Cerita Fiksi
Kota Baru (1)
Ditulis oleh aminuddin
1
ENAM tahun kemudian ….
“Bagaimana Kolonel?”
Tanya Letnan Basri. Ia mengusulkan pada atasannya itu agar pada malam ini juga mereka
menyerang kediaman Jenderal Kick.
“Oke. Sersan Ipung, ada saran?” Kolonel Madi mempersilakan
pada Sersan Ipung untuk memberikan sa ran dan masukan. Karena pada saat seperti
inilah selain kompak dan bersatu juga apapun yang ada di be nak masing-masing
harus diutarakan.
“Saya setuju saja Kolonel. Malam ini atau subuh nanti tak masalah bagi
saya. Yang penting kita harus siap dan kita punya target.”
“Kopral Hanafi?”
“Menurut saya, malam ini juga kita serang kediaman Jenderal
Kick. Karena kita memang sudah siap, Kolonel.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Kolonel Madi, “Sekarang apa
perlu ditambah personil kita letnan, sersan dan Kopral Hanafi?”
“Perlu menurut saya Kolonel,” kata Kopral Hanafi. Karena
dengan hanya mengandalkan empat personil seperti sekarang ini dinilai belum
memadai. Sebabi pasukan yang ditempatkan di kediaman Jenderal Kick itu tidaklah
sedikit jumlahnya.”
“Berarti anda setuju Kopral Hanafi ya kalau kita menambah
jumlah personil. Baiklah. Sekarang saya
lempar dulu ke Sersan Ipung dan Letnan Basri. Bagaimana dengan kalian berdua?”
“Saya setuju,” jawab Sersan Ipung.
“Saya juga Mayor,” sahut Letnan Basri.
“Terima kasih. Kalian bertiga setuju, itu bagus. Sekarang
baru kita bahas berapa kira-kira jumlah personil yang kita butuhkan?” Kolonel
Madi berharap jangan terlalu banyak personil. Dua atau empat lagilah cu kup
memadai.
“Bagaimana kalau, ini menurut saya, kita menambah empat personil saja lagi?”
“Tak mnengapa Kolonel. Asalkan mereka yang kita pilih itu
benar-benar untuk memperkuat tim ini,” terang Letnan Basri.
Letnan Basri mengusulkn penambahan empat personil itu
mengacu pada empat keahlian. Misalnya, ada yang ahli mengutak-atik bom,
menembak jarak jauh, bermain pedang dan berpengalaman menyelinap masuk ke dalam
bangunan tertentu tanpa terdeteksi.
“Jadi kita semua
nantinya punya keahlian khusus, sehingga sudah tahu apa yang harus dikerjakan.
Mana yang didahulukan dan mana pula yang dikemudiankan,” jelas Letnan Basri.
“Cuma saya ragu Letnan Basri dan Kolonel Madi,” potong
Sersan Ipung. “Ragu kenapa. Ada dua. Perta ma, personil pasukan kita rata-rata punya keahlian yang
sama dan merata. Walaupun tidak bisa dikata kan ahlinya, tapi cukup untuk
mengantisipasi jika diserang sana sini. Kedua, saya kuatir, kalau kita semua
beda keahlian, masing-masing terpaku pada keahlian per personil saja.”
“Maksud saya begini Kolonel,” terang Sersan Ipung, “Taruhlah
saya ahlinya menembak jarak jauh. Seme tara kita yang di depan perlu bantuan
yang di luar keahlian saya, apa mungkin bisa. Andaipun bisa berar ti kita sudah
mengganggu konsentrasi saya selaku penembak jarak jauh.”
“Nah,” masih kata Sersan Ipung,” Saya menyarankan
masing-masing dari kita punya kemampuan yang serba bisa. Walau tidak sampai
selevel ahlinya. Dengan begitu masing-masing kita bisa mengatasi sendiri di
saat memang kita sedang tidak bersama teman …”
“Kopral Hanafi?” Kolonel Madi ada ide baru soal penambahan
personil dan kriteria keahlian yang harus dimiliki.
“Kalau menurut saya Kolonel, empat personil cukuplah. Tapi
kalau kita punya enam personil lagi, itu akan lebih baik.”
Ha ha ha ha …
“Sudah enam nanti mau delapan lagi. Terus mau tambahin
tenaga cewek pula,” seloroh Letnan Basri.
“Artinya Kolonel,” jelas Kopral Hanafi, “Berapa pun personil
yang bakal kita tambah, tak masalah. Jangan terpaku pada jumlah. Berapa pun
nanti yang diberi kita terima dengan senang hati. Yang jelas, mereka harus cepat
beradaptasi, dan mengerti dengan tugas
utamanya, itu saja lebih dari cukup
Kolonel.”
Kolonel Madi menghela nafas sebentar.
“ Baiklah saudara-saudaraku semuanya. Saya dapat simpulkan kita akan menambah empat
personil lagi. Kita siap menyerang jelang subuh nanti. Lantas, dari empat
personil yang kita tambah ini, setuju tidak jika salah satunya kita tempatkan
personil cewek?”
“Setujuuuuu Kolonel,” jawab ketiganya serempak.
2
KURANG lebih sekitar tiga puluh menit, Kolonel Madi dan
beberapa anak buahnya kedatangan empat personil tambahan. Mereka adalah Sersan
Kifli, Sersan Wini, Kopral Agus dan Kopral Murti.
Setelah bersalam-salaman dan saling kenal sambil lalu,
keempat tamu ‘istimewa’ ini langsung bergabung mengikuti arahan dan petunjuk
Kolonel Madi. Tengah malam ini sang kolonel memfokuskan topik baha sannya pada
strategi ‘mengurung’ kediaman Jenderal Kick.
“Jadi saudara-saudara semuanya tahu bahwa kita berkumpul di
sini untuk menangkap hidup atau mati Jenderal Kick. Sebelum saya terangkan
bahasan kita ini, apa ada pertanyaan dari saudara-saudara seka lian?”
“Langsung saja Kolonel,” kata Sersan Wini dengan antusias
mengikuti arahan Kolonel Madi.
“Baiklah kalau begitu,” kata Kolonel Madi. Dia menuliskan
sketsa kediaman Jenderal Kick. Rumah dua tingkat itu dijaga ketat pasukan
khusus dengan pekarangan yang amat luas.
Pintu gerbangnya dijaga dua anggota pasukan pengawal
bersenjatakan lengkap. Setiap kendaraan yang keluar masuk diperiksa sangat ketat tanpa terkecuali pejabat tinggi
dan tamu istimewa sekalipun.
“Kita berbagi tugas. Kopral Hanafi dan Sersan Wini menempati
posisi di luar areal kediaman Jenderal
Kick,” jelas Kolonel Madi. Dia menggambarkan sepintas dua orang beda jenis
kelamin dengan satu be rambut panjang dan satunya lagi berkepala botak.
Ha ha ha ha …
“Mantap Pak Kolonel,” komentar Sersan Kifli tersenyum lebar.
“Selanjutnya di dalam aeral kediaman Jenderal Kick dibagi
tiga. Belakang ditempati Sersan Kifli dan Kopral Agus …”
Ha ha ha ha …
“Tukang bersih parit Pak Kolonel,” ujar Kopral Murti yang tak kuasa menyembunyikan
rasa gelinya. Ka rena selama ini temannya itu Sersan Kifli selalu berada di
garis terdepan, dan bukan justru ditempatkan di bagian belakang.
“Oke ya. Selanjutnya mereka yang menempati posisi sebelah
kanan adalah Kopral Murti dan Letnan Bas ri,” jelas Kolonel Madi. Posisi ini harus sejalan dengan mereka
yang menempati bagian belakang dan se belah kiri.
“Untuk sebelah kiri akan ditempati oleh saya sendiri bersama
Sersan Ipung,” kata Kolonel Madi.
Semua tekun menyimak.
“Ada pertanyaan sampai disini?”
“Saya Kolonel,” kata Sersan Wini berapi-api.
“Silakan Sersan Wini.”
“Terima kasih. Posisi saya dan Kopral Hanafi itu, ruang
geraknya sampai mana Kolonel?”
“Tidak berbatas sebenarnya. Hanya dibatasi pintu gerbang dan
areal di belakang anda berdua. Tugas an da berdua adalah mengamati situasi di
sekitar kediaman Jenderal Kick dan melaporkannya kepada saya, Letnan Basri atau
Kopral Murti dan Sersan Kifli.”
Sersan Wini beradu pandang sesaat dengan Kopral Hanafi.
“Jelas Sersan Wini?”
“Target tambahan Kolonel?” Tanya Sersan Wini lagi.
“Tidak ada. Menunggu instruksi lanjutan, tapi kalau situasinya tidak memungkinkan,
ambil keputusan secara cepat dan tepat dengan mempertimbangkan risiko seminimal
mungkin,” terang Kolonel Madi. Sejenak minum segelas air putih yang tersaji di
atas meja.
Sama-sama minum air putih.
“Yang lain silakan kalau ada.”
“Saya Kolonel.” Kopral Murti menanyakan limit waktu mencapai
target utama.
“Jenderal Kick harus kita sikat dalam tempo
secepat-cepatnya. Jangan ragu dan jangan takut.”
“Siap Kolonel.”
“Yang lain?”
“Saya Kolonel.” Gantian Sersan Kifli yang bertanya. Dia
sempat jadi bahan ledekan rekan-rekannya yang lain karena agak terlambat
mengajukan pertanyaan.
“Payah bos kita ini. Belum perang sudah keder duluan,”
sindir Kopral Murti.
Ha ha ha ha …
3
“TERAKHIR anda semua pasti tahu. Bekal yang dibawa. Mulai dari yang terkecil hingga besar menurut ukuran kita,” kata Kolonel Madi, memberi kesempatan pada anggota pasukannya untuk mengajukan pertanyaan sekiranya belum ada yang jelas dan dimengerti.
“TERAKHIR anda semua pasti tahu. Bekal yang dibawa. Mulai dari yang terkecil hingga besar menurut ukuran kita,” kata Kolonel Madi, memberi kesempatan pada anggota pasukannya untuk mengajukan pertanyaan sekiranya belum ada yang jelas dan dimengerti.
Sepertinya Letnan Basri dan kawan-kawan sudah tak sabar.
Pikiran mereka sudah terbang jauh ke ke diaman Jenderal Kick. Tak heran, saat
diberi kesempatan bertanya dan mengajukan usulan, mereka enggan mengangkat jari
tangan.
“Kalau begitu kita teruskan dengan tugas dan bekal yang
dibawa,” jelas Kolonel Madi. Dia memulai dari Kopral Hanafi dan Sersan Madi.
“Anda berdua diberi tugas siap siaga mengarahkan senjata ke
sasaran, terutama Jenderal Kick sekiranya yang bersangkutan melarikan diri,
atau keluar dari kediamannya, dan baru menembak setelah diberi izin menembak.
Masing-masing anda dibekali dua senjata dan peluru serta bahan peledak seperti
granat dan bom lem par asap yang berkuatan standar.”
“Boleh diambil sekarang bekalnya Kolonel?” Tanya Kopral
Hanafi yang sudah berdiri dan hendak menuju ke gudang persenjataan.
“Silakan Kopral. Tapi Sersan Wini tak usah ikut. Beliau
tetap di tempat,” kata Kolonel Madi.
“Kenapa Kolonel?” Kopral Agus sekadar ingin tahu. Apa
sengaja diberi perlakuan istimewa karena dia berjenis kelamin perempuan.
“Kalau Sersan Wini ikut Kopral Hanafi kalian semua pasti
cemburu. Betul kan?”
Ha ha ha ha …
“Ketahuan belangnya Kolonel …” Sindir Sersan Kifli.
“Memangnya ada dengan Kopral Agus, Sersan Kifli?” Kopral
Murti mengalihkan ketegangan sejenak menyongsong tibanya detik-detik yang boleh
jadi mencekam.
“Biasalah Kopral Murti. Teman bukan biasa,” seloroh Sersan
Kifli.
Ha ha ha ha …
“Berteman boleh, tapi teman biasa. Tak eloklah,” jawab
Kolonel Madi.
“Kenapa sampai tak elok Kolonel?” Tanya Letnan Basri sedikit
penasaran.
“Kalau teman bukan
biasa, kalian apanya dong.”
Ha ha ha ha …
Sekembalinya Kopral Hanafi dari gudang persenjataan, arahan
dilanjutkan Kolonel Madi lagi. Dia memin ta Sersan Kifli, Letnan Basri dan
Sersan Ipung segera bergerak menuju gudang untuk mengambil bekal per senjataan.
“Ambillah seperlunya. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak
terlalu sedikit,” tandas Kolonel Madi.
Gudang persenjataan itu tidak terlalu besar. Karena
persenjataan yang ada dan tersimpan di dalamnya tidak terlalu banyak dan
berukuran besar
Selain senjata berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil,
pistol saku hingga laras panjang, bambu runcing dan besi.
Kemudian ada sedikit bahan peledak seperti granat dan bom
lempar asap yang khusus digunakan untuk menahan dan memukul balik serangan
pasukan musuh.
Dibandingkan persenjataan yang dipunyai pasukan Jenderal
Kick yang lebih banyak dan modern, Kolonel Madi tetap menyemangati anggota
pasukannya.
“Kita boleh kecil dari segi persenjataan, tapi kita tidak
boleh berkecil hati dengan apa yang kita punya sa at ini. Itu tidak bagus,”
katanya dengan suara lantang berapi-api sesaat sebelum bertolak ke kediaman
Jenderal Kick.
Ada sebuah mobil jeep whillys berukuran besar. Cukup untuk
mengangkut delapan personil pasukan. Dua di depan dan enam personil di
belakang. Jeep ini memang jarang digunakan selain untuk keperluan khusus
seperti menginspeksi pasukan, memantau kesiagaan pasukan, dan terutama membawa
anggota pa sukan menuju medan pertempuran.
Sersan Ipung mendapat kepercayaan mengemudikan jeep whillys,
ditemani Kolonel Madi yang mene maninya
duduk di depan selama dalam perjalanan.
“Kita berdoa dulu supaya selamat pergi dan selamat pula pulang,”
ajak Kolonel Madi. Dia sendiri yang memimpin doa itu ketika jarum jam bergeser
ke angka dua.
4
“SERSAN Wini …”
“Siap Kolonel.”
Sersan Wini menyenandungkan tembang untuk menyemangati
rekan-rekannya …
“Majulah
Majulah duhai pejuang
Rapatkan barisan
Musuh di depan ayo
taklukkan
Agar kemenangan kita dapatkan
Jangan takut apalagi ragu
kawan
Satukan langkah kita
tekadkan
Biarlah mati asalkan
menang
Ketimbang hidup tapi
kalah
Menanggung malu
tak terperikan
Berilah
kami semangat kawan
Agar
lebih mantap dalam melakoni perjuangan
Membebaskan negeri ini dari segala bentuk
Penindasan dan kejahiliyahan
Doamu itu
kawan
Selalu kami
harapkan
Sebagai
bekal menghadapi lawan
Yang
kuat dan tak berprikemanusiaan
Selamat jalan pejuang
Selamat tinggal kawan
Kenanglah kami dalam mimpimu
Ingatlah kami dalam setiap desah
nafasmu
Darah kami
Nafas kami
Bahkan nyawa kami
Kami berikan semata
‘tuk negeri ini ….
“Kopral Hanafi.”
“Siap Kolonel.”
Allah SWT telah
berfirman …
“Dan perangilah di jalan
Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,
karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampuai batas.” (QS
Al-Baqarah 190).
“Dan perangilah mereka
itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah
SWT belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada
permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (193).
“Dan berperanglah kamu
sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (194)
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada
fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah Maha
Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Anfaal 39).
“Sersan Kifli.”
“Siap Kolonel.”
Pada suatu hari, kata Sersan Kifli memulai ceritanya, ada
seorang sahabat mengadu kepada Nabi Mu hammad SAW, bahwa ia kalau mengerjakan
salat, tidak dapat khusyuk sepenuhnya.
Seringkali ia masih teringat akan hal-hal lain di dalam
salatnya, termasuk urusan rumah tangga, utang piutang dan sebagainya.
Nabi SAW menjawab: “Tidak ada orang yang dapat khusyuk
sepenuhnya, dengan sempurna dari awal hingga akhir.”
Tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyanggah, “Saya bisa
Rasulullah.”
“Betul?” Tanya Nabi SAW.
“Betul,” jawab Ali dengan yakin.
“Jika memang betul dapat sempurna khusyuk dari awal sampai
akhir, aku akan berikan sorbanku yang terbagus untukmu sebagai hadiah.”
Maka Ali pun mengerjakan salat sunnah dua rakaat. Setelah
selesai ia ditanya oleh Nabi SAW.
“Bagaimana? Bisa khusyuk dengan sempurna?”
Ali dengan muka murung menjawab: “Pada rakaat yang pertama
saya khusyuk sekali. Begitu pula dalam rakaat yang kedua. Ketika sujud yang
terakhir juga saya tetap khusyuk hingga duduk tasyahud. Sampai mendekati salam,
barulah hati saya berubah. Teringat akan janjimu ya Rasulullah, bahwa engkau
akan memberikan hadiah sorban terbagus untuk saya. Jadi rusaklah khusyuk saya.”
5
“KOPRAL Agus …”
“Siap komandan.”
“Ya Allah ya Tuhan kami
Berilah kami kekuatan
Bukan kelemahan
Berilah kami kemudahan
Bukan kesusahan
Berilah kami bimbingan ya
Allah
Tunjukilah kami jalan yang
lurus
Yang Engkau ridhai …
Ya Allah ya Tuhan
kami
Kuatkanlah tekad kami
Jangan bikin kami
lemah
Lalu tak berdaya
apa-apa
Hadapi musuh yang
kian merajalela
Bikin rakyat sengsara
Ya Allah ya
Tuhan kami
Ridhailah
perjuangan kami ini
Capaikanlah
cita-cita mulia kami
Bebaskanlah negeri kami ini
Dari kaum
penjajah yang menjajah
Negeri kami
tiada henti
Sampai saat ini
Andai Kau
minta nyawa kami
Ya rabb …
Kami
berikan demi bebasnya negeri
Kami
tercinta ini …
Amiiiin …”
“Kopral Murti.”
“Siap komandan.”
“Sabar adalah kunci apa yang diharapkan
Dengan sabar segala kebaikan
akan terjadi
Bersabarlah!
Sekalipun malam-malam terasa begitu
panjang
Betapa kuda binal menjadi
penurut
Lantaran kesabaran pemiliknya
Dengan kesabaran
Banyak yang dapat diraih
Sekalipun sesuatu yang teramat
jauh
Untuk bisa digapai
Aku bersabar
Hingga sabar itu menjadi
watakku
Cukuplag bagimu
Pujian Allah bagi yang
bersabar
Aku akan bersabar
Hingga Allah memberi
keputusan di antara kita
Menuju kemudahan
Atau menuju kesukaran …”
“Letnan Basri.”
“Siap komandan.”
“Jika kamu menyukai petunjuk para imam,
Kuatkanlah dirimu untuk sanggup
menerima berbagai cobaan
Dan hati sabar di kala menghadapi
setiap kegetiran
Tangkal segala kegetiran itu dengan
hati yang penuh kesabaran
Jagalah lisanmu, pejamkan
mata
Sembunyikan rahasia
Kunci pintu rumah
Sunggingkan senyuman di
bibirmu
Meski perut lapar dan hati
terluka
Keutamaan terpendam dan cacat
tersebar
Setiap hari masa mendera kamu
Teman-teman menaburkan aroma
kegetiran
Tetapi hati tetap taat kepada
Allah
Siang hari kamu sibuk
berbuat kebaikan buat manusia
Tanpa kau sebut-sebut
Sedangkan malam hari
kai tumpahkan rindu menghadap Tuhan
Tanpa ada yang tahu
Ambillah kesempatan
malam
Jadikan ia jalan
lapang
Buat hari esok
Raih kemuliaan
Pada saat yang lain
Kesulitan mencari
jalan ….”
6
“SERSAN Ipung …”
“Siap Kolonel.”
Alkisah, sebagai panglima perang, Raja Iskandar Zulkarnain
tidak pernah mengalami kekalahan. Seluruh negeri yang ditantangnya selalu
menyerah.
Pedangnya seperti punya mata, dapat menundukkan siapa saja.
Tentaranya besar dan gagah berani dengan persenjataan yang kuat.
Di medan perang, Iskandar Zulkarnain adalah seorang ahli
taktik dan siasat yang ulung untuk memenangkan peperangan.
Sudah seperdelapan bola bumi yang dikuasai oleh Raja
Iskandar Zulkarnain. Sampai ia menjarah hingga mendekati anak benua India.
Pada waktu ia menaklukkan negeri itu, tatkala ia sedang menyeberangi
sungai Indus, pada suatu malam ia dihinggapi seekor nyamuk nyamuk kecil, dan
digigitnya.
Kecil sekali nyamuk itu. Namun akibatnya amat fatal. Raja
Iskandar jatuh sakit, mengalami demam yang hebatn karena nyamuk itu membawa
benih penyakit malaria.
Dari hari ke hari penyakit yang mendera Raja Iskandar
Zulkarnain semakin parah. Ketika ia merasa ajalnya sudah semakin dekat, dia
memanggil orang-orang kepercayaannya,
dan bertitah kepada mereka:
“Wahai para sahabatku. Kalau nanti aku meninggal dunia,
masukkanlah jenazahku ke dalam peti mati. Tapi bikinlah lubang pada kedua sisi
peti matiku itu.
Julurkanlah kedua tanganku keluar melalui lubang itu. Lalu
tempatkan peti matiku ke dalam sebuah kereta jenazah yang terbuka.
Arahkanlah kereta itu kembali ke Makedonia dengan
lambat-lambat, agar bangsa-bangsa yang pernah kutaklukkan di sepanjang
perjalanan, menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa Iskandar yang agung,
yang perkasa, dan selalu menang perang, pada waktu mati tidak membawa apa-apa.
Tida sebongkah emas pun digenggamnya dari harta rampasan
yang begitu banyaknya. Supaya dengan demikian para raja, penguasa dan para panglima di belakangku
kelak, tidak akan sombong dengan kekuasaan mereka.
Sebab, ternyata ujung semua kebesaran dan keagungan adalah kematian
yang manusia tidak berdaya untuk menghindarinya.”
“Kolonel Madi.”
“Siap Sersan Wini.”
Ha ha ha ha …
“Desa itu bernama Sadum, terletak di wilayah Palestina.
Selama Nabi Luth berdomisili di situ bersama isteri dan dua anak gadisnya,
perangai penduduk setempat masih tetap jahat dan kotor.
Nabi Luth sudah berkali-kali mengajak mereka agar menempuh
jalan hidup yang baik, namun seruannya tetap sia-sia.
Mereka tidak mau mengubah tingkah laku yang sangat tersesat
itu. Merampok dan membunuh jika perlu, menipu dan memperdayakan orang.
Yang lebih keterlaluan lagi mereka lebih senang melepaskan
nafsu birahinya dengan sesama jenis. Laki-laki bukannya mengejar perempuan yang
cantik-cantik, tapi mereka justru tertarik kepada laki-laki yang muda dan
bersih.
Kaum wanita terbengkalai.
Mereka hanya sekadar dipergunakan buat menyambung keturunan. Laki-laki
tak mau menggauli mereka dengan mesra. Hanya seperlunya saja.
Karena itu, kaum perempuan akhirnya mencari kepuasan pada
sesama mereka. Dan hal ini dipelopori oleh isteri Nabi Luth sendiri.
Malah dialah yang mula-mula memberi keterangan kepada kaum laki-laki
apabila ada pemuda cakap lewat, atau ada calon korban yang bisa dijadikan
mangsa. Sebagai balasannya, ia akan menerima gadis-gadis belia untuk dijadikan
pelampiasan birahinya.
Sudah terperas keringat Nabi Luth selama puluhan tahun untuk
menyadarkan mereka, termasuk iste rinya sendiri. Namun kejahatan mereka justru
menjadi-jadi.
Melalui firman Allah disampaikannya janji-janji surga dan
kebahagiaan yang abadi bagi mereka yang mau taat dan ditakut-takutinya dengan
ancaman neraka bagi mereka yang keras kepala.
Tapi peringatan itu bukan hanya tidak digubris, malah
dicemoohkan. Yang paling mengejek dan ingkar di antara mereka adalah isteri
Nabi Luth juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar