Serial Detektif Cilik
KOING (9)
Balak di Tengah Jalan
…
Oleh Wak Amin
“ Kami siswa
sekolah dasar
Tak
boleh berkata kasar
Pantang marah pantang lapar
Siap sedia bela yang benar
Kami harus rajin sekolah
Biar hidup tidak susah
Banyak
ilmu harta berlimpah ….”
BEGITU bersemangatnya siswa kelas lima ketika melakukan
kunjungan wisata ke museum purbakala. Sejak berangkat dari sekolah pukul tujuh
pagi, tampil gagah berseragam putih merah. Di tengah jalan mereka bernyanyi,
bersorak sorai dan menari bersama.
Koing dan Brendo tampil beda. Keduanya membawa serta kaleng
bekas. Kaleng itu dipukul dengan kayu
menyerupai gendang. Tabuhannya mengiringi irama lagu gembira dan
bersemangat, sampai-sampai ada yang, saking bersemangatnya, nyanyi keluar iler
membuat basah pakaian seragam sekolah.
Dikomandoi Bu Guru Linda, wali kelas Koing dan Brendo, siswa
tampak senang dan gembira. Selain enak dalam mendidik dan mengajar, bu guru
yang masih lajang ini ramah dan tak pernah marah, sekalipun siswanya berbuat
salah.
Makanya, ketika Bu Guru Linda mau dipindahkan mengajar ke
kelas yang lain, Koing dan teman-teman protes. Mereka rame-rame menghadap
kepala sekolah dan meminta Bu Linda jangan dipindahkan. Syu kurlah, berkat kekompakan
siswa dan pantang menyerah, usaha mereka
akhirnya nmembuahkan hasil.
“Nah .. sudah sampai anak-anak. Ayo turun yang rapi. Jangan
keluar dan berpencar dari barisannya,” kata Bu Guru Linda mempersilakan satu
persatu siswa anak didiknya turun dari mobil bus khusus angkutan wisata.
Setelah semua siswa turun, Bu Guru Linda turun dari bus. Dia
meminta Koing dan Brendo memimpin ba risan ketika memasuki gedung museum
purbakala. Museum bersejarah yang sarat dengn peninggalan budaya bersejarah,
baik sebelum dan setelah Indonesia merdeka.
“Berhenti …!” Ucap Koing dengan suara lantang.
Bu Guru Linda masih berbicara empat mata dengan kepala
museum yang juga seorang wanita dengan usia lebih tua darinya. Tak lama, karena
setelah itu keduanya menghampiri para siswa, menanyakan kesehatan dan meminta
tenang, tidak berbuat onar dan tetap sopan saat berada dalam museum.
“Belok kanan … geraaak!”
“Istirahat di tempat, geraaak!”
Tanpa disuruh lagi, siswa mengeluarkan pulpen dan buku tulis
dari dalam tas. Dipandu dua karyawan museum, Koing dan teman-teman berbars rapi
memasuki ruang pameran. Di sana ada kapal layar, prasasti, keris pusaka dan
lokomotif.
Setengah jam mereka mencatat penjelasan yang disampaikan pemandu. Tak ada rasa lelah.
Tak lupa juga mencatat keterangan yang tersaji di etalase.
“Bagus sekali ya Bu, rumah itu,” puji Koing, mengingatkan
Brendo, di belakangnya berdiri Bu Guru Linda.
“Itu namanya rumah limas, Ing,” jelas Bu Linda.
“Kalau yang itu, Bu, Di sebelah kanannya?” Tanya Brendo.
“Itu rumah OKU. Rumah jolma kumoring,” jawab Bu Linda.
“Sebelah kanannya lagi, Bu?” Gantian Koing yang bertanya.
“Kalau itu, Ing. Rumah Gadang namanya. Bagus kan bentuknya?”
“Iya Bu. Bagus …”
Puas melihat-lihat etalase peninggalan bersejarah, para
siswa diajak ke taman tempat bermain. Rupanya di muse mini ada juga temat
bermain. Disediakan khusus buat anak-anak.
Tentu saja Koing dan kawan-kawan senang bukan kepalang. Mereka bersorak sorai dan berlari riang
kesana kemari. Ada main ayunan, menaiki patung gajah, foto-foto dekat kembang
setaman, bahkan juga ada komedi putar tempo dulu. Lucu dan bentuknya sangat
berbeda dengan komedi putar zaman sekarang.
Lepas itu, para siswa makan siang bersama di tanah lapang.
Sebelum pulang, mereka berbaris lagi dan mendengarkan nasihat serta weyangan
dari kepala museum. Tentu saja harus dicatat, karena sepulangnya mereka dari
museum, diwajibkan bikin tulisan.
Siswa pun bersiap menuju mobil. Tapi alangkah terkejutnya mereka
setelah mlihat Pak Sopir dan kon dek tur dalam posisi duduk terikat di kursi
dengan mulut disempal kain pembersih kaca. Keduanya nyaris kehabisan nafas.
“Mereka belum jauh dari sini. Ayo, Jon kita kejar mereka,”
kata si sopir tak terima dengan perlakuan penjahat barusan.
“Aku ikut … aku ikut,” teriak Koing.
“Aku juga ikut …” Timpal Brendo tak mau kalah.
Dengan berat hati Bu Buru Linda melepas dua anak didiknya
itu. Lantas, kemana mereka mencari penja hat barusan. Sedangkan areal di sekitar
musem amat luas. Padat penduduk, dipenuhi rumah bertingkat dan ruko berbagai
bentuk dan gaya. Belum lagi jalannya tak terlalu lebar. Jarang opelet keluar
masuk.
Mau jalan kaki?
Alamaak. Capek deh. Itu kata siswa yang gampang capek. Tapi
bagi Koing dan Brendo tak ada kamusnya gampang capek. Apalagi ini menyangkut
rasa aman dan keselamatan banyak orang.
Masalahnya, hampir setengah jam belum ada titik terang.
Sementara Bu Guru Linda dan siswa yang lain menunggu harap-harap cemas. Iya
kalau penjahatnya tertangkap. Kalau tidak, pada menggerutu semuanya.
“Kita pulang sajalah. Kasihan anak-anak. Lagi pula yang
diambil cuma jam soderan,” ucap Pak Sopir.
Sepertinya Bang Sopir sudah bisa melupakan peristiwa barusan.
Sedangkan kondekturnya belum sama sekali. Untuk itulah Koing dan teman satu
kelasnya datang menghibur, memberi semangat. Ada yang ngasih permen karet, duit
seribuan dan kue bekal yang tersisa dari museum.
Di tengah perjalanan pulang, ban bus pecah kena puluhan paku
di jalan. Mobil terpaksa berhenti dekat sebuah warung makan. Sepi memang. Hanya
satu dua orang yang lalu lalang. Selebihnya sepeda motor berbagai merek dan sedikit
kendaraan pribadi.
Kondisi seperti ini dimanfaatkan kawanan penjahat untuk
beraksi. Mereka mendatangi Pak Sopir dan kondekturnya yang lagi asyik memasang
ban baru. Menodongkan senjata tajam.
“Dompetnya, Bung! Sergah si potong poni pada Pak Sopir.
“Enggak ada Bang. Bokek nih,” jawab Pak Sopir sekenanya.
“Bosan hidup ya, Bung?” Tanya si gondrong.
“Tidaklah Bang. Anak istri saya gimana?”
Tak perlu berlama-lama, kawanan penjahat menarik paksa tangan
Pak Sopir dan kondektur dari bawah mobil. Dipaksanya berdiri, lalu dihujani
pukulan bertubi-tubi. Mulanya sempat melakukan perlawanan. Tapi karena penjahat
jumlahnya lebih dari lima dengan perawakan tubuh lumayan besar, hanya jadi
bulan-bulanan, benjol sana sini.
Koing dan Brendo tak tinggal diam. Keduanya mengarahkan
betetan ke kawanan penjahat yang membabi buta memukuli Pak Spir dan kondekturnya.
Huuuup …
Satu dua .. tiga … empat … Peluru kerikil mengenai kepala
penjahat. Jatuh terkapar, bahkan ada yang mengeluarkan darah, meraung
kesakitan.
“Sikat saja, Ing!” Teriak teman-teman sekelas Koing dan
Brendo. Keduanya secara bergantian melepas kan anak betetan, tepat mengenai
badan dan bodi motor kawanan penjahat yang terparkir di pinggir jalan raya.
Tak tahan dan takut
ketahuan, kawanan penjahat melarikan diri ke tengah hutan. Sedangkan Koing, Brendo beserta temannya yang lain membawa Pak
Sopir dan kondektur yang banyak mengeluarkan darah segar itu ke tempat yang
aman. Sebelum akhirnya dilarikan warga ke rumah sakit cabang ter dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar