Minggu, 27 November 2016

Kampung Kami (7_



Novel  Lepas
Kampung Kami (7)
Edisi Ketujuh
By  Mang Amin

VI
“SRI .. Izikan abang ikut denganmu ke masjid Nurul Falah sore hari ini. Boleh kan Sri?” Kata Ki Saleh saat singgah di rumah Sri Hapsari. Dia bermaksud mengantarnya sore hari ini untuk mengajar siswa Taman Pendidikan Nurul Falah.
Sri Hapsari tidak menjawab pertanyaan ‘menggoda’ itu, selain menebarkan senyum manisnya sembari  menyilakan Ki Saleh duduk dan menunggunya untuk mempersiapkan bahan mengajar. Tak pula banyak. Hanya buku tulis, buku bacaan  dan spidol untuk menulis di papan tulis.
“Ayo Bang … Bang Saleh!”
Ki Saleh menoleh.
“Melamun ya?”
“Enggak. Cuma tengok ayam makan di pekarangan rumah.”
“Masak cuma  tengok ayam jadi enggak denger Sri panggil.”
Eheeem …
“Maafkan abang ya Sri. Abang tak bermaksud …”
“Iya. Sudah dimaafkan. Ayo Bang. Nanti kesorean lagi.”
Di masjid Nurul Falah, siswa didik Bu Sri Hapsari sudah banyak yang hadir. Mereka, seperti biasanya menyempatkan diri  bermain-main. Jika siswa perempuan main dakocan, siswa laki-laki main kejar-kejaran dan petak umpet.
Bu Kandar yang sengaja datang sore hari itu hanya tertawa geli melihat siswa Nurul Falah saling berebut dakocan.  Entah sengaja atau tidak, Andi mengambil dakocan miliknya Marni. Marni mengejarnya. Dakocan jatuh ke tanah, lalu rame-rame ingin mengambilnya.
Dapatkah?
Tentu tidak. Itu dakocan hilang entah ke mana. Andi meminta maaf pada Marni. Dia berjanji akan meng gantinya jika ada uang nanti. Siswa lain pun bertepuk tangan. Menyoraki keduanya sebagai pasangan serasi.
“Assalamualaikum …!” Sapa Ki Saleh.
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab siswa serempak. Mereka mencium tangan Ki Saleh dan Bu Guru Sri silih berganti. Setelah itu Bu Kandar menghampiri …
“Lho … ibu?!”
“Aku ingin tengok kamu mengajar. Boleh kan?”
Ha ha ha ha …
“Tak sangka Sri, rupanya Bu Kandar pandai juga bergurau. Bolehlah tentu. Anak murid Sri, anak murid ibu juga kan?”
He he he he …
“Bu Kandar!” Ki Saleh menyapanya dengan menundukkan muka dengan tangan lurus menempel ke dagu.
“Mari Bu. Kita masuk ke dalam masjid,” ajak Sri Hapsari.
Duduk lesehan membentuk lingkaran, Sri Hapsari mengawali pelajaran akhlak sore hari ini dengan mem baca surah Al-Fatihah bersama-sama. Disusul dengan doa agar dberi kelancaran belajar dan ilmu yang di peroleh bermanfaat.
Bu Kandar tampak mencatat apa yang diterangkan Sri Hapsari. Sebab baginya, walaupun materi pela jaran buat anak-anak, tak ada salahnya ikut menyimak dan mencatat agar mudah diingat dan disampaikan ke orang lain nantinya.
Demikian pula halnya dengan Ki Saleh. Kendati tidak mencatat seperti yang dilakukan pengurus masjid, Bu Kandar. Pemuda yang gemar berpetualang ini  tekun memperhatikan setiap penjelasan yang di sampaikan Bu Sri Hapsari.  Sampai-sampai Bu Kandar di sebelahnya, yang sempat menanyakan eja tulisan di papan tulis, tak ia hiraukan.
“Ki Saleh … Ki Saleh,” sapa Bu Kandar.
Ki Saleh menoleh. Dia tampak terkejut. Kenapa sampai harus dua kali ibu di sebelahnya menyapa dia, padahal jarak keduanya tidaklah jauh.
“Ki Saleh memperhatikan yang disampaikan Bu Sri atau orangnya?” Gurau Bu Kandar.
“ Pelajarannya Bu …”
“Betul, enggak salah apa Ki?”
“Enggak Bu. Benar,” jawab Ki Saleh, terpaksa berbisik karena beberapa siswa sampai menoleh ke arah nya sambil tersenyum.
Bu Kandar menanyakan huruf depan paling atas sebelah kiri, R atau P. Dijawab Ki Saleh, P.
“Ok oooo … berarti pamitan ya Ki.”
“Betul sekali Bu Kandar.”
Di papan tulis tertulis kalimat … “Pamitan itu penting jika kita mau pergi.  Walaupun perginya tidak jauh, hanya ke warung untuk membeli rokoknya ayah, kepada ayah atau ibu, atau siapa saja saat kita meninggalkan rumah, haruslah berpamitan …”
Kenapa?
“Karena anak-anakku sekalian,” kata Bu Guru Sri Hapsari,” Dengan kita berpamitan, orang yang kita pamiti akan tahu hendak kemana kita pergi.”
Ha ha ha ha …
“Dahlia, Maskur, kenapa tertawa. Ada yang lucu?”
“Yandi Bu Guru,” jawab keduanya.
“Yandi kenapa?”
“Gini Bu Guru. Kalau kita mau pipis atau buang air besar misalnya, apa perlu pamitan juga?”
“Perlu juga  …” Jelas Bu Sri.
He he he he he …
“Coba sekarang ibu tanya, perlu tidak kita berpamitan?”
Hening seketika.
“Tidak perlu Bu Guru,” jawab Marni memecah keheningan. Suasana pun berubah seketika. Dari semula hening menjadi riuh kembali.
“Apa alasannya Nak Marni?”
“Kalau kita pamitan, selain bikin jijik orang lain, juga bisa-bisa pipis di celana Bu Guru,” kata Marni.
“Kalau saya perlu, Bu Guru.” Sahut Bagus.
“Alasannya Gus?”
“Nanti kalau kita dicokot buaya, gimana …?”
Hua ha ha ha …
“Apa itu dicokot Gus?”
“”Digigit Bu Guru,” terang Andi ketawa ditahan.
Hek .. hek … he he …
“Biasalah Bu Guru. Bagus kalau buang air besar di sungai …” Ledek Yandi.
“Enggak ada we ce Bu di rumahnya,” kata yang lain.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Sudah dulu ya ketawanya …”
Siswa pun diam.
“Nah, jadi anak-anakku … Mulai sekarang kalian harus membiasakan diri berpamitan. Banyak manfaat bila kita berpamitan. Mumpung kalian masih kecil. Kalau sudah besar sulit membiasakannya.”
“Selain berpamitan, kalian juga tidak boleh bohong pada orangtua.”
Siswa saling pandang.
“Dahlia!” Bu Guru Sri menegurnya karena ketawa yang ditahan sampai merah mukanya.
“Leni Bu Guru,” ujarnya.
“Leni, ada apa yang?”
“Gini Bu.  Kalau kita jujur terus sama orangtua bakalan payah Bu.”
He he he he …
“Payah kenapa Len?”
“Saya kan kalau ke rumah teman, pasti tidak diperbolehkan ibu saya. Jadi caranya, ya itu Bu Guru. Saya harus berbohong. Saya katakana pada ibu, teman-teman ngajak belajar kelompok ke rumahnya seorang teman. Jadi saya harus ke sana. Sebab, kalau saya tidak datang berarti saya bisa dimarahi  Bu Guru di sekolah Bu karena tidak ikut belajar kelompok  …”
Ha ha hu hu …
“Saya juga pernah Bu Guru,” kata Yandi sambil mengangkat jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Pernah apa Yan?”
“Begini Bu Guru. Sehari-hari kan saya kerja bantu ayah dan ibu kasih makan ayam. Nah, supaya saya bisa ketemu teman-teman dan bermain bersama mereka, ayam peliharaan kami itu sengaja dilepas. Jadi saya harus mencarinya. Ibu saya paham betul, kalau ayam belum pulang, saya lah yang disuruh beliau mencarinya. Jadi pergilah saya ke tempat dimana kawan-kawan bermain. Menjelang sore baru pulang, dan ayam pun dengan mudah dibawa serta pulang karena sudah tahu dimana si ayam biasa ngandon …….”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ki Saleh dan Bu Kandar bertepuk tangan.
“Yang lain?”
Tidak ada lagi yang mengangkat jari telunjuk. Bu Sri pun melanjutkan nasehatnya … “Selain jujur, kalian juga tidak boleh boros. Harus hemat.”
Ha ha ha ha …
“Hemat apanya Bu. Duit saja sepeser pun saya tak punya,” ucap Yeni tersipu malu.
“Nabila Bu,” sahut Maskur.
“Banyak duitnya Bu,” kata yang lain.
Nabila cuma mesem-mesem saja mendengarnya.
“Bohong Bu,” akunya terus terang. “Jangankan duit, pergi ke sini saja cuma minum. Nasi enggak ada. Sudah habis ….”
He he he he …
“Bisa kembung kamu Bil,” seloroh Murni dan Leni.
“Habis kalau yang ada cuma air, mau makan apa, coba.”
“Ke rumahku saja Nabila,” kata Marni.
“Memangnya di rumah kamu ada apa Marni?” Tanya Andi. Penasaran. Jika memang banyak makanan di rumah Marni, kenapa mesti malu untuk datang dan ikut makan.
“Enggak ada,” jawab Marni singkat.
Wuuuuu …. Wuuuu …
“Sudah ya anak-anak. Ibu lanjutkan lagi. Terakhir … Tolong menolonglah dengan sesama,” nasihat Bu Sri Hapsari.
“Payah Bu,” kata Andi.
“Payah kenapa Andi?”
“Kemarin Bu Guru, saya mau pinjam catatan pelajaran sekolah. Eeee tidak dikasih. Padahal itu penting. Akhirnya, besoknya saya kena hukum Bu Guru karena tak hapal pelajaran yang diberikan kemarin …”
“Kalau itu salahmu, Andi.” Kata Bagus
“Kenapa aku yang salah?”
“Seharusnya kamu minjam catatan itu jangan hanya dengan satu orang saja. Tanya juga yang lain. Mana tahu teman yang lain itu lebih lengkap catatannya …”
“Betul .. betul .. betul …” Sahut Nabila dan Maskur berbarengan.

VII
“TAK sangka abang, ternyata kamu memang pandai mengajar,” puji Ki Saleh, saat keduanya  pulang dengan berjalan kaki dari masjid Nurul Falah.
Magrib belum tiba. Masih ada waktu buat ngobrol berdua. Sepanjang jalan menuju kediaman Sri Hapsari, banyak warga yang tersenyum pada mereka berdua, menanyakan kabar dan kesehatan.
Bahkan ada di antara ibu-ibu yang duduk di teras bersama teman sebaya mereka, meminta Ki Saleh dan Sri Hapsari singgah walau cuma sebentar. Namun, karena  waktu tak memungkinkan lagi, bila menyem patkan diri mampir, keburu malam sampai di rumah.
“Duluan Bu Guru …” Ucap Maskur dan beberapa siswa yang lain, berlari mendahului mereka. Raut wajah mereka ceria dan penuh canda.
Beberapa saat kemudian, sambil ‘mendehem’, Bu Kandar mempercepat langkahnya sambil berkata …
“Duluan Ri, Ki Saleh …”
Ki Saleh dan Sri Hapsari tak sempat berkata sepatah kata pun, karena saat mulut keduanya baru hendak berucap, Bu Kandar sudah tidak ada  lagi di depan mereka. Sudah masuk lorong, ‘mentas ‘dari bawah kolong menuju rumahnya yang terletak di belakang jalan utama Kampung Falah.
“Oh ya Bang. Katanya tadi mau ngomong sesuatu sama Sri. Ngomonglah,” ujar Sri Hapsari saat ia dan Ki Saleh memasuki sebuah gang menuju rumahnya.
“Nanti sajalah, Sri, setelah kita tiba di rumahmu,” ucap Ki Saleh.
“Serius apa Bang Saleh, harus di rumah segala,” kata Sri yang mulai penasaran dengan Ki Saleh. Pena saran karena sudah tidak sabar ingin tahu apa yang hendak diutarakan lelaki baik hati ini.
“Enggak apa-apa Sri. Abang cuma pengen ngomong saja di rumah. Kalau di jalan kan kurang enak. Sebentar lagi magrib. Terus banyak orang yang mendengar dan melihat …”
“Ich abang.” Sri jadi salah tingkah. Tapi itu tak ia perlihatkan pada Ki Saleh. Justru dari langkah kakinya yang terlihat lebih  cepat melangkah agar segera sampai di rumah sebelum magrib tiba.
Magrib tiba.
Pak Broto dan isteri mengajak serta Ki Saleh menunaikan salat berjamaah di rumah sekaligus makan ma lam bersama. Sebab,   selama Ki Saleh berada di Kampung Falah ini, belum pernah sekalipun makan ma lam bersama di kediaman Sri Hapsari.
“Bapak dan ibu sering bertanya-tanya, apa Nak Saleh yang tak mau atau memang anak kami Sri yang tak pernah mengajak Nak Saleh  makan malam di rumah …” Kata Pak Broto sesaat sebelum santap malam bersama.
“Bukan itu Pak, Bu. Sri sudah sering mengajak makan malam di rumah. Tapi saya saja yang selalu bilang lain kali,” jawab Ki Saleh.
Sri Hapsari tak enak hati mendengarnya.
“Bukan Pak, Bu. Sri yang memang belum pernah mengundang abang Saleh ke rumah untuk makan malam bersama,” kata Sri Hapsari sambil melirik gemas pada Ki Saleh.
“Enggak Pak, Bu. Sayalah yang tak sempat datang. Soalnya, saya sibuk dengan teman-teman yang melatih warga dari kampung lain,” aku Ki Saleh terus terang.
“Enggak Pak, Bu. Bang Saleh bohong. Yang benar, Sri tak pernah mengajak ke rumah untuk makan malam,” terang Sri yang mulai kesal dengan Ki Saleh.
“Aduh, jadi bingung bapak. Mana yang benar yai?” Pak Broto menggaruk-garuk kepalanya sementara sang isteri asyik ‘nyirih.’
“Sri Pak,” kata Sri.
“Saleh Pak,” sahut Ki Saleh.
Ha ha ha ha …
“Sekarang makan yuk!” Ajak Pak Broto. Masih ketawa geli. Dasar anak muda. Apa-apa saja selalu bikin bingung orangtua.
“Mari Nak Saleh. Jangan sungkan-sungkan,” kata Bu Broto.
“Mari Bu …”
Ki Saleh sangat menikmati makan bersama Sri dan kedua orang tuanya. Selain sudah jarang makan ber sama dengan orang terdekat, menu makan malam yang tersaji di meja panjang berlapiskan kain bermo tif bunga yang dilapisi plastik berwarna putih ini betul-betul memikat hati dan mengundang selera ma kan.
Tengok sajalah! Ada jengkol, petai, kemangi, sawi dan kol mentah, kangkung rebus dan tumis, lalu pindang betok, ada ikan mas bakar, pindang gabus dan tempe goreng.
Belum lagi buah-buahan. Ada jeruk, kates dan duku. Buah-buahan ini berasal dari kebunnya Pak Broto. Masih segar dan pasti nikmat bila dimakan setelah santap malam.
Ki Saleh tadinya mengira sajian ini khusus menyambut kehadirannya. Sengaja mengundangnya, lalu ma kan malam bersama. Apalagi orangtua Sri sangat ramah padanya. Seolah sudah mengenal lama di rinya.
Ternyata perkiraan Ki Saleh salah. Justru kedua orangtua Sri Hapsari sama sekali tidak menyangka Ki Sa leh mau datang bertamu ke rumah, apalagi sampai meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Bagi mereka, kehadiran Ki Saleh di tengah keluarga sudah lebih dari cukup. Mengingat Ki Saleh adalah pemuda baik-baik, masih lajang dan kehadirannya di Kampung Falah mengemban tugas melatih ilmu silat kepada warga kampung.
Warga kampung pun sangat antusias menyambut kehadiran Ki Saleh dan rekan-rekan pendekar yang lain. Mereka disambut dengan tetabuhan rebana layakya pejabat penting dari kota besar. Ada penga lungan bunga, hiburan rakyat dan jamuan besar antara pendekar dengan warga kampung. Saling kenal satu sama lain.
“Pak, Bu …” Ucap Ki Saleh setelah makan malam dan duduk santai di ruang keluarga.
“Oh ya, Pak. Bu. Bang Saleh mau ngomong nich,” potong Sri dengan raut wajah sumringah.
“Mau ngomong apa Nak Saleh. Serius amat. Ngomonglah …!” Pak Broto mengambil rokok cerutunya yang ia taruh di asbak besar di atas meja.
“Bang. Ngomonglah!” Sri meminta kedua orang tuanya menyimak apa yang hendak disampaikan Ki Saleh.
“Saya …”
“Ya sudah. Bapak dan ibu sudah tahu kamu berteman dengan Sri, anak kami. Kami setuju asalkan kalian berdua bisa sama-sama jaga dirilah,” kata Pak Broto.
“Betul kan Bu?”
“Betul Nak Saleh, apa kata bapak barusan. Jangan sungkan-sungkanlah kau main ke rumah kami yang jauh dari mewah ini. Kami senang …” Jelas Bu Broto yang tetap asyik dengan ‘nginangnya’.
“Pak, Bu. Maksud Bang Saleh bukan itu,” kata Sri Hapsari yang gemas tengok Ki Saleh senyum-senyum sedari tadi.
“Pak, Bu …” Ki Saleh merasa berat buat bicara, entah kenapa gerangan.
“Ya sudah. Kami berdua sudah tahu,” kata Bu Broto yang tengok jarum jam dinding sudah menunjukkan ke angka delapan lebih tiga puluh menit.
“Sri, antarlah Nak Saleh ini sampai teras,” pinta Pak Broto.
“Tapi …”
“Ya sudah sana. Nanti kemalaman. Ini kampung, bukan kota besar,” kata Pak Broto mengingatkan, di kampung jam delapan ke atas sudah sepi. Beda dengan kota besar, semakin malam justru semakin ramai.
“Baik Pak, Bu.”
 Sampai di teras, Sri Hapsari tak bicara sepatah kata pun. Dia kesal melihat ‘kelakuan’ Ki Saleh malam hari ini. Kenapa enggak kesal, janji mau ngomong sesuatu pada orangtuanya,  Ki Saleh malah diam seribu bahasa.
“Bang Saleh gimana?”
“Ya, maafkanlah abang ya Sri. Soalnya, mau ngomong sudah keduluan bapak dan ibu kamu.”
“Sebelum pulang tadi kan bisa, Bang kalau mau …”
“Bisa memang, tapi tak enaklah abang. Masak harus potong omongan ibu bapakmu. Mana sopan santun abang …”
Sri diam.
“Sudah. Bagaimana kalau sekarang abang ngomong sesuatu sama kamu, Ri. Mau kan?”
Sri masih diam.
“Mau kan?”
Ehem …
Ehek ehek .. ehek ehek …
“Sri …” Panggil ibunya.
“Ya Bu.”
“Abangmu sudah pulang belum?”
“Baru akan Bu …”
“Jangan lama-lama bilang sama abangmu. Banyak nyamuk di teras itu ya.”
“Ya Bu …”
Hik  … hik … hik … hik …
Sri Hapsari tak diam lagi. Dia sudah memahami alasan kenapa Ki Saleh tak mau bicara pada kedua orang tuanya.
“Jangan marah ya!”
“Iya Bang Saleh.”
“Sekarang abang mau ngomong sesuatu padamu. Bersediakah?”
“Bersedia …”
“Abang suka sama kamu Sri,” ucap Ki Saleh dengan suara bergetar.
“Cuma segitu saja Bang Saleh?”
“Abang sayang kamu …”
“Lalu?”
“Abang jatuh cinta.”
“Iya. Lalu?”
“Abang cinta padamu …”
“Lantas?”
“Abang pamit pulang … daaagh!”
Sri Hapsari memanggil Ki Saleh. Guru silat ini pun bersegera menghampiri salah satu kembang Kampung Falah ini dengan penuh tanda tanya.
“Sri juga abang,” kata Sri malu-malu ditahan.
“Sudah pulang belum Sri?” Tanya Sang Ibu yang kemudian melangkah ke teras, menghampiri anaknya yang lagi ‘pandang-pandangan’ dengan Ki Saleh.




Novel  Lepas
Kampung Kami (7)
Edisi Ketujuh
By  Mang Amin

VI
“SRI .. Izikan abang ikut denganmu ke masjid Nurul Falah sore hari ini. Boleh kan Sri?” Kata Ki Saleh saat singgah di rumah Sri Hapsari. Dia bermaksud mengantarnya sore hari ini untuk mengajar siswa Taman Pendidikan Nurul Falah.
Sri Hapsari tidak menjawab pertanyaan ‘menggoda’ itu, selain menebarkan senyum manisnya sembari  menyilakan Ki Saleh duduk dan menunggunya untuk mempersiapkan bahan mengajar. Tak pula banyak. Hanya buku tulis, buku bacaan  dan spidol untuk menulis di papan tulis.
“Ayo Bang … Bang Saleh!”
Ki Saleh menoleh.
“Melamun ya?”
“Enggak. Cuma tengok ayam makan di pekarangan rumah.”
“Masak cuma  tengok ayam jadi enggak denger Sri panggil.”
Eheeem …
“Maafkan abang ya Sri. Abang tak bermaksud …”
“Iya. Sudah dimaafkan. Ayo Bang. Nanti kesorean lagi.”
Di masjid Nurul Falah, siswa didik Bu Sri Hapsari sudah banyak yang hadir. Mereka, seperti biasanya menyempatkan diri  bermain-main. Jika siswa perempuan main dakocan, siswa laki-laki main kejar-kejaran dan petak umpet.
Bu Kandar yang sengaja datang sore hari itu hanya tertawa geli melihat siswa Nurul Falah saling berebut dakocan.  Entah sengaja atau tidak, Andi mengambil dakocan miliknya Marni. Marni mengejarnya. Dakocan jatuh ke tanah, lalu rame-rame ingin mengambilnya.
Dapatkah?
Tentu tidak. Itu dakocan hilang entah ke mana. Andi meminta maaf pada Marni. Dia berjanji akan meng gantinya jika ada uang nanti. Siswa lain pun bertepuk tangan. Menyoraki keduanya sebagai pasangan serasi.
“Assalamualaikum …!” Sapa Ki Saleh.
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab siswa serempak. Mereka mencium tangan Ki Saleh dan Bu Guru Sri silih berganti. Setelah itu Bu Kandar menghampiri …
“Lho … ibu?!”
“Aku ingin tengok kamu mengajar. Boleh kan?”
Ha ha ha ha …
“Tak sangka Sri, rupanya Bu Kandar pandai juga bergurau. Bolehlah tentu. Anak murid Sri, anak murid ibu juga kan?”
He he he he …
“Bu Kandar!” Ki Saleh menyapanya dengan menundukkan muka dengan tangan lurus menempel ke dagu.
“Mari Bu. Kita masuk ke dalam masjid,” ajak Sri Hapsari.
Duduk lesehan membentuk lingkaran, Sri Hapsari mengawali pelajaran akhlak sore hari ini dengan mem baca surah Al-Fatihah bersama-sama. Disusul dengan doa agar dberi kelancaran belajar dan ilmu yang di peroleh bermanfaat.
Bu Kandar tampak mencatat apa yang diterangkan Sri Hapsari. Sebab baginya, walaupun materi pela jaran buat anak-anak, tak ada salahnya ikut menyimak dan mencatat agar mudah diingat dan disampaikan ke orang lain nantinya.
Demikian pula halnya dengan Ki Saleh. Kendati tidak mencatat seperti yang dilakukan pengurus masjid, Bu Kandar. Pemuda yang gemar berpetualang ini  tekun memperhatikan setiap penjelasan yang di sampaikan Bu Sri Hapsari.  Sampai-sampai Bu Kandar di sebelahnya, yang sempat menanyakan eja tulisan di papan tulis, tak ia hiraukan.
“Ki Saleh … Ki Saleh,” sapa Bu Kandar.
Ki Saleh menoleh. Dia tampak terkejut. Kenapa sampai harus dua kali ibu di sebelahnya menyapa dia, padahal jarak keduanya tidaklah jauh.
“Ki Saleh memperhatikan yang disampaikan Bu Sri atau orangnya?” Gurau Bu Kandar.
“ Pelajarannya Bu …”
“Betul, enggak salah apa Ki?”
“Enggak Bu. Benar,” jawab Ki Saleh, terpaksa berbisik karena beberapa siswa sampai menoleh ke arah nya sambil tersenyum.
Bu Kandar menanyakan huruf depan paling atas sebelah kiri, R atau P. Dijawab Ki Saleh, P.
“Ok oooo … berarti pamitan ya Ki.”
“Betul sekali Bu Kandar.”
Di papan tulis tertulis kalimat … “Pamitan itu penting jika kita mau pergi.  Walaupun perginya tidak jauh, hanya ke warung untuk membeli rokoknya ayah, kepada ayah atau ibu, atau siapa saja saat kita meninggalkan rumah, haruslah berpamitan …”
Kenapa?
“Karena anak-anakku sekalian,” kata Bu Guru Sri Hapsari,” Dengan kita berpamitan, orang yang kita pamiti akan tahu hendak kemana kita pergi.”
Ha ha ha ha …
“Dahlia, Maskur, kenapa tertawa. Ada yang lucu?”
“Yandi Bu Guru,” jawab keduanya.
“Yandi kenapa?”
“Gini Bu Guru. Kalau kita mau pipis atau buang air besar misalnya, apa perlu pamitan juga?”
“Perlu juga  …” Jelas Bu Sri.
He he he he he …
“Coba sekarang ibu tanya, perlu tidak kita berpamitan?”
Hening seketika.
“Tidak perlu Bu Guru,” jawab Marni memecah keheningan. Suasana pun berubah seketika. Dari semula hening menjadi riuh kembali.
“Apa alasannya Nak Marni?”
“Kalau kita pamitan, selain bikin jijik orang lain, juga bisa-bisa pipis di celana Bu Guru,” kata Marni.
“Kalau saya perlu, Bu Guru.” Sahut Bagus.
“Alasannya Gus?”
“Nanti kalau kita dicokot buaya, gimana …?”
Hua ha ha ha …
“Apa itu dicokot Gus?”
“”Digigit Bu Guru,” terang Andi ketawa ditahan.
Hek .. hek … he he …
“Biasalah Bu Guru. Bagus kalau buang air besar di sungai …” Ledek Yandi.
“Enggak ada we ce Bu di rumahnya,” kata yang lain.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Sudah dulu ya ketawanya …”
Siswa pun diam.
“Nah, jadi anak-anakku … Mulai sekarang kalian harus membiasakan diri berpamitan. Banyak manfaat bila kita berpamitan. Mumpung kalian masih kecil. Kalau sudah besar sulit membiasakannya.”
“Selain berpamitan, kalian juga tidak boleh bohong pada orangtua.”
Siswa saling pandang.
“Dahlia!” Bu Guru Sri menegurnya karena ketawa yang ditahan sampai merah mukanya.
“Leni Bu Guru,” ujarnya.
“Leni, ada apa yang?”
“Gini Bu.  Kalau kita jujur terus sama orangtua bakalan payah Bu.”
He he he he …
“Payah kenapa Len?”
“Saya kan kalau ke rumah teman, pasti tidak diperbolehkan ibu saya. Jadi caranya, ya itu Bu Guru. Saya harus berbohong. Saya katakana pada ibu, teman-teman ngajak belajar kelompok ke rumahnya seorang teman. Jadi saya harus ke sana. Sebab, kalau saya tidak datang berarti saya bisa dimarahi  Bu Guru di sekolah Bu karena tidak ikut belajar kelompok  …”
Ha ha hu hu …
“Saya juga pernah Bu Guru,” kata Yandi sambil mengangkat jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Pernah apa Yan?”
“Begini Bu Guru. Sehari-hari kan saya kerja bantu ayah dan ibu kasih makan ayam. Nah, supaya saya bisa ketemu teman-teman dan bermain bersama mereka, ayam peliharaan kami itu sengaja dilepas. Jadi saya harus mencarinya. Ibu saya paham betul, kalau ayam belum pulang, saya lah yang disuruh beliau mencarinya. Jadi pergilah saya ke tempat dimana kawan-kawan bermain. Menjelang sore baru pulang, dan ayam pun dengan mudah dibawa serta pulang karena sudah tahu dimana si ayam biasa ngandon …….”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ki Saleh dan Bu Kandar bertepuk tangan.
“Yang lain?”
Tidak ada lagi yang mengangkat jari telunjuk. Bu Sri pun melanjutkan nasehatnya … “Selain jujur, kalian juga tidak boleh boros. Harus hemat.”
Ha ha ha ha …
“Hemat apanya Bu. Duit saja sepeser pun saya tak punya,” ucap Yeni tersipu malu.
“Nabila Bu,” sahut Maskur.
“Banyak duitnya Bu,” kata yang lain.
Nabila cuma mesem-mesem saja mendengarnya.
“Bohong Bu,” akunya terus terang. “Jangankan duit, pergi ke sini saja cuma minum. Nasi enggak ada. Sudah habis ….”
He he he he …
“Bisa kembung kamu Bil,” seloroh Murni dan Leni.
“Habis kalau yang ada cuma air, mau makan apa, coba.”
“Ke rumahku saja Nabila,” kata Marni.
“Memangnya di rumah kamu ada apa Marni?” Tanya Andi. Penasaran. Jika memang banyak makanan di rumah Marni, kenapa mesti malu untuk datang dan ikut makan.
“Enggak ada,” jawab Marni singkat.
Wuuuuu …. Wuuuu …
“Sudah ya anak-anak. Ibu lanjutkan lagi. Terakhir … Tolong menolonglah dengan sesama,” nasihat Bu Sri Hapsari.
“Payah Bu,” kata Andi.
“Payah kenapa Andi?”
“Kemarin Bu Guru, saya mau pinjam catatan pelajaran sekolah. Eeee tidak dikasih. Padahal itu penting. Akhirnya, besoknya saya kena hukum Bu Guru karena tak hapal pelajaran yang diberikan kemarin …”
“Kalau itu salahmu, Andi.” Kata Bagus
“Kenapa aku yang salah?”
“Seharusnya kamu minjam catatan itu jangan hanya dengan satu orang saja. Tanya juga yang lain. Mana tahu teman yang lain itu lebih lengkap catatannya …”
“Betul .. betul .. betul …” Sahut Nabila dan Maskur berbarengan.

VII
“TAK sangka abang, ternyata kamu memang pandai mengajar,” puji Ki Saleh, saat keduanya  pulang dengan berjalan kaki dari masjid Nurul Falah.
Magrib belum tiba. Masih ada waktu buat ngobrol berdua. Sepanjang jalan menuju kediaman Sri Hapsari, banyak warga yang tersenyum pada mereka berdua, menanyakan kabar dan kesehatan.
Bahkan ada di antara ibu-ibu yang duduk di teras bersama teman sebaya mereka, meminta Ki Saleh dan Sri Hapsari singgah walau cuma sebentar. Namun, karena  waktu tak memungkinkan lagi, bila menyem patkan diri mampir, keburu malam sampai di rumah.
“Duluan Bu Guru …” Ucap Maskur dan beberapa siswa yang lain, berlari mendahului mereka. Raut wajah mereka ceria dan penuh canda.
Beberapa saat kemudian, sambil ‘mendehem’, Bu Kandar mempercepat langkahnya sambil berkata …
“Duluan Ri, Ki Saleh …”
Ki Saleh dan Sri Hapsari tak sempat berkata sepatah kata pun, karena saat mulut keduanya baru hendak berucap, Bu Kandar sudah tidak ada  lagi di depan mereka. Sudah masuk lorong, ‘mentas ‘dari bawah kolong menuju rumahnya yang terletak di belakang jalan utama Kampung Falah.
“Oh ya Bang. Katanya tadi mau ngomong sesuatu sama Sri. Ngomonglah,” ujar Sri Hapsari saat ia dan Ki Saleh memasuki sebuah gang menuju rumahnya.
“Nanti sajalah, Sri, setelah kita tiba di rumahmu,” ucap Ki Saleh.
“Serius apa Bang Saleh, harus di rumah segala,” kata Sri yang mulai penasaran dengan Ki Saleh. Pena saran karena sudah tidak sabar ingin tahu apa yang hendak diutarakan lelaki baik hati ini.
“Enggak apa-apa Sri. Abang cuma pengen ngomong saja di rumah. Kalau di jalan kan kurang enak. Sebentar lagi magrib. Terus banyak orang yang mendengar dan melihat …”
“Ich abang.” Sri jadi salah tingkah. Tapi itu tak ia perlihatkan pada Ki Saleh. Justru dari langkah kakinya yang terlihat lebih  cepat melangkah agar segera sampai di rumah sebelum magrib tiba.
Magrib tiba.
Pak Broto dan isteri mengajak serta Ki Saleh menunaikan salat berjamaah di rumah sekaligus makan ma lam bersama. Sebab,   selama Ki Saleh berada di Kampung Falah ini, belum pernah sekalipun makan ma lam bersama di kediaman Sri Hapsari.
“Bapak dan ibu sering bertanya-tanya, apa Nak Saleh yang tak mau atau memang anak kami Sri yang tak pernah mengajak Nak Saleh  makan malam di rumah …” Kata Pak Broto sesaat sebelum santap malam bersama.
“Bukan itu Pak, Bu. Sri sudah sering mengajak makan malam di rumah. Tapi saya saja yang selalu bilang lain kali,” jawab Ki Saleh.
Sri Hapsari tak enak hati mendengarnya.
“Bukan Pak, Bu. Sri yang memang belum pernah mengundang abang Saleh ke rumah untuk makan malam bersama,” kata Sri Hapsari sambil melirik gemas pada Ki Saleh.
“Enggak Pak, Bu. Sayalah yang tak sempat datang. Soalnya, saya sibuk dengan teman-teman yang melatih warga dari kampung lain,” aku Ki Saleh terus terang.
“Enggak Pak, Bu. Bang Saleh bohong. Yang benar, Sri tak pernah mengajak ke rumah untuk makan malam,” terang Sri yang mulai kesal dengan Ki Saleh.
“Aduh, jadi bingung bapak. Mana yang benar yai?” Pak Broto menggaruk-garuk kepalanya sementara sang isteri asyik ‘nyirih.’
“Sri Pak,” kata Sri.
“Saleh Pak,” sahut Ki Saleh.
Ha ha ha ha …
“Sekarang makan yuk!” Ajak Pak Broto. Masih ketawa geli. Dasar anak muda. Apa-apa saja selalu bikin bingung orangtua.
“Mari Nak Saleh. Jangan sungkan-sungkan,” kata Bu Broto.
“Mari Bu …”
Ki Saleh sangat menikmati makan bersama Sri dan kedua orang tuanya. Selain sudah jarang makan ber sama dengan orang terdekat, menu makan malam yang tersaji di meja panjang berlapiskan kain bermo tif bunga yang dilapisi plastik berwarna putih ini betul-betul memikat hati dan mengundang selera ma kan.
Tengok sajalah! Ada jengkol, petai, kemangi, sawi dan kol mentah, kangkung rebus dan tumis, lalu pindang betok, ada ikan mas bakar, pindang gabus dan tempe goreng.
Belum lagi buah-buahan. Ada jeruk, kates dan duku. Buah-buahan ini berasal dari kebunnya Pak Broto. Masih segar dan pasti nikmat bila dimakan setelah santap malam.
Ki Saleh tadinya mengira sajian ini khusus menyambut kehadirannya. Sengaja mengundangnya, lalu ma kan malam bersama. Apalagi orangtua Sri sangat ramah padanya. Seolah sudah mengenal lama di rinya.
Ternyata perkiraan Ki Saleh salah. Justru kedua orangtua Sri Hapsari sama sekali tidak menyangka Ki Sa leh mau datang bertamu ke rumah, apalagi sampai meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Bagi mereka, kehadiran Ki Saleh di tengah keluarga sudah lebih dari cukup. Mengingat Ki Saleh adalah pemuda baik-baik, masih lajang dan kehadirannya di Kampung Falah mengemban tugas melatih ilmu silat kepada warga kampung.
Warga kampung pun sangat antusias menyambut kehadiran Ki Saleh dan rekan-rekan pendekar yang lain. Mereka disambut dengan tetabuhan rebana layakya pejabat penting dari kota besar. Ada penga lungan bunga, hiburan rakyat dan jamuan besar antara pendekar dengan warga kampung. Saling kenal satu sama lain.
“Pak, Bu …” Ucap Ki Saleh setelah makan malam dan duduk santai di ruang keluarga.
“Oh ya, Pak. Bu. Bang Saleh mau ngomong nich,” potong Sri dengan raut wajah sumringah.
“Mau ngomong apa Nak Saleh. Serius amat. Ngomonglah …!” Pak Broto mengambil rokok cerutunya yang ia taruh di asbak besar di atas meja.
“Bang. Ngomonglah!” Sri meminta kedua orang tuanya menyimak apa yang hendak disampaikan Ki Saleh.
“Saya …”
“Ya sudah. Bapak dan ibu sudah tahu kamu berteman dengan Sri, anak kami. Kami setuju asalkan kalian berdua bisa sama-sama jaga dirilah,” kata Pak Broto.
“Betul kan Bu?”
“Betul Nak Saleh, apa kata bapak barusan. Jangan sungkan-sungkanlah kau main ke rumah kami yang jauh dari mewah ini. Kami senang …” Jelas Bu Broto yang tetap asyik dengan ‘nginangnya’.
“Pak, Bu. Maksud Bang Saleh bukan itu,” kata Sri Hapsari yang gemas tengok Ki Saleh senyum-senyum sedari tadi.
“Pak, Bu …” Ki Saleh merasa berat buat bicara, entah kenapa gerangan.
“Ya sudah. Kami berdua sudah tahu,” kata Bu Broto yang tengok jarum jam dinding sudah menunjukkan ke angka delapan lebih tiga puluh menit.
“Sri, antarlah Nak Saleh ini sampai teras,” pinta Pak Broto.
“Tapi …”
“Ya sudah sana. Nanti kemalaman. Ini kampung, bukan kota besar,” kata Pak Broto mengingatkan, di kampung jam delapan ke atas sudah sepi. Beda dengan kota besar, semakin malam justru semakin ramai.
“Baik Pak, Bu.”
 Sampai di teras, Sri Hapsari tak bicara sepatah kata pun. Dia kesal melihat ‘kelakuan’ Ki Saleh malam hari ini. Kenapa enggak kesal, janji mau ngomong sesuatu pada orangtuanya,  Ki Saleh malah diam seribu bahasa.
“Bang Saleh gimana?”
“Ya, maafkanlah abang ya Sri. Soalnya, mau ngomong sudah keduluan bapak dan ibu kamu.”
“Sebelum pulang tadi kan bisa, Bang kalau mau …”
“Bisa memang, tapi tak enaklah abang. Masak harus potong omongan ibu bapakmu. Mana sopan santun abang …”
Sri diam.
“Sudah. Bagaimana kalau sekarang abang ngomong sesuatu sama kamu, Ri. Mau kan?”
Sri masih diam.
“Mau kan?”
Ehem …
Ehek ehek .. ehek ehek …
“Sri …” Panggil ibunya.
“Ya Bu.”
“Abangmu sudah pulang belum?”
“Baru akan Bu …”
“Jangan lama-lama bilang sama abangmu. Banyak nyamuk di teras itu ya.”
“Ya Bu …”
Hik  … hik … hik … hik …
Sri Hapsari tak diam lagi. Dia sudah memahami alasan kenapa Ki Saleh tak mau bicara pada kedua orang tuanya.
“Jangan marah ya!”
“Iya Bang Saleh.”
“Sekarang abang mau ngomong sesuatu padamu. Bersediakah?”
“Bersedia …”
“Abang suka sama kamu Sri,” ucap Ki Saleh dengan suara bergetar.
“Cuma segitu saja Bang Saleh?”
“Abang sayang kamu …”
“Lalu?”
“Abang jatuh cinta.”
“Iya. Lalu?”
“Abang cinta padamu …”
“Lantas?”
“Abang pamit pulang … daaagh!”
Sri Hapsari memanggil Ki Saleh. Guru silat ini pun bersegera menghampiri salah satu kembang Kampung Falah ini dengan penuh tanda tanya.
“Sri juga abang,” kata Sri malu-malu ditahan.
“Sudah pulang belum Sri?” Tanya Sang Ibu yang kemudian melangkah ke teras, menghampiri anaknya yang lagi ‘pandang-pandangan’ dengan Ki Saleh.


Jumat, 25 November 2016

Warung Kopi (2)



Cerkom (Cerita Komedi)
Warung Kopi (2)
Bagian Kedua
Oleh  Om Amin


IV
HA HA HA HA HA …
“Antutu galak niyan samo uwong dak sembahyang.” Mang Cek penesan sambil embolak-balik gorengan pisang, tahu, tempe samo bakwan.
“Jangan mak itula Mang Cek. Kagek nangis pulo Mang Fir nyo,” kato Mang Kasim. Ketawo libar. Saking libarnyo pacak tigo ikok pisang goreng masuk ke jeru mulutnyo.
“Kalu aku terus terang, idak limo waktu sembahyang sehari semalem. Idak Isya’ samo Megrib, yo Isya’ samo Dzuhur. Kuraso jadilatu kalu …” Simbat Mang Fir niup banyu kopi yang masih berasep. Panasnyo sampe berembun lubang idung Mang Fir.
“Jelas kurangla Mang Fir,” kato Mang Cek sambil ngeladeni betino mintak bungkuske goreng-gorengan. Sempet ngedipke mato samo Mang Kasim, sebelum berejo balik.
“Tambahla tigo lagi. Jadi limo kali. Bener dak Mang Cek?” Mang Kasim metuke kelepitnyo. Banyak jugo duitnyo. Tapi yang diembeknyo duit kecik. Duwo lembar duit ribuan. Untuk apo? Dio enjukke duit itu samo budak kecik yang sejak tadi tecuguk depan dio mintak duit.
“Bener niyan kato Mang Kasimtu, Mang Fir. Kalu kau tambah tigo lagi retinyotu lengkap galo-galo. Subuh kau gaweke. Dzuhur samo Ashar mak itu jugo. Megrib Isya’ kau lakuke sebelum tiduk malem. Pastila …..” Mang Cek ngitung duit sosok budak kecik yang baru embeli bakwan goreng.
“Pastila ngapo Mang Cek. Tuntas-tuntas kalu ngomongtu. Biar jelas,” uji mang Fir. Mintak segelas lagi banyu kopi. Kalu taditu kental item, sekarangni kental susu.
“Pastila kau dakken ado diganggu antutu lagi. Bener dak Mang Cek?” Mang Kasim metuke rokok. Dio embek sebatang, dahtu diudutnyo. Sambil ngisep rokok, sambil minum banyu kopi, ngapo dak sedep.
“Benerla apo yang dikatoke Mang Kasim barusantu Mang Fir. Insya Allah kau dak bakal diganggu lagi oleh si antutu,” jelas Mang Cek. Narokke asbak rokok kecik parak gelas kopi Mang Kasim.
“Tapi ngomong-ngomong, apo kamuk beduwoni limo waktu jugo?” Mang Fir yang balik betanyo. Setahu dio, lum pernah enjingok Mang Cek samo Mang Kasim sembahyang.
“Awaktu dak tejingok bae Mang Fir. Sembahyang terus akuni di rumah. Ngapo pulo nak dtunjukke samo uwong lain. Dak bolehla Mang,” kato Mang Kasim, alasannyo bae. Memang dio dak pernah sembahyang selain Hari Rayo Idul Fitri samo Idul Adha.
“Embudike awaktu Mang. La taula aku. Aku kan pernah main ke rumah kautu. Dari pagi enggut petang. Dak pernah enjingok kau sembahyang.” Mang Fir nyendoki banyu kopi karno masih panas.
“Ngaku baela Mang ngecikke balak,” uji Mang Cek. Dio jugo ngaku masih bolong-bolong kalu soal urusan sembahyang.
“Retinyotu samo mawon. Samo bae. Males galo sembahyang,” kato Mang Fir. Dak lamotu, duwo sendok minum banyu kopi, dio ngelanjutke omonannyo …
“Tapi, apo kamuk beduwoni pernah diganggu antu?”
“Lum Mang Fir,” simbat Mang Kasim. “Kuraso antutu takut samo aku.”
Ha ha ha ha …
“Jangan betatuwan gino Mang Kasim awaktu. Gek diganggunyo baru kau tau,” uji Mang Cek, baru pacak duduk ngomong betigo.
“Iyo Mang. Lum bae. Kalu la diganggunyo pastila kau tekincit-kincit,” kato Mang Fir ngirup seabisan kopi segelas.
Eeeaakkkkh …
Mang Fir kekenyangan. Kenyang oleh banyu kopi samo tahu goreng.
Le nak jam duwo, Mang Fir permisi balik duken. Dio becepet balik takut gektu bininyo marah karno dak direwangi.
Sedangke Mang Kasim balik buncitan. Dia embantu duken Mang cek nutup warung kopinyo. Biasola, jam duwoan warung kopi tutup. Itu paling lambat biasonyo. Kadangtu, sedenget bae bukaknyo, kiro-kiro jam tujuh pagi, jam sebelas la nutup.
Abis nutup warung kopinyo, uwong duwoni bepisah jalan. Sikok ke kanan, sikok lagi ke kiri. Sikok pake motor, sikoknyo lagi jalan sikil.
Ngelewati pematang sawah, biasola gawe Mang Kasim ngabiske waktu, deket megrib baru nyampe rumah. Ado-ado bae yang digawekenyo. Ado kelapo nyampak, diembeknyola. Dibawaknyo balik. Dak apo-apo.
Kadangu tejingok iwak delek berenang di anak sungi, dio paraki. Ditujahnyo pakek bilah tajem. Kapan tekeno, pingsan daktu mati. Diembeknyola. Dia bawak balik.
Soreni nasib Mang Kasim lagi baik. Dio pacak embawak iwak delek besak samo kelapo mudo. Sambil ngelewati jeramba kayu, dio besiul-siul sambil benyanyo cak ini …

             “Delek dapet, kelapo di tangan
                         Kalu cepet, apo bae tekeruan
                                          Delek digoreng, dimakan beduwo
                                              Nasi panas sayurnyo kangkung
                                                          Dicocol pakek sambel tomat
                                                                  Pastila super nikmaaaat

                                                                              Aha aha … Alangke sedepnyo
                                                                                  Perut kenyang, hati pun girang
                                                                                          Tando awal idup nak senang …”


“Oi Mang Kasim …” Ado yang manggil-manggilnyo.
Mang Kasim noleh. Dio lenak belari  kalu bukan Mang Fir yang manggil-manggilnyo.
“Oi Mang. Alangke besaknyo iwak kitotu. Bagi-bagi oi …” Kato Mang Fir nyekeli badan iwak delek sambil ketawo.
“Nak dimakan, apo nak dijualke?” Tanyo Mang Fir. Kepengen  makan iwak delek. Kalu dibuat pempek, alangke lemaknyo.
Mak itu jugo kelapo. Kan masih mudo. Kalu dikeruk dagingnyo yang putihtu, campurke sirup apo susu sa mo es batu, ya cacam, alangke lemaknyo. Dak pacak ngatokenyo. Panas mak ini kalu minum es kelapo mudo, langsung ilang rasonyo awus.
“Jual baela samo aku Mang Kasim,” rayu Mang Fir. Masih nyekel badan iwak samo dogan.
“Ado duit apo awak?”
“Adola …”
“Manooo. Kujingok duken.” Mang Kasim enjingok kelepit Mang Fir.
Mang Kasim sebenarnyo la curiga, apo bener Mang Fir deketnyoni Mang Fir sohibnyo. Soalnyo, dari caro dio ngomong, bener. Cuman tingkah lakunyo yang terus nak embeli iwak delek samo dogan, itu yang ra sonyo agak lain.
Jugo kelepitnyo. Anyar niyan. Setahu dio, kelepit Mang Fir buruk. La koyak pulok. Cuman yo itu taditu. Mang Kasim dak pacak apo-apo.
“Aku ecak-ecak dak tau bae ah …” Kato Mang di jeru ati.
Dak lamotu dio noleh. Mang Fir la dak katik lagi di dekatnyo.
“Apo dak. Iyola niyan,” uji Mang Kasim ngomong dewekan.
Rainyo pucet. Iwak samo dogan dak tekeruan lagi. Telepas dewek. Dio belari cepet. Keperi cepetnyo, lum apo-apo la nyampe parak batang pisang jalan tembus.
Sementaro …
Piiiiin …
Piiiin …
Piiiiin …
La tigo kali ngepimpinke klakson. Lanang di depannyo dak jugo galak minggir. Masih terus bae bejalan.  Karno penasaran, Mang Cek turun dari motornyo. Dio parak-I lanang taditu.
Tekejut dak pecayo …
“Mang Kasim?!”
“Mang Cek?!”
“Nak kemano awak. Apo la lupo jalan balik?”
“Idak Mang … “Uji Mang Kasim sambil ketawo ngekek.
“Kau nak kemano?”
“Ke rumah mamangla. Minjem duit. Buntu aku,” kato Mang Kasim. Karno masih jauh, dio nak numpang bae dengan Mang Cek.
Melok Mang Cek, Mang Kasim dak berenti ngomong. Entah apo yang diomongkenyo. Aneh jugo uwong sikokni, kato Mang Cek, balik dari warung aku, pecak uwong ‘kurang bae.’
Ngapola Mang Kasimni?
Sakit apo?
“Tadi rasonyo idak apo-apo. Sehat bae …”
Karno dak konsentrasi, motor goyang stangnyo. Jalannyo motor tibo-tibo bejoget. Padohal bannyo idak betus, apolagi kurang angin.
Praaak …
Buuuuk …
“Adooow …”
Mang Cek enjerit. Dio nak mintak tulung samo Mang Kasim. Tapi la dak katik lagi.
Di mano dio?
Hi hi hi hi …
Sayup-sayup tedenger uwong lanang cekikikan …

V        
“SIANG Mang Cek,” kato gadis cindo bekulit sawo mateng di depan warung kopi Mang Cek.
“Siang juga Non.  Silakan …!” Mang Cek narik kursi ke deket tiang warung kanan depan. Dikongkonnyo duduk.  Si betinoni duduk sambil tesenyum manis cak gulo.
“Mau kopi atau teh Non? Betanyola Mang Cek. Sebab, kalu dak ditanyo, macak-macak bae ngawek banyu kopi, taunyo idak. Yang rugi kan kito dewekla.
“Duwo-duwonyola Mang. Yang lemak yo Mang ngaweknyo.”  Si betinoni  ngambek pisang, idak digigit lagi, langsung ditelen. Dakdo dikunyah lagi.
Mang Cek yang nyeliknyo cuman geleng-geleng palak bae. Apo dak keselekan dio makan. Idak ngunyah lagi. Langsung bedelep bae. Lanang bae dak mak itu. Apolagi betino. Mecem-mecem bae dunioni.
Seumur-umur Mang Cek enjago warung kopi, baru teselik uwong lanang makan duwo kali. Retinyotu, pi sang diembeknyo. Dimasukke ke jeru mulut duwo kali. Langsung abis. Dahtu ngopi. Ado memang yang cak itu.
“Sudah lum Mang banyu kopi samo tehnyo?” Tanyo si betino pecak dak sabaran lagi.
“Sebentar Non. Tinggal ngudek gulonyo bae …”Kato Mang Cek. Sambil ngudek sambil besiul pecak bujang kegatelan.
“Jangan lamo igo yo Mang. Kagek kesorean pulo,” uji si betinoni. Dak berenti majuh. Sepiring besak goreng-gorengan abis diembatnyo.
“Ini Non banyu kopinyo,” uji Mang Cek narokke banyu kopi gelas besak pucuk piring seng ukuran sedang.
“Tehnyo Mang?”
“Tunggu duken ya Non.”
Mang Cek balik lagi ke tempat dimano dio biaso enggoreng dagangannyo. Dio embek segelas teh, dilepakkenyo parak banyu kopi betino taditu.
Haaaa …?!”
“Abis Mang la kuminum galo. Aus. Aku ke sini jalan kaki Mang. Bayangkela oleh mamang. Mano panas, aus pulo …”
“Ooooo mak itu. Apo nak nambah lagi Non?”
“Jadi bae Mang.”
Lum sempet Mang Cek balik badan, teh gelas besak taditu la disikat abis. La panas, pastila mutung lidahni kalu diminum.
Anehnyo, si betinoni biaso-biaso bae. Abis minum dio embadok lagi. Kalu taditu goreng pisang, sekarang goreng tahu samo pempek.
“Ya cacam,” kato Mang Cek jeru ati. Pas nak ngantarke banyu teh, dio tejingok si betinoni ngambek tahu sekali limo. Langsung bae ditelen.
“Mang Cek!”
“Ya Non …” Simbat Mang Cek ecak-ecak dak tau. Ecak-ecak embalikke badannyo, dio narokke segelas teh manis.
 “Minum yo Mang?!”
“Silakan Non …”
Ceruuup …
Gleeeek  geek …
Aaaach ..
Sedaaap …
Nikmaaat …
Sambil makan pempek, beceritola betino idung mancung ke depanni. Aku Mang, katonyo, baru bae pindah ke kampung ini.
“Aku melok ayuk kandung aku, Mang. Bosan aku Mang tinggal di dusuntu. Sepi. Lemakla di sini. Rame. “Kato si betinoni sambil enggigit tahu goreng.
“Non ke sini mau kerja atau …?” Mang Cek ngembekke banyu putih. Kesiyan enjingok si betinoni pecak keausan terus.
“Kasih Mang,” katonyo. Baru teembek, langsung diminum separo.
“Lanjut dak Mang ceritonyo?”
“Lanjutkela …”
Aku kesinini basingla bae, Mang. Yang penting ado hiburanla. Pengen niyan enjingok kota besak. Pengen nyelik uwong banyak …
“Tapi Mang …”
“Banyu lagi Non?”
“Cukupla Mang,” uji gadis tinggi semampaini. “Pecak sepi-sepi bae Mang ye … Kemano uwong-uwong nyoni. Apo mendep bae di rumah Mang?”
Ha ha ha ha …
“Ngapo ketawo Mang? Lucu yo?”
“Idak Non. Yo namonyo jugo uwong. Kito dak pacak maksonyo nak metu dari rumah. Kalu sir dio metu. Kalu idak sir, mendep bae di rumah. Siapo nak ngelarang?”
“Oooo cak itu yo Mang?!” Si betinoni minum lagi. Sekalini duwo teguk abis.
“Kalu mak itu samo bae dengan yang di dusun akutu Mang …”
Ha ha ha ha …
“Samo tapi dak serupo, Non. Kalu tempat Nontu dusun namonyo, kalu di tempat mamangni kota besak. Walaupun cuma  di…”
“Di apo Mang?”
“Di pinggirannyo bae …”
Hi hi hi hi …
Mang Cek tekejut niyan endanger betinoni ketawo. Cak kuntilanak ketawo. Waktu ketawo giginyo yang putihtu kejingokan galo-galo.
Lucunyo lagi, waktu ketawo matonyo melok ketawo pulo. Beputer-puter. Dahtu mukonyo agak pucet.
Berambut panjang, alang ‘belagaknyo’ betino sikokni.
“Berapo Mang?”
“Limo belas ribu baela galonyo Non …” Kato Mang Cek. Dio ringkeske gelas minuman samo duwo ikok piring kosong wadah goreng-gorengan.
“Ini Mang duitnyo.” Ngenjukke selembar duit seratus ribu.
“Besak amat duitnyo Non. Dak katik sosok mamang.”
“Sosoknyo embek bae buat mamang.”
“Yang bener Non?”
“Iyo bener Mang. Udah ya Mang. Aku balik dulu …”
“Oke …”
Mang Cek dak pulo masati niyan kemano betinotu balik. Apo lewat kanan, apo lewat kiri. Dio cuman kehanjakan enjingok duit seratus ribu di tangan. Besak jugo boleh untung arini.
Dimasukkenyo duit taditu di kantong celanonyo.  Dak lamotu datangla Mang Kasim. Pengen dibuatke banyu kopi segelas besak.
“Oi Mang Kasim. Kauni …” Mang Cek tibo-tibo marah. Tapi marah bae. Idak sampe nak enggocohtu idak.
“Kemarintu makmano kauni?” Mang Cek ngudek banyu kopi, dienjukkenyo dahtu gelas berisi banyu kopi taditu samo Mang Kasim.
“Kemarin ngapo Mang?”
“Jangan ecak-ecakla dak tautu Mang Kasim.” Mang Cek kesel. La ditulung dak ngaku pulo.
“Ecak-ecak makmanotu Mang. Aku jadi bingung …” Mang Kasim dak jadi minum enjingok rai Mang Cek pecak nak marah. Marah abis makkato uwongtu.
Diceritokela oleh Mang Cek kitoni kejadian sore kemarintu. Dari mulak-I ninggalke warung tempatnya jualan sampe rumah. Mang Kasim manggut-manggut bae. Dia baro ngerti akar masalahnyo.
Mang Cek terus becerito. Dio baru berenti becerito waktu  dipanggil ibuk bebadan gemuk mintak bungkuske banyu kopi susu sikok.
Sambil ngawek kopi susu, Mang Cek terus becerito. La sakit nyampak dari motor, idak katik yang nulung pulo.
“Na Mang Cek. Sekarang giliran aku nak becerito duken,” uji Mang Kasim setelah ibuk taditu pamitan embawak sebungkus banyu kopi susu.
“Cerito apo? Ceritokela …” Kato Mang Cek duduk parak Mang Kasim.
Dceritokela kalu kemarintu dio ketemu Mang Fir. Ruponyo, setelah aku tanyoke ke Mang Fir, dio balik dewekan. Sampe ke rumah dakdo kemano-mano lagi.
“Mang Fir dewek’an eran ngapo biso mak itu. Menurut dio, biso bae Mang Fir yang jalan samo aku kemarintu si …”
 “Siapola Mang Kasim. Kalu dulur awak, apo adiknyo Mang Fir dewek.” Mang Cek mulak’I gelisah. Jangan-jangan ado …
“Antu Mang.”
“Antu? Darimano antunyo? Terumpak ado.”
“Biso bae Mang. Apolagi waktu aku balikt memang sepi. Na, yang sepi-sepi tula si antutu galak nyamar.”
Mang Cek tediem.
“Na, waktu mamang balik kemarintu sepi dak?”
“Sepila …”
“Na … cocokla kalu mak itu.”
Mang Cek langsung ngaitke cerito Mang Kasim tadi dengan betino yang mampir ke warungnyo. Kan sepi jugo. Dio bejajan, terus ngenjukke duit seratus ribu selembar.
“Mano duit dari diotu? Aku nak nyeliknyo,” uji Mang Kasim. Minum kopi dari piring kecik. Lemak jugo. Dak teraso panas. Anget-anget kuku cak itu.
“Ini Mang Kasim …”
Mang Cek tekejut setengah mati. Kapan dijingoknyo, bukan duit yang dio metuke, tapi daun.
“Apo dak ujiku …”
“Jadi …?!”
“Idak katik lain … si betinotu pasti antu …”

VI
DI rumahnyo Mang Kasim …
Tigo beranak. Mang Kasim, bininyo samo anaknyo Mardi, ngintip  sambil nempelke kuping ke dinding pintu kamar yang jarang ditempati. Lum tedenger apo-apo.
“Ai awakni Di. Kalu salah denger,” kato abahnyo, Mang Kasim. Palak gatel pecak kutuan, mandi lum.
“Idak Bah. Bener. Dak pecayo abahni. Tunggula duken,” uji Mardi. Nyekel tangan abahnyo jangan kemano-mano sebelum endengarke suaro aneh di jeru kamar.
“Payu kalu mak itu … Ibuk nak ke dapur duken.” Bi Cek Kasim becepet  nak  ke dapur.
“Tunggula duken Buk. La kepalang basah,” kato Mardi. Nyium-nyium tangan emaknyo, bukan nak bemanjoan. Tapi ngarepke  niyan si emak jangan duken ke dapur.
“Akutu nak nyiapke makan malam kito betigo. Kalu ibukmuni dakdo ke dapur, kamuk beduwoni nak makan apo, cubo?”
“Yo sudah. Lajula. Biarkela Di. Gektu kalu kito la sudah, retinyotu langsung bae nancep ke meja makan. Mak itu kan Buk?”
“La iyola pulo. Nak makmano lagi. Okay?”
“Okay,” uji Mardi nepuk tangan emaknyo yang bawuk bawang.
Sementaro Bi Cek ke dapur, duwo beranakni ngintip lagi. Kejingokan niyan kalu la kesel nunggu. Untung niyan ibuknyo la ke dapur duluan. Kalu idaktu pastila bemarah-marahan. Perut la lapar, yang tedenger dak ado.
“Bah … makmano kalu kito masuk bae?” Mardi dak ketahanan lagi. Perut lapar, mato ngantuk.
Bayangkela oleh dulur-dulur. La jam delapan malem ini lum apo-apo. Abah lum mandi samo makan, Bi Cek besugi bae lum sempet.  Sedangke aku, kato Mardi, enjingok buku bae lagi lum. Apolagi nak ngafal samo ngerjoke pe e r segalo.
“Dari mano kito nak masuk. Lawang ini kan tekunci …” Di otak-atik Mang Kasim gagangnyo. Ditarik, tetep dak tebukak jugo.
“Madaki Bah …” Dicongkel-congkelnyo pakek pena. Lawang dak jugo tebukak.
“Awak megang kuncinyo dak?”
“Idak Bah.”
“Cubo tanyo ke emak kau sano. Mano kunci lawangni. Cepet …”
“Beres Bah.”
Apo kato Bi Cek?
“Kalu emak tau kuncinyo, buat apo nunggu tecuguk lamo depan lawangtu. Ai kawuni Di. Tanyo kea bah kautu …”
Sambil bejalan, Mardi bepikir denget. Kalu aku tanyo kea bah, pasti dak katik jugo. Abah pastila ngong kon balik lagi ke emak. Bolak-balik mak itula. Keno marah yang ado. Lawang tebukak dak. Saro la jelas.
Mang Kasim sempet ngakak waktu Mardi bawak linggis. Sekalianla bawak cangkul samo parang. Bedat bae lawangni.
“Tenang Bah.  Serahke bae samo Mardi. Dak apo-apo. Jingokla.” Mardi pecayo diri. Mecem uwong la biaso. Nyekel linggis padohal baru sekali nila nyekelnyo. Salah cekel pulo. Yang palak di pucuk, yang buntut di bawah.
Reeeet …
Eyooot …
Lawang tebukak.
Bah?!” Mardi tejelit.
“Di?!” Abahnyo tengangap.
Ngapo cak ini?
Waktu lawang tebukak, tecium pecak bawuk kemenyan.
“Masuk apo idak Bah?” Mardi takutnyo, pas la masuk, lawangni tetutup lagi.
“Ai penakut jugo awakni Di. Dakken adola.  Siapo yang nutupnyo. Ibuk kau di dapur sano.”
“Kalu bae dak apo-apo.” Mardi nenengke atinyo.
Bejalanla duwo beranakni. Ngidupke lampu. Dak idup-idup. Aneh jugo. Rusak idak. Lampunyo bae baru dibeli. Mahal pulo regonyo. Embelinyo bukan basing-basing tempat. Ituna, di toko khusus lampu. Dak sa lah-salah. Buatan luar negeri.
Ngapola tetep dak idup?
“Sudahla Di. Dak usah dipikirke gino. Kagek beli lagi bola lampunyo.” Mang Kasim  ngarepke apo yang tejadi di jeru kamarni barusan, pacak diketahui.
“Apo antu … apo dasar kuping samo mato kautu yang la dak beres lagi …”
Paaaar …
Lampu idup. “
“Bah!” Mardi tepucet.
“Mardi?!” Mang Kasim gemeteran.
Praaak …
Deeeep …
Lawang tetutup.
“Bah …!” Mardi meluk abahnyo. Si abah jugo meluk Mardi, anaknyo. Saling bepelukan. Samo takut en ngerinyo.
“Kito metu baela,” uji Mardi nyumputke rainyo di bawah kelek abahnyo.
“Jangan kau sumputke mak itu rai kautu, Di.. Busuk samo masem kelek abahtu bawuknyo. Gek temun tah kau.”
Hik … hik .. hik … hik …
Jegaaar …
Kloneeng …
Hik .. hik … hik … hik …
“Payu Bah … Ejoke oi iyo. Kito metu bae,” kato Mardi. Raso nak mising taditu tibo-tibo ilang dewek.  Beganti takut, keringetan. Dahtu gemeteran.
“Kito ke lawang bae,” uji Mang Kasim. Baru tigo langkah, lampu padem. Gelep lagi.
“Bah .. Ngapo gelep niyan Bah?” Mardi ngerabo abahnyo. Salah rabo. Yang terabo burungnyo.
“Itutu perkutut abahmu, Di.” Bisik Mang Kasim. Ngingetke anaknyo jangan galak kanji. Gek kebiasoan. Kanji sampe tuwo.
“Maaf Bah. Akutu salah rabo bae. Kukiro tadi tangannyo abah … Ngapo besak niyan Bah. Rasonyo selamoni kecik punyo abahtu …”
“Husssy .. pecah bulu gektu …”
Hik … hik … hik .. hik …
Namonyo jugo nekad. Walau gelep, tetep bae jalan sambil ngerabo dinding. Pokoknyo apo bae yang pacak dirabo, yo dirabo.
Lambat cak gondang bejalan, nyampe parak lawang, lawangnyo tebukak. Lampu idup tibo-tibo.
“Alhamdulillah,” uji Mang Kasim lego niyan rasonyo. Lawang tebukak, lampu idup.
“Payu Bah, kito metu cepet …”  Mardi takutnyo,  gektu lampu tibo-tibo padem lagi, lawang tetutup. Bahayo besak. Dak pacak metu lagi.
Di meja makan la tehidang nasi, pindang betok, kangkung tumis samo tahu. Jugo sayur asem. Lengkapla. Ado kerupuk jangek, ado kerupuk iwak delek.
Duwo beranakni  langsung embadok. Pecak kompak bae. Segalo yang ado di pucuk meja, diembat galo-galo. Bi Cek cuman ketawo enjingoknyo.
“Ibuk la makan kan?” Tanyo Mardi. La abis pindang sepiring samo nasi duwo piring besak, baru negur ibuknyo yang tecuguk enjingoki dio samo abahnyo makan.
 Waktu Mang Kasim nak bubuh lagi, Bi Cek enggeser kursinyo. Nak pegi masuk jeru kamar.
“Ibuk nak kemano? Mang Kasim asal nanyo bae. Dio dak pulo merhatike bininyo. Apo kelaparan apo idak. Yang penting perut la kenyang. Dahtu baru urusan bini samo anak.
Sudah majuh, duwo beranakni masih duduk-duduk di meja makan. Bukan nak pengen makan yang lain lagi. Bukan cak itu. Tapi nunggu Bi Cek yang belum jugo metu dari jeru kamar.
Soalnyo, urusan pekakas bekas makanni nak diapoke. Nak dibiarke be tekuntang pucuk meja. Dak mung kinla. Mangkonyo, nunggu Bi Cek datang lagi, biar dirapike samo-samo …
“Cubo kau jingok duken di kamarnyo, Di. Kongkon ibuk kau bae ngerapikenyo.”
Bi Cek memang ado di kamarnyo.  Waktu Mardi  masuk jeru kamarnyo, dia tebangun. Becepet turun dari tempat  tiduknyo. Nemui lakinyo yang lagi duduk santai di deket meja makan.
Mardi yang datang belakangan sempet ngolahke emaknyo. Katonyo, obat yang paling bagus kalu perut lapar adalah tiduk. Jangan dipikirke kalu kitotu lapar.
“Laaa …”
Bi Cek temangu. Eran dio. Siapo yang ngongkon la makan malemni. Siapo yang la ngidangke nasi samo gulainyo di pucuk meja makanni …
“Bukan ibuk apo?” Tanyo Mardi samo Mang Kasim, barengan nanyo cak la bejanjian sebelumnyo.
“Kalu aku, buat apo aku betanyo samo kamuk beduwoni. Tau dak?”
Mang Kasim samo Mardi pecak uwong lolo. Saling masati, mulut tetutup.  Bingung yang ado.
“Ngapo jadi cak uwong lolo kamuk beduwotu?”
“Jadi …” Mardi dak pacak lagi neruske omongannyo karno gemeter. Bukan lutut, tapi pantat yang cuma begoyang-goyang …
“Jadi apo haaa?” Bi Cek la kepanasan. Makan dak ngajak-ngajak lagi. Kalu tau mak ini, cubo dari tadi bae makan. Aman, dakdo kelaperan cak ini …
“Yang tadi duduk enjingok kamik beduwo majuh taditu, bukannyo ibuk apo?” Tanyo Mardi la keabisan bingung.
“Bukanla … Uwong  tiduk.”
Astaghfirullah …