Minggu, 11 September 2016

Cinta yang Terbelah (2)



Edisi Terakhir …
Novel Serial BiJe
Cinta yang Terbelah (2)
Oleh  Kak  Amin

I
ASSALAMUALAIKUM sayaaaang …!” Ucap Bu Rustam dari balik pintu kamar anaknya, Nile.
Nile yang baru saja merapikan tempat tidur, bergegas ke depan pintu.
“Waalaikum salaaaam!” Balas Nile tak kurang manjanya.
Sreeet …
“Mamaaa?!”
Berpakaian rapi, kayak mau pergi. Tersenyum ramah dan menawan hati lagi.
“Boleh mama masuk sayang?”
“Silakan mama sayaang. Kayak orang lain aja.” Nile rada kesal tapi sayang sama mamanya. Sejak kematian  sang suami, Bu Rustam lah tempat dia curhat. Menceritakan segala masalah, termasuk bagaimana bersikap dan bergaul dengan orang lain dengan status yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Sambil menunggu Nile selesai mandi, Bu Rustam membuka lembaran buku catatan harian Nile. Sebuah buku bersampul biru, tebal dengan kertas luks berwarna putih. Di lembaran kelima ia baca sebuah  tulisan yang mengusik hati dan pikirannya …

            “Untukmu yang kusayang …
         Izinkan aku pergi, walau hati ini terluka. Biarlah lukaku ini kubawa sampai mati.  Biarlah derita ini kubawa hingga ke mana saja ….Aku sangat menyesal telah menyayangimu … mencintaimu. Padahal se perti kau tahu, aku sangat menyayangimu … Aku sangat mencintaimu. Aku tak membohongi diriku. Karena bila aku bohong itu artinya aku telah membodohi diriku sendiri …
        Sayang … Terus terang aku selama ini keliru menyikapimu. Aku kira kau adalah teman biasa, tempat curhat, berbagi rasa, suka dan duka … Aku kira di antara kita hanya hubungan pertemanan biasa. Saling bercanda, membantu mengatasi masalah, sekecil apa pun masalahnya …
         Sayang … Hari-hari ini kini kulalui sepi tanpamu. Hari-hari kini kujalani bersama sia dia yang baru akan saling mengenali. Kami kini mencoba untk saling isi mengisi. Sebab, di antara kami masih banyak yang harus dipelajari. Kelemahan dan kekurangan pasti ada di sana sini. Maka itu harus diperbaiki. Sedangkan kelebihan dari masing-masing kami dibagi-bagi demi rumah tangga ini berjalan langgeng lestari.
           Sayang .. Aku bersyukur kau telah mengerti perasaanku. Perasaan dari seorang  wanita yang men coba jatuh cinta buat kali keduanya. Walaupun harus kuakui cinta yang dahulu adalah cinta yang sulit tertandingi. Dia bagaikan magnet yang merekatkan dua anak manusia berbeda jenis kelamin, agar bisa berjalan beriringan menuju hidup yang bahagia …
           Sayang … Aku bersyukur kau dapat menerima keadaan ini. Walaupun sesungguhnya aku sendiri ti dak tahu bagaimana perasaanmu kini. Perasaan dari seorang lelaki yang pernah singgah di hatiku yang paling dalam ini. Pernah berlabuh di samudera rasa ini. Pernah satu rasa, satu irama dan satu kata dalam berasa …
            Sayang … Setiap malam aku rindu dan kangen kamu. Tapi rinduku dan kangenku itu terobati begi tu melihat betapa sayangnya suamiku ini, sepeti sayangnya engkau kepadaku dulu. Tutur sapanya, ah betapa  santun dan  halus budi bahasanya. Gurauannya, ah begitu menyentuh rasa, menggelorakan sukma, membangkitkan birahi cinta yang selama ini seolah tidak pernah ada …
             Sayang … Setiap malam aku membayangkan dirimu ada di sampingku. Tapi untunglah bayangan ku itu terobati manakala suamiku ini dengan setia menemaniku. Sesibuk-sibuk dia bekerja, sesibuk-sibuk dia mencari nafkah buat keluarga, selalu ada waktu buat kami. Selalu ada saat dia kubutuhkan, saat dia keperlukan, dan saat dia amat kurindukan …
              Sayang … Bukan maksud hatiku membanding-bandingkan antara dirimu dan suamiku. Bukan maksud hatiku menyinggung perasaanmu yang saat ini tak bisa kurasa, bukan maksud hatiku untuk melukaimu. Tapi ini semua kujelaskan kepadamu bahwa inilah aku, perempuan yang pernah ada di hatimu, pernah menyayangimu dan pernah mencintaimu sepenuh hati.
               Sayang … Salamku teriring untuk kedua orangtuamu … untuk adikmu yang lugu dan penuh pe ngertian itu. Untuk siapa saja yang pernah dekat di hatimu. Untuk mereka yang menyayangimu selalu .. yang tentunya tak bisa kusebutkan satu persatu. Karena kutahu banyak orang yang menyayangimu, mencintaimu dan merindukanmu …
               Sayang … Salamku juga teriring buat teman-teman sekelas dulu. Aku tetap merindukan mereka. Aku tetap ada di hati mereka, sampai kapan pun jua. Aku selalu menyayangi mereka. Sayangku kepada mereka, sampai kini tak bisa kuungkap dengan kata-kata selain hanya bisa berdoa semoga masih ada harapan untuk bersua. Masih ada harapan untuk bersama-sama lagi, dan masih ada harapan untuk berbagi cerita seperti dulu lagi …
               Sayang … Sampai kini aku masih mencintaimu, menyayangimu selalu, walaupun sesungguhnya aku juga tahu aku kini bukan yang seperti dulu lagi … Aku kini sudah punya orang lain, suamiku, yang pernah berjanji akan menyangiku selalu .. akan membahagiakan aku sampai maut memisahkan kami ………
                Sayang … Aku ingin sekali meneleponmu … aku ingin sekali menanyakan kabar beritamu… Aku ingin sekali mendengar suara emasmu itu … dan aku ingin sekali melihat kau tersenyum layaknya seperti dulu … Melihat kau tertawa … ah, betapa indahnya itu semua. Aku sering bertanya, akankah keinginanku itu bisa terwujud …
                Aku kini seakan kehilangan kontak denganmu … Padahal kita selalu ada di bumi yang sama. Aku di sini kau disana … Kapan pun bisa bersua. Persuaan itulah yang kutunggu selalu, meski terkadang aku harus menyadari statusku kini adalah ibu rumah tangga, isteri dari seorang pria bernama Suhan …
                Tapi sekali lagi aku katakan sayang … Hidup boleh berbeda, tapi rasa itu tetap akan sama. Rasa memiliki … Rasa menyayangi … dan rasa saling membutuhkan satu sama lain … antara wanita dan pria … antara jantan dan betina …
                 Sayang … Berdosakah aku bila sepintas mengingatmu tanpa melupakan kewajiban dan tang gung jawabku sebagai isteri dari Mas Suhan … Berdosakah aku sekiranya setelah kutulis isi hatiku ini tetap kubaca sesekali tanpa sepengetahuan suamiku … Walau aku yakin dia bisa mengerti dan mem ahami betapa hubungan kita dulu bagaikan kisah Romi dan Yuli …
                  Sayang … Berdosakah aku bila suatu saat aku tiba-tiba ingin bertemu denganmu … mencu rahkan seluruh hati ini agar melegakan diriku … Berdosakah aku bila suatu hari nanti aku tiba-tiba ingat kamu dan mengundangmu untuk datang bertandang ke rumahku … Berdosakah aku bila aku kini masih menyayangi dan mencintaimu …
                   Sayang … cintaku kepadamu tak pernah surut. Cintaku padamu tak pernah lekang oleh panas. Cintaku padamu tak pernah  lenyap dari hatiku. Kau hadir di saat kuhadir. Kau tertawa di saat aku ter tawa dan kau  selalu menghibur di saat kuperlu menghibur … menghilangkan segala pikiran yang mem bebani dan menghilangkan segala penat yang mendera … melenyapkan onak curiga demi melenggangkan tali kasih sesama kita …
                   Sayang … kalau kau marah, marahlah kepadaku … kalau kau ingin menangis, menangislah di hadapanku … dan kalu kau ingin lari dariku, jangan kau lakukan itu. Karena aku tak ingin kau dari lari dari hidupku. Hidupmu adalah hidupku juga. Hidupku adalah hidupmu juga. Hidup kita adalah kisah abadi yang akan selalu dikenang sampai akhir hayat nanti. Sampai kita tua renta … sampai kita berpisah dari alam serba fana ini …
                   Sayang … Jangan kau benci diriku … jangan  kau dendam kepadaku … jangan pula kau ungkit-ungkit masa lalu kita … Biarlah masa lalu itu untuk kita kenang cuma berdua …Biarlah masa lalu itu mele genda . Menjadi pelajaran berharga bagi generasi setelah kita … sebuah generasi yang berjalan di jalan yang benar dan diridhai-Nya … sebuah generasi yang selalu melihat sesuatu dengan kacamata yang be nar … sebuah generasi yang selalu menebarkan kebaikan kepada sesama, tanpa pandang suku, tanpa pilih kasih dan beda rupa …
                    Sayang …   sebelum kuakhiri coretan lepas ini .. izinkan aku menyampaikan sebuah pantun buatmu … pantu ini anggaplah kado spesial buatmu … anggaplah aku ada di sampingmu ..  anggaplah sebagai pengobat rasa rinduku kepadamu, yang bisa datang menghampiri, sulit rasanya mencari obat lain sebagai pengganti …. “

                 “Jalan-jalan ke Surabaya
                   jangan lupa membawa gergaji
                   sekali cinta tetaplah cinta
                   jangan membenci sampai kan mati …

                           Naik perahu berdua ibu
                           ikut juga si buah hati
                           jauh dekat sama kurindu
                           itu tandanya cinta dibawa mati …

                                 Sore hari bermain layang-layang
                                 ramai nian yang menyaksikan
                                 walau enak hidup di negeri seberang
                                 masih kan enak saling berdekatan …

                                       Pergi  ke pasar membeli ikan
                                       tiba di rumah pintu terkunci
                                       ada salah tolong maafkan
                                       agar diri kembali fitri …

                                            Naik opelet bersama kawan
                                             turun dekat lampu merah
                                             mari kita sama bersalaman
                                              lupakan dendam dan rasa amarah …

                                                   Asyik nian main di pantai
                                                   bersama si dia lupa daratan
                                                   agar kita hidup bersantai
                                                   saling sapa dan mengingatkan …

                                                              Buah duku buah durian
                                                               dimakan berdua di dalam kamar
                                                               kenangan baik jangan dilupakan
                                                               biar hidup tidak kesasar …

                                                                        Naik tangga ke atas bukit
                                                                         turun lagi capek nian
                                                                         sama sehat sama sakit
                                                                         biar kita tak saling lupakan …

                                                                                          Beli kerupuk beli kempelang
                                                                                          beli juga roti sepanci
                                                                                          mohon diri duhai tersayang
                                                                                           lain waku bersua lagi …”

***        

II
USAI membaca buku harian sang buah hati, Nile, yang  ‘menyengat’ dada dan hati, Bu Rustam bergegas kembali ke kamarnya. Wanita berparas keibuan ini tampak tak kuasa menyembunyikan rasa sedihnya. Dia rebahkan tubuhnya di atas pembaringan.
“Ya Allah,” bisiknya, “Berikanlah aku petunjuk untuk mengatasi semuany a ini.” Bu Rustam berulangkali mengulangi ucapannya itu, baru berhenti mengulangi setelah suaminya berpamitan untuk meneruskan lemburnya malam ini.
Di luar, malam terang benderang. Bulan bersinar terang, walaupun bintang-bintang gemerlap menghiasi angkasa, tak terhitung jumlahnya. Angin bertiup lambat. Tak ada tanda-tanda hujan bakal turun. Langit cerah. Hewan piaraan seperti anjing dan kucing berjalan melenggang ke sana kemari. Ada seorang diri, berdua dan bahkan lebih dari tiga. Berkejar-kejaran, seolah riang menyambut malam yang terang cemerlang.
Dari kejauhan, persis di depan sebuah warung kelontongan, beberapa lelaki asyik mengobrol, berkelakar dengan mengenakan kopiah, sebagian  pakai sewet dan sebagian lagi bercelana panjang. Kepulan asap rokok terlihat melingkar, lalu terurai ditiup angin. Sesekali terdengar derai tawa dan saling menyindir satu sama lain.
Bu Rustam baru masuk rumah kembali setelah mobil  suami tercinta melesat lambat melewati pepoho nan dan warung kelontongan yang selalu ramai disinggahi  sejak pagi, siang hingga malam hari. Dia pergi ke belakang untuk mengambil air wudhu’. Ingin rasanya dia cepat-cepat menunaikan salat Isya’ sendiri an di kamarnya.  Selain lebih tenang, leluasa berdoa agar Dia memberikan jalan terbaik buat Nile.
Pintu kamar dibiarkan tak terkunci. Sesampainya di kamar, Bu Rustam membentangkan sajadah, menge nakan mukena, menghadap kiblat dan sembahyanglah ia. Khusyuk nian dia salat kali ini. Lebih khusyuk dari malam-malam sebelumnya.Selain surah Al-Fatihah, bacaannya adalah surah-surah pendek semisal Al-Ikhlash, An-Naas dan Al-Ashr.
Setelah mengucapkan salam, kiri dan kanan, Bu Rustam menengadahkan kedua tangannya, lalu meman jatkan doa agar diberi  kesehatan sekeluarga. Rezeki ditambahkan dan barokah, selalu dalam perlindu ngan-Nya, dijauhkan dari bala dan bencana, serta dientengkan saat melangkahkan kaki ke depan.
“Ya Allah,” katanya kemudian, “Entengkanlah jodoh anakku Nile, Ya Rob. Bukakanlah hatinya agar tetap optimis melangkah ke depan. Berilah dia kesabaran menghadapi segala musibah. Berilah dia kelapangan hati  saat menghadapi tantangan. Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, mohon pertolongan-Mu ya Allah. Kalau memang dia jodoh sama BiJe, tak mengapa Engkau jodohkan. Aku ikhlas ya Allah. Aku ingin melihat hidupnya bahagia. Masa depannya yang cerah ceria …”
“Yang lebih penting lagi ya Allah,” ucap Bu Rustam sambil berurai air mata, “dia sudah menemukan teman setia, pendamping hidup dan bisa membina rumah tangga yang baru, sakinah mawaddah wa rahmah. Rumah tangga yang penghuni di dalamnya adalah hamba-hamba-Mu yang saleh, yang selalu menaati-Mu. Rumah tangga yang balasannya tidak lain adalah surga seperti yang telah Engkau janjikan …”
“Amin, amin ya robbal alamin …”
Dari kamar Sugeng dan Nile, Noviani sudah berdiri di depan pintu kamar bibinya, Bu Rustam. Dia ingin ketuk, tapi pintu itu ternyata tidak dikunci. Ia buka pelan-pelan. Ia tengok sang bibi sedang merapikan peralatan salat.
“Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalam …” Jawab Bu Rustam, sahdu nian suaranya. Berpesan kepada keponakannya itu jangan lupa menutup kembali pintu kamar.
“Bi,” ucap Noviani seolah tak sabaran. Belum lagi duduk, biasanya duduk di tepi tempat tidur bibinya, dia sudah ‘nyerocos’ lebih dulu.  Sebelum ini dia biasanya baru ngomong setelah Bu Rustam yang memancingnya untuk bicara sepatah dua patah kata.
“Sugeng ya,” kata Bu Rustam seraya menuangkan air putih ke delam gelas, dia minum separo, dan sisanya ia taruh dekat lemari kecil lampu tidur.
“Bukan Bi. Tapi soal Mas BiJe,” jelas Noviani.
Bu Rustam kaget sesaat, setelah itu tenang kembali usai kemenakannya itu menyatakan BiJe pulang besok pagi.
“Enggak balik lagi, Vi, katanya?” Bu Rustam penasaran.
“Mas BiJe tak ngomong soal itu, Bi. Cuma bilang ke Novi bahwa dia akan pulang karena masa pelatihannya telah selesai,” terang Noviani.
“BiJe ngomongnya kapan, Vi?”
“Tadi siang Bi. Sepulang dari mengantar Novi dari belanja di pasar.”
“Ooo gitu ya. Nile udah …?”
“Udah dikasih tahu, Bi. Tapi waktu dikasih tahu, dia cuma senyum-senyum saja.”
“Lho kenapa?”
“Mbak Nile nya sudah dikasih tahu duluan oleh BiJe. Kecolongan aku,” gurau Noviani.
“Oooo …” Lega jug Bu Rustam mendengarnya.
Dia kemudian mengajak kemenakannya itu rebahan di dekatnya. Dia hendak mengatakan sesuatu. Inilah saatnya, saat yang tepat untuk menanyakan isi hati Noviani yang paling dalam. Dia berharap semua ber jalan lancar. Tidak ada yang merasa tersakiti. Sama-sama senang, puas dan lega.
“Vi …”
Ya Bi,” kata Noviani membalas pelukan hangat sang bibi dengan kecupan hangat di pipi kanan dan kiri.
“Gimana perjalananmu tadi?”
“Biasa sajalah, Bi. Naik motor berdua, pulangnya diantar sampai teras …”
“Bukan itu maksud bibi,” kata Bu Rustam sambil menatap lembut bola mata Noviani. “Kamu senang kan?”
“Maksud bibi, jalan-jalan tadi itu?”
Bu Rustam menganggukkan kepalanya.
“Senanglah Bi. Soalnya, Mas  BiJe itu orangnya baik,” aku Noviani.
“Dia enggak ngomong sesuatu, Vi sama kamu?”
“Ngomonglah Bi,” ujar Noviani dengan raut muka ceria. Malah sempat ketawa geli.
“Ada yang lucu ya?”
“Iya Bi,” kata Novi, “Soalnya Mas BiJe bilang gini ke Novi. Vi, apa beda motor dengan opelet. Lantas Novi bilang, kalau opelet rodanya empat, terus turunnya bayar ongkos. Kalau motor rodanya dua, naik kan enggak bayar kecuali numpang mang ojek.”
“Terus apa kata BiJe?”
“Salah dong, kata Mas BiJe. Ngerem motor sebentar, lalu bilang gini ke Novi … Vi, beda motor sama opelet cuma dikit aja. Terus motor melaju lagi. Mas BiJe enggak bilang apa-apa lagi …”
“Kamu enggak nanya gitu Vi?” Cecar sang bibi.
“Tanya dong, Bi. Mas BiJe, bedanya apa dong?”
Mas BiJe ketawa. Lalu bilang begini … “Kalau opelet yang pegang kemudinya kan sopir opelet. Nah, kalau motor Mas Bije yang nyetirnya.”
“Ah Mas BiJe, ada-ada saja. Karena terus ketawa, Noviani kesal juga Bi.  Lalu Novi cubit pinggangnya. Mas BiJe bilang … awww .. awww .. geli.”
“Jatuh dari motor enggak?”
“Enggak Bi. Soalnya, Novi cubit pas motor sudah berhenti persis di depan pintu pagar rumah.”
“Ooooo … seperti itu.” Bu Rustam cuma tersenyum kaget.
“Ada yang lebih lucu lagi, Bi,” lanjut Noviani bersemagat. Saking bersemangatnya, dia bangun dari rebahannya, duduk bersila dengan muka saling berhadapan dengan bibinya.
“Oh ya. Apa itu, Vi?” Ibu satu anak ini duduk bersila juga awalnya. Tapi mengubah posisi tengkurap dengan dagu menekan bantal guling.
“Gini Bi. Waktu belanja di pasar, Mas BiJe tanya ke Novi. Tanyanya gini .. Vi, kamu enggak beli ikan?’
“Lalu apa jawab kamu, Vi?” Bu Rustam mendongakkan wajahnya, menunggu jawaban dari Noviani, yang seolah tengah mengatur cara bicaranya agar  tak merembet ke sana kemari.
“Enggak Mas. Di rumah sudah ada. Bibi yang beli kemarin. Supaya enggak kenapa-kenapa, setelah disiangi, dicuci bersih, dan itu ikan dimasukkan ke dalam kulkas …”
“Apa kata BiJe?”
“Ya sudah. Tapi Mas ingin kamu yang pilih ikannya. Nanti Mas BiJe yang bayar. Lalu Novi bilang, enggak usah Mas. Di kulkas udah banyak. Lalu Mas BiJe bilang … ya simpan lagi, atau taruhnya di kolam atau apalah … supaya enggak pada mati ikannya.”
“Kamu terima tawarannya?”
“Ya Bi, akhirnya. Enggak enaklah kalau aku tolak. Orang ikhlas kasih, kalau enggak terima, itu namanya menolak rejeki. Betul kan Bi?”
“Betul sekali Vi. Cuma bibi jadi penasaran deh …”
“Penasaran kenapa Bi?”
“Lucunya dimana ya?”
Noviani bilang, “Lucunya Bi. Waktu Novi pilih ikan, ambil sendiri, meloncat ikannya Bi …”
“Lalu kena orang apa?”
“Ya, kenalah Bi. Lucunya ya Bi. Orang itu kan pakai sarung. Jadi itu ikan meloncat masuk ke dalam sarung tuh orang …”
“Marah kagak orang itu, Vi?”
“Enggak Bi. Cuma senyum-senyum aja sambil bilang gini … ‘Mungkin nih ikan pingin kawin.’ Ketawalah kami semua, termasuk Mas BiJe dan penjual ikan segar itu …”
“Emangnya ikan apaan sih, Vi?”
“Ikan Nila, Bi.”
“Okkk oooo …” Bu Rustam baru mengerti sekarang. Tapi yang lebih penting, inilah saatnya dia perlu bantuan Noviani.
Bantuan apa?
***   
 
III
SELAMA berada di dalam mobil yang mengantarkannya ke bandara, BiJe lebih banyak menghabiskan waktu bercanda ria dengan Sugeng.  Saling  bertepuk tangan, cium-ciuman pipi dan berpelukan mesra.
“Om BiJe enggak kemari lagi ya?” Tanya Sugeng dengan raut muka ingin tahu.
“ Kemarilah tentu,” bisik BiJe. Sugeng terkekeh-kekeh  karena telinganya merasa geli lantaran kesentuh mulutnya BiJe saat berbisik.
Nile yang menyopir ditemani Noviani ikut-ikutan geli menyaksikan ulahnya Sugeng.
“Geng … Sugeng!” Sapa Noviani.
“Ya Tante Novi. Sugeng disini …” Jawab Sugeng mendekatkan kedua pipinya seolah minta dicium Noviani.
“Udah bilang belum sama Om BiJe nya” Sahut Nile seraya membelokkan mobil ke kanan melewati jalan tol.
“Bilang apa mama?” Gantian pipi Sugeng beralih mendekat ke pipinya Sang Mama.
“Bilangin selamat jalan kepada Ok Om …” Jelas Sang Mama.
“Belum Ma?”
“Kenapa belum sayang?”
“Karena Om BiJe nya belum naik pesawat …”
Ha ha ha ha …
Sugeng tiada henti-hentinya membikin BiJe, Noviani dan Nile ketawa terpingkal-pingkal. MIsalnya, saat mobil berhenti di lampu merah, dia tanya sama BiJe, “Kenapa banyak kendaraan yang berhenti semen mereka yang berjalan kaki melenggang seenaknya melangkahkan kaki …”
Oleh BiJe dijawab, “Kendaraan berhenti bila yang menyala lampu merah. Baru  boleh boleh berjalan ma nakala  lampu hijaunya menyala. Sedangkan pejalan kaki yang tadinya enggak boleh menyeberang ka rena lampu  merah , sekarang diperbolehkan karena lampu sudah berubah jadi hijau …”
Apa jawab Sugeng? Sederhana saja. Dari pada repot nyalakan saja lampu kuning. Sang Mama bilang “Enggak bisa sayang”, dibalas Sugeng dengan jawaban … “Kalau enggak bisa buang saja Mama lampu merahnya …”
Mendengar jawaban polos dari sang buah hati, Nile kehabisan kata. Tapi buru-buru BiJe menimpali, “Kalau menurut Oook Om …Sugeng benar, Mamanya juga benar.”
“Lho, Tante Novi apa enggak benar Om?” Sugeng garuk-garuk kepala.
“Benar juga sayang,” kata Noviani dengan hangatnya mencium kedua belah pipi Sugeng.
“Benarnya Sugeng dimana Te?”
“Walah-walah … dimana ya?” Noviani jadi ragu menjawabnya. Soalnya, dia enggak terpikir kalau Sugeng bakal tanya itu segala kepadanya.
“Benarnya, kalau menurut Om, ya itu, nyalakan saja lampu kuningnya.”
“Salah Om BiJe.” Kilah Sugeng.
“Yang benarnya apa sayang. Kok sampai ngotot gitu sama Om BiJe,” sahut Sang Mama.
“Yang benarnya Om … Om mau pulang … Sugeng sama Mama dan Tante Novi juga pulang …”
Ha ha ha ha …
Ketika ada seorang penjaja koran menawarkan koran kepada mamanya, Sugeng bilang enggak usah beli, tapi Nile tetap membelinya. Setelah memberikan beberapa lembar uang kertas ribuan, kaca mobil ditu tup lagi, dan itu koran diberikan kepada BiJe.
“Om suka koran ya?”
“Baca beritanya saja,” kata BiJe saat hendak membuka lembaran kedua koran.
“Kenapa Om?”
“Dengan membaca berita kita tahu isi dunia …”
“Kalau Sugeng enggak suka Om,” jawab Sugeng yang masih kesal dengan ibunya yang tetap ngotot membeli koran.
“Kenapa sayang?” Tanya Sang Mama.
”Kalau baca koran, Sugengnya dikemanain Ma?”
Ha ha ha ha …
“Y a baca koran juga yang …”
“Lalu bercandanya kapan dong?”
Priiiiit …
Tak lama setelah Sugeng ikut-ikutan membaca koran dalam posisi miring terbalik, mobil secara perlahan mulai memasuki kawasan bandara. Di pelataran parkir, banyak kendaraan terparkir dengan rapi. Mulai dari roda dua hingga kendaraan roda empat.
Tak jauh dari lokasi parkir, berjejer rapi beberapa unit taksi sedan yang siap mengantar penumpang ke tempat tujuan. Suasananya teduh karena dinaungi aneka pepohonan rindang di kanan dan kiri jalan. Be berapa bangunan  besar  berdiri kokoh di sekitarnya, mulai dari kantin hingga tempat penjualan hape, cinderamata dan oleh-oleh khas daerah.
Sugeng yang turun lebih dulu berlari riang ke sana kemari. Berdiri di tanah lapang, joget-joget dan ber keliling sebelum akhirnya kembali menemui ibunya yang memanggilnya sedari tadi. Bersama BiJe, mere ka sama-sama memasuki  pintu masuk ruang tunggu bandara. Sudah ada beberapa penumpang yang du duk-duduk sambil membaca majalah, koran dan buku.
Bersama Noviani, Sugeng ingin berjalan mengelilingi ruang tunggu dan keberangkatan pesawat. Selain tentunya mencoba es krim dan aneka jajanan yang lain tapi sangat dicari anak-anak, seperti hot dog, hamburger, pizza dan roti bakar. Sedangkan BiJe mengambil tempat duduk menyamping paling belakang, Nile duduk di dekatnya, menemani.
“Pesan ya?” Tawar BiJe.
“Enggak usah Je. Masih kenyang,” ucap Nile yang mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya.
“”Kita minum ini aja ya Je. Pasti mau kan kamu?”
BiJe mengangguk, walaupun kepinginnya dia memesan saja. Dia buka tutup botol air mineral itu, Nile me nyodorkan gelas plastik putih yang ia ambil juga dari dalam tas tenteng-nya. Ta situ tak begitu besar. Mudah ditenteng ke mana pergi. Enak dipandang, ringan dibawa ke mana suka.
“Terima kasih ya Nil,” ucap BiJe. Ia minum beberapa teguk, kemudian melihat jam tangannya. “Masih ada waktu setengah jam lagi Nile,” ucapnya.
BiJe mengisyaratkan Nile terbuka padanya. Bicara blak-blakan, seperti ketika mereka masih bersekolah di es em a dulu. Nile yang ada dihadapannya saat ini, dia harapkan tetap ceria dan penuh semangat. Mau dan tak sungkan diajak bercanda, kendati dari segi usia, sudah tidak muda lagi tentunya.
“Kamu masih sering ke sini kan Je?” Nile mengawali pembicaraannya setelah keduanya diam beberapa saat sembari menyaksikan lalu-lalangnya para pengantar dan penumpang mengambil tempat dudu yang telah disediakan.
“Tentu, apalagi yang ngundang nanti kamu ya Nil,” seloroh BiJe.
“Ngundang apaan?”
“Ngundang apa saja.  Nyunatin Sugeng, selamatan rumah baru dan ….” BiJe tak meneruskan ucapannya karena dia keburu minum lagi setelah sempat segukan.
“Dan apaan, Je?” Nile penasaran. Ingin rasanya dia mencubit pipi lelaki yang pernah ada di hatinya itu.
“Punya gebetan baru …”
BiJe ketawa lepas.
“Adowww …!”
BiJe meringis kesakitan karena tangannya dicubit Nile barusan. Kendati pelan, namanya dicubit tetaplah sakit rasanya, dan meninggalkan bekas merah tapi sampai tak berdarah.
“Sori ya Je. Sakit enggak?”
“Sakit sebenarnya. Tapi karena yang cubit kamu jadi enggak terasa sakitlah …” Ujar BiJe separo bercanda.
“Genit ah …,” kata Nile, gantian minum air yang tersisa dari gelasnya BiJe.
“Enggak Nil. Yang aku rasakan memang begitu, kok.”Terang BiJe.
“Masak?”
BiJe mengangguk. “Betul Nil. Mungkin kita sudah saling kenal. Begitu dekat. Kamu kan tau, waktu kita masih satu sekolah dulu, pinggangku sering kamu cubit. Ingat enggak?”
Nile mencoba mengingatnya.
“Ingat kan?”
“Sedikit, Je,” aku Nile menahan ketawa. Tanpa sengaja merebahkan kepalanya di pundak BiJe. BiJe tak bereaksi. Nile yang memulainya.
“Maaf ya Je, kelupaan,” kata Nile tak enak di hati. Walau bukan orang asing lagi, statusnya kini yang janda beranak satu, imej negative  tak bisa dipandang sebelah mata.
“Malu ya?!” Pancing BiJe.
“Enggak enak dilihat orang, Je,” terang Nile, buru-buru mengambil sesuatu di dalam tasnya. Bolu cokelat berwadahkan  tupperware. Dia buka …
“Awas kalau enggak dimakan ….”
BiJe mengambil sepotong bolu cokelat itu. Ia gigit dan rasakan. Eeeem …
“Enak kali. Kamu yang bikin ya Nil?”
“Bukan …”
“Mamamu?”
“Juga bukan …”
“Noviani barangkali, atau kamu beli di toko kue.”
“Bukan Je.”
“Lalu siapa?”
“Mamanya Sugeng,” ucap Nile ketawa lepas.
“Aduh Bije, ah …”
Gantian BiJe yang mencubit lengan Nile. Namanya juga lelaki, walaupun pelan cubitannya, tetap saja kuat. Bukan cuma menyisakan warna merah  di lengan, tapi mengeluarkan sedikit darah.
“Aduh … maaf ya Nil.” Bergegas BiJe menghampiri seorang petugas bandara. Dia meminta obat merah, kapas balutan dan penutup luka.
BiJe cemas. Sedangkan Nile tenang-tenang saja. Dia menahan aliran darah itu dengan tissue. Ternyata manjur, karena darah tidak mengalir lagi dari lengan Nile. Nile lega, cuma dia tak pula tahu kalau BiJe justru khawatir sekali dan merasa bersalah karena telah melukai  lengan lembut orang yang dia sayangi itu.
“Nah, sekarang kita coba dengan ini Nil,” kata BiJe. Dia lepaskah tissue, dia teteskan obat merah, kemudian dia tutup dengan kapas dan pembalut luka di atasnya.
“Eeem … mudah-mudahan siiip,” ucap BiJe kemudian.
“Trim’s ya Je.”
“Akulah yang berterima kasih kepadamu, Nil. Tak sangka aku kan begini jadinya …”
“Udah Je,” bisik Nile seraya memeluk hangat BiJe. Semula kaget, lalu tersenyum manis disaksikan No viani dan Sugeng yang baru saja tiba dari membeli kerupuk kempelang di mini market.
***
IV
“KUTULIS surat ini hanya untukmu. Aku, BiJe, teman sekelasmu semasa es em  dulu, sudah meninggalkan kota ini begitu kau baca saat ini …
Nile … sengaja surat ini kutulis sebagai tanda sayangku kepadamu. Tanda belasungkawaku kepadamu setelah ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang terdekat, yang kau cinta, pemimpin keluarga, suamimu yang menurut hematku, pilihan terbaikmu …
Aku tak bermaksud menambah rasa sedihmu. Aku ingin suratku ini kau baca saat kau tengh mengaso, bersantai d na tenang, sendirian. Aku hanya ingin suratku ini kau baca dengan ikhlas dan lapang dada. Aku ingin kau baca surat ini dengan pikiran tenang dan penuh persahabatan. Aku ingin kau baca surat ini dengan perasaan senang, riang gembira dan suka cita.
Nile … sengaja surat ini kutulis agar hati dan perasaanku tenang. Anggaplah surat ini aku yang lagi ada di dekatmu. Bertegur sapa, bercanda, saling curhat,  berbagi cinta dan pengalaman, serta obat penawar rindu karena sudah lama tak bertemu. Anggaplah surat ini aku yang lama menunggu di depan pintu, lalu kau buka dan kita saling melepa rindu.
Nile … sebelumnya maafkan aku. Tak elok rasanya kuberkirim surat kepadamu padahal baru kemarin rasanya kau kehilangan suamimu. Tapi aku tak kuat rasanya untuk tidak menulis surat kepadamu. Se bab, kalau tidak kutulis, entahlah apa dan bagaimana keadaanku kini. Terus terang, kini aku puas setelah kau lepas aku di bandara. Kau lepas aku pulang ke kampung halamanku.
Dulu, aku tak tahu kemana aku harus mencarimu. Tapi, karena kesibukanku sehari-hari, aku tak pula hiraukan itu. Tapi, terus terang setelah aku bertemu kamu, berat rasanya ingin berpisah dan pergi dari sisimu. Terlebih setelah kau kini sendirian lagi, tanpa suami, kecuali Sugeng, anakmu yang lucu itu …
Nile … tahukah kau saat kau terluka oleh tanganku, kubalut lukamu dengan kapas pembalut. Sejak itu lah hatiku bergetar. Ingin kupeluk dirimu saat itu. Tapi sudah keduluan kau. Aku merasa pelukan itu se makin membuatku lebih sayang lagi kepadamu. Getar-getar asmara saat kita masih sekolah dulu seolah terulang kembali …
Nile … Aku katakan sejujurnya kepadamu .. aku sayang kamu. Aku cinta kam. Ingin kuungkapkan pera saan hatiku ini padamu saat di bandara. Namun tak kulakukan karena tak ada kesempatan buatku un tuk mengutarakan isi hatiku. Tapi sudahlah … Yang penting, lewat surat ini kupaksakan diriku untuk berkata sejujurnya kepadamu. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi …
Seperti dulu apa? Jalan berdua, kemana-manapun selalu berdua. Tentu, setelah aku datang kesini lagi. Tempatmu yang baru, kediaman orang tuamu. Aku hanya ingin kita bisa bersama-sama lagi, walaupun keadaannya kini sudah jauh berbeda. Kau ibu rumah tangga dengan satu anak, sementara aku masih seperti dulu. Masih perjaka ting-ting, belum menikah dan merasakan nikmatnya berumah tangga.
Nile … aku ingin kau membuka pintu buatku. Kendati aku percaya itu tak sesulit bila kuminta bukakan dengan wanita lain selain dirimu. Tapi aku merasa perlu karena sebagai tanda hormatku  kepadamu, sebagai tanda I’tikad baik dariku kepadamu, bahwa aku benar-benar ingin ada di hatimu …
Nile … aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Apakah kau juga begitu, sama denganku. Menyayangiku dan mencintaiku. Aku akan merindukanmu selalu, sampai kapan pun. Aku harap kau juga merindukanku. Rin dukanlah aku barang sesaat, karena itu penting buatku, agar hatiku tenang dan dapat mencurahkan rasa sayang kepada orang yang tersayang …
Nile … sebelum kuakhiri surat ini, izinkanlah aku untuk  mengatakan sesuatu kepadamu … “Aku cinta padamu …” Aku berharap kau menerima cintaku, dan aku tidak berharap kau menolak cintaku kepa damu …  Sebab, cintaku kepadamu ini kupatrikan buat kita bertiga; aku, kamu, dan Sugeng, anak semata wayangmu itu ..
Teriring salam buatmu seorang …
Bije …”
Nile melipat kembali surat itu. Surat ‘istimewa’ itu ia terima dar Noviani sesaat setelah BiJe naik pesawat dan hendak lepas landas menuju kota empek-empek Palembang. Sore harinya ia baca di sela-sela Novia ni menemani Sugeng bermain di halaman depan rumah.
Hatinya berbunga. Ia simpan surat itu. Ia masukkan ke laci lemari pakaiannya. Kemudian ia mengambil air wudhu’ untuk menunaikan salat Ashar. Dia ingin berterima kasih kepada Allah SWT, yang telah mem pertemukannya kembali dengan BiJe, teman sekaligus pacar ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Usai salat dia memanjatkan doa, semoga tetap berada di jalan yang lurus dan diridhai-Nya. Selalu men dapat taufik dan hidayah, menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur dan dimudahkan segala urusan.

Nile juga memohon pertolongan-Nya, bila memang jodoh, mohon disa tukan denganlelaki pujaan hatinya, BiJe. Tapi bila tidak, mohon dibe rikan jalan terbaik dari-Nya.Sebab, hanya Dia yang bisa memberikan jalan terbaik buat hamba-hamba-Nya.


Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk, namun belum sempat Nile membuka pintu, sang mama sudah keduluan masuk. Dia tutup pintu kamar itu, lalu menghampiri si anak yang lagi asyik merapikan pera latan salat.
“Gimana lukanya say?” Goda sang mama dari depan cermin hias, tempat biasa Nile berhias setiap pagi.
“Udah enggak sakit lagi, Ma.” Jawab Nile.
“Coba mama lihat dulu lukanya …”
Nile membuka perban kecil yang menempel di lengannya. Sang mama melihatnya dari dekat dan ber kata … “Udah kering. Tak lama lagi sembuh,” ucap Bu Rustam, lega tengok si buah hati lebih ceria sore hari ini.
“Kata Novi, BiJe titip surat ya buatmu say ..?”
“Betul Ma,” jawab Nile tersipu malu.
“Apa dong isinya kalau boleh mama tahu?”
“Ah mama, mau tahu aja …”
Nile memeluk hangat sang mama. Pelukan itu, saking erat dan hangatnya, nyaris membuat Bu Rustam jatuh dari atas tempat tidur. Untunglah, dia segera turun dan berdiri tanpa melepaskan pelukan dari Nile.
“Aduh anak mama,” ucap Bu Rustam sambil menatap kedua mata Nile, lalu menempelkan jari telunjuk di hidungnya. Adu kening dan hidung.
“Apa kata BiJe, yang?” Tanya sang mama seraya menuntun Nile kembali duduk di atas tempat tidur.
“Malu dong mama bilanginnya. “ Nile membenamkan kepalanya di pelukan sang mama.
“Malu kenapa?” Ini kan mama, bukan orang lain. Kalau orang lain wajar kamu malu sayang,” kata Bu Rustam.
“Dia cinta Nile, mama.”
“Alhamdulillah,” ucap Bu Rustam. Ingin menangis rasanya ia, saking senang dan terharu, mendengar ucapan Nile barusan.  Tanpa terasa bola matanya basah digenangi air mata. Nile sempat melihatnya …
“Mama menangis ya?!”
“Iya. Karena mama senang, yang.” Ucap sang ibu memeluk kian erat si anak sambil  mencium lembut keningnya.
“Tahu kenapa mama senang, yang?”
“Persisnya enggak tahu, Ma.” Jawab Nile menyeka lelehan air mata sang bunda dengan jemari tangannya yang masih lentik seperti ketika masih remaja dulu.
“Mama senang karena antara kamu dan BiJe satu rasa,” ujar Bu Rustam, tersenyum bahagia.
“Kok mama tahu satu rasa …”
“Karena mama telah baca buku catatan harianmu. Ternyata kamu masih mencintai BiJe…”
Nile kaget, setelah itu mengembangkan senyum.
“Maafkan mama ya sayang. Mama telah lancang membuka catatan harianmu. Terus terang mama tidak sengaja membuka dan membacanya …”
“Ya deh, maafnya diterima …”
“Sejak mama baca catatan harianmu itu, yang. Mama jadi kepikiran terus dengan kamu, juga dengan BiJe. Soalnya, mama kuatir nak BiJe sudah …”
“Belum Ma. Dia belum berumah tangga. Masih perjaka, ting-ting lagi,”  kata Nile ketawa lebar. Karena pintu dan jendela kamar ditutup, lebarnya ketawa Nile tak sampai terdengar dari luar.
“Pacar?”
“Juga belum punya mama …”
“Syukurlah kalau begitu, “ kata ibunya Nile, lega.
“Cuma Nile bingung sekarang, Ma.”
“Lhooo, kenapa jadi bingung?”
“Mau balas ini surat atau diamkan aja dulu ya Ma.”
“Gampang itu. Istirahatlah dulu dengan tenang. Biarkan BiJe mu itu mengangkasa dalam pesawat sekarang,” saran sang mama.
“Lalu, kalau kutelepon Ma?”
“Walah-walah, apa kamu tak ingat aturan di dalam pesawat. Penumpang dilarang menelepon dan menerima telepon, apalagi menelepon saat pesawat mengudara.”
“Oh iya ya … Nile sampai lupa Ma, padahal usia Nile belum tua kan Ma. Kenapa ya Ma? Jangan-jangan kena lupus lagi …”
“Apa itu lupus, yang?”
“Lupus itu Ma singkatan dari lupa punya sendiri …”
“Oooo … bukan yang. Kalau menurut ibu, pengalaman ibu nih, itu karena kau terlalu fokus dengan sesuatu …”
“Dengan BiJe, Ma?”
“Betul … karena terfokus pada sesuatu atau seseorang itu biasanya yang lain akan lupa sendiri. Nah, itu yang terjadi padamu yang …”
“Bahaya enggak ya Ma?”
“Bahaya enggak bahaya yang …”
“Maksud mama?”
“Bahayanya kalau sampai lupa dengan anakmu dan orang tuamu. Tapi tidak apa-apa kalau itu justru menambah semangat hidupmu …”
“Ma ..” Nile berubah flamboyan, rada manja.
“Apa yang?”
“Tolong doanya ya Ma …”
“Tentu anakku … jangan kuatir. Mama akan selalu berdoa demi kebahagiaanmu selalu …” 
***
V
KRIIIIING …
Sugeng berlari dari ruang tamu saat menonton film Upin dan Ipin untuk menyambut telepon dekat jam gadang.
“Halo! Dengan siapa ini? Suaranya nyaring terdengar, sampai terdengar sang mama yang makan malam bersama di  meja makan dengan Noviani dan kedua orang tuanya.
“Dari siapa sayang?” Tanya sang mama.
Sugeng berlari kencang menemui sang mama yang hendak membawa peralatan makan untuk dibawa ke dapur, dicuci nantinya.
“Dari Om BiJe, Ma,” ucap Sugeng tampak riang setelah tahu yang menelepon barusan adalah BiJe.
“Enggak salah yang?” Nile ragu karena biasanya BiJe mengirim pesan singkat lebih dahulu sebelum menelepon. Sedangkan sampai malam ini tak ada SMS yang masuk ke HP-nya.
“Buruan angkatlah dulu Nil ya,” kata Bu Rustam, diiyakan oleh suaminya. “Tak eloklah kalau bukan kamu yang mengangkat itu telepon …”
“Rindu jangan kau tahan, Nil. Kalau kau tahan terus bisa sakit nantinya,” goda sang papa.
 “Ayooo … mama, mulai lagi ..”  Tangannya Nile ditarik paksa oleh Sugeng. Soalnya, BiJe memang tanya mamanya, bukan yang lain.
Gagang teleon yang tergeletak di meja telepon dengan sangat hati-hati  diangkat Nile, terdengar suara BiJe …
“Maaf Nile. Aku tak jadi berangkat hari ini. Ditunda sampai besok pagi. Katanya …”
“Rusak apa pesawatnya?”
“Persisnya aku kurang tahu. Kalau mau pindah pesawat. Kalau tidak mau pindah, menunggu sampai besok pagi …”
“Kamu sekarang dimana?”
“Di mess Nil. Lagi santai.”
“Kenapa enggak ke rumah dulu?”
“Maunya tadi gitu. Pas naik taksi kelupaan. Ya udah. Telepon ajalah kamu. Maaf ya.”
“Ya dimaafin.”
“Udah dulu ya. ‘Ntar nanti aku telepon lagi kamu. Mau kan?!”
“Maulah, Je.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Sugeng langsung peluk mamanya. Dia minta digendong dan duduk dekat opa dan omanya yang baru saja istirahat di ruang tamu. Sedangkan Noviani merapikan meja makan.
“Udah sampai yang?” Tanya sang mama, gantian menggendong sang cucu sebelum dipangkunya.
“Enggak jadi berangkat, Ma. Delay …”
“Jadi kapan berangkatnya?”
“Besok pagi …”
“Enggak diajak nginap aja disini Nil. Kamar sebelah kosong. Suruh aja Sugeng yang menemani. Mau kan Geng?”
“Maulah Oma. Beres … “Jawab Sugeng sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Tadinya mau mampir kemari. Tapi enggak jadi, lalu telepon Nile, biar puas katanya …”
“Bilang sama BiJe. Biar puas ketemu aja langsung. Jangan lewat telepon. Enggak puaslah kalau hanya lewat telepon. Betul kan Pa?”
“Betul kata mamamu itu Nil. Cuma mungkin nak BiJe nya enggak sempat aja. Bilang aja ke dia kalau enggak sempat enggak apa-apa kok … Papa enggak marah.”
Nile cuma tersenyum.
Hampir satu jam mereka menonton acara televisi. Sebuah lawakan, info terkini dan dialog ekonomi. Menyusul kemudian Noviani, belum sempat duduk, Sugeng merengek minta dipangku.
Lima menit berselang, Sugeng tertidur pulas. Lepas itu menyusul Pak Rustam dan isterinya masuk ke ka mar mereka untuk beristirahat. Di depan pesawat televisi hanya menyisakan Noviani dan Nile dengan Sugeng yang terlelap tidur.
Nile sengaja tidak masuk ke kamarnya. Ditemani Noviani, dia masih menungu telepon dari BiJe. Sampai jam setengah sepuluh, telepon yang ditunggu belum juga bordering. Noviani menguap, lalu tertidur de kat Sugeng yang ‘ngapar’ di hambal ruang tamu.
Saat rasa kantuk menyerang, telepon pun akhirnya berdering. Nile bergegas ke meja telepon. Benar, ternyata telepon itu berasal dari BiJe, lagi santai di kamar mess nya.
“Maaf ya Nil, terlambat.” Ucap Bije, mengaku tadinya bersama penghuni mess lain makan bersama di luar. “Jadi agak malaman baru pulang ke mess, dan baru sekarang bisa telepon kamu …”
“Udah dibilang tadi, mampirlah ke rumah. Kita bisa makan bersama. Mama masak gurami dan pindang patin lho, Je.”
“Sayang sekali ya Nil,” kata BiJe sambil memiringkan badannya ke kanan dengan HP menempel di telinga, sesekali di mulut.
“Udah baca suratku Nil?”
“Udah …”
“Gimana?”
“Gombal …”
He he he he …
“Nil, boleh enggak aku nanya sesuatu kepadamu?”
“Tanya apa?”
“Nile … Kalau aku bilang kepadamu “Aku cinta kepadamu” kaget enggak?”
“Enggak juga, Je.”
“Nah, sekarang kamu pasti kaget.”
“Belum tentu …”
“Benar belum tentu?”
“Benar kok.”
“Aku akan melamar kamu sesegera mungkin …”
Sesaat hening. Beberapa kali BiJe menyebut ‘Halo … halo … halo …” Enggak ada jawaban. Sampai kali yang kesepuluh baru ada jawaban.
“Maaf Je. Ada tikus lewat tadi. Gue terkejut jadinya,” ujar Nile pura-pura karena sebenarnya tidak ada tikus yang lewat di dekatnya. Dia cuma kaget saja. Tak percaya dengan omongan BiJe barusan …
“Nil. Kamu enggak apa-apa kan?”
“Enggak …”
“Tikusnya kemana?”
“Udah pergi, enggak tahu kemana,” jawab Nile geli sendiri. Tak tega rasanya dia membohongi BiJe. Tapi terpaksa ia lakukan karena bakal kena ledek dan olok-olok BiJe kalau diomngin yang sebenarnya.
“Nil …”
“Apa?”
“Giman menurut kamu. Misalnya suatu hari nanti aku melamarmu. Apakah lamaranku diterima atau  jus tru ditolak sama kamu?”
“Tergantung Je.”
“Kok bisa tergantung?”
“Kalau kamu cuma main-main doang, buat nyenengin aku doang, jelas aku tolak.Tapi kalau kau serius, ya aku tak bakalan tolaklah …”
“Alhamdulillah.”
BiJe lega mendengarnya. Dia bangun dari baringannya, lalu berjalan ke dekat jendela. Dilihatnya banyak bintang menghiasi angkasa.  Bulan bersinar terang. Angin bertiup lambat. Sesekali terdengar lolongan anjing.
“Je!”
“Ya say!”
Batuk-batul kecil Nile mendengar BiJe menyebut kata ‘sayang’ barusan. Walaupun bukan sekali ini dia mengatakan itu, malam ini keadaannya jauh berbeda.Sangat romantis, apalagi sang pujaan bakal melamarnya dalam waktu dekat.
“Kamu siap enggak yang dengan ucapanku barusan?”
“Melamar itu maksudmu Je?”
“Iya. Maksudku … kalau kamu siap, aku tak perlu berlama-lamalah untuk melamarmu. Bila perlu minggu depan, bulan depan atau dua bulan ke depan aku dan orangtuaku akan bertandang ke rumahmu …”
Nile berkeringat dingin. Mulutnya tiba-tiba terkatup rapat, ditolehnya Sugeng dan Noviani, keduanya tertidur pulas di ruang tamu. Jarum jam menunjuk ke angka sepuluh. Dentang loncengnya terdengar bergema nyaring sebanyak sepuluh kali.
“Yang …”
“Ya Je,” ucap Nile. Dari nada suaranya, ia tidak gugup lagi. Bicaranya sudah mantap seperti semula, membuat BiJe yakin dan lebih percaya diri.
“Siap ya?”
“Nanti aku bicarakan dulu dengan mama ya, Je. Tunggulah barang seminggu dua minggu. Berilah waktu buat mereka untuk menimbang dan memutuskan …”
“Oke yang. Aku akan tunggu …”
Nile merasa salah tingkah. Mendengar kabar gembira itu, ia bersikukuh untuk tidak gembira secara ber kelebihan.  Kendati dalam hatinya ia ingin sekali memeluk BiJe, tak mau ia lepaskan sampai lamaran itu datang menghampiri.
Sedangkan BiJe tiada henti-hentinya mengucapkan alhamdulillah dan rasa syukur saking senang dan bahagianya dia malam hari ini. Berkali-kali ia menepuk jidatnya, ketawa sendiri, dan pada akhirnya menghempaskan tubuhnya di kursi malas dekat tempat tidur menghadap ke jendela kamar.
Tepat pukul sebelas malam, BiJe baru tidur setelah lampu kamar dimatikan. Tak perlu menunggu waktu lama buat pejamkan mata. Separo persoalan telah teratasi, cepat terlelap di tengah sunyi senyapnya suasana mess dan malam yang semakin beranjak larut.
Demikian juga halnya dengan Nile. Setelah membangunkan Noviani, lalu menggendong Sugeng, masuk ke kamar tidurnya. Ia pun tidur lebih cepat dari biasanya. Hanya sekali pejam, dengkur halus nafas pun terdengar. Sayup-sayup bersamaan dengan dengkur nafas putranya Sugeng yang tidur menelentang.

***
VI
“BERDIRI semua!” Teriak lelaki  bergodek bersenjatakan laras panjang, bersama temannya yang berbadan tegap tetapi mahal senyum.
Lima puluh penumpang segera berdiri dengan mata tertuju ke depan. Tak sempat melempar senyum, apalagi bercanda ria antarsesama.
“Siaaaap ..?!”
 “Siaaap,” jawab para penumpang serentak, termasuk BiJe yang berdiri di barisan terdepan.
“Anda maju ke depan!” Perintah si godek pada BiJe. Bergegas ke depan, menghadapkan mukanya kea rah penumpang.
“Ikuti saya!” Kata si tegap. Dia meminta BiJe memimpin rekan-rekannya sesama penumpang bernyanyi bersama.
“Siaaaap?!” Instruksi BiJe.
“Siaaaap …!” Kompak penumpang menjawab.
Si Tegap bernyanyi, yang lain dengan komando BiJe mengikuti bersama-sama …         
                    
             “Kami para teroris
                biasa hidup bengis
                tak pernah mengemis
                yang ada sikat habis …
    
                                             Kami para teroris
                                             tak pernah lupa berbaris
                                             tiap Rabu tiap Kamis
                                             makannya roti kosmis ….     

                                                           Kami para teroris
                                                           suka asin suka manis
                                                           kalau idur menangis
                                                           bangun tidur meringis …
    
                                                                     Sikaaat …
                                                                     Embaaat …
                                                                     Seraaang …
                                                                     Terjaaaang …

                                                                                Kami hidup punya tujuan
                                                                                 kalau mati  tinggalkan kenangan

                                                                                      Tembaaak …
                                                                                       Kapaaak …
                                                                                        Gertaaak ….
                                                                                        Lantaaaak …

                                                   Tujuan kami hanya satu
                                                   banyak duit banyak ilmu
                                                   biar tua tak bakal susah
                                                   Selagi muda tampil gagah …

                                        Kami para teroris
                                         tiap hari makan pakis
                                         agar badan tak lekas habis
                                         Saat kita berhati iblis ….

                                                Kami pelaku teror
                                                sukanya film horor
                                                mati musuh dapat honor
                                                hidup senang tidak eror …

                                                                  Tembaaaak …
                                                                   Ledakkan …
                                                                   Hancurkan …
                                                                   Ratakan …. ……”

“Stoooop …!” Teriak si godek.
“Stooop …!” Tiru BiJe, diikuti para penumpang.
“Duduk lagi,” uca si Tegap sambil memandang satu persatu wajah penumpang. Belum terlihat rasa takut yang berlebihan, kecuali tegang dan bingung.
Setelah tenang, muncul seorang laki-laki dari ruang kokpit dengan senjata kecil melilit di sekitar ping gang. Kulitnya hitam, kedua tangannya berbulu lebat. Tinggi tegap, tidak gemuk dan tidak kurus.  Melempar  senyum, lalu serius lagi dengan langkah kaki santai.
“Sudah tahu belum apa maunya kami tuan-tuan dan nyonya-nyonya?” Tanya Sang Bos, bersama dua an ak buahnya berdiri menghadapkan muka mereka ke para penumpang, sementara BiJe disuruh duduk setelah diminta kembali ke tempat duduknya oleh si godek.
“Beluuuum …!” Jawab penumpang wanita yang berparas cantik berkulit putih bersih.
“Baguslah kalau begitu … Nanti saya beritahu apa maunya kami. Tapi sebelumnya saya perkenalkan diri dululah … Nama saya, Sabilillah, di kiri saya, Dulah alias godek, sebelah kanan saya, namanya Rahimsyah, orang memanggilnya dengan panggilan si Tegap.
Para penumpang hanya diam.
“Tujuan kami bertiga adalah meminta bantuan kalian semuanya … “ Pancing Sabilillah.   
“Bantuan apa, Om. Duit ya. Tenang Om. Duit saya banyak. Saya baru saja dapat THR dari nenek saya,” ujar seorang anak berusia tujuh tahun seraya memperlihatkan dompetnya yang penuh dengan uang kertas lima ribuan.
“Eggak usah. Om ada kalau duit. Simpan lagi duitnya ya ya. Nanti hilang diambil orang,” jawab si Dulah.
“Apa bapak mau cek, saya punya kok.” Sahut pria berkacamata minus memperlihatkan beberapa lembar cek senilai ratusan juta rupiah.
“Terima kasih. Silakan duduk kembali,” kata Sabilillah setelah berbisik dengan dua anak buahnya. Dia menelepon seseorang, lalu bergegas menuju ruang kokpit.
Sementara Dulah dan Rahimsyah masih berada di ruangan para penumpang. Keduanya minta  penum pang tetap tenang.  Bila lapar makan, jika mengantuk, tidur. Kalau mau ngomong, tahan dulu.
“Jangan  berisik, sebab kalau berisik pesawat bisa rusak. Sayapnya oleng dan kita bakalan mati semua karena jatuh ini pesawat berkeping-keping,” jelas Rahimsyah.
“Jadi, duduklah yang sopan. Paham?” Dulah mengingatkan.
“Pahaaam …” Jawab penumpang.
“Tapi tuan,” potong seorang lelaki bertongkat yang sudah berubah rambutnya, “Apa boleh saya ke toilet sebentar?”
“Jangan lama-lama,” kata Dulah.
Rahimsyah mengawalnya sampai ke toilet, sebelum kembali ke tempat duduknya semula. Tak enak juga kencing saja diawasi, buru-buru lagi. Rasanya masih ada yang tersisa. Menetes.
Sesaat kemudian, Sabilillah keluar dari ruang kokpit. Dia berbincang-bincang sejenak, lalu meminta Dulah pergi menemui beberapa pramugari di kabin. Mereka tidak diapa-apakan. Kaki dan tangan tidak diikat. Mulut tidak disempal dengan sapu tangan misalnya, apalagi sampai dibius.
Empat pramugari hanya dikunci dari luar. Begitu Dulah masuk, mereka menyambutnya dengan ramah. Tersenyum dan masih sempat bercanda dengan Dulah. Candaan kata dan sapaan lembut, ramah tamah.
“Kalian tetaplah di sini. Mau makan silakan makan, mau minum, silakan minum. Mau tidur juga dipersi lakan tidur. Jangan sekali-kali keluar. Paham?”
“Pahaam.”
“Tapi tuan,” sahut pramugari berhidung mancung, “Kenapa kami tidak boleh keluar?”
“Nanti dijelaskan. Sekarang duduklah yang manis. Soal pelayanan dalam pesawat biar kami yang handle. Semua beres. Aman dan terkendali. Mengerti?”
“Mengerti tuan,” ujar si pramugari agak takut setelah melihat hidungnya Dulah bergerak-gerak kayak harimau mau menerkam.
Bagaimana dengan pilot dan kopilot?
Oleh Sabilillah, diarahkan buat sementara tetap mengudara seperti biasa. Namun tidak mendarat di bandara yang dituju, Palembang. Harus mendarat di suatu tempat yang dirahasiakan.
“Tunggu instruksi lebih lanjut,” kata Sabilillah saat masuk ke ruang kokpit tadinya.
Nego antara teroris dengan pihak pemerintah masih berjalan a lot. Salah seorang negosiator mencoba mengulutr-ulur waktu untuk deal. Dibalas oleh Sang Bos dengan menarik paksa kopilot, lalu ditembak mati dan mayatnya dibuang lewat jendela pintu pesawat.
“Jangan macam-macam dengan kami tuan. Bilang sama bosmu, kalau dalam tempo satu kali dua puluh empat jam, permintaan kami belum juga di ACC, kami tembak mati semua penumpang,” ancam Sabilillah dari dekat pintu keluar masuk menuju kokpit.
“Tapi tuan teroris. Berilah kami waktu. Sebab, saya harus bicara dulu sama bos. Apakah beliau setuju atau tidak. Nanti saya laporkan hasilnya. Kalau tidak setuju misalnya, apa boleh buat, jangankan kau tembak, kau ledakkan pesawatnya, itu haknya kamu tuan,” jelas si negosiator sedikit gugup.
“Tidak bisa. Sekali saya bilang satu kali 24 jam, tetaplah satu kali 24 jam. Mengerti tidak anda ini?”
“Mengerti tuan teroris. Tapi tuan juga harus mengerti posisi kami. Kalau kami gagal bernegosiasi ini kami bisa dipecat tuan. Luntang-lantunglah kami, terutama saya. Duit tak punya, anak dan isteri mengusir saya dari rumah. Lantas, saya punya badan mau tidur di mana?”
“Di jalan …”
“Janganlah tuan. Di jalan banyak nyamuk. Kalau saya sakit dan mati, gimana tuan?”
“Dikuburkan …”
Ha ha ha ha …
Salah seorang penumpang yang sempat nguping ketawa geli. Hilang ketawanya, dan diam setelah ditegur keras Sabilillah.
***
VII
“MAMAAAA …. Mamaaaa … Mamaaaa ….!” Teriak Sugeng berlari masuk ke kamar mamanya. Karena tak ada sang mama di kamar, dia keluar lagi.
“Tenteee … Tanteeee Noviiii ..!  Sugeng berteriak lagi sambil berlari ke depan, tempat di mana Noviani biasanya  meihat aneka bunga saat jelang tengah hari, atau sekadar duduk-duduk sambil membaca buku pelajaran dan fiksi …
Sugeng menghentikan langkahnya di depan pintu. Dia sibakkan gorden sedikit, mengintip apa gerangan yang ada di teras. Tak ada siapa-siapa di luar, selain di luar pagar ada orang lalu-lalang menuju warung untuk membeli berbagai kebutuhan seperti gandum, sagu dan garam.
“Omaaa … Omaaaa … Omaaaa …!”
Sugeng kembali berteriak nyaring, kali ini dia memanggil sang nenek. Kemana? Tentu saja ke kamarnya. Juga tak ada seorang pun di dalam kamar. Sugeng keluar lagi. Akhirnya dia bertemu sang nenek, Nile dan Noviani sedang menyiangi ikan patin dan gabus di dapur.
“Mamaaaa .. Cepatlaaaah!” Jerit Sugeng sambil menarik pergelangan tangan sang mama.
“Ada apa yang?” Sang mama menuruti saja kemauan Sugeng. Persis di pintu pernghubung antara dapur dan ruang makan, dia membisikkan sesuatu, membuat Nile terkejut.
Persendiannya lemas seketika …
“Ma … Ma …! Ucap Nile meminta sang mama mendekatinya. Sugeng juga berlari mendekati Noviani, ditariknya  tangan yang masih bau sisik ikan itu.
“Pesawat dibajak Ma,” kata Nile serta merta menangis tersedu sedan sambil memeluk erat sang mama.
Bu Rustam kaget sebentar, lalu mencoba menghibur.
“Udah nangisnya. Kita tengok dululah. Mudah-mudahan bukan pesawatnya BiJe. Yuk …!” Sambil meng gandeng tangan tangan Nile, si buah hati, keduanya bersama-sama menuju ruang keluarga.
Lampu padam seketika.
Semua pada kecewa.
Tapi hanya sebentar. Dua menit berselang lampu menyala lagi. Serempat duduk di depan pesawat televisi. Masih tayangan iklan, lalu ada tulisan .. breaking news …
“Sebuah pesawat jurusan Jakarta-Palembang dinyatakan hilang siang hari ini. Pesawat G20 berpenum pang lima puluh orang lebih itu kemungkinan besar telah dibajak oleh kelompok teroris. Sampai berita ini diturunkan belum ada tanda-tanda pesawat berhasil diketemukan …” kata seorang penyiar wanita berparas cantik penuh semangat.
Volume suara pesawat televisi seketika dikecilkan Sugeng, agar sang mama bisa mendengar dengan jelas arahan dan saran dari ibunya. Noviani di sebelahnya turut sedih. Dia berusaha menghibur Nile dengan mengelus-elus telapak tangan sepupunya itu .
“Kamu yakin Nile?”
Nile mengangguk. Kepada Noviani, sang bibi juga menanyakan hal yang sama. Diperoleh jawaban yang sama pula. Bahwa pesawat yang dilaporkan hilang dan dibajak oleh kelompok tak dikenal itu adalah pesawat G20, pesawat yang ditumpangi BiJe.
Nile, karena panik bercampur sedih, akhirnya jatuh pingsan. Dia tak sadarkan diri. Bertiga Sugeng, Nile dibawa masuk ke kamarnya. Bu Rustam berkali-kali mengucap “Allahu akbar, ya Allah, selamatkan anakku.” Beristighfar dan berdoa semoga para penumpang pesawat G20 selamat semuanya.
Sementara itu, dalam perjalanan yang tak lagi menuju Palembang itu, Sabilillah meminta para penum pang tetap di tempat duduk mereka masing-masing. “Jangan bikin panik,” katanya dengan raut muka sangar.
“Anda, ikut saya,” ujar Sabilillah kemudian, dia meminta BiJe mengikutinya memasuki ruangan pilot.
Di ruangan kokpit, tak ada siapa-siapa. Setelah kopilot dihabisi, barusan pilotnya dilempar ke luar pe sawat. Masih beruntung tak sempat ditembak. Karena sebelum dilempar, sang pilot sempat membe rikan perlawanan pada Rahimsyah dan Dulah.
“Astaghfirullah. Allahu akbar! Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu,” ucap BiJe setelah melihat dua kursi di depannya kosong melompong. Tak ada orang, sedangkan pesawat jalan sendiri.
“Anda harus daratkan pesawat ini secepatnya,” perintah Sabilillah dengan nada datar tapi tegas dan jelas.
“Siap tuan,” jawab BiJe. Sekadar tak menimbulkan keraguan. Karena selama ini, meski sudah sering naik pesawat, jangankan mengemudikan pesawat terbang, tengok ruangan kokpit saja belum pernah. Baru kali ini … itu pun dipaksa.
“Uwaaah …”Jerit penumpang kemudian setelah pesawat miring ke kiri.
“Ooooh … “Penumpang menjerit  lagi  saat badan pesawat miring ke kanan.
Memang tak begitu terasa. Tapi bagi penumpang yang duduk dekat jendela, bisa melihat dengan jelas posisi kemiringan pesawat dari sayapnya yang seolah bergoyang.
Badu, satu-satunya penumpang anak-anak hanya menundukkan kepalanya saja. Dia tak berani meman dang ke luar jendela pesawar. Keringat dingin membasah sekujur tangan dan mukanya. Sedangkan Nel ly, wanita berparas cantik tiada henti-hentinya menyebut nama Allah. Beristighfar, melantunkan asmaul husna dengan pelan tapi gugup. Mata terpejam, hati tak jua bisa tenang.
Penumpang lain tak satupun yang berani membukakan matanya. Mereka hanya fokus meminta kesela matan dan dilindungi oleh YME. Bisa selamat sampai ke tujuan. Bisa bertemu anggota keluarga yang su dah tak sabar menunggu kedatangan mereka di airport untuk selanjutnya menuju kediaman masing-masing.
Dua teroris, Dulah dan Rahimsyah, keduanya terlibat percakapan serius. Lepas itu,  Dulah bergegas ke ka bin satu untuk menemui empat pramugari. Pintu dibuka, keempatnya duduk bersimpuh dengan mulut komat-kamit menyebut nama Allah Rabbul Jalil.
“Salah seorang dari kalian ikut saya membantu menenangkan penumpang,” kata Dulah dengan ekspresi wajah dingin dan tegang.
Empat pramugari itu sepakat memilih Ningsih untuk ikut menghibur para penumpang. Tiga rekan lain nya menunggu di kabin guna menunggu instruksi lebih lanjut dari Sang Bos.
“Bagus!” Puji Sabilillah usai melihat  BiJe sukses menaikkan ketinggian pesawat yang tadinya  terbang sangat rendah dan labil.
“Kita harus mendarat sebentar lagi,” lanjut Sabilillah.
“Posisinnya dimana Tuan?” BIJe merasa perlu tahu agar saat mendarat pesawat tidak mengalami ham batan, seperti menabrak pohon atau terbakar setelah roda menyentuh tanah.
“Nanti saya beritahu,” kata Sang Bos kemudian, bergegas ke luar kokpit, dan setelah itu masuk lagi. Dia  memperlihatkan peta sebuah tempat yang masih dikelilingi hutan belantara lewat layar monitor pesawat.
“Di sini …” Tunjuk Sang Bos pada sebuah tanah lapang berjarak puluhan kilometer dari pesawat yang kini masih mengangkasa.
BiJe secara perlahan menurunkan ketinggian pesawat dengan tetap disaksikan Sabilillah yang sesekali mengontak seseorang yang tidak jelas terdengar suaranya. BiJe berusaha sekuat tenaga agar pesawat dapat mendarat dengan mulus dan penumpang selamat. 
Sayangnya, Dia benar-benar buta.Tak mengerti apa-apa soal sistem kerja pesawat.  Belum lagi jaringan ke otoritas bandara terputus sejak lepas landas tadi. Jadi dibutuhkan sebuah keajaiban. Harus ada perto longan di saat dia sendiri tak memahami tetek bengek pesawat.
Di ruangan  tengah, Nelly mengajak para penumpang sama-sama menundukkan wajah dan berdoa agar diberi keselamatan. Beberapa penumpang berusia tua, dia dekati dan hibur. Tak mudah memang, ka rena keadaannya kini sangat darurat.
Apalagi setelah beberapa penumpang setengah baya mendekati Ningsih sambil terus memaki-makinya.  Ningsih tak bereaksi. Dia hanya bisa tersenyum. Tidak melayani sindiran tajam dari penumpang yang melontarkan protes itu.
“Duduk sana, atau …” Dulah mengarahkan moncong senjatanya ke mata penumpang yang melakukan protes tadi itu. Dulah terpaksa mengambil tindakan tegas setelah si penumpang bermaksud akan memu kulnya.
“Duduk sana …!” Hardik Dulah. Emosinya tersulut setelah si pria berpanat besar seperti tampah itu memelototinya dan mengajaknya duel one by one.
Kraaak … dub … praaak …
Dipukulnya kepala lelaki itu sampai mengeluarkan darah segar. Para penumpang lain yang mencoba membalas pukulan menggunakan moncong laras panjang itu, akhirnya duduk kembali setelah Rahim syah mengancam akan menembak satu persatu penumpang wanita dan anak-anak kalau tetap melakukan perlawanan.
Jegaaar …
Terdengar guncangan keras setelah penumpang yang sempat ribut  tadi kembali tenang sediakala. Sua sana kembali gaduh.  Penumpang wanita pada komat-kamit menyebut Allahu Akbar. Mata tak berani melihat. Pikiran hanya terpusat pada doa dan memohon perlindungan dari-Nya.
BiJe berhasil mendaratkan pesawat. Tapi, karena kecepatan laju pesawat tak serta merta bisa dikurangi, badan, sirip dan ekor pesawat menabrak puluhan pohon besar. 
Guaaaar …
Tak lama kemudian, dari belakang pesawa terlihat percikan api, disusul  ledakan sangat keras yang menghancurkan ekor, badan dan sirip pesawat.
Penumpang panik.  Saat kepanikan itulah,  penumpang yang terluka tadi itu, berhasil menembak mati Dulah dan Rahimsyah. Sedangkan Sabilillah tewas seketika pasca terjungkal dari tempat duduknya, akibat bagian depan pesawat menabrak batu besar.
Bagaimana dengan BiJe?
***
VIII
HANYA BiJe seorang yang selamat. Sambil merangkak menahan sakit, dia cari sisa-sisa senjata dan bekal penumpang yang terserak. Anehnya, tak satupun penumpang yang mayatnya diketemukan. Hanya ada beberapa potongan tubuh manusia yag sulit dikenali karena selaim camput aduk, posisinya tercerai berai sana sini.
BiJe hanya bisa menolong dirinya sendiri. Dia berharap ada peralatan komunikasi yan bisa ia ketemukan. Minimal hape. Tapi, karena hari sudah mulai gelap, tak ada waktu lagi bagi dia untuk mencari ke sana kemari. Hanya  di sekitar ekor pesawat, lepas itu ia bersegera menuju ke utara.
“Ya Allah, selamatkanlah hamba,” bisiknya sambil memegang sebotol air mineral dan roti bungkusan. Ia pun tertatih-tatih  mendekati sebuah pohon besar. Pohon itu rindang, enak dan sejuk kalau dijadikan tempat  berteduh.
“Mengapa aku tak naik saja,” gumamnya. “Tapi tinggi sekali. Apa mungkin aku bisa, sementara kedua kaki ini terasa berat untuk melangkah …”
BiJe berpikir sejenak. Manjat atau tidak. Bila manjat apa bisa sedangkan pohon yang akan dia panjat itu tinggi. Tapi kalau tidak kupanjat, berjalan misalnya,  kemana. Belum tentu benar arah jalannya. Hari ge lap, tak ada lampu. Sulit menebak apa yang bakal terjadi.
“Salah-salah dimakan binatang buas,” bisiknya.
BiJe kemudian memutuskan untuk  memanjat itu pohon. Tak mudah memang. Tapi harus dicoba.
Huuup ….
Kaki kanan diangkat. Bisa … Namun, ketika akan mengangkat kaki kiri, terasa sakit. BiJe jatuh ke tanah.
Gedebuuug …
“Aduh!”  Ringisnya. Dia bangkit. Coba berdiri.  Bisa. Dia tengok ke atas. Tak kelihatan jelas lagi bagian atas pohon. Menarik nafas sebentar. Dia bersiap untuk memanjat lagi.
Husya …
Alhamdulillah, bisa akhirnya. Satu kaki, dua kaki merayap di batang pohon. Tiga, empat dan lima. Kepaya han.  BiJe berhenti sejenak. Kemudian meneruskan panjatannya. Nyaris jatuh karena licin dan telapak kaki kiri salah menginjak. Dikira lubang kecil batang pohon, rupanya sisa ranting pepohonan yang menempel di batang pohon.
“Bismillah …!” Ucap BiJe. Sekuat tenaga ia gerakkan kedua kaki silih berganti.  Ia pegang kuat-kuat batang pohon. Licin. Tapi hanya di bagian tengah ke bawah. Tengah ke atas tidak licin lagi. Seret. Makanya BiJe aman-aman saja memanjat.
Hiyaaaa …
Akhirnya sampai juga ke atas. Capek seluruh anggota badan. BiJe tersandar di ranting pepohonan besar. Matanya terpejam. Mulutnya kelu. Ia raba saku celananya sebelah kanan. Kemudian ia berujar …
“Alhamdulillah …”  Sambil mengusap-usap sebotol air putih. Ia buka tutupnya, lalu minum sedikit, sisa kan untuk nanti atau esok hari. Ia raba saku celana sebelah kiri, ahaaaa … rotinya masih ada.
“Subhanallah … Tidak sampai kelaparan,” ucapnya. Dia buka bungkusan roti itu. Ia ambil sedikit, lalu ia makan. Eheeem …  betapa nikmatnya. Berkali-kali ia mengucap syukur karena masih diberi kenikmatan yang tak ternilai oleh Allah SWT.
Air dan roti itu ia masukkan lagi ke saku celananya. Setelah itu ia berpindah ke ranting pohon yang lebih besar dan kokoh. Ia pun harus berdiri, lalu melangkahkan kaki, menginjak ke beberapa ranting sebelum sampai  ke ranting yang besar di sebelah kanan.
Sreeet …
Kreteeek …
Ada yang patah. Sebuah ranting pohon yang tidak terlalu besar patah dan jatuh setelah diinjak BiJe tadi. BiJe merebahkan tubuhnya di ranting yang besar itu. Sayang, belum cukup aman baginya untuk tidur. Kalau telentang oke, tapi bagaimana jika balik kanan atau kiri, sementara kiri dan kanan tak ada yang menghadang.
Apa yang harus dia lakukan agar bisa tidur?
Dia pun berpikir keras. Harus cepat mengambil keputusan. Matanya kemudian melihat ke sekitar ranting. Lalu tertuju pada anak ranting pepohonan yang bercabang dua.
“Ahaaa …” Bisiknya. Dia buka baju. Lalu baju itu ia ikatkan ke tangan dan ranting pepohonan yang lain. Sedangkan kedua kakinya menjepit anak ranting tadi. Aman. Paling tidak saat tidur tidak sampai jatuh.
Bena rkah?
Sampai terjaga esok paginya, BiJe masih tertidur pulas di ranting pepohonan yang paling besar itu. Suara burung yang bersahut-sahutan di dekatnya berhasil membangunkannya . Matanya terbuka, menguap dan tersenyum melihat burung terbang rendah dan cerahnya pagi hari ini.
“Masya Allah, sudah pagi rupanya,” ucapnya. Ia lepaskan ikatan baju, lalu kedua kakinya yang mengge lantung  di anak ranting. Ia kenakan lagi bajunya. Lalu ia melihat ke bawah.
Ia menggeleng-gelengkan kepala setelah melihat hamparan luas hutan belantara. Tak ada tanda-tanda ada pemukiman penduduk di sekitarnya. Berubah kecut nyalinya. Ada kekhawatiran bakal tersesat jalan dan sulit keluar dari hutan perawan ini karena tak menemukan jalan buat pulang.
“Tapi saya harus mencobanya. Daripada bengong di atas pohon ini, tak ada yang bisa dilakukan, kenapa tidak turun saja,” kata BiJe dalam hati.
Secara perlahan ia menuruni pohon besar itu. Kata orang, turun lebih mudah daripada naik, benar ada nya. Hanya dengan hati-hati saat memegang dan menempatkan kedua kaki di batang pohon, BiJe pun memberanikan dirinya untuk meluncur, seperti anak-anak main perosotan. Hanya sepersekian detik, ia sudah sampai dan berada di bawah pohon. Walaupun …
Buuuk …
Geretek …
Guuup …
Punggung dan pantatnya mengenai tumpukan tanah yang mulai mengeras. Sakitnya bukan main. BiJe harus berkali-kali meraba dan mengusap-usap punggung dan pantatnya agar bisa duduk serta berdiri.  Harus berpegangan di batang pohon. Sambil menahan rasa perih, ia gunakan kedua kaki, tangan menekan, dan …
Huuuup …
Bisa berdiri juga. Ia sandarkan tubuhnya di batang pohon. Ia tarik nafas pelan-pelan. Ia seka keringat di seputar wajahnya dengan ujung baju yang ia kenakan. Ia angkat mukanya ke atas. Ada sinar matahari di sela ranting pepohonan.
“Saya harus jalan,” ucapnya. Ia pun bergerak ke utara. Ada jalan setapak dengan kiri kanannya semak  dan ilalang. Jalan ini jarang dilewati. Ini terbukti dari semakin menyemaknya rerumputan ilalang ke badan jalan.
Kita harus melewati jalan setapak itu ekstra hati-hati. Kalau tidak, bisa terluka kaki ini. Terluka kena ilalang yang tajam, perihnya bukan main. Lama baru hilang rasa perihnya. Perih akan bertambah ma nakala kita  manyusup ke belantara bekas jejak binatang buas.

Inilah yang disadari BiJe. Makanya dia tak mau repot-repot melewati jalan setapak atau bekas jejak bina tang belantara itu. Dia sengaja mematahkan kayu bekas ranting pepohonan yang terserak  dengan pan jang satu meter. Kayu itu ia gunakan sebagai penunjuk jalan.
Tak jarang dia harus menepikan semak ilalang liar di kanan kiri jalan. Berhenti beberapa saat. Lalu, sete lah aman dilewati baru bisa dia melangkah maju. Begitulah yang ia lakukan sepanjang pagi bertemu tengah hari.
Ia kemudian beristirahat di bawah pohon besar. Ia minum dua teguk air. Kunyah roti. Lalu mulai berpikir lagi. Ke mana jalan tercepat agar bisa keluar dari hutan ini. Di kiri kanan hanya hamparan belantara. Di belakang apalagi. Sedangkan di depan ada jalan menurun.
“Kucoba jalan itu,” bisiknya. “Mana tahu ada petunjuk lain setelah sampai di ujung jalan itu.”
Ia turuni jalan menurun itu. Batu kecil dan berserakan ada di mana-mana. Belum lagi sisa ranting pepo honan yang bila salah kita menginjak, akan terluka kaki ini. Selain hati-hati, BiJe harus menggerak-gerak kan kayu yang ada di genggamananya untuk meluaskan kaki menapak.
Caranya?
Seperti kita akan menombak ikan. Mata kayu kita hentakkan dan  kais-kaiskan ke tanah serta ilalang, lalu kaki ini pelan melangkah. Dengan kayu itu, BiJe menempuh jalan zig-zug.
Sebentar ke kiri, sebentar ke kanan, lalu berhenti. Meneruskan lagi jalan ke depan. Semakin jauh kita me langkah, semakin curam. Ngeri juga kalau menengok ke belakang. Bije tak lakukan itu. Ia terus berja lan, dan sampai di pertigaan, ia temukan mata air.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia dekati mata air yang menyerupai kolam iu. Jernih dan dingin sekali airnya. Ia benamkan kepalanya, lalu dia angkat lagi. Segar. Ingin rasanya mandi. Tapi di tempat sesepi dan sesu nyi ini, tak aman buat memandikan seluruh anggota badan.
BiJe memutuskan untuk berkumur-kumur saja. Lalu membuka bajunya, ia percikkan air di sekitar perut, dada dan punggungnya, kemudian mengusap mukanya dengan air beberapa kali sampai basah dan sejuk di badan.
Byuuuuur ….
Setelah puas mandi separo badan, BiJe pun melanjutkan perjalanan lagi. Mumpung belum sore, ia pilih jalan ini karena jalannya lebih bagus dengan semak dan belantara tidak terlalu rimbun.
BiJe berharap ada ‘denyut kehidupan’ di sana. Ada sebuah perkampungan  di balik hutan itu. Kendati tidak dekat, jika memang benar-benar ada, lebih bersemangat agar bisa lebih cepat sampai di sana. Pa ling tidak, ada tempat berteduh sebelum meneruskan perjalanan lagi.
Terwujudkah harapan BiJe?
BiJe dikejutkan oleh suara seorang laki-laki yang melintas tak jauh darinya. Laki-laki itu tiba-tiba muncul dengan mengendarai sepeda motor butut dengan barang bawaan di taruh di belakang, entah apa isi dan bentuknya.
Ingin sekali BiJe memanggilnya. Tapi memanggil orang yang tak dikenal di belantara ini tentu mengan dung risiko ketidakamanan dan ketidaknyamanan.
“Aku ikuti saja dari belakang.” BiJe memberanikan diri berlari melewati jalan yang dilalui pria tak dikenal nya itu. Ia terus berlari, walau tak terlalu kencang larinya. Ia kaget bukan kepalang, ternyata ada bebera pa rumah di sana. Rumah kayu dengan atap dari daun pepohonan yang telah dianyam sedemi kian rupa, indah mata melihatnya.
“Kemanakah laki-laki itu?” BiJe bertanya sendiri dalam hati.
Ia pun memilih bersembunyi di balik semak belantara. Menunggu gerangan siapa pemilik rumah-rumah itu. Lama ditunggu, sampai sore, belum ada seorang pun yang keluar dari rumah-rumah ‘misteri’ itu.
Kemana mereka?
Adakah penghuninya?
Ke mana dan di mana si pengemudi motor itu?
***
IX
“HEI tengik! Ngapain elu disitu. Mau ngumpet ya?” Tegur seorang pria berkumis tebal dan berkepala gundul.
BiJe salah tingkah.
“Mau maling ya?” Tanya pria bernama Kemon itu. Ia tatap tajam mata BiJe. Lalu ia tarik kerah bajunya, sebelum dilepaskannya kembali.
“Enggak Pak. Saya hanya mencari pengendara motor,” aku BiJe gemetaran. Baru kali ini dia segemetar ini. Mungkin sudah lama tak makan nasi.
Ha ha ha ha …
“Sayalah pengendara motor itu, mau apa?” Terang Kemon dengan suara lantang. Setelah ketawa lebar tad, dia tatap mukanya BiJe. Tidak tajam lagi, tapi lebih lembut dan bersahabat.
“Kamu  cari saya?”
BiJe mengangguk. Dia akhirnya berterus terang pada Kemon. Dia ceritakan peristiwa yang dialaminya barusan. Semula Kemon tak percaya. Pasalnya, di tengah belantara ini harus waspada dengan orang yang baru kita kenal.
Namun, setelah mendenga cerita BiJe, kenapa ia sampai terdampar di belantara ini, hati si kuping lebar dan badan tegap besar ini, luluh juga pada akhirnya.
Rasa ibanya muncul. Dia memutuskan untuk mengajak BiJe bermalam di rumahnya. Tak begitu jauh dari tempat mereka berdua sekarang berada. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki, lewat jalan setapak.
Gubuk Kemon tidaklah besar. Hanya memiliki dua kamar tidur, ruang tamu dan bertangga kecil di teras. Di gubuk beratapkan dedaunan ini Kemon hanya tinggal sendirian. Dia memasak sendiri, tidur sendiri dan  bekerja juga sendiri.
“Kamu lapar Je?”

“Iya Pak Kemon,” jawab BiJe. Lemah nian suaranya.
“Kalau kau memang lapar, makanlah,” kata Kemon mempersilakan.
Dia mengajak BiJe ke dapur. Tak begitu luas dan besar dapurnya. Ada kompor dan di bawahnya kayu bakar. Ada meja dan kursi makan.
“Makanlah kamu sepuasnya disana Je,” kata Pak Kemon menunjuk meja makan bersongkok yang di tengahnya ada beberapa buah piring berisi lauk pauk seperti ikan, daging dan aneka sayuran.
“Nasinya kau ambil sendirilah.” Pak Kemon menunjuk panci besi yang bagian bawahnya berwarna hitam karena terkena bara aoi dan asap kayu bakar.
“Terima kasih Pak.”
“Tak usahlah kau ucapkan terima kasih,” ujar Pak Kemon tersenyum lebar. Jarang dia tersenyum. Namun begitu sekali mengembangkan senyum, orang akan selalu mengenangnya karena amat berkesan dan terkesan flamboyant.
“Makanlah kau kenyang-kenyang. Aku mau tidur dulu. Capek aku. Pegal semua ini punya badan,” terang si mata besar.
Lahap nian BiJe makan. Dia tak menyemu, padahal baru kali pertama ia bersua Pak Kemon. Ikan dia sikat, juga daging hewan dan sayur mayur mentah.
Ingin rasanya dia ‘bubuh’. Tapi dia urungkan. “Kalau aku habiskan mala mini, besoknya mau makan apa,”  tanyanya dalam hati.
Eeeeegh … eeeeegh …
Perut BiJe kenyang. Dia rapikan peralatan di atas meja makan. Sisa lauk pauk dia tutup lagi dengan penu tup  khusus lauk pauk. Lalu  mencuci piring dan gelas bekas dia makan. Ada baskom, kecil berisi air, di da pur. Ia cuci dengan air sabun dan dibilas dengan air biasa sebersih-bersihnya.
Lepas itu, ia kembali ke ruang depan. Hanya sebentar. Tak enak sendirian. Kendati di dalam rumah, di tengah belantara seperti ini, ia memberanikan diri untuk masuk kamar di mana Pek Kemon tidur.
Geeeeerg … Geeeeerg … Geeeergh …
Pak Kemon tidur ngorok. BiJe tak tega membangunkannya. Padahal banyak yang masih ingin dia cerita kan. Salah satunya jalan mana yang harus ditempuh agar bisa keluar secepatnya dari hutan belantara ini.
Saat bermenung, karena belum juga mau terpejam mata ini, BiJe lantas ingat Nile. Sebelumnya bukan tak ingat, tapi fokus pada penyelamatan diri dari aksi teroris dan jatuhnya pesawat terbang. Hanya Nile yang seringkali ia ingat. Makan tak enak, tidur pun kadang nyenyak kadang tidak.
Ingin menghubungi Nile, pakai apa. Jangankan telepon, hape saja tak punya. Begitu juga dengan Pak Ke mon. BiJe yakin laki-laki yang telah memberinya tempat menginap sementara ini tak juga punya alat ko munikasi canggih itu.
Sambil memejamkan mata, BiJe membayangkan keceriaan Nile, Sugeng dan Noviani. Dia tak ingin ber pikir yang tidak-tidak. Ia berpikir positif. Ia hanya mengingat saat-saat senang kala bersama mereka bertiga.
“Mudah-mudahan saja dia senang dan sehat walafiat disana,”  harap BiJe. “Jangan sampai terjadi yang enggak-enggak. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini …”
Dalam hati yang paling dalam, BiJe berdoa agar Nile, Sugeng dan Noviani diberi kesehatan, keselamatan dan dijauhkan dari segala hal yang membahayakan mereka.
“Bimbinglah mereka ya Allah. Tunjuki mereka jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai. Berilah kelapa ngan buat mereka, dan izinkanlah hamba bisa dipertemukan suatu saat nanti ya Allah.”
BiJe pun tertidur.
Sedangkan Nile yang berada di tempat berbeda, masih khusyuk menunaikan salat Isya di kamarnya. Ia panjatkan doa untuk anak, sepupunya dan kedua orang tuanya. Khusus BiJe, ia ucapkan permintaan kepada ilahi …
“Ya Allah … selamatkanlah ia. Sehatkanlah ia. Karena aku tahu hanya Engkau ya Allah yang bisa menyelamatkannya dan menyehatkannya. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu …
Ya Allah … pertemukanlah kami kelak. Aku akan tetap setia menunggunya, sampai kapan pun ya Allah. Aku pasrahkan diri ini kepada-Mu ya Allah. Hanya Engkau yang bisa mempertemukan kami berdua …
Ya Allah .. aku memanjatkan doa kepadamu agar diberi ketabahan dan kesabaran atas musibah yang menimpa BiJe ini. Karena seperti yang Engkau tahu ya Allah, ak sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya …
Oleh karena itu, ya Allah, di saat aku menyayanginya sampai kini, terkadang aku berpikir untuk ikut men cari sekaligus menyusulnya, mencari tahu  keberadaannya, menemukannya apakah dia masih hidup ataukah sudah mati.
Tapi aku tak bisa ya Allah. Dengan keterbatasan yang kumiliki saat ini, dengan ketidaktahuan posisinya saat ini, aku berharap beri aku kekuatan untuk tetap menunggunya, menantikan kedatangan dan kehadirannya kembali ya Allah …
Ya Allah, jadikanlah ingatku ini padanya, tidak sampai melupakanku untuk ingat kepada-Mu. Sebab, ingatku paa BiJe adalah ingat seorang wanita kepada lelaki yang ia cintai dan sayangi. Sedangkan ingatku kepaa-Mu adalah ingat antara seorang hamba kepada al-khaliq, yang menciptakan-Nya …
Ya Allah, jadikanlah ingatku kepada BiJe sebagai ingatku kepada berbuat baik kepada sesame, amal yang saleh, ingin mencari keridhaan-Mu ya  ilahi. Janganlah Engkau jadikan ingatku kepadanya sebagai jaan menuju kemaksiatan, berbuat dosa dan justru mengantarkanku ingkar kepada-Mu. Tak ingat lagi siapa diri ini, siapa yang menciptakan dan memberi kenikmatan hidup selama ini …
Ya Allah .. jadikanlah ingatku kepada-Mu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian  yang sungguh-sungguh kepada-Mu. Jadikanlah pula ingatku kepadamu sebagai upaya yang sungguh-sunggh dariku untuk lebih dekat kepada-Mu ya robbi. Dan jadikanlah pula ingatku kepada-Mu sebagai cara dariku untuk tidak sedetikpun melupakan-Mu …
Ya Allah .. aku tahu baru sekarang ini aku lebih dekat kepada-Mu. Baru sekarang aku selalu meminta pertolongan-Mu. Baru sekarang ak menyadari bahwa hanya Engkau yang dapat member pertolongan, hanya Engkau yang kuasa atas segala apa yang ada ada dan bernyawa di permukaan bumi ini …
Ya Allah .. aku menyesali diri kenapa tidak dari dulu aku lebih mendekatkan diriku kepada-Mu. Kenapa tidak dari dulu aku memperbanyak ibadah kepada-Mu. Aku lupa ya Allah. Aku lalai ya ilahi. Aku merasa bersalah dan maafkanlah kesalahanku ini ya azza wajalla …
Ya Allah … sayangilah aku, anakku, sepupuku dan kedua orang tuaku, termasuk BiJe. Jangan kau beri kami beban yang tak bisa kami memikulnya ya Allah. Jangan kau beri kami beban yang membuat kami lalai dan melupakan-Mu, ya robb …
Tapi bebanilah kami atas dasar kasih-Mu kepada kami, hamba-Mu yang serba lemah dan tak berdaya ini. Bebanilah kami agar tetap ingat kepada-Mu, dalam keadaan suka dan duka, dimana dan kapan pun kami berada. Bebanilah kami dengan beban yang bisa mengantarkan kami menuju ridha-Mu, cinta-Mu, mencapai surga-Mu, yang jannatun naim …
Ya Allah .. satukanlah kami berdua, karena aku merasa yakin ya Allah, dengan bersatunya kami nanti, an tara kami tak ada sekat lagi. Di antara kami tak ada saling rindu teramat sangat lagi .. antara kami bisa saling isi mengisi, membagi cinta dan kasih, membagi hati yang selama ini terbelah sana sini …
Ya Allah … tidaklah berlebihan sekiranya kami berharap kepada-Mu, seandainya aku dan BiJe dipertemu kan kelak, atas takdir dan kasih sayang-Mu, kami bisa menikah, jadikanlah pasangan hidup yang penuh rahmat, inayah dan hidayah dari-Mu. Pasangan hidup yang saling mengingatkan satu dengan yang lain. Pasangan hidup yang tidak mencari kekurangan, tapi saling mengajak untuk selalu berbuat amal kebaikan …
Ya Allah … akhirnya sebagai penutup doaku ini, kembali aku menyampaikan keinginanku kepada-Mu, ya rabb, sinarilah kelak rumah tangga kami dengan sinar keagungan-Mu, sinar kasih sayang-Mu, dan sinar cinta-Mu. Sinarilah juga rumah tanggaku kelak dengan sinar ridha-Mu, rahman dan rahim-Mu , serta rasa cinta-Mu kepada hamba-Mu yang hina dina ini …
Aku tak ingin ya Allah, akhir hidupku kelak justru memalingkanku dari-Mu untuk tidak selalu taat kepada-Mu. Aku hanya ingin ya Allah, akhir hidupku kelak bisa bersanding dengannya, dengan BiJe. Aku ingin taman surga yang kau sediakan diisi oleh kami berdua, anakku, kedua orang tuaku, kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat …
Robbana aatina fiddunya hasanah wafil aakhiraati hasanah, waqina azaabannaar, waqina azaabannaar, waqina azaabannaaar … washallallaahu ‘ala sayyidil mursalin wa’ala alii wa shahbihi ajmain wal hamdulillaaahi robbil alamiiin …”
BiJe terjaga dari tidurnya, tepat tengah malam. Ia ingat, sudah lama sekali ia tak menunaikan salat tahajud. Ia ambil air wudhu, tunaikan salat dengan hanya menggunakan sehelai tikar saja.
Di Luar, suasananya sunyi dan senyap. Namun tak berapa lama kemudian, ada suara teriakan orang, sayup-sayup terdengar. Suara itu semakin lama semakin dekat, jelas terdengar. BiJe kuatir dengan keselamatan Pak Kemon dan dirinya.
Akhirnya dia bergegas masuk kamar kembali. Kaget, yang dicari justru tidak ada lagi di kamarnya. Ke mana Pak Kemon?
“Sini, Je … Lewat jalan ini …!” kata Pak Kemon, mengajak BiJe menuruni anak tangga, menuju goa di belakang rumahnya.
***
X
“JAHANAM kau … kutebas kepalamu … hiyaaa …” Teriak seorang penunggang kuda sambil mengayunkan pedangnya, siap menebas kepala lelaki di depannya yang juga menunggag kuda.
Teriiiing … teriiing …
Hanya beradu pedang. Belok lagi kudanya. Sama-sama maju dan menghunus pedang.
“HUaaaa …!
Teriiiing …
Lagi-lagi hanya beradu pedang. Tak seorang pun dari keduanya yang terluka, terkena sabetan pedang. Yang ada cuma dendam kesumat, emosi yang terbakar. Membuat keduanya meneruskan duel seru dari atas punggung kuda.
“Maju kau jahanam.” Ucap si leher tinggi.
“Kau yang maju,” balas si gemuk besar.
“Dasar pengecut. Sana … nanem padi sana. Biar lebih aman,” ejek  si leher tinggi dengan nada berapi-api.
“Kamu yang pengecut. Mulut aja yang gede, mentalnya tempe,” ujar si gemuk besar.
Guuuk … guuuk … guuuuk …
Seekor anjing menggonggong, menyalak dan siap menggigit kaki si leher tinggi.
“Gigit aja jing, biar mampus ..” teriak si gemuk besar.
Guuuk … guuuk … guuuk …
Gantian si anjing mendekati si gemuk besar. Dia sempat melompar, tapi berhasil dielakkan.
Hua ha ha ha ha …
Si leher tinggi ketawa ngakak.
“Mau lawan saya .. sama anjing saja takutnya minta ampun,” seloroh si leher tinggi.
Merasa malu, si gemuk besar turun dari kudanya. Dia ayunkan pedagang, dia tebas kepala anjing. Kena. Kepala anjing menggelinding ke rerumputan. Darah mengucur deras. Anjing hutan itu mati seketika.
Plak .. plak .. pak … plak …
“Itu baru namanya laki-laki,” ejek si leher tinggi.
“Kampret. Jadi elu kira selama ini lu anggap gue apa dong.” Leher besar tersinggung berat.
“Pengecut …”
Amarah si leher besar meledak. Dia ambil batu dan dilemparnya ke muka kuda. Kena. Kuda kesakitan. Berputar-putar. Karena terlalu cepat berputarnya, dan tiba-tiba, si leher tinggi terlempar, jatuh ke semak belukar.
Hu hu ha ha he he …
“Leher saya yang tinggi panjang,” ejek si gemuk besar. Yang diejek belum sempat membalas ejekan. Ma sih mengaduh kesakitan. Kepala dan pantatnya terasa sakit. Masih untung bisa berdiri lagi. Walau tertatih-tatih persis anak kecil mulai belajar berdiri.
Ha ha ha ha …
“Mampus deh lu …” Kata si gemuk besar, bersiap naik ke punggung kuda, meninggalkannya sendirian.
Hiiik … hiiik … hiiik …
Kuda tiba-tiba meringkik. Tak mau jalan. Malah berputar-putar, membuat si gemuk besar terpental. Jatuh dari punggung kuda.
“Aduh,” ringisnya.
Hu hu hu hu …
Si leher tinggi tertawa. Sambil menahan sakit, dia mengeluarkan kata-kata …”Badan aja yang gemuk. Makan kuat, gawe penyungkan …”
Ha ha ha ha …
Si gemuk besar belum juga bergerak. Dia masih terlentang di atas tanah bebatuan. Masih hidupkah dia? Atau justru sudah mati karena kerasnya benturan di kepala dan punggung.
“Peduli amat. Mati mati kek, hidup kek, tak ada untungnya buat gue,” ucap si leher tinggi. Dia mendekati kudanya yang masih setia menemani. Sedangkan kuda si gemuk besar sudah melarikan diri, entah kemana.
“Tolooong ..!” Ucap si gemuk besar dengan nada minta dibelas kasihani.
Semula si leher tinggi tak mendengarnya. Namun, ketika dia siap untuk berangkat dengan kudanya, ter dengar lagi suara memelas …
“Toloooong …”
“Tolong gue terjang, eh terting,” kata si gemuk besar.
Rasa kemanusiaannya terusik. Dia dekati si gemuk besar.
“Apa lu bilang tadi?”
“Tolong herjang .. eh herting …”
“Apa itu herjang, dan apa pula herting …?”
“Herjang maksudnya leher panjang.”
“Kalau herting?”
“Leher tinggi …”
Si leher tinggi ketawa dalam hati.
Ketika ingin membantu lawan duelnya itu, si leher tinggi dikejutkan dengan kedatangan pasukan ber kuda yang telah lama mengincar mereka berdua.
“Di sana, Dan …!” kata si perwira, menunjuk ke dekat gubuknya Pak Kemon.
“Cari mereka sampai dapat,” perintah sang komandan.
Si leher tinggi dan gemuk besar bersembunyi di rumah Pak Kemon. Karena belum aman, mereka men cari tempat persembunyian yang lebih aman, tak bisa dijangkau dan diketemukan oleh pasukan ber kuda.
Pasukan berkuda semakin dekat, keduanya belum juga menemukan tempat persembunyian lain selain kediaman Pak Kemon. Keduanya duduk sebentar di atas batu dan semak belukar.
“Aduh,” ringis si gemuk besar. Dia jatuh karena terpeleset saat duduk di atas  batu. Karena sempat terlentang, matanya mengarah ke kanan, dan …
“Herting…” Bisiknya.
Leher tinggi mendekatkan wajahnya.
“Lihat …!”
Sebuah goa. Walau tak begitu besar, terasa pas dimasuki. Leher tinggi sumringah. Tidak demikian dengan si gemuk besar.
“Gue gimana Herting?”
“Mudah itu … kita coba dululah. Mudah-mudahan bisa,” kata Herting meyakinkan rekan duelnya itu yang sudah mulai meniipis kepercayaan dirinya.
“Kau yan duluan, apa gue, Herting?”
“Kamu aja Muk yang duluan …”
“Apa bisa ya?!” Si gemuk besar menggaruk-garuk kepalanya. Tak yakin ia bakal masuk dengan selamat ke dalam goa itu.
“Ayolah. Apa lagi yang kau tunggu?”
“Okeee …”
Mulanya hanya kepala. Keluar lagi. Masuk sampai dada, keluar lagi. Masuk sampai pinggang, keluar lagi. Masuk sampai lutut. Akhirnya tak bisa keluar lagi. Harus tetap masuk.
“Aduh,” jerit si gemuk.
“Tahan … oke, sekarang dorong badanmu ke depan aja. Aku dorong dari luar. Siap ya. Satu … dua … tiiiiga.”
Huuup
Geruduk .. duk … geruduuuk …
Beluuus .. gup …
Si gemuk besar berhasil masuk. Kini giliran si leher tinggi. Dia harus cepat karena pasukan berkuda berhenti persis di depan rumah Pak Kemon.
“Cari mereka!” Perintah sang komandan.
Saat sang perwira menuju ruang belakang, si leher tinggi sudah berhasil masuk ke dalam goa. Bersama si gemuk besar, dia berharap pasukan berkuda tidak menemukan persembunyian mereka. Keduanya, dari balik celah batu yang menutup mulut goa, melihat dengan jelas bagaimana sepatu bot  perwira mengin jak-injak tanah bebatuan di sekitar goa.
“Kamu ke sana!” Perintah si perwira pada beberapa anak buahnya untuk menyebar dengan memeriksa secara teliti beberapa tempat yang mencurigakan.
Sang komandan, tak lama kemudian, memanggil  si perwira. Dia memerintahkan untuk melakukan pen carian di tempat lain. Selamatlah si leher tinggi dan gemuk besar dari kejaran pasukan berkuda yang amat bengis dan menakutkan itu.
 “Alhamdulillah,” ucap si leher tinggi sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
“Yuk kita kemon!” Ajak si gemuk besar, sudah tak sabar ingin segera keluar dari goa ini.
“Kemana Muk?”
“Secepatnya kita cari jalan keluar.  Ayoooo … jangan banyak berpikirlah kau … nanti habis rambut kau itu ….”
“Kata siapa?”
“Kata akulah,” kata si gemuk besar.
Keduanya beringsut pergi meninggalkan mulut goa. Kendati gelap karena tak ada si nar matahari yang masuk menyinari. Mereka masih bisa berjalan. Meniti jalan sebesar telapak kaki ora ng dewasa. Jalan tanah itu, karena jarang dilalui, tampak mulus namun di langit-langitnya  dipenuh sesaki rumah kelela war.
“Awas …” Gemuk besar mengingatkan rekannya.
“Aduh.” Kaki kanan si leher tinggi terinjak benda tajam. Apa gerangan? Ternyata batu kerikil tajam. Sa kitnya bukan main. Padahal sudah bersepatu. Memar memerah telapak kaki  si leher tinggi ketika membuka sepatu dan memperlihatkannya pada si gemuk besar.
“Udah, cepetan. Gitu aja cengengnya minta ampun.” Si gemuk besar  mengingatkan rekannya itu harus sudah bisa keluar dari dalam goa sebelum matahari terbenam.
Dengan langkah tertatih-tatih karena menahan rasa sakit, si leher tinggi merasakan betapa asingnya ia berada di dalam goa. Sudah gelap, panas dan sesak terasa. Peluh bercucuran, tenaga makin terkuras, penglihatan kabur dan perut mulai minta diisi …
Sementara BiJwedan Pak Kemon, mereka berdua sudah hampir sampai di ekor goa. Saking bersemangat nya, Pak Kemon masih sempat bersiul-siul sekadar untuk mengusir rasa sepi dan senyap.
Dengan nafas yang turun naik begitu cepat, keduanya sampai di ekor goa. Tapi, untuk keluar dari dalam goa, tidaklah mudah. Seperti halnya di mulut goa saat pertama kali mereka masuk, di bagian luar ekor goa juga ditutupi dengan batu. Bentuk batunya bulat dan besar.
“Ayo Je … kita dorong berdua,” kata Pak Kemon.
Batu itu bergeser lambat. Hanya sebatas jari tangan. Tapi Pak Kemon dan BiJ tak mau menyerah. Mereka terus mencoba dan mencoba lagi. Lambat tapi pasti, itu batu akhirnya bergeser separo.
Huuup …
“Yang kuat, Je.” Ucap Pak Kemon setelah melihat BiJe mulai dihinggapi kelelahan.
“Oke,” jawab BiJe. Pejamkan mata, lalu mendorong batu itu sekuat tenaga.  Sampai memerah dengan muka yang sudahberubah bentuk rupa, berangsur-angsur batu bergeser dan akhirnya terbuka lebar.
“Ayo Je …!” Kata Pak Kemon.
“Bapak yang duluan. Nanti saya yang dorong dari belakang,” jelas BiJe.
“Yang benar nih?”
“Enggak salah Pak Kemon.”
Ha ha ha ha …
“Kamu ini Je. Saat gini keadaan kita masih sempat bercanda …”
“Biar cepat keluarnya, Pak.” Gurau BiJe.
Di luar goa sudah menunggu tim pencari jatuhnya pesawat G20. Di antara anggota tim, ada Pak Rustam, yang secepat kilat memeluk erat BiJe dan Pak Kemon secara bergantian.
***





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar