Novel Lepas
Kampung Kami (7)
Edisi Ketujuh
By Mang Amin
VI
“SRI .. Izikan abang ikut denganmu ke masjid Nurul Falah
sore hari ini. Boleh kan Sri?” Kata Ki Saleh saat singgah di rumah Sri Hapsari.
Dia bermaksud mengantarnya sore hari ini untuk mengajar siswa Taman Pendidikan
Nurul Falah.
Sri Hapsari tidak menjawab pertanyaan ‘menggoda’ itu, selain
menebarkan senyum manisnya sembari
menyilakan Ki Saleh duduk dan menunggunya untuk mempersiapkan bahan
mengajar. Tak pula banyak. Hanya buku tulis, buku bacaan dan spidol untuk menulis di papan tulis.
“Ayo Bang … Bang Saleh!”
Ki Saleh menoleh.
“Melamun ya?”
“Enggak. Cuma tengok ayam makan di pekarangan rumah.”
“Masak cuma tengok
ayam jadi enggak denger Sri panggil.”
Eheeem …
“Maafkan abang ya Sri. Abang tak bermaksud …”
“Iya. Sudah dimaafkan. Ayo Bang. Nanti kesorean lagi.”
Di masjid Nurul Falah, siswa didik Bu Sri Hapsari sudah
banyak yang hadir. Mereka, seperti biasanya menyempatkan diri bermain-main. Jika siswa perempuan main
dakocan, siswa laki-laki main kejar-kejaran dan petak umpet.
Bu Kandar yang sengaja datang sore hari itu hanya tertawa
geli melihat siswa Nurul Falah saling berebut dakocan. Entah sengaja atau tidak, Andi mengambil
dakocan miliknya Marni. Marni mengejarnya. Dakocan jatuh ke tanah, lalu
rame-rame ingin mengambilnya.
Dapatkah?
Tentu tidak. Itu dakocan hilang entah ke mana. Andi meminta
maaf pada Marni. Dia berjanji akan meng gantinya jika ada uang nanti. Siswa
lain pun bertepuk tangan. Menyoraki keduanya sebagai pasangan serasi.
“Assalamualaikum …!” Sapa Ki Saleh.
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab siswa
serempak. Mereka mencium tangan Ki Saleh dan Bu Guru Sri silih berganti.
Setelah itu Bu Kandar menghampiri …
“Lho … ibu?!”
“Aku ingin tengok kamu mengajar. Boleh kan?”
Ha ha ha ha …
“Tak sangka Sri, rupanya Bu Kandar pandai juga bergurau.
Bolehlah tentu. Anak murid Sri, anak murid ibu juga kan?”
He he he he …
“Bu Kandar!” Ki Saleh menyapanya dengan menundukkan muka
dengan tangan lurus menempel ke dagu.
“Mari Bu. Kita masuk ke dalam masjid,” ajak Sri Hapsari.
Duduk lesehan membentuk lingkaran, Sri Hapsari mengawali
pelajaran akhlak sore hari ini dengan mem baca surah Al-Fatihah bersama-sama.
Disusul dengan doa agar dberi kelancaran belajar dan ilmu yang di peroleh bermanfaat.
Bu Kandar tampak mencatat apa yang diterangkan Sri Hapsari.
Sebab baginya, walaupun materi pela jaran buat anak-anak, tak ada salahnya ikut
menyimak dan mencatat agar mudah diingat dan disampaikan ke orang lain
nantinya.
Demikian pula halnya dengan Ki Saleh. Kendati tidak mencatat
seperti yang dilakukan pengurus masjid, Bu Kandar. Pemuda yang gemar
berpetualang ini tekun memperhatikan
setiap penjelasan yang di sampaikan Bu Sri Hapsari. Sampai-sampai Bu Kandar di sebelahnya, yang
sempat menanyakan eja tulisan di papan tulis, tak ia hiraukan.
“Ki Saleh … Ki Saleh,” sapa Bu Kandar.
Ki Saleh menoleh. Dia tampak terkejut. Kenapa sampai harus
dua kali ibu di sebelahnya menyapa dia, padahal jarak keduanya tidaklah jauh.
“Ki Saleh memperhatikan yang disampaikan Bu Sri atau
orangnya?” Gurau Bu Kandar.
“ Pelajarannya Bu …”
“Betul, enggak salah apa Ki?”
“Enggak Bu. Benar,” jawab Ki Saleh, terpaksa berbisik karena
beberapa siswa sampai menoleh ke arah nya sambil tersenyum.
Bu Kandar menanyakan huruf depan paling atas sebelah kiri, R
atau P. Dijawab Ki Saleh, P.
“Ok oooo … berarti pamitan ya Ki.”
“Betul sekali Bu Kandar.”
Di papan tulis tertulis kalimat … “Pamitan itu penting jika
kita mau pergi. Walaupun perginya tidak
jauh, hanya ke warung untuk membeli rokoknya ayah, kepada ayah atau ibu, atau
siapa saja saat kita meninggalkan rumah, haruslah berpamitan …”
Kenapa?
“Karena anak-anakku sekalian,” kata Bu Guru Sri Hapsari,”
Dengan kita berpamitan, orang yang kita pamiti akan tahu hendak kemana kita
pergi.”
Ha ha ha ha …
“Dahlia, Maskur, kenapa tertawa. Ada yang lucu?”
“Yandi Bu Guru,” jawab keduanya.
“Yandi kenapa?”
“Gini Bu Guru. Kalau kita mau pipis atau buang air besar
misalnya, apa perlu pamitan juga?”
“Perlu juga …” Jelas
Bu Sri.
He he he he he …
“Coba sekarang ibu tanya, perlu tidak kita berpamitan?”
Hening seketika.
“Tidak perlu Bu Guru,” jawab Marni memecah keheningan.
Suasana pun berubah seketika. Dari semula hening menjadi riuh kembali.
“Apa alasannya Nak Marni?”
“Kalau kita pamitan, selain bikin jijik orang lain, juga
bisa-bisa pipis di celana Bu Guru,” kata Marni.
“Kalau saya perlu, Bu Guru.” Sahut Bagus.
“Alasannya Gus?”
“Nanti kalau kita dicokot buaya, gimana …?”
Hua ha ha ha …
“Apa itu dicokot Gus?”
“”Digigit Bu Guru,” terang Andi ketawa ditahan.
Hek .. hek … he he …
“Biasalah Bu Guru. Bagus kalau buang air besar di sungai …”
Ledek Yandi.
“Enggak ada we ce Bu di rumahnya,” kata yang lain.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Sudah dulu ya ketawanya …”
Siswa pun diam.
“Nah, jadi anak-anakku … Mulai sekarang kalian harus
membiasakan diri berpamitan. Banyak manfaat bila kita berpamitan. Mumpung
kalian masih kecil. Kalau sudah besar sulit membiasakannya.”
“Selain berpamitan, kalian juga tidak boleh bohong pada
orangtua.”
Siswa saling pandang.
“Dahlia!” Bu Guru Sri menegurnya karena ketawa yang ditahan
sampai merah mukanya.
“Leni Bu Guru,” ujarnya.
“Leni, ada apa yang?”
“Gini Bu. Kalau kita
jujur terus sama orangtua bakalan payah Bu.”
He he he he …
“Payah kenapa Len?”
“Saya kan kalau ke rumah teman, pasti tidak diperbolehkan
ibu saya. Jadi caranya, ya itu Bu Guru. Saya harus berbohong. Saya katakana
pada ibu, teman-teman ngajak belajar kelompok ke rumahnya seorang teman. Jadi
saya harus ke sana. Sebab, kalau saya tidak datang berarti saya bisa
dimarahi Bu Guru di sekolah Bu karena
tidak ikut belajar kelompok …”
Ha ha hu hu …
“Saya juga pernah Bu Guru,” kata Yandi sambil mengangkat
jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Pernah apa Yan?”
“Begini Bu Guru. Sehari-hari kan saya kerja bantu ayah dan
ibu kasih makan ayam. Nah, supaya saya bisa ketemu teman-teman dan bermain
bersama mereka, ayam peliharaan kami itu sengaja dilepas. Jadi saya harus
mencarinya. Ibu saya paham betul, kalau ayam belum pulang, saya lah yang
disuruh beliau mencarinya. Jadi pergilah saya ke tempat dimana kawan-kawan
bermain. Menjelang sore baru pulang, dan ayam pun dengan mudah dibawa serta
pulang karena sudah tahu dimana si ayam biasa ngandon …….”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ki Saleh dan Bu Kandar bertepuk tangan.
“Yang lain?”
Tidak ada lagi yang mengangkat jari telunjuk. Bu Sri pun
melanjutkan nasehatnya … “Selain jujur, kalian juga tidak boleh boros. Harus
hemat.”
Ha ha ha ha …
“Hemat apanya Bu. Duit saja sepeser pun saya tak punya,”
ucap Yeni tersipu malu.
“Nabila Bu,” sahut Maskur.
“Banyak duitnya Bu,” kata yang lain.
Nabila cuma mesem-mesem saja mendengarnya.
“Bohong Bu,” akunya terus terang. “Jangankan duit, pergi ke
sini saja cuma minum. Nasi enggak ada. Sudah habis ….”
He he he he …
“Bisa kembung kamu Bil,” seloroh Murni dan Leni.
“Habis kalau yang ada cuma air, mau makan apa, coba.”
“Ke rumahku saja Nabila,” kata Marni.
“Memangnya di rumah kamu ada apa Marni?” Tanya Andi.
Penasaran. Jika memang banyak makanan di rumah Marni, kenapa mesti malu untuk
datang dan ikut makan.
“Enggak ada,” jawab Marni singkat.
Wuuuuu …. Wuuuu …
“Sudah ya anak-anak. Ibu lanjutkan lagi. Terakhir … Tolong
menolonglah dengan sesama,” nasihat Bu Sri Hapsari.
“Payah Bu,” kata Andi.
“Payah kenapa Andi?”
“Kemarin Bu Guru, saya mau pinjam catatan pelajaran sekolah.
Eeee tidak dikasih. Padahal itu penting. Akhirnya, besoknya saya kena hukum Bu
Guru karena tak hapal pelajaran yang diberikan kemarin …”
“Kalau itu salahmu, Andi.” Kata Bagus
“Kenapa aku yang salah?”
“Seharusnya kamu minjam catatan itu jangan hanya dengan satu
orang saja. Tanya juga yang lain. Mana tahu teman yang lain itu lebih lengkap
catatannya …”
“Betul .. betul .. betul …” Sahut Nabila dan Maskur
berbarengan.
VII
“TAK sangka abang, ternyata kamu memang pandai mengajar,”
puji Ki Saleh, saat keduanya pulang
dengan berjalan kaki dari masjid Nurul Falah.
Magrib belum tiba. Masih ada waktu buat ngobrol berdua.
Sepanjang jalan menuju kediaman Sri Hapsari, banyak warga yang tersenyum pada
mereka berdua, menanyakan kabar dan kesehatan.
Bahkan ada di antara ibu-ibu yang duduk di teras bersama
teman sebaya mereka, meminta Ki Saleh dan Sri Hapsari singgah walau cuma
sebentar. Namun, karena waktu tak
memungkinkan lagi, bila menyem patkan diri mampir, keburu malam sampai di
rumah.
“Duluan Bu Guru …” Ucap Maskur dan beberapa siswa yang lain,
berlari mendahului mereka. Raut wajah mereka ceria dan penuh canda.
Beberapa saat kemudian, sambil ‘mendehem’, Bu Kandar
mempercepat langkahnya sambil berkata …
“Duluan Ri, Ki Saleh …”
Ki Saleh dan Sri Hapsari tak sempat berkata sepatah kata
pun, karena saat mulut keduanya baru hendak berucap, Bu Kandar sudah tidak ada lagi di depan mereka. Sudah masuk lorong, ‘mentas
‘dari bawah kolong menuju rumahnya yang terletak di belakang jalan utama
Kampung Falah.
“Oh ya Bang. Katanya tadi mau ngomong sesuatu sama Sri.
Ngomonglah,” ujar Sri Hapsari saat ia dan Ki Saleh memasuki sebuah gang menuju
rumahnya.
“Nanti sajalah, Sri, setelah kita tiba di rumahmu,” ucap Ki
Saleh.
“Serius apa Bang Saleh, harus di rumah segala,” kata Sri
yang mulai penasaran dengan Ki Saleh. Pena saran karena sudah tidak sabar ingin
tahu apa yang hendak diutarakan lelaki baik hati ini.
“Enggak apa-apa Sri. Abang cuma pengen ngomong saja di
rumah. Kalau di jalan kan kurang enak. Sebentar lagi magrib. Terus banyak orang
yang mendengar dan melihat …”
“Ich abang.” Sri jadi salah tingkah. Tapi itu tak ia
perlihatkan pada Ki Saleh. Justru dari langkah kakinya yang terlihat lebih cepat melangkah agar segera sampai di rumah
sebelum magrib tiba.
Magrib tiba.
Pak Broto dan isteri mengajak serta Ki Saleh menunaikan
salat berjamaah di rumah sekaligus makan ma lam bersama. Sebab, selama Ki Saleh berada di Kampung Falah ini,
belum pernah sekalipun makan ma lam bersama di kediaman Sri Hapsari.
“Bapak dan ibu sering bertanya-tanya, apa Nak Saleh yang tak
mau atau memang anak kami Sri yang tak pernah mengajak Nak Saleh makan malam di rumah …” Kata Pak Broto sesaat
sebelum santap malam bersama.
“Bukan itu Pak, Bu. Sri sudah sering mengajak makan malam di
rumah. Tapi saya saja yang selalu bilang lain kali,” jawab Ki Saleh.
Sri Hapsari tak enak hati mendengarnya.
“Bukan Pak, Bu. Sri yang memang belum pernah mengundang
abang Saleh ke rumah untuk makan malam bersama,” kata Sri Hapsari sambil
melirik gemas pada Ki Saleh.
“Enggak Pak, Bu. Sayalah yang tak sempat datang. Soalnya,
saya sibuk dengan teman-teman yang melatih warga dari kampung lain,” aku Ki
Saleh terus terang.
“Enggak Pak, Bu. Bang Saleh bohong. Yang benar, Sri tak
pernah mengajak ke rumah untuk makan malam,” terang Sri yang mulai kesal dengan
Ki Saleh.
“Aduh, jadi bingung bapak. Mana yang benar yai?” Pak Broto
menggaruk-garuk kepalanya sementara sang isteri asyik ‘nyirih.’
“Sri Pak,” kata Sri.
“Saleh Pak,” sahut Ki Saleh.
Ha ha ha ha …
“Sekarang makan yuk!” Ajak Pak Broto. Masih ketawa geli.
Dasar anak muda. Apa-apa saja selalu bikin bingung orangtua.
“Mari Nak Saleh. Jangan sungkan-sungkan,” kata Bu Broto.
“Mari Bu …”
Ki Saleh sangat menikmati makan bersama Sri dan kedua orang
tuanya. Selain sudah jarang makan ber sama dengan orang terdekat, menu makan
malam yang tersaji di meja panjang berlapiskan kain bermo tif bunga yang
dilapisi plastik berwarna putih ini betul-betul memikat hati dan mengundang
selera ma kan.
Tengok sajalah! Ada jengkol, petai, kemangi, sawi dan kol
mentah, kangkung rebus dan tumis, lalu pindang betok, ada ikan mas bakar,
pindang gabus dan tempe goreng.
Belum lagi buah-buahan. Ada jeruk, kates dan duku.
Buah-buahan ini berasal dari kebunnya Pak Broto. Masih segar dan pasti nikmat
bila dimakan setelah santap malam.
Ki Saleh tadinya mengira sajian ini khusus menyambut
kehadirannya. Sengaja mengundangnya, lalu ma kan malam bersama. Apalagi
orangtua Sri sangat ramah padanya. Seolah sudah mengenal lama di rinya.
Ternyata perkiraan Ki Saleh salah. Justru kedua orangtua Sri
Hapsari sama sekali tidak menyangka Ki Sa leh mau datang bertamu ke rumah,
apalagi sampai meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Bagi mereka,
kehadiran Ki Saleh di tengah keluarga sudah lebih dari cukup. Mengingat Ki
Saleh adalah pemuda baik-baik, masih lajang dan kehadirannya di Kampung Falah
mengemban tugas melatih ilmu silat kepada warga kampung.
Warga kampung pun sangat antusias menyambut kehadiran Ki
Saleh dan rekan-rekan pendekar yang lain. Mereka disambut dengan tetabuhan
rebana layakya pejabat penting dari kota besar. Ada penga lungan bunga, hiburan
rakyat dan jamuan besar antara pendekar dengan warga kampung. Saling kenal satu
sama lain.
“Pak, Bu …” Ucap Ki Saleh setelah makan malam dan duduk
santai di ruang keluarga.
“Oh ya, Pak. Bu. Bang Saleh mau ngomong nich,” potong Sri
dengan raut wajah sumringah.
“Mau ngomong apa Nak Saleh. Serius amat. Ngomonglah …!” Pak
Broto mengambil rokok cerutunya yang ia taruh di asbak besar di atas meja.
“Bang. Ngomonglah!” Sri meminta kedua orang tuanya menyimak
apa yang hendak disampaikan Ki Saleh.
“Saya …”
“Ya sudah. Bapak dan ibu sudah tahu kamu berteman dengan
Sri, anak kami. Kami setuju asalkan kalian berdua bisa sama-sama jaga dirilah,”
kata Pak Broto.
“Betul kan Bu?”
“Betul Nak Saleh, apa kata bapak barusan. Jangan
sungkan-sungkanlah kau main ke rumah kami yang jauh dari mewah ini. Kami senang
…” Jelas Bu Broto yang tetap asyik dengan ‘nginangnya’.
“Pak, Bu. Maksud Bang Saleh bukan itu,” kata Sri Hapsari
yang gemas tengok Ki Saleh senyum-senyum sedari tadi.
“Pak, Bu …” Ki Saleh merasa berat buat bicara, entah kenapa
gerangan.
“Ya sudah. Kami berdua sudah tahu,” kata Bu Broto yang
tengok jarum jam dinding sudah menunjukkan ke angka delapan lebih tiga puluh
menit.
“Sri, antarlah Nak Saleh ini sampai teras,” pinta Pak Broto.
“Tapi …”
“Ya sudah sana. Nanti kemalaman. Ini kampung, bukan kota
besar,” kata Pak Broto mengingatkan, di kampung jam delapan ke atas sudah sepi.
Beda dengan kota besar, semakin malam justru semakin ramai.
“Baik Pak, Bu.”
Sampai di teras, Sri
Hapsari tak bicara sepatah kata pun. Dia kesal melihat ‘kelakuan’ Ki Saleh
malam hari ini. Kenapa enggak kesal, janji mau ngomong sesuatu pada
orangtuanya, Ki Saleh malah diam seribu
bahasa.
“Bang Saleh gimana?”
“Ya, maafkanlah abang ya Sri. Soalnya, mau ngomong sudah
keduluan bapak dan ibu kamu.”
“Sebelum pulang tadi kan bisa, Bang kalau mau …”
“Bisa memang, tapi tak enaklah abang. Masak harus potong
omongan ibu bapakmu. Mana sopan santun abang …”
Sri diam.
“Sudah. Bagaimana kalau sekarang abang ngomong sesuatu sama
kamu, Ri. Mau kan?”
Sri masih diam.
“Mau kan?”
Ehem …
Ehek ehek .. ehek ehek …
“Sri …” Panggil ibunya.
“Ya Bu.”
“Abangmu sudah pulang belum?”
“Baru akan Bu …”
“Jangan lama-lama bilang sama abangmu. Banyak nyamuk di
teras itu ya.”
“Ya Bu …”
Hik … hik … hik … hik
…
Sri Hapsari tak diam lagi. Dia sudah memahami alasan kenapa
Ki Saleh tak mau bicara pada kedua orang tuanya.
“Jangan marah ya!”
“Iya Bang Saleh.”
“Sekarang abang mau ngomong sesuatu padamu. Bersediakah?”
“Bersedia …”
“Abang suka sama kamu Sri,” ucap Ki Saleh dengan suara
bergetar.
“Cuma segitu saja Bang Saleh?”
“Abang sayang kamu …”
“Lalu?”
“Abang jatuh cinta.”
“Iya. Lalu?”
“Abang cinta padamu …”
“Lantas?”
“Abang pamit pulang … daaagh!”
Sri Hapsari memanggil Ki Saleh. Guru silat ini pun bersegera
menghampiri salah satu kembang Kampung Falah ini dengan penuh tanda tanya.
“Sri juga abang,” kata Sri malu-malu ditahan.
“Sudah pulang belum Sri?” Tanya Sang Ibu yang kemudian
melangkah ke teras, menghampiri anaknya yang lagi ‘pandang-pandangan’ dengan Ki
Saleh.
Novel Lepas
Kampung Kami (7)
Edisi Ketujuh
By Mang Amin
VI
“SRI .. Izikan abang ikut denganmu ke masjid Nurul Falah
sore hari ini. Boleh kan Sri?” Kata Ki Saleh saat singgah di rumah Sri Hapsari.
Dia bermaksud mengantarnya sore hari ini untuk mengajar siswa Taman Pendidikan
Nurul Falah.
Sri Hapsari tidak menjawab pertanyaan ‘menggoda’ itu, selain
menebarkan senyum manisnya sembari
menyilakan Ki Saleh duduk dan menunggunya untuk mempersiapkan bahan
mengajar. Tak pula banyak. Hanya buku tulis, buku bacaan dan spidol untuk menulis di papan tulis.
“Ayo Bang … Bang Saleh!”
Ki Saleh menoleh.
“Melamun ya?”
“Enggak. Cuma tengok ayam makan di pekarangan rumah.”
“Masak cuma tengok
ayam jadi enggak denger Sri panggil.”
Eheeem …
“Maafkan abang ya Sri. Abang tak bermaksud …”
“Iya. Sudah dimaafkan. Ayo Bang. Nanti kesorean lagi.”
Di masjid Nurul Falah, siswa didik Bu Sri Hapsari sudah
banyak yang hadir. Mereka, seperti biasanya menyempatkan diri bermain-main. Jika siswa perempuan main
dakocan, siswa laki-laki main kejar-kejaran dan petak umpet.
Bu Kandar yang sengaja datang sore hari itu hanya tertawa
geli melihat siswa Nurul Falah saling berebut dakocan. Entah sengaja atau tidak, Andi mengambil
dakocan miliknya Marni. Marni mengejarnya. Dakocan jatuh ke tanah, lalu
rame-rame ingin mengambilnya.
Dapatkah?
Tentu tidak. Itu dakocan hilang entah ke mana. Andi meminta
maaf pada Marni. Dia berjanji akan meng gantinya jika ada uang nanti. Siswa
lain pun bertepuk tangan. Menyoraki keduanya sebagai pasangan serasi.
“Assalamualaikum …!” Sapa Ki Saleh.
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab siswa
serempak. Mereka mencium tangan Ki Saleh dan Bu Guru Sri silih berganti.
Setelah itu Bu Kandar menghampiri …
“Lho … ibu?!”
“Aku ingin tengok kamu mengajar. Boleh kan?”
Ha ha ha ha …
“Tak sangka Sri, rupanya Bu Kandar pandai juga bergurau.
Bolehlah tentu. Anak murid Sri, anak murid ibu juga kan?”
He he he he …
“Bu Kandar!” Ki Saleh menyapanya dengan menundukkan muka
dengan tangan lurus menempel ke dagu.
“Mari Bu. Kita masuk ke dalam masjid,” ajak Sri Hapsari.
Duduk lesehan membentuk lingkaran, Sri Hapsari mengawali
pelajaran akhlak sore hari ini dengan mem baca surah Al-Fatihah bersama-sama.
Disusul dengan doa agar dberi kelancaran belajar dan ilmu yang di peroleh bermanfaat.
Bu Kandar tampak mencatat apa yang diterangkan Sri Hapsari.
Sebab baginya, walaupun materi pela jaran buat anak-anak, tak ada salahnya ikut
menyimak dan mencatat agar mudah diingat dan disampaikan ke orang lain
nantinya.
Demikian pula halnya dengan Ki Saleh. Kendati tidak mencatat
seperti yang dilakukan pengurus masjid, Bu Kandar. Pemuda yang gemar
berpetualang ini tekun memperhatikan
setiap penjelasan yang di sampaikan Bu Sri Hapsari. Sampai-sampai Bu Kandar di sebelahnya, yang
sempat menanyakan eja tulisan di papan tulis, tak ia hiraukan.
“Ki Saleh … Ki Saleh,” sapa Bu Kandar.
Ki Saleh menoleh. Dia tampak terkejut. Kenapa sampai harus
dua kali ibu di sebelahnya menyapa dia, padahal jarak keduanya tidaklah jauh.
“Ki Saleh memperhatikan yang disampaikan Bu Sri atau
orangnya?” Gurau Bu Kandar.
“ Pelajarannya Bu …”
“Betul, enggak salah apa Ki?”
“Enggak Bu. Benar,” jawab Ki Saleh, terpaksa berbisik karena
beberapa siswa sampai menoleh ke arah nya sambil tersenyum.
Bu Kandar menanyakan huruf depan paling atas sebelah kiri, R
atau P. Dijawab Ki Saleh, P.
“Ok oooo … berarti pamitan ya Ki.”
“Betul sekali Bu Kandar.”
Di papan tulis tertulis kalimat … “Pamitan itu penting jika
kita mau pergi. Walaupun perginya tidak
jauh, hanya ke warung untuk membeli rokoknya ayah, kepada ayah atau ibu, atau
siapa saja saat kita meninggalkan rumah, haruslah berpamitan …”
Kenapa?
“Karena anak-anakku sekalian,” kata Bu Guru Sri Hapsari,”
Dengan kita berpamitan, orang yang kita pamiti akan tahu hendak kemana kita
pergi.”
Ha ha ha ha …
“Dahlia, Maskur, kenapa tertawa. Ada yang lucu?”
“Yandi Bu Guru,” jawab keduanya.
“Yandi kenapa?”
“Gini Bu Guru. Kalau kita mau pipis atau buang air besar
misalnya, apa perlu pamitan juga?”
“Perlu juga …” Jelas
Bu Sri.
He he he he he …
“Coba sekarang ibu tanya, perlu tidak kita berpamitan?”
Hening seketika.
“Tidak perlu Bu Guru,” jawab Marni memecah keheningan.
Suasana pun berubah seketika. Dari semula hening menjadi riuh kembali.
“Apa alasannya Nak Marni?”
“Kalau kita pamitan, selain bikin jijik orang lain, juga
bisa-bisa pipis di celana Bu Guru,” kata Marni.
“Kalau saya perlu, Bu Guru.” Sahut Bagus.
“Alasannya Gus?”
“Nanti kalau kita dicokot buaya, gimana …?”
Hua ha ha ha …
“Apa itu dicokot Gus?”
“”Digigit Bu Guru,” terang Andi ketawa ditahan.
Hek .. hek … he he …
“Biasalah Bu Guru. Bagus kalau buang air besar di sungai …”
Ledek Yandi.
“Enggak ada we ce Bu di rumahnya,” kata yang lain.
Ha ha ha ha …
“Ya sudah. Sudah dulu ya ketawanya …”
Siswa pun diam.
“Nah, jadi anak-anakku … Mulai sekarang kalian harus
membiasakan diri berpamitan. Banyak manfaat bila kita berpamitan. Mumpung
kalian masih kecil. Kalau sudah besar sulit membiasakannya.”
“Selain berpamitan, kalian juga tidak boleh bohong pada
orangtua.”
Siswa saling pandang.
“Dahlia!” Bu Guru Sri menegurnya karena ketawa yang ditahan
sampai merah mukanya.
“Leni Bu Guru,” ujarnya.
“Leni, ada apa yang?”
“Gini Bu. Kalau kita
jujur terus sama orangtua bakalan payah Bu.”
He he he he …
“Payah kenapa Len?”
“Saya kan kalau ke rumah teman, pasti tidak diperbolehkan
ibu saya. Jadi caranya, ya itu Bu Guru. Saya harus berbohong. Saya katakana
pada ibu, teman-teman ngajak belajar kelompok ke rumahnya seorang teman. Jadi
saya harus ke sana. Sebab, kalau saya tidak datang berarti saya bisa
dimarahi Bu Guru di sekolah Bu karena
tidak ikut belajar kelompok …”
Ha ha hu hu …
“Saya juga pernah Bu Guru,” kata Yandi sambil mengangkat
jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Pernah apa Yan?”
“Begini Bu Guru. Sehari-hari kan saya kerja bantu ayah dan
ibu kasih makan ayam. Nah, supaya saya bisa ketemu teman-teman dan bermain
bersama mereka, ayam peliharaan kami itu sengaja dilepas. Jadi saya harus
mencarinya. Ibu saya paham betul, kalau ayam belum pulang, saya lah yang
disuruh beliau mencarinya. Jadi pergilah saya ke tempat dimana kawan-kawan
bermain. Menjelang sore baru pulang, dan ayam pun dengan mudah dibawa serta
pulang karena sudah tahu dimana si ayam biasa ngandon …….”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Ki Saleh dan Bu Kandar bertepuk tangan.
“Yang lain?”
Tidak ada lagi yang mengangkat jari telunjuk. Bu Sri pun
melanjutkan nasehatnya … “Selain jujur, kalian juga tidak boleh boros. Harus
hemat.”
Ha ha ha ha …
“Hemat apanya Bu. Duit saja sepeser pun saya tak punya,”
ucap Yeni tersipu malu.
“Nabila Bu,” sahut Maskur.
“Banyak duitnya Bu,” kata yang lain.
Nabila cuma mesem-mesem saja mendengarnya.
“Bohong Bu,” akunya terus terang. “Jangankan duit, pergi ke
sini saja cuma minum. Nasi enggak ada. Sudah habis ….”
He he he he …
“Bisa kembung kamu Bil,” seloroh Murni dan Leni.
“Habis kalau yang ada cuma air, mau makan apa, coba.”
“Ke rumahku saja Nabila,” kata Marni.
“Memangnya di rumah kamu ada apa Marni?” Tanya Andi.
Penasaran. Jika memang banyak makanan di rumah Marni, kenapa mesti malu untuk
datang dan ikut makan.
“Enggak ada,” jawab Marni singkat.
Wuuuuu …. Wuuuu …
“Sudah ya anak-anak. Ibu lanjutkan lagi. Terakhir … Tolong
menolonglah dengan sesama,” nasihat Bu Sri Hapsari.
“Payah Bu,” kata Andi.
“Payah kenapa Andi?”
“Kemarin Bu Guru, saya mau pinjam catatan pelajaran sekolah.
Eeee tidak dikasih. Padahal itu penting. Akhirnya, besoknya saya kena hukum Bu
Guru karena tak hapal pelajaran yang diberikan kemarin …”
“Kalau itu salahmu, Andi.” Kata Bagus
“Kenapa aku yang salah?”
“Seharusnya kamu minjam catatan itu jangan hanya dengan satu
orang saja. Tanya juga yang lain. Mana tahu teman yang lain itu lebih lengkap
catatannya …”
“Betul .. betul .. betul …” Sahut Nabila dan Maskur
berbarengan.
VII
“TAK sangka abang, ternyata kamu memang pandai mengajar,”
puji Ki Saleh, saat keduanya pulang
dengan berjalan kaki dari masjid Nurul Falah.
Magrib belum tiba. Masih ada waktu buat ngobrol berdua.
Sepanjang jalan menuju kediaman Sri Hapsari, banyak warga yang tersenyum pada
mereka berdua, menanyakan kabar dan kesehatan.
Bahkan ada di antara ibu-ibu yang duduk di teras bersama
teman sebaya mereka, meminta Ki Saleh dan Sri Hapsari singgah walau cuma
sebentar. Namun, karena waktu tak
memungkinkan lagi, bila menyem patkan diri mampir, keburu malam sampai di
rumah.
“Duluan Bu Guru …” Ucap Maskur dan beberapa siswa yang lain,
berlari mendahului mereka. Raut wajah mereka ceria dan penuh canda.
Beberapa saat kemudian, sambil ‘mendehem’, Bu Kandar
mempercepat langkahnya sambil berkata …
“Duluan Ri, Ki Saleh …”
Ki Saleh dan Sri Hapsari tak sempat berkata sepatah kata
pun, karena saat mulut keduanya baru hendak berucap, Bu Kandar sudah tidak ada lagi di depan mereka. Sudah masuk lorong, ‘mentas
‘dari bawah kolong menuju rumahnya yang terletak di belakang jalan utama
Kampung Falah.
“Oh ya Bang. Katanya tadi mau ngomong sesuatu sama Sri.
Ngomonglah,” ujar Sri Hapsari saat ia dan Ki Saleh memasuki sebuah gang menuju
rumahnya.
“Nanti sajalah, Sri, setelah kita tiba di rumahmu,” ucap Ki
Saleh.
“Serius apa Bang Saleh, harus di rumah segala,” kata Sri
yang mulai penasaran dengan Ki Saleh. Pena saran karena sudah tidak sabar ingin
tahu apa yang hendak diutarakan lelaki baik hati ini.
“Enggak apa-apa Sri. Abang cuma pengen ngomong saja di
rumah. Kalau di jalan kan kurang enak. Sebentar lagi magrib. Terus banyak orang
yang mendengar dan melihat …”
“Ich abang.” Sri jadi salah tingkah. Tapi itu tak ia
perlihatkan pada Ki Saleh. Justru dari langkah kakinya yang terlihat lebih cepat melangkah agar segera sampai di rumah
sebelum magrib tiba.
Magrib tiba.
Pak Broto dan isteri mengajak serta Ki Saleh menunaikan
salat berjamaah di rumah sekaligus makan ma lam bersama. Sebab, selama Ki Saleh berada di Kampung Falah ini,
belum pernah sekalipun makan ma lam bersama di kediaman Sri Hapsari.
“Bapak dan ibu sering bertanya-tanya, apa Nak Saleh yang tak
mau atau memang anak kami Sri yang tak pernah mengajak Nak Saleh makan malam di rumah …” Kata Pak Broto sesaat
sebelum santap malam bersama.
“Bukan itu Pak, Bu. Sri sudah sering mengajak makan malam di
rumah. Tapi saya saja yang selalu bilang lain kali,” jawab Ki Saleh.
Sri Hapsari tak enak hati mendengarnya.
“Bukan Pak, Bu. Sri yang memang belum pernah mengundang
abang Saleh ke rumah untuk makan malam bersama,” kata Sri Hapsari sambil
melirik gemas pada Ki Saleh.
“Enggak Pak, Bu. Sayalah yang tak sempat datang. Soalnya,
saya sibuk dengan teman-teman yang melatih warga dari kampung lain,” aku Ki
Saleh terus terang.
“Enggak Pak, Bu. Bang Saleh bohong. Yang benar, Sri tak
pernah mengajak ke rumah untuk makan malam,” terang Sri yang mulai kesal dengan
Ki Saleh.
“Aduh, jadi bingung bapak. Mana yang benar yai?” Pak Broto
menggaruk-garuk kepalanya sementara sang isteri asyik ‘nyirih.’
“Sri Pak,” kata Sri.
“Saleh Pak,” sahut Ki Saleh.
Ha ha ha ha …
“Sekarang makan yuk!” Ajak Pak Broto. Masih ketawa geli.
Dasar anak muda. Apa-apa saja selalu bikin bingung orangtua.
“Mari Nak Saleh. Jangan sungkan-sungkan,” kata Bu Broto.
“Mari Bu …”
Ki Saleh sangat menikmati makan bersama Sri dan kedua orang
tuanya. Selain sudah jarang makan ber sama dengan orang terdekat, menu makan
malam yang tersaji di meja panjang berlapiskan kain bermo tif bunga yang
dilapisi plastik berwarna putih ini betul-betul memikat hati dan mengundang
selera ma kan.
Tengok sajalah! Ada jengkol, petai, kemangi, sawi dan kol
mentah, kangkung rebus dan tumis, lalu pindang betok, ada ikan mas bakar,
pindang gabus dan tempe goreng.
Belum lagi buah-buahan. Ada jeruk, kates dan duku.
Buah-buahan ini berasal dari kebunnya Pak Broto. Masih segar dan pasti nikmat
bila dimakan setelah santap malam.
Ki Saleh tadinya mengira sajian ini khusus menyambut
kehadirannya. Sengaja mengundangnya, lalu ma kan malam bersama. Apalagi
orangtua Sri sangat ramah padanya. Seolah sudah mengenal lama di rinya.
Ternyata perkiraan Ki Saleh salah. Justru kedua orangtua Sri
Hapsari sama sekali tidak menyangka Ki Sa leh mau datang bertamu ke rumah,
apalagi sampai meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Bagi mereka,
kehadiran Ki Saleh di tengah keluarga sudah lebih dari cukup. Mengingat Ki
Saleh adalah pemuda baik-baik, masih lajang dan kehadirannya di Kampung Falah
mengemban tugas melatih ilmu silat kepada warga kampung.
Warga kampung pun sangat antusias menyambut kehadiran Ki
Saleh dan rekan-rekan pendekar yang lain. Mereka disambut dengan tetabuhan
rebana layakya pejabat penting dari kota besar. Ada penga lungan bunga, hiburan
rakyat dan jamuan besar antara pendekar dengan warga kampung. Saling kenal satu
sama lain.
“Pak, Bu …” Ucap Ki Saleh setelah makan malam dan duduk
santai di ruang keluarga.
“Oh ya, Pak. Bu. Bang Saleh mau ngomong nich,” potong Sri
dengan raut wajah sumringah.
“Mau ngomong apa Nak Saleh. Serius amat. Ngomonglah …!” Pak
Broto mengambil rokok cerutunya yang ia taruh di asbak besar di atas meja.
“Bang. Ngomonglah!” Sri meminta kedua orang tuanya menyimak
apa yang hendak disampaikan Ki Saleh.
“Saya …”
“Ya sudah. Bapak dan ibu sudah tahu kamu berteman dengan
Sri, anak kami. Kami setuju asalkan kalian berdua bisa sama-sama jaga dirilah,”
kata Pak Broto.
“Betul kan Bu?”
“Betul Nak Saleh, apa kata bapak barusan. Jangan
sungkan-sungkanlah kau main ke rumah kami yang jauh dari mewah ini. Kami senang
…” Jelas Bu Broto yang tetap asyik dengan ‘nginangnya’.
“Pak, Bu. Maksud Bang Saleh bukan itu,” kata Sri Hapsari
yang gemas tengok Ki Saleh senyum-senyum sedari tadi.
“Pak, Bu …” Ki Saleh merasa berat buat bicara, entah kenapa
gerangan.
“Ya sudah. Kami berdua sudah tahu,” kata Bu Broto yang
tengok jarum jam dinding sudah menunjukkan ke angka delapan lebih tiga puluh
menit.
“Sri, antarlah Nak Saleh ini sampai teras,” pinta Pak Broto.
“Tapi …”
“Ya sudah sana. Nanti kemalaman. Ini kampung, bukan kota
besar,” kata Pak Broto mengingatkan, di kampung jam delapan ke atas sudah sepi.
Beda dengan kota besar, semakin malam justru semakin ramai.
“Baik Pak, Bu.”
Sampai di teras, Sri
Hapsari tak bicara sepatah kata pun. Dia kesal melihat ‘kelakuan’ Ki Saleh
malam hari ini. Kenapa enggak kesal, janji mau ngomong sesuatu pada
orangtuanya, Ki Saleh malah diam seribu
bahasa.
“Bang Saleh gimana?”
“Ya, maafkanlah abang ya Sri. Soalnya, mau ngomong sudah
keduluan bapak dan ibu kamu.”
“Sebelum pulang tadi kan bisa, Bang kalau mau …”
“Bisa memang, tapi tak enaklah abang. Masak harus potong
omongan ibu bapakmu. Mana sopan santun abang …”
Sri diam.
“Sudah. Bagaimana kalau sekarang abang ngomong sesuatu sama
kamu, Ri. Mau kan?”
Sri masih diam.
“Mau kan?”
Ehem …
Ehek ehek .. ehek ehek …
“Sri …” Panggil ibunya.
“Ya Bu.”
“Abangmu sudah pulang belum?”
“Baru akan Bu …”
“Jangan lama-lama bilang sama abangmu. Banyak nyamuk di
teras itu ya.”
“Ya Bu …”
Hik … hik … hik … hik
…
Sri Hapsari tak diam lagi. Dia sudah memahami alasan kenapa
Ki Saleh tak mau bicara pada kedua orang tuanya.
“Jangan marah ya!”
“Iya Bang Saleh.”
“Sekarang abang mau ngomong sesuatu padamu. Bersediakah?”
“Bersedia …”
“Abang suka sama kamu Sri,” ucap Ki Saleh dengan suara
bergetar.
“Cuma segitu saja Bang Saleh?”
“Abang sayang kamu …”
“Lalu?”
“Abang jatuh cinta.”
“Iya. Lalu?”
“Abang cinta padamu …”
“Lantas?”
“Abang pamit pulang … daaagh!”
Sri Hapsari memanggil Ki Saleh. Guru silat ini pun bersegera
menghampiri salah satu kembang Kampung Falah ini dengan penuh tanda tanya.
“Sri juga abang,” kata Sri malu-malu ditahan.
“Sudah pulang belum Sri?” Tanya Sang Ibu yang kemudian
melangkah ke teras, menghampiri anaknya yang lagi ‘pandang-pandangan’ dengan Ki
Saleh.