elizabeth berdiri di titik tiga, terlihat beberapa penari memasuki panggung. Cewek belia yang cantik jelita dan berkulit putih membawakan tarian sekapur sirih khusus kepada tamu kehormatan.
Mulanya dua dari delapan penari itu berlari-lari kecil sambil merentangkan kedua tangan. Mengelilingi para penari lain yang duduk bersimpuh menghadap ke tamu undangan.
Tak lama setelah itu, kedua penari ini kembali bergabung dengan rekan-rekannya. Mereka duduk ber simpuh dengan kedua telapak tangan didekatkan. Sebelum kemudian berdiri dan memencar sembari meliuk-liukkan badan dan kedua tangan.
Kedua kaki silih berganti disilangkan, lalu ke depan, kanan, kiri dan belakang. Para penari berpasang-pasangan dan saling berbisik, tersenyum dan tertawa.
Beberapa detik kemudian, empat pasang penari ini saling berpandang-pandangan. Lalu menepukkan kedua telapak tangan silih berganti dalam posisi duduk bersimpuh, jongkok dan berdiri.
Kemudian berjalan ke depan sambil berpegangan tangan. Masing-masing pasangan mencari pasangan lain, sehingga setiap penari menemukan pasangan baru. Baru setelah itu mereka memberi hormat kepa da tamu undangan.  
Tarian pun selesai …
“Mr Jones … Roger.”
“Siap Let.”
“Sudahkah si anak pipis?”
“Tak jadi Let.”
“Kenapa Mister?”
“Udah dipaksain enggak mau keluar juga itu air kencing. Ya udah, enggak jadi kencingnya Let.”
“Ibunya Mister?”
“Justru ibunya minta ditemani Let. Soalnya, ramai dan dia hanya berdua dengan anaknya. Baru pertama kali ke tempat ini. Takut kenapa-kenapa Let.”
Ha ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Siaga penuh.”
“Siap Let.”
Mr Clean tampak melerai orang bertengkar. Walau tak sempat adu jotos, jika Mr Clean terlambat bebe rapa detik saja untuk melerai, duel antara laki-laki berambut keriting berombak dan lurus itu bakal terjadi dan seru.
“Baru aman Let.”
“Ada yang …?”
“Iya Let. Dua orang hampir berkelahi cuma gara-gara rebutan tempat. Tapi syukurlah sudah bisa diatasi Let.”
“Jempol Clean.”
“Makasih Let.”
“Sama-sama.”
“Oh ya Let. Nona Eli ada?”
“Ada. Lagi memeriksa lokasi parkir dan beberapa orang di sekitar parkiran yang mulai ramai.”
Mr Clean mengarahkan pandangan ke lokasi pabrik terdekat. Dia lega karena tim pasukan khusus menjaga ketat pabrik dan beberapa bangunan di sekitarnya yang pembangunanya menelan dana triliunan rupiah.
“Clean.”
“Aman Let.”
“Oke, siaga penuh.”
“Siap Letnan.”
Setelah memeriksa keadaan di lokasi parkir kendaraan tamu undangan, Nona Elizabeth menyapa bebe rapa lelaki yang duduk di bangku panjang khusus tamu yang mau istirahah setelah memarkirkan kenda raan.
Sapaan itu kemudian berlanjut pada pembicaraan serius. Diiringi tawa kecil sebelum kembali menemui Letnan Salam yang masih berdiri sambil mengawasi keadaan sekitar dengan seksama.
Di beberapa kesempatan, Letnan Salam juga mengitari lokasi parkir sebelah kiri tempat ia berdiri. Tak lama. Setelah itu dia bergeser beberapa langkah ke depan sekadar untuk memastikan tak ada tamu un dangan dan warga yang gerak-geriknya mencurigakan.
Sementara Mr Jones senyum-senyum menyaksikan lawakan anak-anak di atas panggung. Begitu lepas diperankan, membuat para tamu seolah tengah berada di tengah masyarakat pedesaan.
Kelucuan yang ditampilkan membuat yang hadir, termasuk Mr President dan isteri, bertepuk tangan. Kri tik dan saran yang disampaikan memang sangat mengena. Malah tak ada yang tahu kalau itu kritikan selain hampir setiap menit perut ini seolah berguncang karena tak kuat menahan tawa.

5
“ASSALAMUALAIKUM warohamtullohi wabarokaaatuh.” Ucap Mr President dengan suara lantang sem bari menyunggingkan senyuman manis kepada para undangan dan masyarakat yang sengaja hadir untuk menyaksikan meriah tapi sederhanya acara peresmian.
“Waalaikum salam,” jawab para hadirin serempak.
Bersamaan dengan itu, para juru foto mulai membidikkan kameranya. Seketika lampu blitz bergantian terlihat. Ibarat kilat yang biasa kita lihat, baru reda dan tidak terlihat lagi setelah Mr President bilang …
“Udah ya, teman-teman juru foto …”
Ha ha ha ha …
Para juru foto pun tahu diri. Mereka menghentikan sejenak memfoto karena kuatir  akan mengganggu konsentrasi Mr President dalam membarikan kata sambutan.
Warga yang hadir memberikan aplus ketika Mr President berkata .. “Saya senang berjumpa dengan rakyatku. Sebab, tanpa kalian saya ini bukan apa-apa …”
Plak … pak .. plak .. pak …
“Mungkin apa tidak lebih baik saya berumah saja dengan rakyatku. Rumah biasa. Sederhana yang saban sore para ibu ramai berkumpul, mengendong sambil menyuapi anak-anaknya yang masih bayi, dan saling berbagi cerita.”
Haaaa?
“Atau saya lebih baik seperti sekarang ini saja,” lanjut Mr President yang disambut tawa hadirin.
Bukan cuma tamu dan warga yang ikut tertawa. Para penjual makanan pun ikut tertawa. Mulai dari tu kang siomay, pempek segala rasa, bakso, hingga es cendol dan es krim yang mulai diserbu anak-anak dan remaja.
“Di rumah saya saja, Pak President,” sahut salah seorang remaja yang tengah asyik menikmati bakso daging bersama teman-temannya.
“Memangnya di rumah kamu muat ya Bro?” Tanya temannya yang lagi menunggu giliran dibagikan semangkuk es cendol.
“Muatlah. Kan cuma Pak President seorang.”
Ha ha ha ha …
“Kenapa tertawa Bro, lucu ya?”
“Teranglah lucu Bro. Itu pengawalnya mau dikemanakan. Suruh tidur di teras apa?”
“Ya disuruh baliklah ke rumah masing-masing. Gitu aja repot.”
Hua ha ha ha …
“Mr Jones.”
“Ya Let.”
“Gimana?”
“Lucu Let.”
“Lucu kenapa?”
“Semua orang di dekat saya ketawa semua Let,” kata Mr Jones seolah tak percaya. Lama ditahan, ikut ketawa juga dia akhirnya.
“Clean …”
“Ya Let.”
“Ketawakah?”
“Masih Letnan. Tapi saya dengan yang lain tetap siaga penuh Let. Beres …”
“Oke.”
“Let.”
“Ya Clean.”
“Non Eli ketawa jugakah?”
“Iya Clean. Nich, sampai terduduk dia.”
“Bisa begitu Let?”
“Mungkin karena lamanya dia ketawa Clean. Tak kuat lagi ketawa, ya duduk. Alhamdulillah, sekarang tidak ketawa lagi. Cuma …”
Letnan Salam mendekati Nona Elizabeth untuk memastikan apakah koleganya itu masih ketawa atau tidak lagi.
“Let.”
“Enggak lagi Clean.”
“Maksudnya Let?”
“Enggak lagi ketawa Non Elinya. Sekarang tinggal  senyum-senyum sendiri aja.”
“Wah gawat Let.”
“Maksud kamu Clean?”
“Kalau keterusan bisa-bisa …”
Ha ha ha ha …
Nona Elizabeth berdiri.
“Siapa Let?”
“Biasa …Clean.”
“Okk ooooo …”
Di podium Mr President masih bercerita tentang perjalanan hidupnya semasa kecil. Gaya bercerita yang santai membuat yang hadir tak beranjak sedikit pun dari tempat duduk mereka.   Mereka sangat senang karena perjalanan itu kurang lebih sama dengan yang dialami dan dilalui rakyat kebanyakan.
“Jadi bapak, ibu-ibu sekalian. Masa kecil itu indah. Menurut saya, jangan dilupakan. Ambil yang positif nya, tinggalkanlah yang negatifnya. Cuma jangan diingat terus. Kalau keterusan diingat kita bakalan mengecil lho. Jadi boncel. Mau?”
Ha ha ha ha …
“Ibu-ibu ini yang sering ingat masa kecil. Benar enggak Bu?”
Para ibu enggan dan malu-malu untuk menjawabnya. Sesama mereka saling pandang, berbisik dan setelah itu tersipu malu.
“Bagus itu ibu-ibu. Tapi ada juga yang enggak bagusnya dong Bu.”
Hadirin, terutama kaum ibu terdiam.
“Apa yang enggak bagusnya ibu-ibu? Ayo dong ngomonglah. Sama bapaknya mau, masa sama Pak President enggak mau.”
Ha ha ha ha …
“Selalu ingat terus Pak Presiden,” jawab seorang ibu yang sudah berusia lanjut dengan suara serak tapi lantang.
“Betul sekali jawaban ibu kita ini. Satu lagi, coba apa?”
Ditantang Mr President, para ibu tak ada yang berani angkat jari telunjuk.
“Selalu ingat kalau lagi susah. Betul kan?”
Para ibu masih diam.
“Lagi marah sama anak ingat masa kecil. Lagi berantem sama suami ingat masa kecil. Lagi bokek ingat masa kecil. Kalau ibu-ibu enggak percaya buktikan saja sendiri.”
Plak .. pak .. plak .. pak …

6
“SAYA ingin anda-anda yang hadir disini ikut senang dengan peresmian ini,” kata Mr President. Kembali tepuk tangan terdengar serempak. Cukup lama dan baru berhenti bertepuk tangan setelah Mr President mengatakan sudah cukup.
“Dengan diresmikannya pabrik ini kelak maka kalian dapat bekerja dengan syarat …”
Hadirin dibuat penasaran dengan ucapan Mr President barusan. Apalagi beliau diam sebentar, lalu ter senyum sambil menunggu reaksi semua yang hadir. Banyak di antara mereka yang ingin bertanya. Tapi diurungkan karena sesaat kemudian beliau berkata …
“Syaratnya apa? Ya kalian harus melamar. Harus mengikuti serangkaian tes dan kalau hasil tes kalian nilainya bagus, luluslah kalian dan bekerja …”
“Kalau tidak lulus bagaimana Pak Presiden?” Dua orang ibu saling berbisik. Keduanya amat berharap Mr President mau menjawab kegundahan hati mereka selama ini. Lantaran anak-anak mereka kelak juga akan bekerja setelah menamatkan sekolahnya dan membina rumah tangga.
Jika sampai tua tidak dan belum juga bekerja alias pengangguran seumur hidup, mau dikemanakan muka ini. Kedua wanita muda usia tadi tak ingin buah hati mereka kelak jadi luntang-lantung. Tidak bekerja dan mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
“Ibu-ibu. Ayo tunjuk tangan. Jangan bisik-bisiklah. Enggak kedengaran saya ini ibu-ibu. Telinga saya ini kecil. Jadi daya dengarnya terbatas. Tapi kalau ibu-ibu ngomong, baru bisa saya dengar.”
Salah seorang panitia memberikan mikropon agar kedua ibu yang berbisik-bisik itu mau bicara. Anehnya, setelah mikropon di tangan, keduanya justru saling tunjuk untuk bicara.   
“Silakan Bu, siapa saja,” kata wanita berparas ayu yang juga salah seorang panitia. Dia terus membujuk agar secepatnya bicara. Apa saja, silakan utarakan, tentu yang berguna dan bermanfaat juga bagi yang lainnya.
“Terima kasih Pak Presiden.”
“Nah begitu …” Jawaban Mr President ini membuat para undangan dan masyarakat yang antusias datang ke lokasi peresmian tertawa lega.
“Saya akan bertanya sedikit saja Pak Presiden,” ujar si ibu berkacamata minus dan hidung teramat mancung itu.
“Banyak juga boleh Bu.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Silakan Bu …”
“Terima kasih Pak Presiden,” kata si ibu rada gemetaran. “Sekiranya anak saya nich Pak Presiden, ikut tes, lalu tidak lulus, gimana Pak?”
Ha ha ha ha …
“Ikut tes lagi Bu …”
“Kalau tak lulus lagi Pak Presiden, gimana dong? Kasihan saya Pak.”
Ha ha ha ha …
Mr President mengusap keningnya sebentar dengan saputangan. Dia memandang satu persatu para menterinya. Setelah itu dia pegang mikropon.
“Ada yang bisa jawab enggak ya?” Tanya Mr President penuh harap. Ia berharap ada salah seorang dari sekian banyak tamu yang hadir mau angkat bicara, memberikan jalan keluarnya.
“Saya Pak,” ujar salah seorang bapak yang rambtnya penuh uban tapi masih terlihat muda dan segar bugar.
Hadirin pun bertepuk tangan.
“Siapa namanya Pak?”
“Soleh …”
“Berapa umurnya Pak?”
“Waduh. Lupa Pak Presiden.”
Ha ha ha ha …
“Bisa sampai lupa kenapa ya Pak?”
“Enggak sempat ngitungnya Pak. “
Ha ha ha ha …
“Bapak kita ini pandai melucu juga,” kata Mr President yang ikut tertawa bersama para menteri dan rombongan pengusaha serta pejabat terkait lainnya.
Si bapak sudah tak sabar mau bicara.
“Silakan Pak …”
“Begini Pak President. Saya sejak kecil sudah terbiasa kerja. Makanya saya jadi heran kenapa orang-orang sekarang ini justru rebutan untuk mencari kerja.”
Ha ha ha ha …
“Bagus juga penjelasan bapak kita ini. Lanjut Pak.”
“Saya sampai setua ini masih kerja Pak Presiden.”
Haaaa …?
Waaaah …
Ya cacam ..
Muantaaap …
Cek … cek … cek …
“Kerja apa Pak?”
“Ngelem kantong Pak Presiden.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ha ha ha ha …

(Tobe Continued)