Novel Serial Bije
Daging yang Terkoyak
Oleh Pak Amin
I
KETIKA BiJe, Kuyung, Iqbal dan Adam asyik menyanyi dan
bermain gitar di teras rumah tinggal se men tara pada malam minggu, lewatlah
seorang cewek cantik dan ternyata memikat hati Adam.
“Malam Mbak!” Sapa Adam, berdiri dan mendekati itu cewek.
Disusul ketiga temannya, berdiri sambil menunggu gerangan apa yang akan
dilakukan Adam.
“Saya Adam, Mbak.” Adam memperkenalkan diri, kemudian Iqbal,
BiJe dan Kuyung.
“Saya Susi …” Kata si cewek mengulukan tangannya, bersalaman
sekaligus memperkenalkan diri.
“Boleh tahu Mbak. Dari mana dan hendak ke mana?” Tanya
Kuyung.
“Dari rumah hendak ke warung,” jawab Susi sambil tersenyum
dan hendak berlalu pergi.
“Boleh ditemani?” Iqbal menawarkan diri.
“Enggak usah. Kalian kan sedang bergembira. Tak eloklah
kalau Mbak sampai ngerepotin. Lagian warungnya cuma deket sini kok …”
Empa sekawan saling pandang.
“Udah ya. Mbak tinggal dulu.” Susi permisi pergi.
“Hati-hati Mbak …!” Kata empat sekawan serempak.
Keempatnya girang bukan main. Kegirangan itu mereka
lampiaskan dengan bernyanyi lagi. Berikut
nyanyian yang mereka nyanyikan bersama-sama …
“My
dear
call on me ever time you’re
feeling lonely
you don’t have to fght it all
by your self now you’re w
ith me
We all need some
one to tell us
to never give up on
hoping
we all need some one to
tell us
to get up again
No you were never
the only one
who felt that there
was
no where left to
run
I wanna tell you
right now
whenever you’re
down
Let me sing a
song for love
I wanna sing a
song for love
let it be a song
for love
and you can hum
a long and some day
you’ll find it
the way to sing
your song for love
song for love
song for love
may be some
day you’ll find it
the way to sing
your song for love
Can you
recollect the feeling fluttering
of first
times
that got
you feeling so nervous
you
could hear your chest pound
You see those are the things you never
should let go
the fleeting moments that are
hard to remember
It’s hidden deep within you
just gotta look
in your heart
Let me sing a song for love
I wanna sing a song for love
let it be a song
for love
And you can hum a long and someday
you’ll find it
the way to sing your song for love
The way to sing your song for love
song for love
song for love
may be someday you’ll
find it
the way to sing
your song for love
I wanna sing a song for love
let it be a song
for love
And you can hum a long and someday
you’ll find it
the way to sing
your song for love
song for love
song for love
may be someday
uou’ll find it
the way to sing
your song for love
About
these ads ….. “
Plak … plak … plak …
“Suka sekali Mbak mendengarnya,” kata Susi tak jauh dari
tempat mereka bernyanyi.
“Terima kasih Mbak,” ucap Iqbal.
“Kok cepat sekali ke warungnya,” sahut Kuyung.
“Rasanya baru sedetik aja,” seloroh Adam.
“Beli apa toh Mbak?” Tanya BiJe.
“Enggak ada. Cuma beli ini …” Susi memperlihatkan sebungkus
garam halus kepada BiJe dan tiga rekannya.
“Buat masak apa Mbak?” Iqbal ingin tahu saja, kok
malam-malam beli garam segala. Biasanya kan siang orang beli garam.
“Ah .. mau tau aja. Udah ya.”
Saking terkesimanya dengan Susi punya wajah dan bodi, empat
sekawan sampai lupa menanyakan alamat rumah.
Masa, pikir mereka, orang sekampung tidak tahu rumah warga
yang lain. Malam hari. Perawan ting-ting lagi. Atau jangan-jangan Susi cuma
pendatang. Sengaja mengunjungi kerabatnya di kampung ini sekadar untuk
bersilaturahmi.
“Kita ikutin aja yuk. Penasaran gue,” kata Kuyung.
“Ah lu. Penasaran apa pengen gituan ..” Sindir Iqbal.
“Kalau jodoh enggak kemana,” jawab Kuyung.
“Lho … Lehanya gimana dong?” Adam ikut menyindir pula.
“Husy … Bawa-bawa Zuleha segala. Udah. Mau susul tu cewek
apa kagak?” BiJe mengingatkan rekan-rekannya.
“Oke. Siap ..” Kata Iqbal.
“Gue juga siap,” jawab Adam.
“Let’s go … “ Sahut Kuyung.
Ke mana Mbak Susi pulang, pada enggak tahu. Tadinya sempa
jalan lurus ke depan. Cuma, pas di dekat
pohon pisang, ada dua jalan. Satu ke kiri dan satunya lagi
ke kanan.
Jalan mana yang dilalui Mbak Susi?
“Ke kiri mungkin,” ujar Iqbal.
Dipilihlah jalan ke kiri. Ada beberapa rumah warga memang,
tapi karena tak satupun penghuninya yang keluar malam itu, bikin Bije cs
ragu-ragu untuk meneruskan, apalagi bertanya. Mana gelap, sepi lagi.
“Putar aja lagilah,” kata Adam.
“Kita coba jalan yang kanan. Mana tahu rumahnya Mbak Susi
itu ada di sana,” jelas Kuyung bersemangat.
Ke kananlah mereka berjalan. Satu-satu rumah ditengoki. Ada
beberapa warga yang lagi asyik duduk di teras rumah. Ada yang berusia lanjut,
juga tak sedikit yang berusia muda.
Kalau tadi sepi, di jalan satu ini cukup ramai oleh suara
orang yang berkelakar sambil ketawa-ketawa. Semua pada bergembira ditemani ubi
rebus, air teh dan kopi hangat kental manis campur susu.
Jalan sampai ke ujung, balik lagi. Tidak ada dan tidak
ketemu Mbak Susinya.
“Kita tanya dululah,” ucap BiJe.
Ada dua orang tua lagi ngobrol serius di pondok depan
rumahnya. Melihat kedatangan BiJe cs keduanya agak sedikit heran karena jarang
sekali orang lewat jalan ini jika malam hari.
“Cari siapa dik?” Tanya lelaki berperawakan kurus ceking
sambil mendekati empat sekawan yang berdiri di luar pagar.
“Namanya …” Kuyung lupa-lupa ingat.
“Susi, Pak …” Jawab BiJe.
“Susi?” Si bapak keheranan. Setahu dia tidak ada yang
namanya Susi di kampung ini.
“Kalau Subhi ada. Tapi cowok. Ini kan cewek,” sambung si
bapak, diiyakan teman satunya yang tengah menghisap rokok daun nipah.
BiJe dan kawan-kawan diam.
“Enggak salah nama apa dik?”
“Enggak Pak. Dia sendiri yang ngomong ke kita kalau namanya
Susi,” terang BiJe.
Si bapak semakin bingung.
“Ciri-cirinya gimana?” Tanya teman si bapak.
“Tinggi semampai, rambutnya panjang, kulitnya hitam manis …
dan …” Adam mengingat-ingat sesuatu.
“Tahi lalat kan di wajahnya?” Potong si bapak.
“Enggak sempat lihat jelas, Pak. Soalnya malam,” jelas BiJe.
“Eeeeem .. Hidungnya mancung kan?”
“Nah … Kalau itu jelas Pak. Kalau tak salah memang mancung,
bukan pesek,” jelas Adam ketawa geli.
Dua lelaki ini tampak terkejut. Keduanya sempat
berbisik-bisik, membuat BiJe cs bertanya-tanya, ada apa gerangan. Apa ada yang
salah pada diri mereka berempat, atau justru karena ada faktor lain. Tak tahulah.
“Kalau benar itu ciri-cirinya, namanya bukan Susi, dik. Tapi
Susan …”
“Susan …? Ya enggak apa-apalah Pak. Nama boleh beda, yang
penting orangnya sama …”
Ha ha ha ha …
“Tapi terus terang ya dik. Cewek yang bernama Susan ini baru
dikubur kemarin siang …”
“Haaa … Dikubur? Jadi sudah …” Adam lemas seketika, tak
sempat melanjutkan kata-katanya.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun …
*****
II
“DIK Kuyung …!” Sapa Susi dari teras depan rumah.
Kuyung menoleh.
“Kemarilah sebentar dik,” kata Susi seraya menggerakkan
tangannya yang lentik itu meminta Kuyung menghampirinya di suatu sore.
Kuyung, yang sempat penasaran tadinya, akhirnya bersedia
menghampiri dan menemani Susi yang senja itu mengenakan pakaian serba putih.
“Sendirian Mbak. Yang lain pada kemana?” Kuyung makin
penasaran dengan kecantikan Susi sore itu. Luar biasa cantiknya. Senyumannya,
wooow laksana semut beriring, gemes bibir ini ingin menciumnya.
“Pada keluar semua. Ada yang dikerjakan. Punya kegiatan
masing-masinglah,” jelas Susi.
“Jadi …” Kuyung memandang lekat ke bangunan rumah mulai dari
atap hingga cagak dan tangga rumah.
“Ya, inilah rumah Mbak Susi. Tapi bukan rumahnya Mbak, tapi
rumahnya kepunyaan orang tua Mbak.”
“Ok oooo …”
“Kaget ya?!”
Kuyung mengangguk. Antara kaget dan tidak. Soalnya, lokasi
rumah ini beda sama sekali dengan apa yang mereka temui dalam perjalanan tadi.
Kalau bukan, lantas dimana persisnya tempat kediaman Mbak Susi ini. Masih satu
kampung dengan pemilik rumah yang mereka tempati, atau justru lain kampung.
“Tak usah dipikirkan dik. Kamu kan cari rumahnya Mbak. Nah,
sekarang sudah ketemu. Lalu, setelah ketemu, duduk berduaan pula. Masa harus
pikir yang lain-lain lagi. Enggak kan?”
“Ya .. ya Mbak.”
“Dekatlah kemari,” kata Susi sembari menarik pelan tangan
Kuyung, menempel di atas kedua pahanya.
“Gimana? Susi membelai-belai rambut Kuyung. Yang dibelai
antara senang dan takut.
“Kok gugup?”
“Enggak ah. Enggaklah Mbak.”
“Lhoo … itu tangannya kenapa?”
Gemetar, keluar keringat dingin. Entah kenapa sampai segugup
ini. Padahal dengan Zuleha misalnya, biasa-biasa saja.
“Itu namanya cinta.” Ledek Susi.
“Cinta?” Kuyung bengong.
“Kalau bukan cinta, lalu apa?”
“Apa ya?” Garuk-garuk kepala.
“Ayo, apa coba?”
“Sayang …”
Susi ketawa kecil.
Kuyung jadi salah tingkah.
“Jalan yuk …!” Ajak Susi, daripaa bengong duduk berdua,
mendingan jalan berdua menelusuri pematang sawah.
“Mau kan?”
“Ya. Maulah Mbak.”
Kepada Kuyung, Susi bercerita, kalau sebelumnya dia punya
pacar. Orangnya baik, sayang harus berpi sah. Padahal antara kami berdua sudah
ada rencana mau naik ke pelaminan.
“Mbak patah hati ya?”
“Mulanya begitu. Cukup lama jugalah patah hatinya. Dua tiga
tahun. Tapi, setelah itu berangsur-angsur pulih. Sudah bisa ngelupain si dia.”
“Sakit enggak Mbak patah hati itu?”
Susi cuma tersenyum.
“Sakitlah dik Kuyung,” jawab Susi terus terang. Seterang
sore hari ini, padahal sebentar lagi magrib tiba, malam pun siap menjemput.
“Seperti apa Mbak sakitnya?”
“Ah mau tau aja,” ucap Susi sambil membetulkan letak
rambutnya yang kusut karena diterpa angin senja.
“Belajar dari pengalaman orang lain, boleh kan Mbak?”
“Ya boleh. Terus terang ya dik Kuyung. Sakitnya itu sampai
ke jantung.”
“Itu saat baru putus ya Mbak?”
“Iya. Maunya maki-maki aja tu mantan. Macam-maca makiannya.
Cowok cengeng, penakut, tidak man diri dan lari dari tanggung jawab … Tapi lama
kelamaan sakitnya mulai berkurang. Sudah bisa netral. Berpikir logislah. Jadi
tidak lagi melihat dari sisi negatifnya, tapi juga positifnya.”
“Apa misalnya Mbak?”
“Jadi Mbak tidak lagi maki-maki itu cowok. Justru dibelain
sedikitlah. Misalnya, kalau dia memang pena kut dan tidak bertanggung jawab,
kenapa sempat ketemu dan bicara terus terang sama Mbak kalau dia mau putusin Mbak.”
“Terus gimana kelanjutannya Mbak?”
“Kelanjutan apanya?”
“Kan udah putus. Lantas si cowok itu dan Mbak sendiri
gimana?”
“Kawin dianya. Sedangkan Mbak sampai saat ini masih
sendirian …”
“Apakah dia mengundang Mbak untuk hadir di pesta
pernikahannya?”
“Ada. Dia mengundang Mbak. Tapi Mbak tidak bisa hadir.
Banyak pertimbangan yang membuat Mbak membatalkan
niat untuk hadir tadinya …”
“Mbak sendiri
masih betah menjomblo?”
“Betah juga sih
tidak. Gadis mana Siapa yang mau hidup sendirian terus. Tak mau dan tak pernah
kawin. Enggaklah. Naluri wanita tidak seperti itu …”
“Seperti apa Mbak
kalau boleh tahu?”
“Seperti air yang
mengalir …”
“Kok bisa begitu
ya?”
“Wanita itu,
tentu setelah dewasa dan matang, ingin hidup bersama. Menikah gitu. Lalu punya
anak yang lucu-lucu, suami yang baik dan memberi perhatian yang lebih kepada
keluarga. Anak dan isterinya terutama …”
“Mbak enggak coba
cari yang baru misalnya?”
“Sudah …”
“Dapat Mbak?”
“Dapat …”
Kuyung
berharap, lelaki yang beruntung itu bukan orang lain, tapi dia sendiri…
“Mau tau orangnya
siapa?”
Cepat sekali
degup jantung Kuyung berdetak.
“Mau,” ujar Kuyung harap-harap cemas. Lemah
suaranya. Nyaris tak terdengar.
“Kamu …”
“Haaaa ? Aku …?”
Susi
mengangguk.
“Alhamdulillah.” Dia peluk erat-erat Susi. Dia angkat
dan diputarnya beberapa kali sambil berseru riang … “Susiku
…”
Ha ha ha ha …
BiJe, Iqbal dan
Adam, ketiganya cuma ketawa ngakak melihat ulah Kuyung barusan. Mengangkat
bantal tinggi-tinggi, mengelilingkannya, mencium sambil menyebut berulangkali
kata-kata … Susi … Susiku ..”
“Makanya, kalau
tidur itu jangan lupa ngucap. Jadi enggak mimpi yang aneh-aneh gitu,” sindir Iqbal.
“Jadi gue …”
“Mimpilah …” Potong Adam.
“Ngomong-ngomong,
elu nyebut Susi tadi. Emangnya elu mimpiin dia ya?” Tanya BiJe.
Kuyung
mengangguk takut. Tiba-tiba merinding bulu kuduknya. Dia baru ingat sekarang
kalau Susi sebenarnya sudah tidak ada lagi di dunia.
Berempat tidur
lagi sambil merapatkan selimut menutupi seluruh anggota badan dengan harapan
tidak diganggu arwah Susi lagi.
Tengah malam.
Iqbal terjaga
dari tidurnya. Badannya berkeringat. Dia haus. Dia memberanikan diri ke dapur
untuk mengambil air minum.
Sekembalinya
dari dapur, ada suara memanggil-manggil namanya. Mulanya jauh, dekat dan
semakin dekat.
“Iqbaaaal …!”
Iqbal
menghentikan langkahnya. Dia melihat ke sekeliling ruang tamu. Tak ada
siapa-siapa. Sedangkan BiJe, Kuyung dan Adam, tidur pulas di kamarnya.
“Tidur lagi ah,” bisik Iqbal dalam hati.
Tak terdengar
lagi suara orang yang memanggil-manggil namanya itu. Anehnya, mata ini tak mau
juga terpejam.
“Dam .. oi Dam …” Bisik Iqbal.
“Ngapian sih ah,” ucap Adam menepis tangan Iqbal yang
mencolek-colek pipinya agar bangun.
Setelah Adam,
berpindah lagi itu tangan ke keningnya Kuyung.
“Tidurlah Bal.
Udah dalu ini,” jawab Kuyung,
terbuka sedikit matanya, lalu terpejam lagi.
Gagal di
Kuyung, itu tangan berpindah lagi ke dagunya BiJe.
“Bal, mending lu
ngaji sono. Dapat pahala ketimbang elu melamun aja,” kata BiJe. Membalikkan badannya miring
ke kanan, dari sebelumnya miring ke kiri.
“Ada Susi …”
“Apaaaa?”
Serempak
bangun.
“Di mana … di mana?”
Tanya Adam
“Di celana elu …”
Ha ha ha ha …
Adam melompat
dari tempat tidurnya. Dia buka celananya.
“Enggak ada Dam.” Kata Iqbal.
“Kata elu tadi
ada …”
“Gue cuma mainin
elu aja …”
“Sompret lu …”
“Kalau enggak
gitu kalian enggak bakalan bangun …”Terang Iqbal.
Mendengar
cerita Iqbal, ada suara perempuan mirip Susi saat dia mengambil air minum di
dapur, mem buat Adam ketakutan. Berubah kecut dan bergegas menutup rapat kepalanya
dengan kain sarung.
“Buka ah Dam.
Gitu aja takut,”tegur Kuyung.
Mereka sepakat
sama-sama ke belakang untuk mencari tahu asal suara itu. Apa benar Susi yang
punya suara. Soalnya, kalau benar berarti empat sekawan siap-siap menghadapi suasana
yang mencekam.
“Bisa enggak
tidur kita malam ini,”
bisik Adam sambil menyenteri setiap sudut ruangan, padahal lampu ruang tamu
sudah dinyalakannya.
“Enggak ada
apa-apa,” ucap BiJe.
“Elu aja yang
ketakutan kali, Bal.”
Celetuk Adam.
“Elu takut,
kebawa sampai dapur. Dengar suara aneh, lu langsung bilang hantu. Padahal belum
tentu. Siapa tahu suara cecak lagi gituan …”
Hua ha ha ha …
“Ya udah,” sahut Kuyung, “Kita balik ke kamar lagi yuk …!”
Iqbal agak
berat melangkah.
“Udah,”ujar Adam, “Kita masuk kamar lagi aja dulu … besok-besok kita beresinlah …”
“Yuk Ba …!”
Ajak BiJe.
***
III
TIIIIIN …
Iqbal bergegas minggir.
Tiiiiiin …
Iqbal menoleh.
“Mbak Susi ya?!”
“Baru bentar udah lupa. Gimana kalau setahun, pasti
enggak ingat lagi …”
Ha ha ha ha …
“Ada-ada saja Mbak ini,” ucap Iqbal.
Susi mematikan mesin motornya.
“Temenin Mbak keliling, mau ya?”
“Maulah. Siapa yang enggak mau dengan cewek semanis dan
secantik Mbak Susi …”
“Muji apa ngeledekin?”
Ha ha ha …
“Dua-duanya Mbak …”
Entah ke mana pikiran Iqbal melayang tatkala membonceng Susi
bersepeda motor. Bayangkan saja, sudah sepi, berduaan lagi di atas motor. Yang
bikin Iqbal panas dingin, itu tangan Susi melingkar di seputaran pinggang,
perut dan pahanya Iqbal.
“Awas Bal,” teriak Susi rada-rada manja.
Motor sempat berhenti. Ada belasan anak ayam lewat
menyeberang jalan. Berbaris rapi,
sepertinya sedang mencari induknya.
“Cuma ayam Mbak. Kena juga enggak.” Kata Iqbal menyalakan
lagi mesin motor, melaju lambat lewati pemukiman warga.
“Kalau sampai kena gimana?”
“Ya diganti ajalah Mbak. Ayamnya yang mati kita hitung
berapa harganya. Terus diganti uang, diserahkan itu uang ke pemilik ayam. Kan
beres …”
“Iya juga. Pintar kamu Bal,” puji Susi seraya mencubit paha
Iqbal. Yang dicubit melengking kegelian. Motor oleng nyaris nabrak kotak
sampah.
Motor berhenti lagi.
“Lain kali hati-hati
dik. Jangan asal jalan. Tengok-tengok di depan, kanan dan kiri serta belakang,”
nasehat seorang bapak berkaos dalam dan bersarung kotak-kotak tanpa alas kaki.
“Disini sudah banyak orang celaka. Agak rawan. Jadi
hati-hati. Kalau bermotor jangan ngebut. Pelan-pelan saja. Apalagi jalannya
sendirian,” kata teman si bapak berambut keriting tadi mengingatkan.
“Adik mau cepat-cepat, mau jemput siapa?” Tanya bapak
berkopiah hitam.
“Enggak jemput siapa-siapa Pak. Saya berdua …” Menoleh ke
belakang, Susinya enggak ada.
Kemana dia?
“Sama teman? Mana temannya?”
“Tadi ada di belakang saya Pak. Saya yang bonceng …”
Hua ha ha ha ha …
“Lucu adik kita ini,” kata kedua bapak itu. “Teman yang dibonceng
saja tidak tahu ke mana …”
Iqbal jadi malu hati. Dia bercepat-cepat pamit dan melaju
dengan sepeda motornya. Kalau benar Su
sinya kagak ada, gimana dengan motornya ini. Apa aku bawa pulang saja. ‘Ntar
kalau ketemu Susi di jalan, kembalikan lagi ini motor. Habis perkara.
“Dik Iqbaaal …!” Teriak wanita dari seberang jalan. Tak
menunggu lama, ia sudah duduk di jok belakang motor.
Iqbal mendadak bengong.
“Ada teman. Mampir bentar. Maaf Mbak ya. Enggak sempat
ngomong tadinya.”
“Maafnya diterima.”
Iqbal enggak bengong lagi. Sudah sumringah dia.
“Oke … lanjut.” Kata
Susi.
Aku, kata Susi, banyak teman di perkampungan ini. Cuma
anehnya, apa Mbak yang enggak kenal, atau mereka yang pura-pura enggak
kenal sama Mbak.
“Takut salah mungkin Mbak.”
“Maksud dik Iqbal?”
“Antara kenal dan tidak. Mau ditegur takut salah. Enggak
ditegur ‘ntar dibilang som-som lagi. Akhirnya ….”
“Akhirnya … akhirnya … “Susi menirukan kata-kata Iqbal
dengan berirama, membuat cs-nya BiJe ini
pe ngen banget berjoget.
“Belok kanan dik,”
ujar Susi. Mengerem sedikit, Iqbal membelokkan motornya memasuki sebuah lorong
yang agak sepi karena rumah warganya agak berjauhan.
“Kiri Mbak?”
“Enggak … terus aja.”
Sampai di pertigaan, tak ada lagi jalan. Buntu.
“Buntu Mbak.” Iqbal terheran-heran.
Yang ditanya sudah tidak ada lagi di belakang. Iqbal
mematikan mesin motor, lalu turun dan memarkir motor di kiri jalan, dekat
sebuah rumah yang telah lama ditinggal penghuninya.
Setelah melihat ada sebuah warung, dia mendekati warung itu
dan bertanya kepada pemiliknya, apakah ada melihat seorang wanita muda usia
lewat depan warungnya barusan. Si empunya warung mengge leng-gelengkan kepala,
tanda tak tahu. Dia tak melihat perempuan yang bernama Susi.
“Mungkin sebelah sana, Mas,” katanya kepada Iqbal, menunjuk
ke sebuah jembatan kayu.
“Berjalan sedikit, nah disitu ada jalan lagi. Ada beberapa
rumah. Kalau saja orang yang Mas cari itu ada di sana …”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Sudah dua kali ini Susi menghilang di saat Iqbal justru
memerlukan kehadirannya.
“Dik Iqbaaaal …!”
Iqbal menoleh ke belakang.
“Dik Iqbaaal …!”
Iqbal bisa tersenyum lega. Susi ada dan memanggil-manggilnya
dari dekat simpang jembatan kayu.
“Kemarilah …”
Karena tak begitu jauh, hanya beberapa meter, Iqbal
mendorong motor, tidak menaikinya. Perasaannya lagi berbunga-bunga.
“Dia benar-benar cantik,” pujinya dalam hati.
Tinggi semampai, membuat wanita yang bertubuh gembrot bakal
iri dibuatnya. Entah apa rahasianya, ya ng pasti kalau Susi lagi melenggang
berjalan, persis model yang ‘menari-menari’ di catwalk. Membikin orang kemekmek
dan terkesima. Tak berkedip barang sekejap pun mata ini.
Cewek yang aduhai menggoda hati itu, bikin cowok manapun
pasti tergila-gila, sekarang sudah di depan mata, kenapa harus dipandang
sebelah mata. Tak usah munafiklah.
“Lho … sini …!” Ucap Susi mengajak Iqbal duduk di dekatnya
sambil memandang gemericik air sungai yang mengalir lembut tapi jenaka di bawah jembatan kayu.
“Bening ya Mbak airnya. Enak sekali kita memandangnya …”
Kata Iqbal malu-malu siput.
“Lebih enak lagi kalau mandi.”
Ha ha ha ha …
“Iqbal mau mandi?”
Iqbal geleng-geleng kepala.
“Tak suka?”
“Suka.”
“Atau tak pandai berenang?”
“Pandailah sedikit-sedikit …”
“Lalu kenapa?”
“Salinannya enggak ada Mbak.”
Ha ha hi hi …
“Buka aja pakaiannya, kenapa. Malu?”
Iqbal mengangguk.
“Sama Mbak aja kok malu.”
“Mbak kan cewek, sedangkan saya cowok. Apa kata
orang-orang.”
“Enggak ada orang di sini …”
Iqbal tetap menolaknya, walaupun di sekitar jembatan kayu
tak satu pun orang yang lalu-lalang.
“Kalau sama Mbak mau enggak?”
Iqbal tak menjawab.
Susi bangkit dari duduknya. Dia buka pakaian dengan hanya
menyisakan bra serta celana dalam. Dia melompat, terjun nyerucup ke dalam air.
Byuuuuuur …
“Ayo dik Iqbal. Bukalah pakaiannya.” Teriak Susi, berenang
ke tengah lalu kembali lagi ke tepian anak sungai.
Iqbal belum juga beranjak dari tempat duduknya.
“Enggak usah takut. Ayo mandi sama Mbak.”
Terus didesak, akhirnya Iqbal melucuti pakaian yang dia
kenakan. Menyisakan celana dalam, dia me ngambil ancang-ancang untuk melompat.
Huuup …
Guuum … Byuuur …
Sudah berada di dalam air. Lama juga munculnya . Saat
menyembulkan kepalanya di permukaan air, disambut desahan manja oleh Susi.
“Ayo kejar Mbak …! Teriak Susi, berenang menuju bawah pohon
besar nan rindang.
“Tunggu Mbak …!”
Iqbal tak secepat Susi berenang. Selain cepat ‘mengas’, dia
juga sudah lama tak berenang. Paling
berendam di dalam bak air. Byuur … byuur … pakai tembok dan sabun mandi.
Selesai.
Bukan karena takut mandi di sungai. Kesempatan untuk itu
nyaris tidak ada. Di kota-kota besar, orang le bih suka mandi di kolam
renang. Jika lagi cuti kerja dan liburan
sekolah, bersama keluarga kejar-kejaran di tepian pantai atau di bawah guyuran air terjun. Sungguh
mengasyikkan.
“Dik Iqbaaal …! Panggil Susi.
“Tungguuuuu …”
Iqbal terus berenang. Anehnya, kendati jarak antara dia
dengan Susi hanya beberapa meter, tapi terasa jauh. Hampir lima belas menit dia berenang, baru sampai ke
tempatnya Susi berada.
“Sampai juga akhirnya …”
Keduanya berdekatan di dalam air. Enak memang. Tapi lain yang dirasakan Iqbal. Selain sepi,
air sungai seolah tak bergerak. Juga keadaan pohon yang membuat siapa pun yang
berkesempatan melihatnya, akan merinding bulu kuduknya.
Kenapa demikian?
Batangnya menjorok ke sungai. Dedauannya hanya beberapa
centimeter saja dari atas permukaan air sungai.
Uniknya, posisi ini akan sama walaupun airnya pasang atau surut. Bentuknya persis kepala manusia. Kalau ditiup
angin memunculkan suara seperti seruling.
“Takut ya dik?”
Dasar Iqbal. Masih jaga gengsi pula. Sudah takut, ketika
ditanya apa takut, diam saja. Lalu bilang tak pa-apa.
“Kita nyelam sama-sama yuk …!” Ajak Susi.
“Buat apa Mbak?”
“Nguji seberapa panjang nafasnya kita,” kata Susi tersenyum
penuh arti.
“Sekarang Mbak?”
“Iya …”
“Oke.”
Huuuup …
Bleeep …
Sama-sama menyelam.
Tiga menit kemudian …
Gebuuur …
Iqbal duluan muncul ke permukaan air.
Susinya?
***
IV
“MBAK Susi … dimana di kau. Katakanlah Susi … Aku sayang di
kau. Bulan jauh pun kuhampiri, asalkan bisa bertemu di kau .. Ayolah Mbak …!”
Hua ha ha ha …
“Ketahuan deh lu,” kata Kuyung yang sempat terbangun dan
mendengar ocehan Iqbal barusan.
“Makanya, kalau cinta jangan dipendam. Omong ke kita. Apa
elu kira kita ini hantu apa. Teman elu tau …” Celetuk Adam sambil memukul
kepala sobatnya itu dengan bantal guling.
“Bal, Bal. Mayatnya aja elu guyurin,” sahut BiJe.
“’Ntar lu kawin siapa saksi dan walinya,” sindir Kuyung.
“Genderuwo,” timpal Adam.
Hua ha ha ha ha …
Selesai disindir-sindir dan diolok-oloki, Iqbal tidur lagi.
Juga ketiga teman sekelasnya. Jarum jam menun jukkan ke angka satu.Di luar
rumah tak satu pun orang yang lalu-lalang. Sementara kodok satu-satu me lompat ke
pematang sawah. Suaranya sesekali terdengar, yang kata orang-orang, itu
pertanda si kodok berdoa minta diturunkan hujan, agar dia bisa mandi dan
berenang ke sana kemari.
Iqbal, BiJe, Adam dan Kuyung, mulai terlelap tidur. Suara
dengkur beriring-iringan, turun naik seolah tengah bermidley. Kalau saja ada
orang yang sempat mendengarnya, dipastikan akan merekam dan mengabadikan
kejadian barusan.
Sesaat kemudian, Adam terjaga dari tidurnya. Dia turun dari
tempat tidurnya dengan sangat hati-hati, agar tak terinjak badan ketiga
rekannya.
“Sepi sekali,” gumamnya setelah memandang keluar dari balik
gorden jendela kamar.
Dia menoleh ke arah tiga temannya yang masih tertidur pulas.
Satu-satu dia pandangi, sangat lekat. Kemudian duduk di tepi ranjang, sebelum
akhirnya merebahkan tubuhnya lagi di pembaringan.
Di kursi taman kota.
“Adam ya?” Sapa Susi seolah tak percaya dengan apa yang
dilihatnya barusan. Seorang lelaki gagah, tak lain dan tak bukan adalah Adam.
“Mbak Susi kan?!”
Susi mengiyakan.
“Boleh kan Mbak duduk di sebelahnya?”
“Boleh, boleh. Dengan senang hati,” ucap Adam, berdiri
sejenak, mempersilakan Susi menempati tempat duduk di sebelahnya.
Saling pandang sejenak.
Ketawa.
Senyum …
“Mau ngomong apa ya.” Susi membuka obrolan. Adam sedari tadi
berat berucap.
“Apa ajalah Mbak,” jawab Adam sekenanya.
“Eeeeem … Kita pindahan ke sana aja yuk duduknya,” ajak Susi
menunjuk ke sebuah bangku panjang yang dinaungi pepohonan dan tanaman angggrek
berwarna-warni.
Di bangku panjang inilah Adam baru ringan berucap. Dia lebih
fokus lagi mendengarkan ucapan Susi. Menurutnya, saban minggu dia pergi ke
taman ini. Kadang ketemu teman lama, teman baru dan anak-anak yang berlari
riang gembira ke sana kemari bersama kedua orang tua mereka.
“Mbak terkadang iri
melihat mereka,” ucap Susi seraya membetulkan letak duduknya yang cukup aduhai
karena mengenakan rok mini ketat tanpa garisan.
“Sama anak-anak atau orang tua mereka, Mbak?”
“Dua-duanyalah dik Adam.”
“Kok bisa ya Mbak.”
“Betul dik. Karena terus terang Mbak enggak pernah merasakan
apa yang mereka rasakan. Sejak keci Mbak enggak pernah merasakan belaian kasih
sayang dari orang tua …”
“Sering disakiti apa Mbak?”
“Enggak juga …”
“Lantas …?”
“Kedua orang tua Mbak sudah berpisah sejak Mbak masih kecil.
Masih untung diasuh sang ibu. Dibesar kan oleh ibu yang harus menjadi tulang
punggung keluarga. Tentulah berbeda dengan misalnya, jika ay ah masih ada. Kita
bisa manja-manjaan. Kalau ini kan beda. Kenapa? Karena Mbak kasihan tengok ibu
…”
“Menanggung beban yang berat Mbak?”
“Kurang lebihlah begitu.
Ibu kan harus pontang-panting jualan kue sambil nyambi ambil upah cuci
pa kaian tetangga dekat dan jauh. Hampir tak pernah istirahat. Pagi jualan kue
sampai lewat tengah hari, lalu menyuci pakaian tetangga, malam harinya
menyiapkan dagangan buat dijajakan keesokan harinya.
“Mbak punya adik?”
“Punya. Semuanya ada enam orang. Berarti ditambah Mbak jadi
tujuh jumlahnya. Mbak terpaksa ber henti sekolah agar adik-adik Mbak yang lain
tetap bisa bersekolah. Mulanya niat dan keinginan Mbak ini tidak disetujui ibu
dengan alasan sebagai anak tertua Mbak harus harus kasih contoh yang baik
dengan bersekolah tinggi, kerja dan bantu masa depan mereka. Tapi setelah Mbak
pikir, itu tidaklah mudah. Selain butuh biaya yang tidak sedikit, apa mungkin
ibu yang kini bekerja seorang diri bisa membiayai se kolahnya Mbak dan
adik-adik Mbak yang lain. Enggak mungkinlah. Harus ada yang mengalah dan siapa
yang mengalah, Mbak akhirnya putuskan, Mbaklah yang mengalah. Berhenti
sekolah.”
“Ibunya Mbak bisa terima …?”
“Alhamdulillah. Setelah Mbak jelaskan sejelas-jelasnya
kepada ibu, akhirnya beliau mengerti dan sejak itulah Mbak berhenti sekolah dan
membantu ibu membikin kue …”
“Enggak ikut jualan kan Mbak?”
“Pernah juga. Tapi ibu bilang lebih baik bantu-bantu di
rumah sekalian jagain adik-adik …”
“Mbak mau?”
“Tentu dan harus mau. Karena itulah keputusan yang terbaik.
Selain masih kecil, ibu kan lebih paham dan berpengalaman menjual kue …”
“Mbak enggak menyesal berhenti sekolah?”
“Nyesal juga ada. Tapia apa hendak dikata. Keadaanlah yang
membuat Mbak mengambil keputusan yang sulit ini.”
“Pengen sekolah lagi Mbak?”
“Kepengen sih kepengen. Tapi kan Mba sudah tua. Masak setua
Mbak sekarang harus mengulang dari sekolah dasar lagi. Diketawain orang dong,
dik Dam. Betul enggak?”
Ha ha ha …
“Betul juga kali Mbak. Tapi terus terang, kalau saya sih
enggak. Kenapa? Ya, karena Mbak putus sekolah kan karena ada alasan. Ya itu,
faktor ekonomi dan demi kelangsungan sekolah adik-adik Mbak. Justru saya salut
dan juga iba pada Mbak.”
“”Kok bisa gitu ya?!”
“Salut karena Mbak sudah memutuskan yang terbaik. Kasihan
karena Mbak sendiri tidak tamat sekolah dasar. Bagaimana mungkin bisa
mendapatkan pekerjaan yang layak.”
Susi cuma mendehem.
“Menurut Mbak, apa bedanya antara orang sekolahan dengan
tidak?”
“Bedanya banyaklah Adam. Tapi, kalau menurut Mbak, bedanya
yang terpenting adalah terpenuhinya keingintahuan …”
“Wah-wah Mbak Susi ini. Enggak nyangka aku. Ternyata
ngomongnya bisa juga kayak profesor,” puji Adam.
“Ah, biasa aja …”
“Menurut Mbak biasa. Menurutku tidak. Mbak itu orangnya pintar. Cuma enggak mau
disebut pintar. Tul kan Mbak?”
“Kalau betul kenapa memang?”
“Tepuk tangan dong Mbak.”
Plak … plak … plak …
“Eeeem .. ngomong-ngomong Mbak punya cita-cita enggak ya?”
“”Ya sebagai manusia tentu punya cita-citalah Mbak. Enggak
mungkin enggak punya. Tapi Mbak tahu diri, dik Adam …”
“Masalahnya karena tak bersekolah tinggi, cita-cita juga
enggak boleh terlalu tinggi begitu?”
“Betul dik,” jawab Susi pasrah.
“Enggak boleh begitu Mbak. Meski tidak sekolah tinggi, Mbak
harus punya cita-cita tinggi setinggi bintang di langit kalau bisa …”
“Misalnya apa cita-cita tinggi itu dik?”
“Misalnya, eeem jadi astronot, dokter dan banyak lagilah.
Jangan misalnya, Mbak justru punya cita-cita jadi penjual kue keliling seumur
hidup. Apa kata orang. Diledekin tau rasa … “Susi penjual kue mulai beraksi …”
“Kalau terpaksa gimana?”
“Ya enggak apa-apa. Asalkan jangan dijadikan cita-citalah
Mbak. Mana ditaruh muka adik Mbak ini kalau sampai mati dagang kue keliling …”
“Tapi enggak dosa kan dik?”
“Ya memang enggaklah, Mbak.”
“Lantas …?”
“Maksudku Mbak. Jangan terlalu rendahlah kita punya
cita-cita. Kalau enggak bisa tinggi, sedang-sedang saja kenapa. Kan enggak
apa-apa, bayar juga kagak …”
“Menurut kamu dik, Mbak ini
bagusnya jadi apa.”
“Foto model.”
Ha ha ha …
“Lucu Mbak ya?”
“Ialah. Masa orang
seperti Mbak ini dijadikan foto model. Pada ngiri nanti orang
melihatnya.”
“Ngiri apa ngeri?”
“Menurut dik Adam?”
“Ngiri pasti teman model yang lain.”
Hi hi hi …
“Kok bisa gitu ya dik?!”
“Namanya juga manusia Mbak. Rasa iri dan dengki itu pasti
ada. Cuma ada yang bisa mengalihkannya dengan yang baik, ada juga tidak. Nah,
yang tidak bisa mengatasi inilah yang berbahaya. Tak segan-se gan dia akan
memfitnah, menyebarkan informasi yang tak benar, keburukan Mbak yang belum
tentu benar, sampai bila perlu menghilangkan nyawa Mbak sekalian …”
“Iccch … ngeri Mbak
mendengarnya.”
“Apa mungkin karena itu Mbak tak ingin jadi foto model?”
“Enggak juga …”
“Lalu?”
“Mbak pengennya jadi guru, tapi enggak kesampaian karena
enggak sekolah …”
“Bagus itu Mbak. Kenapa enggak diterusin kepengennya itu?”
“Karena Mbak tak punya modal …”
Ha ha ha ha …
“Modal? Kayak mau dagang aja Mbak.”
“Tentu harus ada modal dik. Ilmu dan keterampilan, ijazah
guru dan ada jalan yang mengarahka kita ke sana. Sebab, kalau tidak akan sulit
terwujud.”
“Tapi Mbak. Dimana saja kita bisa jadi guru. Asalkan ada
niat yang baik sebelumnya …”
“Sulitlah dik.”
“Kenapa Mbak?”
“Karena orang seperti
Mbak ini enggak mungkin jalan sendiri. Harus ada yang nemenin. Mbak ke
sana, tak usah ke sini. Sebaiknya ke situ aja.
Terus kalau yang ini, bagus. Tapi harus hati-hati. Jangan sendiri … dan
macam-macamlah …”
“Jadi harus berdua?”
“Ya harus berdua, tapi bukan berdua gituan …”
“Gituan gimana Mbak?”
“Pacaran gitu. Jadi betul-betul nemenin. Mengayomi kita.
Kalau ada kesulitan, ya ikut bantu mengatasi. Jadi ibaratnya itu, ada tempat
sharing. Tempat mengadu, lantas ada solusi. Orangnya sabar, bisa merang kap
sebagai teman, saudara dan macam-macamlah. Nah, kalau bisa seperti ini barulah
Mbak bisa oke …”
“Kalau aku Mbak, gimana?”
“Menurut situ, gimana?”
“Gimana ya?” Ragu-ragu Adam menjawab dan menjelaskannya pada
Susi.
“Lho … Kalau dik Adam sendiri ragu, gimana dengan Mbak.”
“Mbak sendiri, meragukan Adam enggak?”
“Enggaklah.”
“Kenapa Mbak?”
“Pertama, Mbak percaya kalau dik Adam laki-laki tulen.
Kedua, Mbak yakin Adam orangnya enggak neko-neko. Ketiga, Mbak percaya, adik
orangnya suka menolong siapa saja, apalagi sama Mbaknya. Keempat, Mbak suka
sama situ …”
“Situ yang mana Mbak?”
“Yang namanya Adam. Apa ada dua di dekat Mbak. Kan tidak.
Cuma situ …”
Adam malu-malu kucing.
“Sukanya sejauh mana Mbak?”
“Sejauh mata memandang,” jawab Susi.
“Jadi, kalau enggak kelihatan lagi sama mata, enggak suka
lagi gitu …”
“Cinta …”
“Haaa … ah, yang benar Mbak?” Adam tak percaya.
Jangan-jangan hanya untuk menyenangkan hatinya saja.
“Masa Mbak bohong …”
“Coba buktikan Mbak, kalau itu memang benar …”
“Oke …”
Cuuup … cup….. pressst …
Mata Adam sempat berkunang-kunang saat tahu kedua pipinya
dicium mesra oleh Susi. Begitu lembut bibir dan hangatnya ciuman itu. Ah,
betapa indahnya jika setiap hari ciuman it uterus mendarat di kedua belah
pipinya.
“Ah, bidadari mana ini …”
***
V
“PAKJO … Pakjo … Pegi pacak baliknyo berejo ..” Teriak
Susi, meski sudah hampir sepuluh
menit berter iak-teriak di terminal
angkutan kota, tak satupun orang, calon penumpang yang naik. Jangan kan naik,
menoleh saja pun tidak.
Memang, ada beberapa orang yang datang menghampiri Susi.
Tapi bukan minta bantu dinaikkan barang bawaan, cuma nanya doang, apakah ada
trayek angkutan lain selain angkot. Terus, jika lagi haus dimana tempat minum
yang enak dan lezat tapi murah. Termasuk, jika kita kelaparan dan mau makan,
apakah ada rumah makan yang murah, apalagi gratis khusus penumpang yang
domisili jauh dari kota.
“Sepi, Je …” Keluh Susi sambil mengusap keringat di muka dan
lehernya dengan handuk kecil.
“Sabar ya Mbak. Bentar lagi ada,” jawab BiJe. Karena haus,
dia memberi segelas aqua gelas kepada Susi.
“Kamu enggak, Je?”
“Baru aja udah …”
Baru seteguk minum, punggungnya dicolek seseorang. Sempat
terbatuk-batuk, dia menoleh dan …
“Maaf dik. Apa ini mobil jurusan Pakjo?” Tanya seorang ibu
sambil menggendong bayinya pakai kain gendongan.
“Betul Bu. Ayo … naiklah!”
“Ibu masih menunggu yang lain, boleh enggak dik?”
“Enggak lama kan Bu?”
“”Enggaklah dik. Emangnya kita mau nginap di sini apa. Tak
usah ya. Paling lama nunggunya setengah jamlah,“ kata si ibu meminta Susi
membantunya naik ke angkot karena pantat dan pinggangnya kebe saran.
Sambil menunggu, Susu cerita sama BiJe. Kalau dia tak bakal
kapok jadi kondektur. Justru senang karena banyak melihat dan berkenalan dengan
orang-orang yang berbeda gaya serta watak di terminal.
“Kalau ada yang iseng, Mbak?” Pancing BiJe.
“Gue jitak …”
Ha ha ha ha …
“Hai cewek … anak baru ya Je?” Tegur seorang preman
terminal, tak henti menaik-turunkan alis matanya, mendekati BiJe.
“Anak baru kemarin,” jelas BiJe, memberikan sebatang
rokok kepada preman.
“Bisa di-booking kagak Je?”
“Huuuus .. dia itu orang baik-baik tau. Sudah ya bang.
Lanjut sana …”
“Ngusirku ya?”
“Tidaklah abang. Mana pernah aku mengusirmu. Cuma takut
nantinya abang kelewatan mainin dia, dan abang dihajarnya sampai babak belur …”
Huuup …
Susu mengacungkan bogemnya.
“Wah .. wah galak betul dia …”
“Apa kubilang. Abang pergilah sana …”
“Oke … oke …”
Si preman, karena buru-burun jalannya, nabrak gerobak bakso.
Untung enggak sampai jatuh itu gerobak. Tapi,
karena kepalanya yang kena gerobak, sakit juga. Sempat marah dan hampir
saja, kalau tidak dile rai, mendaratkan
pukulan ke wajahnya si tukang bakso.
“Dik … dik. Itu mereka!” Kata si ibu mengharapkan Susi
menuntun mereka sampai naik dan masuk dalam angkot.
Haaa?
BiJe ketawa geli.
Lucu?
Kenapa enggak lucu. Dua belas orang anak. Masih kecil-kecil,
tapi sudah bisa berjalan. Yang paling tua kelas enam seolah dasar. Paling muda,
bungsu sekitar 3 tahun. Uuuukh betapa repotnya. Suara klakson mobil
bersahut-sahutan. Mengira anaknya Susi, para sopir bukannya marah, malah senang
dan takjub.
“Suda dua belas gendolannya, masih seksi tu orang,” celoteh
sopir dari jurusan lain kepada penumpang yang duduk di sebelahnya.
“Rajin merawatnya,” jawab si penumpang berambut gondrong.
“Tapi sudah dua belas masih siip, itu Pak yang bikin aku
heran. Isteriku aja, baru tiga sudah enggak berbentuk lagi badannya. Gemuk
bulat kayak bola kaki …”
Hua ha ha ha …
“Itu biasalah Pak. Isteriku juga begitu …”
“Wah sama dong kalau begitu …”
“Memang Pak. Ada juga wanita, yang walapun tidak dirawat tubuhnya,
tetap saja seksi. Tidak gembrot. Apalagi kalau rajin merawatnya …”
“Satu-satu …” Ucap Susi. Dia mengatur penumpang cilik naik
angkot dan memilihkan tempat duduk.
Namanya anak-anak. Ada yang maunya di pangkuan sang ibunya.
Juga ada yang pengen berdiri, duduk bersila di bawah, bukan di kursi. Sudah
ribut, bau badan amis karena keringat.
Angkot melaju …
Di tengah jalan, ada beberapa orang anak kehausan. Mereka merengek-rengek pada sang
ibu agar di beri air minum. Tapi sang ibu hanya diam saja. Susi tak tega
melihatnya. Dia berikan sisa air minum milknya. Tentulah jauh dari cukup.
“Mbak, minta lagi.” Rengek si kecil. Mulutnya saja yang
basah, minumnya belum.
Susi meminta BiJe meminggirkan mobi sebentar. Dia ingin
membeli beberapa aqua gelas. Tak lama. Hanya beberapa menit, itu minuman sudah
dijatahi. Masing-masing anak dapat bagian. Karena kelewat haus, minumnya tak’
ngerem; lagi. Dalam hitungan nafas, gelas plastik aqua sudah kering. Airnya
ludes.
“Mbaaak … Lapar.” Rengek si besar. Sudah capek menggendong,
semua kue diberikan kepada adik-adiknya. Wajar kalau kemudian dia lapar.
Mukanya pucat, bibirnya kelu, dan mengantuk.
Susi sekali lagi meminta BiJe meminggirkan angkot. Singgah
di depan rumah makan. Uang disaku cuma cukup membeli sebungkus nasi telur. BiJe
menambahnya dua, semuanya jadi tiga bungkus.
Karena berebutan, nasi bungkus yang seharusnya dibuka rapi
dan lebar-lebar, jadi semraut. Sempat ja tuh menimpa kepala si kecil, lalu
tergeletak di jok. Hanya dalam hitungan
di bawah tiga menit, tiga bungkus nasi hangat pesanan itu habis masuk ke perut.
“Ibu … minum,” kata si kecil. Karena tak ada lagi air, sudah habis diminum
kakak-kakaknya, si kecil akhirnya menumpang netek sama ibunya, bersebelahan
dengan si bayi, adiknya yang paling bungsu.
Hik hik hik hik …
BiJe menghentikan angkotnya, kemudian buru-buru ke toilet.
Karena penasaran, Susi menyusulnya dan bersua BiJe tengah terbatuk-batuk di
belakang taiolet.
“Kamu taka pa-apa Je?” Susu kuatir. Soalnya, BiJe tiba-tiba
batuk karena banyaknya penumpang anak-anak.
“Enggak,” jawab BiJe sambil ketawa geli.
“Kok ketawa. Ada yang lucu ya?”
“Kamu enggak lihat tadi Mbak?”
“Lihat apa?”
“Itu si kecil. Habis makan, kan mau minum. Karena air
minumnya habis diminum saudara-saudaranya yang lain, dia akhirnya netek sama
ibunya,” jelas BiJe, masih ketawa geli.
“Ooooo gitu. … Enggak
lihat Mbak, Je.” Aku Susi, mencoba ikut tertawa, tapi tak juga bisa.
Kenapa lucu?
Menurut BiJe, dia geli dan takjub karena seumur hidupnya
baru kali pertama inilah dia melihat ada seorang anak kecil, lepas makan karena
kehabisan air, netek di tetek ibunya.
“Kalau Mbak biasa-biasa aja, Je …”Jawab Susi.
Plak … plak .. plak …
“Yeeee … pak sopir sama kondekturnya pacaran,” teriak
anak-anak si ibu tadi. Karena enggak nongol-nongol dari dalam toilet, ikut
menyusul Susi dan BiJe ke toilet.
“Sssst … Jangan berteriak,” ujar Susi. Sudah tidak pakai
alas kaki, kumal lagi. Ributnya minta ampun. Pak penjaga toilet sampai bilang
‘anak-anak tak boleh ribut’ kalau di toilet.
“Antrean ya dik,” kata Pak satpam yang terpaksa menutup
hidungnya karena tak tahan bau pesing dari pakaian yang dikenakan anak-anak.
Namanya anak-anak, nasehat Pak satpam justru dibalas dengan teriakan …” Om satpam
ngesir sama tante kondoktur …”
Karena diungkapkan dengan lugu, Pak satpam tidak marah. Dia
malah tertawa. Diakuinya ke Susi, sela ma menjaga toilet, dia jarang ketawa.
Paling jika berdua, itu pun bila teman ngobrolnya baik, ramah dan pintar
melawak.
“Sudah … sudah. Yuk kita naik lagi.” Kata Susi.
“Horeee . Naik angkot gratis …” Teriak mereka berebutan naik
angkot. Saking berebutan, ada yang terjatuh karena kesenggol oleh yang lain.
“Hati-hati anak-anak,” ucap Susi. Dia menggendong si kecil,
lalu memasukkannya ke dalam angkot.
BiJe?
“Anak bapak banyak juga,” sindir penjaga toilet.
“Bukan Pak. Mereka bukan anak saya. Mereka penumpang saya.
Saya sendiri belum kawin,” jelas BiJe.
“Lalu, mereka itu anak-anak siapa Pak?”
“Anak orang lain, Pak. Mereka menumpang di mobil saya. Saya
kan cuma penarik angkot, Pak.”
“OOo gitu. Maafkan saya Pak. Saya kira mereka anaknya bapak
…”
“Ya, enggak apa-apa
toh Pak. Biasa … Bukan hanya bapak yang tidak tahu, orang lain juga
pasti nyangkanya mereka anak saya …”
“oh ya. Sama dong kalau gitu ya Pak. Ha ha ha ha …”
Ketika angkot kembali melaju, penumpang anak-anak berikut
ibu dan bayi yang masih menyusu, sama-sama menyanyi. Apa yang mereka nyanyikan,
inilah syairnya …
“Dari yakin kuteguh
hati ikhlasku penuh
akan karuniamu …
Tanah air pusaka
Indonesia
merdeka
syukur aku sembahkan
kehadiratmu
Tuhan ……….”
Disusul …
“Betapa hatiku takkan pilu
telah gugur pahlawanku
betapa hatiku
takkan sedih
hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini pelipur lara
nan
setia dan perwira
siapakah kini pahlawan
hati
pembela
bangsa sejati
Telah gugur pahlawanku
tunai sudah janji
bakti
gugur satu
tumbuh seribu
tanah air jaya
sakti
Gugur bungaku di taman bakti
di
haribaan pertiwi
harum semerbak menambah
sari
tanah air jaya
sakti ……………………..”
Selanjutnya …
“Bangunlah pemuda-pemudi Indonesia
tangan bajumu
singsingkan untuk Negara
masa yang akan
datang kewajiban mullah
menjadi tanggunganmu
terhadap nusa
menjadi
tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha
jujur
dan ikhlas tak usah
banyak
bicara
trus
bekerja keras
hati
teguh dan lurus
Pikir
tetap jernih
Bertingkah laku halus
hai putra negeri
bertingkah laku halus
hai
putra negeri …”
Terakhir …
“Tanah airku
Indonesia
negeri elok
sangat kucinta
tanah tumpah darahku yang mulia
yang kupuja
sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
pulau melati
pujaan bangsa
sejak dulu kala
Melambai-lambai
nyiur di pantai
berbisik-bisik
Raja klana
Memuja pulau
nan indah permai
tanah airku
Indonesia …………..”
Mobil angkot berhenti persis di depan sebuah pemakaman.
“Kami turun ya dik,” ucap sang ibu sumringah walaupun terasa
payah menggendong si bayi yang tidur pulas dekat puting susunya.
“Makasih Mbak … Ooom sopir,” teriak anak-anak sambil
berlarian di belakang dan depan ibunya.
Kemana mereka?
BiJe dan Susi tak sempat pula menanyakannya. Mereka baru
teringat setelah angkot bertolak meninggalkan area pemakaman dan komplek
perumahan.
***
VI
TAK tahan terus menerus didatangi Susi alias Susan,
akhirnya, lewat masukan dari beberapa warga, em pat sekawan meminta bantuan Pak
Hamdani dan Afi, dua orang pintar Kampung Bertuah, untuk mengu sir Susi.
Keduanya menyanggupi dan siap melakukan pengusiran.
Pengusiran ‘roh gentayangan’ Susi dilakukan pada malam hari.
Pas malam Jumat Kliwon. Segala keper luan sudah disiapkan BiJe cs, mulai dari
tikar tempat berdoa, kipas angin gede hingga bumbu dapur seperti garam dan
bawang putih.
Sementara Pak Hamdani dan Afi duduk bersila di ruang tengah, empat sekawan
berada persis di be lakang mereka, juga duduk bersila. Lampu sengaja dipadamkan
kecuali satu, yakni lampu di ruang tengah. Kecil dan sinarnya tak begitu
terang.
Teng … teng … teng …
Jam dinding berdentang sembilan kali. ‘Upacara’ pengusiran
pun dimulai. Pak Hamdani dan Afi, mulut keduanya tak henti berkomat-kamit.
Membaca sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu. Lambat, sedang, cepat dan
kian cepat mulut keduanya bergerak sebelum akhirnya …
Jegaaar … Jeguuur … Jegiiiir …
Jendela ruang tamu terbuka. Lampu ruang tengah mulai redup,
sampai akhirnya berangsur-angsur pa dam. Kipas angin mendadak berhenti
berputar. Kursi bergerak, meja terbalik, asbak dan vas bunga terjatuh ke
lantai.
Tiiiing …
Jatuh menggelinding di lantai. Tepat berhenti di belakang
Adam, bergerak lagi ke depan BiJe. Lalu berturut-turut mampir ke sela paha
Kuyung dan Iqbal.
Riiiing … deep.
Asbak rokok dan vas bunga itu akhirnya berhenti di depan Pak
Hamdani dan Afi. Keduanya tidak melihat kejadian itu. Mereka khusyuk bermunajat
sambil memejamkan kedua mata.
“Bal …” Bisik Adam.
“Seram ya?!”
“Coba kau tengoklah asbak itu …”
Iqbal hanya sekilas melihat asbak rokok itu. Selebihnya dia
tak mau melihat lagi karena takut. Itu
asbak bergerak-gerak dan mengeluarkan asap, lalu masuk ke dalam vas bunga.
Dari celah vas bunga seolah ada lampu. Terang benderang,
namun setelah itu redup sebelum akkhirnya padam. Bersamaan dengan itu,
terdengarlah suara cekikian seorang wanita dari balik jendela rumah yang
terbuka tadi itu.
“Pasti Mbak Susi ya Yung,” kata Adam.
“Kayaknya gitu …”
Sssssst …
Susi tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Hamdani dan Afi. Sejenak diam … Tak lama
kemudian terjadilah dialog antara Pak Hamdani dengan Susi …
“Malam dik Susi …”
“Malam juga Pak.”
“Kenapa bapak memanggil Susi?”
“Ada yang ingin bapak tanyakan kepada kamu …”
“Soal apa itu, Pak?”
“Soal kamu …”
“Memangnya ada apa Pak?”
“Kamu sering mengganggu BiJe, Kuyung, Iqbal dan Adam, kan?”
“Ya betul sekali, Pak.”
“Kenapa kamu lakukan itu Sus?”
“Karena saya suka sama mereka, Pak. Apa saya salah?”
“Tidak juga.”
“Kalau tidak, kenapa bapak tanya lagi?”
“Soalnya mereka lah yang meminta saya supaya kamu jangan
datang dan mengganggu mereka lagi.”
“Walah-walah. Bisa begitu ya Pak.”
“Sus. Bapak katakan ini kepada kamu. Alam kamu dan alam kami
jauh berbeda.”
“Berbeda apanya Pak?”
“Semuanyalah. Intinya, kamu hidup di alam tak kasat mata,
sedangkan kami hidup di alam nyata.”
“Lantas kalau kita berbeda alam, apa enggak boleh berteman,
Pak?”
“Bagaimana mungkin kita bisa berteman kalau dunia kita
berbeda. Kamu sudah meninggal dunia, sedangkan kami masih hidup …”
“Apa maksud bapak
sebenarnya?”
“Saya minta pada kamu jangan ganggu Bije, Iqbal, Kuyung dan
Adam lagi.” Pinta Pak Hamdani.
Hi hi hi hi …
“Tak mau Pak …” Jawab Susi ketus.
“Kenapa kamu tak mau Sus?”
“Karena aku sayang pada mereka …”
“Bohong …”
“Terserah anda Pak. Pokoknya saya akan tetap mendatangi
mereka, kapan pun …”
“Kamu berbohong. Kamu mendatangi mereka karena ada maumu.
Benar kan?”
Eheeem …
“Katakanlah Sus. Apa sebenarnya tujuanmu mendatangi dan
mengganggu mereka. Apa mereka ada salah sama kamu … atau apa. Kami ingin tahu
…”
Hi hi hi hi …
“Kalau tidak kau katakan, kau akan tanggung akibatnya,”
ancam Pak Hamdani.
“Saya siap menanggungnya, Pak.”
Hi hi hi hi …
Belum selesai Susi melepas tawanya yang bagi sementara orang
amat mengerikan itu, Afi dan Hamdani melepaskan beberapa buah jarum kea rah
Susi.
Jeguuur …
Susi terpental. Puluhan jarum beracun itu mengenai tubuhnya. Tak nampak memang, tapi
Afi dan Hamdani bisa melihatnya dengan mata supranatural.
“Aduh … aduh. Panas,” rintih Susi. Bersusah payah dia
bangun. Meski akhirnya bisa, sempat sempoyo ngan dan meringis kesakitan.
“Awas pembalasanku, Pak.” Ancam Susi.
Sayang, ancaman itu tak mempan untuk Hamdani dan Afi.
Keduanya justru menambah daya serang dengan melemparkan beberapa paku kea rah
Susi. Kembali terjatuh, roboh dan kali ini menjerit serta melengking kesakitan.
“Katakanlah …!”
“Aduh, tolong.” Jerit Susi.
Kepada siapa dia minta tolong, tak ada yang bersedia
menolong karena empat sekawan juga tak akan mau dimintai tolong.
“Kalau kamu masih juga membandel, maka ….”
“Cukup.” Teriak Susi.
“Aku mengaku kalah. Lepaskan dulu aku, baru aku ceritakan …”
pinta Susi.
“TIdak bohong?”
“Tidaaaak …”
Pegang janji?”
“Pegang Pak.”
Kepada Hamdani dan Afi, Susi bercerita kalau dia sebenarnya
mati dengan cara melompat dari atap ru mah. Memang tidak tinggi atap rumah itu.
Tapi karena kepala duluan menyentuh tanah beraspal, mati seketika dengan otak
dan darah berceceran di sana sini.
“Bagaimana anda bisa tahu, padahal anda sudah mati?”
“Tahu Pak. Karena saya sekarang bisa melihat dan mencari
sebab kenapa saya harus melompat dari atap rumah.”
“Kenapa kamu sampai melompat?”
“Ceritanya panjang, Pak.”
“Pendekkan saja, tak mengapa.”
Ha ha hi hi he he huh u …
Empat sekawan tertawa. Takut terdengar oleh Susi, mulut
mereka tutup pakai telapak tangan saat ketawa. Jadi yang terdengar cuma …nyit …
nyit … nyit …hik .. hik …”
“Baiklah Pak.”
Susi bercerita dia terpaksa melompat dari atap rumah karena
akan diperkosa oleh Pak Bingo dan teman-temannya yang berjumlah tiga orang.
Saat itu, dia sendirian di rumah, sementara adik-adiknya ada yang lagi tidur,
sebagian lagi membantu ibu berjualan kue keliling.
“Menjelang tengah harilah,” jelas Susi.
“Kenapa kamu tidak berteriak saja minta tolong atau berlari,
misalnya keluar dari pintu belakang?” Tanya Afi.
“Karena saya pikir siapa yang akan menolong saya saat itu.
Percuma saya teriak, Pak. Lagi pula saya waktu itu benar-benar panik. Pintu
tiba-tiba dibuka paksa dan yang masuk ke dalam rumah adalah Pak Bingo dan anak
buahnya.”
“Kamu sempat melawan?”
“Belum Pak Hamdani. Soalnya, ketika pintu didobrak, saya
lagi makan di dapur. Maunya lihat apa yang terjadi. Tapi entah kenapa, hati
saya merasa tak enak. Tak biasanya pintu didobrak. Kalau ada yang da tang,
biasanya ketuk-ketuk pintu dulu sambil mengucap assalamualaikum. Saya masuk ke
kamar adik-adik. Mereka juga terbangun. Tapi saya tak sempat membawa lari
mereka. Karena saya khawatir mereka dalam bahaya. Jadi saya sembunyikan saja
mereka di dalam lemari pakaian. Setelah itu saya berlari ke atas.”
“Lalu …?”
“Setelah naik ke lantai dua, saya sempat dilihat Pak Bingo.
Dia kejar saya. Hampir dapat. Saya lompat kea tap. Dia masih kejar juga saya.
Tak ada jalan lain, saya pun lompat dan …”
“Klepek-klepek … tewas, begitu kan?”
“Betul sekali Pak. Terus terang saya dendam pada
mereka. Saya salah apa, dan selama ini
saya tak pu nya musuh. Karena beliaulah saya jadi begini. Apa tindakan saya
mendendam mereka ini salah Pak?”
“Mungkin Pak Afi bisa menjawabnya,” terang Hamdani.
“Wah wah, aku juga masih bingung Pak Hamdani.” Jawab Afi.
Ha ha hi hi …
“Itulah keinginan saya Pak,” aku Susi terus terang.
“Kenapa kau tak maafkan saja mereka itu, Sus. Lagian Susi
kan sudah mati?”
“Enggak bisa Pak. Enak saja dia. Dian harus mempertanggung
jawabkan perbuatannya.”
“Adik-adik termasuk ibu kamu kan selamat?”
“Betul. Itu karena mereka tidak tahu kalau saya tidak
sendirian di rumah. Coba kalau mereka tahu, pasti adik-adik saya mereka culik
dan bukan tidak mungkin dibunuh …”
Eeeeeem …
Eheeem …
“Rencana Susi selanjutnya apa?” Gantian Hamdani yang
bertanya. Dia tampak tegang menunggu gerangan apa yang bakal dikatakan Susi.
“Saya menuntut balas, Pak.”
“Sudah kamu lakukan Sus?”
“Belumlah Pak.”
“Kenapa?”
“Karena dia memiliki ilmu yang cukup hebat,” jelas Susi.
“Oooo begitu,” kata Hamdani dalam hati.
“Berarti tak punya nyali juga nih arwah,” bisik Afi pada
Hamdani.
Sementara empat sekawan yang sempat ‘nguping’ pada ketawa
sendiri-sendiri . Arwah saja takut, apalagi kita, seloroh Adam.
“Mungkin itu maksud …” BiJe tak melanjutkan ucapannya karena
suara Susi tiba-tiba meninggi dan ma rah dengan Pak Hamdani dan Afi yang
mencoba menghalanginya untuk melakukan balas dendam.
“Sebaiknya pikirkanlah sekali lagi dik Susi. Ini menyangkut
nyawa orang hidup,” kata Pak Hamdani.
“Pasti anggota keluarga mereka akan bertindak sama dengan
Susi nantinya,” tambah Afi.
“Biarin aja Pak. Emangnya gue pikirin apa,” jawab Susi.
“Lalu, apa kamu akan meminta BiJe dan kawan-kawannya untuk
membalaskan dendam?”
“Iya Pak …”
“Naaa, apa kubilang,” ujar BiJe,” Mbak Susi minta tolong
kita ngehabisi nyawanya Bingo dan anak buahnya.”
Kuyung, dam dan Iqbal belum sempat berpikir kea rah sana.
Karena selain baru kenal, enggak ada kaitannya sama sekali antara mereka dengan
kasus yang menimpa Mbak Susi.
“Ngomong juga tidak ke saya,” jelas Kuyung.
Ha ha ha ha …
Ssssst …
Saat rehat, Pak Hamdani dan Afi memanggil BiJe beserta
teman-temannya yang lain, untuk rembuk bersama. Alot juga rembukannya. Hampir
setengah jam, belum ada kata sepakat. Susi yang sempat nongol lagi, kecewa dan
menghilang lagi.
“Ini menyangkut nyawa orang dik BiJe,” kata Pak Hamdani.
“Kalau kita sampai membunuh mereka, kita bisa dipenjara,”
sahut Afi mengingatkan.
“Betul, Pak,” jelas BiJe, “Tapi, karena kita sudah tahu
siapa pelakunya, lantas kita diamkan saja, tidak bertindak dan minimal melapor,
berarti kita-kita ini sama saja dengan pendosa, Pak.”
“Betul sekali apa kata BiJe itu, Pak,” terang Kuyung. “Sudah
kepalang basah, basahlah sekalian. Habis urusan …”
“Saya usul Pak,” sela Adam tunjuk tangan.
“Apa usulnya Dam?” Iqbal penasaran dibuatnya.
“Kita tengok-tengok sajalah dulu …”
“Maksudnya dik?” Tanya Hamdani.
“Kita sepakat bantu Mbak Susi. Tapi tidak dengan cara
kekerasan …”
“Ah kau. Mana mungkinlah begitu dik.” Timpal Afi. “Kalau dia
yang duluan ngehabisi kita, gimana coba.”
“Baru kita sikat Pak,” jelas Iqbal.
“Sama saja dengan kekerasan yang kita pakai,” sahut Afi.
Jegaaar …
Bleeep …
“Sudah Pak?” Susi nongol lagi. Dia bertanya kepada Hamdani
dan Afi, apakah sudah dicapai kata sepakat. “
“Sebentar lagi dik. Sabar,” ucap Afi.
***
VII
DENGAN menggunakan dua sepeda motor, empat sekawan mengikuti
diam-diam sebuah mobil pick up besar yang melintas di jalan tanah merah. Kemana
mobil berbelok, motor juga berbelok. Begitu juga de ngan kecepatan. Mobil
melesat cepat, agar tak tertinggal jauh di belakang, motor pun melesat cepat.
Jarak antara mobil dan motor sekitar tujuh meter. Sang sopir
tak merasa dibuntuti, makanya santai bersama teman di sebelahnya. Mengepulkan
asap rokok, ikut berdendang mengikuti irama musik country yang melantun sahdu
dari sebuah radio swasta setempat.
“Ke kiri, Dam,” bisik Kuyung. Dari sebelah kiri lebih aman
karena terlindungi semak belukar, meski jalannya tidak serata jalan besar yang
biasa dilalui kendaraan roda empat.
“Ikuti mereka aja, Je.” Kata Adam. Semula akan menempel
ketat mobil pick-up, akhirnya dibelokkan ke kiri mengikuti arah jalan motor
yang dikemudikan Adam.
Ha ha ha ha …
“Asyiiiik,” kata si pengemudi, memukul pelan stir mobil sambil menirukan
suara merdu penyanyi country cewek yang merdu.
“Kopi bos …” Tawar teman di sebelahnya.
“Lanjut …”
Si teman menuangkan termos berisi air kopi hangat ke gelas
besar. Lepas itu mengambil beberapa potong roti tawar. Kemudian diletakkan di
kotak plastic. Roti itu dimakan setelah dicelupkan separo terlebih dahulu ke
dalam air kopi hitam manis.
“Lezat bos. Coba aja …” Komentar si teman menawarkan
sepotong roti ke temannya yang tampak asyik bersiul-siul sambil menyetir mobil.
“Yang benar?”
“Tak percaya … cobalah dulu .. Rasanya lezat sekali bos …”
“Coba kemarikan,” pinta si sopir.
Roti potong tanpa isi itu di celupkan ke dalam gelas air
kopi. Agak lama mencelupnya, biar kopinya meresap dan menyatu dengan roti.
Creees …
“Gimana bos. Enak kan?”
“Lumayan. Enak …” Jawab si sopir.
Keduanya benar-benar menikmati perjalanan ini. Tanpa terasa,
mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Memarkirkan mobil di depan rumah
besar itu. Lalu turun.
Tak lama setelah itu, seorang lelaki menyambut kedatangan
mereka, lalu mengantar keduanya menemui sang bos besar. Setelah menunggu
beberapa menit, keduanya dipersilakan masuk ke ruangan yang paling ujung.
Entah apa yang mereka kerjakan dan bicarakan, empat sekawan
belum bereaksi apa-apa. Mereka masih menunggu sampai sopir dan temannya tadi itu
keluar dari rumah.
“Udah panas, haus pula,” keluh Adam. Kerongkongannya kering,
haus tak ketulungan.
“Gue punya,” kata Iqbal menunjukkan sebotol plastik air
putih.
“Bagi doooong ..!
Adammencoba merebut botol itu dari tangan Iqbal.
“Euiiit …”
Sayang tak dapat. Iqbal dengan cepat melemparkan itu botol
kepada Kuyung. Oleh Kuyung, dilempar lagi ke BiJe. Sampai di BiJe …
“Minum dulu ah …” Katanya menuangkan botol air minum itu ke
mulutnya. Hanya sedikit, tapi cukuplah untuk membasahi kerongkongan yang
kering. Melepas dahaga karena panas teriknya cuaca.
Gleeek … geek …
Adam menenggak habis itu air. Membuat Kuyung dan Iqbal tak
bisa minum karena tak menyisakan lagi air dalam botol minuman itu. Mereka
bermaksud mengejar Adam yang sudah berlari lebih dahulu meng hindari
kejengkelan kedua temannya itu.
Sssseeeeet …
Serempak tengkurep. Mereka melihat sopir dan temannya sudah
keluar dari rumah besar dan luas pekarangannya itu. Tapi belum juga masuk ke
mobil.
Ada apa?
Sulit menebaknya. Yang pasti, teman si sopir mengeluarkan
hape, lalu mengontak seseorang. Hampir lima menit dia menelepon. Setelah itu,
salah seorang ajudan bos besar, keluar menemui mereka. Ter libat pembicaraan
serius antara sang ajudan dengan si sopir.
Dari kejauhan terlihat kedua tangan Pak Sopir bergerak-gerak
sambil menunjuk sesuatu dengan ekspresi wajah serius. Sedangkan sang ajudan
tekun menyimak dengan sesekali melepas tawanya.
Beberapa saat kemudian, kedua lelaki itu masuk ke dalam
mobil. Melesat lambat meninggalkan be berapa lelaki yang sempat melambaikan
tangan.
“Kita ikuti mereka …! Ucap BiJe.
Empat sekawan baru mulai bergerak setelah mobil pick-up itu
memasuki jalan besar. Kali ini mereka tidak sembunyi-sembunyi lagi. Mereka
terang-terangan menguntit dari belakang. Aksi mereka ini baru diketahui pak
sopir dan temannya setengah jam kemudian.
Saat itu, tanpa sengaja, mobil pick-up berhenti mendadak
karena ada orang yang mau lewat, menye berang jalan. Saat berhenti inilah,
teman si sopir menoleh ke belakang, melihat empat sekawan ber motor dengan
kecepatan sedang menguntit mereka.
“Bos … lihat …!” Kata si teman.
Sang sopir mengintip dari balik kaca spion. Dia kaget
setelah Kuyung dan Iqbal meminta mereka turun dari mobil. Tentu saja keduanya
keberatan. Bergegas tancap gas, meninggalkan BiJe dan kawan-kawan yang sudah
menepikan sepeda motor.
“Cepat, Je …” Teriak Iqbal.
Reeen … reeen .. reeen …
Susul menyusul pun terjadilah. Bukan dengan mobil. Tapi
antara BiJe dan Iqbal serta Kuyung dan Adam. Bagaikan sepasang ABG yang lagi
kebut-kebutan di jalan raya, Adam memulai atraksinya dengan melaku kan zig-zug,
mengangkat kedua tangan, lalu berdiri di atas sepeda motor sementara motor
berjalan seperti biasa.
“Jangan kalah, Je.” Kata Iqbal menyemangati BiJe.
“Malulah sama Nile,” sindir Iqbal.
BiJe menambah kecepatan motornya. Setelah menempel ketat
Adam, dia meminta Iqbal mengambil alih kemudi sementara BiJe beraksi dengan
kepala di bawah, bersandar di stang dan kaki di atas.
“Waaaw … Tengok bos …!” Kata si teman geleng-geleng kepala
menyaksikan atraksi BiJe barusan.
“Bosan hidup tuh anak,” jelas si sopir sekenanya.
“Daripada susah mikirin hidup, lebih baik lakukan aksi yang
aneh-aneh …”
“Coba di sirkus atau ikut balap, pasti dapat duit,” ujar pak
sopir.
“Masih muda, tapi melakukan yang tak berguna. Sia-sia kan
bos?”
“Ya ialah … ‘Ntar tua sengsara, baru tau rasa. ”
Ha ha ha ha …
Sempat adu aksi, adu cepat dan adu ketangkasan menunggangi
sepeda motor, mereka melanjutkan pengejaran terhadap mobil pick-up tadi. Satu
dari lajur kiri dan satunya lagi dari lajur sebelah kanan.
“Gawat bos. Kita dikepung …”
“Tenang saja …”
“Gimana mau tenang bos?”
“Maksudku, duduk yang tenang. Fokus saja ke depan. Oke?”
“Oke … tapi bos …”
“Tenang saja …”
Si sopir membelokkan mobilnya ke kanan setelah Adam yang
berada di lajur kiri sudah menempel ketat bak pick-up. Beberapa meter dari
lajur kanan menyusul BiJe.
Siiiiit …
Mengerem mendadak. Motor yan dikemudikan Adam sempat
menabrak belakang pick-up, oleng sebelum akhirnya jatuh terguling di
rerumputan.
Ha ha ha ha …
Iqbal ketawa ngakak melhat Adam dan Kuyung terjatuh, tertimpa
motor. Sedangkan BiJe fokus mende kati
pick-up dari lajur kanan. Dia berharap bisa melompat ke bak belakang
mobil.
“Bal … setelah dekat, gantian kamu yang pegang ini motor,”
bisik BiJe.
“Lu mau melompat ya Je?”
BiJe mengiyakan.
BiJe pasang aksi. Dia menambah kecepatan motor. Setelah
menempel ketat bak pick-up, dia melompat. Bergantungan di besi bak. Pak sopir,
setelah melihat BiJe berhasil melompat ke dalam bak, melakukan zig-zug. Ngepot
ke kiri dan kanan.
Iqbal tak tega melihat BiJe seperti diombang-ambingkan ombak
lautan. Berkali-kali badannya memben tur dinding bak. Mobil miring ke kiri,
BiJe terdorong ke kiri. Sebaliknya,
mobil bergerak miring ke kanan, tangan dan punggung dihantam besi bak.
BiJe tetap bertahan. Dalam posisi duduk dia tersenyum lega
setelah melihat rekannya Iqbal dan Adam berhasil menyusulnya dari belakang.
“Pegang ini …” Kata si bos.
“Hati-hati bos …”
Si sopir keluar dari pintu mobil, merayap naik ke bak. BiJe
yang tampak kelelahan dan agak menunduk, sama sekali tak melihat isyarat Adam
dan Iqbal. Dia baru tahu setelah pantatnya ditendang amat keras oleh pak sopir.
Buk … buk … buk …
Setelah berkali-kali ditendang, BiJe berhasil menangkap kaki
si sopir. Dipelintirnya, jatuh dengan kepala membentur lantai bak pick-up.
“Aduah …” Jeritnya.
Sambil menahan sakit, Bije menindih perut si sopir dengan
cara duduk di atasnya. Menjerit kesakitan.
Duuup … duuuup …
Berkali-kali punggung dan muka BiJe kena bogem mentah.
Karena tidak terlalu kuat, tak begitu dirasa kan BiJe. Malah, dengan satu kali
pukulan mengarah ke mulut dan hidung, pak sopir tak mampu berge rak lagi.
Pingsan seketika. Bije tergeletak habis tenaga.
“Pinggirkan mobil
..!” Perintah Kuyung.
“Maaf ya. Emangnya elu polisi jalan raya apa. Mana surat
tugasnya?”
Duuup … drup … bak …
“Pinggirkan …” Teriak Iqbal setelah memukul beberapa kali
pintu mobil.
“Maaf ya. Gue duluaan …”
Melesat cepat. Iqbal dan Adam kaget, sempat berbenturan
motor, masih untung tak sampai jatuh terbalik.
“Kurang ajar …” Umpat Adam.
“Kejar Bal …” Pinta Kuyung.
Lama mengengkol, Adam menyusul kemudian dari belakang.
Sedangkan Iqbal tampak saling tarik-tarik an tangan dengan teman si sopir. BiJe
mulai bisa berdiri. Lalu mendekati pintu mobil, menghajar pria ber kumis tebal
itu. Karena hilang keseimbangan, tak ada yang mengendalikan stir, mobil pun
pick-up zig-zug, sebelum akhirnya terbalik.
Deguuur ..degaaar … degiiiir …
Pick –up menghantam batu besar. BiJe terpelanting, juga
teman si sopir. Baru sadar setelah dibantu Iqbal, Adam dan Kuyung yang datang
kemudian.
***
VIII
TERNYATA, dari pengakuan sang sopir mobil pick-up dan
temannya, mereka berdua cuma ditugasi me ngantar senjata saja, untuk kemudian
diserahkan ke bos besar. Siapa bos besar itu? Dia adalah Pak Bingo. Senjata
yang dikirim itu merupakan hasil pesanan
pihak luar. Dikirim menggunakan kapal laut dan biasanya diangkut ke pelabuhan
pada tengah malam.
“Sesekali saja lewat udara, Pak.” Kata pak sopir dengan nada
gemetar karena ketakutan.
Menurut Ipung, pak sopir, juga diiyakan temannya, Pak Bingo
sangat mempercayai mereka. Buktinya, hingga kini keduanya masih dipercaya
membawa senjata lewat darat menggunakan mobil pick-up.
“Supaya tidak ketahuan, barang yang mereka bawa ditutupi
barang lain menggunakan terpal. Misalnya tumpukan besi, bahkan pernah juga
kelapa agar yang melihatnya tidak menaruh curiga sedikit pun,” jelas teman si
Ipung, Ansori.
Mereka sebenarnya jarang mengangkut pesanan senjata ‘gelap’
ini pada siang hari. “Baru kali inilah
siang hari. Jadi, baru pertama tertangkap pula,” jelas Ipung.
Kenapa malam hari, kata Ansori, karena menghindari
pemeriksaan petugas dan biasanya kalau malam jalanan sepi sehingga leluasa
bergerak ke sana kemari.
“Selama ini aman-aman saja,” terang Ipung.
Sebenarnya, kata Ansori, tak begitu banyak keuntungan yang
mereka dapatkan dari hasil mengang kut senjata illegal ini.
“Hanya cukup buat makan anak bini, rokok dan jajan saat
menjalankan tugas berbahaya ini,” terang Ansori.
Tapi, masih kata rekan kerja Ipung ini, daripada tidak punya
pekerjaan, alias luntang-lantung ke sana kemari, mending jadi sopir saja.
“Seseran kami iniah sebenarnya, “aku Ipung. Pekerjaan utama
mereka yang lain adalah mengemudikan truk, mengangkut barang-barang berat antar
kota antar provinsi.
Tanpa mengesampingkan pengen jadi orang kaya, kata Ipung,
dia sadar pekerjaan sampingan ini mengundang risiko besar.
“Bisa ketangkap, dirampok dan bahkan dibunuh,” akunya terus
terang.
Tapi, sekali lagi dia jujur mengakui pekerjaan sampingan yang ia geluti sekarang
ini berangkat dari keterpaksaan.
“Lama juga saya memutuskannya, sebelum benar-benar
memutuskan menerima tawaran ini dari bos besar,” jelas Ipung.
Keduanya sempat berharap agar empat sekawan tidak
memenjarakan mereka.” Kami siap bantu
apa yang kalian butuhkan kepada kami,” harap keduanya.
Setelah mempertimbangkan beberapa sisi, di antaranya untuk
mengungkap jaringan senjata illegal ini, BiJe dan ketiga temannya sepakat untuk
meminggirkan tindak lanjut ‘penangkapan’
dengan lebih memfokuskan pada pengepungan gudang senjata illegal.
Empat sekawan bergerak pada malam hari. Dibantu Ipung dan
Ansori sebagai penunjuk jalan, Pak Hamdani dan Afi, mereka berpencar tiga arah.
Empat sekawan menyusup dari samping kanan dan depan, Hamdani dan Ai dari
sebelah kiri, sedangkan pak sopir dan temannya berjaga-jaga sekaligus mengintai
dari depan, tempat sekarang mereka melakukan pengintaian.
“Je, panjat sajalah.” Saran Kuyung. Memang licin kalau
dipanjat, tetapi lebih cepat ketimbang harus berjalan memutar.
“Dam, Bal. Kemon!” Bisik Kuyung. Ikut memanjat juga,
mengikuti ke mana arah BiJe memanjat.
Sementara Hamdani dan Afi mengintip dari luar gedung. Gelap
dan kepada Kuyung, keduanya mengaku untuk sementara waktu menunggu sampai
situasi aman.
“Oke Pak. Siap ditempat,” jawab Kuyung.
“Oke juga,” balas Hamdani. Di dekatnya Afi, hanya
senyum-senyum saja melihat tingkah kodok me lompat ke sana kemari di depan
mereka berdua.
Sementara Ipung dan Ansori, keduanya mengisi waktu luang
dengan bermain game tembak-tembakan lewat HP. Seru juga. Sang ja goan melompati
gedung, menaiki tangga dan memasuki ruangan sambil membawa senjata lengkap
dengan peluru melingkar di tangan dan pinggang.
Dooor … doooor …
“Mampuslah kau si kumis,” ucap Ipung.
“Jangan kuat-kuat.” Ansorimengingatkan.
“Gue ladas saja,” jawab Ipung.
“Tuh awas di belakangmu, ada bandit.” Kata Ansori.
“Mana? Enggak ada …”
“Lho … yang itu, di belakangmu itu …”
“Ah kamu. Itu kepalamu tau …”
“Ah masa?”
“Enggak percaya. Coba kamu geser ke kanan kepalamu itu ..”
“Oke. Aku ke kanan …”
“Nah, kan enggak ada lagi … lihatlah!
Ansori terdiam.
“Kok bisa ya?!” Katanya masih ragu, separo percaya.
Siiiiiiit …
“Pung … lihat! Kata Ansori.
Sebuah mobil truk besar berhenti tak jauh dari gudang.
Seorang laki-laki turun dari mobil, agak tergesa-gesa langkahnya. Kemudian masuk
ke gudang lewat pintu belakang.
Kepada Kuyung, Ipung memberitahukan ada mobil truk besar
berhenti di samping kanan gudang. Truk itu sepertinya tanpa muatan, dan baru
akan memuat barang setelah meninggalkan gudang.
“Bapak tetap ditempat. Stand bye oke?” Pesan Kuyung.
“Oke. Siap laksanakan …” Jawab Ipung.
Empat sekawan kini sudah berada di atas gudang. Dari atap
ini ada tangga kecil menuju jendela. Jendela inilah tempat satu-satunya untuk
masuk ke dalam gudang dari jalur belakang.
Tampak mudah. Tapi, karena jendelanya kecil dan lubang yang
harus dimasuki juga kecil, empat sekawan harus dorong-dorongan untuk bisa
masuk. Terutama Adam, yang pantatnya sempat diraba-raba Iqbal.
“Dorong apa ngeraba oi.” Gerutunya pada Iqbal yang kena
giliran terakhir.
“Dua-duanya oi,” jawab Iqbal.
“Yang kuat oi. Jangan loyo gitu …”
“Oke …”
Seperti mendorong pipa masuk ke lubang parit, Adam meringis
kesakitan. Pasalnya, tangannya Iqbal menekan lubang duburnya. Perih rasanya.
“Itu burit bukan duit oi. Pelan-pelan,” katanya mulai kesal
pada kelakuan Iqbal.
“Sorri Dam. Gue kira apa.”
Satu kali dorongan dibantu BiJe dengan menarik kedua
tangannya, Adam akhirnya berhasil masuk ke dalam gudang. Kini giliran Iqbal.
Rupanya, entah karena gengsi atau cari perhatian, Iqbal
ingin tampil beda. Kaki duluan masuk, kepala belakangan. Mulanya lancar memang.
Kedua kaki Iqbal sudah masuk, tapi dari perut
ke kepala, susah masuknya.
“Sakit. Jangan ditarik,” kata Iqbal kepada teman-temannya
yang menarik kedua kakinya, Adam dan BiJe.
“Rasain lu,” celetuk Adam.
“Dorong sendiri bisa enggak?” Tanya BiJe.
“Gue usahakan dulu …”
Huuup … Hiyaaa …
Badan Iqbal tak juga bisa bergerak. Padahal sudah berusaha
keras dia menggerak-gerakkan bahu dan kepalanya.
“Gimana Bal. Bisa kagak?” Sindir Adam.
“Tak bisa,” jawab Iqbal dengan suara pelan karena nyaris kehabisan nafas.
“Kasihaaan. Gue tinggal ya!” Canda Adam.
“Jangan oi.”
“Kenapa?”
“Bisa mati aku. Kehabisan nafas.”
“Enggaklah. Caranya kami dorong lagi kakimu ke luar. Kamu di
luar aja. Tak usah masuk. Gimana?”
“Ogah. Gue mau masuk …”
“Ngotot amat deh lu.”
“Ya haruslah. Di luar dingin. Banyak nyamuk. Di dalam kan
enak.”
Ha ha ha ha …
Ketawa kecil.
“Kami tarik saja kakimu ya … satu … dua … tiiiiga ..”
Kraaak ..
Ketarik celana, masih untung tak sampai robek. Praktis Iqbal
cuma mengenakan celana dalam doang.
“Maaf ya Bal,” kata Kuyung.
“Tak sengaja,” sahut Adam.
“Cepatlah oi sedikit …” Rengek Iqbal.
Dia merengek cepat ditarik bukan karena malu cuma mengenakan
celana dalam saja, tapi di bawah gudang ada beberapa orang mondar-mandir sambil
menyorotkan lampu senter ke sekitar gudang. Takutnya itu lampu mengarah ke
atas. Bisa ketahuan aksi empat sekawan.
Sreeet … ret … sruuut .. ruuut …
Dub … buk …
Iqbal bisa masuk
setelah pantatnya sempat menyentuh lantai.
Dia bergegas mengenakan celana, menyusul ketiga rekannya yang sudah
lebih dulu menuruni anak tangga.
“Pak Afi. Pak Hamdani … Rogeeer!” Panggil Kuyung.
“Roger. Afi di sini …”
“Siap masuk, Pak.”
“Oke. Sekarang?”
“Tunggu perintah selanjutnya.”
“Oke …”
Sementara Ipung dan Ansori sudah mnyelinap masuk ke dalam
bak truk, empat sekawan mulai bersiap menyerang dengan tangan kosong. Dua ke
kanan, dua lagi yakni Adam dan Kuyung, menyelinap ke kiri.
“Masuk, Pak Afi.” Perintah Kuyung.
Praaak …
Pintu didobrak. Afi dan Hamdani berhasil menahan laju Ade,
Budi dan Yandi. Ketiganya anak buah Pak
Bingo.
“Menyerahlah …” Kata BiJe.
“Bekerjasamalah dengan kami,” ujar Afi.
“Ogah. Kalian semua pembohong,” jawab Ade setengah
berteriak.
“Setelah bekerjasama, nanti kami juga masuk penjara,” sahut
Budi.
“Mending one by one,” tantang Yandi.
“Siapa takut. Ai ladeni,” kata Adam sambil berkacak
pinggang.
Setelah pura-pura menggulungkan pergelangan bajunya, Adam
pasang jurus ‘Berani Babi’. Melangkah pelan ke kanan dan kiri serta depan. Adam
memutar badannya sambil melepaskan tendangan satu dua.
Tak satu pun yang mengena. Justru dibalas lawan dengan
tendangan cepat lurus ke depan. Tepat mengarah ke selangkangannya.
“Adow. Sompret lu.! Umpat Adam.
“Kebanyakan ngopi lu, Dam.” Sindir Iqbal.
Ketawa ngakak, dikejarnya Iqbal, tapi ditahan BiJe dan Kuyung.
“Itu lawan lu, Dam.” Kata BiJe menunjuk Yandi yang sempat
mencibir dan mengolok-olok Adam dengan sebutan
“Ngomong Doang Bisanya.”
Adam naik pitam. Didekatinya Yandi. Mata melotot tajam.
“Pukul gue kalau lu berani.” Tantang Adam.
“Oke,” kata Yandi.
Yandi melepaskan pukulan ke perut, dada dan muka. Tak satu
pun yang mengena. Adam berhasil meng hindar dan mundur beberapa langkah ke
belakang.
Afi melompat ke depan. Mendaratkan pukulan ke perut. Kena. Saking
kerasnya itu pukulan, Yandi sem poyongan. Dia jatuh terjerembab.
***
IX
TERJADI duel seru dan menegangkan antara Ipung dan sopir
truk. Berkali-kali berhasil memukul punggu ng pak sopir, Ipung berkali-kali
juga harus bergelantungan di pintu mobil karena dibalas lawan dengan pukulan,
nyaris terjatuh dan kaki terseret di aspal bertanah.
Ansori tak tinggal diam. Dia pegang tangan Ipung, berusaha
ditarik tapi tak bisa karena sopir truk men zig-zug truknya. Badan Ansori dan
Ipung seolah terbang mengikuti kemana arah truk. Sempat terpental, Ipung
bangkit lagi. Namun ketika Ansori
berusaha mengulurkan tangannya, Ipung sudah tidak ada lagi.
Kemana dia?
Rupanya Ipung berpegangan di bawah truk. Bahaya memang,
karena slip sedikit, badan bisa terlindas ban truk. Mati seketika, keluar semua
isi perut. Sedangan Ansori, dari bak
truk, memukul kaca mobil de ngan tinjunya dan besi potong yang terserak di
dekatnya. Lambat tapi pasti, kaca
penghubung antara sopir dan bak truk itu retak sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.
Karena panik dan ingin menyelematkan diri, sopir truk
melompat keluar sambil membawa tas berisi ba han peledak dan beberapa pucuk
senjata. Sesaat kemudian, Ansori pun ikut melompat, disusul Ipung setelah
melihat rekannya itu berguling-gulingan di aspal.
Gaaaar … jreeeeg …
Truk terbalik dengan roda di atas berputar. Tak ada api dan
suara ledakan. Sementara sopir truk berlari masuk hutan belukar. Dikejar Ansori
dan Ipung dari arah yang berbeda.
Aksi kejar-kejaran ini terus berlangsung kian seru setelah
sopir truk melepaskan tembakan mengarah ke Ipung yang sembunyi di balik batu besar. Ansori yang sempat
mendengar suara letusan itu mencari dari mana asal mulanya.
“Sori … Sori …!” Panggil Ipung pelan dari balik batu
berwarna kecoklat-coklatan itu setelah Ansori berdiri tak jauh dari tempat
persembunyiannya.
Dooor … door …
Ansori dengan terpaksa terngkurep agar tak kena peluru.
Mirip kadal berjalan, ia mendekati Ipung yang secepat kilat menarik pergelangan
tangannya, agar tak ketahuan pak sopir
truk.
“Mana?” Tanya Ansori.
“Ituuuu …!”
Dooor … door …
Jari telunjuk Ipung nyaris terkena peluru. Sopir truk terus
melepaskan tembakan sambil berlari mende kati tepian sungai yang airnya lagi
pasang.
“Cepat kejar …!” Kata Ipung.
Keduanya penasaran, apa yang bakal dilakukan selanjutnya
oleh si sopir truk malam-malam begini.
Ternyata mendekati sebuah perahu dan dengan perahu itu dia bermaksud
melarikan diri dari kejaran Ipung dan Ansori. Karena malam, sang sopir ragu.
Mau naik perahu atau menggunakan jembatan gantung.
“Peduli amat, ah.! Gumamnya.
Dia melompat ke tanah berbukit. Dari sini dia berhasil
mendekati jembatan gantung. Sempat berpikir sejenak, lewat atau tidak, akhirnya
memberanikan diri melewati jembatan penyeberangan itu.
“Itu dia, Pung!” Tunjuk Ansori. Yang ditunjuk, sopir truk
berperawakan kerempeng tapi besar perut kayak orang cacingan, tengah bersiap
melangkah dengan kedua tangannya berpegangan di kiri dan kanan jembatan.
“Pelan-pelan, Ri.” Bisik Ipung.
Keduanya sampai di pintu gerbang jembatan gantung. Pancaran
sinar bulan purnama dari langit yang dihiasi jutaan bintang-bintang, membuat
Ipung dan Ansori dapat melihat dengan jelas bagaimana hati-hatinya sang sopir
truk meniti jembatan gantung.
“Kita goyang yuk!” Ajak Ipung.
“Maksudnya?”
Ipung membisikkan sesuatu di telinga Ansori. Yang dibisiki
manggut-manggut tanda mengerti. Keduanya mendekati tepi jembatan gantung. Ipung
di kiri, Ansori di kanan.
“Kamu duluan,” ucap Ipung.
“Oke …”
Tali jembatan digoyang. Mulanya lambat, sedang dan cepat.
Membuat sopir truk hilang keseimbangan dan jatuh terduduk.
“Taik kucing,” umpatnya. Berusaha berdiri lagi.
Giliran Ipung beraksi.
Nyet … nyet … nyet …
Jembatan bergoyang, sopir truk miring ke kanan, lalu
tersandar ke kiri, sebelum akhirnya
terjatuh.
“Aduuh … kampang! Ucapnya. Pantat sakit. Sambil meringis,
dia berdiri lagi dengan kedua tangan berpegangan di tali jembatan.
“Siapa ya?”
Dia menoleh ke kanan. Ipung dan Ansori cepat menunduk,
bersembunyi di balik pohon kelapa. Jadi tak kelihatan oleh sopir truk yang
mulai naik darah dan geram karena merasa ada yang telah mempermainkannya.
“Bagaimana kalau dia menembak lagi, Pung?”
“Biarin aja. ‘Ntar juga pelurunya habis,” jawab Ipung.
Ha ha ha ha …
Sempat terdengar sopir truk, yang bersangkutan dengan
cepatnya mengambil pistol dari pinggangnya, diarahkannya ke Ansori dan Ipung.
Tak ada reaksi.
Dooor … doooor …
Sampai enam kali tembakan dilepaskan, karena tak terdengar
lagi suara cekikikan dari kejauhan, dikira sudah tewas terkena tembakan, sopir
truk berusaha berlari agar cepat sampai di desa seberang.
Gluduk … beeek …
Jatuh tersungkur.
Ha ha ha ha …
“Mati deh lu,” ucap Ansori.
“Rasain dah,” kata Ipung.
Karena berkali-kali jatuh, Ipung dan Ansori akhirnya
memutuskan melakukan pengejaran. Persis di te ngah jembatan, keduanya
menjatuhkan diri untuk menghindari tembakan yang dilepaskan sang sopir.
Dooor … duoor …
Trek … chet … chet …
Habis peluru. Pistol dilempar ke sungai. Takut tertangkap, sopir truk berlari kencang,
dikejar Ipung dan Ansori. Kejar mengejar pun terjadilah. Sempat jatuh bangun ,
saling melepaskan tendangan, kedua belah pihak berupaya saling menjatuhkan.
“Auuw … tolong Pung ..! Teriak Ansori, setelah sempat
terpelanting dan hampir jatuh dari jembatan gantung, kalau tidak cepat-cepat
berpegangan di tali jembatan.
“Tahan …” Kata Ipung.
“Cepat tarik …!” Pinta Ansori.
Niat dan keinginan Ipung untuk menarik lengan Ansori tak
kesampaian setelah tendangan keras berhasil mengenai pahanya. Dia terjatuh.
Hua ha ha ha …
“Mampuslah kalian … Tengik busuk.!”
“Belum mampus,” jawab Ipung dengan nada mengejek.
“Rasakan ini kunyuk …”
Tendangan berikutnya diarahkan sopir truk ke perut, namun
berhasil dielakkan Ipung, tersangkut di tali jembatan. Ipung leluasa
mendaratkan pukulannya ke dada, muka dan perut lawan. Kakinya dipelintir, jatuh
tersungkur.
“Auuugh …”
Mengerang kesakitan. Saat bersamaan Ansori belum bisa naik
ke atas jembatan. Masih bergantung di ta li samping jembatan. Jika tidak
secepatnya ditolong, karena kondisi sudah melemah, tangan Ansori tak mampu lagi
bertahan, bisa terlepas dari
pegangan, jatuh ke dalam air.
Iyaaat …
“Tahan An …!” Teriak Ipung.
Ipung menarik tangan Ansori sekuat tenaga, sedangkan Ansori
berusaha menggerakkan kedua kakinya agar bisa menginjak tali jembatan.
“Terus Pung ..”
“Kakimu yang kiri …”
Ansori memutar-mutar kedua kakinya. Kanan menahan, kiri
mendekat ke tali. Hampir terinjak, lepas lagi. Badan Ansori berputar-putar,
sedangkan Ipung tetap menahan dengan sesekali menarik tangan kanannya itu,
walau berat sekalipun.
“Coba lagi An …” Ujar Ipung.
“Tahan ya …”
Huuup … hiyaaa … hiyaaat ..
Drup … bek …
Kaki kiri itu akhirnya bisa menginjak tali jembatan. Sambil
ditarik Ipung tangannya, Ansori memutar badannya ke atas, dan …
Huuup …
“Alhamdulillah,” ucap Ipung setelah melihat Ansori berhasil
naik kembali ke atas jembatan. Keduanya, karena sama-sama kepayahan, terlentang
di lantai jembatan yang sempat bergoyang kencang karena sopir truk berlari
kencang.
“Kejar Pung …!” Teriak Ansori yang mulai geram melihat ulah
pengemudi truk yang hampir saja merenggut nyawanya barusan.
Sopir truk terus berlari. Sesampainya di seberang jembatan,
dia melepaskan ikatan tali jembatan. Tali terlepas, jembatan miring ke kanan
dan jatuhlah Ipun dan Ansori bersamaan
robohnya jembatan ke dalam air sungai.
“Matilah kau bedebah busuk,” ucap sopir truk tertawa
terbahak-bahak.
Selain senang karena berhasil mengalahkan Ipung dan Ansori,
tas yang ia sandang tadinya masih utuh lengkap dengan isinya.
Hua ha ha ha …
“Selamat tinggal manusia malang …”Katanya sambil melempar pistol
tak berpeluru ke tengah sungai yang airnya mengalir deras.
Bagaimana dengan Ipung dan Ansori?
Keduanya harus bersusah payah berenang ke tepi sungai.
Sesampainya di dermaga kayu, keduanya beristirahat sejenak untuk mengambil dan
mengatur nafas yang tersengal-sengal.
Ansori mulai
kedinginan. Pakaian basah kuyup. Tak mungkin dilepas. Sebab, kalau sampai
dilepas, se lain tak bakalan kering karena tak ada sinar matahari juga yang
dikejar bakal menghilang dan lepas dari kejaran.
“Lewat tangga itu saja, Pung,” saran Ansori. Berat rasanya
saat melangkah, pakaian di badan terpaksa di keringkan terebih dulu, diperas
sampai tak bersisa lagi airnya.
Ketia sampai di atas tangga batu, keduanya bertanya kepada
warga setempat yang masih asyik bermain gaple di pos ronda dengan penerangan
lampu petromak, tentang keberadaan sopir truk.
Setelah dijelaskan ciri-cirinya, maksud dan tujuan mereka
bertanya, barulah warga bersedia memberi tahukannya.
“Tadi lewat sana Mas …” Jelas pria berkopiah hitam dan
bersarung kotak-kotak menunjuk ke sebuah jalan kecil tak jauh dari tempat
mereka berdiri sekarang ini.
“Dia bawa tas. Sepertinya buru-buru,” sahut warga lain yang
asyik menghisap rokok berpipa gading gajah.
“Mungkin belum jauh dia, Mas.” Jelas Pak Erte yang diiyakan
beberapa warga lainnya.
Dari arah yang berlawanan, empat sekawan, Pak Hamdani da Afi
juga mengejar pengemudi truk, sama sekali tak merasa telah dikepung dari dua
arah; depan dan belakang. Terus berlari menelusuri jalan setapak yang kanan
kirinya dipenuhi semak belukar.
Sementara Ipung dan Ansori bergerak cepat dengan berlari
sambil mencari jejak langkahi pak sopir. Sa yang, hape yang disimpan di sak
celana hilang saat berenang di air sungai. Namun sebelumnya, ketika mereka
hendak naik mobil truk, sempat mengontak Kuyung kalau mereka lagi mengikuti ke
mana arah truk dilarikan.
“Stop …! Ucap Pak Hamdani kepada empat sekawan yang berdiri
di belakangnya.
“Kita sembunyi di sana,” jelas Afi menunjuk sebuah pohon
besar nan rindang di sebelah kanan.
Sopir truk berhenti. Dia membuka ruisliting celananya …
“Tunggu …! Bisik Hamdani.
Saat membuang air kecil di semak yang tak jauh dari
persembunyian mereka, saat itulah, atas komando Pak Hamdani, mereka rebut tas
sandang pak sopir yang diletakkan di dekat kakinya.
“Jangan bergerak …!” Ancam Kuyung, menodongkan senjata
tangan ke bagian belakang kepala pak sopir truk.
“Kalau sampai bergerak, tututnya kami potong habis,” seloroh
qbal.
“Jangan Pak,” rengek sang sopir, “Kalau tutut saya dipotong,
saya mainnya pakai apa …”
“Pakai bantal ,” jawab Adam.
Ha ha ha ha …
***
X
PAK Bingo dan ajudannya tampak tekun menyaksikan
pertandingan tenis lapangan eksibisi yang mem pertemukan antara petenis senior
dan yunior berbakat. Dari tribun VIP sesekali dia ikut bertepuk tangan bersama
penonton lain ketika salah seorang pemain berhasil mengecoh lawan dengan cerdik
dan terukur.
“Bos … telepon dari Sakir,” kata sang ajudan. Semula ingin
memberikan hape kepunyaannya kepada Pak Bingo, namun ditolak halus karena dia
punya hape sendiri.
“Tengok situasi,” kata Pak
Bingo kepada ajudannya sesaat sebelum menerima telepon dari anak buahnya
di lapangan bernama Sakir.
“Gawat bos,” ucap Sakir dengan nafas tak beraturan.
“Gawat kenapa?” Pak Bingo mulai serius mendengarkan.
“Ade … Budi dan Yandi … bos … anu …”
“Anu kenapa. Yang jelas kalau ngomong.”
“Anu bos. Ketangkep …”
“Kapan?”
“Semalam bos.”
“Oleh siapa?”
“Oleh warga bos …”
“Warga itu siapa, Kir?”
“Kurang tahu persisnya bos. Tapi dengar ada yang bernama
Hamdani dan Afi, bos.”
“Siapa mereka?”
“Keduanya adalah orang pintar, bos.”
“Pintar apa? Pintar masak?”
“Bukan bos. PIntar
maksudnya pintar tengok makhluk halus.”
“Supranatural?”
Ya mungkinlah bos. Supranarutal …”
“Natural …”
“Ya bos .. ya bos … natural,” kata Sakir sambil menahan
tawa. Untung enggak kedengaran sang bos. Kalau tidak bakal kena marah dan bogem
mentah.
Sang ajudan tampak buru-buru mendekati Pak Bingo yang sempat
mencarinya barusan. Dia mendapat laporan ada beberapa orang menuju stadion
tempat berlangsungnya pertandingan tenis lapangan.
“Sepertinya …”
“Ya ya sudah. Kita keluar …!” Perintah Pak Bingo.
Lewat mana?
Di belakang tribun ada tangga menuju samping stadion. Tangga
ini jarang digunakan kecuali untuk kepentingan emergency, seperti terjadi
kebakaran, kerusuhan dan amuk massa.
Tangga ini mengantarkan penonton pada sebuah pintu darurat.
Pak Bingo berhenti sejenak sambil
menunggu laporan yang masuk ke ajudannya.
“Gimana?”
“Tunggu sebentar, bos. Mereka baru akan masuk,” jelas sang
ajudan.
Empat sekawan dan kawan-kawan masuk stadion dari pintu yang berbeda.
Agar tak ketahuan, mereka tetap membeli tiket masuk dan ikut antre bersama
pembeli yang lain. Tujuan mereka untuk menangkap Pak Bingo, untuk kemudian diserahkan kepada pihak
berwajib.
“Siap bos?” sang ajudan mengingatkan.
“Siap …”
Keluar dari pintu darurat, mereka berlari menuju lokasi
parker motor. Keduanya berhasil kabur menggu nakan sepeda motor trail. Tak
satupun yang tahu dari kelompok empat sekawan, termasuk Ipung dan Ansori, yang diminta berjaga-jaga
di luar stadion.
Mereka baru tahu setelah salah seorang warga yang berjualan
di luar stadion nyaris diserempet motor yang dikemudikan sang ajudan Pak Bingo.
Meski tak sampai kena tabrak, tak urung kacang rebus dan ja gung berserakan di
jalan setelah gerobak dagangan yang tersenggol, terbalik di aspal.
Kerumunan warga mengusik keingintahuan Ipung dan Ansori.
Mereka ikut membantu merapikan ge robak dan dagangan, lalu menyemangati
penjajanya agar bersabar. Di balik suatu kejadian biasanya terkandung hikmah
besar yang terkadang kita sendiri tidak tahu dan menyadarinya.
“Satu membonceng, agak muda. Di belakangnya sudah agak
tuaan,” kata si pedagang terus terang. Dia kemudian memberikan ciri-ciri kedua
penunggang motor yang sempat dia ingat.
Sementara Ansori melanjutkan perbincangannya dengan si
pedagang kacang dan jagung, Ipung mengon
tak Kuyung dan melaporkan bahwasanya Pak Bingo beserta ajudannya barusan saja
kabur dari stadion lewat pintu emergency.
“Kita keluar,” kata Kuyung.
“Mereka sudah kabur pakai motor,” jelas Adam kepada Hamdani dan Afi.
Kabur kemana?
“Bisa jadi ke pelabuhan, Je.” Jelas Kuyung.
BiJe pun memutar mobilnya, melewati jalan tanah samping stadion. Ini adalah jalan
pintas. Tak heran ji ka jalan ini sangat jarang dilalui kendaraan rodan dua dan
empat. Karena selain sepi, tanah becek juga rawan tindak kriminal seperti
penodongan, perampokan dan pembunuhan.
“Maksimalkan Je, kecepatannya.” Kata Afi.
“Jangan pak. Nanti terbang kita,” sahut Iqbal.
Jegaaam … bak …
Masuk lubang berair, kepala membentur atap dalam mobil.
Saking cepatnya, Adam sempat terjepit, juga kaki kanannya.
“Sial deh,” gerutunya.
Ha ha ha ha …
“Makanya,” kata Iqbal, “Jangan lupa mandi pagi, biar
dijauhkan dari balak.”
“Apa hubungannya antara mandi pagi dengan balak?”
“Adalah … Balak itu takut dengan yang bersih-b ersih. Nah,
kalau kita mandi kan badan bersih, semuanya jadi bersih. Betul enggak?”
“Masa bodoh, ah.”
“Awas Je!” Teriak Kuyung.
Di depan ada ratusan bebek entok menyeberang jalan.
Suaranya terdengar riuh dan
bersahut-sahutan.
Kweeek … kweeek … kwwwek …
Tak ada jalan lain, selain harus sabar. Sabar sampai semua
entok selesai menyeberang jalan. Sebenarnya, yang bikin Kuyung meradang, bukan
entoknya, tapi pemiliknya pada kemana.
“Kita ambil saja satu, je, untuk contoh barang,” usul Adam.
“Huuusy … Dosa tau. Itu namanya mencuri, “jawab BiJe.
“Habis yang empunyanya mana, bebeknya gimana.” Celetuk Adam.
Menurut penjelasan Hamdani dan Afi, warga setempat sudah
biasa melepas peliharaannya ‘bermain’ di tempat lapang. Mereka hanya melihat
dari kejauhan. Setelah aman, mereka tinggalkan itu peliharaan, dan mereka
melanjutkan pekerjaannya sebagai petani ladang.
“Enggak pernah hilang apa Pak?” Tanya BiJe.
“Jarang sekali …”
“Kenapa ya Pak?”
“Mungkin karena semua waga disini punya peliharaan yang
sama. Jadi tidak saling mengganggu, dan masing-masing saling menjaga.”
“Maksudnya Pak?”
“Kalau yang satu kebetulan enggak melihat peliharaannya pada
kemana, yang satunya melihat, ya ikut merasa bertanggung jawab juga menjaga
keamanannya.”
“Betul-betul hebat ya Pak,” puji BiJe, membelokkan mobil ke
kanan. Melewati sebuah jembatan besi menuju pelabuhan.
“Itu sepertinya mereka Pak,” kata Kuyung menunjuk sebuah
kapal cepat mengangkat sauh, segera
berangkat.
“Tenang saja Pak. Kan masih ada kapal satunya,” ujar BiJe.
Mereka sampai di bibir pelabuhan ketika kapal cepat yang
dinaiki Pak Bingo beserta anak buahnya su dah melesat cepat. Sempat melihat
keberadaan empat sekawan turun dari mobil, lewat teropong, Pak ingo meminta anak buahnya melepaskan
tembakan.
Tembakan itu hanya mengenai gudang pelabuhan dan mobil yang
disopiri BiJe. Satu-satu berlari menuju dermaga. Melompat ke atas kapal cepat. Sesaat itu juga
kapal bertolak meninggalkan dermaga. Menyu sul kapal cepat yang ditumpangi Pak Bingo.
Dooor .. door … door …
Anak buah Pak Bingo terus memborbardir empat sekawan dan
teman-temannya dengan tembakan, sesekali mengenai bodi dan kaca kapal. Namun
selamat dari terjangan peluru yang ditembakkan.
“Hajar terus …” Pekik Pak Bingo.
“Siap bos …”
Karena terus menerus dib erondong peluru, BiJe membelokkan
kapalnya ke pinggir sebelah kiri. Mem perlambat jalan, lalu mengeluarkan sekoci
bermesin untuk mempermudah pengejaran.
Sekoci itu hanya menampung dua orang penumpang. Kuyung
meminta Pak Hamdani dan Afi sajalah yang naik dan melakukan pengejaran
mengggunakan sekoci sementara BiJe menguntit dari belakang. Tindakan ini
mengundang risiko karena akan dengan mudah terkena tembakan.
Tapi Hamdani punya pendapat dan pandangan lain. “Kita
alihkan perhatian mereka ke sekoci,” katanya. “Dengan begitu, kamu BiJe bisa
masuk …”
“Siap Pak.” Ucap BiJe.
Berbekal senjata rampasan dari sopir truk, Hamdani dan Afi
terus mengejar Pak Bingo dan anak buah
nya. Semakin dekat, Pak Bingo nampak semakin panik. Tak henti-hentinya dia
menginstruksikan anak buahnya melepaskan tembakan.
Karena kecil, sehingga Afi dengan mudah menzig-zug itu
sekoci bermesin. Peluru yang ditembakkan ber hasil dihindarkan, membuat Pak
Bingo marah besar. Dia sempat menarik kerah baju salah satu anak bu ahnya, lalu
ditendangnya, dan lelaki gondrong itu pun terlempar ke laut.
“Goblok semuanya,” teriak Pak Bingo. Dia lampiaskan
kemarahannya dengan menendang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk menampar
anak buahnya sampai terjatuh dengan hidung dan mulut menge luarkan darah.
Dooor … door … door ..
Pak Bingo melepaskan tembakan, dan sempat juga melemparkan bahan peledak, kena pinggiran
sekoci tapi tak sampai rusak. Dari kejauhan terdengar suara helikopter. Saat
mendekat, bukannya berhenti tapi mengelilingi kapal cepat yang ditumpangi Pak
Bingo beserta anak buahnya.
“Menyerahlah …!” Terdengar suara dari moncong helikopter.
Suara itu jelas terdengar di telinga Pak Bingo.
Dooor … door …
Bersama anak buahnya, Pak Bingo tetap melakukan perlawanan
dengan melepaskan tembakan kea rah
helikopter. Pak Hamdani tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dibidikkannya
moncong senjata, persis ke dada Pak
Bingo.
Hening sesaat.
Duuuuaaaarrrr …
Pak Bingo jatuh tertembak di bagian dadanya. Melihat sang komandan ‘roboh’ seketika dengn
darah berceceran di sekitar dada, anak buahnya serempak mengangkat kedua tangan
tanda menyerah. Seda ngkan helikopter berhasil mendarat, lalu membawa serta
jasad Pak Bingo, dengan anak buahnya diserah kan kepada empat sekawan, untuk
dibawa menggunakan kapal motor cepat.
***
SAMPE SINI DULU
LUUUUUR …
KITO PAMIT DUKEN …
WASSALAM …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar