Jumat, 17 Februari 2017

Kota Baru (1)





Cerita Fiksi

Kota Baru (1)
Ditulis oleh  aminuddin

1
ENAM tahun kemudian ….
“Bagaimana  Kolonel?” Tanya Letnan Basri. Ia mengusulkan pada atasannya itu agar pada malam ini juga mereka menyerang kediaman Jenderal Kick.
“Oke. Sersan Ipung, ada saran?” Kolonel Madi mempersilakan pada Sersan Ipung untuk memberikan sa ran dan masukan. Karena pada saat seperti inilah selain kompak dan bersatu juga apapun yang ada di be nak masing-masing harus diutarakan.
“Saya setuju saja Kolonel.  Malam ini atau subuh nanti tak masalah bagi saya. Yang penting kita harus siap dan kita punya target.”
“Kopral Hanafi?”
“Menurut saya, malam ini juga kita serang kediaman Jenderal Kick. Karena kita memang sudah siap, Kolonel.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Kolonel Madi, “Sekarang apa perlu ditambah personil kita letnan, sersan dan Kopral Hanafi?”
“Perlu menurut saya Kolonel,” kata Kopral Hanafi. Karena dengan hanya mengandalkan empat personil seperti sekarang ini dinilai belum memadai. Sebabi pasukan yang ditempatkan di kediaman Jenderal Kick itu tidaklah sedikit jumlahnya.”
“Berarti anda setuju Kopral Hanafi ya kalau kita menambah jumlah personil.  Baiklah. Sekarang saya lempar dulu ke Sersan Ipung dan Letnan Basri. Bagaimana dengan kalian berdua?”
“Saya setuju,” jawab Sersan Ipung.
“Saya juga Mayor,” sahut Letnan Basri.
“Terima kasih. Kalian bertiga setuju, itu bagus. Sekarang baru kita bahas berapa kira-kira jumlah personil yang kita butuhkan?” Kolonel Madi berharap jangan terlalu banyak personil. Dua atau empat lagilah cu kup memadai.
“Bagaimana kalau, ini menurut saya,  kita menambah empat personil saja lagi?”
“Tak mnengapa Kolonel. Asalkan mereka yang kita pilih itu benar-benar untuk memperkuat tim ini,” terang Letnan Basri.
Letnan Basri mengusulkn penambahan empat personil itu mengacu pada empat keahlian. Misalnya, ada yang ahli mengutak-atik bom, menembak jarak jauh, bermain pedang dan berpengalaman menyelinap masuk ke dalam bangunan tertentu tanpa terdeteksi.
“Jadi  kita semua nantinya punya keahlian khusus, sehingga sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Mana yang didahulukan dan mana pula yang dikemudiankan,” jelas Letnan Basri.
“Cuma saya ragu Letnan Basri dan Kolonel Madi,” potong Sersan Ipung. “Ragu kenapa. Ada dua. Perta ma, personil  pasukan kita rata-rata punya keahlian yang sama dan merata. Walaupun tidak bisa dikata kan ahlinya, tapi cukup untuk mengantisipasi jika diserang sana sini. Kedua, saya kuatir, kalau kita semua beda keahlian, masing-masing terpaku pada keahlian per personil saja.”
“Maksud saya begini Kolonel,” terang Sersan Ipung, “Taruhlah saya ahlinya menembak jarak jauh. Seme tara kita yang di depan perlu bantuan yang di luar keahlian saya, apa mungkin bisa. Andaipun bisa berar ti kita sudah mengganggu konsentrasi saya selaku penembak jarak jauh.”
“Nah,” masih kata Sersan Ipung,” Saya menyarankan masing-masing dari kita punya kemampuan yang serba bisa. Walau tidak sampai selevel ahlinya. Dengan begitu masing-masing kita bisa mengatasi sendiri di saat memang kita sedang tidak bersama teman …”
“Kopral Hanafi?” Kolonel Madi ada ide baru soal penambahan personil dan kriteria keahlian yang harus dimiliki.
“Kalau menurut saya Kolonel, empat personil cukuplah. Tapi kalau kita punya enam personil lagi, itu akan lebih baik.”
Ha ha ha ha …
“Sudah enam nanti mau delapan lagi. Terus mau tambahin tenaga cewek pula,” seloroh Letnan Basri.
“Artinya Kolonel,” jelas Kopral Hanafi, “Berapa pun personil yang bakal kita tambah, tak masalah. Jangan terpaku pada jumlah. Berapa pun nanti yang diberi kita terima dengan senang hati. Yang jelas, mereka harus cepat beradaptasi,  dan mengerti dengan tugas utamanya,  itu saja lebih dari cukup Kolonel.”
Kolonel Madi menghela nafas sebentar.
“ Baiklah saudara-saudaraku semuanya.  Saya dapat simpulkan kita akan menambah empat personil lagi. Kita siap menyerang jelang subuh nanti. Lantas, dari empat personil yang kita tambah ini, setuju tidak jika salah satunya kita tempatkan personil cewek?”
“Setujuuuuu Kolonel,” jawab ketiganya serempak.

2
KURANG lebih sekitar tiga puluh menit, Kolonel Madi dan beberapa anak buahnya kedatangan empat personil tambahan. Mereka adalah Sersan Kifli, Sersan Wini, Kopral Agus dan Kopral Murti.
Setelah bersalam-salaman dan saling kenal sambil lalu, keempat tamu ‘istimewa’ ini langsung bergabung mengikuti arahan dan petunjuk Kolonel Madi. Tengah malam ini sang kolonel memfokuskan topik baha sannya pada strategi ‘mengurung’ kediaman Jenderal Kick.
“Jadi saudara-saudara semuanya tahu bahwa kita berkumpul di sini untuk menangkap hidup atau mati Jenderal Kick. Sebelum saya terangkan bahasan kita ini, apa ada pertanyaan dari saudara-saudara seka lian?”
“Langsung saja Kolonel,” kata Sersan Wini dengan antusias mengikuti arahan Kolonel Madi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Kolonel Madi. Dia menuliskan sketsa kediaman Jenderal Kick. Rumah dua tingkat itu dijaga ketat pasukan khusus dengan pekarangan yang amat luas.
Pintu gerbangnya dijaga dua anggota pasukan pengawal bersenjatakan lengkap. Setiap kendaraan yang keluar masuk diperiksa  sangat ketat tanpa terkecuali pejabat tinggi dan tamu istimewa sekalipun.
“Kita berbagi tugas. Kopral Hanafi dan Sersan Wini menempati posisi  di luar areal kediaman Jenderal Kick,” jelas Kolonel Madi. Dia menggambarkan sepintas dua orang beda jenis kelamin dengan satu be rambut panjang dan satunya lagi berkepala botak.
Ha ha ha ha …
“Mantap Pak Kolonel,” komentar Sersan Kifli tersenyum lebar.
“Selanjutnya di dalam aeral kediaman Jenderal Kick dibagi tiga. Belakang ditempati Sersan Kifli dan Kopral Agus …”
Ha ha ha ha …
“Tukang bersih parit Pak Kolonel,” ujar  Kopral Murti yang tak kuasa menyembunyikan rasa gelinya. Ka rena selama ini temannya itu Sersan Kifli selalu berada di garis terdepan, dan bukan justru ditempatkan di bagian belakang.
“Oke ya. Selanjutnya mereka yang menempati posisi sebelah kanan adalah Kopral Murti dan Letnan Bas ri,” jelas Kolonel  Madi. Posisi ini harus sejalan dengan mereka yang menempati bagian belakang dan se belah kiri.
“Untuk sebelah kiri akan ditempati oleh saya sendiri bersama Sersan Ipung,” kata Kolonel Madi.
Semua tekun menyimak.
“Ada pertanyaan sampai disini?”
“Saya Kolonel,” kata Sersan Wini berapi-api.
“Silakan Sersan Wini.”
“Terima kasih. Posisi saya dan Kopral Hanafi itu, ruang geraknya sampai mana Kolonel?”
“Tidak berbatas sebenarnya. Hanya dibatasi pintu gerbang dan areal di belakang anda berdua. Tugas an da berdua adalah mengamati situasi di sekitar kediaman Jenderal Kick dan melaporkannya kepada saya, Letnan Basri atau Kopral Murti dan Sersan Kifli.”
Sersan Wini beradu pandang sesaat dengan Kopral Hanafi.
“Jelas Sersan Wini?”
“Target tambahan Kolonel?” Tanya Sersan Wini lagi.
“Tidak ada. Menunggu instruksi  lanjutan, tapi kalau situasinya tidak memungkinkan, ambil keputusan secara cepat dan tepat dengan mempertimbangkan risiko seminimal mungkin,” terang Kolonel Madi. Sejenak minum segelas air putih yang tersaji di atas meja.
Sama-sama minum air putih.
“Yang lain silakan kalau ada.”
“Saya Kolonel.” Kopral Murti menanyakan limit waktu mencapai target utama.
“Jenderal Kick harus kita sikat dalam tempo secepat-cepatnya. Jangan ragu dan jangan takut.”
“Siap Kolonel.”
“Yang lain?”
“Saya Kolonel.” Gantian Sersan Kifli yang bertanya. Dia sempat jadi bahan ledekan rekan-rekannya yang lain karena agak terlambat mengajukan pertanyaan.
“Payah bos kita ini. Belum perang sudah keder duluan,” sindir Kopral Murti.
Ha ha ha ha …

3
“TERAKHIR anda semua pasti tahu. Bekal yang dibawa. Mulai dari yang terkecil hingga besar menurut ukuran kita,” kata Kolonel Madi, memberi kesempatan pada anggota pasukannya untuk mengajukan pertanyaan sekiranya belum ada yang jelas dan dimengerti.
Sepertinya Letnan Basri dan kawan-kawan sudah tak sabar. Pikiran mereka sudah terbang jauh ke ke diaman Jenderal Kick. Tak heran, saat diberi kesempatan bertanya dan mengajukan usulan, mereka enggan mengangkat jari tangan.
“Kalau begitu kita teruskan dengan tugas dan bekal yang dibawa,” jelas Kolonel Madi. Dia memulai dari Kopral Hanafi dan Sersan Madi.
“Anda berdua diberi tugas siap siaga mengarahkan senjata ke sasaran, terutama Jenderal Kick sekiranya yang bersangkutan melarikan diri, atau keluar dari kediamannya, dan baru menembak setelah diberi izin menembak. Masing-masing anda dibekali dua senjata dan peluru serta bahan peledak seperti granat dan bom lem par asap yang berkuatan standar.”
“Boleh diambil sekarang bekalnya Kolonel?” Tanya Kopral Hanafi yang sudah berdiri dan hendak menuju ke gudang persenjataan.
“Silakan Kopral. Tapi Sersan Wini tak usah ikut. Beliau tetap di tempat,” kata Kolonel Madi.
“Kenapa Kolonel?” Kopral Agus sekadar ingin tahu. Apa sengaja diberi perlakuan istimewa karena dia berjenis kelamin perempuan.
“Kalau Sersan Wini ikut Kopral Hanafi kalian semua pasti cemburu. Betul kan?”
Ha ha ha ha …
“Ketahuan belangnya Kolonel …” Sindir Sersan Kifli.
“Memangnya ada dengan Kopral Agus, Sersan Kifli?” Kopral Murti mengalihkan ketegangan sejenak menyongsong tibanya detik-detik yang boleh jadi mencekam.
“Biasalah Kopral Murti. Teman bukan biasa,” seloroh Sersan Kifli.
Ha ha ha ha …
“Berteman boleh, tapi teman biasa. Tak eloklah,” jawab Kolonel Madi.
“Kenapa sampai tak elok Kolonel?” Tanya Letnan Basri sedikit penasaran.
“Kalau teman bukan  biasa, kalian apanya dong.”
Ha ha ha ha …
Sekembalinya Kopral Hanafi dari gudang persenjataan, arahan dilanjutkan Kolonel Madi lagi. Dia memin ta Sersan Kifli, Letnan Basri dan Sersan Ipung segera bergerak menuju gudang  untuk  mengambil bekal  per senjataan.
“Ambillah seperlunya. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit,” tandas Kolonel Madi.
Gudang persenjataan itu tidak terlalu besar. Karena persenjataan yang ada dan tersimpan di dalamnya tidak terlalu banyak dan berukuran besar
Selain senjata berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil, pistol saku hingga laras panjang, bambu runcing dan besi.
Kemudian ada sedikit bahan peledak seperti granat dan bom lempar asap yang khusus digunakan untuk menahan dan memukul balik serangan pasukan musuh.
Dibandingkan persenjataan yang dipunyai pasukan Jenderal Kick yang lebih banyak dan modern, Kolonel Madi tetap menyemangati anggota pasukannya.
“Kita boleh kecil dari segi persenjataan, tapi kita tidak boleh berkecil hati dengan apa yang kita punya sa at ini. Itu tidak bagus,” katanya dengan suara lantang berapi-api sesaat sebelum bertolak ke kediaman Jenderal Kick.    
Ada sebuah mobil jeep whillys berukuran besar. Cukup untuk mengangkut delapan personil pasukan. Dua di depan dan enam personil di belakang. Jeep ini memang jarang digunakan selain untuk keperluan khusus seperti menginspeksi pasukan, memantau kesiagaan pasukan, dan terutama membawa anggota pa sukan menuju medan pertempuran.
Sersan Ipung mendapat kepercayaan mengemudikan jeep whillys, ditemani Kolonel Madi  yang mene maninya duduk di depan selama dalam perjalanan.
“Kita berdoa dulu supaya selamat pergi dan selamat pula pulang,” ajak Kolonel Madi. Dia sendiri yang memimpin doa itu ketika jarum jam bergeser ke angka dua.

4
“SERSAN Wini …”
“Siap Kolonel.”
Sersan Wini menyenandungkan tembang untuk menyemangati rekan-rekannya …

             “Majulah
                Majulah duhai pejuang
                  Rapatkan barisan
                    Musuh di depan ayo taklukkan
                       Agar kemenangan kita dapatkan

                   Jangan takut apalagi ragu kawan
                      Satukan langkah kita tekadkan
                         Biarlah mati asalkan menang
                           Ketimbang hidup tapi kalah
                                Menanggung malu tak terperikan

                                      Berilah kami semangat kawan
                                       Agar lebih mantap dalam melakoni perjuangan
                                         Membebaskan negeri ini dari segala bentuk
                                             Penindasan dan kejahiliyahan

                                  Doamu itu kawan
                                    Selalu kami harapkan
                                       Sebagai bekal menghadapi lawan
                                         Yang kuat dan tak berprikemanusiaan

                                              Selamat jalan pejuang
                                                Selamat tinggal kawan
                                                   Kenanglah kami dalam mimpimu
                                                     Ingatlah kami dalam setiap desah nafasmu
            
                                                         Darah kami
                                                           Nafas kami
                                                            Bahkan nyawa kami
                                                             Kami berikan semata
                                                               ‘tuk negeri ini ….
                  

“Kopral Hanafi.”
 “Siap Kolonel.”
  Allah SWT telah berfirman …
                     “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampuai batas.” (QS Al-Baqarah 190).

                     “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah SWT belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (193).

                     “Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (194)

                     “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah. Jika mereka berhenti  (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Anfaal 39).

“Sersan Kifli.”
“Siap Kolonel.”
Pada suatu hari, kata Sersan Kifli memulai ceritanya, ada seorang sahabat mengadu kepada Nabi Mu hammad SAW, bahwa ia kalau mengerjakan salat, tidak dapat khusyuk sepenuhnya.
Seringkali ia masih teringat akan hal-hal lain di dalam salatnya, termasuk urusan rumah tangga, utang piutang dan sebagainya.
Nabi SAW menjawab: “Tidak ada orang yang dapat khusyuk sepenuhnya, dengan sempurna dari awal hingga akhir.”
Tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyanggah, “Saya bisa Rasulullah.”
“Betul?” Tanya Nabi SAW.
“Betul,” jawab Ali dengan yakin.
“Jika memang betul dapat sempurna khusyuk dari awal sampai akhir, aku akan berikan sorbanku yang terbagus untukmu sebagai hadiah.”
Maka Ali pun mengerjakan salat sunnah dua rakaat. Setelah selesai ia ditanya oleh Nabi SAW.
“Bagaimana? Bisa khusyuk dengan sempurna?”
Ali dengan muka murung menjawab: “Pada rakaat yang pertama saya khusyuk sekali. Begitu pula dalam rakaat yang kedua. Ketika sujud yang terakhir juga saya tetap khusyuk hingga duduk tasyahud. Sampai mendekati salam, barulah hati saya berubah. Teringat akan janjimu ya Rasulullah, bahwa engkau akan memberikan hadiah sorban terbagus untuk saya. Jadi rusaklah khusyuk saya.”

5
“KOPRAL Agus …”
“Siap komandan.”

           Ya Allah ya Tuhan kami
            Berilah kami kekuatan
            Bukan kelemahan
            Berilah kami kemudahan
            Bukan kesusahan

                 Berilah kami bimbingan ya Allah
                 Tunjukilah kami jalan yang lurus
                 Yang Engkau ridhai …

                          Ya Allah ya Tuhan kami
                          Kuatkanlah tekad kami
                          Jangan bikin kami lemah
                          Lalu tak berdaya apa-apa
                          Hadapi musuh yang kian merajalela
                          Bikin rakyat sengsara

                               Ya Allah ya Tuhan kami
                               Ridhailah perjuangan kami ini
                               Capaikanlah cita-cita mulia kami
                               Bebaskanlah negeri kami ini
                               Dari kaum penjajah yang menjajah
                               Negeri kami tiada henti
                               Sampai saat ini

                                     Andai Kau minta nyawa kami
                                      Ya rabb …
                                      Kami berikan demi bebasnya negeri
                                      Kami tercinta ini …
                                      Amiiiin …”

“Kopral Murti.”
“Siap komandan.”

              Sabar adalah kunci apa yang diharapkan
               Dengan sabar segala kebaikan akan terjadi
               Bersabarlah!
               Sekalipun malam-malam terasa begitu panjang                  
               Betapa kuda binal menjadi penurut
               Lantaran kesabaran pemiliknya
               Dengan kesabaran
               Banyak yang dapat diraih
               Sekalipun sesuatu yang teramat jauh
               Untuk bisa digapai

                  Aku bersabar
                  Hingga sabar itu menjadi watakku
                  Cukuplag bagimu
                  Pujian Allah bagi yang bersabar
                  Aku akan bersabar
                  Hingga Allah memberi keputusan di antara kita
                  Menuju kemudahan
                  Atau menuju kesukaran …”  
 

“Letnan Basri.”
“Siap komandan.”

          “Jika kamu menyukai petunjuk para imam,
            Kuatkanlah dirimu untuk sanggup menerima berbagai cobaan
            Dan hati sabar di kala menghadapi setiap kegetiran
            Tangkal segala kegetiran itu dengan hati yang penuh kesabaran

                  Jagalah lisanmu, pejamkan mata
                  Sembunyikan rahasia
                  Kunci pintu rumah
                  Sunggingkan senyuman di bibirmu
                  Meski perut lapar dan hati terluka
                  Keutamaan terpendam dan cacat tersebar
                  Setiap hari masa mendera kamu
                  Teman-teman menaburkan aroma kegetiran
                  Tetapi hati tetap taat kepada Allah

                        Siang hari kamu sibuk berbuat kebaikan buat manusia
                         Tanpa kau sebut-sebut
                         Sedangkan malam hari kai tumpahkan rindu menghadap Tuhan
                         Tanpa ada yang tahu
                         Ambillah kesempatan malam
                         Jadikan ia jalan lapang
                         Buat hari esok
                         Raih kemuliaan
                         Pada saat yang lain
                         Kesulitan mencari jalan ….”

6            
 “SERSAN Ipung …”
“Siap Kolonel.”
Alkisah, sebagai panglima perang, Raja Iskandar Zulkarnain tidak pernah mengalami kekalahan. Seluruh negeri yang ditantangnya selalu menyerah.
Pedangnya seperti punya mata, dapat menundukkan siapa saja. Tentaranya besar dan gagah berani dengan persenjataan yang kuat.
Di medan perang, Iskandar Zulkarnain adalah seorang ahli taktik dan siasat yang ulung untuk memenangkan peperangan.
Sudah seperdelapan bola bumi yang dikuasai oleh Raja Iskandar Zulkarnain. Sampai ia menjarah hingga mendekati anak benua India.
Pada waktu ia menaklukkan negeri itu, tatkala ia sedang menyeberangi sungai Indus, pada suatu malam ia dihinggapi seekor nyamuk nyamuk kecil, dan digigitnya.
Kecil sekali nyamuk itu. Namun akibatnya amat fatal. Raja Iskandar jatuh sakit, mengalami demam yang hebatn karena nyamuk itu membawa benih penyakit malaria.
Dari hari ke hari penyakit yang mendera Raja Iskandar Zulkarnain semakin parah. Ketika ia merasa ajalnya sudah semakin dekat, dia memanggil  orang-orang kepercayaannya, dan bertitah kepada mereka:

“Wahai para sahabatku. Kalau nanti aku meninggal dunia, masukkanlah jenazahku ke dalam peti mati. Tapi bikinlah lubang pada kedua sisi peti matiku itu.
Julurkanlah kedua tanganku keluar melalui lubang itu. Lalu tempatkan peti matiku ke dalam sebuah kereta jenazah yang terbuka.
Arahkanlah kereta itu kembali ke Makedonia dengan lambat-lambat, agar bangsa-bangsa yang pernah kutaklukkan di sepanjang perjalanan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Iskandar yang agung, yang perkasa, dan selalu menang perang, pada waktu mati tidak membawa apa-apa.
Tida sebongkah emas pun digenggamnya dari harta rampasan yang begitu banyaknya. Supaya dengan demikian para raja,  penguasa dan para panglima di belakangku kelak, tidak akan sombong dengan kekuasaan mereka.
Sebab, ternyata ujung semua kebesaran dan keagungan adalah kematian yang manusia tidak berdaya untuk menghindarinya.”

“Kolonel  Madi.”
“Siap Sersan Wini.”
Ha ha ha ha …

“Desa itu bernama Sadum, terletak di wilayah Palestina. Selama Nabi Luth berdomisili di situ bersama isteri dan dua anak gadisnya, perangai penduduk setempat masih tetap jahat dan kotor.
Nabi Luth sudah berkali-kali mengajak mereka agar menempuh jalan hidup yang baik, namun seruannya tetap sia-sia.
Mereka tidak mau mengubah tingkah laku yang sangat tersesat itu. Merampok dan membunuh jika perlu, menipu dan memperdayakan orang.
Yang lebih keterlaluan lagi mereka lebih senang melepaskan nafsu birahinya dengan sesama jenis. Laki-laki bukannya mengejar perempuan yang cantik-cantik, tapi mereka justru tertarik kepada laki-laki yang muda dan bersih.
Kaum wanita terbengkalai.  Mereka hanya sekadar dipergunakan buat menyambung keturunan. Laki-laki tak mau menggauli mereka dengan mesra. Hanya seperlunya saja.
Karena itu, kaum perempuan akhirnya mencari kepuasan pada sesama mereka. Dan hal ini dipelopori oleh isteri Nabi Luth sendiri.
Malah dialah yang mula-mula memberi keterangan kepada kaum laki-laki apabila ada pemuda cakap lewat, atau ada calon korban yang bisa dijadikan mangsa. Sebagai balasannya, ia akan menerima gadis-gadis belia untuk dijadikan pelampiasan birahinya.
Sudah terperas keringat Nabi Luth selama puluhan tahun untuk menyadarkan mereka, termasuk iste rinya sendiri. Namun kejahatan mereka justru menjadi-jadi.
Melalui firman Allah disampaikannya janji-janji surga dan kebahagiaan yang abadi bagi mereka yang mau taat dan ditakut-takutinya dengan ancaman neraka bagi mereka yang keras kepala.
Tapi peringatan itu bukan hanya tidak digubris, malah dicemoohkan. Yang paling mengejek dan ingkar di antara mereka adalah isteri Nabi Luth juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar