Minggu, 27 Maret 2016

Novel Serial BiJe: Duri dalam Daging



Novel  Serial  BiJe
Duri dalam Daging 
Oleh Pak Amin

I
“DAAAAGH papa …!”
Kata Nile seraya melambaikan tangan kananya pada papanya yang mengantar dia sekolah pagi ini. Sang papa tercinta, Pak Rustam namanya, tersenyum . Setelah membalas lambaian sang buah hati dengan ciuman hangat jarak jauh, mobil sedan keluaran terbaru yang dia kemudikan itu meluncur lambat ke jalan besar.
“Lim. Coba tengok tuh …! Bisik Iqbal pada Salim yang sejak tadi plangak-plongok persis orang yang baru kehilangan dompet.
Nile berjalan gagah menuju ruangan kelas. Kemeja putih yang dia kenakan sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang putih bersih lagi mulus. Tinggi semampai, berhidung mancung, bikin siswa yang melihatnya bakal kesengsem.
“Nileee …!” Teriak Salim.
Mereka setengah berlari mendekati Nile. Sementara Nile menghentikan langkahnya persis di depan pintu masuk kelas 11. Dia menoleh sejenak. Begitu tahu yang memanggilnya teman sekelas, dia pun melepaskan senyum sumringah.
“Baru datang ya?” Tanyanya dengan suara, alamaaak , halus mendesah.
“Enggak Nil. Udah lama,” jawab Salim. Menoleh ke teman-temannya yang lain seperti  Puspa, Iqbal, Petruk dan Semar.
“Masuk aja yuk. ‘Ntar digigit nyamuk kalau berdiri terus di sini,” ajak Puspa seraya menoleh kea rah Bu Guru Siska, baru saja tiba, tak jauh dari mereka berdiri.
Teng … Teng … Teng …
Lonceng tanda masuk dan memulai pelajaran pertama terdengar. Satu-satu siswa masuk dengan rapi ke kelas dan menempati tempat duduknya masing-masing, menghadap ke depan ada papan tulis besar putih lengkap dengan spidol besar beserta penghapusnya.
Bu Guru Siska tengah membuka buku pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelum memulai pelajaran, wanita belia nan anggun ini biasa mengabsen terlebih dahulu siswa-siswanya.
“ Kuyung …”
“Ada …”
“Adam …”
“Ada ..”
“Emi …”
“Sakit Bu Guru,” ucap Petruk.
“Tahu enggak, sakitnya apa?”
“Sakit hati, Bu Guru …” kata Semar tertawa dalam hati.
“Sakit hati kenapa?”
“Ditinggal pergi Semar, Bu Guru.” Sahut Iqbal ketawa ditahan.
Tok … Tok … Tok …
“Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalaaam.” Jawab siswa serempak.
BiJe rupanya. Dia terlambat datang. Makanya, sebelum duduk ia meminta maaf terlebih dulu kepada Bu Guru Siska. Bahwa keterlambatannya datang ke sekolah bukan disengaja, tapi karena harus mengantar ibunda tersayang ke rumah sakit untuk berobat.
“Diam-diam, meski baru seminggu berstatus siswa baru, pindahan dari sekolah lain, Nile merasa pena saran dengan BiJe. Bukan soal jatuh cinta atau apa-apa gitu, tapi sikap dan perilakunya yang lebih dewasa dari orang sebayanya. 
“Nileee ..!”
Nile masih melamun sendirian.
“Nileee …!”
“Saya Bu,” ujar Siska buru-buru meraikan cara duduknya yang agak ke kanan tadinya.
“Kamu kenapa Nil, sakit ya?” Tanya Bu Guru Siska setengah heran.
“Jatuh cinta Bu,” teriak siswa berkacamata plus.
“Dengan siapa?”
“Ada deh Bu Guru …” Sahut Iwan sambil melirik BiJe yang tengah mengeluarkan buku pelajaran Bahasa Indonesia dari dalam tasnya.
“BiJe …!”
“Saya Bu Guru Siska …”
BiJe menoleh kea rah Nile. Yang ditoleh pura-pura baca buku pelajaran.
“Nileee …!” Sapa Bu Siska.
“Saya Bu Siska,” jawab Nile. Dia sempat mencuri pandang BiJe. Sayang sudah keburu baca buku sambil corat-coret menggunakan stabilo.
Salim yang mulai menaruh hati pada Nile, pas jam istirahat pertama, dia dekati BiJe yang lagi asyik membaca buku di perpustakaan sekolah. Karena terlalu asyik, dia tak sadar kalau di dekatnya sudah ada Salim dengan dua teman satun kelasnya, Petruk dan Semar.
Terus terang, ketika Salim menyebut nama Nile, roman muka BiJe tak ada yang berubah. Biasa-biasa saja. Berbeda dengan Salim. Agak gugup dan sepertinya ada kesan mulai jatuh hati pada pandangan pertama.
“Kenal saja aku belum, Lim. Boro-boro pacaran segala. Enggakah Lim. Aku tahu diri kok,” kata BiJe setela didesak Salim untuk tidak terlalu dekat dengan Nile.
“Bantulah aku, Je …” Pinta Salim. Dia berharap BiJe bukan saja tidak menjadi bukan teman biasa, tapi ikut membantunya bagaimana cara mendekati dan mendapatkan hati Nile.
“Kalau itu, maafkan aku Lim. Aku tak bisa …”
“Lho, kenapa emangnya?”
“Karena aku tak paham soal itu.”
Jawaban terakhir ini belum sempat ditanya ulang Salim, keburu berpapasan dengan Nile dan dua siswi lain satu kelas.  Semula ingin lewat saja, melihat ada BiJe, sekalian mampirlah. Akibatnya, Salim jadi salah tingkah. Dia pun bersegera pamitan menuju kantin sekolah bersama Petruk dan Semar.
“Buku apa, Je?” Sapa Maisaroh dengan nada Tanya, temannya Nile. Sedangkan Nile bersama Zubaidah melihat-lihat buku di lemari buku besar dekat pintu masuk perpustakaan.
“Buku novel kayaknya, Mai.”
“Kok kayaknya?”
Biji tengok sebentar kulit depan buku. Baca judulnya …”Laskar Pelangi, Mai.” Kata BiJe tertawa setengah tak percaya kalau buku yang dia baca ini adalah buku sastra novel.
Sungguh Mai, kata BiJe, aku tak tahu kalau buku yang kubaca ini adalah buku fiksi. “Soalnya, aku tak sempat lihat judulnya. Begitu dapat langsung baca. Waktu dibaca, eeeeh … enggak mau berhenti membacanya. Asyik sendiri jadinya …”
“Gue juga suka novel, Je.” Ucap Maisaroh, mengambil tempat duduk berhadapan dengan Bije.
“Kudengar ibumu sakit ya, Je?”
“Iya, Mai …”
“Berat apa ya …?”
“Enggaklah Mai. Biasa saja penyakitnya. Namanya saja orangtua. Sudah tua. Yang muda kayak kita saja sering sakit. Apalagi yang tua kayak ibu saya …”
“Tul juga katamu, Je.”  Kata Maisaroh membolak-balik srat kabar terbitan hari ini.
“Ada berita apa, Mai?”
“Eeem … banyak Je.  Mai sebutkan ya …”
“Please-lah …”
“ Kakek-kakek perkosa cucu … Tas Supriati disambar jambret … Kaca rumah dipecahkan tetangga … Pembegal wartawan dibekuk … Jainudin nekat jadi kurir sabu … Isap sabu sambil main kartu … Buruh jualan senjata api … Dua pemuda kepergok bawa sajam … Tertangkap mencuri Hamzah pura-pura gila … Dua remaja buronan polisi dibekuk … “
“Maaaai … kemarilah kau sebentar!” Panggil Nile yangminta ditemani pinjam beberapa buku untuk dibaca di rumah.
“Je … ‘bentar ya.”
“Lama juga enggak apa-apa, Mai.”
Nile bilang, setelah meminjam buku dan bermaksud kembali ke kelas, mengundang BiJe ke rumahnya sekadar kumpul-kumpul bareng saja siswa kelas 11 sekaligus perkenalan dengan Pak Rustam, ayahnya Nile yang belum lama pindah kerja ke kota ini.
                                                                              ***********  

II
“JALAN-jalan ke tanah Deli
sungguh indah tempat tamasya
kawan jangan bersedih
mari nyanyi bersama-sama

Kalau pergi ke Surabaya
naik  p‘rahu dayung sendiri
kalau hatimu sedih
yang rugi diri sendiri

Injit-injit semut
siapa sakit naik ke atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan dilepas

Naik p’rahu ke Pulau Seribu
sungguh indah si pulau karang
sungguh malang nasibku
punya pacar diambil orang

Ramai sungguh Bandar Jakarta
tempat orang mengikat janji
walau pacar tak punya
hati senang dapat bernyanyi

Injit-injit semut
siapa sakit naik ke atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan dilepas

Injit-injit semut
siapa sakit naik ke atas
Injit-injit semut
walau sakit jangan dilepas ….”

     “Kampung nan jauh di mato
       gunung sansei bakuliliang
       takana jo kawan
       kawan nan lamo
       sangkek basu liang suliang

      Panduduknyo nan elok
      nan suko bagotong royong
      kok susah sao-samo diraso
   
      den takana jo kampuang

      Takana jo kampuang
      induk ayah adiak sadonyo
      raso mangimbau-ngimbau
      den pulang den takana
      jo kampuang …


                      “Ampar-ampar pisang
                        pisangku balum masak
                        masak bigi dihurung bari-bari
                        masak bigi dihurung bari-bari

                        Mangga lepok mangga lepok
                        patah kayu bengkok
                        bengkok dimakan api
                        apinya clang curupan
                        bengkok dimakan api
                        apinya clang curupan

                        Nangmana batis kutung
                        dikitipi dawang
                        nangmana batis kutung
                        dikitipi dawang … 


                                      “Mana dimana anak kambing saya
                                        anak kambing tuan ada di pohon waru
                                        mana di mana jantung hati saya
                                        jantung hati tuan ada di kampung baru

                                         Caca marica hei hei
                                         caca marica hei hei
                                         caca marica ada di kampung baru

                                         Caca marica hei hei
                                         caca marica hei hei                                        
                                         caca marica ada di kampung baru …”


Plak … plak … plak …
“Terima kasih … terima kasih. Om sudah lama enggak denger medley. Om ucapkan selamat datang di rumah kami yang sederhana ini,” kata Pak Rustam sumringah.
Mengenakan stelan baju kaos putih bergaris-garis lurus dan melengkung serta celana panjang levis biru, Pak Rustam memperkenalkan dirinya, isteri dan anak semata wayangnya bernama Nile.
“Om dulu sama seperti kalian sekarang ini. Kumpul bareng, belajar bersama dan jalan-jalan tentunya,” kata Pak Rustam tersenyum ceria.
“Om senang kalian mau datang kemari. Terus terang, di rumah ini tak ada siapa-siapa selain isteri dan anak om tercinta dan cantik ini, Nile.”  Merasa dipuji, Nile tersipu malu.
Salim tekun menyimak ‘curhatan’ Pak Rustam dengan sesekali mencuri pandang Nile. Sedangkan BiJe, setelah menaruh gitar di tempatnya, kursi panjang dekat pintu ruang tamu dan keluarga, mengambil tempat duduk di sebelah kanan Maisaroh.
“Jadi,” kata Pak Rustam, “Janganlah kalian segan untuk datang ke rumah om ini. Pintu rumah ini selalu terbuka. Kepada siapa saja, tanpa pandang bulu. Om juga meminta kepada kalian untuk tak segan-segan menegur anakku Nile bila dia ada yang keliru dari perbuatan dan ucapannya …”
“Dan tante juga mengharapkan kepada kalian agar bisa menjadi teman yang baik buat Nile,” timpal Bu Rustam seaya mencium kedua belah pipi Nile dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
“Om dan tante titip Nile,” pinta Pak Rustam yang diamini Bu Guru Siska, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas 11.
Kepada Pak Rustam beserta isteri, Bu Guru Siska memperkenalkan satu persatu siswa didiknya. Perkena lan berlangsung akrab dan hangat  penuh canda serta guyonan sehingga membuat suasana sore hari ini lebih ceria dan terasa penuh kekeluargaan.
Iwan, misalnya, dia terus terang sayang pada Nile. Rasa sayangnya tentu sebatas teman satu kelas dan teman belajar.
“Sekaligus teman curhat-curhatan …” Sindir Adam.
“Teman selain belajar,” sahut Emi.
Ha ha ha ha ….
“Saya juga sekalian meminta maaf sama bapak dan ibu Rustam.” Bu Siska menoleh ke beberapa siswanya yang rada nakal dan suka menjahili siswa perempuan.
“Kenapa Bu Sis?” Tanya Pak Rustam.
“Siswa saya ini, terutama yang laki, suka jahil, Pak, Bu …”
“Oooo begitu.” Pak Rustam mengira Bu Guru Siska mau pamit pulang duluan.
“ Taka apa-apalah Bu. Biasalah anak muda. Ibarat sambal, tak enaklah kalau tak pakai garam sama caluk,” seloroh Bu Rustam.
“Cuma, sebagai orangtuanya, kami berharap di balik itu semua, tetap menjaga pertemanan dan rasa kekeluargaan. Kita satu keluarga, yang beda cuma orangtua dan tempat berteduh saja. Iya kan Bu Sis dan anak-anakku sekalian, ” sela Pak Rustam, ketawa lepas.
“Yaaaaaa Ooooom ….”
Sebelum diakhiri dengan pembacaan doa dan santap sore bersama, Pak Rustam dan isteri didaulat siswa untuk bernyanyi berdua, tentu diiringi petikan gitar dari BiJe.
Tak keberatan, kalau boleh dikatakan dengan senang hati, sepasang suami isteri ini bernyanyi bersama. Apa lagu keduanya? Inilah dia …

“Are you lone some tonight
do you miss me tonight
Are you sorry we drifted apart

does your memory stray to a bright summer day
When I kissed you and called
you sweet heart
do the chairs in your parlour
seem empty and bare

Do you gaze at your doorstep
and picture me there …

is your heart filled with pain
shall I come back again
tell me dear
are you lone some tonight

(spoken) …
I wonder if you’re lonesome tonight
you know some one said
“the worlds a stage and each must play a part”
fate had me playing in love
with you as my sweet heart
act one’s when we met
and love you a first glance

Your read your lines so clevery
and never missd a cue
the come act two
you seemed to change

you acted strange
why I’ll never know
honey, you lied when you
said you loved me

and I had no cause to doubt you
but I’d rather go on hearing youe lies …
then to go on living without you

Now the stage is bare
and I’m standing there
with emptiness all around
me and if you don’t
come back to me
then they can bring
the curtain down …”
                                                                        ***************

III
ZULEHA ketawa riang saat pulang sekolah. Dia sengaja belum mau pulang ke rumah karena ingin berte mu rekan-rekan satu kelasnya yang lain. Di ruang tunggu wali siswa, ternyata Zuleha tak bertepuk sebe lah tangan. Kenapa? Karena ada Zubaidah dan Puspa di sana, keduanya lagi asyik ngobrol berdua.
Pak .. pak .. pak …
Zuleha mengagetkan keduanya dengan menepuk pundak mereka dengan tas sekolah.
“Apaan sih …” Celetuk Puspa meringis kesakitan.
“Ada dech … “Kata Zuleha sambil mengambil sesuatu dari dalam tas sekolahnya.
“Segitu aja repot amat lu …” Ledek Zubaidah yang merasa terganggu dengan ulah Zuleha barusan.
“Lihat ini dan baca …!”
Zuleha memperlihatkan tulisan di secarik kertas pada Zubaidah dan Puspa. Setelah baca, keduanya terperanjat karena tulisan yang tertera memang benar-benar menggoda …
                                             “Hai …! Kutunggu kamu ‘ntar sore di simpang tugu .”
                                                                                                                          Dari Salim

 ”Ah yang bener, Ha?” Puspa masih tak percaya dengan isi tulisan itu. Apa matanya yang kabur atau justru tulisan itu yang mulai mengabur.
“Mungkin orang iseng aja. Tapi siapa ya?” Tanya Zubaidah menggaruk-garuk kepala yang tak gatal karena ketombe.
“Lho … Masak gue bohong. Buat apa gue bohong. Tak ada gunanya,” jelas Zuleha.
“Oke-oke. Udah gini aja. Kamu temukan ini kertas di mana?”
“Di bangku gue lah, Pus.”
“Kapan?”
“Barusan …”
“Maksudnya bentar ini tadilah gitu?”
“Iyalah … Jadi waktu gue beres-beres ini buku pelajaran dan bermaksud memasukkannya ke dalam tas gue, tiba-tiba ada kertas jatuh. Saya sempet kagetlah dikit. Apaan tuh. Ah, ambil sajalah. Duit juga bukan. Kuambillah kertas itu … gitu …”
“Sempat kamu baca kagak tulisan yang ada di kertas itu?” Gantian Zubaidah yang tanya.
“”Belumlah … Cuma kertas ini gue enggak masukin ke dalam tas. Gue simpan aja di saku kemeja gue. Tapi …”
“Tapi kenapa Ha?” Puspa  mendelikkan matanya karena penasaran  duduk perkaranya.
“Gue penasaran … lalu, ya itu …Gue bacalah … emang salah apa?”
Zuleha, bosan berdiri, memilih duduk. Karena sempat kesenggol pahanya Puspa saat mau duduk, menjeritlah ia.
“Tengok-tengoklah …”
“Udah kutengok. Gue pikir bukan paha lu, tapi papan tempat duduk ini … maaf ya …”
“Ah dasar lu …”
“Marah ya Puspa?”
“Enggaklah. Sudah ah,” ujar Zubaidah. “Sekecil gitu aja diributin.”
“Dilanjutin kagak ceritanya?”
“Iya dong. Masak kita diem aja. Apa kata Camer. Ni orang atau mayat …” Sahut Puspa dan Zubaidah.
“Nah, gue bukalah kertas ini. Lalu gue baca dan …”
Zuleha geleng-geleng kepala.
“Kenapa Ha, kenapa?”
“Aku terharu,” kata Zuleha terus terang. “Ternyata ada orang yang suka sama aku. Walaupun badanku gemuk, walaupun mukaku tak secantik dan seanggun Tante Widyawati, aku bersyukur. Ternyata Salim suka kepadaku dan sebentar lagi pasti mengutarakan cintanya kepadaku …”
“Ah belagu lu. Ketemu aja belum, udah bilang cinta segala,” seloroh Puspa.
“Yang lain sudah pada tahu enggak? Zubaidah berharap mereka bertiga saja yang tahu. Lain tidak.
“Belon …”
“Alhamdulillah.” Zubaidah menarik nafas lega.
“Kok serius banget lu, Dah. Kenapa sih nyebut-nyebut alhamdulillah segala?” Puspa penasaran jadinya. Jangan-jangan …
“Gue naksir Salim gitu kan?”
Puspa enggak jawab, cuma mengangkat genit bahunya  saja.
“Sorry ya …” Kata Zuleha.
 Zuleha berharap, sebelum pulang ke rumah, sudah ada keputusan penting atas undangan Salim barusan.
“Lu tenang aja, Ha … ‘Ntar kami berdua temenin. Mau kan?” Puspa meyakinkan teman sekelasnya itu dengan memberinya permen karet.
“’Ntar gue jemput lu di rumah, gimana?”
“Dengan senang hati.”
Zuleha menerima tawaran Zubaidah dan Puspa, selain karena merasa lebih aman kelak bersua Salim, ju ga tak bakalan kena damprat orangtua, yang justru membiarkan anak gadisnya ngeloyor sendirian menemui lelaki, walaupun itu teman satu kelasnya.
Bagaimana dengan Salim?
Ternyata Salim sudah lebih dulu datang. Sambil main gadget, dia hilir mudik di sekitar tugu dengan se sekali menelepon, entah siapa yang dia telepon.  Yang pasti, kita cuma tahu kalau dia terlihat senang dan bahagia hari ini.
Tak berapa lama datanglah Zuleha. Bersama Zubaidah dan Puspa, mereka bertiga turun dari mobil tanpa sepengetahuan Salim yang kini asyik es em esan dengan Iqbal, Petruk dan Semar. Sebentar-sebentar tertawa, lalu serius berdiri, senyum sebelum akhirnya duduk lagi.
“Salim …!”
Hafal betul Salim dengan suara itu. Makanya, saat membalikkan badan, dia tak pula kaget kalau di de pannya saat ini berdisi rekan sekelasnya, Puspa. Yang bikin dia kaget justru bunganya itu. Masih segar, harum mewangi baunya.
“Bunga cinta namanya, Lim. Flower Love, kata orang sono.” Kata Puspa, memberikan itu bunga kepada Salim.
“Dari si Dia ya?” Salim sumringah. Seakan mau melompat dan mengangkat tinggi-tinggi Puspa yang telah berbaik hati padanya dengan memberinya setangkai bunga mawar.
Puspa mengangguk tersenyum.
“Di bawahnya ada pesan buatmu, Lim …”
“Oh ya? Pesan apa itu. Ngerepotin aja …” Salim buru-buru membuka lipatan kertas itu dan membacanya sampai tiga kali.
                     “Setelah kau terima bunga ini …Jangan lupa contenglah jawaban          
                          Ya atau Tidak atas pertanyaan ini say … “Kamu suka dengan
                                                         pemberianku  ini ………….?”

“Ini penanya, Lim …”
Setelah menconteng jawaban ‘Ya’, kertas itu dia lipat lagi dan …
“Saya ambil kembali ini kertas dan akan kuberikan kepada si Dia. Tunggu ya Lim.” Kata Puspa pamitan.
Oleh Puspa, balasan surat itu dia berikan pada Zuleha. Senang bukan main dia membacanya .. Diciumnya berulangkali.
“Udah,  udah … surat berikutnya … cepat. Pesawat udah mau berangkat nich …”
Surat kedua ini Puspa serahkan lagi pada Salim. Apa isinya?

                          “Lingkarilah jawaban Ya atau Tidak atas pertanyaan berikut ini:
                                       “Kamu suka berduaan denganku say ….?” 

     
 Salim kembali  menulis ‘Ya’. Bedanya, kalau tadi dia menconteng Ya, sekarang melingkari jawaban Ya. Tak mengapa, sebab yang terpenting Salim harus konsisten dengan jawabannya.
Kali ketiga, Salim harus menjawab pertanyaan lagi yang diajukan ‘Si Dia’. Pertanyaannya begini …

                                                            “I love you … you love me?                            
                                                                 Jawab :  Yes or No”
    
Tentu jawaban Salim bisa ditebak: Yes.
Terakhir, Salim kembali harus menjawab pertanyaan yang di tulis di secarik kertas. Pertanyaannya mu dah, jawabannya juga gampang. Kenapa? Karena Salim hanya perlu menjawab “Bersedia atau tidak” atas pertanyaan … “Bersediakah kamu menerima kedatangan saya hari ini …?”
“Mudah kan, Lim?”
“Iya juga …”
Sebelum menemui kembali Zuleha dan Zubaidah,  Puspa menjelaskan kepada Salim bahwa dia harus  bersedia menutup kedua matanya dengan saputangan pemberian dari Si Dia. Saputangan itu baru dilepaskan kembali  se telah Zuleha ada dan berhadapan dengannya.
Begitu juga dengan Zuleha. Kedua matanya ditutup rapat menggunakan saputangan. Dia berjalan menu ju tempatnya Salim duduk dengan di dampingi Puspa. Sedangkan yang menemani Zuleha adalah Zubaidah.
Pertemuan keduanya baru terlaksana sepuluh menit kemudian. Pasalnya, Salim tak tahan kedua mata nya ditutup kayak orang tak punya mata. Juga Zubaidah, dia tak kuasa menahan lajunya jalan Zuleha.
Buktinya, ketika kaki Zuleha kesenggol batu, Zubaidah juga harus ikut jatuh karena terdorong tubuh Zuleha yang besar tambun dan sulit ditahan dengan tangan.
Begitu juga ketika Zuleha hendak memutar badannya. Bukannya tangan Zubaidah yang menarik dan menuntun Zuleha berbelok. Tapi justru tangannya Zuleha yang menarik kuat untuk berbelok.
Praktis, Zubaidah seperti anak kecil yang berjalan sambil memegang tangan ibunya. Ke mana ibunya bergerak, terpaksa ikut. Paling kalau ingin ke kanan misalnya, barulah si ibu berjalan ke kanan. Selebihnya sang ibulah yang lebih banyak menuntun si anak.
Tentu, agar tidak sampai berlarut-larut, Puspa terpaksa ikut membantu Zubaidah menuntun ZuLeha ke tempatnya Salim. Walau tak mudah, kehadiran Puspa turut meringankan dan mempercepat langkah Zuleha tiba dengan selamat di tujuan …
“Lambat –lambat say …”
Puspa membelokkan badan Zuleha ke kanan. Setelah itu dua duduk berhadapan dengan Salim.
“Bagus sekali. Siiiplah.” Kata Puspa.
“Sekarang, tunggu ya. Tarik nafas dulu …” Puspa meminta Zuleha menarik nafas perlahan hingga beberapa kali agar bisa santai dan tidak terasa kaku …
Begitu juga dengan Salim. Dipandu Zubaidah, cowok yang suka godain cewek ini beberapa kali mengatur nafasnya, yang entah kenapa, semenjak kedatangan Zuleha, makin kencang turun dan naiknya …
“Rileks … rileks aja Lim," kata Zubaidah.
Setelah mendapat aba-aba dari Puspa untuk tidak membuka dulu saputangan yang menutup kedua mata Salim dan Zuleha, Zubaidah membisikkan sesuatu di telinga teman dekat Iqbal ini.
“Senang enggak kamu, Lim?”
“Senanglah …”
“Gimana perasaanmu sekarang. Gimana …?”
“Berbunga-bunga. Kayak enggak tahu aja kamu, Dah … Hi hi.”
“Kamu cinta enggak sih sama si Dia?”
“Ya, ialah. Masak gue bohong, Dah …”
“Sayang?”
“Itu apalagi …”
“Bener ya?”
“Bener kok …”
Sementara itu ….
“Kamu senang kagak jadi pacarnya Salim, Ha?”
“Senenglah …”
“Gimana perasaanmu sekarang?”
“Gimana ya. Susah buat diomongin, Pus.”
“Seneng kali?”
“Ya ya … seneng so pastilah.”
“Kamu sayang Salim kan?”
“Sayanglah. Masak benci …”
“Kamu cinta dia?”
“Setengah mati, Pus.”
“Bersedia pacaran?”
“Kawin aja gue mau …”
“Sekarang?”
“Kenapa tidak …?”
“Bener?”
“Benerlah, Pus …”
Puspa mengisyaratkan pada Zubaidah untuk membuka perlahan ikatan saputangan. Sambil membu kanya, baik Puspa maupun Zubaidah,  ikut menyemangati keduanya agar tidak terlalu kaget saat bertatapan mata nanti. Santai saja. Anggaplah seperti angin senja menerpa pohon papaya.
“Buka matanya sekarang …”
“Huuup ban jamma …”
Salim dan Zuleha saling berpandangan. Sayang hanya sesaat, cuma sepersekian detik. Sebab, tak lama kemudian Salim lari terbirit-birit karena takut ‘dijebili’ Zuleha barusan.  Tak sempat melihat ada kolam di samping  tugu, nyemplunglah Salim masuk kolam. Basah kayup seluruh badan dan pakaian yang dia ke nakan.
                                                                **********************

 IV    
HABIS mandi sore hari dan berpakaian rapi, Nile merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dari pada berpikiran yang enggak-enggak, dia pun tak sungkan mengambil sebuah buku novel di meja belajarnya, kemudian membacanya sambil tengkurep.
Novel yang dia baca berjudul ‘Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov’. Buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata. Lumayan tebal bukunya, sekitar 504 halaman.
Andrea Hirata adalah lulusan program studi master of science di Prancis, dan Inggris. Maryamah Karpov adalah karya pamungkas beliau setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor.
Melalui tetralogi Laskar Pelangi kita akan merasakan betapa setiap kalimat yang diciptakan memiliki kekuatannya sendiri. Oleh karena itu, tetralogi Laskar Pelangi merupakan koleksi yang amat berharga untuk dimiliki.
“Eheeem … Kayaknya boleh juga nich novel,” bisik Nile dalam hati.
Lembar demi lembar ia buku lembaran novel itu. Matanya lalu tertuju di lembar ke 319. Di halaman pertama tertera judul menggelitik: ‘Budaya Warung Kopi’.
“Baca dulu ah.” Nile berbisik lagi. Di baca  alinea pertama yang bertuliskan begini …
    “Perasaanku sudah tak enak waktu melihat pengunjung warung kopi ‘Usah Kau Kenang Lagi’ lebih      banyak daripada biasanya. Empat puluh tiga cecunguk anggota sindikat eksyen hadir lengkap. Eksyen       sendiri mengambil posisi yang aduhai dan angle simpang jalan, seandainya – menurut kepala      sintingnya – kamera sudah berada di situ. Seorang perempuan bermaskara tebal membuatku gugup.           Ia berbicara dengan seorang lelaki asing berpakaian seperti  baru menjual enam ekor sapi. Mulut    perempuan itu secepat gerak-gerik bola matanya. Waktu aku tiba, mereka lekat menatapku. Dan mata perempuan itu, ampun, seperti  tak pernah berkedip. Nanar memancar-mancar, belum pernah aku lihat orang seperti itu, kedua mata itu seperti menyalak-nyalak.”
 Ngeooooong …
Nile menghentikan bacaannya. Dia bangun dari tengkurepannya. Mencari di mana suara kucing menge ong itu. Dicari ke sana kemari, dari balik lemari pakaian, kalau saja ada, hingga ke meja belajar, tak juga ketemu.  Suara khas itu seperti lenyap begitu saja tanpa menghilangkan jejak.
“Ke mana ya. Apa gue salah denger kali …”
Nile kembali ke tempatnya tadi, melanjutkan bacaan di alinea kedua dari novel  karya lelaki kelahiran Pulau Belitung itu …

             “Sebelumnya Mahar memang telah mengingatkanku agar berhati-hati menjaga rahasia
          soal perahu lanun di bawah jembatan Linggang. Sebab, mafia pemburu harta karun mulai
           berada di pulau-pulau kecil perairan Sumatera Selatan sejak di lepas pantai Tanjong Tinggi di
           temukan bangkai-bangkai perahu bermuatan porselen mahal Tiongkok. Perahu-perahu itu
           dicurigai bagian dari armada Laksamana Cheng Ho yang berlayar menuju selat Malaka dan ka
           ram di perairan Belitong Barat.”

Ngaiiiing … ngaiiiing …
Suara kucing itu terdengar lagi. Tapi bukan lagi bernada panggilan Ngeooong … ngeooong … Sudah berubah menjadi Ngaiiing … ngaiiing …Seperti tadi, Nile bangun dari tempat tidurnya. Dia cari asal suara itu.
“Coba deh dari jendela itu. Kalau-kalau saja ada.” Berbisik sendiri melangkah ke dekat jendela kamarnya.
Disibakkannnya gorden jendela, meihat keluar denga pandangan mata ke sekitar luar kamar, taman dan jalan raya. Tak ada siapa-siapa. Dia tutup lagi gorden jendela itu. Dia perhatikan jam dinding di kamarnya. Baru jam setengah empat sore.
“Ah, lanjutkan lagi membacanya …”
Alinea ketiga …
                  “Tak tahu dari siapa, tapi berita bahwa aku akan mengambil papan seruk di bangkai perahu
              Lanun di dasar sungai Linggang menyebar cepat bak kolera. Eksyen dan komplotannya yang         
             Berambisi  menghalangiku membuat perahu itu, dan kian bernafsu karena takut kalah taruhan, 
             Menyerbu Warung  Kopi Usah Kau Kenang Lagi. Berbeda dengan tujuan mafia harta karun, 
             mereka   berkumpul di warung kopi untuk menjatuhkan mentalku.”

Ngeooong … ngaiiiing … nguuuu’ung …
Suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih nyaring nadanya dan mendayu-dayu.
“Kucing apa …?” Ah tak mungkinlah ada setan di rumah ini. Kalau benar ada, ngapain pula dia mau ganggu aku. Aku kan tak ganggu dia …”
Kali ini Nile memaksa diri keluar dari kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya, Nile turun menuruni anak tangga menemui mamanya yang lagi memasak di dapur untuk persiapan makan malam.
“Ma. Tengok puspus enggak Ma?”
“Enggak sayang. Kenapa emangnya. Tadi kan ada di kamar kamu,” jelas sang ibu membolak-balik gorengan tahu dan tempe.
“Iya Ma. Tadi sih emang ada. Tapi waktu Nile baca novel, kagak ada lagi. Suaranya saja yang ada. Terdengar Nile beberapa kali gitu, Ma.”
“Lapar kali say …”
“Bantuin Nile Ma carinya ya …”
“Ya ya … Sebentar ya say. Mama nyudahin dulu tahu dan tempe kesukaan papamu ini.”
Ngeoooong …
Tiba-tiba si puspus melompat dari balik pintu dapur, setengah berlari mendekati Nile.
“Na, itu dia …” Kata sang Mama meletakkan piring berisi tahu dan tempe di atas meja makan.
Puspus menggeliat manja di pelukan Nile. Beranjak pergi meninggalkan Sang Mama sendirian di dapur. Dia kembali ke kamarnya untuk meneruskan kembal bacaan novelnya yang sempat terhenti tadi.
Ditemani puspus dalam posisi sama-sama tengkurep, Nile melanjutkan bacaannya dengan membuka lembar halaman ke 71 …
                  “A gentlemen wil walk but never run …
                    It takes a man to suffer ignorance and smile
                    Be your self no matter the say … “
          “INDRA Gunawan menggosok-gosok punggung musisi kampung itu karena merasa amat di-
       hargai. Lagu itu adalah representasi pas gengsi dirinya sebagai gentlemen modern dari  Ja-
       karta. Tentu berat bagi seorang muda metropolitan untuk merintis hidup di pulau-pulau    
       terpencil  Belitong, tapi lagu itu telah memberinya inspirasi. Bang Zaitun senang tiada ter-
       kira karena tahu pilihan lagunya telah berkenan di hati tamunya. Para penumpang di bela
       kang bertepuk tangan salut untuk Bang Zaitun. Bang Zaitun sampai menggeser-geser duduk
       nya karena salah tingkah.”

Tok … tok … tok …
“Yang … buka pintunya dong …”
“Mama ya?!”
“Yoi …”
Ada tamu rupanya. Mama kasih tahu barusan. Tapi siapa ya?
“Teman-temanmu sekolah kayaknya. “Jawab Sang Ibu, gantian menggendong puspus, meminta Nile jalan lebih dulu menemui teman-teman sekolahnya.
Nyiiiit … kresss …
“Selamat sore none Nileeeee ….! Teriak tak nyaring dari Maisaroh, Zubaidah, Puspa dan Zuleha.
Mereka bergantian mencium kedua belah pipi Nile. Yang dicium justru geli dan agak risih karena tercium aroma pesing dan bikin perut jadi mules.
“Lum mandian ya?”
“Lumlah noneee …”
Tak seberapa lama. Zubaidah menarik lembut tangannya Nile. Yang tangannya ditarik tentu saja kaget tidak kepalang. Bukan karena tarikan dadakan itu, tetapi bisikan teman sekelasnya itu yang bikin penasaran dan geleng-geleng kepala.
“Ah, yang bener …!”
“Masak kami bo’ong Nile,” kata Puspa sesekali menengok keluar jendela, sebelum akkhirnya duduk lagi di dekat Nile.
“Bentar lagi dia datang. Trus gimana kita?” Zuleha kuatir kedatangan mereka ke ruma Nile sudah diketahui Salim.
“Mana mungkinlah. Kan yang tahu cuma kita berempat,” jelas Maisaroh menenangkan rekan-rekannya yang mulai gelisah.
Piiiiiiin … piiiin … piiiiin …
“Tuuh dia datang …” Kata Puspa setelah memastikan dari balik jendela kalau yang datang Salim bersama Petruk dan Semar.
“Gimana kita dong, Pus?” Tanya Zubaidah.
“Tenang aja,” kata Nile, “Kalian sembunyi saja di kamar itu …” Menunjuk ke sebuah kamar kosong dekat ruang tamu dan ruang keluarga.
“Kamu sendiri gimana dong?”
“Ya enggak gimana-gimana dong, Pus. Tinggalkan saja aku sendirian di sini,” jawab Nile, bergegas membuka pintu setelah beberapa detik lalu bel berdering tanda ada tamu yang datang.
“Sore Nileee …” Salim menyapa Nile, diikuti Petruk dan Semar. Mereka bertiga sama-sama mem bungkukkan badan sambil menyunggingkan senyuman.
Kepada Nile, terus terang Salim bermaksud menghadiahi sebuah buku novel. Buku itu baru dia beli dari toko buku da khusus dihadiahkan buat Nile, sebagai tanda eratnya persahabatan.
“Sebagai seorang sahabat, teman sekelas, saya terima buku ini,” ujar Nile. Buku tebal itu ia letakkan di atas meja, menghadap tempat duduknya Salim.
Persis sama dengan novel yang baru dia baca barusan, tak enak hati Nile untuk menolak pemberian itu. Apalagi Salim bukan orang lain. Dia tak lain adalah teman belajar, temannya Puspa, Iqbal, Petruk dan temannya Semar serta siswa yang lain.
“Gimana Nil. Bagus kan novelnya?” Petruk membuka obrolan.
“Bagus kayaknya …” Kata Nile sambil memangku kucing kesayangannya.
 “Kok kayaknya, Nil?” Sahut Semar, sepertinya diiyakan juga oleh Salim.
Salim berharap Nile menyukai novel pemberiannya itu. Jika senang dengan novel yang barusan dia beri kan, berikunya akan lebih mudah mendekati Nile lebih lebih jauh lagi. Jadi tidak cuma bisa jadian di alam mimpi,  di luar mimpi memang benar-benar terwujud. Bisa belajar berdua, jajan berdua, piknik dan ke mana-mana selalu berdua.
Lho yang lain gimana?
Biarin aja. Gitu aja repot …
Ngeoooong …
Duuup …
Puspus melompat ke pangkuan Salim saat dia beralih tempat duduk, berjarak beberapa sentimeter dari tempat duduknya Nile.
“Auuuwww …”
Salim kaget.
“Puspus … turun sayang …” Bujuk Nile.
Ngeoooong … ngeooong …
Puspus baru bersedia turun dan tidak melompat lagi ke pangkuan Salim setelah yang bersangkutan kembali ke tempat duduknya semula.
“Maaf ya Lim. Nich kucing memang suka usil …”
“Ah, taka pa-apa Nil. Biasalah itu … Namanya juga kucing. Jangankan kucing, kita manusia saja yang punya akal dan pikiran, masih suka dan malah seneng jahilin orang. Ya enggak Petruk?”
“Suka-sukamulah, Mar.” Jawab Petruk yang kebelet mau pipis. Terpaksa ditahan karena antara Salim dan Nile belum juga ‘jadian.’
“Saliiiiiiiim …”
Terdengar suara sayup-sayup memanggil  namanya. Salim memandang sesaat ke sekitar ruangan.  Du duknya mulai tak tenang. Dia gelisah. Soalnya, di mana dan dari mana suara itu berasal tak jelas. Ditanya Petruk, tidak. Ditanya Semar, geleng-geleng kepala sambil mulut menguap.
“Saliiiiiim. Pulanglah Saliiiiim …”
“Nile. Kamu dengar kan?” Salim mulai ketakutan, tapi didiamkan karena gengsi di depan ada Nile.
Calon tunangan …
Geeee … er niyeee …
“Dengar apa ya Lim?”
Nile pura-pura tak tahu. Sebab dia sudah bisa menebak ini pasti kerjaannya Puspa dan kawan-kawan sekelasnya.
Hi hi hi hi …
Salim tak bisa lagi memendam rasa takutnya.
Peluh mulai membasahi wajahnya.
“Nil. Kamu pulang dulu ya.”
“Lho, cepet kali Lim?”
“Anu … ada kerjaan lain. Sorry ya …”
Ha ha ha ha …
Hu hu huhu …
Hi hi hi hi …
Salim, Petruk dan Semar bergegas keluar rumah. Sepatu tak sempat dikenakan,  ditenteng dan dibawa berlari menuju mobil yang diparkir dekat jalan tak jauh dar rumah.
Kasihan deh lu …
                                                                       *************                

V
“BiJe …?!”
Yang disapa belum mendengar karena masih sibuk melayani pembeli lain yang sore itu lebih ramai dari biasanya. Kebanyakan memesan ayam goreng, BiJe bersama pegawai yang lain sibuk meletakkan pulu han ayam goreng itu ke atas piring ceper berwarna putih lengkap dengan nasih putih beserta lauk pauk nya seperti sayur mayur dan sambal kentang. Hidangan serba hangat itu kemudian dibagikan ke puluhan meja yang tersebar di berbagai ruangan, mulai dari ruangan tengah, depan dan belakang, hingga ruang samping kiri dan kanan.
“BiJe …?!”
Kali ini Bije baru bisa mendengarnya. Dia menoleh ke kiri tidak ada siapa-siapa selain beberapa pengunjung rumah makan siap saji hilir mudik dari dan menuju kamar kecil. Menoleh ke kanan, pengunjung pada lahap menyantap hidangan dengan mengigit ayam goreng, mencicipi kentang dan tomat mentah dengan sesekali menyesap es teller, es cincau dan es  campur coca cola.
“Huuuuiy …”
Tangan kanan BiJe seperti ada yang mencoleknya.
Siapakah dia?
“Nileeee …?!”
“Kerja di sini Je?”
“Ek … eeee.”
Sayangnya, Nile tak bisa berlama-lama mengobrol, tukar cerita barang sesaat bersama BiJe, misalnya. Pa salnya, cowok berkulit hitam manis ini harus melayani pengunjung lain yang semakin mendekati malam semakin ramai. Ada yang membawa serta anak dan isteri, cuma berdua saja tanpa mengikutsertakan si buah hati, pengantin baru dan lansia. Belum lagi rombongan anak-anak muda yang secara khusus telah mem-booking tempat duduk jauh-jauh hari sebelum kedatangan mereka ke tempat ini.
Bukan BiJe kalau tak bisa mencuri kesempatan di saat sibuk melayani  banyak orang sekalipun. Kala si buk menghidangkan pesanan di atas meja panjang untuk porsi berukuran 712 orang, dia sempat curi-curi pandang. Menyunggingkan senyuman, tentunya dibalas dengan lambaian tangan dan sunggingan senyuman oleh Nile.
BiJe sudah hampir setahun lamanya bekerja di rumah makan favorit warga di kota ini. Dia bekerja paruh waktu. Pagi sekolah, pulangnya istirahat sebentar, sore harinya dia baru berangkat kerja menggunakan kereta angin, sepeda.
Pulang ke rumah menjelang tengah malam. Ada-ada saja yang dia bawa pulang. Terkadang nasi kotak pemberian sang bos, bonus lembur dan tak jarang hadiah dari teman-temannya semasa kecil dahulu yang sempat mampir untuk makan malam bersama.
Kerja paruh waktu ini baru diketahui Nile pada sore dan malam hari. Kebetulan kedua orangtuanya   mengajak  makan malam di salah satu rumah makan siap saji, sekaligus makan angin dan tengok panorama pusat kota di kala malam. Tampak mereka senang bukan karena lahapnya makan, tapi pemandangan di sekitar rumah makan sangat indah dan tak bakalan mudah kita lupakan.
Kenapa?
Karena lokasi rumah makan tempat BiJe bekerja terbilang istimewa. Bayangkan saja, sudah ada danau, jembatan gantung lagi. Malam di sekitar danau diterangi lampu berwarna-warni. Lampu-lampu itu memperindah pinggiran danau, rerumputan taman yang menghijau, begitu indah memesona hati dan indra saat dipandang.
Ada tempat duduk berupa bangku besi memanjang lengkap dengan jejeran aneka bunga bermacam war na dan nama. Tak jauh dari tempat duduk ada lampu-lampu taman, pesawat televisi dan beberapa meja buat mereka yang kepingin menonton acara yang disuguhkan.
Di sekitar danau ada berjejer lapak-lapak makan dan minuman serta butik kecil yang khusus menjajakan busana produk terbaru bagi kaum wanita dan remaja muda usia, termasuk anak-anak. Juga ada pusat oleh-oleh khas racikan warga. Bisa dibawa pulang dengan harga yang sangat terjangkau oleh kantong orang kebanyakan.
Sayup-sayup kita akan mendengar musisi jalanan beraksi dengan berbagai gaya dan posisi. Musisi lokal dan dari ibu kota. Kadang berpenampilan eksentrik, namun tak sedikit berpembawaan biasa-biasa saja. Tak bersepatu, hanya mengenakan sandal jepit. Meski  gondrong, masih enak diindra karena tak awut-awutan layaknya orang berprilaku tak karuan.
Ada banyak tempat bagi mereka untuk tampil. Ada yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Memainkan gitar, mendendangkan tembang pesanan pengunjung. Mulai dari tembang tempo dulu yang penuh dengan seabrek kenangan sampai tembang terkini yang menyimpan makna tersendiri.
Ada juga di antara musisi itu menghibur pengunjung dengan mengambil posisi di satu tempat, seperti dekat lapak, depan pintu masuk rumah makan dan di pinggir danau dekat jala setapak melingkar, mengeliligi danau yang jernih airnya ditingkahi muncratan genit air mancur di tengah danau, seolah ikut bergoyang mengikuti irama tembang.
Sambil menyantap hidangan usai magrib berjamaah, Nile dan kedua orangtuanya menikmati sajian mu sik  dari jembatan gantung  menghubungkan tepian kedua danau. Tak seberapa lama, mengalunlah tembang ‘Setangkai Angggrek Bulan’, tembang favorit  pengunjung yang sebagian kecil menikmatinya dari atas sampan berjalan.
 
                               Setangkai anggrek bunga
                                Yang hampir gugur layu
                                Kini segar kembali
                                Entah mengapa …

                                       *
                                       Bunga anggrek yang kusayang
                                        kini tersenyum berdendang
                                        bila engkau berduka
                                        matahari tak bersinar lagi

                                                 Hatiku untukmu
                                                 Hanyalah untukmu
                                                 Kuserahkan
                                                 Kudambakan …

                                                           Dirimu diriku
                                                           Permata hatiku
                                                           Kubayangkan
                                                           Di setiap waktu …

                                                                   Bagai embun pagi hari
                                                                   Bunga-bunga segar lagi
                                                                    Berkembang harapa hati
                                                                     Hari bahagia menanti …”

                                   (repeat *)

“Seneng lagunya say?” Tanya sang Mama pada Nile yang tampak sumringah tapi mulai lelah dan mengantuk.
“Surprise Ma …”
“Mau denger lagi atau langsung go home, honey?”
“Once more, Dad.”
“Oke … Berarti kita masih harus duduk di sini lima belas menit lagi,” kata Pak Rustam, seraya menengok jam tangannya, “Baru jam sembilan , Ma. Pas lah. Satu tembang lagi kita dengar, baru kita baru pulang …”
“Para pengunjung sekalian … Lagu berikutnya adalah ‘Angin Malam’. Selamat menikmati …”

                             “ Berhembus angin malam
                                mencekam, menghempas
                               membelai wajah ayu
                               itulah kenangan
                              yang terakhir denganmu …

                                        Kudekati dirimu
                                        kau diam
                                        tersungging senyuman
                                        di bibirmu
                                        itulah senyuman
                                        yang terakhir darimu …

                                                      Diringi gemuruh angin
                                                      meniup daun-daun
                                                     alam yang jadi aksi
                                                     kau serahkan jiwa raga

                                                             Angin tetap berhembus
                                                            tak henti
                                                            walaupun sampai
                                                            akhir hidupku
                                                           oh angin malam
                                                           bawa daku kepadanya ….”

“Malam Om,” sapa BiJe yang memang sengaja menunggu di depan pintu masuk rumah makan.
“Malam juga. Siapa ya … rasa-rasanya ingat, tapi …”
“BiJe Pa. Masak lupa. Teman sekelas Nile,” buru-buru Nile mengingatkan sang Papa, yang memang lupa kalau pria yang kini berdiri di samping kanannya adalah BiJe.
“Waduh, lupa Om. Tapi mukanya kamu Om ingat, Je.”
“Tante juga nak Bije. Tahu orang, lupa nama.”
Ha ha ha ha …
“Eeeem  … lum …”
“Belumlah Om. Jam sebelas lebih sedikitlah kira-kira,” jelas BiJe ikut mengantarka Nile dan kedua orangtuanya sampai  ke lokasi parkir khusus kendaraan roda empat.
Mulai pukul sembilan malam lebih lima menit, kecuali di malam minggu, pengunjung rumah makan siap saji di tengah kota ini berangsur-ansur pulang. Meski ada juga di antara mereka yang masih bertahan karena masih asyik mendengarkan tembang lawas penuh kenangan.
Dari balik jendela mobil, Nile sempat melambaikan tangan, dibalas BiJe dengan senyuman. Malam ini Nile benar-benar merasa puas. Bukan cuma puas dan lega karena asyik menikmati hidangan yang tersaji dan musik yang mengalun lembut, tapi yang lebih penting adalah dia bisa bersua BiJe di lain tempat dan waktu.
Padahal, sejak berangkat dari rumah menuju rumah makan yang digandrungi tua dan muda ini, Nile sama sekali tak terpikirkan bisa bersua BiJe. Cowok yang sangat membuat penasaran Nile. Selain rada pendi am juga berpenampilan sederhana. Baginya, BiJe layak dijadikan teman curhat, tukar pikiran, teman bepergian, jauh maupun dekat.
“Udah lama BiJe kerja di sana say?” Tanya sang Papa seraya memutar setir mobil ke kanan.
Jalanan masih ramai. Cuma motor, jumlahnya sudah berkurang. Hanya sesekali lewat mendahului kendaraan roda empat. Sedangkan mobil mencapai puluhan jumlahnya. Tidak sampai macet merayap seperti pergi sore hari tadi. Sehingga pulangnya lebih santai dan bisa menikmati betapa enaknya mengendarai mobil pribadi di malam hari.
“Nileee …” Sapa sang ibu.
Menoleh dia ke belakang.
“Biarin Ma dia tidur. Mungkin capek,” kata Pak Rustam.
Nile tidur pulas. Dalam pulasnya tidur, dia seolah berada di sebuah taman nan luas. Dia duduk berdua dengan BiJe sambil memandang lepas ke sungai yang di pinggir kanan dan kirinya disesaki aneka bunga indah mekar merekah.
Keduanya berbagi cerita, saling melepas tawa saat jalan berdua menuruni tanah rerumputan. Menuju bibir sungai, menaiki sampan dan mengayuhnya silih berganti.
Begitu memesona sungai itu. Matahari tak terlalu terik sinarnya. Nun jauh di sana, ratusan burung beterbangan membentuk lingkaran, terbang rendah seolah tengah beraksi di hadapan Nile dan BiJe.
“Je … ke pinggir yuk …!”
Nile ingin kenikmatan di taman ini tak cuma dihabiskan dengan naik dan mengayuh sampan. Atas saran BiJe, mereka akhirnya menyewa sepeda di pusat penyewaan sepeda. Dengan sepeda itu, keduanya bisa leluasa mengelilingi taman dan sungai lewat jalan darat beraspal mulus.
Tentu mereka tidak sendirian. Ada juga beberapa pasang muda mudi bersepeda. Mengayuh bersama, terutama berdua, sungguh romantisnya. Sepeda meluncur deras bagaikan pesilancar bermain ombak. Tak ada yang namanya kemacetan. Apalagi higar binger segala. Jauh sekali dari kebisingan.
“Tempat seperti inilah yang aku sukai, Je.” Bisik Nile sat dibonceng bersepeda mendekati pondokan warga tempat berleha.
“Sama,  dong kalau gitu. Aku juga …”
“Sedangkan tempat yang paling enggak aku suka adalah pasar …”
“Kenapa?”
“Becek, kotor dan sumpek …”
“Padahal ada paar-pasarnya juga, Nil. Ada yang kurang bersih, tapi masih ada juga yang bersih dan terawatt dengan rapi …”
“Di mana itu Je?”
“Di mal-mal itu …”
“Itu sih bukan pasar, Je. “
“Lho, kalau bukan pasar, lalu apa?”
“Ya mal. Ya bukan pasarlah namanya. Pasar itu ya … semuanya serba jadi. Tak kebagian lapak dan kios, bentang tikar aja. Ngapar di tempat becek, pasti ada yang beli. Nah, tempat mbok-mbok yang ngapar alias lesehan itulah yang tidak aku suka, Je …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa. Lucu ya, Je?!”
“Menurutmu gimana?”
“Enggak lucu …”
“Ya, sama dong dengan aku kalau gitu.”
“Kenapa tadi tertawa?”
“Tuh lihat …!”
Sepasang angsa kejar-kejaran. Bukan sesama mereka. Tapi si lanang dan si betina sama-sama mengejar anak-anak yang usil mau mengambil diam-diam telurnya.
He he he he …
Piiiiin … piiiiin …
Nile tersenyum, tapi belum juga terjaga dari tidurnya.
“Say … bangun. Udah sampai kita … “Kata sang ibu, membukakan pintu samping tengahnya mobil. Membangunkan Nile dari mimpi indah saat pulang dari piknik kuliner malam.
Sementara BiJe, berkemas mengeluarkan sepeda dari pintu gudang belakang. Itu sepeda dikayuh den gan kecepatan sedang meluncur ke jalan raya. Mulai lengang, ada tersisa satu satu-dua kendaraan roda dua dan empat berlalu-lalang, melintasi jalan, menembus dinginnya udara malam.
                                                                                      ***

VI
SESUAI janjian sebelumnya, Zuleha, Maisaroh, Zubaidah dan Puspa kumpul di kediamannya Nile usai pulang sekolah. Ada apa gerangan? Rupanya, kata Petruk kepada Maisaroh, Salim ingin BBM-an dengan Nile. Entah apa yang mau diomongin, Salim berharap Nile bersedia membalas BBM-annya.
Nile tak keberatan. Cuma, dasar anak muda, supaya ramai dan jadi bahan olok-olokan, Zubaidah yang diberitahu Maisararoh kemudian mengusulkan agar mengajak serta Zuleha dan Puspa. Nile setuju saja. Sepakat, mereka tunjuk Nile sebagai tuan rumahnya.
Selang beberapa menit, Nile dan teman-temannya membuka HP merk Samsung. Di blok BBM, belum ada tulisan dari Salim.
“Tunggu ajalah Nil,” kata Puspa bergaya di depan cermin, goyangkan kepala ke kiri dan kanan.
“Ntar keburu malam dong,” sahut Zubaidah, keselekan makan ubi goreng, karena enak disantap, lupa minum.
“Enggaklah. Sebentar lagi is oke. Tunggulah ..” Puspa meyakinkan teman-temannya.
Tuuuung … tiiiiing … taaaang …
“Nah, apa kubilang Nil. Tul kan?” Puspa menepuk-nepuk dadanya. Hampir sesak dia punya nafas karena ditepuk juga itu dada oleh Zuleha.
“Sorri Nil … apa kabar?”
“Sore juga Lim. Kabarnya aku enggak ke mana-mana. Tetap di sini. Baik selalu. Kamu juga kan?”
“Ialah. Eeeem … sedang ngapain kamu sekarang, Nil?”
“Baring-baringan di kamar.”
“Wah enak lho …”
“Iya dong …”
“Enggak bobok, Nil, sekalian?”
“Enggaklah Lim”
“Kenapa?”
“Ya,  enggak mau aja Lim.”
“Apa karena mikirin sesuatu?”
Zuleha gantian membalasnya …
“Enggak, Lim. Kok tahu ya kalau saya mikirin sesuatu?”
“Ya, ialah … Gue  tahulah sedikit soal yang gituan …”
“Ah masa?
”Bener kok, Nil.”
“Ah dasar cowok … mata kuali. Tak boleh tengok cewek, langsung digodain …”
“Tanpa cewek hidup ini hampa, Nil …”
“Kata siapa?”
“Kata Salim …”
Gantian Puspa yang ngebelas BBM.
“Hei Lim. Mau Tanya nich. Boleh kagak?”
“Boleh aja. Up to you. You Tanya, ai jawablah. Please …”
“Oke … Ngomong-ngomong, kamu dengan Zuleha pacaran enggak ya?”
“Enggaklah. Siapa bilang?”
“Aduhhhh … Ha.”
“Kenapa … kenapa Nil?”
“Ah enggak … pahaku kejepit. Sebentar ya ..”
“Oke …”
Puspa mengejar Zuleha yang barusan mencubit pinggangnya barusan. Sakitnya minpa ampun. Perih dan sakit. Karena Zuleha berlari, Puspa kejar. Tapi enggak jauh kok. Masih di dalam kamar. Berputar-putar di sekitar tempat tidurnya Nile. Puspa belum mau menyerah.  Dia lempar Zuleha pakai bantal guling, tak kena. Dia ambil lagi itu bantal, dilemparnya lagi kea rah Zuleha, juga tak kena. Meleset. Sampai akhirnya keduanya didamaikan Nile.
“Udah … udah …” Kata Zubaidah.
“Sekarang salaman sama-sama …” Nile menarik kedua tangan Puspa dan Zuleha.
Mulanya keberatan. Berat mengulurkan tangan. Saling pelotot, saling cibir, cemberut, merajuk dan siap bergulat di lantai. Untunglah, Maisaroh juga turun tangan. Maisaroh peluk Zuleha, Zubaidah menarik tangan Puspa agar tidak jadi melukai Zuleha.
“Mau terusin apa tidak BBM-annya?” Nile bersiap mematikan androidnya.
“Terusin … terusin.” Kompak menahan lajunya jemari Nile yang hendak menekan tombol ‘mati’.
“Oke, enggak jadi dimatiin. Kita lanjut …” Nile mempersilakan Zubaidah membalas ‘pesan’ dari Salim.
“Kok lama amat sakit pahanya. Luka ya?”
“Kagak. Sebentar say …”
Duileee …
Ge … eer lah Salim …
“Nile kan?”
“Emangnya siapa?”
“Nile …”
Ha ha ha ha …
“Nile .. aku serius nich sama kamu …”
“Serius ngapain?”
“Bukan teman biasa …”
“Maksudnya?”
“Itu tuh … Masak kagak tahu Nil.”
“Kalau memang kagak tahu, apa salah ya Lim. Setahuku kan enggaklah …”
“Ya enggaklah. Maksudku Nil, gimana kalau aku ama kamu pacaran aja. Mau enggak?”
Hi hi hi hi …
Pungguk merindukan bintang …
“Gimana temen-temen?” Nile belum kasih jawaban. Zubaidah juga. Kulunuwunlah dulu dong sama Nile, supaya enggak sampai salah jawab.
“Jawab aja sebisanya, Dah.” Celetuk Puspa.
“Lho … kalau salah gimana?”
“Kagak apa-apa kan Nil?” Puspa melepaskan tangan Zuleha yang terus-terusan menyuruhnya membalas BBM Salim.
“Kamu aja yang ngebalasnya, Ha. Mau kan demi aku, Nile, teman sejawatmu …”
Mulanya sih ogah. Lalu ketawa. Mau juga akhirnya setelah  diledeki Maisaroh dengan ‘Zuleha berdandan kayak model ternama.’
“Di luar bukan tanggung jawab saya ya.”
“Iya … iya … Pokoknya jawab aja sana. Terserah kamu punya jawab. Kita turuti aja …”
“Oke kalau gitu.”
Piiiiing … piiiiing … piiiiiing …
“Disini Nile … ganti ..”
“Na gitu dong … Itu baru Nilenya Salim …”
Ha ha ha ha …
Yang lain ketawa, Zuleha cemberut rupa.
“Gimana? Mau kan Nile?”
“Mau aja … tapi ada syaratnya lho …”
“Apa sja syaratnya Nile. Cepat katakan … aku mau dengar sekarang juga dari kamu langsung. Sudah tak tahan nich …”
“Tenang aja. Syaratnya gampang kok.”
“Oke. Bilanglah sekarang ke aku, Nil …”
“Cuma satu syaratnya. Pada malam minggu besok, kamu datang ke rumahku. Boleh sendirian, sama temen … ngadep dan bilang ke papaku …”
“Ngapain Nile ngomong sama papamu segala?”
“Lho, kok enggak tahu mau ngapain?”
“Bener kagak tahu Nil. Sumpah dong …”
“Ya kamu harus ngomong sama papanya aku. Mohon izin mau pacaranlah gitu … Mau kagak?”
“Eeeem gimana ya?”
“Kok ragu?”
“Tunggu sebentar boleh kagak?”
“Boleh … boleh …”
Salim meminta saran dan pendapat Petruk dan semar. Menurut keduanya, tak ada jalan lain selain memenuhi persyaratan yang dijukan Nile.
“Kalau tidak, Nile bakal lepas dari elu, Lim.” Kata Semar.
“Betul apa kata Semar itu, Lim.” Timpal Petruk. “Kamu harus mencobanya. Sebab, kalau tidak keinginan elu bakal kandas di tengah jalan ... Malunya itu yang mana tahan …”
“Bukan hanya malu,” balas semar, “Lim. Tapi bakal ada beban tambahan buat kamu.”
“Beban apa?”
“Ialah, setiap kali ketemu Nile, perasaan gagal selalu menghampiri. Bisa-bisa nanti kamu jadi minder, penyendiri dan terasa asing di tengah keakraban dengan teman-temanmu sendiri …”
“Jadi …” Salim minta kesimpulan akhir.
“Jalani saja dulu …” Jelas Petruk dan Semar serempak.
Tuuuuung … tiiiiiiiing … taaang …
“Gimana Lim?”
“Oke, Nil.”
Ha ha ha ha …
Nile dan teman-temannya saling bertos-tosan. Mereka tetap kompak dan akan selalu memonitor per kembangan hubungan antara Nile dan Salim. Apakah bakal berlanjut ke jenjang ‘berpacaran’ atau ter henti sampai ‘berteman biasa’, masih perlu kita tunggu kabar beritanya …
Tapi enggak lama kok …
Tiga hari kemudian …
Kemeja putih berlengan panjang, celana hitam panjang dan rambut disisir rapi dengan jambul bagian depannya miring ke kanan, Salim percaya diri keluar dari mobil  kepunyaan sang papi. Melangkah mantap dan beberapa detik kemudian sudah tiba di depan pinu.
Niiiiing … nooooooong …
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuuk …
Salim kaget bukan kepalang. Belum apa-apa sudah disambut salakan anjing, apalagi kalau ada yang em punya rumah, bisa mati aku dibuatnya, pikir Salim. Dia berusaha tenang. Tapi setenang-tenang di depan salakan anjing, ada batasnya lho. Sempat duduk. Soalnya kata orang nich, kalau duduk anjing bakal tak menyalak lagi. Rupanya ini anjing tak mempan teori. Terus menyalak, dan terpaksa dengan berat hati dan malu rupa, ambil langkah seribu.
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Selamat, kata Salim dalam hati. Selamat dari gonggongan dan kejaran si anjing. Namun itu hanya semen tara waktu. Kenapa?  Karena begitu Salim berlari dan berhasil masuk mobilnya, itu anjing terus mengejar nya. Dia berusaha untuk ikut masuk dengan cara menggigit-gigit pintu serta kaca depan mobil.
Guuuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Salim sangat ketakutan. Hampir saja dia terkencing di celana akibat amukan hebat si anjing. Melompat ke tempat duduk belakang mobil, anjing pun mendekatinya lewat  kaca belakang. Mengintip Salim yang jongkok bersembunyi di balik pintu dengan kedua tangan menindih kepala. Si anjing menyalak dan menjulur-julukan lidahnya.
Guuuuuk … Guuuuuk … Guuuuk …
Piiiiin … piiiiin … piiiin …
Salim memencet klakson mobil. Tak lama keluarlah Nile dari balik pintu. Dia menoleh ke kiri, lalu ke kanan dan setelah itu bermaksud mau menutup pintu.
Piiiiiin …. Piiiin … piiiiin …
Dia hentikan langkahnya persis di depan pintu. Matanya kemudian tertuju pada sebuah mobil yang par kir di luar tak jauh dari pagar rumahnya. Nile sepertinya mengenal mobil itu. Karena ingin tahu, dia berjalan  mendekati pintu pagar.
Guuuuk … Guuuuk … Guuuuk …
Seekor anjing mengelilingi mobil Salim. Tak henti menggonggong. Berputar ke depan, belakang, kanan dan ke kiri. Lidahnya menjulur. Kali ini sudah siap menggigit Salim.
“Boli … Boli … Boli …”
Si Boli, nama anjing itu, berlari mendekati Nile. Dengan satu kali gosokan lembut di bagian belakang ke pala, Boli berlari masuk rumah. Pintu yang semula tadi tertutup berhasil dibuka Boli  dengan cara mene kan pegangan pintu sambil berdiri.
Guuuk … Guuuuk … Guuuuk …
“Boli … masuk say …”
Boli baru masuk rumah. Pintu dibiarkan setengah terbuka. Duduklah dia dengan sopan di atas sofa. Sam bil menunggu Nile masuk, dia tidur-tiduran dengan sesekali kedua matanya menatap ‘liar’ ke depan pintu.
Bagaimana dengan Salim?
“Masukin aja mobilnya Lim.” Pintu pagar dibuka lebar. Lebih aman mobil parkir di dalam ketimbang di luar pagar. Juga tidak sampai mengganggu kendaraan lain yang mau lewat.
“Sorri ya Lim,” kata Nile setelah Salim keluar dari mobil, diajaknya serta masuk.
“Tapi Nil …”
“Anjing ya?”
“Salim mengangguk. Berubah separo manja dan celingak-celinguk.
“Ndak … ndak apa-apa. Tenang aja. Kan ada aku,” jelas Nile, begitu melihat Boli tidur-tiduran di sofa, dia panggil namanya dan …
“Ssssst. Jangan nakal ya say … Belakang sana ya …”
Salim baru bau masuk setelah Boli benar-benar tidak ada lagi di sofa ruang tamu.
“Dia sudah pergi Lim. Aman kok. Masuklah …!”
Salim lega. Baju yang dia kenakan basah karena peluh setelah menyelamatkan diri dari kejaran si Boli. Dia tak malu-malu lagi. Lho emangnya ada apa dan kenapa? Gini dech … Begitu segelas air putih dingin ditaroh di atas meja, dia sikat. Dalam hitungan detik, itu air putih yang baru diambil Nile dari kulkas, tak bersisa lagi.
Glegek … gek .. glegek …
“Tambah lagi ya?”
“Boleh … boleh, Nil.”
Dua gelas besar air putih membuat perut Salim jadi kembung. Mau buang air kecil rasanya, tapi dia urungkan karena Nile sudah keburu menghidangkan martabak telur. Seperti yang tadi-tadi, Salim tak risih dan kikuk lagi. Dia sikat itu martabak sampai habis, kuwahnya pun ludes.
Eeeeeeek … eeeek … eeeeek …
Perut kenyang, haus hilang, pikiran mulai kembali tenang. Tak ada rasa takut lagi karena si Boli sudah pergi. Kepada Nile, Salim utarakan niatnya ingin bersua Pak Rustam.
“Seperti  janjiku kemarin itu, Nil.”
“Ooo gitu.  Maunya sekarang?”
“Iya dong. Lebih cepat, pulang kagak terlambat …”
“Ditunggu …”
Ke ruang belakang, Pak Rustam lagi asyik makan durian dengan isteri tercinta. Belum apa-apa sudah sepuluh biji durian masuk ke perut. Ketika Nile datang, sang Mama mengajaknya serta mencicipi buah lezat dan digemari banyak orang itu.
“Pa, Salim …!”
Pak Rustam sudah mengerti maunya Nile. Makanya, agar tak mengecewakan si buah hati satu-satunya ini, dia mempercepat menyantap buah durian. Setelah mencuci tangan, dan berganti pakaian, dia menu ju ruang depan. Menemui Salim, yang mungkin terlalu kecapekan, tertidur pulas di sofa dalam posisi duduk terlentang.
Pak Rustam kembali menemui Nile dan sang isteri di belakang. Memberitahu kalau Salim tak jadi ditemui karena ketiduran di sofa. Merasa tak yakin, Nile bergegas ke ruang depan dan …
“Astaghfirullah …!”
“Kenapa say?” Tanya sang Mama.
“Salim Ma …”
Menunjuk kea rah Salim yang sudah tak ingat apa-apa lagi. Ngorok nian tidurnya. Padahal tak jauh darinya ada Nile, Pak Rustam dan isterinya.
“Ada saran Pa?”
Pak Rustam membisikkan sesuatu di telinga Nile, didengar ibunya, lalu …
“Ah, Papa … Janganlah Pa.”
“Kita coba dulu, kan taka pa-apa. Boleh ya?”
“Terserah Papa lah …”
Dengan satu kali tepukan dan menyebut nama Boli, yang dipanggil sudah bangun dari tidurnya di ruang belakang. Dengan sedikit berlari, dia mendekati Nile, lalu …
“Temenin Om Salim tidur ya say …”
Boli seolah mengerti.  Sambil mengendap-endap, dia melompat labat ke sofa dan tidur ‘lelap’ di sampingnya Salim.
                                                                               ****
VII
GLEDUK … kletek … gleduk …
SUDAH tiga kali Bu Guru Siska mengengkol motor bebek kesayangannya di dekat halte pusat pertigaan kota. Kali keempat ada orang menyapanya. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan BiJe, salah seorang siswanya yang ramah dan pandai di kelas.
Setelah meletakkan sepedanya di bahu halte, BiJe segera membantu Bu Siska yang tampak mulai kepa yahan. Wajahnya basah karena keringat. Untung belum sampai mendorong itu motor. Kalau sampai terjadi alamat tak bisa jalan. Sudah panas terik, capek dari mengajar, perut lapar, motor ngadat pula. 
Salim ketawa.
“Kenapa Lim?”
“Habis bensinnya, Bu.” Jawab BiJe.
BiJe tak lagi mengengkol itu motor. Dia dorong ke pinggir trotoar. Setelah itu dia rapikan peralatan motor seperti obeng dan pembuka busi. Dia ambil sepeda dan …
“Ibu bawa yang punya saya saja … dan saya sendiri bawa yang punya ibu. Gimana?”
“Didorong?”
“Ialah, Bu.”
“Capek kamu Lim.”
“Enggak. Enggak jauh juga Bu. Dekat sini .. Hitung-hitung jalan siang jelang sore Bu.”
BiJe ketawa lagi.
Bu Siska akhirnya ikut ketawa.
SPBU-nya jauh-jauh dekat.  Dikatakan jauh, dari tempat BiJe dan Bu Siska saat ini, terlihat. Dibilang dekat, lima menit mendorong belumlah sampai ke tujuan.
“Ibu enggak kayuh sepedanya?”
“Oh iya. Tapi biarlah Lim. Ibu dorong aja. Hitung-hitung lari siang.”
Bu Siska ketawa.
BiJe ikut tertawa pula.
“Masih jauh ya Lim?”
“Engggak. Sudah dekat Bu …”
Sekitar lima setengah menit, keduanya tiba di SPBU. Tak begitu ramai nian kendaraan roda dua mengan tri. Jadi BiJe tak terlalu lama mengisi bensin. Sedangkan Bu Siska menunggu tak jauh dari SPBU sambil menunggu motornya diisi bensin.
“Apa enggak salah mata gue? Zubaidah bertanya pada diri sendiri dari mobil opelet yang berhenti di depan SPBU karena menurunkan beberapa penumpang.
“Haaa .. Masa ah?”
Zubaidah hampir berteriak saat BiJe mengendarai motor mendekati opelet yang ditumpanginya. Sayang, hampir merapat itu motor belok ke kanan dan berhenti persis di depan mushala SPBU.
“Haaaa … Bu Guru Siska?! Lagi-lagi Zubaidah hanya bisa bengong. Ini kenyataan atau sekadar sandiwara belaka.
“Terima kasih ya Je ..”
“Sama-sama Bu Siska.”
Ketika Bu Guru Siska sudah melaju dengan motor bebek kesayangannya itu, BiJe menyusul dari belaka ng.  Zubaidah ingin sekali memanggilnya. Sayang niat itu terpaksa diurungkan karena saat bersama an opelet melaju menuju alun-alun.
“Aduh, sial deh aku …” Gerutu Zubaidah.
Dia mengambil HP dari dalam tas sekolahnya, lalu mengirim pesan lewat BBM ke Maisaroh. Maisaroh yang baru turun dari opelet dan bayar ongkos, buru-buru ke pinggir dekat pintu pagar rumahnya.
“Ah, yang bener nich Dah.” Kicau Maisaroh tak percaya.
“Bener kok. Sumpah mati …Gue barusan aja melihatnya ..”
“Kamu sekarang dimana?”
“Dalam opelet …”
“Terus .. Bu Siskanya kemana?”
“Kayaknya sih langsung pulang …”
“BiJe?”
“Nyusul dari belakang …”
“Eeeem … apa?”
“Ada ek eee … gitu kan?”
“Hubungan luar biasa gitu?”
“Ya mungkin saja.”
“Oke. Gini aja. Elu kasih tahu ke Nile jugalah. Kasihan dia kalau benar sangkaan elu barusan.”
“Lho kok sangkaan gue. Ini bukan sangkaan. Tapi yang gue lihat gitu. Mana tau ada api asmara. Mana tau aja. Untuk jaga-jaga gitu …”
“Oke … oke. Udah cepetan sana. Kontak Nile …”
“Menurutku jangan ke Nile dulu …”
“Kenapa?”
“Entar dia marah, gimana?”
“Elu punya usul?”
“Kita kasih tau dulu ke yang lain. Gimana?”
“Oke. Kalau gitu biar gue aja yang ngehubungi.”
“Lanjut …”
Reng … reng … reng …
“Siang nona Puspa …”
Puspa yang baru saja nyampe, tampak kesal dengar HP-nya bergetar.
“Siapa sih?” Omelnya sambil membuka BBM. Tak lama ngomelnya, karena setelah itu dia terperanjat kaget.
“Ah, yang bener Mai?”
“Terserah elu lah. Percaya apa kagak?”
“Nile sudah dikasih tahu enggak?”
“Belum … Itulah yang mau kita omongin sama elu. Menurut Zubaidah, jangan dulu kasih tahu ke Nile …”
“Emangnya enggak boleh apa?”
“Takutnya Nile  ngapa-ngapain gitu dan …”
“Dan apa?”
“Kayak enggak tau aja kamu, Pus …Payah deh lu.”
“Terus, apa usul dari kamu?”
“Elu kontak deh Zuleha. Mau kan?”
“Gue cobalah …”
Zuleha masih ketiduran di sofa. Ngorok juga tidurnya. Padahal baru satu setengah menit tadi dia nyampe di rumah dan istirahat di sofa ruang tamu.
Riiiiiin …. Riiiin …
Belum ada jawaban.
Riiiin … riiiin …
Belum juga ada jawaban.
“Ke mana nich orang?”
Kesal tak dibalas-balas, Puspa angkat telepon. Sampai sepuluh kali telepon bordering, Zuleha tetap ngorok. Kedengaran ibunya, diangkat dan dijawab baliklah telepon itu. Kata si ibu, “Zulehanya lagi tidur.”
“Ibu takut membangunkannya nak Puspa. Ntar ya. Kalau sudah bangun ibu kasih tahulah ke dia. Ada pesan enggak?”
“Enggak ada Bu. Bilang aja kalau dia sudah bangun tidur nanti, kontak aku. Ada sesuatu yang penting ingin disampaikan.”
“Ya. Nanti ibu sampaikan ke dia.”
Bagaimana dengan Nile?
Bangun tidur. Seperti hari-hari sebelumnya, jika tidak baca buku fiksi seperti novel dan cerber sebagai obat penyegar pikiran, Nile mengulangi lagi pelajaran yang diberikan oleh ibu bapak guru di sekolah. Malam harinya baru dia siapkan materi pelajaran buat keesokan harinya.
Hal ini dilakukan Nile setiap harinya. Selain tidak menumpuk dalam mengulang pelajaran di sekolah, juga mempermudah pemahaman yang akan diajarkan guru esok harinya. Tinggal bertanya mana yang belum mengerti, selebihnya diulang dan dipahami kembali setibanya di rumah.
Kiiiing … kriiiing … kriiiing …
Ada telepon.
Balik dari mengambil segelas susu hangat dan segar di dapur, Nile segera mengangkat itu telepon.Dia tampak tenang, meski sudah diberitahu teman-temannya atas kejadian ‘luar biasa’ antara BiJe dan Bu Guru Siska siang hari tadi.
“Kamu enggak marah Nil?” Tanya Puspa.
“Enggaklah …”
“Nanti hilang lho. Tau rasa kamu …”
“Mudah-mudahan enggak sampailah gitu …”
“Tapi menurutku, kau BBM-lah BiJe. Biar sama-sama tenang. Elu tenang, yang lain juga tenang gitu.” Usul Puspa.
Puspa da ketiga rekannya yang lain baru tahu belakangan kalau sesungguhnya Nile menaruh hati pada BiJe. Ketimbang jadian dengan Salim, BiJe tampaknya lebih pas. Orangnya tak banyak cingcong, lebih dewasa dan pandai. Sementara Salim, sudah usil sama cewek, juga kekanak-kanakan dan gampang tersinggung.
Sedangkan Salim sendiri, sampai kini masih terus nekat memepet Nile. Momen BiJe dan Bu Guru Siska siang tadi bisa jadi dimanfaatkan Salim untuk mengambil hati Nile. Inilah yang dikuatirkan teman-teman Nile. Sementara Nile tidak berpikir sejauh itu. Cukup jalani saja, enjoy dan yakinlah Allah SWT akan menolong hamba-Nya yang berhati mulia.
Namun dalam hati kecilnya, Nile berpikiran tak salah juga kalau mem-BBM balik BiJe malam in. Tidak dalam jam-jam sibuk. Nanti setelah dia pulang dari bekerja. Cuma, Nile jadi kepikiran juga. Apa sopan tengah malam saling ngobrol lewat BBM dengan laki-laki. Itulah masalahnya.
“Itu bukan masalah Nil sayang,” jelas Puspa setelah membaca pesan singkat Nile lewat BBM.
“Kalau bukan lalu apa?”
“Biar kami yang nanti ngontak BiJe. Lepas magriblah. Tunggu aja dikabarin, gitu …”
“Apa enggak ganggu kerjanya dia?”
“Enggaklah Nil. Semuanya itu udah kita pikiran dua ratus persen baik dan buruknya …”
Di lain tempat, BiJe yang sempat terlambat beberapa menit datang ke tempat kerjanya, malam ini dimin ta sang bos membantu bagian administrasi dan keuangan. Tidak ikut membagikan pesanan pengnjung, tapi lebih pada keluar masuknya uang dari dan ke pengunjung rumah makan.
Jadi, di saat men-cap ‘lunas’ pembayaran bon pesanan, ada waktu senggang, dimanfaatkan BiJe untuk membolak-balik  catatan singkat pelajaran sekolah siang tadi.
Enggak mengganggu?
Enggaklah. Daripada bengong sendirian , mau jalan, ke mana juga jalannya. Mending buka notes berisi rumus-rumus matematika. Tak lama juga, paling tiga sampai lima menit. Karena setelah itu dia berjibaku denga tugasnya melayani keluar masuk bon pembayaran dan setoran uang berikut kembaliannya.
Kepada Puspa yang sempat nge BBM-nya, BiJe bilang kalau dia tak punya hubungan apa-apa dengn Bu Guru Siska. Murni hubungan antara murid dan guru. Bukan hubungan istimewa, tapi cuma hubungan biasa.
“Itulah penjelasan dari saya, nona-nona …” kata Bije dalam BBM-nya.
“Idiiih .. genitnya,” jawab Zubaidah.
“Tapi ya Je. Ini usul dari gue aja. Ntar pulang nanti elu BBM-lah Nile. Biar dia enggak kepikiran gitu.”
“Apa dia tahu juga?”
“Ya ialah Je. Masa pacar sendiri kagak tahu. Apa kata orang-orang …”
“Kata orang-orang apa memang, Dah?”
“Nih orang .. sungguhan atau main-main gitu …”
Ha ha ha ha …
Karena terlalu kencang ketawanya, BiJe sempat  jadi pusat perhatian. Entah kenapa sebagian pengun jung rumah makan ikut-ikutan pula tertawa, walau sampai tak terbahak-bahak.
Namun begitu sampai di rumah, BiJe ketawa lagi. Bukan karena peristiwa barusan di tempat kerjanya, tapi melihat tukang burukan lewat malam hari, dan bertanya kepadanya, apa ada barang burukan.
Ketawa itu baru reda setelah BiJe memberitahu Nile bahwa keadaannya baik-baik saja. Tetap sehat walafiat, meski selalu kena angin malam dan hujan yang kerap mengguyur di kala malam.
“Nil …”
“Ya Je.”
“Sorry ya.”
“Sorry kenapa?”
“Itu, kejadian tadi siang itu.”
“Bu Siska?”
“Iya.”
“Kamu sendiri gimana?”
“Gimana apanya Nil?”
“Seneng apa kagak?”
“Yach. Kalau aku senanglah karena bisa membantu orang lain. Apalagi yang kubantu Bu Guru Siska, guru dan wali kelas kita. Bukan orang lain …”
“Lalu …?”
“Aku bermaksud ngajak kamu jalan-jalan gitu. Mau ya?”
Ingin rasanya Nile melompat dari atas tempat tidurnya, saking senangnya. Sampai-sampai lupa ngebalas BBM BiJe. Untunglah, pesan itu sempat dibalas oleh Nile saat hendak mematikan lampu tidur kamarnya.
Kepada Puspa dan teman-teman yang lain, dia sebarkan kabar gembira barusan. Semua pada kaget, bu kan karena terkejut. Tapi senang bukan kepalang mendengar kabar BiJe dan Nile tak jadi marahan. Ber baikan lagi, dan bakal jalan-jalan dalam waktu dekat.
                                                                                       ***    


VIII
NAIK delman berkeliling pantai …
Preeet … preet ..
Ha ha ha ha …
Iwan terpaksa menutup hidung dan mulutnya karena dikentuti si kuda saat naik delman mengelilingi pantai. Dia sendiri duduk persis di belakang kuda. Kelang beberapa centimeter dari buntut kuda. Kentut kuda bukan hanya sekali. Bisa berkali-kali.
“Mimpi apa gue semalam?” Kata Iwan menoleh kea rah BiJe dan Nile, keduanya asyik memandang air lautan.
“Mimpi ketemu Mak Lampir kali,” celetuk Kuyung yang duduk bersebelahan dengan Emi.
Ha ha ha ha …
Preeet .. preeet …
Pak Kusir mempercepat laju delmannya. Karena berat ke kanan, delman miring pula ke kanan.
“Awas batu …!” Teriak Emi yang panik melihat delman berat sebelah dan bakal terbalik. Hentakan keras di roda sempat bikin kaget. Lalu …
Preeet … preeeet …
Si kuda kentut lagi.
Iwan tutup hidung dan mulut lagi.
“Busuk enggak Wan?” Tanya Kuyung.
“Enggak …”
“Amis enggak Wan?” Gantian Emi yang tanya.
“Juga enggak …”
“Ini enggak, itu enggak. Lalu apa Wan?” Sahut BiJe.
“Apek …”
“Apek?” Nile terakhir yang nanya.
“Iya apek. Singkatan dari aku pengen entut kuda.”
Ha ha ha ha …
Pak Kusir ikut tertawa. Semua pada ketawa. Lupa kalau kuda yang narik pedati lepas dari tali kekangnya, dan lari sendirian di depan …
Seisi pantai pada ketawa.  Tengok delman ‘berlari’ mengejar kuda.
“Auuuw …”
Emi menjerit karena delman oleng ke kanan mendekati bibir pantai. Dengan sigapnya Pak Kusir, Iwan, Kuyung dan BiJe serempak berpindah ke kiri sehingga delman tak berat sebelah lagi.
“Pegang tali ini ya dik,” kata Pak Kusir pada Iwan.
“Bapak mau ke mana?”
“Melompat. Kejar kudanya …”
Huuuup …
Pak Kusir mengejar sampai dapat itu kuda. Karena larinya agak melambat, dengan mudahnya ia menadaptakn kudanya kembali. Naik ke punggung kuda. Mengejar delman tanpa kuda.
Hiyaaaa …
Pak Kusir dan kudanya mengejar delman. Tak lama. Sayang, karena sudah hilang keseimbangan, delman akhirnya oleng dan terbalik. Semua penumpangnya pada terjungkal keluar. Bergulingan di atas pasir. Pakaian dan badan belepotan kena pasir.
Preeet … preeet … preeet …
Kuda kentut lagi tak jauh dari Iwan yang masih terduduk lesu di atas pasir pantai.
“Baunya Wan, gimana?” Kuyung bertanya.
“Amis …”
“Apa itu amis, Wan?”
“Amis itu … aku mau istirahat saja …”
“Jangan Wan,” kata Emi.
“Kenapa? Enggak boleh apa?”
“Nanti lama …”
“Lama apa?”
“Lupa aku makan akhirnya …”
“Kelaparan …” Sahut Kuyung.
Ha ha ha ha …
Puas naik delman mengelilingi pantai, BiJe dan kawan-kawan nyobain naik sampan. Berenam cukup, kata pemilik sampan.
“Kalian naiklah dulu …”
Setelah semuanya pada naik, si pemilik sampan bertanya lagi.
“Bapak temenin apa tidak?”
“Tak usah Pak. Kami bisa kok,” sahut Iwan.
Saman didorong, ke tengah lah melaju. Sama-sama mengayuh. Entah gimana ceritanya, sampan makin menjauh dari bibir pantai dan seolah enggan menepi lagi.
“Ada apa ya?”
“Jangan-jangan … “Emi mulai ketakutan.
“Ada hantunya di bawah air sana,” sahut Kuyung.
“Takut  Je?”
Nile memeluk BiJe.
“Yeeee … mesra dong ..” Seloroh Emi.
“Selfie dulu ah,” ujar Iwan.
Klik … klik ….
Bagus sekali hasil fotonya. Iwan perlihatkan hasil jepretannya itu kepada BiJe dan Nile.
“Cocok nian,” komentar Kuyung.
“Serasi,” sahut Iwan.
“Langsung jadi …” Timpal Emi.
“Jadi apaan Mi?” Goda Kuyung.
“Jadi pacarannya gitu …”
“Oooo gue kira apa?”
“Apa elu kira Wan?”
“Kawin …”
“Ngeres otak lu.  Masih sekolah, kawin …”
“Awas Emi …” Teriak Nile. Yang diteriaki, entah kenapa, kepeluk Iwan.
“Ne ne kamu ..” Ledek Kuyung. Yang kena ledek malu-malu. Karena sama sekali tak mengira kalau Iwan dan Emi saling berpelukan di atas sampan, di tengah lautan pula.
“Selfie dulu ah ..” Kata Nile.
Klik … kliiiik.
Ahaaaa …
“Coba kulihat ..! Kuyung bukannya memuji.
Kenapa?
Baik Iwan maupun Emi beda gaya. Mukanya Iwan cemberut, mukanya Emi kayak kusut dan mau nangis.
“Mudah-mudahan aja enggak ngapa-ngapain …” Ujar BiJe.
“Emangnya ada apa  Je?” Bikin Emi penasaran.
“Persepsi orang tengok foto kalian …”
“Ooooo,” kata Emi,
“Menurut elu gimana Yung?”
“Kalau menurutku tak cocok …”
“Tak cocok apanya?”
“Kalian berdua …”
“Kalu elu Nil, gimana?”
“Kalau nurut gue … kalian berfoto lagilah yang bagus, yang gaul dan yang gaya gitu …”
“Elu Je?”
“Kalu gue, samalah jawabannya sama Nile …”
“Oke kalau gitu .. tolong dong Nil fotoin lagi kami berdua …” Pinta Emi.
Pasang gaya, samakan cara.
Satu … dua … tiga …
Kliiik … kliiiik …
 Uhui …
“Siiip.” Puji Nile.
“Coba kutengok dulu.” Kuyung melihat sebentar hasil fotonya Nile. Setelah itu …
“Cek … cek … ini baru orang …”
“Yang tadi itu,” kata Iwan, “Apa bukan orang, Yung?”
 “Bukanlah …”
“Lalu apa dong?”
“Monyet bingung …”
Ha ha ha ha …
Tak sadar sampan semakin jauh meninggalkan tepian pantai. Ke mana? Entahlah. Tanda-tanda ada pu lau di seberang sana belum terlihat sama sekali. Tak ada ujung, ada pangkal. Mau terus ke mana, balik juga gimana.
“BBM ajalah, kalau telepon tak bisa.” Saran BiJe.
Berkali-kali Nile kirim pesan via BBM tak nyambung-nyambung. Kali kesepuluh baru nyambung. Yang menerima pesan, Zuleha.
“Kok enggak ngajak gue kalau jalan-jalan. Ajaklah gue dong,” kata Zuleha.
“Sorri ya Leha. Soalnya, mendadak juga perginya,” jawab Nile.
“Lain kali ajaklah gue ya. Biar enggak kuawalat tau …”
“Iya .. iya …”
Zuleha merapikan rambutnya yang kusut masai sehabis tidur.
Piiiiing … piiiiing … piiiiing …
“Sorry ya Nil. Gue ngerapiin rambut dulu …”
“Tolong ye Ha. Mau kan?”
“Ya.. ya … maulah. Kenapa tidak?”
“”Tolong beritahu ke papa gue. Tolong kontak ke pihak pengelola pantai layang ..”
“Oke … oke … Emangnya elu-elu itu ngapaian?”
“Kesasar aje … “
“Haaa … apa? kesasar? di mana?”
“Ceritanya panjang ..  sekarang elu bantu gue hubungi papaku cepetan …”
“Siap bos …”
Mendengar kabar anaknya bersampan tak bisa pulang, Pak Rustam dan isteri langsung mengontak pihak pengelola pantai. Mereka kuatir puteri mereka satu-satunya itu turut tenggelam di laut bersama-sama teman satu kelasnya.
Sementara BiJe, Iwan dan Kuyung memberanikan diri melompat ke air. Mendorong sampan bertiga. Sedangkan Nile dan Emi tetap berada di atas sampan. Keduanya berpegangan sebelum akhirnya ikut melompat juga ke air setelah sampan terbalik karena dihantam ombak sebesar bukit.
“Tolong Je ….!” Teriak Nile yang tak sampai-sampai tangan berpegangan di bodi sampan.
“Angkat sedikit tangannya …” BiJe terus berupaya mengangkat kedua tangan Nile yang tampak mulai melemah karena kedinginan.
“Iwan .. tolong aku ..!” Teriak Emi yang nafas rasa sesak setelah telinga dan hidungnya kemasukan air.
Usai sampan dibalikkan kembali seperti semula, Nile dan Emi baru bisa duduk tenang. Tidak semakin kedinginan saat berendam dalam air. Sampan terus didorong perlahan menuju pantai.
Jeeeng trot tot tot … trot tot tot …
“Itu mereka Je!” Seru Kuyung. Bergegas melepas bajunya, dikibar-kibarkan dengan harapan petugas pantai melihat mereka bergelantungan di sampan.
Tak berapa lama …
“Itu mereka Pak.” Teriak Pak Rustam yang ikut petugas melakukan pencarian. Dia melihat ada orang mengibar-ngibarkan baju putih dari kejauhan.
Kapal cepat itu bergerak cepat ke kanan. Selang kurang dari tujuh menit sudah sampai di tempat sampan Iwan dan kawan-kawan menumpang. Satu-satu dari mereka ditarik ke atas kapal. Selamat.
Nile tampak terharu dan menangis sesunggukan di dekapan papanya. Kalau saja petugas datang lebih lama lagi tak bisa dipastikan bakal selamat karena selain terjangan ombak yang cukup besar juga rasa dingin membuat kulit badan mengecut, memutih seolah kehabisan darah. Muka pucat dan tubuh semakin melemah.
Hanya dengan beristirahat secukupnya di rumah, teman-teman Nile sudah berangsur-angsur pulih dan mulai bersekolah. Tidak demikian halnya dengan Nile, yang harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dia harus dirawat inap.  Perlu penanganan khusus untuk mengembalikan kebugarannya seperti semula.
Selama dirawat, teman-teman satu kelasnya datang menjenguk mulai dari Salim, BiJe,  Zubaidah, Zuleha hingg Maisaroh. Ada yang membawa makanan kesukaan Nile seperti apel dan buah pir. Ada pula yang membawa balon mainan anak-anak, roti kaleng dan souvenir khusus bat Nile.
Tak ketinggalan Bu Guru Siska. Sengaja dia datang sendirian seusai pulang mengajar. Menanyakan kesehatan anak muridnya itu kepada Bu Rustam.
“Alhamdulillah, Bu sudah berangsur-angsur sembuh. Kata dokter, jika tak ada aral melintang, dalam minggu-minggu ini, Nile sudah boleh meninggalkan rumah sakit.”
“Senang saya mendengarnya Bu Rustam,” jawab Bu Guru Siska, mengajak ibunda Nile ngomong panjang lebar soal Nile, prestasi belajarnya di sekolah, pergaulan dengan teman-teman sekelasnya, termasuk kegiatan lain dalam lingkup sekolah.
Sementara BiJe baru bisa menjenguk Nile usai pulang kerja. Agar tak terlalu malam jadwal bezuknya, dia pulang lebih cepat dari biasanya. Sambil mengayuh sepeda, dia mampir sejenak di warung martabak untuk membeli martabak telur kesukaan Nile, sebanyak dua porsi. Satu dimakan saat bezuk, satunya lagi dimakan saat lapar terjaga tengah malam nantinya.
BiJe sampai ke rumah sakit saat Nile terjaga dari tidurnya. Suaranya masih lemah, sang bunda memapah nya agar bisa duduk sambil menyantap bubur.
Tok … tok … tok …
“Assalamualaikaum …”
“Walaaikumsalam …”
BiJe mencium tangan Bu Rustam. Mnta maaf karena telah menyusahkan bunda. Tentu saja ibunya Nile memaafkan. Baginya tak ada yang perlu disalahkan. Ini semua musibah dari-Nya.
“Martabak Je?”
BiJe mengangguk.
“Yuk kita makan. Aku sudah lapar sekali Je …” Kata Nile tampak senang BiJe datang membezuknya.
                                                                                      ***
                          
IX
KRAAAAK …
Celana yang dikenakan Zuleha robek.
Ha ha ha ha …
Zubaidah dan Maisaroh cuma bisa geleng-geleng kepala ketika Zuleha ngambek dan tak mau ikut bertanding bola voli. Duduk ke kiri salah, kanan juga salah.
Braaaak …
Zuleha jatuh dari kursi.
Ha ha ha ha …
Bukan cuma Zubaidah dan Maisaroh saja yang ketawa ditahan. Juga Nile, Puspa dan Emi. Mereka geli dan kasihan melihat tingkah Zuleha yang serba salah sejak celananya robek.
“Mai …” Nile meminta Maisaroh menemui Bu Guru Siska. Mencarikan jalan keluar, mengatasi celana robek miliknya Zuleha.
“Ha …Sabar ya!” Ucap Nile dengan suara pelan. Dia memeluk Zuleha dan mencium kedua pipinya.
“Auuw .. geli Nil.” Zuleha kegelian.
Melihat Zuleha kegelian. Bukannya dibantu, malah bersama-sama ikut memeluk dan mencium.
“Adoww … mati aku mak …”Jerit Zuleha.
Takut Zuleha pingsan, rekan-rekannya serempak melepaskan pelukan dan ciuman. Zuleha yang ‘dikerjai’ bukan kegelian saja, tapi nyaris kehabisan nafas.
“Aduh … tanganku Nil.” Zuleha merinigis menahan sakit dengan mata kedap-kedip seperti  mau tidur.
Nile mengambil taplak meja dan mengipas-ngipas Zuleha dengan taplak meja itu berkali-kali agar tidak kepanasan. Dia diminta untuk menarik dan mengatur nafas sendiri.
“Tarik terus, Ha.” Kata Maisaroh sambil memijat kedua bahunya Zuleha. Sedangkan teman yang lain memijat kaki, kedua tangan dan kepala.
Berulangkali Zuleha meringis  kesakitan. Namun berulangkali pula teman-teman satu kelasnya itu memi jat, mengipas dan memintanya agar mengaur turun naiknya pernafasan.
“Sedikit lagi, Ha.” Kata Zubaidah yang seolah enggan melepaskan pijatannya di seputar kepala Zuleha.
“Coba elu ngomong, Ha.” Pinta Nile.
“Ngomong apaan?”
“Apa saja. Yang penting elu ngomong …” Sahut Puspa dan Emisi.
“Salim … Salim … Salim …”
Ha ha ha ha …
“Sekali lagi Ha.” Pinta Maisaroh.
“Leha … Zuleha …”
Hi hi hi hi …
“Sekali lagi Ha.” Kata Emi.
“Leha Salim … Salim Leha …”
Hu hu hu hu …
“Sekali lagi Ha.” Nile yang meminta.
“Salim. Aku cinta kamu …”
Ha ha hi hi hu hu …
Puas ketawa-ketawa, Zuleha berangsur-angsur pulih. Dia sudah bisa ngomong dan bercanda. Cuma, soal celananya yang robek, belum ada penggantinya. Dijahit tidak ada jarum dan benangya. Dibiarkan, mana mungkin Zuleha memakainya dengan itu celana robek di bagian belakang. Pasti diketawai banyak orang.
Kasiman dia …
“Na … itu Bu Siska. Teriak Puspa.
“Ada ya Bu?” Tanyanya.
“Coba yang ini.” Kata Bu Siska membuka bungkusan kertas koran dilipat lima. Di dalam bungkusan itu ada sehelai celana olahraga.
“Mudah-mudahan aja pas.” Harap Bu Siska. Memperlhatkan celana itu kepada Zuleha. Lalu diukurkan ke pinggang siswanya yang paling tambun itu.
“Di kamar kecil aja Bu. Di sini banyak orang,” saran Maisaroh.
“Betul Bu. Mending yang melihatnya cewek. Kalau cowok, kan jadi ramai. Enggak lucu Bu.” Timpal Zubaidah.
Ditemani Maisaroh, Zuleha berganti pakaian di kamar kecil sekolah. Agak ke belakang, makanya tidak bisa cepat berganti celananya.
Kamar kecil sepi. Masuklah  Zuleha ke dalam kamar itu. Dia buka celana dan bermaksud mengganti cela nanya dengan celana pinjaman dari Bu Guru Siska. Cuma yang bikin dia heran ada bayang-bayang, entah orang atau apa, di sebelah ruangan tempat dia berganti pakaian.
“Hai … siapa disitu?” Zuleha memberanikan diri menyapanya.
Ngeoooong …
“Auuww … hantuuuu … Tolong Mai. Buka pintunya.” Teriak Zuleha.
 Atas permintaan Zuleha, dia buka pintu kamar sebelah.
Reeeet … yoooot …
“Kosong Ha. Enggak ada siapa-siapa …”
Ditutupnya lagi pintu.
“Jadi gimana nih?”
“Udah .. aku temenin di dalam.” Kata Maisaroh menarik tangan Zuleha yang rada berat bergerak karena takut dengan kejadian barusan.
“Sudah, enggak apa-apa. Kan ada aku di sini …”
Mengunci pintu dari dalam. Keduanya merasa aman dan lega karena tak bakalan ada yang mengintip Zuleha berganti pakaian. Celana dibuka, Zuleha mengenakan celana baru. Pas sekali. Tidak longgar dan tidak juga sempit. Kok bisa sama ya ukurannya?
“Yuk kita keluar! Ajak Zuleha. Bersiap untuk tanding bola voli.
Kretek .. jreng .. kretek …
Pintu tak mau dibuka. Berkali-kali Zuleha dan Maisaroh berusaha membukanya, tetap tak bisa. Terkunci dari luar. Lantas, siapa yang menguncinya?
Hantukah ….?
“Takut Mai.” Zuleha langsung memeluk Maisaroh. Dia ketakutan sekali. Badannya gemetar. Keringat dingin mulai keluar. Soalnya, nich kaa orang, hantu cowok suka ‘ngawini’ perempuan layang lho …
Enggak mungkinlah.
“Aduh gimana ini Mai. Bisa mati kita di dalam sini …” Keluh Zuleha.
HP tak ada. Minta tolong pada siapa. Soalnya, siswa pada kumpul semua di tanah lapang depan sekolah. Mana mikirin mau ke toilet. Ntar, kalau sudah agak siang, baru ada. Ramai dan bisa jadi antrean panjang.
“Kita manjat aja yuk.” Kata Maisaroh.
“Apa bisa?”
“Bisalah …”
“Caranya Mai?”
“Kau jongkok di sini. Aku yang naik di punggungmu. Mau kan?”
“Enggak mau ah. Nanti aku ditinggal sendirian … Enggak mau. Pokoknya enggak mau …”
“Oke-oke,” kata Maisaroh, “Kalau gitu kamu yang duluan. Mau kan?”
Zuleha bimbang dan ragu.
“Ayolah …. Pasti elu mau. Kalau enggak mau, kapan kita bisa keluar dari tempat ini …”
Zuleha akhirnya setuju.
Maisaroh duduk dalam posisi jongkok, sementara Zuleha naik ke atas punggungnya.
Satu … dua … tiga …
Gedegug … tring … byuur …
Zuleha terjatuh. Jatu terlentang masuk bak mandi. Meringis kesakitan. Minta tolong pada Maisaroh yang juga masih kesakitan setelah dinaiki punggungnya oleh Zuleha.
“Kepalanya … Angkat pelan-pelan …”
Huuup yaaa …
Kepala Zuleha yang gede itu bisa diangkat dari dalam bak. Sempat muntah-muntah karena mulutnya kemasukan air. Dipijat-pijat Maisaroh punggung dan sekitar lehernya, reda muntahnya.  Sudah bisa duduk. Walaupun pakaian yang dikenakan Zuleha separo basah.
“Gimana Mai?” Dengan suara tersendat-sendat, Zuleha merebahkan kepalanya di pundak Maisaroh. Tenaga habis, keluar belum.
Tak ada jalan lain, kata Maisaroh, “Aku harus keluar duluan Ha. Setelah di luar aku beritahu teman-teman supaya secepatnya membuka pintu kamar kecil ini …”
Zuleha yang semula keberatan, setelah ditimbang sana-sini,  bersedia ditinggal sendirian di kamar kecil ini dengan syarat tidak terlalu lama.
“Ya enggaklah Ha. Aku sayang kamu kok,” kata Maisaroh sambil memeluk hangat Zuleha.
“Hati-hati …” Pesan Zuleha.
Dibantu Zuleha, Maisaroh akhirnya bisa memanjang dinding kamar kecil. Bersusah payah, dia berhasil keluar. Tapi …
“Aduuuh!” Ringis Maisaroh.
“Kenapa Mai?”
“Enggak … enggak apa-apa kok.”
“Aduuuh … pantat gue ilang …”
“Haaa … yang benar Mai pantat elu ilang. Ilangnya dimana?”
“Enggak tahu Ha dimana?”
“Walah-walah … Kok pantat ilang dimana kagak tahu. Kelewatan lu Mai.”
“Ohhh … udah ketemu Ha.”
“Alhamdulillah … Emangnya ilang dimana Mai?”
“Enggak dimana-mana. Masih utuh di belakang gue, Ha.”
“Busyet lu Mai … Ngagetin aja.”
“Auuuw …”Maisaroh meringis lagi.
“Ngapain lagi Mai?”
“Ada lipas jalan di paha gua …”
Ha ha ha ha …
“Kok ketawa sih?”
“Biarin ajalah Mai. Mungkin itu lipas pengen nyobain paha elu yang putih kayak kertas putih itu.”
“Auuuw …”
“Tenang aja Mai …”
“Tenang gimana ha. Dia masuk dan berjalan ke selangkanganku tau …”
“Gampang ngusirnya, Mai.”
“Gimana?”
“Elu teriak dikit. Lalu kedua kaki elu goyang-goyangin silih berganti gitu. Terakhir, elu tarik-tariklah sedikit ujung rok lu dan berdiri … Mudah kan?”
Krusuk .. suk … kresek … sek …
“Pergi sana …!”
“Gimana Mai?”
“Alhamdulillah bisa Ha. Moncer juga elu punya resep. Darimana elu dapat?”
“Dari gue sendirilah. Ayo cepat sana Mai …”
“Oke. Tunggu ya!”
Puspa, Zubaidah, Nile dan Emi. Mereka berempat tampak gelisah menunggu Zuleha berganti pakaian. Angkat HP, telepon biar lebih cepat, sayang tak ada jawaban. Kirim pesan, selalu gagal. Kirim BBM, juga tak ada balasan.
“Kita susul aja yuk!” Ajak Puspa sudah tak sabar.
Baru akan melangkah ke depan dengan kaki seribu, Maisaroh nongol dengan nafas tersengal-sengal. Be gitu dekat, dia tak kuasa lagi bicara. Segera memeluk Nile. Mukanya pucat, lemas kayak orang kurang vitamin dan darah.
“Lehanya mana Mai?”Tanya Nile.
“Ada di dalam kamar kecil. Terkunci.”
“Apa?” Emi terperanjat.
“Ayo kita ke sana!”  Kata Puspa.  Sebelum terlambat, tak ada salahnya bergerak lebih cepat.
Zuleha, mengusir rasa sepi sendirian di kamar kecil, bernyanyilah ia. Merdu juga suaranya. Nyanyian itu mengingatkan kita pada pertunjukan wayang semalam suntuk. Ada pesindennya. Nah, si pesinden lah yang menendangkan sindenannya. Merinding bulu kuduk mendengarnya. Bukan karena takut, begitu bening alunan suara itu. Seolah senyap …

                                “Kusendiri di sini …
                                  tak ada yang menemani
                                  selain hati selalu menghiburku
                                                   Zuleha jangan bersedih …
                                                   tidurlah sayang di pangkuan ibu
                                                    kau kusayang sampai mati
                                                    kaulah penghibur  ibu
                                                     di kala sedih
                                                     pengobat hati di kala sendiri …”

Dengan mengendap-endap, Puspa, Zubaidah, Nile dan Emi mendekati pintu kamar kecil itu. Serempak merapatkan telinga ke dinding aluminium putih itu dan …

                                                “Marilah anakku sayang
                                                 tidurlah di pangkuan ibu
                                                  biar kita bisa senang
                                                  menjalani hari esok menjelang  …”

Sssssst …
“Lehaaa!” Nile pelan memanggil namanya.
Tak ada jawaban.
Yang ada cuma nyanyian …                  
           
                                                              “Pergilah kau sayang
                                                                jangan hiraukan ibumu
                                                                tempuhlah masa depan
                                                                agar hidupmu bahagia selalu …”

“Han … han … tu … Hantuuuuuuu …”
Serempak berteriak. Lari sekencang mungkin. Baru berhenti persis di depan Bu Guru Siska dan Maisaroh yang hendak menyusul  Zuleha terkunci di kamar kecil. 
                                                                                      ***        

X

                                   “Ye … ye … ye …
                                     kite nonton aje
                                     itung sampe tige …

                                           Ye … ye … ye …
                                            kite penggembire
                                            anak laki tapi betine …

                                                        Ye … ye … ye …
                                                         kite same bedoe
                                                         kelompok Lehe bise juare …

                                                                         Ye … ye … ye …
                                                                         kalah menang soal biase
                                                                         Ye … ye … ye …
                                                                         kite cume nonton aje … “

BERDANDAN kayak siswa perempuan. Pakai rok belah bawah dengan kemeja lengan panjang putih tapi berdasi. Kuyung, Iwan, Salim, Adam, Iqbal, Petruk, Semar dan BiJe, berbaris rapi berhadap-hadapan menyambut pemain bola voli  puteri yang segera turun ke lapangan.
“Hidup BiJe …!” Teriak siswa sekelas lainnya. Walau tidak main, BiJe dan kawan-kawan pantas jadi sorotan penonton, pelatih dan juga wasit. Pasalnya, selain dandanan mereka lain dari biasanya, rias wajah itu yang bikin kita geli. Ada yang pakai bedak ketebalan, abang bibir atas iya, bawah tidak. Juga ada yang kenakan anting-anting gede. Sudah gede, panjangnya sampai tumit lagi.
Belum lagi gaya rambut. Salim misalnya, dikuncir bagian belakang, sementara rambut BiJe dikepang dua. Atau Petruk dan Smar, keduanya malah mengecat rambut mereka dengan warna biru dan kuning. Tak ketinggalan Kuyung dan Iwan. Keduanya memotong depan rambut, bergaya poni.
Bagaimana dengan Iqbal dan Adam?
Mereka berdua ini lain lagi. Gundul belakang tapi ada kuncir dibiarkan berjuntai di bawah kepala. Beralis mata tebal, bedak warna warni dan hidung dihiasi wajahnya perempuan. Lucu dan seru. Rata-rata sepatu yang mereka kenakan berjenis sport dengan cat mendominasi warna putih.
Mereka baru berhenti meneriakkan yel-yel .. “ye .. ye .. ye ..”setelah pemain kedua tim keluar ruangan, berjalan rapi menuju arena pertandingan. Diawali tim lawan, dususul tim tuan rumah yang dimotori Zuleha.
“Hai Lim.” Sapa Zuleha yang berjalan paling depan. Salim yang tak siap menyambut sapaan Zuleha, hanya senyum-senyum saja. Asal senyum. Tak bermakna.
“Dadagh BiJe …” Ucap Nile. BiJe yang merasa disapa sang pacar girangnya bukan main. Berbeda dengan Salim, hanya mesem-mesem saja karena merasa tak disapa Nile.
“Halo semuanya …”
Saapan Emi yang paling buncit ini dijawab serentak oleh BiJe dan kawan-kawan dengan ‘Berjuang kita menang …”
Kedua tim sudah menempati posisinya masing-masing. Giliran pertama serve adalah Zuleha. Bola dipantulkan ke lantai, melesat terkena roknya Salim.
“Auuuw …”
Panonton pada ketawa. Pasalnya, celana dalam yang dikenakan Salim robek tengahnya. Untung saja, BiJe cepat-cepat menutup itu rok sehingga kancut Salim tidak terlihat seluruhnya.
Huuup …
Bola dipukul melambung tinggi oleh Zuleha. Saking tinggi melambungnya pemain lawan harus memicing kan mata melihatnya karena silau oleh pancaran sinar matahari. Akibatnya, bola pengembalian ngawur. Tak sempat di over ke pemain di depan, langsung diarahkan ke depan, arena permainan lawan.
Hiyaaa …pak …
Zuleha mensmesh itu bola. Keras juga smeshnya. Masuk sebenarnya bola semesh-an itu , apalagi lawan sudah ketipu  karena bola jatuh di tempat yang kosong. Cuma, sempat mengenai punggung Puspa terlebih dahulu.
Priiiit …
Wasit terpaksa memanggil kedua kapten tim. Daripada rebut belakangan, kata wasit, lebih baik serve-nya diulang kembali saja.
“Setujuuuu?”
“Setujuuuu …”
Zuleha kembali melakukan serve. Kalau tadi melambung tinggi, sekarang biasa-biasa saja. Bola melam bung tidak sekencang yang pertama tadi. Tentu dengan mudahnya dismesh lawan dan masuk …
1-0 untuk tim lawan. Giliran lawan yang melakukan serve. Deras mendatar itu bola. Karena tak sempat mengangkat   tangannya, Zuleha dengan berat hati menyundul bola kembaliannya ke depan. Mantul dari kepala Puspa, jatuh mengenai seorang penonton yang lagi asyik menghirup cuka pempek.
“Kampret .. Abis deh baju gue …” Omel siswa berperawakan ceking itu seraya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan pakaian dan mukanya yang terkena tumpahan cuka pempek.
“Hidup Leha ..!” Teriak penonton.
“Maju terus pantang kalah …”Sahut guru memberi semangat pada Zuleha dan kawan-kawan yang sudah tertinggal dua angka dari tim lawan.
Masih tim lawan pegang serve. Bola meluncur tajam menukik ke bawah.
Hiyaaa … syuuuut ... gedebuk …
Penonton ketawa ngakak. Kenapa dan ada apa? Karena begitu bersemangatnya Maisaroh mengembali kan bola serve itu. Lupa kalau bola menyangkut di net, sudah keburu terbang, bola tak ada, cuma keba gian angin, badan pun jatuh tersungkur.
“Luka kagak Mai?” Tanya Nile menggosok-gosok dan meniup lengan Maisaroh yang memerah.
Maisaroh yang masih menahan rasa sakit, giliran melakukan serve. Penonton diam. Hening seketika. Menunggu Maisaroh memukul bola.
Tuuuut … preeeeet …
Ha ha ha ha …
Maisaroh terkentut.
“Makanya kalau malam jangan makan petai, Mai …” Olok penonton yang duduk bersila di tanah menonton pertandingan.
“Sebelum main makan dulu ATK,” sahut cowok berhidung pesek.
“Apa itu ATK, Dul?” Tanya teman di belakangnya.
“Aku takkan kentut …”
Ha ha ha ha …
Kalau saja Nile dan rekan-rekannya tidak segera menghampiri dan memberi semangat pada Maisaroh, dipastikan dia bakal menangis sedih di tengah lapangan. Sudah malu kentut di tengah orang banyak, sempat jatuh menangkap angin pula tadinya.
“Konsentrasi Mai.” Bisik Puspa.
“Kamu pasti bisa,” ucap Zubaidah menepuk-nepuk pundaknya maisaroh sebelum melakuka serve.
Huuup …
Bola dipukul lurus ke depan, disambut satu dua oleh pemain lawan, diover lagi ke pemain depan dan …
Gedepaaaak …
Bola bergulir lama di bibir net.  Seakan malas jatuh ke arena permainan.  Diam-diam Zuleha mencolek  net dan tentu saja bergerak. Bola pun masuk. Jatuh di tempat yang kosong.
“Horeeee … masuuuuk!” Gemuruh suara penonton.
Skor berubah jadi 2-2.
Maisaroh serve. Bola dipukul melambung tinggi. Pemain lawan berambut keriting dengan cepatnya meng-over itu bola ke temannya yang berdiri di kiri depan. Di-over lagi ke tengah dan …
Trassh .. tas .. pak …
Bola tiba-tiba pecah. Masuk ke tempat yang sulit dijangkau oleh Emi. Tim lawan menang. Tapi Zuleha melakukan protes.
“Tak bisa Pak Wasit. Sebelum bola masuk dan menyentuh arena permainan, itu bola sudah pecah dulu an. Buktinya, ketika jatuh dan menggelinding di lantai, sudah mantul-mantul. Tidak rata dan lancar lagi kayak bola beneran …”
“Kamu sendiri gimana?” Tanya wasit kepada kapten tim lawan.
“Masuklah Pak Wasit. Jadi kami yang menang …”
Tak mau mengalah, akhirnya wasit berdiskusi sejenak dengan sesama rekan kerjanya yang bertugas dari pinggir lapangan.
Hasilnya?
“Serve diulang …”
“Wuuuuu …!” Teriak penonton tim lawan. Mereka kecewa berat dengan keputusan wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak tim tuan rumah.
“Wasit enggak fair ..” Celetuk salah seorang pendukung tim lawan.
“Mending enggak usah tanding aja deh,” sahut yang lain.
“Wasit kena sogok …” Teriak yang lain.
“Wasit goblok,” kata siswa perempuan. Tak mau kalah, ikut protes sambil berkacak pinggang di depan wasit.
Kericuhan tak sempat meluas setelah Dewan Guru kedua tim turun tangan. Pertandingan antar sekolah menengah atasini sempat terhenti beberapa saat, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
“Hidu Leha …!”
“Maju Leha …!”
“Menang Leha …”
Teriakan penonton inilah yang memberi semangat tambahan bagi Zuleha dan kawan-kawan dalam bertanding. Berkat kekompakan dan mampu mengendalikan emosi, lawan dipaksa tertinggal delapan angka (10-2 (3)) sebelum akhirnya bola berpindah tempat.
Time out.
Saat time out yang diminta tim lawan, Bu Siska selaku wali murid ikut memberi semangat pada anak didiknya itu. Berulangkali dia minta Zuleha dan rekan-rekannya yang lain tetap fokus dan solid serta tidak terpengaruh dengan permainan lawan.
“Satu hal yang harus kalian ingat,” kata Pak Darwin, pelatih tim SMA Mawar, “Jangan sekali-kali lengah. Sebab, sedikit lengah bisa berakibat fatal jadinya.”
“Perkuat pertahanan kalian. Jangan beri ruang kepada lawan untuk menjatuhkan bola ke tempat yang kosong. Mengerti?”
“Mengerti …”
“Ada pertanyaan?”
“Saya Pak.” Puspa angkat tangan.
“Silakan Pus …”
“Kalau lawan main curang, Pak, apakah kita boleh membalasnya dengan juga bermain curang?”
“Jangan sekali-kali. Tetap tenang dan kuasai jalannya pertandingan.”
“Saya Pak.” Zuleha tak angkat tangan.  Sebab, kalau sampai diangkat, penonton bakal ngakak lihat ketiaknya basah oleh keringat.
“Please Leha …”
“Supaya cepat abis ya Pak, gimana kalau mereka kita serang terus …”
“Caranya?”
“Kita gempur dengan smesh …”
Pasti seru …
“Bagus. Taka pa-apa. Asalkan tetap jaga kekompakan dan stamina.”
Priiiiiit ..
Time out selesai. Pemain menempati posisinya masing-masing di lapangan .  Rupanya, tim lawan  mengu bah taktik permainan. Kalau tadi banyak melakukan smesh, sekarang dikurangi. Lebih banyak menem patkan bola-bola pendek tapi tajam di tempat yang kosong.
Taktik ini membuahkan hasil. Satu persatu angka berhasil diraih. Begitu cepat, skor sudah berubah jadi sama kuat: 10-10. Merasa di atas angin, tim lawan mulai memprovokasi Zuleha dan kawan-kawan.
Caranya?
Banyak melakukan protes. Misalnya, saat serve, bola yang Emi pukul jelas-jelas tipis di atas net, dikata kan menyentuh bibir net. Walaupun  akhirnya protes ditolak, lawan sudah terpancing, diharapkan Zu leha dan kawan-kawan terpengaruh. Enggak concern lagi saat mem-blok bola, melakukan smesh dan mengembalikan bola.
Bagusnya, Tim Mawar yang dikapteni Zuleha tak terpancing. Siap bangkit. Mereka mengubah taktik permainan. Tidak lagi meladeni lawan dengan bermain cepat disertai penempatan bola-bola pendek. Justru memborbardir lawan dengan blok dan smesh tajam menyilang.


Hanya dalam hitungan menit, Tim Mawar sudah leading sepuluh angka. Menyisakan lima angka lagi agar bisa memenangkan pertandingan di set pertama, Nile justru tampak grogi. Dia sengaja mengulur-ulur wakt agar bisa tenang dan fokus saat memukul bola.
Priiiit …
Nile dipanggil wasit. Dia diminta agar jangan terlalu lama mengambil serve.
“Tidak boleh ya Dik. Paham?”
“Paham, Pak Wasit …”
“Kembali ke tempat …!”
“Baik Pak …”
Baru bersiap akan serve, terdengarlah yel … yelan …
                                 
                                   “ Ye .. ye … ye …
                                   maju terus duhai  Nile
                                   harus bise raih juare …
                                   biar senang hati BiJe …”

Ha ha ha ha …
“Teruskan perjuanganmu Nile …!” Teriak Adam sambil melompat-lompat bertepuk tangan dengan raut muka ketawa ceria.
Nile sempat menoleh kea rah BiJe, senyumnya itu yang bikin dia ingat selalu dan …
Pak .. tos …
Penonton bertepuk tangan. Pengembalian bola dari lawan tidak sempurna. Menyangkut di net. Kesala han ini terjadi sampai empat kali.
Pada kali kelima …
Pak … tos …
Serve Nile dikembalikan lawan dengan langsung mesmesh itu bola, sempat menyentuh tangan Zubaidah, jatuh dekat penonton.
Serve berpindah tempat.
Pak … Siiiiiiiing …
Bola melambung tinggi. Jatuh di luar di lapangan.                             
Zuleha senang karena timnya menang.
                                                                                        ***

 
XI

PRIIIIIIIT …
Kedua tim memasuki lapangan kembali.
Kuyung cs bernyanyi riang ….

                                  “ Ye … ye … ye …
                                     masuk set yang kedue
                                      moge-moge aje
                                      Nile yang juare …                                 
     
                                                  Ye… ye … ye …
                                                   hidup kelompok Zulehe
                                                   jangan takut same die
                                                   die manusie juge
                                                   same dengen kite …         
             

                                                                   Ye … ye … ye …
                                                                     kite same bedoe
                                                                     mudah-mudahan aje
                                                                      Nile jadi juareeee ….”

Priiiit …
Set kedua dimulai.
Emi serve.
Duuuuup …
Bola melambung tidak terlalu tinggi. Tapi mengarah ke area belakang, disambut dengan pukulan overan, diteruskan ke tengah, sebelum di-smesh menyilang ke tempat yang kosong oleh pemain lawan.         
“Satu kosong,” teriak wasit supaya kedengaran penonton yang semakin riuh oleh sorakan dan tepuk tangan.
Priiiiit …
Serve pun berpindah.
Pemain bertubuh jangkung mengambil serve. Sudah jangkung tak ada pinggang pula. Ceking kayak kurang vitamin. Ini orang apa tiang listrik berjalan ya, bisik Puspa pada Zubaidah.
Pak .. dub…
Si jangkung melompat sambil memukul bola datar ke samping kanan. Puspa mengambil bola itu dengan tinjunya. Diambut Nile, di-smesh pendek oleh Emi.
Gedebuuuug ..
Bola masih bisa diblok empat pemain lawan. Jatuh ke posisi di mana Maisaroh berdiri. Dia angkat menyilang it bola, secepat kila disambar Zubaidah, jatuh di tempat yang kosong sebelah kiri areal pemainan lawan.
“Woooo …!” Teriak penonton terkagum-kagum dengan pukulan Zubaidah barusan.  Pemain lawan hanya bisa melongok persis orang bego.
Satu … satu …
Maisaroh serve.
Pak toooos …
Bola mendatar ke kiri. Saking cepatnya bola bergulir, pemain lawan dibuat terdiam.
“Wuuuuu …Gitu aja bingung. Payah, amatiran.” Ejek penonton paling belakang berdiri dekat papan pencatat hasil pertandingan.
“Pulang ajalah ke dusun,” sahut rekan satunya.
“Nyangkul aja Mbak.” Teriak penonton yang lain sambil joget punggung kuda.
Ha ha ha ha …
Kapten tim lawan mendekati wasit. Dia mengutarakan keberatannya atas sorakan penonton yang dinilai berlebihan. Salah seorang tim official Tim Mawar dipanggil wasit. Dia menjelaskan keberatan tim lawan. Keberatan akhirnya diterima. Penonton diminta berlaku sopan, tenang, tidak membuat keributan yang dapat mengganggu konsentrasi pemain di lapangan.
Priiiit …
Bola dipukul Maisaroh. Kali ini pukulannya pelan mengarah ke samping kanan. Disambut lawan dengan meng-over ke kiri. Melompat tinggi dan oleh si rambut keriting di-smesh ke tengah. Masih bisa diambil Zubaidah. Karena kerasnya smesh-an itu, bola memantul jauh ke tempat penonton berdiri.
“Waduh. Bola sial,” gerutu Zubaidah. Cuma bisa geleng-geleng kepala melihat bola melambung jauh dan jatuh di pelukan Bu Guru Siska.
Dua … dua …
Siswa berambut lurus mengambil serve.  Melompat tinggi sambil bersuara … “husyaaa …” Meski cepat alur bolanya ke tengah lapangan, Emi dengan mudahnya menerima itu bola. Dia angkat itu bola, di over ke kiri lalu tengah. Diterima Zuleha. Saat melakukan smesh, Zuleha sempat menepuk jari lawan sehingga mengerang kesakitan.
“Aduuuh … patah jari gue.” Jeritnya.
Pertandingan dihentikan sementara waktu. Pemain yang cedera tadi diberi pengobatan. Saat bersamaan kapten Tim Mawar, Zuleha diminta menghadap wasit.
“Siang Pak Wasit.” Zuleha memberi hormat.
“Siang juga …”
“Kata banyak saksi,” kata Wasit, “Anda yang memukul tangannya salah seorang pemain lawan. Betul?”
“Betul, Pak.”
“Kenapa anda lakukan?”
“Karena menggoda saya Pak …”
Ha ha ha ha …
Penonton paling depan yang sempat nguping diam-diam ketawa terpingka-pingkal mendengar jawaban polos dari Zuleha.
“Lucu juga adik kita yang gemuk itu,” kata kakak kelasnya Zuleha.
“Udah gemuk, jagoan pula,” sahut yang lain.
Ha ha ha ha …
“Menggoda gimana?” Tanya Wasit separo heran.
“Waktu saya akan men-smesh, Pak Wasit, kedua tangannya bergerak-gerak di bibir net. Nah, maksud saya nepuk alias mukul tangannya, supaya jangan macam-macamlah. Kalau mau blok, ya blok aja.” Jelas Zuleha.
“Apa memang menurut anda mengganggu?”
“Ya mengganggulah, Pak Wasit. Anda lihat tadi kan Pak. Smesh saya ke kiri. Seharusnya ke kanan itu Pak. Konsentrasi saya terganggu. Untung bola itu masuk. Kalau enggak, pasti diteriaki penonton saya Pak.”
Pak Wasit berdiskusi sejenak dengan temannnya sesame wasit. Tak lama diskusinya. Cuma setengah menitlah. Setelah itu …
“Silakan kembali ke tempat ponakan …”
“Terima kasih Pak.”
Ternyata pemain lawan yang mengalami cedera tadi itu diganti. Tim Mawar lega dan merasa tidak terbe bani. Mereka dinyatakan tidak bersalah. Justru lawanlah yang diperingatkan karena telah memulai melakukan upaya provokasi.
“Ingat itu ya!” Kata Pak Wasit kepada kapten tim tamu. Si kapte memasuki lapangan kembali dengan raut muka cemberut,  tidak puas. Menolak diam-diam keputusan wasit barusan.
Tiga dua …
Memanfaatkan mental lawan yang mulai down, Tim Mawar secara perlahan berhasil merebut angka demi angka sampai tujuh. Dengan demikian kedudukan sementara berubah menjadi 10-2.
Lawan meminta time out.
“Kamu harus tenang Nil,” ucap Pak Darwin. Dia juga meminta Zuleha bersikap tenang. Tidak mudah terpancing emosi dan bisa menahan diri serta tetap berada di jalur kemenangan.
“Ibu juga minta kalian harus tetap solid,” pesan Bu Siska.
“Gimana kalau mereka duluan, Bu?” Tanya Zubaidah.
“Duluan kenapa?”
“Menghina, misalnya mencibir, mengolok-olok. Masa kita diamkan aja Bu.”
“Tak usah diladeni,” jawab Pak Darwin. “Tapi kalau sudah di luar batas, lapor aja ke wasit. Kan beres.”
“Oke … sekarang sama-sama menundukkan kepala. Tangan sama ke tengah, saling berpegangan. Dan sebut ini kuat-kuat … “Mawar menang.” Ucap Bu Siska memberi semangat.
Mawar menang …
Mawar menang …
Husyaaaa …
Priiiit …
Pertandingan dilanjutkan kembali.
Nile serve.
Bola dipukul melintir. Melambung tepat jatuh di tengah areal permainan lawan. Diover ke kanan depan, disambut si jangkung dengan smesh menyilang dan …
“Masuuuuuuk …!”
Penonton tim lawan bersorak sorai.  Beberapa di antaranya membuka baju sambil meneriakkan yel-yel …..

                                               “Kami datang kami menang
                                                 kami pulang bawa piala
                                                 kami datang lawan terjengkang
                                                 kami pulang lawan tak enak
                                                 memandang …”  

Yel-yel inilah awal keributan terjadi. Bermula saling ejek antar suporter. Kemudian salah seorang guru dari Tim Mawar mendatangi suporter lawan agar tidak bersikap berlebihan, memanas-manasi keadaan yang sebelumnya sempat memanas.
Tidak terima, mereka dorong guru tersebut sampai terjatuh. Belum sempat bangun, ditinju beberapa siswa mukanya sampai bengkak.  Begitu cepat kejadian itu berlangsung, saking cepatnya, Pak Darwin sang pelatih, tak sempat melerai dan baru bisa melerai setelah BiJe dan kawan-kawan turun tangan.
“Minggir kalian atau kuhabisi dia,” ancam Kuyung sambil menjepit leher salah seorang siswa dengan kedua tangannya.
Suporter tamu yang bermaksud memukul suporter Tim Mawar terpaksa mengurungkan niat mereka. Mereka serempak mundur ke belakang dan berjanji tidak akan melakukan tindakan pemukulan dan pengeroyokan lagi.
“Yung. Lepaskanlah anak itu …” Pinta Pak Darwin. Kuyung belum jua mau melepaskan. Dia baru mau melepaskan setelah dibujuk Bu Guru Siska.
“Alhamdulillah …!” Ucap guru-guru yang lain. Sudah pada cemas semuanya.  Bersiap-siap ambil langkah seribu.
Pertandingan bisa dilanjutkan kembali dengan kedudukan sementara 10-3.
Lawan serve.
Bola lambung itu dikembalikan Puspa ke tengah. Diover ke kanan, ke tengah lagi dan …
Praaak … Tassss…
“Adoooow ….!”
Bloking tak mempan. Smesh Zuleha barusan menghantam muka salah seorang pemain lawan sampai berdarah hidungnya.
Pingsan?
Tidak. Tapi pertandingan terpaksa dihentikan sementara sedangkan pemain yang cedera tadi diobati di pinggir lapangan oleh tim medis.
Dari pinggir lapangan, Zuleha berdebat seru dengan si jangkung. Debat soal apa?
“Kamu itu tengok-tengok dong …”
“Tengok apa?” Tanya Zuleha sambil berkacak pinggang. Juga si jangkung. Keduanya sama-sama berkacak pinggang. Pamer dagu dan buah dada.
“Nyemesh itu ke lantai, bukan muka orang, tau …” Sergah si jangkung, yang kalau tak keburu dilerai, bogem mentah bakal menghampiri wajahnya Zuleha.
“Ayo kalau berani. Mentang-mentang elu jangkung, seenaknya ngehina orang …”
“Sudah-sudah Ha …” Beberapa teman Zuleha seperti Nile, Puspa dan Emi menarik paksa Zuleha agar tidak meladeni si jangkung yang mulai naik pitam.
“Awas lu ya endut …!” Ancam  si jangkung yang merontal-ronta minta dilepaskan dari rangkulan teman-temannya.
“Lu juga awas jangkung. Tak gocoh baru tau rasa elu …” Balas Zuleha tak kalah sengitnya sampai-sampai berteriak … Ayo kita berkelahi.”
Karena suasana semakin memanas, para guru kedua belah pihak yang sama-sama  menyaksikan pertandingan, meminta wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan terlebih dahulu sampai suasana mereda danpara pemain bisa meredam emosinya masing-masing.
Wasit mengabulkan permintaan ini. Tapi wasit hanya meminta batas waktu mediasi sampai paling lam bat satu jam ke depan. Sayang, hingga batas waktu yang ditentukan, tim tamu tak mau melanjutkan pertandingan.
“Kami dengan ini tidak bisa melanjutkan kembali pertandingan ini dengan alasan keamanan,” kata official Tim Beruang seraya menyerahkan beberapa poin keberatan di secarik kertas kepada wasit.
Sementara tim tuan rumah, Tim Mawar, bersedia melanjutkan kembali pertandingan tanpa syarat dan ketentuan …
“Kami siap melanjutkan pertandingan. Kami menilai keamanan sudah terkendali. Kalau ada teriakan itu bukan dari suporter kami. Tapi suporter tetangga kami,” kata Pak Darwin di hadapan  wasit.
Karena masing-masing punya alasan tersendiri dan keinginan yang sangat bertolak belakang, Dewan Wasit akhirnya memutuskan untuk berembuk sejenak guna mengambil keputusan yang seadil-adilnya.
Sambil menunggu keputusan akhir, Tim Mawar duduk bersila di pinggir lapangan sambil tertawa riang dan penuh canda. Sedangkan Tim Beruang berangsur-angsur berkemas untuk meninggalkan arena pertandingan, bersiap untuk pulang.
Wasit menunggu  sampai lima belas menit lamanya. Karena tak satupun pemain dari Tim Beruang yang masuk kembali ke arena pertandingan, akhirnya diputuskan tim tuan rumah Mawarlah yang berhasil  memenangi gelar juara  dalam babak final kejuaran bola voli antar SMA ini.
Selamat ya …
                                                                                        *** 

XII
KEMENANGAN  yang diraih Zuleha dan kawan-kawan ternyatakan menyisakan dendam tak berkesu dahan.  Buktinya, usai pulang sekolah dan bermaksud jalan-jalan sekaligus belanja di mal, mereka dicegat tiga orang dara di depan pintu masuk dekat tanah lapang.
Siapa tiga dara itu?
Mereka adalah pemain bola voli dari Tim Beruang yang kemarin melakukan walk-out dan dinyatakan kalah karena menolak meneruskan pertadingan.  Mereka bukan hanya tak mau menerima kekalahan, tapi juga menaruh sakit hati pada Zuleha.
“Hei Dut. Sini lu …!” Teriak si Jangkung mengajak Zuleha duel.
“Elu yang ke sini Kung …” tantang Zuleha tak mau kalah.
Si  jangkung ditemani dua rekannya, Tomboy dan Keriting, maju ke depan. Diikuti pula oleh Zuleha, Emi dan Puspa. Kini jarak antara mereka kira-kira satu setengah meter. Saling berhadapan. Pelotot-pelototan disertai kepalan tangan yang siap untuk dilepaskan.
“One by one, kalu elu berani.” Kata Puspa.
“Oke. Siapa takut?” Balas si Tomboy sambil menyilang-nyilangkan kedua kakinya seperti anak bermain cak ing kling.
“Siapa lawan siapa. Kami bertiga siap ladeni.” Tantang Emi.
“Oke,” jawab si Jangkung.  Dia menunjuk Zuleha, lalu jari telunjuk itu mengarah ke dadanya. Kemudian menunjuk Puspa dan Keriting. Terakhir Emi dan Tomboy. Berarti lawan mereka sudah jelas, siapa. Tinggal lagi menunggu aksinya saja.
“Siapa duluan?” Tanya Emi pada si Jangkung.
“Elu sama si Tomboy,” jawab Jangkung.
Membiarkan Emi dan Tomboy berdua di tengah lapangan. Si Jangkung menginstruksikan tak boleh ada satupun yang mendekat, apalagi sampai memberikan pertolongan.
Husyaaaa …
Emi pasang kuda-kuda. Si Tomboy juga sama. Mereka berdua masih berputar-putar mencari titik kele mahan masing-masing. Saling menggertak hendak menyerang, tapi belum terlihat jual beli pukulan dan tendangan.
Hiyaaaaat …
Emi menyerang dengan tendangan salto beberapa kali. Setelah salto dia mengajak Tomboy adu pukulan. Keduanya pun terlibat jual beli pukulan. Saling pukul, sama-sama kena dan terpelanting jatuh ke tanan rerumputan.
Sama-sama meringis kesakitan. Terutama di bagian dada dan perut yang terkena pukulan. Meski sakit, keduanya terus melepaskan pukulan. Kalau tadi tangan, sekarang kaki.
“Accch …” Si Tomboy meringis kesakitan setelah tendangan Emi mengenai perut bagian atas.
Belum sempat mengelak, Emi menghujani muka dan dada lawannya itu dengan pukulan satu dua, disertai teriakan … husyaaa … beberapa kali.
Si Tomby terjengkang. Dia terduduk di atas rumput. Dia mencoba berdir tapi tak bisa sementara Emi hanya berdiri saja, tetap siaga sekiranya ada serangan yang datang tak terduga.
Si Jangkung mengisyaratkan perkelahian belum berakhir. Dia memandang tajam kea rah Tomboy. Setelah berusaha beberapa kali, dia akhirnya bisa berdiri dan melanjutkan duel seru ini.
“Majulah taik kucing,” ejeknya pada Emi yang masih berdiri dan belum melakukan tindakan apa pun sampai Tomboy berdiri dan menghina dirinya.
“Elu duluan yang maju, beruk korengan …”
“Elu …”
“Baiklah kalau begitu …”
Emi berlari-lari tapi tidak menyerang Tomboy. Dia hanya berkeliling, mengelilingi Tomboy yang bingung dengan jurus yang diperagakan Emi.
“Jurus elu cuma segitu ya .. Tak uk uk ya …” Ejeknya sambil mencongkel tahi  hidung.
“Ini baru permulaan wahai beruk. Nama jurus ini adalah ‘Kucing Lari Terkencing-kencing’ …”
Hua ha ha ha …
Si Tomboy tertawa mengejek.
“Kalau cuma segitu mah, banyak di pasar loak kunyuk. Mending elu pulang aja sana.” Sindir Tomboy tertawa. Kali ini lebih kencang ketawanya. Saking kencangnya, burung pipit yang sempat singgah di dahan pepohonan,  terbang lagi  ke balik gedung perkantoran.
“Itu belum seberapa beruk. Coba elu lihat jurusku kali ini …”
Emi berlari menyerang Tomboy dengan tangan, menyatu ke kanan.
Ciyaaaat …
Setelah dekat, Tomboy yang sudah bersiap menerima serangan itu, terpaksa gigit jari karena Emi bukan mau memukul, justru bergulingan di rerumputan dengan kedua kakinya, tanpa disangka-sangka sebelumnya, berhasil menjepit kaki lawannya.
Bruuuuk …
“Adooow ..!”
Si Tomboy terjatuh. Roboh seketika. Kali ini dia tak bisa bangun lagi setelah dihujani bertubi-tubi dengan pukulan oleh Emi. Dia baru berhenti memukul setelah si Tomboy tak bergerak lagi.
“Stoooop …!” Teriak si Jangkung dengan suara lantang.
Emi berdiri lagi. Dia kembali ke pinggir lapangan.
“Berikutnya …”
Si Keriting melompat sambil gingkang dan salto beberapa kali dengan memperagakan jurus-jurus yang sulit dimengerti kecuali oleh dirinya sendiri.
Bagaimana dengan Puspa?
Puspa hanya diam saja ketika si Keriting memprovokasinya dengan kata-kata … Anjing lu … Setan lu .. Goblok lu … dan terakhir … Cewek murahan lu …” Bahkan dia tak juga bergeming saat lawan memperagakan jurus-jurus  ‘Gilo Babi’ yang tidak lain hanya untuk menjatuhkan mental Puspa.
“Kalau itu mah banyak di pasar sayur, cuy.” Sindir Puspa. Ternyata sindiran ini membuat si Keriting marah besar.
“Hei elu. Serang gue sekarang …!” Tantang si Keriting.
“Apa enggak salah tuh,” balas Puspa seraya mencibir.
“Enggak. Elu yang mesti nyerang gue …”
“Berarti elu itu penakut …”
“Elu yang penakut …”
“Elu … Mulutnya aja yang gede … Bilang dong dari tadi kalau takut. Enggak usah macam-macamlah. Belagak jagoan. Dasar cewek tak tau diri. Maunya yang enak aja. Sompret ..”
“Apa elu bilang tadi?”
“Sompreet …”
Ciyaaaat …
Si Keriting menyerang membabi buta. Menendang, memukul dan berikutnya bergulat. Kedua-duanya berguling-gulingan di rerumputan. Silih berganti menindih. Sampai akhirnya …
Plak … plak … plak …
“Serang terus dik ..” Teriak lelaki paruh baya memberi semangat.
Keriting dan Puspa yang merasa kini banyak disaksikan orang dari pinggir lapangan, bukannya malu dan menghentikan perkelahian. Justru keduanya makin sengit adu jotos, saling tendang dan merobek paka ian, sehingga di beberapa bagian tertentu, seperti ketiak dan paha, kelihatan  walau tidak terlalu lebar robeknya.
“Auuuuw … Aduh mati ...”
Si Keriting menjerit kesakitan karena lehernya digigit Puspa. Merah dan berdarah. Namun lawan masih sempat melepaskan pukulan ke perut, membuat Puspa sempat hilang keseimbangan sebelum akhirnya  
tatuh terlentang.
Saat itulah, dalam keadaan leher berdarah-darah, si Keriting kembali melepaskan pukulan bertubi-tubi ke muka Puspa. Sepertinya Puspa akan pingsan, karena walaupun pukulan itu tidak terlalu keras, muka yang tadinya mulus, kini mulai bengkak dan memar.
Husyaaa …
Duuuup …
Kedua kakinya memelintir leher si Keriting, lalu terguling dan gantian menindih. Saat lawan kena tindih, Puspa tidak melepaskan pukulan.  Tapi mengunci habis kedua tangan lawan dalam posisi melebar.
“Kampret lu …!”
“Taik kucing lu …” Balas Puspa yang semakin kuat mengunci kedua tangan si Keriting.
Praktis lawan hanya mengandalkan kedua kakinya saja. Tapi bagi Puspa tak berarti sama sekali. Karena saat Keriting akan melepaskan tendangan ke kepala dan punggungnya, dia mundur ke selangkangan  sehingga kedua kaki lawan tak leluasa bergerak.
“Ayo pukul gue kalau berani,” ejek si Keriting.
Puspa tidak juga melepaskan pukulan. Cuma kali ini kedua tangan Keriting diangkat sedikit lalu dihentakkan ke rumput.
“Aduuuuuh …” Jeritnya.
Setelah tangan dan kedua kaki si Keriting diangkat, diseret sebelum akhirnya dipelintir ke atas, samping dan bawah.
“Aaaaach …!”
Itulah jeritan terakhr dari si Keriting. Karena  setelah itu dia tak sadarkan diri.
Plak .. plak .. plak …
“Itu baru hebat, dik.” Puji pria berkumis tebal.
“Bila perlu cowok yang nakal juga kamu sikat habislah dik.” Kata temannya sambil menghisap rokok cerutu.
“Kamu pantas menang dik,” sahut lelaki berambut gondrong. “Kalai seandainya ini pertandingan beneran, kamu layak menjadi juara …”
Berikutnya, inilah duel yang ditunggu-tunggu, antara si Jangkung dan Zuleha. Penonton dadakan ini terdi am. Mata mereka tertuju ke depan, tengah lapangan. Menunggu apa gerangan yang akan dilakukan oleh keduanya.
Teryata, hingga tiga menit berjalan, Zuleha dan si Jangkung, keduanya hanya berputar-putar sambil me lihat dan memperagakan kedua tangan dan kaki silih berganti, maju dan mundur, tanpa melepaskan satu pun pukulan.  Sangat membosankan.
“Wuuuuu …” Teriak bapak-bapak yang baru pulang belanja sempat mampir karena ada kerumunan orang dari pinggir lapangan.
“Serang dik. Jangan takut,” kata lelaki berkepala petak.
Teriakan dan sorakan penonton itu akhirnya membuat si Jangkung naik darah. Dia melepaskan tendangan kea rah perut, berhasil ditangkis Zuleha. Dipelintirnya ke kanan membuat lawan jatuh bergulingan.
“Kurang ajar …!”
Si Jangkung kali ini melepaskan pukulan satu dua ke muka dan dada Zuleha. Ada yang kena, tetapi juga yang meleset. Dengan satu kali tangkisan, kepalan tinju si Jangkung berhasil ditahan, sebelum didorong keras dengan tubuhnya yang tambun ke depan.
Ketika si Jangkung terjatuh, Zuleha menghujaninya dengan pukulan kea rah perut dan dada. Sayang tak ada yang kena karena lawan masih bisa mengelak. Sempat diludahi, Zuleha membalasnya dengan memukulkan kepalanya ke mulut si Jangkung.
“Aduh … sakit deh …”
Zuleha kemudian mengangkat kepala si Jangkung, membentur-benturkannya ke rumput. Mengerang kesakitan.
“Ngaku kalah enggak?” Bentak Zuleha.
“Sikat saja dik. Jangan beri ampun lagi itu orang.” Teriak sebagian lelaki yang baru saja ikut nonton sepulang dari latihan futsal.
“Ampun … ampun …!” Ucap si Jangkung dengan suara lemah memelas.
“Apa? Coba ulangi sekali lagi …” Zuleha mendekatkan telinganya ke mulut si Jangkung.
“Taik anjing lu …!”
Haaaa …
Darah Zuleha menggelegak. Ditariknya pergelangan tangan si Jangkung. Diangkatnya tubuh kurus tinggi itu tinggi-tinggi, lalu dihempaskannya ke rumput tak jauh dari kerumunan orang yang menyaksikan.
“Mati enggak ya?” Tanya remaja berseragam putih abu-abu kepada rekannya.
“Enggak kayaknya,” jawab rekannya memberanikan diri  mendekatkan telinganya ke dada si Jangkung.
“Masih kayaknya,” jelas cowok bermata besar.
“Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?”
“Sebaiknya begitu. Mana tahu parah lukanya,” sahut bapak yang menggendong dua anaknya yang  masih kecil-kecil.
“Biarin ajalah, Pak.” Ucap Zuleha menjelaskan duduk masalahnya.
“Tapi dik, apa nanti ….?”
“Enggaklah. Enggak apa-apa. Sebentar lagi juga udah baikan,” jelas Zuleha.
Benar saja. Setelah si Keriting dan Tomboy siuman, menyusul pula si Jangkung. Dipapah Zuleha saat berdiri. Memeluk dua rekannya yang sama terluka.
                                                                                      ***

 XIII

DI lain tempat.
Di sebuah lorong tembus ke pusat kota. Petruk baru saja turun dari opelet. Menyeberang jalan. Dia memilih jalur sebelah kanan. Agak sepi lorong ini memang, tapI lebih cepat sampai ke rumah.
Sambil menahan rasa lapar dan haus serta sepi yang menyesap, Petruk bersiul-siul dengan sesekali ber dendang disertai langkah kaki yang mantap. Kadang ketawa sendiri, tersenyum lalu menepuk-nepuk jidatnya menahan geli.
Entah apa gerangan yang dia pikirkan. Namun sayup-sayup terdengar suaranya mendendangkan tembang ‘Adios Amigo’ ….

                                    “Adios amigo adios my friend
                                      the road we have travelled
                                       has come to an and
                                       when two loves the same love
                                           
                                              On love has to loose
                                               and it’s you who she
                                               longs for it’s you you she would
                                               choose adios compadre
                                               what must be must be
                
                                                          Remember  to name one
                                                          mucoca for me
                                                          I ride to he rio
                                                          where my life
                                                          I will spend
                                                          adios amigo
                                                          adios my friend ….”

Belum habis lagu itu Petruk dendangkan, sebuah mobil  sedan berflat hitam berhenti persis di dekatnya ber jalan kaki. Dua orang lelaki bertubuh tinggi besar dan kekar keluar dari mobil itu. Menguntitnya dari belakang, sebelum akhirnya diciduk dan dibawa paksa masuk ke dalam mobil.
Tak seorangpun yang melihat kejadian siang itu. Praktis, pencidukan Petruk berjalan lancar, sangat cepat tanpa perlawanan.  Jalan lengang kembali sesaat setelah mobil melesat pergi.
“Lepaskan aku Pak. Aku mau dibawa ke mana Pak?” Petruk meronta-ronta minta dilepaskan. Minta di belas kasihani. Sayang, permintaan itu tidak ditanggapi, malah dibalas dengan bogem mentah ke pipi Petruk.
“Eeeekh …”
Petruk terdiam. Kepalanya tib-tiba berkunang-kunang. Penglihatannya kabur. Namun dia masih sempat melihat  dan mendengar dua lelaki besar di sampingnya berbisik … “Cukup .. cukup. Kita serahkan saja kepada bos …”
Petruk baru sadar setelah mukanya disiram air. Basah kuyup badan dan pakaiannya. Kini dia baru bisa melihat dengan jelas tempat di mana dia kini berada, diturunkan dari mobil tadinya. Sebuah gedung besar yang sudah lama tidak dihuni.
Gedung yang lokasinya berada di pinggiran kota itu tampak lengang.  Catnya sudah lusuh, bertingkat tiga. Kurang terawat dengan baik. Selain banyak diketemukan sarang laba-laba dan rumah kelelawar, juga sampah berserakan di mana-mana.
Petruk sempat melihat ada beberapa lemari tua di lantai dasar. Berlantaikan semen, selain tempat tidur yang lusuh, tak ada peralatan lain di situ. Hanya seliweran tikus hilir mudik dari tempat tumpukan barang bekas menuju parit yang airnya sudah lama tidak mengalir lagi.
Sementara di lantai dua, Petruk melihat ada ruangan kosong. Tak ada satupun perabotan di sini. Ada beberapa helai tikar lusuh, lama tak dibersihkan. Selebihnya sawang-sawang dan tempat singgahnya burung di kala malam, terbang lagi kala pagi menjelang.
Di lantai tiga ada tiga buah kursi. Entah untuk apa kursi itu diletakkan di tempatnya. Tapi yang pasti, be gitu Petruk tiba di tingkat paling atas ini, dua lelaki di sebelahnya memaksanya untuk menduduki kursi  itu.
“Diam …!” Bentak lelaki bertato besar di lengannya itu sambil menatap tajam kea rah Petruk. Petruk sendiri tak berani menatap balas tatapan mata itu. Mata merah dengan dengus nafas laksana nafas seratus ekor kuda.
“Kalau macam-macam gue telen jantung dan hati kamu punya. Mengerti?” Sergah lelaki satunya seusai mengikat kedua tangan dan kaki Petruk di kursi.
Petruk hanya diam. Kepalanya tertunduk dan baru dia tegakkan kembali setelah dua lelaki berwajah menyeramkan itu pergi meninggalkannya sendirian dalam posisi kedua tanan dan kaki terikat di tiang kursi.
“Tempat apakah ini?” Tanya Petruk dalam hati. Sunyi sekeliling, dan bagaimana sekiranya kalau malam tiba. Siang, tengah hari seperti ini saja sudah gelap, apalagi Magrib, Isya’ dan berlanjut ke Subuh nanti.
Konon kabarnya gedung ini ada penunggunya.  Seorang wanita berjubah hitam, yang entah dari mana asalnya, sering mengganggu orang  yang datang berkunjung dan menginap di tempat ini. Jauh dari pemu kiman warga. Namun sering dilewati mereka yang hendak turun ke sawah, kalangan dan bekerja di pab rik karet serta pengalengan ikan.   
“Ya Tuhan. Mati aku …” Ucap Petruk. Andaikata saja dia bisa membuka ikatan tali ini tentu dia bisa secepatnya meninggalkan tempat ‘terkutuk’ ini.
“Bagaimana ini?”
Petruk gelisah. Dia resah. Takut bercampur cemas. Dia berusaha sekuat tenaga menggerak-gerakkan tempat duduknya dengan cara menggeser pelan pantatnya. Tapi percuma dia lakukan itu karena selain kursi hanya bisa bergerak sedikit, juga andaipun sampai ke dinding gedung, dengan posisi tangan dan kaki terikat, mustahil bisa melepaskan diri dengan selamat.
“Cepat sana …!” Terdengar suara teriakan dan hardikan di lantai dasar.
“Siapa gerangan?”
Pikiran Petruk semakin berkecamuk. Sudah takut, kini diteror dengan suara hardikan, dan entah suara apa lagi.Walaupun akhirnya diketahui kalau suara barusan berasal dari lelaki besar yang menyeret paksa BiJe dan Kuyung.
“BiJe dan Kuyung?”  Petruk  bergumam dalam hati.
“Odi. Kau ikat orang ini. Aku yang itu,” ucap Weli, lelaki berkepala pelontos.
Baik BiJe maupun Kuyung, mereka berdua ini dipaksa duduk bersamaan dekat Petruk. Sama seperti Petruk, kaki dan tangan keduanya diikat di kursi.  Setelah itu, salah seorang ‘preman kampung’ ini menelepon seseorang yang dia panggil dengan sebutan ‘Bos Besar’. Sesekali serius, lalu tertawa terbahak-bahak.
Sementara preman satunya, Weli, berjalan ke sana kemari. Seolah tak betah berlama-lama di tempat tak bertuan ini. Ekspresi wajahnya terlihat kesal dan geram.
“Gue berangkat, elu yang jaga mereka. Oke?” Meski sempat menolak, Weli akhirnya bersedia berbagi tugas. Odi menemui Bos Besar, sementara Weli  diminta menjaga baik-baik Kuyung, Petruk dan BiJe.
Ketika Weli duduk teseler di dinding dekat tangga, Petruk bercerita kalau dia diciduk saat pulang sekolah.
“Tak jauh dari rumahku,” akunya terus terang kepada BiJe dan Kuyung.
“Lalu?”  Tanya Kuyung.
“Ada mobil berhenti di dekatku. Keluar dari mobil itu dua lelaki besar, memaksaku masuk ke dalam mobil. Pipiku dipukul, aku pingsan dan setelah sadar tiba-tiba sudah ada di tempat ini.”
“Kamu Yung?”
“Kurang lebih samalah dengan apa yang dialami Petruk, Je. Bedanya, aku diajak makan dulu dan setelah itu aku tak sadarkan diri …”
“Ahaaa … kamu pasti dari minum sianida kan?” sindir Petruk.
“Enggak taulah aku. Apa sianida atau apa. Pokoknya setelah makan, tiba-tiba pandangan mataku kabur dan aku setelah itu tak ingat apa-apa lagi …”
“Kamu sendiri gimana Je?”
“Seperti biasalah, Petruk,” jelas BiJe. “Aku pulang bersepeda. Mulanya sih biasa-biasa saja. Sepeda kukayuh. Melewati lorong-lorong, lalu ke pusat pertokoan. Masuk lorong lagi. Pas mau belok ke tikungan, ada mlobil. Jegaaar .. Langsung tabrak akulah itu mobil …”
“Lalu?”
“Sepedaku jatuh. Aku juga jatuh. Aku luka memar sedikit. Dua lelaki besar mendatangiku dan memaksaku naik ke mobil mereka …”
“Kenapa enggak kamu lawan mereka, Je?”
“Enggak mungkinlah aku melawan mereka, Petruk. Aku sendiri, setelah jatuh memang bisa bangun sendiri. Tapi entah kenapa tenagaku seolah-olah habis. Berjalan saja beratnya minta ampun …”
“Sepeda lu Je?”
“Ditinggal begitu saja, Yung.”
“Sayang … “Kata Petruk.
“Yach, mau gimana lagi. Untung masih bisa selamat …”
Ha ha ha ha …
Weli ketawa ngakak.
Sssssst …
“Kita diam. Pura-pura enggak  tahu,” bisik BiJe.
“Iya sayang. Jadi orang berapa yang diajak nonton?”
“Tujuh orang Mas Weli,” jawab seorang perempuan dengan nada mendesah manja.
“Siapa-siapa saja mereka say?”
“Aku dan Mas Weli, kan dua. Terus bapak dan emakku, dua. Jadi empat. Yang tiga lagi, adik-adikku. “
 “Mereka apa suka nonton film ya say?”
“Ya tentulah. Bosan nonton televise terus. Sekali-sekali kan nonton di bioskop kenapa sih. Eeeem … Mas Weli?!”
“Kenapa say?”
“Mas keberatan eggak kalau aku ngajak keponakanku lagi?”
“Enggaklah.  Memangnya berapa orang keponakanmu?”
“Sepuluh orang …”
Ha ha ha ha …
Ketawa dipaksa.
“Boleh kan Mas?”
“Eeeem … gimana ya?”
“Lu katanya enggak keberatan ngajak keponakanku nonton … Gimana toh Mas Weli ini?”
“Iya betul … aku memang enggak keberatan. Aku malah senang nonton rame-rame. Tapi …”
“Kok pake tapi pula Mas Weli?”
“Bisa enggak say dikurangi gitu. Enggak usah sampai sepuluh. Lima aja cukuplah. Bisa kan say?”
“Enggak bisa, Mas.”
“Kenapa emangnya?”
“Karena kalau ada yang ditinggal pasti menangis.”
“Oooo gitu ya.”
“Ek ..  eeee .. Mas. Gitu emangnya …”
“Lalu ke bioskopnya naik apa dong?”
“Sewa mobil aja …”
“Lho … yang bayar sewanya?”
“Mas Weli …”
“Bayar karcisnya?”
“Mas Weli …”
“Yang jajannya?”
“Mas Weli.”
“Makan sama-samanya?”
“Juga Mas Weli …”
“Kamu sendiri gimana say?”
“Maksud Mas Weli?”
“Bawa uang kagak nonton di bioskop?”
“Enggak …”
“Sepeser pun enggak?”
“Enggak. Kan ada Mas Weli.”
“Walah-walah … nasibku … bisa bangkrut aku …”
Sayang, ucapan Weli barusan kedengaran sama yang di hati.
 “Mas Weli pelit. Gitu aja bilang bangkrut. Gimana kalau nikah nanti …”
“Lain dong say …”
“Lain apanya?”
“Kalau nikah kan cuma kita berdua say. Enggak ngajak orang lain. Betul kagak?”
“Kalau sudah punya anak?”
“Sisa kita baru diberikan kepada anak.”
“Itu sih sama aja  Mas. Pelit juga ..”
“Ya udah kalau gitu. Mas Weli janji enggak bakalan pelit lagi asalkan …”
“Asalkan apa Mas Weli?”
“Ada uangnya.”
“Kalau kagak ada uangnya?”
“Pelit lagi …”
“Busyet … Mas Weli lucu deh.”
“Kamu juga say …”
“Kok sama ya?”
“Iya … kan bakalan berdua … ya enggak, ya enggak …”
Ha ha ha ha …
Telepon seluler ditutup.
“Je … hapenya …” Bisik Petruk.
“Kita curi maksudmu?” Tanya Kuyung.
Petruk mengangguk.
                                                                                       ***  

XIV
NGEEEEEERG … ngerrrrgh …
“Je .. ngorok dia,” bisik Petruk.
Kuyung puny aide. Apaan tuh? Dia menggeser kursinya membelakangi  BiJe. Oleh Bije, kursi itu didorong berkali-kali, sehingga membuat Kuyung terjatuh dengan kaki dan tangan tetap terikat di kursi.
“Ai  … sayangku. Kaulah bulan purnamaku. Betapa indah rupamu. Aku cinta padamu …”
Wuli menggeliat. Dia bermimpi. Tadi miring ke kanan, kini posisi tidurnya terlentang. Mulutnya komat-kamit dengan sedikit mengeluarkan air liur. Matanya terpejam. Tapi raut mukanya ceria. Lagi sumringah tampaknya.
Sssssssst …
“Enggak apa-apa. Lanjut …” Bisik Petruk lagi.
Kali ini giliran BiJe yang membelakangi Kuyung. Dia menggerakkan kursinya. Petruk kemudian mendo rong kursi itu dengan kepalanya. BiJe jatuh dengan posisi kepala persis di dekat tangan  dan kaki Kuyung yang terikat.
“Jeeee …”
Petruk meminta BiJe tak beraksi dulu. Menyusul bolak-baliknya posisi tidur Weli. Tampak gelisah dengan sesekali batuk-batuk kecil berdahak.
“Yang … aku tidur lagi,” kata Weli sembari membalikkan badannya miring ke kanan.
“Gimana Ruk?” BiJe kepayahan. Nafasnya mulai tak teratur. Begitu juga dengan Kuyung.
“Cepatlah Je …”
“Sebentar Yung …”
“Oke. Lanjut,” ucap BiJe memberi isyarat jempolnya mengarah ke bawah.
“BiJe pun mulai beraksi. Dia menggigit ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki Kuyung. Sementara Petruk berjaga-jaga.
“Pelan-pelan Je …”
BiJe, dengan giginya yang tajam, pelan tapi pasti berhasil mengurai tali pengikat itu. Meski belum terlepas dari ikatannya, ketebalan tali mulai berkurang. Menipis karena digigit BiJe.
“Cepat sedikit, Je.” Pinta Petruk.
“Ya … iya.”
Weli terjaga dari tidurnya. Dia duduk dan berdiri sempoyongan.
“Tahan dulu, Je.” Ucap Petruk.
“Apa?” Kuyung menoleh kea rah Petruk yang tampak was-was dan kuatir Weli mengetahui aksi nekat mereka bertiga.
Ternyata tidak. Weli memang bangun. Terjaga dari tudurnya. Dia berhasil berdiri, malah sekarang sudah bisa berjalan. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Lalu berputar-putar.
“Gimana Ruk?” Tanya BiJe.
“Lanjut aja diam-diam …”
Sementara BiJe berusaha melepaskan ikatan tali dengan giginya, Weli terus berputar-putar dengan sesekali mengangkat kedua kakinya silih berganti. Lepas itu, menghadapkan kedua tangannya lurus ke depan.
Ngapain?
Sambil meliuk-liukkan badannya, Weli sepertinya sedang berjoget dan bernyanyi. Entah apa yang dia nyanyikan, sayup-sayup terdengar begini …

                                                      “ Kaulah bulan itu kenapa
                                                          masih sembunyi di situ
                                                          keluarlah sayang …
                                                          peluklah aku barang sesaat
                                                          biar hatiku kian kuat
                                                          menjalani hidup serba tak bersahabat …”

Setelah diulang-ulangnya syair itu hingga tiga kali, Weli sempoyongan lagi, sebelum akhirnya terduduk lesu, dan kembali tidur. Ngorok pula.
“Aman Je. Lanjut …” Kata Petruk.
Beberapa saat kemudian. Tali ikatan itu berhasil terlepas. Kuyung lega. Kini kedua tangannya sudah bisa digerakkan. Tapi kakinya belum. Masih terikat kuat.
“Tenang aja, Yung.”
Kuyung berusaha melepaskan ikatan tali di kedua kakinya. Seolah gampang, padahal tidak. Karena tali yang mengikat kedua kaki Kuyung itu berlapis-lapis. Berkat sabar, tali pengikat itu pun akhirnya bisa terlepas.
“Cepat Yung,” kata Petruk meminta Kuyung secepatnya melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
“Gue dulu, kenapa sih.” Canda BiJe.
“Siap Bos …”
Kurang dari lima menit, tali pengikat itu berhasil dilepaskan semuanya. Mereka bertiga kini sudah tidak dalam keadaan terikat lagi. Bebas dari tali pengikat.
Lalu?”
“Kita ikat Om Weli itu, gimana?” Petruk beralasan dengan diikatnya Weli maka para  preman bandit yang datang menjenguk nantinya dipastikan mencak-mencak dan marah besar.
“Hebat juga elu punya otak Petruk,” puji Kuyung.
Ketiganya membawa tali yang mereka lepaskan tadi. Lalu mengikatkannya ke kaki dan tangan Weli. Karena masih tertidur lelap, badan Weli mereka gotong dan didudukkan di kursi.
Setelah duduk yang sopan, perut Weli  diikat berlapis-lapis ke tiang kursi. Sampai ikat mengikat selesai, Weli masih tidur pulas.
“Hapenya mana Je?” Tanya Petruk.
“Mana kutahu, Pet. Di saku celananya ada enggak?”
Kuyung menggelengkan kepalanya. Sudah dia periksa barusan. Tak ada hape di celana Weli. Yang ada cuma sisa kertas tissu yang sudah tidak utuh lagi.
“Kita cari kesana aja yuk …!” Ajak BiJe.
Mereka memeriksa lokasi tempat Weli berbaring tidur tadi. Di setiap sudut dicari, namun hape itu tak jua ditemukan.
Kemana ya?”
“Aneh juga itu hape,” ujar Kuyung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Belum ketemu aja,” sahut BiJe dari dekat tangga. Di sana ada kotak sampah. Dibuka, eeem .. baunya.
Sedapnya minta ampun.
“Ahaaa … dapat aku.! Teriak Petruk kesenangan. Dia berhasil menemukan hape Weli di sudut jendela dekat toilet.
Piiiiiin … piiiiiin …
“Cepat sembunyi,” kata BiJe. Mereka bertiga sembunyi di dalam toilet yang sudah lama tak pernah digunakan lagi.
Menunggu siapa yang datang, Petruk mengontak Zuleha. Ada nada suaranya tapi tak ada yang mengangkat. Begitu juga dengan Puspa, Maisaroh dan Zubaidah. Terakhir giliran Nile.
“Alhamdulillah … tolong angkat, ya Allah, tolonglah …” ucap Petruk penuh harap.
“Halo …” Sapa Nile yang baru saja bangun tidur dan bermaksud ingin ke kamar mandi.
“Je … kamu aja.” Petruk berikan hape itu pada BiJe.
“Siapa emang?”
“Nile …” Bisik Petruk sembari tertawa geli.
BiJe sempat ketawa. Lalu memberitahu Nile kalau mereka bertiga sekarang berada di sebuah gedung tak berpenghuni. Tepatnya di Jalan Burung Tidur No 12.
“Kami diculik …”
“Haaa. Kamu enggak apa-apa kan?”
“Enggaklah. Cuma tolong kasih tahu ke temen-temen ya.”
“Ya .. ya …  Je …”
“Apa?”
“Aku sayang kamu …”
“Iya. Aku juga kok.”
Dari lantai dasar, dua lelaki keluar dari mobil, lalu bergegas naik menuju lantai tiga. Betapa terkejutnya mereka mendapati Weli terikat di kursi. Sedangkan tawanan mereka hilang entah kemana.
“Dasar goblok. Otak lu dikemanain?” Hardik Odi.
“Enggak dikemana-kemanain,” jawab Weli minta dilepaskan ikatan talinya.
“Kenapa mereka bisa lepas dan elu justru terikat di kursi ini?” Bentak Yandi, preman satunya berkumis tebal.
“Ya mereka kan tiga orang. Sedangkan aku cuma sendirian. Ya, pasti kalahlah kalau aku duel.”
“Badan aja besar.”
“Ya benar. Badanku memang besar, Bos.”
“Masa kalah dengan anak kecil, Wel. Mana nyali elu …”Yandi masih tak percaya. Jangan-jangan Weli bersekongkol dengan tiga ABG tadi untuk menjebak mereka.
“Kenyataannya memang begitu Bos,” jawab Weli yang terus mendesak Yandi dan Odi segera membuka ikatan di kaki, tangan dan perutnya.
“Kenyataan apa?”
“Gue keoklah …” jawab Weli terus terang.
Sambil mengomel dan mengancam akan menghabisi Weli bila BiJe dan dua rekannya tak berhasil dike temukan, Yandi pelan-pelan membuka ikatan tali yang mengikat di tiang kursi itu. Sementara Odi me nelepon Bos Besar dan memberitahu tiga tawanan mereka lepas, berhasil meloloskan diri.
Kelonteeeeeng …
Sebuah kaleng kecil mengenai kepala Odi.
“Kampret. Setan bolong,” jeritnya geram. Kaleng itu diambinya, lalu dilemparnya mengenai pintu toilet.
Kelonteeeeng …
Lemparan kedua mengenai  kepala Yandi. Bukan menjerit, malah ketawa.
“Cuma kaleng,” ucapnya seraya melempar kaleng itu keluar jendea gedung.
Kelonteeeeng …
Lemparan ketiga mengenai mukanya Weli. Menjerit kesakitan. Luka tergores dan mengeluarkan darah segar dari pipinya.
“Kurang ajar,” katanya. Dia tendang kaleng itu sekuat-kuat, justru mengenai selangkangan Odi.
“Babi lu …”
Odi mengambil itu kaleng, lalu dipukulkannya ke punggung Weli. Kalau saja tidak dilerai Yandi, Weli bisa jadi babak belur.
“Sudah .. sudah … sekarang kita cari sama-sama mereka. Oke?”
“Oke …”
Guarrrrrr …
Serta merta pintu toilet terbuka lebar. Keluar dari pintu itu, BiJe, Petruk dan Kuyung. Ketiganya bak kesatria dari negeri entah berentah, membuat  tiga preman bermulut besar ini ciut nyalinya.
Ha ha ha ha …
“Kenapa bisa begini ya?” Bisik Odi pada Yandi dan Weli.
“Wel,” ucap Yandi.
“Ya Bos.”
“Apa tadi kamu kasih mereka obat kua?”
“Enggaklah. Mana kupunya obat kuat.”
“Lalu kenapa mereka tiba-tiba sekuat seperti sekarang ini?”
“Biasalah Bos. Gertak sambal.”
“Maksud kamu?”
“Pedasnya sebentar. Bos kagak percaya omongan gue?”
“Kagak …”
“Sekarang, coba Bos keluarin pistolnya dan lepaskan tembakan satu kali aja …”
Dooor … doooor … door …
Benar juga kata Weli. Begitu pistol ditembakkan ke kaki Petruk, kendati tidak kena, serta merta membuat ketiganya larit terkincit-kincit masuk toilet lagi.
“Apa kubilang kan Bos?”
“Boleh juga elu diandalin, Wel. Tak sia-sia emak elu ngelahirin elu ke dunia.”
Sementara Nile, Zuleha, Puspa, Maisaroh dan Zubaidah, dengan menumpang mobil satuan tugas tim penyergap,  tiba di lokasi penyanderaan lima belas menit kemudian.
Apa yang mereka lakukan?
Menunggu sesaat. Di dalam ruangan terjadi duel seru antara BiJe dan Yandi, Petruk dan Odi, antara Ku yung dengan Weli. Duel tangan kosong itu terjadi lantaran pistol digenggaman Yandi terlepas  karena ditendang Bije. Entah kemana larinya pistol itu.
Hiyaaaat …
Petruk mengacungkan dua jari. Lalu diarahkan ke mata Odi. Nyaris kena. Odi tak menghindar. Dia  mene pis itu jari dengan kepalan tangannya, lalu mendaratkan pukulan ke dada Petruk.
“Aduuuuh. Anjing lu …!”
Saat lawan lengah, Petruk berhasil melepaskan tendangan mengenai perut. Belum sempat menghindar, Petruk menghajar dada dan kepalanya Odi. Karena lawan lebih besar badannya, pukulan dan tendangan yang dilepaskan Petruk tadi tak berarti apa-apa. Sempoyongan pun tidak.
“Cihuuuuy … dapat kau …”
Odi berhasil menangkap Petruk. Berusaha melepaskan diri. Dia meronta-ronta. Tapi rontaannya itu dibalas Odi dengan mengangkat tubuh Petruk tinggi-tinggi, lalu dibanting ke lantai.
Jegaaaaar …
“Wadoww. Encok gue kumaaat lagi.”
Ketika Petruk sudah berdaya lagi, BiJe dan Kuyung makin seru duelnya, entah kapan saling mengalahkan dan menjadi pemenangnya, aparat keamanan mendobrak masuk dan …
“Jangan bergerak …!”
“Diam di tempat …!”
Odi, Weli dan Yandi, yang berusaha hendak melarikan diri, kena batunya. Petugas berhasil melepaskan tembakan, mengenai kaki mereka, sehingga jatuh tersungkur. Sedangkan Petruk sudah siuman, dipapah Kuyung dan Bije.
Seminggu kemudian …
Sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan berita kriminal jelang siang … “Telah berhasil diamankan, Salim, otak dibalk penculikan siswa Es Ema A Mawar …”

SAMPE DISINI YA ..GUE  PAMIT  DULU  …. DAAAGH!