Novel Serial BiJe
Duri dalam
Daging …
Oleh Pak Amin
I
“DAAAAGH papa …!”
Kata Nile seraya melambaikan tangan kananya pada papanya
yang mengantar dia sekolah pagi ini. Sang papa tercinta, Pak Rustam namanya,
tersenyum . Setelah membalas lambaian sang buah hati dengan ciuman hangat jarak
jauh, mobil sedan keluaran terbaru yang dia kemudikan itu meluncur lambat ke
jalan besar.
“Lim. Coba tengok tuh …! Bisik Iqbal pada Salim yang sejak
tadi plangak-plongok persis orang yang baru kehilangan dompet.
Nile berjalan gagah menuju ruangan kelas. Kemeja putih yang
dia kenakan sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang putih bersih lagi mulus.
Tinggi semampai, berhidung mancung, bikin siswa yang melihatnya bakal
kesengsem.
“Nileee …!” Teriak Salim.
Mereka setengah berlari mendekati Nile. Sementara Nile
menghentikan langkahnya persis di depan pintu masuk kelas 11. Dia menoleh
sejenak. Begitu tahu yang memanggilnya teman sekelas, dia pun melepaskan senyum
sumringah.
“Baru datang ya?” Tanyanya dengan suara, alamaaak , halus
mendesah.
“Enggak Nil. Udah lama,” jawab Salim. Menoleh ke
teman-temannya yang lain seperti Puspa,
Iqbal, Petruk dan Semar.
“Masuk aja yuk. ‘Ntar digigit nyamuk kalau berdiri terus di
sini,” ajak Puspa seraya menoleh kea rah Bu Guru Siska, baru saja tiba, tak
jauh dari mereka berdiri.
Teng … Teng … Teng …
Lonceng tanda masuk dan memulai pelajaran pertama terdengar.
Satu-satu siswa masuk dengan rapi ke kelas dan menempati tempat duduknya
masing-masing, menghadap ke depan ada papan tulis besar putih lengkap dengan
spidol besar beserta penghapusnya.
Bu Guru Siska tengah membuka buku pelajaran Bahasa
Indonesia. Sebelum memulai pelajaran, wanita belia nan anggun ini biasa
mengabsen terlebih dahulu siswa-siswanya.
“ Kuyung …”
“Ada …”
“Adam …”
“Ada ..”
“Emi …”
“Sakit Bu Guru,” ucap Petruk.
“Tahu enggak, sakitnya apa?”
“Sakit hati, Bu Guru …” kata Semar tertawa dalam hati.
“Sakit hati kenapa?”
“Ditinggal pergi Semar, Bu Guru.” Sahut Iqbal ketawa
ditahan.
Tok … Tok … Tok …
“Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalaaam.” Jawab siswa serempak.
BiJe rupanya. Dia terlambat datang. Makanya, sebelum duduk
ia meminta maaf terlebih dulu kepada Bu Guru Siska. Bahwa keterlambatannya
datang ke sekolah bukan disengaja, tapi karena harus mengantar ibunda tersayang
ke rumah sakit untuk berobat.
“Diam-diam, meski baru seminggu berstatus siswa baru,
pindahan dari sekolah lain, Nile merasa pena saran dengan BiJe. Bukan soal
jatuh cinta atau apa-apa gitu, tapi sikap dan perilakunya yang lebih dewasa
dari orang sebayanya.
“Nileee ..!”
Nile masih melamun sendirian.
“Nileee …!”
“Saya Bu,” ujar Siska buru-buru meraikan cara duduknya yang
agak ke kanan tadinya.
“Kamu kenapa Nil, sakit ya?” Tanya Bu Guru Siska setengah
heran.
“Jatuh cinta Bu,” teriak siswa berkacamata plus.
“Dengan siapa?”
“Ada deh Bu Guru …” Sahut Iwan sambil melirik BiJe yang
tengah mengeluarkan buku pelajaran Bahasa Indonesia dari dalam tasnya.
“BiJe …!”
“Saya Bu Guru Siska …”
BiJe menoleh kea rah Nile. Yang ditoleh pura-pura baca buku
pelajaran.
“Nileee …!” Sapa Bu Siska.
“Saya Bu Siska,” jawab Nile. Dia sempat mencuri pandang BiJe.
Sayang sudah keburu baca buku sambil corat-coret menggunakan stabilo.
Salim yang mulai menaruh hati pada Nile, pas jam istirahat
pertama, dia dekati BiJe yang lagi asyik membaca buku di perpustakaan sekolah.
Karena terlalu asyik, dia tak sadar kalau di dekatnya sudah ada Salim dengan
dua teman satun kelasnya, Petruk dan Semar.
Terus terang, ketika Salim menyebut nama Nile, roman muka
BiJe tak ada yang berubah. Biasa-biasa saja. Berbeda dengan Salim. Agak gugup
dan sepertinya ada kesan mulai jatuh hati pada pandangan pertama.
“Kenal saja aku belum, Lim. Boro-boro pacaran segala.
Enggakah Lim. Aku tahu diri kok,” kata BiJe setela didesak Salim untuk tidak
terlalu dekat dengan Nile.
“Bantulah aku, Je …” Pinta Salim. Dia berharap BiJe bukan
saja tidak menjadi bukan teman biasa, tapi ikut membantunya bagaimana cara
mendekati dan mendapatkan hati Nile.
“Kalau itu, maafkan aku Lim. Aku tak bisa …”
“Lho, kenapa emangnya?”
“Karena aku tak paham soal itu.”
Jawaban terakhir ini belum sempat ditanya ulang Salim,
keburu berpapasan dengan Nile dan dua siswi lain satu kelas. Semula ingin lewat saja, melihat ada BiJe,
sekalian mampirlah. Akibatnya, Salim jadi salah tingkah. Dia pun bersegera
pamitan menuju kantin sekolah bersama Petruk dan Semar.
“Buku apa, Je?” Sapa Maisaroh dengan nada Tanya, temannya
Nile. Sedangkan Nile bersama Zubaidah melihat-lihat buku di lemari buku besar
dekat pintu masuk perpustakaan.
“Buku novel kayaknya, Mai.”
“Kok kayaknya?”
Biji tengok sebentar kulit depan buku. Baca judulnya
…”Laskar Pelangi, Mai.” Kata BiJe tertawa setengah tak percaya kalau buku yang
dia baca ini adalah buku sastra novel.
Sungguh Mai, kata BiJe, aku tak tahu kalau buku yang kubaca
ini adalah buku fiksi. “Soalnya, aku tak sempat lihat judulnya. Begitu dapat
langsung baca. Waktu dibaca, eeeeh … enggak mau berhenti membacanya. Asyik
sendiri jadinya …”
“Gue juga suka novel, Je.” Ucap Maisaroh, mengambil tempat
duduk berhadapan dengan Bije.
“Kudengar ibumu sakit ya, Je?”
“Iya, Mai …”
“Berat apa ya …?”
“Enggaklah Mai. Biasa saja penyakitnya. Namanya saja
orangtua. Sudah tua. Yang muda kayak kita saja sering sakit. Apalagi yang tua
kayak ibu saya …”
“Tul juga katamu, Je.”
Kata Maisaroh membolak-balik srat kabar terbitan hari ini.
“Ada berita apa, Mai?”
“Eeem … banyak Je. Mai sebutkan ya …”
“Please-lah …”
“ Kakek-kakek perkosa cucu … Tas Supriati disambar jambret …
Kaca rumah dipecahkan tetangga … Pembegal wartawan dibekuk … Jainudin nekat
jadi kurir sabu … Isap sabu sambil main kartu … Buruh jualan senjata api … Dua
pemuda kepergok bawa sajam … Tertangkap mencuri Hamzah pura-pura gila … Dua
remaja buronan polisi dibekuk … “
“Maaaai … kemarilah kau sebentar!” Panggil Nile yangminta
ditemani pinjam beberapa buku untuk dibaca di rumah.
“Je … ‘bentar ya.”
“Lama juga enggak apa-apa, Mai.”
Nile bilang, setelah meminjam buku dan bermaksud kembali ke
kelas, mengundang BiJe ke rumahnya sekadar kumpul-kumpul bareng saja siswa
kelas 11 sekaligus perkenalan dengan Pak Rustam, ayahnya Nile yang belum lama
pindah kerja ke kota ini.
***********
II
“JALAN-jalan ke tanah
Deli
sungguh indah tempat
tamasya
kawan jangan bersedih
mari nyanyi
bersama-sama
Kalau pergi ke
Surabaya
naik p‘rahu dayung sendiri
kalau hatimu sedih
yang rugi diri sendiri
Injit-injit semut
siapa sakit naik ke
atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan
dilepas
Naik p’rahu ke Pulau
Seribu
sungguh indah si pulau
karang
sungguh malang nasibku
punya pacar diambil
orang
Ramai sungguh Bandar
Jakarta
tempat orang mengikat
janji
walau pacar tak punya
hati senang dapat
bernyanyi
Injit-injit semut
siapa sakit naik ke
atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan
dilepas
Injit-injit semut
siapa sakit naik ke
atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan
dilepas ….”
“Kampung nan jauh di mato
gunung sansei bakuliliang
takana jo kawan
kawan nan lamo
sangkek basu liang suliang
Panduduknyo nan elok
nan suko bagotong royong
kok
susah sao-samo diraso
den takana jo kampuang
Takana jo kampuang
induk ayah adiak sadonyo
raso mangimbau-ngimbau
den pulang den takana
jo kampuang …
“Ampar-ampar pisang
pisangku balum masak
masak bigi dihurung
bari-bari
masak bigi dihurung
bari-bari
Mangga lepok mangga lepok
patah kayu bengkok
bengkok dimakan api
apinya clang curupan
bengkok dimakan api
apinya clang curupan
Nangmana batis kutung
dikitipi dawang
nangmana batis kutung
dikitipi dawang … “
“Mana
dimana anak kambing saya
anak kambing
tuan ada di pohon waru
mana di mana
jantung hati saya
jantung
hati tuan ada di kampung baru
Caca marica hei hei
caca marica hei
hei
caca marica ada
di kampung baru
Caca
marica hei hei
caca marica hei hei
caca marica ada
di kampung baru …”
Plak … plak … plak …
“Terima kasih … terima kasih. Om sudah lama enggak denger
medley. Om ucapkan selamat datang di rumah kami yang sederhana ini,” kata Pak
Rustam sumringah.
Mengenakan stelan baju kaos putih bergaris-garis lurus dan
melengkung serta celana panjang levis biru, Pak Rustam memperkenalkan dirinya,
isteri dan anak semata wayangnya bernama Nile.
“Om dulu sama seperti kalian sekarang ini. Kumpul bareng,
belajar bersama dan jalan-jalan tentunya,” kata Pak Rustam tersenyum ceria.
“Om senang kalian mau datang kemari. Terus terang, di rumah
ini tak ada siapa-siapa selain isteri dan anak om tercinta dan cantik ini,
Nile.” Merasa dipuji, Nile tersipu malu.
Salim tekun menyimak ‘curhatan’ Pak Rustam dengan sesekali
mencuri pandang Nile. Sedangkan BiJe, setelah menaruh gitar di tempatnya, kursi
panjang dekat pintu ruang tamu dan keluarga, mengambil tempat duduk di sebelah
kanan Maisaroh.
“Jadi,” kata Pak Rustam, “Janganlah kalian segan untuk
datang ke rumah om ini. Pintu rumah ini selalu terbuka. Kepada siapa saja,
tanpa pandang bulu. Om juga meminta kepada kalian untuk tak segan-segan menegur
anakku Nile bila dia ada yang keliru dari perbuatan dan ucapannya …”
“Dan tante juga mengharapkan kepada kalian agar bisa menjadi
teman yang baik buat Nile,” timpal Bu Rustam seaya mencium kedua belah pipi
Nile dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
“Om dan tante titip Nile,” pinta Pak Rustam yang diamini Bu
Guru Siska, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas 11.
Kepada Pak Rustam beserta isteri, Bu Guru Siska
memperkenalkan satu persatu siswa didiknya. Perkena lan berlangsung akrab dan
hangat penuh canda serta guyonan sehingga
membuat suasana sore hari ini lebih ceria dan terasa penuh kekeluargaan.
Iwan, misalnya, dia terus terang sayang pada Nile. Rasa
sayangnya tentu sebatas teman satu kelas dan teman belajar.
“Sekaligus teman curhat-curhatan …” Sindir Adam.
“Teman selain belajar,” sahut Emi.
Ha ha ha ha ….
“Saya juga sekalian meminta maaf sama bapak dan ibu Rustam.”
Bu Siska menoleh ke beberapa siswanya yang rada nakal dan suka menjahili siswa
perempuan.
“Kenapa Bu Sis?” Tanya Pak Rustam.
“Siswa saya ini, terutama yang laki, suka jahil, Pak, Bu …”
“Oooo begitu.” Pak Rustam mengira Bu Guru Siska mau pamit
pulang duluan.
“ Taka apa-apalah Bu. Biasalah anak muda. Ibarat sambal, tak
enaklah kalau tak pakai garam sama caluk,” seloroh Bu Rustam.
“Cuma, sebagai orangtuanya, kami berharap di balik itu
semua, tetap menjaga pertemanan dan rasa kekeluargaan. Kita satu keluarga, yang
beda cuma orangtua dan tempat berteduh saja. Iya kan Bu Sis dan anak-anakku
sekalian, ” sela Pak Rustam, ketawa lepas.
“Yaaaaaa Ooooom ….”
Sebelum diakhiri dengan pembacaan doa dan santap sore
bersama, Pak Rustam dan isteri didaulat siswa untuk bernyanyi berdua, tentu
diiringi petikan gitar dari BiJe.
Tak keberatan, kalau boleh dikatakan dengan senang hati,
sepasang suami isteri ini bernyanyi bersama. Apa lagu keduanya? Inilah dia …
“Are you lone some
tonight
do you miss me tonight
Are you sorry we
drifted apart
does your memory stray
to a bright summer day
When I kissed you and
called
you sweet heart
do the chairs in your
parlour
seem empty and bare
Do you gaze at your
doorstep
and picture me there …
is your heart filled
with pain
shall I come back
again
tell me dear
are you lone some
tonight
(spoken) …
I wonder if you’re
lonesome tonight
you know some one said
“the worlds a stage
and each must play a part”
fate had me playing in
love
with you as my sweet
heart
act one’s when we met
and love you a first
glance
Your read your lines
so clevery
and never missd a cue
the come act two
you seemed to change
you acted strange
why I’ll never know
honey, you lied when
you
said you loved me
and I had no cause to
doubt you
but I’d rather go on
hearing youe lies …
then to go on living
without you
Now the stage is bare
and I’m standing there
with emptiness all
around
me and if you don’t
come back to me
then they can bring
the curtain down …”
***************
III
ZULEHA ketawa riang saat pulang sekolah. Dia sengaja belum
mau pulang ke rumah karena ingin berte mu rekan-rekan satu kelasnya yang lain.
Di ruang tunggu wali siswa, ternyata Zuleha tak bertepuk sebe lah tangan. Kenapa? Karena ada Zubaidah
dan Puspa di sana, keduanya lagi asyik ngobrol berdua.
Pak .. pak .. pak …
Zuleha mengagetkan keduanya dengan menepuk pundak mereka
dengan tas sekolah.
“Apaan sih …” Celetuk Puspa meringis kesakitan.
“Ada dech … “Kata Zuleha sambil mengambil sesuatu dari dalam
tas sekolahnya.
“Segitu aja repot amat lu …” Ledek Zubaidah yang merasa
terganggu dengan ulah Zuleha barusan.
“Lihat ini dan baca …!”
Zuleha memperlihatkan tulisan di secarik kertas pada
Zubaidah dan Puspa. Setelah baca, keduanya terperanjat karena tulisan yang
tertera memang benar-benar menggoda …
“Hai …! Kutunggu kamu ‘ntar sore di simpang
tugu .”
Dari Salim
”Ah yang bener, Ha?”
Puspa masih tak percaya dengan isi tulisan itu. Apa matanya yang kabur atau
justru tulisan itu yang mulai mengabur.
“Mungkin orang iseng aja. Tapi siapa ya?” Tanya Zubaidah
menggaruk-garuk kepala yang tak gatal karena ketombe.
“Lho … Masak gue bohong. Buat apa gue bohong. Tak ada
gunanya,” jelas Zuleha.
“Oke-oke. Udah gini aja. Kamu temukan ini kertas di mana?”
“Di bangku gue lah, Pus.”
“Kapan?”
“Barusan …”
“Maksudnya bentar ini tadilah gitu?”
“Iyalah … Jadi waktu gue beres-beres ini buku pelajaran dan
bermaksud memasukkannya ke dalam tas gue, tiba-tiba ada kertas jatuh. Saya
sempet kagetlah dikit. Apaan tuh. Ah, ambil sajalah. Duit juga bukan.
Kuambillah kertas itu … gitu …”
“Sempat kamu baca kagak tulisan yang ada di kertas itu?”
Gantian Zubaidah yang tanya.
“”Belumlah … Cuma kertas ini gue enggak masukin ke dalam
tas. Gue simpan aja di saku kemeja gue. Tapi …”
“Tapi kenapa Ha?” Puspa mendelikkan matanya karena penasaran duduk perkaranya.
“Gue penasaran … lalu, ya itu …Gue bacalah … emang salah
apa?”
Zuleha, bosan berdiri, memilih duduk. Karena sempat
kesenggol pahanya Puspa saat mau duduk, menjeritlah ia.
“Tengok-tengoklah …”
“Udah kutengok. Gue pikir bukan paha lu, tapi papan tempat
duduk ini … maaf ya …”
“Ah dasar lu …”
“Marah ya Puspa?”
“Enggaklah. Sudah ah,” ujar Zubaidah. “Sekecil gitu aja
diributin.”
“Dilanjutin kagak ceritanya?”
“Iya dong. Masak kita diem aja. Apa kata Camer. Ni orang
atau mayat …” Sahut Puspa dan Zubaidah.
“Nah, gue bukalah kertas ini. Lalu gue baca dan …”
Zuleha geleng-geleng kepala.
“Kenapa Ha, kenapa?”
“Aku terharu,” kata Zuleha terus terang. “Ternyata ada orang
yang suka sama aku. Walaupun badanku gemuk, walaupun mukaku tak secantik dan
seanggun Tante Widyawati, aku bersyukur. Ternyata Salim suka kepadaku dan
sebentar lagi pasti mengutarakan cintanya kepadaku …”
“Ah belagu lu. Ketemu aja belum, udah bilang cinta segala,”
seloroh Puspa.
“Yang lain sudah pada tahu enggak? Zubaidah berharap mereka
bertiga saja yang tahu. Lain tidak.
“Belon …”
“Alhamdulillah.” Zubaidah menarik nafas lega.
“Kok serius banget lu, Dah. Kenapa sih nyebut-nyebut alhamdulillah
segala?” Puspa penasaran jadinya. Jangan-jangan …
“Gue naksir Salim gitu kan?”
Puspa enggak jawab, cuma mengangkat genit bahunya saja.
“Sorry ya …” Kata Zuleha.
Zuleha berharap,
sebelum pulang ke rumah, sudah ada keputusan penting atas undangan Salim
barusan.
“Lu tenang aja, Ha … ‘Ntar kami berdua temenin. Mau kan?”
Puspa meyakinkan teman sekelasnya itu dengan memberinya permen karet.
“’Ntar gue jemput lu di rumah, gimana?”
“Dengan senang hati.”
Zuleha menerima tawaran Zubaidah dan Puspa, selain karena
merasa lebih aman kelak bersua Salim, ju ga tak bakalan kena damprat orangtua,
yang justru membiarkan anak gadisnya ngeloyor sendirian menemui lelaki,
walaupun itu teman satu kelasnya.
Bagaimana dengan Salim?
Ternyata Salim
sudah lebih dulu datang. Sambil main gadget, dia hilir mudik di sekitar tugu
dengan se sekali menelepon, entah siapa yang dia telepon. Yang pasti, kita cuma tahu kalau dia terlihat
senang dan bahagia hari ini.
Tak berapa lama
datanglah Zuleha. Bersama Zubaidah dan Puspa, mereka bertiga turun dari mobil
tanpa sepengetahuan Salim yang kini asyik es em esan dengan Iqbal, Petruk dan
Semar. Sebentar-sebentar tertawa, lalu serius berdiri, senyum sebelum akhirnya
duduk lagi.
“Salim …!”
Hafal betul Salim
dengan suara itu. Makanya, saat membalikkan badan, dia tak pula kaget kalau di
de pannya saat ini berdisi rekan sekelasnya, Puspa. Yang bikin dia kaget justru
bunganya itu. Masih segar, harum mewangi baunya.
“Bunga cinta namanya, Lim. Flower Love, kata orang sono.”
Kata Puspa, memberikan itu bunga kepada Salim.
“Dari si Dia ya?” Salim sumringah. Seakan mau melompat dan
mengangkat tinggi-tinggi Puspa yang telah berbaik hati padanya dengan
memberinya setangkai bunga mawar.
Puspa mengangguk tersenyum.
“Di bawahnya ada pesan buatmu, Lim …”
“Oh ya? Pesan apa itu. Ngerepotin aja …” Salim buru-buru
membuka lipatan kertas itu dan membacanya sampai tiga kali.
“Setelah kau terima bunga
ini …Jangan lupa contenglah jawaban
Ya atau Tidak atas pertanyaan ini say
… “Kamu suka dengan
pemberianku ini ………….?”
“Ini penanya, Lim …”
Setelah menconteng jawaban ‘Ya’, kertas itu dia lipat lagi
dan …
“Saya ambil kembali ini kertas dan akan kuberikan kepada si
Dia. Tunggu ya Lim.” Kata Puspa pamitan.
Oleh Puspa, balasan surat itu dia berikan pada Zuleha.
Senang bukan main dia membacanya .. Diciumnya berulangkali.
“Udah, udah … surat
berikutnya … cepat. Pesawat udah mau berangkat nich …”
Surat kedua ini Puspa serahkan lagi pada Salim. Apa isinya?
“Lingkarilah jawaban
Ya atau Tidak atas pertanyaan berikut ini:
“Kamu
suka berduaan denganku say ….?”
Salim kembali menulis ‘Ya’. Bedanya, kalau tadi dia
menconteng Ya, sekarang melingkari jawaban Ya. Tak mengapa, sebab yang
terpenting Salim harus konsisten dengan jawabannya.
Kali ketiga, Salim harus menjawab pertanyaan lagi yang
diajukan ‘Si Dia’. Pertanyaannya begini …
“I love you … you love me?
Jawab
: Yes or No”
Tentu jawaban Salim bisa ditebak: Yes.
Terakhir, Salim kembali harus menjawab pertanyaan yang di
tulis di secarik kertas. Pertanyaannya mu dah, jawabannya juga gampang. Kenapa?
Karena Salim hanya perlu menjawab “Bersedia atau tidak” atas pertanyaan … “Bersediakah
kamu menerima kedatangan saya hari ini …?”
“Mudah kan, Lim?”
“Iya juga …”
Sebelum menemui kembali Zuleha dan Zubaidah, Puspa menjelaskan kepada Salim bahwa dia
harus bersedia menutup kedua matanya dengan
saputangan pemberian dari Si Dia. Saputangan itu baru dilepaskan kembali se telah Zuleha ada dan berhadapan dengannya.
Begitu juga dengan Zuleha. Kedua matanya ditutup rapat
menggunakan saputangan. Dia berjalan menu ju tempatnya Salim duduk dengan di dampingi
Puspa. Sedangkan yang menemani Zuleha adalah Zubaidah.
Pertemuan keduanya baru terlaksana sepuluh menit kemudian.
Pasalnya, Salim tak tahan kedua mata nya ditutup kayak orang tak punya mata.
Juga Zubaidah, dia tak kuasa menahan lajunya jalan Zuleha.
Buktinya, ketika kaki Zuleha kesenggol batu, Zubaidah juga
harus ikut jatuh karena terdorong tubuh Zuleha yang besar tambun dan sulit
ditahan dengan tangan.
Begitu juga ketika Zuleha hendak memutar badannya. Bukannya
tangan Zubaidah yang menarik dan menuntun Zuleha berbelok. Tapi justru tangannya
Zuleha yang menarik kuat untuk berbelok.
Praktis, Zubaidah seperti anak kecil yang berjalan sambil
memegang tangan ibunya. Ke mana ibunya bergerak, terpaksa ikut. Paling kalau
ingin ke kanan misalnya, barulah si ibu berjalan ke kanan. Selebihnya sang
ibulah yang lebih banyak menuntun si anak.
Tentu, agar tidak sampai berlarut-larut, Puspa terpaksa ikut
membantu Zubaidah menuntun ZuLeha ke tempatnya Salim. Walau tak mudah,
kehadiran Puspa turut meringankan dan mempercepat langkah Zuleha tiba dengan selamat
di tujuan …
“Lambat –lambat say …”
Puspa membelokkan badan Zuleha ke kanan. Setelah itu dua
duduk berhadapan dengan Salim.
“Bagus sekali. Siiiplah.” Kata Puspa.
“Sekarang, tunggu ya. Tarik nafas dulu …” Puspa meminta
Zuleha menarik nafas perlahan hingga beberapa kali agar bisa santai dan tidak
terasa kaku …
Begitu juga dengan Salim. Dipandu Zubaidah, cowok yang suka
godain cewek ini beberapa kali mengatur nafasnya, yang entah kenapa, semenjak
kedatangan Zuleha, makin kencang turun dan naiknya …
“Rileks … rileks aja Lim," kata Zubaidah.
Setelah mendapat aba-aba dari Puspa untuk tidak membuka dulu
saputangan yang menutup kedua mata Salim dan Zuleha, Zubaidah membisikkan
sesuatu di telinga teman dekat Iqbal ini.
“Senang enggak kamu, Lim?”
“Senanglah …”
“Gimana perasaanmu sekarang. Gimana …?”
“Berbunga-bunga. Kayak enggak tahu aja kamu, Dah … Hi hi.”
“Kamu cinta enggak sih sama si Dia?”
“Ya, ialah. Masak gue bohong, Dah …”
“Sayang?”
“Itu apalagi …”
“Bener ya?”
“Bener kok …”
Sementara itu ….
“Kamu senang kagak jadi pacarnya Salim, Ha?”
“Senenglah …”
“Gimana perasaanmu sekarang?”
“Gimana ya. Susah buat diomongin, Pus.”
“Seneng kali?”
“Ya ya … seneng so pastilah.”
“Kamu sayang Salim kan?”
“Sayanglah. Masak benci …”
“Kamu cinta dia?”
“Setengah mati, Pus.”
“Bersedia pacaran?”
“Kawin aja gue mau …”
“Sekarang?”
“Kenapa tidak …?”
“Bener?”
“Benerlah, Pus …”
Puspa mengisyaratkan pada Zubaidah untuk membuka perlahan ikatan
saputangan. Sambil membu kanya, baik Puspa maupun Zubaidah, ikut menyemangati keduanya agar tidak terlalu
kaget saat bertatapan mata nanti. Santai saja. Anggaplah seperti angin senja
menerpa pohon papaya.
“Buka matanya sekarang …”
“Huuup ban jamma …”
Salim dan Zuleha saling berpandangan. Sayang hanya sesaat, cuma
sepersekian detik. Sebab, tak lama kemudian Salim lari terbirit-birit karena
takut ‘dijebili’ Zuleha barusan. Tak sempat
melihat ada kolam di samping tugu,
nyemplunglah Salim masuk kolam. Basah kayup seluruh badan dan pakaian yang dia
ke nakan.
**********************
IV
HABIS mandi sore hari dan berpakaian rapi, Nile merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dari pada berpikiran yang enggak-enggak, dia pun tak sungkan mengambil sebuah buku novel di meja belajarnya, kemudian membacanya sambil tengkurep.
HABIS mandi sore hari dan berpakaian rapi, Nile merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dari pada berpikiran yang enggak-enggak, dia pun tak sungkan mengambil sebuah buku novel di meja belajarnya, kemudian membacanya sambil tengkurep.
Novel yang dia baca berjudul ‘Mimpi-mimpi Lintang Maryamah
Karpov’. Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata.
Lumayan tebal bukunya, sekitar 504 halaman.
Andrea Hirata adalah lulusan program studi master of science
di Prancis, dan Inggris. Maryamah Karpov adalah karya pamungkas beliau setelah
Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor.
Melalui tetralogi Laskar Pelangi kita akan merasakan betapa
setiap kalimat yang diciptakan memiliki kekuatannya sendiri. Oleh karena itu,
tetralogi Laskar Pelangi merupakan koleksi yang amat berharga untuk dimiliki.
“Eheeem … Kayaknya boleh juga nich novel,” bisik Nile dalam
hati.
Lembar demi lembar ia buku lembaran novel itu. Matanya lalu
tertuju di lembar ke 319. Di halaman pertama tertera judul menggelitik: ‘Budaya
Warung Kopi’.
“Baca dulu ah.” Nile berbisik lagi. Di baca alinea pertama yang bertuliskan begini …
“Perasaanku
sudah tak enak waktu melihat pengunjung warung kopi ‘Usah Kau Kenang Lagi’
lebih banyak
daripada biasanya. Empat puluh tiga cecunguk anggota sindikat eksyen hadir
lengkap. Eksyen sendiri mengambil posisi yang aduhai dan
angle simpang jalan, seandainya – menurut kepala sintingnya – kamera sudah berada di situ.
Seorang perempuan bermaskara tebal membuatku gugup. Ia berbicara dengan seorang lelaki
asing berpakaian seperti baru menjual
enam ekor sapi. Mulut perempuan itu
secepat gerak-gerik bola matanya. Waktu aku tiba, mereka lekat menatapku. Dan
mata perempuan itu, ampun, seperti tak
pernah berkedip. Nanar memancar-mancar, belum pernah aku lihat orang
seperti itu, kedua mata itu seperti menyalak-nyalak.”
Ngeooooong …
Nile menghentikan bacaannya. Dia bangun dari tengkurepannya.
Mencari di mana suara kucing menge ong itu. Dicari ke sana kemari, dari balik
lemari pakaian, kalau saja ada, hingga ke meja belajar, tak juga ketemu. Suara khas itu seperti lenyap begitu saja
tanpa menghilangkan jejak.
“Ke mana ya. Apa gue salah denger kali …”
Nile kembali ke tempatnya tadi, melanjutkan bacaan di alinea
kedua dari novel karya lelaki kelahiran Pulau
Belitung itu …
“Sebelumnya Mahar memang telah
mengingatkanku agar berhati-hati menjaga rahasia
soal perahu lanun di bawah jembatan Linggang.
Sebab, mafia pemburu harta karun mulai
berada di pulau-pulau kecil perairan
Sumatera Selatan sejak di lepas pantai Tanjong Tinggi di
temukan bangkai-bangkai perahu
bermuatan porselen mahal Tiongkok. Perahu-perahu itu
dicurigai bagian dari armada
Laksamana Cheng Ho yang berlayar menuju selat Malaka dan ka
ram di perairan Belitong Barat.”
Ngaiiiing … ngaiiiing …
Suara kucing itu terdengar lagi. Tapi bukan lagi bernada
panggilan Ngeooong … ngeooong … Sudah
berubah menjadi Ngaiiing … ngaiiing
…Seperti tadi, Nile bangun dari tempat tidurnya. Dia cari asal suara itu.
“Coba deh dari jendela itu. Kalau-kalau saja ada.” Berbisik
sendiri melangkah ke dekat jendela kamarnya.
Disibakkannnya gorden jendela, meihat keluar denga pandangan
mata ke sekitar luar kamar, taman dan jalan raya. Tak ada siapa-siapa. Dia
tutup lagi gorden jendela itu. Dia perhatikan jam dinding di kamarnya. Baru jam
setengah empat sore.
“Ah, lanjutkan lagi membacanya …”
Alinea ketiga …
“Tak tahu dari siapa, tapi
berita bahwa aku akan mengambil papan seruk di bangkai perahu
Lanun di dasar sungai Linggang
menyebar cepat bak kolera. Eksyen dan komplotannya yang
Berambisi menghalangiku membuat perahu itu, dan kian
bernafsu karena takut kalah taruhan,
Menyerbu Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi. Berbeda dengan tujuan
mafia harta karun,
mereka berkumpul di warung kopi untuk menjatuhkan
mentalku.”
Ngeooong … ngaiiiing … nguuuu’ung …
Suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih nyaring nadanya
dan mendayu-dayu.
“Kucing apa …?” Ah tak mungkinlah ada setan di rumah ini.
Kalau benar ada, ngapain pula dia mau ganggu aku. Aku kan tak ganggu dia …”
Kali ini Nile memaksa diri keluar dari kamarnya. Setelah
menutup pintu kamarnya, Nile turun menuruni anak tangga menemui mamanya yang
lagi memasak di dapur untuk persiapan makan malam.
“Ma. Tengok puspus enggak Ma?”
“Enggak sayang. Kenapa emangnya. Tadi kan ada di kamar
kamu,” jelas sang ibu membolak-balik gorengan tahu dan tempe.
“Iya Ma. Tadi sih emang ada. Tapi waktu Nile baca novel,
kagak ada lagi. Suaranya saja yang ada. Terdengar Nile beberapa kali gitu, Ma.”
“Lapar kali say …”
“Bantuin Nile Ma carinya ya …”
“Ya ya … Sebentar ya say. Mama nyudahin dulu tahu dan tempe
kesukaan papamu ini.”
Ngeoooong …
Tiba-tiba si puspus melompat dari balik pintu dapur,
setengah berlari mendekati Nile.
“Na, itu dia …” Kata sang Mama meletakkan piring berisi tahu
dan tempe di atas meja makan.
Puspus menggeliat manja di pelukan Nile. Beranjak pergi
meninggalkan Sang Mama sendirian di dapur. Dia kembali ke kamarnya untuk
meneruskan kembal bacaan novelnya yang sempat terhenti tadi.
Ditemani puspus dalam posisi sama-sama tengkurep, Nile
melanjutkan bacaannya dengan membuka lembar halaman ke 71 …
“A gentlemen wil walk but
never run …
It takes a man to suffer
ignorance and smile
Be your self no matter the
say … “
“INDRA Gunawan menggosok-gosok
punggung musisi kampung itu karena merasa amat di-
hargai. Lagu itu adalah representasi pas
gengsi dirinya sebagai gentlemen modern dari
Ja-
karta.
Tentu berat bagi seorang muda metropolitan untuk merintis hidup di
pulau-pulau
terpencil Belitong, tapi lagu itu telah memberinya
inspirasi. Bang Zaitun senang tiada ter-
kira karena tahu pilihan lagunya telah
berkenan di hati tamunya. Para penumpang di bela
kang bertepuk tangan salut untuk Bang
Zaitun. Bang Zaitun sampai menggeser-geser duduk
nya karena salah tingkah.”
Tok … tok … tok …
“Yang … buka pintunya dong …”
“Mama ya?!”
“Yoi …”
Ada tamu rupanya. Mama kasih tahu barusan. Tapi siapa ya?
“Teman-temanmu sekolah kayaknya. “Jawab Sang Ibu, gantian
menggendong puspus, meminta Nile jalan lebih dulu menemui teman-teman
sekolahnya.
Nyiiiit … kresss …
“Selamat sore none Nileeeee ….! Teriak tak nyaring dari
Maisaroh, Zubaidah, Puspa dan Zuleha.
Mereka bergantian mencium kedua belah pipi Nile. Yang dicium
justru geli dan agak risih karena tercium aroma pesing dan bikin perut jadi
mules.
“Lum mandian ya?”
“Lumlah noneee …”
Tak seberapa lama. Zubaidah menarik lembut tangannya Nile.
Yang tangannya ditarik tentu saja kaget tidak kepalang. Bukan karena tarikan
dadakan itu, tetapi bisikan teman sekelasnya itu yang bikin penasaran dan
geleng-geleng kepala.
“Ah, yang bener …!”
“Masak kami bo’ong Nile,” kata Puspa sesekali menengok
keluar jendela, sebelum akkhirnya duduk lagi di dekat Nile.
“Bentar lagi dia datang. Trus gimana kita?” Zuleha kuatir
kedatangan mereka ke ruma Nile sudah diketahui Salim.
“Mana mungkinlah. Kan yang tahu cuma kita berempat,” jelas
Maisaroh menenangkan rekan-rekannya yang mulai gelisah.
Piiiiiiin … piiiin … piiiiin …
“Tuuh dia datang …” Kata Puspa setelah memastikan dari balik
jendela kalau yang datang Salim bersama Petruk dan Semar.
“Gimana kita dong, Pus?” Tanya Zubaidah.
“Tenang aja,” kata Nile, “Kalian sembunyi saja di kamar itu
…” Menunjuk ke sebuah kamar kosong dekat ruang tamu dan ruang keluarga.
“Kamu sendiri gimana dong?”
“Ya enggak gimana-gimana dong, Pus. Tinggalkan saja aku
sendirian di sini,” jawab Nile, bergegas membuka pintu setelah beberapa detik
lalu bel berdering tanda ada tamu yang datang.
“Sore Nileee …” Salim menyapa Nile, diikuti Petruk dan
Semar. Mereka bertiga sama-sama mem bungkukkan badan sambil menyunggingkan senyuman.
Kepada Nile, terus terang Salim bermaksud menghadiahi sebuah
buku novel. Buku itu baru dia beli dari toko buku da khusus dihadiahkan buat
Nile, sebagai tanda eratnya persahabatan.
“Sebagai seorang sahabat, teman sekelas, saya terima buku
ini,” ujar Nile. Buku tebal itu ia letakkan di atas meja, menghadap tempat
duduknya Salim.
Persis sama dengan novel yang baru dia baca barusan, tak
enak hati Nile untuk menolak pemberian itu. Apalagi Salim bukan orang lain. Dia
tak lain adalah teman belajar, temannya Puspa, Iqbal, Petruk dan temannya Semar
serta siswa yang lain.
“Gimana Nil. Bagus kan novelnya?” Petruk membuka obrolan.
“Bagus kayaknya …” Kata Nile sambil memangku kucing
kesayangannya.
“Kok kayaknya, Nil?”
Sahut Semar, sepertinya diiyakan juga oleh Salim.
Salim berharap Nile menyukai novel pemberiannya itu. Jika senang
dengan novel yang barusan dia beri kan, berikunya akan lebih mudah mendekati
Nile lebih lebih jauh lagi. Jadi tidak cuma bisa jadian di alam mimpi, di luar mimpi memang benar-benar terwujud.
Bisa belajar berdua, jajan berdua, piknik dan ke mana-mana selalu berdua.
Lho yang lain gimana?
Biarin aja. Gitu aja repot …
Ngeoooong …
Duuup …
Puspus melompat ke pangkuan Salim saat dia beralih tempat
duduk, berjarak beberapa sentimeter dari tempat duduknya Nile.
“Auuuwww …”
Salim kaget.
“Puspus … turun sayang …” Bujuk Nile.
Ngeoooong … ngeooong …
Puspus baru bersedia turun dan tidak melompat lagi ke
pangkuan Salim setelah yang bersangkutan kembali ke tempat duduknya semula.
“Maaf ya Lim. Nich kucing memang suka usil …”
“Ah, taka pa-apa Nil. Biasalah itu … Namanya juga kucing.
Jangankan kucing, kita manusia saja yang punya akal dan pikiran, masih suka dan
malah seneng jahilin orang. Ya enggak Petruk?”
“Suka-sukamulah, Mar.” Jawab Petruk yang kebelet mau pipis.
Terpaksa ditahan karena antara Salim dan Nile belum juga ‘jadian.’
“Saliiiiiiiim …”
Terdengar suara sayup-sayup memanggil namanya. Salim memandang sesaat ke sekitar
ruangan. Du duknya mulai tak tenang. Dia
gelisah. Soalnya, di mana dan dari mana suara itu berasal tak jelas. Ditanya
Petruk, tidak. Ditanya Semar, geleng-geleng kepala sambil mulut menguap.
“Saliiiiiim. Pulanglah Saliiiiim …”
“Nile. Kamu dengar kan?” Salim mulai ketakutan, tapi
didiamkan karena gengsi di depan ada Nile.
Calon tunangan …
Geeee … er niyeee …
“Dengar apa ya Lim?”
Nile pura-pura tak tahu. Sebab dia sudah bisa menebak ini
pasti kerjaannya Puspa dan kawan-kawan sekelasnya.
Hi hi hi hi …
Salim tak bisa lagi memendam rasa takutnya.
Peluh mulai membasahi wajahnya.
“Nil. Kamu pulang dulu ya.”
“Lho, cepet kali Lim?”
“Anu … ada kerjaan lain. Sorry ya …”
Ha ha ha ha …
Hu hu huhu …
Hi hi hi hi …
Salim, Petruk dan Semar bergegas keluar rumah. Sepatu tak
sempat dikenakan, ditenteng dan dibawa
berlari menuju mobil yang diparkir dekat jalan tak jauh dar rumah.
Kasihan deh lu …
*************
V
“BiJe …?!”
Yang disapa belum mendengar karena masih sibuk melayani
pembeli lain yang sore itu lebih ramai dari biasanya. Kebanyakan memesan ayam
goreng, BiJe bersama pegawai yang lain sibuk meletakkan pulu han ayam goreng
itu ke atas piring ceper berwarna
putih lengkap dengan nasih putih beserta lauk pauk nya seperti sayur mayur dan
sambal kentang. Hidangan serba hangat itu kemudian dibagikan ke puluhan meja
yang tersebar di berbagai ruangan, mulai dari ruangan tengah, depan dan
belakang, hingga ruang samping kiri dan kanan.
“BiJe …?!”
Kali ini Bije baru bisa mendengarnya. Dia menoleh ke kiri tidak
ada siapa-siapa selain beberapa pengunjung rumah makan siap saji hilir mudik
dari dan menuju kamar kecil. Menoleh ke kanan, pengunjung pada lahap menyantap
hidangan dengan mengigit ayam goreng, mencicipi kentang dan tomat mentah dengan
sesekali menyesap es teller, es cincau dan es
campur coca cola.
“Huuuuiy …”
Tangan kanan BiJe seperti ada yang mencoleknya.
Siapakah dia?
“Nileeee …?!”
“Kerja di sini Je?”
“Ek … eeee.”
Sayangnya, Nile tak bisa berlama-lama mengobrol, tukar
cerita barang sesaat bersama BiJe, misalnya. Pa salnya, cowok berkulit hitam
manis ini harus melayani pengunjung lain yang semakin mendekati malam semakin
ramai. Ada yang membawa serta anak dan isteri, cuma berdua saja tanpa
mengikutsertakan si buah hati, pengantin baru dan lansia. Belum lagi rombongan
anak-anak muda yang secara khusus telah mem-booking tempat duduk jauh-jauh hari
sebelum kedatangan mereka ke tempat ini.
Bukan BiJe kalau tak bisa mencuri kesempatan di saat sibuk melayani banyak orang sekalipun. Kala si buk
menghidangkan pesanan di atas meja panjang untuk porsi berukuran 712 orang, dia
sempat curi-curi pandang. Menyunggingkan senyuman, tentunya dibalas dengan
lambaian tangan dan sunggingan senyuman oleh Nile.
BiJe sudah hampir setahun lamanya bekerja di rumah makan
favorit warga di kota ini. Dia bekerja paruh waktu. Pagi sekolah, pulangnya
istirahat sebentar, sore harinya dia baru berangkat kerja menggunakan kereta
angin, sepeda.
Pulang ke rumah menjelang tengah malam. Ada-ada saja yang
dia bawa pulang. Terkadang nasi kotak pemberian sang bos, bonus lembur dan tak
jarang hadiah dari teman-temannya semasa kecil dahulu yang sempat mampir untuk
makan malam bersama.
Kerja paruh waktu ini baru diketahui Nile pada sore dan
malam hari. Kebetulan kedua orangtuanya mengajak makan malam di salah satu rumah makan siap
saji, sekaligus makan angin dan tengok panorama pusat kota di kala malam.
Tampak mereka senang bukan karena lahapnya makan, tapi pemandangan di sekitar
rumah makan sangat indah dan tak bakalan mudah kita lupakan.
Kenapa?
Karena lokasi rumah makan tempat BiJe bekerja terbilang
istimewa. Bayangkan saja, sudah ada danau, jembatan gantung lagi. Malam di
sekitar danau diterangi lampu berwarna-warni. Lampu-lampu itu memperindah
pinggiran danau, rerumputan taman yang menghijau, begitu indah memesona hati
dan indra saat dipandang.
Ada tempat duduk berupa bangku besi memanjang lengkap dengan
jejeran aneka bunga bermacam war na dan nama. Tak jauh dari tempat duduk ada
lampu-lampu taman, pesawat televisi dan beberapa meja buat mereka yang kepingin
menonton acara yang disuguhkan.
Di sekitar danau ada berjejer lapak-lapak makan dan minuman
serta butik kecil yang khusus menjajakan busana produk terbaru bagi kaum wanita
dan remaja muda usia, termasuk anak-anak. Juga ada pusat oleh-oleh khas racikan
warga. Bisa dibawa pulang dengan harga yang sangat terjangkau oleh kantong
orang kebanyakan.
Sayup-sayup kita akan mendengar musisi jalanan beraksi
dengan berbagai gaya dan posisi. Musisi lokal dan dari ibu kota. Kadang
berpenampilan eksentrik, namun tak sedikit berpembawaan biasa-biasa saja. Tak
bersepatu, hanya mengenakan sandal jepit. Meski
gondrong, masih enak diindra karena tak awut-awutan layaknya orang
berprilaku tak karuan.
Ada banyak tempat bagi mereka untuk tampil. Ada yang
berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Memainkan gitar,
mendendangkan tembang pesanan pengunjung. Mulai dari tembang tempo dulu yang
penuh dengan seabrek kenangan sampai tembang terkini yang menyimpan makna
tersendiri.
Ada juga di antara musisi itu menghibur pengunjung dengan
mengambil posisi di satu tempat, seperti dekat lapak, depan pintu masuk rumah
makan dan di pinggir danau dekat jala setapak melingkar, mengeliligi danau yang
jernih airnya ditingkahi muncratan genit air mancur di tengah danau, seolah
ikut bergoyang mengikuti irama tembang.
Sambil menyantap hidangan usai magrib berjamaah, Nile dan
kedua orangtuanya menikmati sajian mu sik dari jembatan gantung menghubungkan tepian kedua danau. Tak seberapa
lama, mengalunlah tembang ‘Setangkai
Angggrek Bulan’, tembang favorit pengunjung yang sebagian kecil menikmatinya
dari atas sampan berjalan.
“Setangkai anggrek bunga
Yang hampir
gugur layu
Kini segar
kembali
Entah mengapa …
*
Bunga
anggrek yang kusayang
kini
tersenyum berdendang
bila
engkau berduka
matahari tak bersinar lagi
Hatiku untukmu
Hanyalah untukmu
Kuserahkan
Kudambakan …
Dirimu diriku
Permata hatiku
Kubayangkan
Di setiap waktu …
Bagai embun pagi hari
Bunga-bunga segar lagi
Berkembang
harapa hati
Hari bahagia menanti …”
(repeat *)
“Seneng lagunya say?” Tanya sang Mama pada Nile yang tampak
sumringah tapi mulai lelah dan mengantuk.
“Surprise Ma …”
“Mau denger lagi atau langsung go home, honey?”
“Once more, Dad.”
“Oke … Berarti kita masih harus duduk di sini lima belas
menit lagi,” kata Pak Rustam, seraya menengok jam tangannya, “Baru jam sembilan
, Ma. Pas lah. Satu tembang lagi kita dengar, baru kita baru pulang …”
“Para pengunjung sekalian … Lagu berikutnya adalah ‘Angin Malam’. Selamat menikmati …”
“ Berhembus angin
malam
mencekam,
menghempas
membelai wajah
ayu
itulah kenangan
yang terakhir
denganmu …
Kudekati dirimu
kau diam
tersungging
senyuman
di
bibirmu
itulah
senyuman
yang
terakhir darimu …
Diringi gemuruh angin
meniup daun-daun
alam yang jadi aksi
kau serahkan jiwa raga
Angin tetap berhembus
tak henti
walaupun sampai
akhir hidupku
oh angin malam
bawa daku kepadanya ….”
“Malam Om,” sapa BiJe yang memang sengaja menunggu di depan
pintu masuk rumah makan.
“Malam juga. Siapa ya … rasa-rasanya ingat, tapi …”
“BiJe Pa. Masak lupa. Teman sekelas Nile,” buru-buru Nile
mengingatkan sang Papa, yang memang lupa kalau pria yang kini berdiri di
samping kanannya adalah BiJe.
“Waduh, lupa Om. Tapi mukanya kamu Om ingat, Je.”
“Tante juga nak Bije. Tahu orang, lupa nama.”
Ha ha ha ha …
“Eeeem … lum …”
“Belumlah Om. Jam sebelas lebih sedikitlah kira-kira,” jelas
BiJe ikut mengantarka Nile dan kedua orangtuanya sampai ke lokasi parkir khusus kendaraan roda empat.
Mulai pukul sembilan malam lebih lima menit, kecuali di
malam minggu, pengunjung rumah makan siap saji di tengah kota ini
berangsur-ansur pulang. Meski ada juga di antara mereka yang masih bertahan
karena masih asyik mendengarkan tembang lawas penuh kenangan.
Dari balik jendela mobil, Nile sempat melambaikan tangan,
dibalas BiJe dengan senyuman. Malam ini Nile benar-benar merasa puas. Bukan
cuma puas dan lega karena asyik menikmati hidangan yang tersaji dan musik yang
mengalun lembut, tapi yang lebih penting adalah dia bisa bersua BiJe di lain
tempat dan waktu.
Padahal, sejak berangkat dari rumah menuju rumah makan yang
digandrungi tua dan muda ini, Nile sama sekali tak terpikirkan bisa bersua
BiJe. Cowok yang sangat membuat penasaran Nile. Selain rada pendi am juga
berpenampilan sederhana. Baginya, BiJe layak dijadikan teman curhat, tukar
pikiran, teman bepergian, jauh maupun dekat.
“Udah lama BiJe kerja di sana say?” Tanya sang Papa seraya
memutar setir mobil ke kanan.
Jalanan masih ramai. Cuma motor, jumlahnya sudah berkurang.
Hanya sesekali lewat mendahului kendaraan roda empat. Sedangkan mobil mencapai
puluhan jumlahnya. Tidak sampai macet merayap seperti pergi sore hari tadi. Sehingga
pulangnya lebih santai dan bisa menikmati betapa enaknya mengendarai mobil
pribadi di malam hari.
“Nileee …” Sapa sang ibu.
Menoleh dia ke belakang.
“Biarin Ma dia tidur. Mungkin capek,” kata Pak Rustam.
Nile tidur pulas. Dalam pulasnya tidur, dia seolah berada di
sebuah taman nan luas. Dia duduk berdua dengan BiJe sambil memandang lepas ke
sungai yang di pinggir kanan dan kirinya disesaki aneka bunga indah mekar
merekah.
Keduanya berbagi cerita, saling melepas tawa saat jalan
berdua menuruni tanah rerumputan. Menuju bibir sungai, menaiki sampan dan
mengayuhnya silih berganti.
Begitu memesona sungai itu. Matahari tak terlalu terik
sinarnya. Nun jauh di sana, ratusan burung beterbangan membentuk lingkaran,
terbang rendah seolah tengah beraksi di hadapan Nile dan BiJe.
“Je … ke pinggir yuk …!”
Nile ingin kenikmatan di taman ini tak cuma dihabiskan
dengan naik dan mengayuh sampan. Atas saran BiJe, mereka akhirnya menyewa
sepeda di pusat penyewaan sepeda. Dengan sepeda itu, keduanya bisa leluasa
mengelilingi taman dan sungai lewat jalan darat beraspal mulus.
Tentu mereka tidak sendirian. Ada juga beberapa pasang muda
mudi bersepeda. Mengayuh bersama, terutama berdua, sungguh romantisnya. Sepeda
meluncur deras bagaikan pesilancar bermain ombak. Tak ada yang namanya
kemacetan. Apalagi higar binger segala. Jauh sekali dari kebisingan.
“Tempat seperti inilah yang aku sukai, Je.” Bisik Nile sat
dibonceng bersepeda mendekati pondokan warga tempat berleha.
“Sama, dong kalau
gitu. Aku juga …”
“Sedangkan tempat yang paling enggak aku suka adalah pasar
…”
“Kenapa?”
“Becek, kotor dan sumpek …”
“Padahal ada paar-pasarnya juga, Nil. Ada yang kurang
bersih, tapi masih ada juga yang bersih dan terawatt dengan rapi …”
“Di mana itu Je?”
“Di mal-mal itu …”
“Itu sih bukan pasar, Je. “
“Lho, kalau bukan pasar, lalu apa?”
“Ya mal. Ya bukan pasarlah namanya. Pasar itu ya … semuanya
serba jadi. Tak kebagian lapak dan kios, bentang tikar aja. Ngapar di tempat becek, pasti ada yang
beli. Nah, tempat mbok-mbok yang ngapar
alias lesehan itulah yang tidak aku suka, Je …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa. Lucu ya, Je?!”
“Menurutmu gimana?”
“Enggak lucu …”
“Ya, sama dong dengan aku kalau gitu.”
“Kenapa tadi tertawa?”
“Tuh lihat …!”
Sepasang angsa kejar-kejaran. Bukan sesama mereka. Tapi si lanang
dan si betina sama-sama mengejar anak-anak yang usil mau mengambil diam-diam telurnya.
He he he he …
Piiiiin … piiiiin …
Nile tersenyum, tapi belum juga terjaga dari tidurnya.
“Say … bangun. Udah sampai kita … “Kata sang ibu, membukakan
pintu samping tengahnya mobil. Membangunkan Nile dari mimpi indah saat pulang
dari piknik kuliner malam.
Sementara BiJe, berkemas mengeluarkan sepeda dari pintu
gudang belakang. Itu sepeda dikayuh den gan kecepatan sedang meluncur ke jalan
raya. Mulai lengang, ada tersisa satu satu-dua kendaraan roda dua dan empat
berlalu-lalang, melintasi jalan, menembus dinginnya udara malam.
***
VI
SESUAI janjian sebelumnya, Zuleha, Maisaroh, Zubaidah dan
Puspa kumpul di kediamannya Nile usai pulang sekolah. Ada apa gerangan?
Rupanya, kata Petruk kepada Maisaroh, Salim ingin BBM-an dengan Nile. Entah apa
yang mau diomongin, Salim berharap Nile bersedia membalas BBM-annya.
Nile tak keberatan. Cuma, dasar anak muda, supaya ramai dan
jadi bahan olok-olokan, Zubaidah yang diberitahu Maisararoh kemudian
mengusulkan agar mengajak serta Zuleha dan Puspa. Nile setuju saja. Sepakat,
mereka tunjuk Nile sebagai tuan rumahnya.
Selang beberapa menit, Nile dan teman-temannya membuka HP
merk Samsung. Di blok BBM, belum ada tulisan dari Salim.
“Tunggu ajalah Nil,” kata Puspa bergaya di depan cermin,
goyangkan kepala ke kiri dan kanan.
“Ntar keburu malam dong,” sahut Zubaidah, keselekan makan
ubi goreng, karena enak disantap, lupa minum.
“Enggaklah. Sebentar lagi is oke. Tunggulah ..” Puspa
meyakinkan teman-temannya.
Tuuuung … tiiiiing … taaaang …
“Nah, apa kubilang Nil. Tul kan?” Puspa menepuk-nepuk
dadanya. Hampir sesak dia punya nafas karena ditepuk juga itu dada oleh Zuleha.
“Sorri Nil … apa kabar?”
“Sore juga Lim. Kabarnya aku enggak ke mana-mana. Tetap di
sini. Baik selalu. Kamu juga kan?”
“Ialah. Eeeem … sedang ngapain kamu sekarang, Nil?”
“Baring-baringan di kamar.”
“Wah enak lho …”
“Iya dong …”
“Enggak bobok, Nil, sekalian?”
“Enggaklah Lim”
“Kenapa?”
“Ya, enggak mau aja
Lim.”
“Apa karena mikirin sesuatu?”
Zuleha gantian membalasnya …
“Enggak, Lim. Kok tahu ya kalau saya mikirin sesuatu?”
“Ya, ialah … Gue tahulah sedikit soal yang gituan …”
“Ah masa?
”Bener kok, Nil.”
“Ah dasar cowok … mata kuali. Tak boleh tengok cewek,
langsung digodain …”
“Tanpa cewek hidup ini hampa, Nil …”
“Kata siapa?”
“Kata Salim …”
Gantian Puspa yang ngebelas BBM.
“Hei Lim. Mau Tanya nich. Boleh kagak?”
“Boleh aja. Up to you. You Tanya, ai jawablah. Please …”
“Oke … Ngomong-ngomong, kamu dengan Zuleha pacaran enggak
ya?”
“Enggaklah. Siapa bilang?”
“Aduhhhh … Ha.”
“Kenapa … kenapa Nil?”
“Ah enggak … pahaku kejepit. Sebentar ya ..”
“Oke …”
Puspa mengejar Zuleha yang barusan mencubit pinggangnya
barusan. Sakitnya minpa ampun. Perih dan sakit. Karena Zuleha berlari, Puspa
kejar. Tapi enggak jauh kok. Masih di dalam kamar. Berputar-putar di sekitar
tempat tidurnya Nile. Puspa belum mau menyerah.
Dia lempar Zuleha pakai bantal guling, tak kena. Dia ambil lagi itu
bantal, dilemparnya lagi kea rah Zuleha, juga tak kena. Meleset. Sampai
akhirnya keduanya didamaikan Nile.
“Udah … udah …” Kata Zubaidah.
“Sekarang salaman sama-sama …” Nile menarik kedua tangan
Puspa dan Zuleha.
Mulanya keberatan. Berat mengulurkan tangan. Saling pelotot,
saling cibir, cemberut, merajuk dan siap bergulat di lantai. Untunglah,
Maisaroh juga turun tangan. Maisaroh peluk Zuleha, Zubaidah menarik tangan
Puspa agar tidak jadi melukai Zuleha.
“Mau terusin apa tidak BBM-annya?” Nile bersiap mematikan
androidnya.
“Terusin … terusin.” Kompak menahan lajunya jemari Nile yang
hendak menekan tombol ‘mati’.
“Oke, enggak jadi dimatiin. Kita lanjut …” Nile
mempersilakan Zubaidah membalas ‘pesan’ dari Salim.
“Kok lama amat sakit pahanya. Luka ya?”
“Kagak. Sebentar say …”
Duileee …
Ge … eer lah Salim …
“Nile kan?”
“Emangnya siapa?”
“Nile …”
Ha ha ha ha …
“Nile .. aku serius nich sama kamu …”
“Serius ngapain?”
“Bukan teman biasa …”
“Maksudnya?”
“Itu tuh … Masak kagak tahu Nil.”
“Kalau memang kagak tahu, apa salah ya Lim. Setahuku kan
enggaklah …”
“Ya enggaklah. Maksudku Nil, gimana kalau aku ama kamu
pacaran aja. Mau enggak?”
Hi hi hi hi …
Pungguk merindukan bintang …
“Gimana temen-temen?” Nile belum kasih jawaban. Zubaidah
juga. Kulunuwunlah dulu dong sama Nile, supaya enggak sampai salah jawab.
“Jawab aja sebisanya, Dah.” Celetuk Puspa.
“Lho … kalau salah gimana?”
“Kagak apa-apa kan Nil?” Puspa melepaskan tangan Zuleha yang
terus-terusan menyuruhnya membalas BBM Salim.
“Kamu aja yang ngebalasnya, Ha. Mau kan demi aku, Nile,
teman sejawatmu …”
Mulanya sih ogah. Lalu ketawa. Mau juga akhirnya
setelah diledeki Maisaroh dengan ‘Zuleha
berdandan kayak model ternama.’
“Di luar bukan tanggung jawab saya ya.”
“Iya … iya … Pokoknya jawab aja sana. Terserah kamu punya
jawab. Kita turuti aja …”
“Oke kalau gitu.”
Piiiiing … piiiiing … piiiiiing …
“Disini Nile … ganti ..”
“Na gitu dong … Itu baru Nilenya Salim …”
Ha ha ha ha …
Yang lain ketawa, Zuleha cemberut rupa.
“Gimana? Mau kan Nile?”
“Mau aja … tapi ada syaratnya lho …”
“Apa sja syaratnya Nile. Cepat katakan … aku mau dengar
sekarang juga dari kamu langsung. Sudah tak tahan nich …”
“Tenang aja. Syaratnya gampang kok.”
“Oke. Bilanglah sekarang ke aku, Nil …”
“Cuma satu syaratnya. Pada malam minggu besok, kamu datang
ke rumahku. Boleh sendirian, sama temen … ngadep dan bilang ke papaku …”
“Ngapain Nile ngomong sama papamu segala?”
“Lho, kok enggak tahu mau ngapain?”
“Bener kagak tahu Nil. Sumpah dong …”
“Ya kamu harus ngomong sama papanya aku. Mohon izin mau
pacaranlah gitu … Mau kagak?”
“Eeeem gimana ya?”
“Kok ragu?”
“Tunggu sebentar boleh kagak?”
“Boleh … boleh …”
Salim meminta saran dan pendapat Petruk dan semar. Menurut
keduanya, tak ada jalan lain selain memenuhi persyaratan yang dijukan Nile.
“Kalau tidak, Nile bakal lepas dari elu, Lim.” Kata Semar.
“Betul apa kata Semar itu, Lim.” Timpal Petruk. “Kamu harus
mencobanya. Sebab, kalau tidak keinginan elu bakal kandas di tengah jalan ...
Malunya itu yang mana tahan …”
“Bukan hanya malu,” balas semar, “Lim. Tapi bakal ada beban
tambahan buat kamu.”
“Beban apa?”
“Ialah, setiap kali ketemu Nile, perasaan gagal selalu
menghampiri. Bisa-bisa nanti kamu jadi minder, penyendiri dan terasa asing di
tengah keakraban dengan teman-temanmu sendiri …”
“Jadi …” Salim minta kesimpulan akhir.
“Jalani saja dulu …” Jelas Petruk dan Semar serempak.
Tuuuuung … tiiiiiiiing … taaang …
“Gimana Lim?”
“Oke, Nil.”
Ha ha ha ha …
Nile dan teman-temannya saling bertos-tosan. Mereka tetap
kompak dan akan selalu memonitor per kembangan hubungan antara Nile dan Salim.
Apakah bakal berlanjut ke jenjang ‘berpacaran’ atau ter henti sampai ‘berteman
biasa’, masih perlu kita tunggu kabar beritanya …
Tapi enggak lama kok …
Tiga hari kemudian …
Kemeja putih berlengan panjang, celana hitam panjang dan
rambut disisir rapi dengan jambul bagian depannya miring ke kanan, Salim
percaya diri keluar dari mobil kepunyaan
sang papi. Melangkah mantap dan beberapa detik kemudian sudah tiba di depan
pinu.
Niiiiing … nooooooong …
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuuk …
Salim kaget bukan kepalang. Belum apa-apa sudah disambut
salakan anjing, apalagi kalau ada yang em punya rumah, bisa mati aku dibuatnya,
pikir Salim. Dia berusaha tenang. Tapi setenang-tenang di depan salakan anjing,
ada batasnya lho. Sempat duduk. Soalnya kata orang nich, kalau duduk anjing
bakal tak menyalak lagi. Rupanya ini anjing tak mempan teori. Terus menyalak,
dan terpaksa dengan berat hati dan malu rupa, ambil langkah seribu.
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Selamat, kata Salim dalam hati. Selamat dari gonggongan dan kejaran
si anjing. Namun itu hanya semen tara waktu. Kenapa? Karena begitu Salim berlari dan berhasil
masuk mobilnya, itu anjing terus mengejar nya. Dia berusaha untuk ikut masuk dengan
cara menggigit-gigit pintu serta kaca depan mobil.
Guuuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Salim sangat ketakutan. Hampir saja dia terkencing di celana
akibat amukan hebat si anjing. Melompat ke tempat duduk belakang mobil, anjing
pun mendekatinya lewat kaca belakang.
Mengintip Salim yang jongkok bersembunyi di balik pintu dengan kedua tangan
menindih kepala. Si anjing menyalak dan menjulur-julukan lidahnya.
Guuuuuk … Guuuuuk … Guuuuk …
Piiiiin … piiiiin … piiiin …
Salim memencet klakson mobil. Tak lama keluarlah Nile dari
balik pintu. Dia menoleh ke kiri, lalu ke kanan dan setelah itu bermaksud mau
menutup pintu.
Piiiiiin …. Piiiin … piiiiin …
Dia hentikan langkahnya persis di depan pintu. Matanya
kemudian tertuju pada sebuah mobil yang par kir di luar tak jauh dari pagar
rumahnya. Nile sepertinya mengenal mobil itu. Karena ingin tahu, dia
berjalan mendekati pintu pagar.
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Seekor anjing mengelilingi mobil Salim. Tak henti
menggonggong. Berputar ke depan, belakang, kanan dan ke kiri. Lidahnya
menjulur. Kali ini sudah siap menggigit Salim.
“Boli … Boli … Boli …”
Si Boli, nama anjing itu, berlari mendekati Nile. Dengan
satu kali gosokan lembut di bagian belakang ke pala, Boli berlari masuk rumah.
Pintu yang semula tadi tertutup berhasil dibuka Boli dengan cara mene kan pegangan pintu sambil
berdiri.
Guuuk … Guuuuk … Guuuuk …
“Boli … masuk say …”
Boli baru masuk rumah. Pintu dibiarkan setengah terbuka.
Duduklah dia dengan sopan di atas sofa. Sam bil menunggu Nile masuk, dia
tidur-tiduran dengan sesekali kedua matanya menatap ‘liar’ ke depan pintu.
Bagaimana dengan Salim?
“Masukin aja mobilnya Lim.” Pintu pagar dibuka lebar. Lebih
aman mobil parkir di dalam ketimbang di luar pagar. Juga tidak sampai
mengganggu kendaraan lain yang mau lewat.
“Sorri ya Lim,” kata Nile setelah Salim keluar dari mobil,
diajaknya serta masuk.
“Tapi Nil …”
“Anjing ya?”
“Salim mengangguk. Berubah separo manja dan
celingak-celinguk.
“Ndak … ndak apa-apa. Tenang aja. Kan ada aku,” jelas Nile,
begitu melihat Boli tidur-tiduran di sofa, dia panggil namanya dan …
“Ssssst. Jangan nakal ya say … Belakang sana ya …”
Salim baru bau masuk setelah Boli benar-benar tidak ada lagi
di sofa ruang tamu.
“Dia sudah pergi Lim. Aman kok. Masuklah …!”
Salim lega. Baju yang dia kenakan basah karena peluh setelah
menyelamatkan diri dari kejaran si Boli. Dia tak malu-malu lagi. Lho emangnya
ada apa dan kenapa? Gini dech … Begitu segelas air putih dingin ditaroh di atas
meja, dia sikat. Dalam hitungan detik, itu air putih yang baru diambil Nile
dari kulkas, tak bersisa lagi.
Glegek … gek .. glegek …
“Tambah lagi ya?”
“Boleh … boleh, Nil.”
Dua gelas besar air putih membuat perut Salim jadi kembung.
Mau buang air kecil rasanya, tapi dia urungkan karena Nile sudah keburu
menghidangkan martabak telur. Seperti yang tadi-tadi, Salim tak risih dan kikuk
lagi. Dia sikat itu martabak sampai habis, kuwahnya pun ludes.
Eeeeeeek … eeeek … eeeeek …
Perut kenyang, haus hilang, pikiran mulai kembali tenang.
Tak ada rasa takut lagi karena si Boli sudah pergi. Kepada Nile, Salim utarakan
niatnya ingin bersua Pak Rustam.
“Seperti janjiku
kemarin itu, Nil.”
“Ooo gitu. Maunya
sekarang?”
“Iya dong. Lebih cepat, pulang kagak terlambat …”
“Ditunggu …”
Ke ruang belakang, Pak Rustam lagi asyik makan durian dengan
isteri tercinta. Belum apa-apa sudah sepuluh biji durian masuk ke perut. Ketika
Nile datang, sang Mama mengajaknya serta mencicipi buah lezat dan digemari
banyak orang itu.
“Pa, Salim …!”
Pak Rustam sudah mengerti maunya Nile. Makanya, agar tak
mengecewakan si buah hati satu-satunya ini, dia mempercepat menyantap buah
durian. Setelah mencuci tangan, dan berganti pakaian, dia menu ju ruang depan.
Menemui Salim, yang mungkin terlalu kecapekan, tertidur pulas di sofa dalam
posisi duduk terlentang.
Pak Rustam kembali menemui Nile dan sang isteri di belakang.
Memberitahu kalau Salim tak jadi ditemui karena ketiduran di sofa. Merasa tak
yakin, Nile bergegas ke ruang depan dan …
“Astaghfirullah …!”
“Kenapa say?” Tanya sang Mama.
“Salim Ma …”
Menunjuk kea rah Salim yang sudah tak ingat apa-apa lagi.
Ngorok nian tidurnya. Padahal tak jauh darinya ada Nile, Pak Rustam dan
isterinya.
“Ada saran Pa?”
Pak Rustam membisikkan sesuatu di telinga Nile, didengar
ibunya, lalu …
“Ah, Papa … Janganlah Pa.”
“Kita coba dulu, kan taka pa-apa. Boleh ya?”
“Terserah Papa lah …”
Dengan satu kali tepukan dan menyebut nama Boli, yang
dipanggil sudah bangun dari tidurnya di ruang belakang. Dengan sedikit berlari,
dia mendekati Nile, lalu …
“Temenin Om Salim tidur ya say …”
Boli seolah mengerti.
Sambil mengendap-endap, dia melompat labat ke sofa dan tidur ‘lelap’ di
sampingnya Salim.
****
VII
GLEDUK … kletek … gleduk …
SUDAH tiga kali Bu Guru Siska mengengkol motor bebek
kesayangannya di dekat halte pusat pertigaan kota. Kali keempat ada orang
menyapanya. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan BiJe, salah seorang siswanya yang
ramah dan pandai di kelas.
Setelah meletakkan sepedanya di bahu halte, BiJe segera
membantu Bu Siska yang tampak mulai kepa yahan. Wajahnya basah karena keringat.
Untung belum sampai mendorong itu motor. Kalau sampai terjadi alamat tak bisa
jalan. Sudah panas terik, capek dari mengajar, perut lapar, motor ngadat
pula.
Salim ketawa.
“Kenapa Lim?”
“Habis bensinnya, Bu.” Jawab BiJe.
BiJe tak lagi mengengkol itu motor. Dia dorong ke pinggir
trotoar. Setelah itu dia rapikan peralatan motor seperti obeng dan pembuka
busi. Dia ambil sepeda dan …
“Ibu bawa yang punya saya saja … dan saya sendiri bawa yang
punya ibu. Gimana?”
“Didorong?”
“Ialah, Bu.”
“Capek kamu Lim.”
“Enggak. Enggak jauh juga Bu. Dekat sini .. Hitung-hitung
jalan siang jelang sore Bu.”
BiJe ketawa lagi.
Bu Siska akhirnya ikut ketawa.
SPBU-nya jauh-jauh dekat. Dikatakan jauh, dari tempat BiJe dan Bu Siska
saat ini, terlihat. Dibilang dekat, lima menit mendorong belumlah sampai ke
tujuan.
“Ibu enggak kayuh sepedanya?”
“Oh iya. Tapi biarlah Lim. Ibu dorong aja. Hitung-hitung
lari siang.”
Bu Siska ketawa.
BiJe ikut tertawa pula.
“Masih jauh ya Lim?”
“Engggak. Sudah dekat Bu …”
Sekitar lima setengah menit, keduanya tiba di SPBU. Tak
begitu ramai nian kendaraan roda dua mengan tri. Jadi BiJe tak terlalu lama
mengisi bensin. Sedangkan Bu Siska menunggu tak jauh dari SPBU sambil menunggu
motornya diisi bensin.
“Apa enggak salah mata gue? Zubaidah bertanya pada diri
sendiri dari mobil opelet yang berhenti di depan SPBU karena menurunkan
beberapa penumpang.
“Haaa .. Masa ah?”
Zubaidah hampir berteriak saat BiJe mengendarai motor
mendekati opelet yang ditumpanginya. Sayang, hampir merapat itu motor belok ke
kanan dan berhenti persis di depan mushala SPBU.
“Haaaa … Bu Guru Siska?! Lagi-lagi Zubaidah hanya bisa
bengong. Ini kenyataan atau sekadar sandiwara belaka.
“Terima kasih ya Je ..”
“Sama-sama Bu Siska.”
Ketika Bu Guru Siska sudah melaju dengan motor bebek
kesayangannya itu, BiJe menyusul dari belaka ng. Zubaidah ingin sekali memanggilnya. Sayang
niat itu terpaksa diurungkan karena saat bersama an opelet melaju menuju
alun-alun.
“Aduh, sial deh aku …” Gerutu Zubaidah.
Dia mengambil HP dari dalam tas sekolahnya, lalu mengirim
pesan lewat BBM ke Maisaroh. Maisaroh yang baru turun dari opelet dan bayar
ongkos, buru-buru ke pinggir dekat pintu pagar rumahnya.
“Ah, yang bener nich Dah.” Kicau Maisaroh tak percaya.
“Bener kok. Sumpah mati …Gue barusan aja melihatnya ..”
“Kamu sekarang dimana?”
“Dalam opelet …”
“Terus .. Bu Siskanya kemana?”
“Kayaknya sih langsung pulang …”
“BiJe?”
“Nyusul dari belakang …”
“Eeeem … apa?”
“Ada ek eee … gitu kan?”
“Hubungan luar biasa gitu?”
“Ya mungkin saja.”
“Oke. Gini aja. Elu kasih tahu ke Nile jugalah. Kasihan dia
kalau benar sangkaan elu barusan.”
“Lho kok sangkaan gue. Ini bukan sangkaan. Tapi yang gue
lihat gitu. Mana tau ada api asmara. Mana tau aja. Untuk jaga-jaga gitu …”
“Oke … oke. Udah cepetan sana. Kontak Nile …”
“Menurutku jangan ke Nile dulu …”
“Kenapa?”
“Entar dia marah, gimana?”
“Elu punya usul?”
“Kita kasih tau dulu ke yang lain. Gimana?”
“Oke. Kalau gitu biar gue aja yang ngehubungi.”
“Lanjut …”
Reng … reng … reng …
“Siang nona Puspa …”
Puspa yang baru saja nyampe, tampak kesal dengar HP-nya
bergetar.
“Siapa sih?” Omelnya sambil membuka BBM. Tak lama ngomelnya,
karena setelah itu dia terperanjat kaget.
“Ah, yang bener Mai?”
“Terserah elu lah. Percaya apa kagak?”
“Nile sudah dikasih tahu enggak?”
“Belum … Itulah yang mau kita omongin sama elu. Menurut
Zubaidah, jangan dulu kasih tahu ke Nile …”
“Emangnya enggak boleh apa?”
“Takutnya Nile
ngapa-ngapain gitu dan …”
“Dan apa?”
“Kayak enggak tau aja kamu, Pus …Payah deh lu.”
“Terus, apa usul dari kamu?”
“Elu kontak deh Zuleha. Mau kan?”
“Gue cobalah …”
Zuleha masih ketiduran di sofa. Ngorok juga tidurnya.
Padahal baru satu setengah menit tadi dia nyampe di rumah dan istirahat di sofa
ruang tamu.
Riiiiiin …. Riiiin …
Belum ada jawaban.
Riiiin … riiiin …
Belum juga ada jawaban.
“Ke mana nich orang?”
Kesal tak dibalas-balas, Puspa angkat telepon. Sampai
sepuluh kali telepon bordering, Zuleha tetap ngorok. Kedengaran ibunya,
diangkat dan dijawab baliklah telepon itu. Kata si ibu, “Zulehanya lagi tidur.”
“Ibu takut membangunkannya nak Puspa. Ntar ya. Kalau sudah
bangun ibu kasih tahulah ke dia. Ada pesan enggak?”
“Enggak ada Bu. Bilang aja kalau dia sudah bangun tidur
nanti, kontak aku. Ada sesuatu yang penting ingin disampaikan.”
“Ya. Nanti ibu sampaikan ke dia.”
Bagaimana dengan Nile?
Bangun tidur. Seperti hari-hari sebelumnya, jika tidak baca
buku fiksi seperti novel dan cerber sebagai obat penyegar pikiran, Nile
mengulangi lagi pelajaran yang diberikan oleh ibu bapak guru di sekolah. Malam
harinya baru dia siapkan materi pelajaran buat keesokan harinya.
Hal ini dilakukan Nile setiap harinya. Selain tidak menumpuk
dalam mengulang pelajaran di sekolah, juga mempermudah pemahaman yang akan
diajarkan guru esok harinya. Tinggal bertanya mana yang belum mengerti,
selebihnya diulang dan dipahami kembali setibanya di rumah.
Kiiiing … kriiiing … kriiiing …
Ada telepon.
Balik dari mengambil segelas susu hangat dan segar di dapur,
Nile segera mengangkat itu telepon.Dia tampak tenang, meski sudah diberitahu
teman-temannya atas kejadian ‘luar biasa’ antara BiJe dan Bu Guru Siska siang
hari tadi.
“Kamu enggak marah Nil?” Tanya Puspa.
“Enggaklah …”
“Nanti hilang lho. Tau rasa kamu …”
“Mudah-mudahan enggak sampailah gitu …”
“Tapi menurutku, kau BBM-lah BiJe. Biar sama-sama tenang.
Elu tenang, yang lain juga tenang gitu.” Usul Puspa.
Puspa da ketiga rekannya yang lain baru tahu belakangan
kalau sesungguhnya Nile menaruh hati pada BiJe. Ketimbang jadian dengan Salim,
BiJe tampaknya lebih pas. Orangnya tak banyak cingcong, lebih dewasa dan pandai. Sementara Salim, sudah usil sama
cewek, juga kekanak-kanakan dan gampang tersinggung.
Sedangkan Salim sendiri, sampai kini masih terus nekat memepet Nile. Momen BiJe dan Bu Guru
Siska siang tadi bisa jadi dimanfaatkan Salim untuk mengambil hati Nile. Inilah
yang dikuatirkan teman-teman Nile. Sementara Nile tidak berpikir sejauh itu.
Cukup jalani saja, enjoy dan yakinlah Allah SWT akan menolong hamba-Nya yang
berhati mulia.
Namun dalam hati kecilnya, Nile berpikiran tak salah juga
kalau mem-BBM balik BiJe malam in. Tidak dalam jam-jam sibuk. Nanti setelah dia
pulang dari bekerja. Cuma, Nile jadi kepikiran juga. Apa sopan tengah malam
saling ngobrol lewat BBM dengan laki-laki. Itulah masalahnya.
“Itu bukan masalah Nil sayang,” jelas Puspa setelah membaca
pesan singkat Nile lewat BBM.
“Kalau bukan lalu apa?”
“Biar kami yang nanti ngontak BiJe. Lepas magriblah. Tunggu
aja dikabarin, gitu …”
“Apa enggak ganggu kerjanya dia?”
“Enggaklah Nil. Semuanya itu udah kita pikiran dua ratus
persen baik dan buruknya …”
Di lain tempat, BiJe yang sempat terlambat beberapa menit datang
ke tempat kerjanya, malam ini dimin ta sang bos membantu bagian administrasi
dan keuangan. Tidak ikut membagikan pesanan pengnjung, tapi lebih pada keluar
masuknya uang dari dan ke pengunjung rumah makan.
Jadi, di saat men-cap ‘lunas’ pembayaran bon pesanan, ada
waktu senggang, dimanfaatkan BiJe untuk membolak-balik catatan singkat pelajaran sekolah siang tadi.
Enggak mengganggu?
Enggaklah. Daripada bengong sendirian , mau jalan, ke mana
juga jalannya. Mending buka notes berisi rumus-rumus matematika. Tak lama juga,
paling tiga sampai lima menit. Karena setelah itu dia berjibaku denga tugasnya
melayani keluar masuk bon pembayaran dan setoran uang berikut kembaliannya.
Kepada Puspa yang sempat nge BBM-nya, BiJe bilang kalau dia
tak punya hubungan apa-apa dengn Bu Guru Siska. Murni hubungan antara murid dan
guru. Bukan hubungan istimewa, tapi cuma hubungan biasa.
“Itulah penjelasan dari saya, nona-nona …” kata Bije dalam
BBM-nya.
“Idiiih .. genitnya,” jawab Zubaidah.
“Tapi ya Je. Ini usul dari gue aja. Ntar pulang nanti elu
BBM-lah Nile. Biar dia enggak kepikiran gitu.”
“Apa dia tahu juga?”
“Ya ialah Je. Masa pacar sendiri kagak tahu. Apa kata
orang-orang …”
“Kata orang-orang apa memang, Dah?”
“Nih orang .. sungguhan atau main-main gitu …”
Ha ha ha ha …
Karena terlalu kencang ketawanya, BiJe sempat jadi pusat perhatian. Entah kenapa sebagian
pengun jung rumah makan ikut-ikutan pula tertawa, walau sampai tak
terbahak-bahak.
Namun begitu sampai di rumah, BiJe ketawa lagi. Bukan karena
peristiwa barusan di tempat kerjanya, tapi melihat tukang burukan lewat malam
hari, dan bertanya kepadanya, apa ada barang burukan.
Ketawa itu baru reda setelah BiJe memberitahu Nile bahwa
keadaannya baik-baik saja. Tetap sehat walafiat, meski selalu kena angin malam
dan hujan yang kerap mengguyur di kala malam.
“Nil …”
“Ya Je.”
“Sorry ya.”
“Sorry kenapa?”
“Itu, kejadian tadi siang itu.”
“Bu Siska?”
“Iya.”
“Kamu sendiri gimana?”
“Gimana apanya Nil?”
“Seneng apa kagak?”
“Yach. Kalau aku senanglah karena bisa membantu orang lain.
Apalagi yang kubantu Bu Guru Siska, guru dan wali kelas kita. Bukan orang lain
…”
“Lalu …?”
“Aku bermaksud ngajak kamu jalan-jalan gitu. Mau ya?”
Ingin rasanya Nile melompat dari atas tempat tidurnya,
saking senangnya. Sampai-sampai lupa ngebalas BBM BiJe. Untunglah, pesan itu
sempat dibalas oleh Nile saat hendak mematikan lampu tidur kamarnya.
Kepada Puspa dan teman-teman yang lain, dia sebarkan kabar
gembira barusan. Semua pada kaget, bu kan karena terkejut. Tapi senang bukan
kepalang mendengar kabar BiJe dan Nile tak jadi marahan. Ber baikan lagi, dan
bakal jalan-jalan dalam waktu dekat.
***
VIII
NAIK delman berkeliling pantai …
Preeet … preet ..
Ha ha ha ha …
Iwan terpaksa menutup hidung dan mulutnya karena dikentuti
si kuda saat naik delman mengelilingi pantai. Dia sendiri duduk persis di
belakang kuda. Kelang beberapa centimeter dari buntut kuda. Kentut kuda bukan
hanya sekali. Bisa berkali-kali.
“Mimpi apa gue semalam?” Kata Iwan menoleh kea rah BiJe dan
Nile, keduanya asyik memandang air lautan.
“Mimpi ketemu Mak Lampir kali,” celetuk Kuyung yang duduk
bersebelahan dengan Emi.
Ha ha ha ha …
Preeet .. preeet …
Pak Kusir mempercepat laju delmannya. Karena berat ke kanan,
delman miring pula ke kanan.
“Awas batu …!” Teriak Emi yang panik melihat delman berat
sebelah dan bakal terbalik. Hentakan keras di roda sempat bikin kaget. Lalu …
Preeet … preeeet …
Si kuda kentut lagi.
Iwan tutup hidung dan mulut lagi.
“Busuk enggak Wan?” Tanya Kuyung.
“Enggak …”
“Amis enggak Wan?” Gantian Emi yang tanya.
“Juga enggak …”
“Ini enggak, itu enggak. Lalu apa Wan?” Sahut BiJe.
“Apek …”
“Apek?” Nile terakhir yang nanya.
“Iya apek. Singkatan dari aku pengen entut kuda.”
Ha ha ha ha …
Pak Kusir ikut tertawa. Semua pada ketawa. Lupa kalau kuda
yang narik pedati lepas dari tali kekangnya, dan lari sendirian di depan …
Seisi pantai pada ketawa.
Tengok delman ‘berlari’ mengejar kuda.
“Auuuw …”
Emi menjerit karena delman oleng ke kanan mendekati bibir
pantai. Dengan sigapnya Pak Kusir, Iwan, Kuyung dan BiJe serempak berpindah ke
kiri sehingga delman tak berat sebelah lagi.
“Pegang tali ini ya dik,” kata Pak Kusir pada Iwan.
“Bapak mau ke mana?”
“Melompat. Kejar kudanya …”
Huuuup …
Pak Kusir mengejar sampai dapat itu kuda. Karena larinya
agak melambat, dengan mudahnya ia menadaptakn kudanya kembali. Naik ke punggung
kuda. Mengejar delman tanpa kuda.
Hiyaaaa …
Pak Kusir dan kudanya mengejar delman. Tak lama. Sayang, karena
sudah hilang keseimbangan, delman akhirnya oleng dan terbalik. Semua
penumpangnya pada terjungkal keluar. Bergulingan di atas pasir. Pakaian dan
badan belepotan kena pasir.
Preeet … preeet … preeet …
Kuda kentut lagi tak jauh dari Iwan yang masih terduduk lesu
di atas pasir pantai.
“Baunya Wan, gimana?” Kuyung bertanya.
“Amis …”
“Apa itu amis, Wan?”
“Amis itu … aku mau istirahat saja …”
“Jangan Wan,” kata Emi.
“Kenapa? Enggak boleh apa?”
“Nanti lama …”
“Lama apa?”
“Lupa aku makan akhirnya …”
“Kelaparan …” Sahut Kuyung.
Ha ha ha ha …
Puas naik delman mengelilingi pantai, BiJe dan kawan-kawan
nyobain naik sampan. Berenam cukup, kata pemilik sampan.
“Kalian naiklah dulu …”
Setelah semuanya pada naik, si pemilik sampan bertanya lagi.
“Bapak temenin apa tidak?”
“Tak usah Pak. Kami bisa kok,” sahut Iwan.
Saman didorong, ke tengah lah melaju. Sama-sama mengayuh.
Entah gimana ceritanya, sampan makin menjauh dari bibir pantai dan seolah
enggan menepi lagi.
“Ada apa ya?”
“Jangan-jangan … “Emi mulai ketakutan.
“Ada hantunya di bawah air sana,” sahut Kuyung.
“Takut Je?”
Nile memeluk BiJe.
“Yeeee … mesra dong ..” Seloroh Emi.
“Selfie dulu ah,” ujar Iwan.
Klik … klik ….
Bagus sekali hasil fotonya. Iwan perlihatkan hasil
jepretannya itu kepada BiJe dan Nile.
“Cocok nian,” komentar Kuyung.
“Serasi,” sahut Iwan.
“Langsung jadi …” Timpal Emi.
“Jadi apaan Mi?” Goda Kuyung.
“Jadi pacarannya gitu …”
“Oooo gue kira apa?”
“Apa elu kira Wan?”
“Kawin …”
“Ngeres otak lu. Masih
sekolah, kawin …”
“Awas Emi …” Teriak Nile. Yang diteriaki, entah kenapa,
kepeluk Iwan.
“Ne ne kamu ..” Ledek Kuyung. Yang kena ledek malu-malu.
Karena sama sekali tak mengira kalau Iwan dan Emi saling berpelukan di atas
sampan, di tengah lautan pula.
“Selfie dulu ah ..” Kata Nile.
Klik … kliiiik.
Ahaaaa …
“Coba kulihat ..! Kuyung bukannya memuji.
Kenapa?
Baik Iwan maupun Emi beda gaya. Mukanya Iwan cemberut,
mukanya Emi kayak kusut dan mau nangis.
“Mudah-mudahan aja enggak ngapa-ngapain …” Ujar BiJe.
“Emangnya ada apa Je?”
Bikin Emi penasaran.
“Persepsi orang tengok foto kalian …”
“Ooooo,” kata Emi,
“Menurut elu gimana Yung?”
“Kalau menurutku tak cocok …”
“Tak cocok apanya?”
“Kalian berdua …”
“Kalu elu Nil, gimana?”
“Kalau nurut gue … kalian berfoto lagilah yang bagus, yang
gaul dan yang gaya gitu …”
“Elu Je?”
“Kalu gue, samalah jawabannya sama Nile …”
“Oke kalau gitu .. tolong dong Nil fotoin lagi kami berdua
…” Pinta Emi.
Pasang gaya, samakan cara.
Satu … dua … tiga …
Kliiik … kliiiik …
Uhui …
“Siiip.” Puji Nile.
“Coba kutengok dulu.” Kuyung melihat sebentar hasil fotonya
Nile. Setelah itu …
“Cek … cek … ini baru orang …”
“Yang tadi itu,” kata Iwan, “Apa bukan orang, Yung?”
“Bukanlah …”
“Lalu apa dong?”
“Monyet bingung …”
Ha ha ha ha …
Tak sadar sampan semakin jauh meninggalkan tepian pantai. Ke
mana? Entahlah. Tanda-tanda ada pu lau di seberang sana belum terlihat sama
sekali. Tak ada ujung, ada pangkal. Mau terus ke mana, balik juga gimana.
“BBM ajalah, kalau telepon tak bisa.” Saran BiJe.
Berkali-kali Nile kirim pesan via BBM tak nyambung-nyambung.
Kali kesepuluh baru nyambung. Yang menerima pesan, Zuleha.
“Kok enggak ngajak gue kalau jalan-jalan. Ajaklah gue dong,”
kata Zuleha.
“Sorri ya Leha. Soalnya, mendadak juga perginya,” jawab
Nile.
“Lain kali ajaklah gue ya. Biar enggak kuawalat tau …”
“Iya .. iya …”
Zuleha merapikan rambutnya yang kusut masai sehabis tidur.
Piiiiing … piiiiing … piiiiing …
“Sorry ya Nil. Gue ngerapiin rambut dulu …”
“Tolong ye Ha. Mau kan?”
“Ya.. ya … maulah. Kenapa tidak?”
“”Tolong beritahu ke papa gue. Tolong kontak ke pihak
pengelola pantai layang ..”
“Oke … oke … Emangnya elu-elu itu ngapaian?”
“Kesasar aje … “
“Haaa … apa? kesasar? di mana?”
“Ceritanya panjang ..
sekarang elu bantu gue hubungi papaku cepetan …”
“Siap bos …”
Mendengar kabar anaknya bersampan tak bisa pulang, Pak
Rustam dan isteri langsung mengontak pihak pengelola pantai. Mereka kuatir
puteri mereka satu-satunya itu turut tenggelam di laut bersama-sama teman satu
kelasnya.
Sementara BiJe, Iwan dan Kuyung memberanikan diri melompat
ke air. Mendorong sampan bertiga. Sedangkan Nile dan Emi tetap berada di atas
sampan. Keduanya berpegangan sebelum akhirnya ikut melompat juga ke air setelah
sampan terbalik karena dihantam ombak sebesar bukit.
“Tolong Je ….!” Teriak Nile yang tak sampai-sampai tangan
berpegangan di bodi sampan.
“Angkat sedikit tangannya …” BiJe terus berupaya mengangkat
kedua tangan Nile yang tampak mulai melemah karena kedinginan.
“Iwan .. tolong aku ..!” Teriak Emi yang nafas rasa sesak
setelah telinga dan hidungnya kemasukan air.
Usai sampan dibalikkan kembali seperti semula, Nile dan Emi
baru bisa duduk tenang. Tidak semakin kedinginan saat berendam dalam air.
Sampan terus didorong perlahan menuju pantai.
Jeeeng trot tot tot … trot tot tot …
“Itu mereka Je!” Seru Kuyung. Bergegas melepas bajunya,
dikibar-kibarkan dengan harapan petugas pantai melihat mereka bergelantungan di
sampan.
Tak berapa lama …
“Itu mereka Pak.” Teriak Pak Rustam yang ikut petugas
melakukan pencarian. Dia melihat ada orang mengibar-ngibarkan baju putih dari
kejauhan.
Kapal cepat itu bergerak cepat ke kanan. Selang kurang dari
tujuh menit sudah sampai di tempat sampan Iwan dan kawan-kawan menumpang.
Satu-satu dari mereka ditarik ke atas kapal. Selamat.
Nile tampak terharu dan menangis sesunggukan di dekapan
papanya. Kalau saja petugas datang lebih lama lagi tak bisa dipastikan bakal
selamat karena selain terjangan ombak yang cukup besar juga rasa dingin membuat
kulit badan mengecut, memutih seolah kehabisan darah. Muka pucat dan tubuh
semakin melemah.
Hanya dengan beristirahat secukupnya di rumah, teman-teman
Nile sudah berangsur-angsur pulih dan mulai bersekolah. Tidak demikian halnya
dengan Nile, yang harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dia harus dirawat
inap. Perlu penanganan khusus untuk
mengembalikan kebugarannya seperti semula.
Selama dirawat, teman-teman satu kelasnya datang menjenguk
mulai dari Salim, BiJe, Zubaidah, Zuleha
hingg Maisaroh. Ada yang membawa makanan kesukaan Nile seperti apel dan buah pir.
Ada pula yang membawa balon mainan anak-anak, roti kaleng dan souvenir khusus
bat Nile.
Tak ketinggalan Bu Guru Siska. Sengaja dia datang sendirian
seusai pulang mengajar. Menanyakan kesehatan anak muridnya itu kepada Bu
Rustam.
“Alhamdulillah, Bu sudah berangsur-angsur sembuh. Kata
dokter, jika tak ada aral melintang, dalam minggu-minggu ini, Nile sudah boleh
meninggalkan rumah sakit.”
“Senang saya mendengarnya Bu Rustam,” jawab Bu Guru Siska,
mengajak ibunda Nile ngomong panjang lebar soal Nile, prestasi belajarnya di
sekolah, pergaulan dengan teman-teman sekelasnya, termasuk kegiatan lain dalam
lingkup sekolah.
Sementara BiJe baru bisa menjenguk Nile usai pulang kerja.
Agar tak terlalu malam jadwal bezuknya, dia pulang lebih cepat dari biasanya.
Sambil mengayuh sepeda, dia mampir sejenak di warung martabak untuk membeli
martabak telur kesukaan Nile, sebanyak dua porsi. Satu dimakan saat bezuk,
satunya lagi dimakan saat lapar terjaga tengah malam nantinya.
BiJe sampai ke rumah sakit saat Nile terjaga dari tidurnya.
Suaranya masih lemah, sang bunda memapah nya agar bisa duduk sambil menyantap
bubur.
Tok … tok … tok …
“Assalamualaikaum …”
“Walaaikumsalam …”
BiJe mencium tangan Bu Rustam. Mnta maaf karena telah
menyusahkan bunda. Tentu saja ibunya Nile memaafkan. Baginya tak ada yang perlu
disalahkan. Ini semua musibah dari-Nya.
“Martabak Je?”
BiJe mengangguk.
“Yuk kita makan. Aku sudah lapar sekali Je …” Kata Nile
tampak senang BiJe datang membezuknya.
***
IX
KRAAAAK …
Celana yang dikenakan Zuleha robek.
Ha ha ha ha …
Zubaidah dan Maisaroh cuma bisa geleng-geleng kepala ketika
Zuleha ngambek dan tak mau ikut bertanding bola voli. Duduk ke kiri salah,
kanan juga salah.
Braaaak …
Zuleha jatuh dari kursi.
Ha ha ha ha …
Bukan cuma Zubaidah dan Maisaroh saja yang ketawa ditahan.
Juga Nile, Puspa dan Emi. Mereka geli dan kasihan melihat tingkah Zuleha yang
serba salah sejak celananya robek.
“Mai …” Nile meminta Maisaroh menemui Bu Guru Siska.
Mencarikan jalan keluar, mengatasi celana robek miliknya Zuleha.
“Ha …Sabar ya!” Ucap Nile dengan suara pelan. Dia memeluk
Zuleha dan mencium kedua pipinya.
“Auuw .. geli Nil.” Zuleha kegelian.
Melihat Zuleha kegelian. Bukannya dibantu, malah
bersama-sama ikut memeluk dan mencium.
“Adoww … mati aku mak …”Jerit Zuleha.
Takut Zuleha pingsan, rekan-rekannya serempak melepaskan
pelukan dan ciuman. Zuleha yang ‘dikerjai’ bukan kegelian saja, tapi nyaris
kehabisan nafas.
“Aduh … tanganku Nil.” Zuleha merinigis menahan sakit dengan
mata kedap-kedip seperti mau tidur.
Nile mengambil taplak meja dan mengipas-ngipas Zuleha dengan
taplak meja itu berkali-kali agar tidak kepanasan. Dia diminta untuk menarik
dan mengatur nafas sendiri.
“Tarik terus, Ha.” Kata Maisaroh sambil memijat kedua bahunya
Zuleha. Sedangkan teman yang lain memijat kaki, kedua tangan dan kepala.
Berulangkali Zuleha meringis
kesakitan. Namun berulangkali pula teman-teman satu kelasnya itu memi
jat, mengipas dan memintanya agar mengaur turun naiknya pernafasan.
“Sedikit lagi, Ha.” Kata Zubaidah yang seolah enggan
melepaskan pijatannya di seputar kepala Zuleha.
“Coba elu ngomong, Ha.” Pinta Nile.
“Ngomong apaan?”
“Apa saja. Yang penting elu ngomong …” Sahut Puspa dan
Emisi.
“Salim … Salim … Salim …”
Ha ha ha ha …
“Sekali lagi Ha.” Pinta Maisaroh.
“Leha … Zuleha …”
Hi hi hi hi …
“Sekali lagi Ha.” Kata Emi.
“Leha Salim … Salim Leha …”
Hu hu hu hu …
“Sekali lagi Ha.” Nile yang meminta.
“Salim. Aku cinta kamu …”
Ha ha hi hi hu hu …
Puas ketawa-ketawa, Zuleha berangsur-angsur pulih. Dia sudah
bisa ngomong dan bercanda. Cuma, soal celananya yang robek, belum ada
penggantinya. Dijahit tidak ada jarum dan benangya. Dibiarkan, mana mungkin
Zuleha memakainya dengan itu celana robek di bagian belakang. Pasti diketawai
banyak orang.
Kasiman dia …
“Na … itu Bu Siska. Teriak Puspa.
“Ada ya Bu?” Tanyanya.
“Coba yang ini.” Kata Bu Siska membuka bungkusan kertas koran
dilipat lima. Di dalam bungkusan itu ada sehelai celana olahraga.
“Mudah-mudahan aja pas.” Harap Bu Siska. Memperlhatkan celana
itu kepada Zuleha. Lalu diukurkan ke pinggang siswanya yang paling tambun itu.
“Di kamar kecil aja Bu. Di sini banyak orang,” saran
Maisaroh.
“Betul Bu. Mending yang melihatnya cewek. Kalau cowok, kan
jadi ramai. Enggak lucu Bu.” Timpal Zubaidah.
Ditemani Maisaroh, Zuleha berganti pakaian di kamar kecil
sekolah. Agak ke belakang, makanya tidak bisa cepat berganti celananya.
Kamar kecil sepi. Masuklah
Zuleha ke dalam kamar itu. Dia buka celana dan bermaksud mengganti cela nanya
dengan celana pinjaman dari Bu Guru Siska. Cuma yang bikin dia heran ada
bayang-bayang, entah orang atau apa, di sebelah ruangan tempat dia berganti
pakaian.
“Hai … siapa disitu?” Zuleha memberanikan diri menyapanya.
Ngeoooong …
“Auuww … hantuuuu … Tolong Mai. Buka pintunya.” Teriak
Zuleha.
Atas permintaan
Zuleha, dia buka pintu kamar sebelah.
Reeeet … yoooot …
“Kosong Ha. Enggak ada siapa-siapa …”
Ditutupnya lagi pintu.
“Jadi gimana nih?”
“Udah .. aku temenin di dalam.” Kata Maisaroh menarik tangan
Zuleha yang rada berat bergerak karena takut dengan kejadian barusan.
“Sudah, enggak apa-apa. Kan ada aku di sini …”
Mengunci pintu dari dalam. Keduanya merasa aman dan lega
karena tak bakalan ada yang mengintip Zuleha berganti pakaian. Celana dibuka,
Zuleha mengenakan celana baru. Pas sekali. Tidak longgar dan tidak juga sempit.
Kok bisa sama ya ukurannya?
“Yuk kita keluar! Ajak Zuleha. Bersiap untuk tanding bola
voli.
Kretek .. jreng .. kretek …
Pintu tak mau dibuka. Berkali-kali Zuleha dan Maisaroh
berusaha membukanya, tetap tak bisa. Terkunci dari luar. Lantas, siapa yang
menguncinya?
Hantukah ….?
“Takut Mai.” Zuleha langsung memeluk Maisaroh. Dia ketakutan
sekali. Badannya gemetar. Keringat dingin mulai keluar. Soalnya, nich kaa
orang, hantu cowok suka ‘ngawini’ perempuan layang lho …
Enggak mungkinlah.
“Aduh gimana ini Mai. Bisa mati kita di dalam sini …” Keluh
Zuleha.
HP tak ada. Minta tolong pada siapa. Soalnya, siswa pada
kumpul semua di tanah lapang depan sekolah. Mana mikirin mau ke toilet. Ntar,
kalau sudah agak siang, baru ada. Ramai dan bisa jadi antrean panjang.
“Kita manjat aja yuk.” Kata Maisaroh.
“Apa bisa?”
“Bisalah …”
“Caranya Mai?”
“Kau jongkok di sini. Aku yang naik di punggungmu. Mau kan?”
“Enggak mau ah. Nanti aku ditinggal sendirian … Enggak mau.
Pokoknya enggak mau …”
“Oke-oke,” kata Maisaroh, “Kalau gitu kamu yang duluan. Mau
kan?”
Zuleha bimbang dan ragu.
“Ayolah …. Pasti elu mau. Kalau enggak mau, kapan kita bisa
keluar dari tempat ini …”
Zuleha akhirnya setuju.
Maisaroh duduk dalam posisi jongkok, sementara Zuleha naik
ke atas punggungnya.
Satu … dua … tiga …
Gedegug … tring … byuur …
Zuleha terjatuh. Jatu terlentang masuk bak mandi. Meringis
kesakitan. Minta tolong pada Maisaroh yang juga masih kesakitan setelah dinaiki
punggungnya oleh Zuleha.
“Kepalanya … Angkat pelan-pelan …”
Huuup yaaa …
Kepala Zuleha yang gede itu bisa diangkat dari dalam bak.
Sempat muntah-muntah karena mulutnya kemasukan air. Dipijat-pijat Maisaroh
punggung dan sekitar lehernya, reda muntahnya.
Sudah bisa duduk. Walaupun pakaian yang dikenakan Zuleha separo basah.
“Gimana Mai?” Dengan suara tersendat-sendat, Zuleha
merebahkan kepalanya di pundak Maisaroh. Tenaga habis, keluar belum.
Tak ada jalan lain, kata Maisaroh, “Aku harus keluar duluan
Ha. Setelah di luar aku beritahu teman-teman supaya secepatnya membuka pintu
kamar kecil ini …”
Zuleha yang semula keberatan, setelah ditimbang
sana-sini, bersedia ditinggal sendirian
di kamar kecil ini dengan syarat tidak terlalu lama.
“Ya enggaklah Ha. Aku sayang kamu kok,” kata Maisaroh sambil
memeluk hangat Zuleha.
“Hati-hati …” Pesan Zuleha.
Dibantu Zuleha, Maisaroh akhirnya bisa memanjang dinding
kamar kecil. Bersusah payah, dia berhasil keluar. Tapi …
“Aduuuh!” Ringis Maisaroh.
“Kenapa Mai?”
“Enggak … enggak apa-apa kok.”
“Aduuuh … pantat gue ilang …”
“Haaa … yang benar Mai pantat elu ilang. Ilangnya dimana?”
“Enggak tahu Ha dimana?”
“Walah-walah … Kok pantat ilang dimana kagak tahu. Kelewatan
lu Mai.”
“Ohhh … udah ketemu Ha.”
“Alhamdulillah … Emangnya ilang dimana Mai?”
“Enggak dimana-mana. Masih utuh di belakang gue, Ha.”
“Busyet lu Mai … Ngagetin aja.”
“Auuuw …”Maisaroh meringis lagi.
“Ngapain lagi Mai?”
“Ada lipas jalan di paha gua …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa sih?”
“Biarin ajalah Mai. Mungkin itu lipas pengen nyobain paha
elu yang putih kayak kertas putih itu.”
“Auuuw …”
“Tenang aja Mai …”
“Tenang gimana ha. Dia masuk dan berjalan ke selangkanganku
tau …”
“Gampang ngusirnya, Mai.”
“Gimana?”
“Elu teriak dikit. Lalu kedua kaki elu goyang-goyangin silih
berganti gitu. Terakhir, elu tarik-tariklah sedikit ujung rok lu dan berdiri …
Mudah kan?”
Krusuk .. suk … kresek … sek …
“Pergi sana …!”
“Gimana Mai?”
“Alhamdulillah bisa Ha. Moncer juga elu punya resep.
Darimana elu dapat?”
“Dari gue sendirilah. Ayo cepat sana Mai …”
“Oke. Tunggu ya!”
Puspa, Zubaidah, Nile dan Emi. Mereka berempat tampak
gelisah menunggu Zuleha berganti pakaian. Angkat HP, telepon biar lebih cepat, sayang
tak ada jawaban. Kirim pesan, selalu gagal. Kirim BBM, juga tak ada balasan.
“Kita susul aja yuk!” Ajak Puspa sudah tak sabar.
Baru akan melangkah ke depan dengan kaki seribu, Maisaroh
nongol dengan nafas tersengal-sengal. Be gitu dekat, dia tak kuasa lagi bicara.
Segera memeluk Nile. Mukanya pucat, lemas kayak orang kurang vitamin dan darah.
“Lehanya mana Mai?”Tanya Nile.
“Ada di dalam kamar kecil. Terkunci.”
“Apa?” Emi terperanjat.
“Ayo kita ke sana!”
Kata Puspa. Sebelum terlambat,
tak ada salahnya bergerak lebih cepat.
Zuleha, mengusir rasa sepi sendirian di kamar kecil,
bernyanyilah ia. Merdu juga suaranya. Nyanyian itu mengingatkan kita pada
pertunjukan wayang semalam suntuk. Ada pesindennya. Nah, si pesinden lah yang
menendangkan sindenannya. Merinding bulu kuduk mendengarnya. Bukan karena
takut, begitu bening alunan suara itu. Seolah senyap …
“Kusendiri di sini …
tak ada yang
menemani
selain hati
selalu menghiburku
Zuleha jangan bersedih …
tidurlah sayang di pangkuan
ibu
kau kusayang sampai mati
kaulah
penghibur ibu
di kala sedih
pengobat hati di
kala sendiri …”
Dengan mengendap-endap, Puspa, Zubaidah, Nile dan Emi
mendekati pintu kamar kecil itu. Serempak merapatkan telinga ke dinding
aluminium putih itu dan …
“Marilah
anakku sayang
tidurlah di pangkuan ibu
biar kita bisa
senang
menjalani hari esok menjelang …”
Sssssst …
“Lehaaa!” Nile pelan memanggil namanya.
Tak ada jawaban.
Yang ada cuma nyanyian …
“Pergilah kau sayang
jangan hiraukan
ibumu
tempuhlah masa
depan
agar hidupmu
bahagia selalu …”
“Han … han … tu … Hantuuuuuuu …”
Serempak berteriak. Lari sekencang mungkin. Baru berhenti
persis di depan Bu Guru Siska dan Maisaroh yang hendak menyusul Zuleha terkunci di kamar kecil.
***
X
“Ye … ye …
ye …
kite
nonton aje
itung
sampe tige …
Ye …
ye … ye …
kite penggembire
anak laki tapi betine …
Ye … ye … ye …
kite same bedoe
kelompok Lehe bise juare …
Ye … ye … ye …
kalah menang soal
biase
Ye … ye … ye …
kite cume nonton aje … “
BERDANDAN kayak siswa perempuan. Pakai rok belah bawah
dengan kemeja lengan panjang putih tapi berdasi. Kuyung, Iwan, Salim, Adam,
Iqbal, Petruk, Semar dan BiJe, berbaris rapi berhadap-hadapan menyambut pemain
bola voli puteri yang segera turun ke
lapangan.
“Hidup BiJe …!” Teriak siswa sekelas lainnya. Walau tidak
main, BiJe dan kawan-kawan pantas jadi sorotan penonton, pelatih dan juga
wasit. Pasalnya, selain dandanan mereka lain dari biasanya, rias wajah itu yang
bikin kita geli. Ada yang pakai bedak ketebalan, abang bibir atas iya, bawah
tidak. Juga ada yang kenakan anting-anting gede. Sudah gede, panjangnya sampai
tumit lagi.
Belum lagi gaya rambut. Salim misalnya, dikuncir bagian
belakang, sementara rambut BiJe dikepang dua. Atau Petruk dan Smar, keduanya
malah mengecat rambut mereka dengan warna biru dan kuning. Tak ketinggalan
Kuyung dan Iwan. Keduanya memotong depan rambut, bergaya poni.
Bagaimana dengan Iqbal dan Adam?
Mereka berdua ini lain lagi. Gundul belakang tapi ada kuncir
dibiarkan berjuntai di bawah kepala. Beralis mata tebal, bedak warna warni dan
hidung dihiasi wajahnya perempuan. Lucu dan seru. Rata-rata sepatu yang mereka
kenakan berjenis sport dengan cat mendominasi warna putih.
Mereka baru berhenti meneriakkan yel-yel .. “ye .. ye .. ye
..”setelah pemain kedua tim keluar ruangan, berjalan rapi menuju arena
pertandingan. Diawali tim lawan, dususul tim tuan rumah yang dimotori Zuleha.
“Hai Lim.” Sapa Zuleha yang berjalan paling depan. Salim
yang tak siap menyambut sapaan Zuleha, hanya senyum-senyum saja. Asal senyum. Tak
bermakna.
“Dadagh BiJe …” Ucap Nile. BiJe yang merasa disapa sang
pacar girangnya bukan main. Berbeda dengan Salim, hanya mesem-mesem saja karena
merasa tak disapa Nile.
“Halo semuanya …”
Saapan Emi yang paling buncit ini dijawab serentak oleh BiJe
dan kawan-kawan dengan ‘Berjuang kita menang …”
Kedua tim sudah menempati posisinya masing-masing. Giliran
pertama serve adalah Zuleha. Bola dipantulkan ke lantai, melesat terkena roknya
Salim.
“Auuuw …”
Panonton pada ketawa. Pasalnya, celana dalam yang dikenakan
Salim robek tengahnya. Untung saja, BiJe cepat-cepat menutup itu rok sehingga kancut Salim tidak terlihat seluruhnya.
Huuup …
Bola dipukul melambung tinggi oleh Zuleha. Saking tinggi
melambungnya pemain lawan harus memicing kan mata melihatnya karena silau oleh
pancaran sinar matahari. Akibatnya, bola pengembalian ngawur. Tak sempat di
over ke pemain di depan, langsung diarahkan ke depan, arena permainan lawan.
Hiyaaa …pak …
Zuleha mensmesh itu bola. Keras juga smeshnya. Masuk
sebenarnya bola semesh-an itu , apalagi lawan sudah ketipu karena bola jatuh di tempat yang kosong. Cuma,
sempat mengenai punggung Puspa terlebih dahulu.
Priiiit …
Wasit terpaksa memanggil kedua kapten tim. Daripada rebut
belakangan, kata wasit, lebih baik serve-nya diulang kembali saja.
“Setujuuuu?”
“Setujuuuu …”
Zuleha kembali melakukan serve. Kalau tadi melambung tinggi,
sekarang biasa-biasa saja. Bola melam bung tidak sekencang yang pertama tadi.
Tentu dengan mudahnya dismesh lawan dan masuk …
1-0 untuk tim lawan. Giliran lawan yang melakukan serve.
Deras mendatar itu bola. Karena tak sempat mengangkat tangannya, Zuleha dengan berat hati
menyundul bola kembaliannya ke depan. Mantul dari kepala Puspa, jatuh mengenai
seorang penonton yang lagi asyik menghirup cuka pempek.
“Kampret .. Abis deh baju gue …” Omel siswa berperawakan
ceking itu seraya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan pakaian dan
mukanya yang terkena tumpahan cuka pempek.
“Hidup Leha ..!” Teriak penonton.
“Maju terus pantang kalah …”Sahut guru memberi semangat pada
Zuleha dan kawan-kawan yang sudah tertinggal dua angka dari tim lawan.
Masih tim lawan pegang serve. Bola meluncur tajam menukik ke
bawah.
Hiyaaa … syuuuut ... gedebuk …
Penonton ketawa ngakak. Kenapa dan ada apa? Karena begitu
bersemangatnya Maisaroh mengembali kan bola serve itu. Lupa kalau bola
menyangkut di net, sudah keburu terbang, bola tak ada, cuma keba gian angin, badan
pun jatuh tersungkur.
“Luka kagak Mai?” Tanya Nile menggosok-gosok dan meniup
lengan Maisaroh yang memerah.
Maisaroh yang masih menahan rasa sakit, giliran melakukan
serve. Penonton diam. Hening seketika. Menunggu Maisaroh memukul bola.
Tuuuut … preeeeet …
Ha ha ha ha …
Maisaroh terkentut.
“Makanya kalau malam jangan makan petai, Mai …” Olok
penonton yang duduk bersila di tanah menonton pertandingan.
“Sebelum main makan dulu ATK,” sahut cowok berhidung pesek.
“Apa itu ATK, Dul?” Tanya teman di belakangnya.
“Aku takkan kentut …”
Ha ha ha ha …
Kalau saja Nile dan rekan-rekannya tidak segera menghampiri
dan memberi semangat pada Maisaroh, dipastikan dia bakal menangis sedih di
tengah lapangan. Sudah malu kentut di tengah orang banyak, sempat jatuh
menangkap angin pula tadinya.
“Konsentrasi Mai.” Bisik Puspa.
“Kamu pasti bisa,” ucap Zubaidah menepuk-nepuk pundaknya
maisaroh sebelum melakuka serve.
Huuup …
Bola dipukul lurus ke depan, disambut satu dua oleh pemain
lawan, diover lagi ke pemain depan dan …
Gedepaaaak …
Bola bergulir lama di bibir net. Seakan malas jatuh ke arena permainan. Diam-diam Zuleha mencolek net dan tentu saja bergerak. Bola pun masuk.
Jatuh di tempat yang kosong.
“Horeeee … masuuuuk!” Gemuruh suara penonton.
Skor berubah jadi 2-2.
Maisaroh serve. Bola dipukul melambung tinggi. Pemain lawan
berambut keriting dengan cepatnya meng-over itu bola ke temannya yang berdiri
di kiri depan. Di-over lagi ke tengah dan …
Trassh .. tas .. pak …
Bola tiba-tiba pecah. Masuk ke tempat yang sulit dijangkau
oleh Emi. Tim lawan menang. Tapi Zuleha melakukan protes.
“Tak bisa Pak Wasit. Sebelum bola masuk dan menyentuh arena
permainan, itu bola sudah pecah dulu an. Buktinya, ketika jatuh dan
menggelinding di lantai, sudah mantul-mantul. Tidak rata dan lancar lagi kayak
bola beneran …”
“Kamu sendiri gimana?” Tanya wasit kepada kapten tim lawan.
“Masuklah Pak Wasit. Jadi kami yang menang …”
Tak mau mengalah, akhirnya wasit berdiskusi sejenak dengan sesama
rekan kerjanya yang bertugas dari pinggir lapangan.
Hasilnya?
“Serve diulang …”
“Wuuuuu …!” Teriak penonton tim lawan. Mereka kecewa berat
dengan keputusan wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak tim tuan rumah.
“Wasit enggak fair ..” Celetuk salah seorang pendukung tim
lawan.
“Mending enggak usah tanding aja deh,” sahut yang lain.
“Wasit kena sogok …” Teriak yang lain.
“Wasit goblok,” kata siswa perempuan. Tak mau kalah, ikut protes
sambil berkacak pinggang di depan wasit.
Kericuhan tak sempat meluas setelah Dewan Guru kedua tim
turun tangan. Pertandingan antar sekolah menengah atasini sempat terhenti
beberapa saat, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
“Hidu Leha …!”
“Maju Leha …!”
“Menang Leha …”
Teriakan penonton inilah yang memberi semangat tambahan bagi
Zuleha dan kawan-kawan dalam bertanding. Berkat kekompakan dan mampu
mengendalikan emosi, lawan dipaksa tertinggal delapan angka (10-2 (3)) sebelum
akhirnya bola berpindah tempat.
Time out.
Saat time out yang diminta tim lawan, Bu Siska selaku wali
murid ikut memberi semangat pada anak didiknya itu. Berulangkali dia minta
Zuleha dan rekan-rekannya yang lain tetap fokus dan solid serta tidak
terpengaruh dengan permainan lawan.
“Satu hal yang harus kalian ingat,” kata Pak Darwin, pelatih
tim SMA Mawar, “Jangan sekali-kali lengah. Sebab, sedikit lengah bisa berakibat
fatal jadinya.”
“Perkuat pertahanan kalian. Jangan beri ruang kepada lawan
untuk menjatuhkan bola ke tempat yang kosong. Mengerti?”
“Mengerti …”
“Ada pertanyaan?”
“Saya Pak.” Puspa angkat tangan.
“Silakan Pus …”
“Kalau lawan main curang, Pak, apakah kita boleh membalasnya
dengan juga bermain curang?”
“Jangan sekali-kali. Tetap tenang dan kuasai jalannya
pertandingan.”
“Saya Pak.” Zuleha tak angkat tangan. Sebab, kalau sampai diangkat, penonton bakal
ngakak lihat ketiaknya basah oleh keringat.
“Please Leha …”
“Supaya cepat abis ya Pak, gimana kalau mereka kita serang
terus …”
“Caranya?”
“Kita gempur dengan smesh …”
Pasti seru …
“Bagus. Taka pa-apa. Asalkan tetap jaga kekompakan dan
stamina.”
Priiiiiit ..
Time out selesai. Pemain menempati posisinya masing-masing
di lapangan . Rupanya, tim lawan mengu bah taktik permainan. Kalau tadi banyak
melakukan smesh, sekarang dikurangi. Lebih banyak menem patkan bola-bola pendek
tapi tajam di tempat yang kosong.
Taktik ini membuahkan hasil. Satu persatu angka berhasil
diraih. Begitu cepat, skor sudah berubah jadi sama kuat: 10-10. Merasa di atas
angin, tim lawan mulai memprovokasi Zuleha dan kawan-kawan.
Caranya?
Banyak melakukan protes. Misalnya, saat serve, bola yang Emi
pukul jelas-jelas tipis di atas net, dikata kan menyentuh bibir net.
Walaupun akhirnya protes ditolak, lawan
sudah terpancing, diharapkan Zu leha dan kawan-kawan terpengaruh. Enggak concern lagi saat mem-blok bola,
melakukan smesh dan mengembalikan bola.
Bagusnya, Tim Mawar yang dikapteni Zuleha tak terpancing.
Siap bangkit. Mereka mengubah taktik permainan. Tidak lagi meladeni lawan
dengan bermain cepat disertai penempatan bola-bola pendek. Justru memborbardir
lawan dengan blok dan smesh tajam menyilang.
Hanya dalam hitungan menit, Tim Mawar sudah leading sepuluh
angka. Menyisakan lima angka lagi agar bisa memenangkan pertandingan di set
pertama, Nile justru tampak grogi. Dia sengaja mengulur-ulur wakt agar bisa
tenang dan fokus saat memukul bola.
Priiiit …
Nile dipanggil wasit. Dia diminta agar jangan terlalu lama
mengambil serve.
“Tidak boleh ya Dik. Paham?”
“Paham, Pak Wasit …”
“Kembali ke tempat …!”
“Baik Pak …”
Baru bersiap akan serve, terdengarlah yel … yelan …
“ Ye .. ye … ye …
maju terus duhai
Nile
harus bise raih
juare …
biar senang hati
BiJe …”
Ha ha ha ha …
“Teruskan perjuanganmu Nile …!” Teriak Adam sambil
melompat-lompat bertepuk tangan dengan raut muka ketawa ceria.
Nile sempat menoleh kea rah BiJe, senyumnya itu yang bikin
dia ingat selalu dan …
Pak .. tos …
Penonton bertepuk tangan. Pengembalian bola dari lawan tidak
sempurna. Menyangkut di net. Kesala han ini terjadi sampai empat kali.
Pada kali kelima …
Pak … tos …
Serve Nile dikembalikan lawan dengan langsung mesmesh itu
bola, sempat menyentuh tangan Zubaidah, jatuh dekat penonton.
Serve berpindah tempat.
Pak … Siiiiiiiing …
Bola melambung tinggi. Jatuh di luar di lapangan.
Zuleha senang karena timnya menang.
***
XI
PRIIIIIIIT …
Kedua tim memasuki lapangan kembali.
Kuyung cs bernyanyi riang ….
“ Ye … ye … ye …
masuk set yang kedue
moge-moge aje
Nile yang juare …
Ye… ye … ye …
hidup kelompok Zulehe
jangan takut same die
die manusie juge
same dengen kite …
Ye … ye … ye …
kite same bedoe
mudah-mudahan aje
Nile jadi juareeee ….”
Priiiit …
Set kedua dimulai.
Emi serve.
Duuuuup …
Bola melambung tidak terlalu tinggi. Tapi mengarah ke area
belakang, disambut dengan pukulan overan, diteruskan ke tengah, sebelum
di-smesh menyilang ke tempat yang kosong oleh pemain lawan.
“Satu kosong,” teriak wasit supaya kedengaran penonton yang
semakin riuh oleh sorakan dan tepuk tangan.
Priiiiit …
Serve pun berpindah.
Pemain bertubuh jangkung mengambil serve. Sudah jangkung tak
ada pinggang pula. Ceking kayak kurang vitamin. Ini orang apa tiang listrik
berjalan ya, bisik Puspa pada Zubaidah.
Pak .. dub…
Si jangkung melompat sambil memukul bola datar ke samping
kanan. Puspa mengambil bola itu dengan tinjunya. Diambut Nile, di-smesh pendek
oleh Emi.
Gedebuuuug ..
Bola masih bisa diblok empat pemain lawan. Jatuh ke posisi
di mana Maisaroh berdiri. Dia angkat menyilang it bola, secepat kila disambar
Zubaidah, jatuh di tempat yang kosong sebelah kiri areal pemainan lawan.
“Woooo …!” Teriak penonton terkagum-kagum dengan pukulan
Zubaidah barusan. Pemain lawan hanya
bisa melongok persis orang bego.
Satu … satu …
Maisaroh serve.
Pak toooos …
Bola mendatar ke kiri. Saking cepatnya bola bergulir, pemain
lawan dibuat terdiam.
“Wuuuuu …Gitu aja bingung. Payah, amatiran.” Ejek penonton paling
belakang berdiri dekat papan pencatat hasil pertandingan.
“Pulang ajalah ke dusun,” sahut rekan satunya.
“Nyangkul aja Mbak.” Teriak penonton yang lain sambil joget
punggung kuda.
Ha ha ha ha …
Kapten tim lawan mendekati wasit. Dia mengutarakan
keberatannya atas sorakan penonton yang dinilai berlebihan. Salah seorang tim
official Tim Mawar dipanggil wasit. Dia menjelaskan keberatan tim lawan.
Keberatan akhirnya diterima. Penonton diminta berlaku sopan, tenang, tidak
membuat keributan yang dapat mengganggu konsentrasi pemain di lapangan.
Priiiit …
Bola dipukul Maisaroh. Kali ini pukulannya pelan mengarah ke
samping kanan. Disambut lawan dengan meng-over ke kiri. Melompat tinggi dan
oleh si rambut keriting di-smesh ke tengah. Masih bisa diambil Zubaidah. Karena
kerasnya smesh-an itu, bola memantul jauh ke tempat penonton berdiri.
“Waduh. Bola sial,” gerutu Zubaidah. Cuma bisa geleng-geleng
kepala melihat bola melambung jauh dan jatuh di pelukan Bu Guru Siska.
Dua … dua …
Siswa berambut lurus mengambil serve. Melompat tinggi sambil bersuara … “husyaaa …”
Meski cepat alur bolanya ke tengah lapangan, Emi dengan mudahnya menerima itu
bola. Dia angkat itu bola, di over ke kiri lalu tengah. Diterima Zuleha. Saat
melakukan smesh, Zuleha sempat menepuk jari lawan sehingga mengerang kesakitan.
“Aduuuh … patah jari gue.” Jeritnya.
Pertandingan dihentikan sementara waktu. Pemain yang cedera
tadi diberi pengobatan. Saat bersamaan kapten Tim Mawar, Zuleha diminta
menghadap wasit.
“Siang Pak Wasit.” Zuleha memberi hormat.
“Siang juga …”
“Kata banyak saksi,” kata Wasit, “Anda yang memukul
tangannya salah seorang pemain lawan. Betul?”
“Betul, Pak.”
“Kenapa anda lakukan?”
“Karena menggoda saya Pak …”
Ha ha ha ha …
Penonton paling depan yang sempat nguping diam-diam ketawa
terpingka-pingkal mendengar jawaban polos dari Zuleha.
“Lucu juga adik kita yang gemuk itu,” kata kakak kelasnya
Zuleha.
“Udah gemuk, jagoan pula,” sahut yang lain.
Ha ha ha ha …
“Menggoda gimana?” Tanya Wasit separo heran.
“Waktu saya akan men-smesh, Pak Wasit, kedua tangannya
bergerak-gerak di bibir net. Nah, maksud saya nepuk alias mukul tangannya,
supaya jangan macam-macamlah. Kalau mau blok, ya blok aja.” Jelas Zuleha.
“Apa memang menurut anda mengganggu?”
“Ya mengganggulah, Pak Wasit. Anda lihat tadi kan Pak. Smesh
saya ke kiri. Seharusnya ke kanan itu Pak. Konsentrasi saya terganggu. Untung
bola itu masuk. Kalau enggak, pasti diteriaki penonton saya Pak.”
Pak Wasit berdiskusi sejenak dengan temannnya sesame wasit.
Tak lama diskusinya. Cuma setengah menitlah. Setelah itu …
“Silakan kembali ke tempat ponakan …”
“Terima kasih Pak.”
Ternyata pemain lawan yang mengalami cedera tadi itu
diganti. Tim Mawar lega dan merasa tidak terbe bani. Mereka dinyatakan tidak
bersalah. Justru lawanlah yang diperingatkan karena telah memulai melakukan
upaya provokasi.
“Ingat itu ya!” Kata Pak Wasit kepada kapten tim tamu. Si
kapte memasuki lapangan kembali dengan raut muka cemberut, tidak puas. Menolak diam-diam keputusan wasit
barusan.
Tiga dua …
Memanfaatkan mental lawan yang mulai down, Tim Mawar secara
perlahan berhasil merebut angka demi angka sampai tujuh. Dengan demikian
kedudukan sementara berubah menjadi 10-2.
Lawan meminta time out.
“Kamu harus tenang Nil,” ucap Pak Darwin. Dia juga meminta
Zuleha bersikap tenang. Tidak mudah terpancing emosi dan bisa menahan diri
serta tetap berada di jalur kemenangan.
“Ibu juga minta kalian harus tetap solid,” pesan Bu Siska.
“Gimana kalau mereka duluan, Bu?” Tanya Zubaidah.
“Duluan kenapa?”
“Menghina, misalnya mencibir, mengolok-olok. Masa kita
diamkan aja Bu.”
“Tak usah diladeni,” jawab Pak Darwin. “Tapi kalau sudah di
luar batas, lapor aja ke wasit. Kan beres.”
“Oke … sekarang sama-sama menundukkan kepala. Tangan sama ke
tengah, saling berpegangan. Dan sebut ini kuat-kuat … “Mawar menang.” Ucap Bu
Siska memberi semangat.
Mawar menang …
Mawar menang …
Husyaaaa …
Priiiit …
Pertandingan dilanjutkan kembali.
Nile serve.
Bola dipukul melintir. Melambung tepat jatuh di tengah areal
permainan lawan. Diover ke kanan depan, disambut si jangkung dengan smesh
menyilang dan …
“Masuuuuuuk …!”
Penonton tim lawan bersorak sorai. Beberapa di antaranya membuka baju sambil
meneriakkan yel-yel …..
“Kami datang kami menang
kami pulang bawa piala
kami datang lawan terjengkang
kami pulang lawan tak enak
memandang …”
Yel-yel inilah awal keributan terjadi. Bermula saling ejek
antar suporter. Kemudian salah seorang guru dari Tim Mawar mendatangi suporter
lawan agar tidak bersikap berlebihan, memanas-manasi keadaan yang sebelumnya
sempat memanas.
Tidak terima, mereka dorong guru tersebut sampai terjatuh.
Belum sempat bangun, ditinju beberapa siswa mukanya sampai bengkak. Begitu cepat kejadian itu berlangsung, saking
cepatnya, Pak Darwin sang pelatih, tak sempat melerai dan baru bisa melerai
setelah BiJe dan kawan-kawan turun tangan.
“Minggir kalian atau kuhabisi dia,” ancam Kuyung sambil
menjepit leher salah seorang siswa dengan kedua tangannya.
Suporter tamu yang bermaksud memukul suporter Tim Mawar
terpaksa mengurungkan niat mereka. Mereka serempak mundur ke belakang dan
berjanji tidak akan melakukan tindakan pemukulan dan pengeroyokan lagi.
“Yung. Lepaskanlah anak itu …” Pinta Pak Darwin. Kuyung
belum jua mau melepaskan. Dia baru mau melepaskan setelah dibujuk Bu Guru
Siska.
“Alhamdulillah …!” Ucap guru-guru yang lain. Sudah pada
cemas semuanya. Bersiap-siap ambil
langkah seribu.
Pertandingan bisa dilanjutkan kembali dengan kedudukan
sementara 10-3.
Lawan serve.
Bola lambung itu dikembalikan Puspa ke tengah. Diover ke
kanan, ke tengah lagi dan …
Praaak … Tassss…
“Adoooow ….!”
Bloking tak mempan. Smesh Zuleha barusan menghantam muka
salah seorang pemain lawan sampai berdarah hidungnya.
Pingsan?
Tidak. Tapi pertandingan terpaksa dihentikan sementara
sedangkan pemain yang cedera tadi diobati di pinggir lapangan oleh tim medis.
Dari pinggir lapangan, Zuleha berdebat seru dengan si jangkung.
Debat soal apa?
“Kamu itu tengok-tengok dong …”
“Tengok apa?” Tanya Zuleha sambil berkacak pinggang. Juga si
jangkung. Keduanya sama-sama berkacak pinggang. Pamer dagu dan buah dada.
“Nyemesh itu ke lantai, bukan muka orang, tau …” Sergah si jangkung,
yang kalau tak keburu dilerai, bogem mentah bakal menghampiri wajahnya Zuleha.
“Ayo kalau berani. Mentang-mentang elu jangkung, seenaknya
ngehina orang …”
“Sudah-sudah Ha …” Beberapa teman Zuleha seperti Nile, Puspa
dan Emi menarik paksa Zuleha agar tidak meladeni si jangkung yang mulai naik
pitam.
“Awas lu ya endut …!” Ancam si jangkung yang merontal-ronta minta
dilepaskan dari rangkulan teman-temannya.
“Lu juga awas jangkung. Tak gocoh baru tau rasa elu …” Balas
Zuleha tak kalah sengitnya sampai-sampai berteriak … Ayo kita berkelahi.”
Karena suasana semakin memanas, para guru kedua belah pihak
yang sama-sama menyaksikan pertandingan,
meminta wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan terlebih dahulu sampai suasana
mereda danpara pemain bisa meredam emosinya masing-masing.
Wasit mengabulkan permintaan ini. Tapi wasit hanya meminta
batas waktu mediasi sampai paling lam bat satu jam ke depan. Sayang, hingga
batas waktu yang ditentukan, tim tamu tak mau melanjutkan pertandingan.
“Kami dengan ini tidak bisa melanjutkan kembali pertandingan
ini dengan alasan keamanan,” kata official Tim Beruang seraya menyerahkan
beberapa poin keberatan di secarik kertas kepada wasit.
Sementara tim tuan rumah, Tim Mawar, bersedia melanjutkan
kembali pertandingan tanpa syarat dan ketentuan …
“Kami siap melanjutkan pertandingan. Kami menilai keamanan
sudah terkendali. Kalau ada teriakan itu bukan dari suporter kami. Tapi suporter
tetangga kami,” kata Pak Darwin di hadapan
wasit.
Karena masing-masing punya alasan tersendiri dan keinginan
yang sangat bertolak belakang, Dewan Wasit akhirnya memutuskan untuk berembuk
sejenak guna mengambil keputusan yang seadil-adilnya.
Sambil menunggu keputusan akhir, Tim Mawar duduk bersila di
pinggir lapangan sambil tertawa riang dan penuh canda. Sedangkan Tim Beruang
berangsur-angsur berkemas untuk meninggalkan arena pertandingan, bersiap untuk
pulang.
Wasit menunggu sampai
lima belas menit lamanya. Karena tak satupun pemain dari Tim Beruang yang masuk
kembali ke arena pertandingan, akhirnya diputuskan tim tuan rumah Mawarlah yang
berhasil memenangi gelar juara dalam babak final kejuaran bola voli antar
SMA ini.
Selamat ya …
***
XII
KEMENANGAN yang
diraih Zuleha dan kawan-kawan ternyatakan menyisakan dendam tak berkesu dahan. Buktinya, usai pulang sekolah dan bermaksud jalan-jalan
sekaligus belanja di mal, mereka dicegat tiga orang dara di depan pintu masuk
dekat tanah lapang.
Siapa tiga dara itu?
Mereka adalah pemain bola voli dari Tim Beruang yang kemarin
melakukan walk-out dan dinyatakan kalah karena menolak meneruskan
pertadingan. Mereka bukan hanya tak mau
menerima kekalahan, tapi juga menaruh sakit hati pada Zuleha.
“Hei Dut. Sini lu …!” Teriak si Jangkung mengajak Zuleha
duel.
“Elu yang ke sini Kung …” tantang Zuleha tak mau kalah.
Si jangkung ditemani
dua rekannya, Tomboy dan Keriting, maju ke depan. Diikuti pula oleh Zuleha, Emi
dan Puspa. Kini jarak antara mereka kira-kira satu setengah meter. Saling
berhadapan. Pelotot-pelototan disertai kepalan tangan yang siap untuk
dilepaskan.
“One by one, kalu elu berani.” Kata Puspa.
“Oke. Siapa takut?” Balas si Tomboy sambil
menyilang-nyilangkan kedua kakinya seperti anak bermain cak ing kling.
“Siapa lawan siapa. Kami bertiga siap ladeni.” Tantang Emi.
“Oke,” jawab si Jangkung.
Dia menunjuk Zuleha, lalu jari telunjuk itu mengarah ke dadanya.
Kemudian menunjuk Puspa dan Keriting. Terakhir Emi dan Tomboy. Berarti lawan
mereka sudah jelas, siapa. Tinggal lagi menunggu aksinya saja.
“Siapa duluan?” Tanya Emi pada si Jangkung.
“Elu sama si Tomboy,” jawab Jangkung.
Membiarkan Emi dan Tomboy berdua di tengah lapangan. Si
Jangkung menginstruksikan tak boleh ada satupun yang mendekat, apalagi sampai
memberikan pertolongan.
Husyaaaa …
Emi pasang kuda-kuda. Si Tomboy juga sama. Mereka berdua
masih berputar-putar mencari titik kele mahan masing-masing. Saling menggertak
hendak menyerang, tapi belum terlihat jual beli pukulan dan tendangan.
Hiyaaaaat …
Emi menyerang dengan tendangan salto beberapa kali. Setelah
salto dia mengajak Tomboy adu pukulan. Keduanya pun terlibat jual beli pukulan.
Saling pukul, sama-sama kena dan terpelanting jatuh ke tanan rerumputan.
Sama-sama meringis kesakitan. Terutama di bagian dada dan
perut yang terkena pukulan. Meski sakit, keduanya terus melepaskan pukulan.
Kalau tadi tangan, sekarang kaki.
“Accch …” Si Tomboy meringis kesakitan setelah tendangan Emi
mengenai perut bagian atas.
Belum sempat mengelak, Emi menghujani muka dan dada lawannya
itu dengan pukulan satu dua, disertai teriakan … husyaaa … beberapa kali.
Si Tomby terjengkang. Dia terduduk di atas rumput. Dia
mencoba berdir tapi tak bisa sementara Emi hanya berdiri saja, tetap siaga
sekiranya ada serangan yang datang tak terduga.
Si Jangkung mengisyaratkan perkelahian belum berakhir. Dia
memandang tajam kea rah Tomboy. Setelah berusaha beberapa kali, dia akhirnya
bisa berdiri dan melanjutkan duel seru ini.
“Majulah taik kucing,” ejeknya pada Emi yang masih berdiri
dan belum melakukan tindakan apa pun sampai Tomboy berdiri dan menghina
dirinya.
“Elu duluan yang maju, beruk korengan …”
“Elu …”
“Baiklah kalau begitu …”
Emi berlari-lari tapi tidak menyerang Tomboy. Dia hanya
berkeliling, mengelilingi Tomboy yang bingung dengan jurus yang diperagakan
Emi.
“Jurus elu cuma segitu ya .. Tak uk uk ya …” Ejeknya sambil
mencongkel tahi hidung.
“Ini baru permulaan wahai beruk. Nama jurus ini adalah ‘Kucing
Lari Terkencing-kencing’ …”
Hua ha ha ha …
Si Tomboy tertawa mengejek.
“Kalau cuma segitu mah, banyak di pasar loak kunyuk. Mending
elu pulang aja sana.” Sindir Tomboy tertawa. Kali ini lebih kencang ketawanya.
Saking kencangnya, burung pipit yang sempat singgah di dahan pepohonan, terbang lagi
ke balik gedung perkantoran.
“Itu belum seberapa beruk. Coba elu lihat jurusku kali ini
…”
Emi berlari menyerang Tomboy dengan tangan, menyatu ke kanan.
Ciyaaaat …
Setelah dekat, Tomboy yang sudah bersiap menerima serangan
itu, terpaksa gigit jari karena Emi bukan mau memukul, justru bergulingan di
rerumputan dengan kedua kakinya, tanpa disangka-sangka sebelumnya, berhasil
menjepit kaki lawannya.
Bruuuuk …
“Adooow ..!”
Si Tomboy terjatuh. Roboh seketika. Kali ini dia tak bisa
bangun lagi setelah dihujani bertubi-tubi dengan pukulan oleh Emi. Dia baru
berhenti memukul setelah si Tomboy tak bergerak lagi.
“Stoooop …!” Teriak si Jangkung dengan suara lantang.
Emi berdiri lagi. Dia kembali ke pinggir lapangan.
“Berikutnya …”
Si Keriting melompat sambil gingkang dan salto beberapa kali
dengan memperagakan jurus-jurus yang sulit dimengerti kecuali oleh dirinya
sendiri.
Bagaimana dengan Puspa?
Puspa hanya diam saja ketika si Keriting memprovokasinya
dengan kata-kata … Anjing lu … Setan lu .. Goblok lu … dan terakhir … Cewek
murahan lu …” Bahkan dia tak juga bergeming saat lawan memperagakan
jurus-jurus ‘Gilo Babi’ yang tidak lain
hanya untuk menjatuhkan mental Puspa.
“Kalau itu mah banyak di pasar sayur, cuy.” Sindir Puspa.
Ternyata sindiran ini membuat si Keriting marah besar.
“Hei elu. Serang gue sekarang …!” Tantang si Keriting.
“Apa enggak salah tuh,” balas Puspa seraya mencibir.
“Enggak. Elu yang mesti nyerang gue …”
“Berarti elu itu penakut …”
“Elu yang penakut …”
“Elu … Mulutnya aja yang gede … Bilang dong dari tadi kalau
takut. Enggak usah macam-macamlah. Belagak jagoan. Dasar cewek tak tau diri.
Maunya yang enak aja. Sompret ..”
“Apa elu bilang tadi?”
“Sompreet …”
Ciyaaaat …
Si Keriting menyerang membabi buta. Menendang, memukul dan
berikutnya bergulat. Kedua-duanya berguling-gulingan di rerumputan. Silih
berganti menindih. Sampai akhirnya …
Plak … plak … plak …
“Serang terus dik ..” Teriak lelaki paruh baya memberi
semangat.
Keriting dan Puspa yang merasa kini banyak disaksikan orang
dari pinggir lapangan, bukannya malu dan menghentikan perkelahian. Justru
keduanya makin sengit adu jotos, saling tendang dan merobek paka ian, sehingga
di beberapa bagian tertentu, seperti ketiak dan paha, kelihatan walau tidak terlalu lebar robeknya.
“Auuuuw … Aduh mati ...”
Si Keriting menjerit kesakitan karena lehernya digigit
Puspa. Merah dan berdarah. Namun lawan masih sempat melepaskan pukulan ke
perut, membuat Puspa sempat hilang keseimbangan sebelum akhirnya
tatuh terlentang.
Saat itulah, dalam keadaan leher berdarah-darah, si Keriting
kembali melepaskan pukulan bertubi-tubi ke muka Puspa. Sepertinya Puspa akan
pingsan, karena walaupun pukulan itu tidak terlalu keras, muka yang tadinya
mulus, kini mulai bengkak dan memar.
Husyaaa …
Duuuup …
Kedua kakinya memelintir leher si Keriting, lalu terguling
dan gantian menindih. Saat lawan kena tindih, Puspa tidak melepaskan
pukulan. Tapi mengunci habis kedua
tangan lawan dalam posisi melebar.
“Kampret lu …!”
“Taik kucing lu …” Balas Puspa yang semakin kuat mengunci
kedua tangan si Keriting.
Praktis lawan hanya mengandalkan kedua kakinya saja. Tapi
bagi Puspa tak berarti sama sekali. Karena saat Keriting akan melepaskan tendangan
ke kepala dan punggungnya, dia mundur ke selangkangan sehingga kedua kaki lawan tak leluasa
bergerak.
“Ayo pukul gue kalau berani,” ejek si Keriting.
Puspa tidak juga melepaskan pukulan. Cuma kali ini kedua
tangan Keriting diangkat sedikit lalu dihentakkan ke rumput.
“Aduuuuuh …” Jeritnya.
Setelah tangan dan kedua kaki si Keriting diangkat, diseret
sebelum akhirnya dipelintir ke atas, samping dan bawah.
“Aaaaach …!”
Itulah jeritan terakhr dari si Keriting. Karena setelah itu dia tak sadarkan diri.
Plak .. plak .. plak …
“Itu baru hebat, dik.” Puji pria berkumis tebal.
“Bila perlu cowok yang nakal juga kamu sikat habislah dik.”
Kata temannya sambil menghisap rokok cerutu.
“Kamu pantas menang dik,” sahut lelaki berambut gondrong.
“Kalai seandainya ini pertandingan beneran, kamu layak menjadi juara …”
Berikutnya, inilah duel yang ditunggu-tunggu, antara si
Jangkung dan Zuleha. Penonton dadakan ini terdi am. Mata mereka tertuju ke
depan, tengah lapangan. Menunggu apa gerangan yang akan dilakukan oleh keduanya.
Teryata, hingga tiga menit berjalan, Zuleha dan si Jangkung,
keduanya hanya berputar-putar sambil me lihat dan memperagakan kedua tangan dan
kaki silih berganti, maju dan mundur, tanpa melepaskan satu pun pukulan. Sangat membosankan.
“Wuuuuu …” Teriak bapak-bapak yang baru pulang belanja
sempat mampir karena ada kerumunan orang dari pinggir lapangan.
“Serang dik. Jangan takut,” kata lelaki berkepala petak.
Teriakan dan sorakan penonton itu akhirnya membuat si
Jangkung naik darah. Dia melepaskan tendangan kea rah perut, berhasil ditangkis
Zuleha. Dipelintirnya ke kanan membuat lawan jatuh bergulingan.
“Kurang ajar …!”
Si Jangkung kali ini melepaskan pukulan satu dua ke muka dan
dada Zuleha. Ada yang kena, tetapi juga yang meleset. Dengan satu kali tangkisan,
kepalan tinju si Jangkung berhasil ditahan, sebelum didorong keras dengan
tubuhnya yang tambun ke depan.
Ketika si Jangkung terjatuh, Zuleha menghujaninya dengan
pukulan kea rah perut dan dada. Sayang tak ada yang kena karena lawan masih
bisa mengelak. Sempat diludahi, Zuleha membalasnya dengan memukulkan kepalanya
ke mulut si Jangkung.
“Aduh … sakit deh …”
Zuleha kemudian mengangkat kepala si Jangkung,
membentur-benturkannya ke rumput. Mengerang kesakitan.
“Ngaku kalah enggak?” Bentak Zuleha.
“Sikat saja dik. Jangan beri ampun lagi itu orang.” Teriak
sebagian lelaki yang baru saja ikut nonton sepulang dari latihan futsal.
“Ampun … ampun …!” Ucap si Jangkung dengan suara lemah
memelas.
“Apa? Coba ulangi sekali lagi …” Zuleha mendekatkan
telinganya ke mulut si Jangkung.
“Taik anjing lu …!”
Haaaa …
Darah Zuleha menggelegak. Ditariknya pergelangan tangan si Jangkung. Diangkatnya tubuh kurus tinggi itu tinggi-tinggi, lalu dihempaskannya ke rumput tak jauh dari kerumunan orang yang menyaksikan.
Darah Zuleha menggelegak. Ditariknya pergelangan tangan si Jangkung. Diangkatnya tubuh kurus tinggi itu tinggi-tinggi, lalu dihempaskannya ke rumput tak jauh dari kerumunan orang yang menyaksikan.
“Mati enggak ya?” Tanya remaja berseragam putih abu-abu
kepada rekannya.
“Enggak kayaknya,” jawab rekannya memberanikan diri mendekatkan telinganya ke dada si Jangkung.
“Masih kayaknya,” jelas cowok bermata besar.
“Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?”
“Sebaiknya begitu. Mana tahu parah lukanya,” sahut bapak
yang menggendong dua anaknya yang masih
kecil-kecil.
“Biarin ajalah, Pak.” Ucap Zuleha menjelaskan duduk
masalahnya.
“Tapi dik, apa nanti ….?”
“Enggaklah. Enggak apa-apa. Sebentar lagi juga udah baikan,”
jelas Zuleha.
Benar saja. Setelah si Keriting dan Tomboy siuman, menyusul
pula si Jangkung. Dipapah Zuleha saat berdiri. Memeluk dua rekannya yang sama
terluka.
***
XIII
DI lain tempat.
Di sebuah lorong tembus ke pusat kota. Petruk baru saja
turun dari opelet. Menyeberang jalan. Dia memilih jalur sebelah kanan. Agak
sepi lorong ini memang, tapI lebih cepat sampai ke rumah.
Sambil menahan rasa lapar dan haus serta sepi yang menyesap,
Petruk bersiul-siul dengan sesekali ber dendang disertai langkah kaki yang
mantap. Kadang ketawa sendiri, tersenyum lalu menepuk-nepuk jidatnya menahan
geli.
Entah apa gerangan yang dia pikirkan. Namun sayup-sayup
terdengar suaranya mendendangkan tembang ‘Adios Amigo’ ….
“Adios
amigo adios my friend
the road we have
travelled
has come to an
and
when two loves the same
love
On love has to loose
and it’s you who
she
longs for it’s you you she
would
choose adios
compadre
what must be
must be
Remember to name one
mucoca for me
I ride to he rio
where my life
I will spend
adios amigo
adios my friend
….”
Belum habis lagu itu Petruk dendangkan, sebuah mobil sedan berflat hitam berhenti persis di
dekatnya ber jalan kaki. Dua orang lelaki bertubuh tinggi besar dan kekar
keluar dari mobil itu. Menguntitnya dari belakang, sebelum akhirnya diciduk dan
dibawa paksa masuk ke dalam mobil.
Tak seorangpun yang melihat kejadian siang itu. Praktis, pencidukan
Petruk berjalan lancar, sangat cepat tanpa perlawanan. Jalan lengang kembali sesaat setelah mobil
melesat pergi.
“Lepaskan aku Pak. Aku mau dibawa ke mana Pak?” Petruk
meronta-ronta minta dilepaskan. Minta di belas kasihani. Sayang, permintaan itu
tidak ditanggapi, malah dibalas dengan bogem mentah ke pipi Petruk.
“Eeeekh …”
Petruk terdiam. Kepalanya tib-tiba berkunang-kunang.
Penglihatannya kabur. Namun dia masih sempat melihat dan mendengar dua lelaki besar di sampingnya berbisik
… “Cukup .. cukup. Kita serahkan saja kepada bos …”
Petruk baru sadar setelah mukanya disiram air. Basah kuyup
badan dan pakaiannya. Kini dia baru bisa melihat dengan jelas tempat di mana
dia kini berada, diturunkan dari mobil tadinya. Sebuah gedung besar yang sudah
lama tidak dihuni.
Gedung yang lokasinya berada di pinggiran kota itu tampak
lengang. Catnya sudah lusuh, bertingkat
tiga. Kurang terawat dengan baik. Selain banyak diketemukan sarang laba-laba
dan rumah kelelawar, juga sampah berserakan di mana-mana.
Petruk sempat melihat ada beberapa lemari tua di lantai
dasar. Berlantaikan semen, selain tempat tidur yang lusuh, tak ada peralatan
lain di situ. Hanya seliweran tikus hilir mudik dari tempat tumpukan barang
bekas menuju parit yang airnya sudah lama tidak mengalir lagi.
Sementara di lantai dua, Petruk melihat ada ruangan kosong.
Tak ada satupun perabotan di sini. Ada beberapa helai tikar lusuh, lama tak
dibersihkan. Selebihnya sawang-sawang dan tempat singgahnya burung di kala
malam, terbang lagi kala pagi menjelang.
Di lantai tiga ada tiga buah kursi. Entah untuk apa kursi
itu diletakkan di tempatnya. Tapi yang pasti, be gitu Petruk tiba di tingkat
paling atas ini, dua lelaki di sebelahnya memaksanya untuk menduduki kursi itu.
“Diam …!” Bentak lelaki bertato besar di lengannya itu
sambil menatap tajam kea rah Petruk. Petruk sendiri tak berani menatap balas
tatapan mata itu. Mata merah dengan dengus nafas laksana nafas seratus ekor
kuda.
“Kalau macam-macam gue telen jantung dan hati kamu punya.
Mengerti?” Sergah lelaki satunya seusai mengikat kedua tangan dan kaki Petruk
di kursi.
Petruk hanya diam. Kepalanya tertunduk dan baru dia tegakkan
kembali setelah dua lelaki berwajah menyeramkan itu pergi meninggalkannya
sendirian dalam posisi kedua tanan dan kaki terikat di tiang kursi.
“Tempat apakah ini?” Tanya Petruk dalam hati. Sunyi
sekeliling, dan bagaimana sekiranya kalau malam tiba. Siang, tengah hari
seperti ini saja sudah gelap, apalagi Magrib, Isya’ dan berlanjut ke Subuh
nanti.
Konon kabarnya gedung ini ada penunggunya. Seorang wanita berjubah hitam, yang entah
dari mana asalnya, sering mengganggu orang yang datang berkunjung dan menginap di tempat
ini. Jauh dari pemu kiman warga. Namun sering dilewati mereka yang hendak turun
ke sawah, kalangan dan bekerja di pab rik karet serta pengalengan ikan.
“Ya Tuhan. Mati aku …” Ucap Petruk. Andaikata saja dia bisa
membuka ikatan tali ini tentu dia bisa secepatnya meninggalkan tempat
‘terkutuk’ ini.
“Bagaimana ini?”
Petruk gelisah. Dia resah. Takut bercampur cemas. Dia
berusaha sekuat tenaga menggerak-gerakkan tempat duduknya dengan cara menggeser
pelan pantatnya. Tapi percuma dia lakukan itu karena selain kursi hanya bisa
bergerak sedikit, juga andaipun sampai ke dinding gedung, dengan posisi tangan
dan kaki terikat, mustahil bisa melepaskan diri dengan selamat.
“Cepat sana …!” Terdengar suara teriakan dan hardikan di
lantai dasar.
“Siapa gerangan?”
Pikiran Petruk semakin berkecamuk. Sudah takut, kini diteror
dengan suara hardikan, dan entah suara apa lagi.Walaupun akhirnya diketahui
kalau suara barusan berasal dari lelaki besar yang menyeret paksa BiJe dan
Kuyung.
“BiJe dan Kuyung?”
Petruk bergumam dalam hati.
“Odi. Kau ikat orang ini. Aku yang itu,” ucap Weli, lelaki
berkepala pelontos.
Baik BiJe maupun Kuyung, mereka berdua ini dipaksa duduk
bersamaan dekat Petruk. Sama seperti Petruk, kaki dan tangan keduanya diikat di
kursi. Setelah itu, salah seorang
‘preman kampung’ ini menelepon seseorang yang dia panggil dengan sebutan ‘Bos
Besar’. Sesekali serius, lalu tertawa terbahak-bahak.
Sementara preman satunya, Weli, berjalan ke sana kemari.
Seolah tak betah berlama-lama di tempat tak bertuan ini. Ekspresi wajahnya
terlihat kesal dan geram.
“Gue berangkat, elu yang jaga mereka. Oke?” Meski sempat
menolak, Weli akhirnya bersedia berbagi tugas. Odi menemui Bos Besar, sementara
Weli diminta menjaga baik-baik Kuyung,
Petruk dan BiJe.
Ketika Weli duduk teseler
di dinding dekat tangga, Petruk bercerita kalau dia diciduk saat pulang
sekolah.
“Tak jauh dari rumahku,” akunya terus terang kepada BiJe dan
Kuyung.
“Lalu?” Tanya Kuyung.
“Ada mobil berhenti di dekatku. Keluar dari mobil itu dua
lelaki besar, memaksaku masuk ke dalam mobil. Pipiku dipukul, aku pingsan dan
setelah sadar tiba-tiba sudah ada di tempat ini.”
“Kamu Yung?”
“Kurang lebih samalah dengan apa yang dialami Petruk, Je.
Bedanya, aku diajak makan dulu dan setelah itu aku tak sadarkan diri …”
“Ahaaa … kamu pasti dari minum sianida kan?” sindir Petruk.
“Enggak taulah aku. Apa sianida atau apa. Pokoknya setelah
makan, tiba-tiba pandangan mataku kabur dan aku setelah itu tak ingat apa-apa
lagi …”
“Kamu sendiri gimana Je?”
“Seperti biasalah, Petruk,” jelas BiJe. “Aku pulang
bersepeda. Mulanya sih biasa-biasa saja. Sepeda kukayuh. Melewati lorong-lorong,
lalu ke pusat pertokoan. Masuk lorong lagi. Pas mau belok ke tikungan, ada
mlobil. Jegaaar .. Langsung tabrak akulah itu mobil …”
“Lalu?”
“Sepedaku jatuh. Aku juga jatuh. Aku luka memar sedikit. Dua
lelaki besar mendatangiku dan memaksaku naik ke mobil mereka …”
“Kenapa enggak kamu lawan mereka, Je?”
“Enggak mungkinlah aku melawan mereka, Petruk. Aku sendiri,
setelah jatuh memang bisa bangun sendiri. Tapi entah kenapa tenagaku
seolah-olah habis. Berjalan saja beratnya minta ampun …”
“Sepeda lu Je?”
“Ditinggal begitu saja, Yung.”
“Sayang … “Kata Petruk.
“Yach, mau gimana lagi. Untung masih bisa selamat …”
Ha ha ha ha …
Weli ketawa ngakak.
Sssssst …
“Kita diam. Pura-pura enggak
tahu,” bisik BiJe.
“Iya sayang. Jadi orang berapa yang diajak nonton?”
“Tujuh orang Mas Weli,” jawab seorang perempuan dengan nada
mendesah manja.
“Siapa-siapa saja mereka say?”
“Aku dan Mas Weli, kan dua. Terus bapak dan emakku, dua.
Jadi empat. Yang tiga lagi, adik-adikku. “
“Mereka apa suka
nonton film ya say?”
“Ya tentulah. Bosan nonton televise terus. Sekali-sekali kan
nonton di bioskop kenapa sih. Eeeem … Mas Weli?!”
“Kenapa say?”
“Mas keberatan eggak kalau aku ngajak keponakanku lagi?”
“Enggaklah. Memangnya
berapa orang keponakanmu?”
“Sepuluh orang …”
Ha ha ha ha …
Ketawa dipaksa.
“Boleh kan Mas?”
“Eeeem … gimana ya?”
“Lu katanya enggak keberatan ngajak keponakanku nonton …
Gimana toh Mas Weli ini?”
“Iya betul … aku memang enggak keberatan. Aku malah senang
nonton rame-rame. Tapi …”
“Kok pake tapi pula Mas Weli?”
“Bisa enggak say dikurangi gitu. Enggak usah sampai sepuluh.
Lima aja cukuplah. Bisa kan say?”
“Enggak bisa, Mas.”
“Kenapa emangnya?”
“Karena kalau ada yang ditinggal pasti menangis.”
“Oooo gitu ya.”
“Ek .. eeee .. Mas.
Gitu emangnya …”
“Lalu ke bioskopnya naik apa dong?”
“Sewa mobil aja …”
“Lho … yang bayar sewanya?”
“Mas Weli …”
“Bayar karcisnya?”
“Mas Weli …”
“Yang jajannya?”
“Mas Weli.”
“Makan sama-samanya?”
“Juga Mas Weli …”
“Kamu sendiri gimana say?”
“Maksud Mas Weli?”
“Bawa uang kagak nonton di bioskop?”
“Enggak …”
“Sepeser pun enggak?”
“Enggak. Kan ada Mas Weli.”
“Walah-walah … nasibku … bisa bangkrut aku …”
Sayang, ucapan Weli barusan kedengaran sama yang di hati.
“Mas Weli pelit. Gitu
aja bilang bangkrut. Gimana kalau nikah nanti …”
“Lain dong say …”
“Lain apanya?”
“Kalau nikah kan cuma kita berdua say. Enggak ngajak orang
lain. Betul kagak?”
“Kalau sudah punya anak?”
“Sisa kita baru diberikan kepada anak.”
“Itu sih sama aja
Mas. Pelit juga ..”
“Ya udah kalau gitu. Mas Weli janji enggak bakalan pelit lagi
asalkan …”
“Asalkan apa Mas Weli?”
“Ada uangnya.”
“Kalau kagak ada uangnya?”
“Pelit lagi …”
“Busyet … Mas Weli lucu deh.”
“Kamu juga say …”
“Kok sama ya?”
“Iya … kan bakalan berdua … ya enggak, ya enggak …”
Ha ha ha ha …
Telepon seluler ditutup.
“Je … hapenya …” Bisik Petruk.
“Kita curi maksudmu?” Tanya Kuyung.
Petruk mengangguk.
***
XIV
NGEEEEEERG … ngerrrrgh …
“Je .. ngorok dia,” bisik Petruk.
Kuyung puny aide. Apaan tuh? Dia menggeser kursinya
membelakangi BiJe. Oleh Bije, kursi itu
didorong berkali-kali, sehingga membuat Kuyung terjatuh dengan kaki dan tangan
tetap terikat di kursi.
“Ai … sayangku.
Kaulah bulan purnamaku. Betapa indah rupamu. Aku cinta padamu …”
Wuli menggeliat. Dia bermimpi. Tadi miring ke kanan, kini
posisi tidurnya terlentang. Mulutnya komat-kamit dengan sedikit mengeluarkan
air liur. Matanya terpejam. Tapi raut mukanya ceria. Lagi sumringah tampaknya.
Sssssssst …
“Enggak apa-apa. Lanjut …” Bisik Petruk lagi.
Kali ini giliran BiJe yang membelakangi Kuyung. Dia
menggerakkan kursinya. Petruk kemudian mendo rong kursi itu dengan kepalanya.
BiJe jatuh dengan posisi kepala persis di dekat tangan dan kaki Kuyung yang terikat.
“Jeeee …”
Petruk meminta BiJe tak beraksi dulu. Menyusul
bolak-baliknya posisi tidur Weli. Tampak gelisah dengan sesekali batuk-batuk
kecil berdahak.
“Yang … aku tidur lagi,” kata Weli sembari membalikkan
badannya miring ke kanan.
“Gimana Ruk?” BiJe kepayahan. Nafasnya mulai tak teratur.
Begitu juga dengan Kuyung.
“Cepatlah Je …”
“Sebentar Yung …”
“Oke. Lanjut,” ucap BiJe memberi isyarat jempolnya mengarah
ke bawah.
“BiJe pun mulai beraksi. Dia menggigit ikatan tali yang
mengikat tangan dan kaki Kuyung. Sementara Petruk berjaga-jaga.
“Pelan-pelan Je …”
BiJe, dengan giginya yang tajam, pelan tapi pasti berhasil
mengurai tali pengikat itu. Meski belum terlepas dari ikatannya, ketebalan tali
mulai berkurang. Menipis karena digigit BiJe.
“Cepat sedikit, Je.” Pinta Petruk.
“Ya … iya.”
Weli terjaga dari tidurnya. Dia duduk dan berdiri
sempoyongan.
“Tahan dulu, Je.” Ucap Petruk.
“Apa?” Kuyung menoleh kea rah Petruk yang tampak was-was dan
kuatir Weli mengetahui aksi nekat mereka bertiga.
Ternyata tidak. Weli memang bangun. Terjaga dari tudurnya.
Dia berhasil berdiri, malah sekarang sudah bisa berjalan. Merentangkan kedua
tangannya lebar-lebar. Lalu berputar-putar.
“Gimana Ruk?” Tanya BiJe.
“Lanjut aja diam-diam …”
Sementara BiJe berusaha melepaskan ikatan tali dengan
giginya, Weli terus berputar-putar dengan sesekali mengangkat kedua kakinya
silih berganti. Lepas itu, menghadapkan kedua tangannya lurus ke depan.
Ngapain?
Sambil meliuk-liukkan badannya, Weli sepertinya sedang berjoget
dan bernyanyi. Entah apa yang dia nyanyikan, sayup-sayup terdengar begini …
“ Kaulah bulan itu kenapa
masih sembunyi
di situ
keluarlah sayang
…
peluklah aku
barang sesaat
biar hatiku kian
kuat
menjalani hidup
serba tak bersahabat …”
Setelah diulang-ulangnya syair itu hingga tiga kali, Weli
sempoyongan lagi, sebelum akhirnya terduduk lesu, dan kembali tidur. Ngorok
pula.
“Aman Je. Lanjut …” Kata Petruk.
Beberapa saat kemudian. Tali ikatan itu berhasil terlepas.
Kuyung lega. Kini kedua tangannya sudah bisa digerakkan. Tapi kakinya belum.
Masih terikat kuat.
“Tenang aja, Yung.”
Kuyung berusaha melepaskan ikatan tali di kedua kakinya.
Seolah gampang, padahal tidak. Karena tali yang mengikat kedua kaki Kuyung itu
berlapis-lapis. Berkat sabar, tali pengikat itu pun akhirnya bisa terlepas.
“Cepat Yung,” kata Petruk meminta Kuyung secepatnya
melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
“Gue dulu, kenapa sih.” Canda BiJe.
“Siap Bos …”
Kurang dari lima menit, tali pengikat itu berhasil
dilepaskan semuanya. Mereka bertiga kini sudah tidak dalam keadaan terikat
lagi. Bebas dari tali pengikat.
Lalu?”
“Kita ikat Om Weli itu, gimana?” Petruk beralasan dengan
diikatnya Weli maka para preman bandit
yang datang menjenguk nantinya dipastikan mencak-mencak dan marah besar.
“Hebat juga elu punya otak Petruk,” puji Kuyung.
Ketiganya membawa tali yang mereka lepaskan tadi. Lalu
mengikatkannya ke kaki dan tangan Weli. Karena masih tertidur lelap, badan Weli
mereka gotong dan didudukkan di kursi.
Setelah duduk yang sopan, perut Weli diikat berlapis-lapis ke tiang kursi. Sampai
ikat mengikat selesai, Weli masih tidur pulas.
“Hapenya mana Je?” Tanya Petruk.
“Mana kutahu, Pet. Di saku celananya ada enggak?”
Kuyung menggelengkan kepalanya. Sudah dia periksa barusan.
Tak ada hape di celana Weli. Yang ada cuma sisa kertas tissu yang sudah tidak
utuh lagi.
“Kita cari kesana aja yuk …!” Ajak BiJe.
Mereka memeriksa lokasi tempat Weli berbaring tidur tadi. Di
setiap sudut dicari, namun hape itu tak jua ditemukan.
Kemana ya?”
“Aneh juga itu hape,” ujar Kuyung menggaruk-garuk kepalanya
yang tidak gatal.
“Belum ketemu aja,” sahut BiJe dari dekat tangga. Di sana
ada kotak sampah. Dibuka, eeem .. baunya.
Sedapnya minta ampun.
“Ahaaa … dapat aku.! Teriak Petruk kesenangan. Dia berhasil
menemukan hape Weli di sudut jendela dekat toilet.
Piiiiiin … piiiiiin …
“Cepat sembunyi,” kata BiJe. Mereka bertiga sembunyi di
dalam toilet yang sudah lama tak pernah digunakan lagi.
Menunggu siapa yang datang, Petruk mengontak Zuleha. Ada
nada suaranya tapi tak ada yang mengangkat. Begitu juga dengan Puspa, Maisaroh
dan Zubaidah. Terakhir giliran Nile.
“Alhamdulillah … tolong angkat, ya Allah, tolonglah …” ucap
Petruk penuh harap.
“Halo …” Sapa Nile yang baru saja bangun tidur dan bermaksud
ingin ke kamar mandi.
“Je … kamu aja.” Petruk berikan hape itu pada BiJe.
“Siapa emang?”
“Nile …” Bisik Petruk sembari tertawa geli.
BiJe sempat ketawa. Lalu memberitahu Nile kalau mereka
bertiga sekarang berada di sebuah gedung tak berpenghuni. Tepatnya di Jalan
Burung Tidur No 12.
“Kami diculik …”
“Haaa. Kamu enggak apa-apa kan?”
“Enggaklah. Cuma tolong kasih tahu ke temen-temen ya.”
“Ya .. ya … Je …”
“Apa?”
“Aku sayang kamu …”
“Iya. Aku juga kok.”
Dari lantai dasar, dua lelaki keluar dari mobil, lalu
bergegas naik menuju lantai tiga. Betapa terkejutnya mereka mendapati Weli
terikat di kursi. Sedangkan tawanan mereka hilang entah kemana.
“Dasar goblok. Otak lu dikemanain?” Hardik Odi.
“Enggak dikemana-kemanain,” jawab Weli minta dilepaskan
ikatan talinya.
“Kenapa mereka bisa lepas dan elu justru terikat di kursi
ini?” Bentak Yandi, preman satunya berkumis tebal.
“Ya mereka kan tiga orang. Sedangkan aku cuma sendirian. Ya,
pasti kalahlah kalau aku duel.”
“Badan aja besar.”
“Ya benar. Badanku memang besar, Bos.”
“Masa kalah dengan anak kecil, Wel. Mana nyali elu …”Yandi
masih tak percaya. Jangan-jangan Weli bersekongkol dengan tiga ABG tadi untuk
menjebak mereka.
“Kenyataannya memang begitu Bos,” jawab Weli yang terus
mendesak Yandi dan Odi segera membuka ikatan di kaki, tangan dan perutnya.
“Kenyataan apa?”
“Gue keoklah …” jawab Weli terus terang.
Sambil mengomel dan mengancam akan menghabisi Weli bila BiJe
dan dua rekannya tak berhasil dike temukan, Yandi pelan-pelan membuka ikatan
tali yang mengikat di tiang kursi itu. Sementara Odi me nelepon Bos Besar dan
memberitahu tiga tawanan mereka lepas, berhasil meloloskan diri.
Kelonteeeeeng …
Sebuah kaleng kecil mengenai kepala Odi.
“Kampret. Setan bolong,” jeritnya geram. Kaleng itu
diambinya, lalu dilemparnya mengenai pintu toilet.
Kelonteeeeng …
Lemparan kedua mengenai
kepala Yandi. Bukan menjerit, malah ketawa.
“Cuma kaleng,” ucapnya seraya melempar kaleng itu keluar
jendea gedung.
Kelonteeeeng …
Lemparan ketiga mengenai mukanya Weli. Menjerit kesakitan.
Luka tergores dan mengeluarkan darah segar dari pipinya.
“Kurang ajar,” katanya. Dia tendang kaleng itu sekuat-kuat,
justru mengenai selangkangan Odi.
“Babi lu …”
Odi mengambil itu kaleng, lalu dipukulkannya ke punggung
Weli. Kalau saja tidak dilerai Yandi, Weli bisa jadi babak belur.
“Sudah .. sudah … sekarang kita cari sama-sama mereka. Oke?”
“Oke …”
Guarrrrrr …
Serta merta pintu toilet terbuka lebar. Keluar dari pintu
itu, BiJe, Petruk dan Kuyung. Ketiganya bak kesatria dari negeri entah berentah,
membuat tiga preman bermulut besar ini
ciut nyalinya.
Ha ha ha ha …
“Kenapa bisa begini ya?” Bisik Odi pada Yandi dan Weli.
“Wel,” ucap Yandi.
“Ya Bos.”
“Apa tadi kamu kasih mereka obat kua?”
“Enggaklah. Mana kupunya obat kuat.”
“Lalu kenapa mereka tiba-tiba sekuat seperti sekarang ini?”
“Biasalah Bos. Gertak sambal.”
“Maksud kamu?”
“Pedasnya sebentar. Bos kagak percaya omongan gue?”
“Kagak …”
“Sekarang, coba Bos keluarin pistolnya dan lepaskan tembakan
satu kali aja …”
Dooor … doooor … door …
Benar juga kata Weli. Begitu pistol ditembakkan ke kaki
Petruk, kendati tidak kena, serta merta membuat ketiganya larit
terkincit-kincit masuk toilet lagi.
“Apa kubilang kan Bos?”
“Boleh juga elu diandalin, Wel. Tak sia-sia emak elu
ngelahirin elu ke dunia.”
Sementara Nile, Zuleha, Puspa, Maisaroh dan Zubaidah, dengan
menumpang mobil satuan tugas tim penyergap, tiba di lokasi penyanderaan lima belas menit
kemudian.
Apa yang mereka lakukan?
Menunggu sesaat. Di dalam ruangan terjadi duel seru antara
BiJe dan Yandi, Petruk dan Odi, antara Ku yung dengan Weli. Duel tangan kosong
itu terjadi lantaran pistol digenggaman Yandi terlepas karena ditendang Bije. Entah kemana larinya
pistol itu.
Hiyaaaat …
Petruk mengacungkan dua jari. Lalu diarahkan ke mata Odi.
Nyaris kena. Odi tak menghindar. Dia mene pis itu jari dengan kepalan tangannya,
lalu mendaratkan pukulan ke dada Petruk.
“Aduuuuh. Anjing lu …!”
Saat lawan lengah, Petruk berhasil melepaskan tendangan
mengenai perut. Belum sempat menghindar, Petruk menghajar dada dan kepalanya
Odi. Karena lawan lebih besar badannya, pukulan dan tendangan yang dilepaskan
Petruk tadi tak berarti apa-apa. Sempoyongan pun tidak.
“Cihuuuuy … dapat kau …”
Odi berhasil menangkap Petruk. Berusaha melepaskan diri. Dia
meronta-ronta. Tapi rontaannya itu dibalas Odi dengan mengangkat tubuh Petruk
tinggi-tinggi, lalu dibanting ke lantai.
Jegaaaaar …
“Wadoww. Encok gue kumaaat lagi.”
Ketika Petruk sudah berdaya lagi, BiJe dan Kuyung makin seru
duelnya, entah kapan saling mengalahkan dan menjadi pemenangnya, aparat
keamanan mendobrak masuk dan …
“Jangan bergerak …!”
“Diam di tempat …!”
Odi, Weli dan Yandi, yang berusaha hendak melarikan diri,
kena batunya. Petugas berhasil melepaskan tembakan, mengenai kaki mereka,
sehingga jatuh tersungkur. Sedangkan Petruk sudah siuman, dipapah Kuyung dan
Bije.
Seminggu kemudian …
Sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan berita kriminal
jelang siang … “Telah berhasil diamankan,
Salim, otak dibalk penculikan siswa Es Ema A Mawar …”
SAMPE DISINI YA ..GUE
PAMIT DULU …. DAAAGH!