Jumat, 10 Maret 2017

Yang Hilang





Cerita Fiksi

Yang Hilang
Ditulis oleh aminuddin

1
TAMAN Makam Pahlawan tak seramai hari biasanya. Ada beberapa mobil parkir di luar areal taman yang sangat sederhana itu. Ada pintu gerbang terbikin dari kayu bertuliskan ‘Taman Makam Pahlawan Negeri Permata.’
Ada lebih dari lima puluh batu nisan. Dihuni oleh para prajurit dan pejuang yang gugur di medan pertem puran. Ada yang sudah lama wafat, sebaliknya juga ada yang belum genap setahun dimakamkan di tem pat peristirahatan terakhir itu.
Empat di antarahya adalah makam Letnan Basri, Sersan Wini, Kopral Agus dan Kopral Hanafi. Mereka gu gur saat melakukan penangkapan Jenderal Kick di kediamannya beberapa bulan yang silam. Sempat ter jadi baku tembak. Mereka terluka, juga akibat ledakan keras dari bom lempar asap.
Mereka berempat  sempat dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Karena luka yang mereka ala mi cukup parah, sementara peralatan medis belum memadai, nyawa empat anak buah Kolonel Madi ini tak tertolong lagi. Mereka menghembuskan nafas terakhir dengan tenang di damping anggota keluarga, sanak saudara dan teman dekat.
Kolonel Madi sangat terpukul atas kepergian Sersan Wini dan ketiga rekannya yang terlalu cepat dan tak pernah diduga sebelumnya itu. Selama satu hari dia tak mau bicara dan tertawa sebagaimana biasanya. Dia menyesali kenapa operasi penyergapan yang telah direncanakan begitu apik dan matang itu masih menelan korban nyawa.
Namun satu hari kemudian, sebagai manusia biasa dan beriman, Kolonel Madi baru menyadari betapa kematian seseorang itu tak ada yang tahu selain Dia. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Se tiap manusia pasti akan mati. Tapi tak seorang pun dari kita yang mengetahuinya. Juga tak seorang ma nusia pun yang kuasa menunda, apalagi memajukannya barang sesaaat.  
Bukan hanya Kolonel Madi seorang yang merasa kehilangan orang terdekat dan seperjuangan. Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti juga merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka bertiga bisa de ngan cepat mengalihkannya dengan saling curhat dan membagi rasa sedih secara bersama-sama.
Kenangan manis selama mereka bergabung dalam tim memang teramat berat dilupakan. Senda gurau, nyaris adu jotos dan perat mulut sering terjadi, walau pada akhirnya bisa diakhiri dengan cara baik-baik. Musyawarah, saling memaafkan dan mengingatkan.
“Saya ingat dia saat bilang sesuatu kepada saya, Kopral Murti,” kata Sersan Kifli saat keduanya turun dari mobil Jeep Willys hendak menuju pintu gerbang Taman Makan Pahlawan.
“Apa yang dikatakannya sersan?” Tanya Kopral Murti kemudian.
“Kalau boleh saya izin dua hari, saya akan ambil waktu untuk cari pacar. Karena saya memang belum pu nya pacar,” ujar Sersan Kifli.
Ha ha ha ha …
“Apa jawab sersan kemudian?” Kopral Murti bertanya lagi. Ketika menunggu Kolonel Madi dan Sersan Ipung turun dari mobil.
“Kenapa enggak sama saya saja Sersan Wini?”
“Apa jawab dia sersan?” Kopral Murti tampak makin bersemangat mendengarnya.
“Dia cuma tersenyum saja kopral,” jawab Sersan Kifli, agak kecewa dengan jawaban Sersan Wini.
“Ayo kopral, Sersan Kifli!” Ajak Kolonel Madi yang ketika sampai di depan pintu gerbang meminta dua anak buahnya itu lebih dulu masuk ke areal  pemakaman.
Di areal Taman Makam Pahlawan  ada beberapa orang peziarah. Mereka terdiri dari satu keluarga, pa sangan suami isteri dan beberapa wanita serta pria yang sudah lanjut usia.
Kolonel Madi  dan tiga anak buahnya ini berbelok ke kanan. Setelah melewati beberapa batu nisan, mereka berhenti di nisan ke delapan.
Delapan, sembilan, sepuluh dan sebelas. Empat nisan ini dihuni Sersan Wini, Kopral Agus, Kopral Hanafi dan Letnan Basri.
Belum genap setahun mereka dimakamkam di tempat ini. Beberapa bekas taburan bunga di atas tanah masih terlihat. Sebelum ini keluarga almarhum dan almarhumah melakukan ziarah ke tempat ini.
Mereka sengaja datang dari  jauh hanya untuk menyaksikan upacara pemakaman anak, isteri, kakak dan adik mereka yang telah gugur membela tanah air.
Mereka kembali lagi ke Taman Makam Pahlawan ini beberapa bulan kemudian. Mereka hanya ingin me lepas kangen setelah merasa kehilangan setelah ditinggal wafat orang yang mereka cintai, kasihi dan sa yangi.
  
2
DI depan nisan Letnan Basri, Kolonel Madi terdiam sejenak. Sambil berjongkok ia mengenang kembali kenangan manis bersama anak buahnya ini. Setelah itu ia membaca doa dalam hati …

          “Ya Allah ya Tuhanku
          Ampunilah dosa temanku ini
          Baik yang tampak maupun tidak
          Baik yang kecil maupun yang besar
          Baik yang disengaja maupun tidak
          Dosa kepada orang tua
          Dosa kepada anak dan isteri tercinta
          Dosa kepada sanak saudara
          Dosa kepada teman jauh dan teman dekat
          Dosa kepada kaum muslimin dan muslimat
          Dosa kepada kaum mukminin dan mukminat
          Serta dosa kepada-Mu ya rabb …
          Hanya Engkaulah Maha Pengampun dosa
          Maha Pengasih dan Penyang

                 Ya Allah ya Tuhanku
                 Terimalah amal perbuatannya
                 Masukkanlah ia ke dalam surga
                 Yang telah Engkau janjikan …

                    Terangilah kuburnya Ya Allah ya Tuhanku
                    Ringankanlah siksa kuburnya
                    Karena hanya Engkaulah yang kuasa
                    meringankan siksanya
                     Hanya Engkaulah yang bisa menerangi
                    alam kuburnya

                             Ya Allah ya Tuhanku
                             Kuatkanlah mereka yang ia tinggalkan
                             Murahkanlah rezeki mereka
                             Mudahkanlah segala urusan mereka
                             Berilah mereka bimbingan ya Allah
                             Tunjukilah mereka jalan yang lurus
                             Capaikanlah cita-cita mereka
                             Jadikanlah mereka ya rabb
                             Sebagai hamba-Mu yang saleh
                             sabar menghadapi segala rintangan
                             dan cobaan
                             Bermanfaat bagi sesama manusia
                             Tetap berada di jalan yang lurus
                             Yang Engkau ridhai sampai akhir hayat …

                                            Ya Allah ya Tuhanku
                                             Ampunilah dosa kami
                                             Dosa ibu bapa kami
                                             Dosa kakek nenek kami
                                             Dosa buyut kami
                                             Dosa kaum muslimin dan muslimat
                                             Dosa kaum mukminin dan mukminat
 
                                                    Terimalah amal baik mereka
                                                     Ya Allah ya Rabb
                                                     Robbana atina fiddunya hasanah
                                                     Wa fil akhirati hasanah
                                                     Wa qina azaaban naaar
                                                      Washallallahu ala sayyidil mursalin
                                                       Walhamdulillahi rabbil alamin …”

Dengan kepala yang menunduk, Sersan Kifli masih berdoa di pusara Sersan Wini. Kolonel Madi yang semula berdekatan jaraknya, sedikit menjauh.
Dia tak ingin mengganggu konsentrasi tiga anak buahnya yang belum juga beranjak dari pusara rekan-rekan seperjuangan yang telah mendahului mereka.
Satu persatu ia pandangi. Ia tetap berdoa semogalah arwah Kopral Hanafi, Kopral Agus dan Sersan Wini tenang di alam sana dan tentunya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
“Amin ya Allah,” ucap Sersan Kifli dengan suara nyaris tak kedengaran.

                          “Aku memohon kepada-Mu sekali lagi ya Allah
                              Lapangkanlah alam kuburnya
                                    Terimalah seluruh amal perbuatan baiknya
                                        Dan ampunilah dosa dan kesalahannya
                                              Semasa hidup di alam dunia

                                                  Engkau Maha Pengasih
                                                     Hanya Engkau yang Maha Tahu
                                                          Dan Maha Pengampun
                                                              Serta Maha Penyayang …”

3   
SAMBIL menahan haru, Sersan Ipung yang duduk bersila di sebelah kanan nisan Kopral Hanafi, memo hon agar teman seperjuangannya itu mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
“Ya Allah, aku memohon kepadamu, terimalah amal kebaikannya dan ampunilah dosa-dosanya,” ucap Sersan Ipung dengan suara yang hanya dia sendiri dapat mendengarnya.
Sementara Kopral Murti tiada henti-hentinya menahan isak tangis. Seandainya saja Kopral Agus masih hidup dengan selamat hingga saat ini tentu suasananya akan lain.
“Ya Allah, kuatkanlah mereka yang ia tinggalkan. Berilah mereka pengharapan yang lebih baik. Selamat kanlah mereka di dunia dan akherat,” ujar Kopral Murti dalam hati.
“Aku relakan temanku ini pergi menghadap-Mu yang Rabb. Aku ikhlas dan aku rela serta kuatkanlah ha tiku ini agar tetap teguh mempertahankan negeri ini sampai titik darah penghabisan,” kata Sersan Ipung kemudian.
Sesekali dia menyeka peluh di seputar lehernya, untuk kemudian merapikan posisikan duduknya sehing ga bukan saja kelihatan lebih enak dipandang, tapi juga terkesan santai  namun bersungguh-sungguh.
Sesaat kemudian, Kopral Murti dan Sersan Ipung hanya diam. Sebelum bersama Kolonel Madi dan Ser san Kifli menaburkan bunga  di tanah pusara, dari kepala ke ujung kaki, dan dari ujung kaki ke kepala, tentu dengan pelan dan berurutan.
Setelah itu, petekon kecil yang mereka bawa, secara berganian menyiramkan air dengan rata di atas tebaran bunga sambil berharap semoga mayit yang berada di dalam kubur tenang dan mendapat per lindungan dan kasih sayang dari Allah SWT.
Sore belum juga beranjak malam. Beberapa peziarah mulai meninggalkan areal pemakaman. Sebagian besar raut wajah mereka menunjukkan kelegaan walau tersirat rasa sedih yang sulit dibingkai dengan kata-kata.
Hanya mata yang sedikit sembab dan memerah dengan sesekali menyeka hidung dengan sapu tangan. Kedua kaki seakan berat melangkah pergi, meninggalkan areal pemakaman. Ada rasa ingin kembali, bersua meski hanya dalam doa, mimpi dan harapan.
Entah bagaimana perasaan Kolonel Madi, Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti setelah berziarah ke pusara empat teman seperjuangan mereka.
Yang sepintas terlihat, ketika mereka beranjak pergi menuju pintu gerbang taman bersejarah itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka terus berjalan sampai ke areal parkir kenda raan.
Ada Jeep Willys yang biasa digunakan Kolonel Madi ke mana pergi. Jeep ini  sudah akrab dengan anak bu ahnya karena sering digunakan mendampinginya dalam melakukan operasi lapangan.
Sebagai penghormatan sesama teman dan satu pasukan, Sersan Ipung yang sudah terbiasa mengemu dikan  Jeep Willys ini, menyerahkan kunci mobil kepada Sersan Kifli. Sersan Kifli menolak secara halus. Karena ia belum terbiasa mengemudikan mobil Jeep Willys.
“Mulai sekarang, biasakanlah sersan,” kata Kolonel Madi sambil menyunggingkan senyuman. Sungguh manis dan menawan hati senyuman itu.
“Semua mobil sama saja sersan. Cuma yang membedakannya, cara kita menggunakannya,” kata Kopral Murti sambil ketawa.
“Saya harap sersan mau menerima kunci ini. Dengan begitu senanglah hati saya Sersan Kifli,” harap Sersan Ipung, juga sambil ketawa.
Dia berharap Sersan Kifli mau menerima kunci mobil antik ini, dan segera naik untuk kemudian memba wa mereka meninggalkan Taman Makam Pahlawan Negeri Permata.

4
DI tengah perjalanan, Kolonel Madi mendapat laporan Jenderal Kutch dan  pasukannya sudah berada di kawasan perbatasan. Mereka bersiap masuk dan menyerbu markas pasukan militer Permata.
“Saya juga dapat laporan Jenderal Kutch mencari anda, komandan.” Kata Kopral Lewis dari persimpa ngan markas militer.
“Ada lagi kopral?”
“Dia juga akan membebaskan Jenderal Kick dari tempat persembunyiannya, Komandan,” lapor Kopral Lewis.
“Oke kopral. Siagakan pasukan, siaga di tempat masing-masing dan pantau situasi terkini. Tunggu perintah dari saya berikutnya. ” Perintah Kolonel Madi.
“Siap laksanakan Komandan.”
Kepada Sersan Ipung dan Kopral Murti, Kolonel Madi memerintahkan keduanya segera menuju tempat penahanan Jenderal Kick.
“Saya dan Sersan Kifli bersiap menuju markas.”
“Siap Kolonel,” jawab Kopral Murti yang tampak mulai memerah mukanya karena menahan geram dan marah setelah tahu Jenderal Kutch beserta pasukannya akan menyerbu maras militer dan membebas kan Jenderal Kick.
Suasana di dalam mobil Jeep Willys sudah tidak setenang seperti tadi. Santai dan diwarnai canda ria dengan sesama. Masing-masing kini tertuju pada satu tekad memukul mundur Jenderal Kutch dan pasukannya keluar dari Negeri Permata.
“Kopral Murti!”
“Siap Komandan.”
“Sudah dekat.”
“Ya Komandan.”
Kopral Murti dan Sersan Ipung, keduanya turun dengan melompat ke balik semak belukar. Berjalan kira-kira dua puluh meter, berhenti dekat sebuah pohon. Ada lubang yang ditutupi batu cadas dan belukar, disanalah mereka masuk.
Di mana Jenderal Kick?
Di dalam terowongan bawah tanah alami itu ada  ruang tahanan yang dipagari besi di sekelilingnya. Besi membentuk persegi empat itu sangat kokoh dan sulit untuk dirusak, apalagi dibongkar paksa dengan tu juan mereka yang ada di dalamnya bisa keluar dengan selamat.
Ruang tahanan Jenderal Kick dijaga dua tentara berpangkat kopral. Keduanya berjaga sepanjang hari,  bergantian dengan anggota pasukan dari satuan lain.
Jenderal Kick tampak tertidur pulas. Dia baru saja makan malam. Dia sama sekali tak tahu dengan keda tangan Kopral Murti dan Sersan Ipung. Dia hanya tahu di depan sel tempat dia ditahan saat ini ada dua lelaki berbadan tegap bersenjatakan lengkap silih berganti menjaganya.
Kendati dijaga ketat oleh anggota pasukan Permata, Jenderal Kick diperlakukan dengan baik. Tidak per nah disiksa dan diberi makan selayaknya manusia makan.
Sesuai instruksi Kolonel Madi, agar menjaga sebaik mungkin Jenderal Kick, tak satu pun petuga jaga sel berbuat macam-macam dengan jenderal yang dulunya dikenal gagah berani di medan pertempuran itu.
Jadi tak heran ketika Kopral Murti dan Sersan Ipung datang menjenguknya seorang diri di tahanan, Jen deral Kick tetap bisa melanjutkan tidur malamnya.
Sang Jenderal memang kurang tidur. Padahal selama ditahan dan dalam pengawasan Kolonel Madi, dia diperlakukan secara manusiawi.  Meski diakui sejak diculik dia memang tidak diperkenankan keluar dari terowongan.
Kolonel  Madi tak mau ambil risiko. Lebih baik tetap di dalam tahanan bawah tanah, diperlakukan de ngan baik ketimbang misalnya, memberi kesempatan pada jenderal dari Negeri Biru itu leluasa berada di luar terowongan, karena bisa saja yang bersangkutan melarikan diri di saat petugas jaga lengah walau hanya sesaat.

5  
SETIAP warga yang ditemui Jenderal Kutch dan pasukannya selalu menanyakan keberadaan Kolonel Ma di dan Jenderal Kick. Tentu warga tak tahu menahu jika ditanya keberadaan dua orang penting dari ne geri yang sama sekali berbeda itu.
Namun tidak bagi Jenderal Kutch. Baginya Jenderal Kick dan Kolonel Madi harus diketemukan secepat nya. Tak mungkin seluruh warga yang ia temui tak tahu di mana keberadaan keduanya.
“Letnan. Bawa mereka sekarang kepadaku,” perintah Jenderal Kutch pada bawahannya, Letnan Alexan der.
Beberapa warga yang coba berlari dari kejaran Letnan Alexander dan beberapa anak buahnya,  terpaksa diseret paksa. Dan karena melewan, ada beberapa di antaranya terkena bogem mentah di kepala, hidu ng dan dagu.
Meski mengalami siksaan yang hebat dan pedih dengan cara dicambuk, diinjak kaki menggunakan sepa tu bot besar dan beberapa bentuk siksaan lainnya, warga tetap tak mau membuka mulut.
“Cari saja sendiri .. Puiiih!” Jawab lelaki berkulit hitam legam berambut keriting dengan ketus sambil me ludahi muka Letnan Alexander.
Letnan Alexander naik pitam.  Ditariknya kerah baju si Keriting.
“Letnan!” Jenderal Kutch mencegahnya. Dia meminta sang letnan menyeret paksa wanita muda yang duduk bersimpuh dengan warga lain di dekat si keriting.
“Ampun Pak.  Jangan siksa saya.” Jerit si wanita yang tak lain isteri si keriting. Memohon pada Letnan Alexander agar jangan menyiksanya dan melukai suaminya.
Tapi Jenderal Kutch tak ambil peduli. Dia tak memberi ampun. Si wanita, oleh Letnan Alexander, dicam buk  sampai puluhan kali sampai tewas secara mengenaskan.
Sang suami yang dalam keadaan kedua tangan terikat di kayu hanya bisa menyumpah serampahi Jen deral Kutch dan Letnan Alexander.
Berulangkali ia berteriak-teriak … ‘Anjing .. anjing .. babi .. binatang … bangsat .. biadab.’ Jenderal Kutch hanya tersenyum.  Dia mendekati si keriting sambil membawa gunting kecil runcing di depan.
“Belum mau mengaku, haaa?” Sergah Jenderal Kutch dengan tatapan mata tajam menyeramkan.
“Puiiih!” Kena ludah, Jenderal Kutch meminta bantuan Letnan Alexander membuka paksa mulut si Keriti ng.
Dibantu beberapa anggota pasukan lain, si keriting akhinya tak kuasa menahan tangan-tangan kekar itu membuka paksa mulutnya lebar-lebar.
“Tarik lidahnya letnan!” Perintah Jenderal Kutch dengan suara lantang.
Chressss …
Reeesss …
Reeees …
Kurang dari setengah menit, lidah si Keriting sudah terpotong. Darah segar memuncrat dari mulut, tum pah ke tanah. Mengerang kesakitan dengan disaksikan warga lain dalam todongan senjata anak buah Jenderal Kutch.
Beberapa di antara mereka yang coba menolong si keriting, harus menerima nasib tragis.  Didor hingga tewas.
“Bagaimana Tuan Keriting? Enak tidak ada mulut tapi tak ada lidah?” Letnan Alexander mengangkat da gu si keriting sambil menggigit hidungnya sampai  mengeluarkan darah.
Karena tak juga mengaku, malah terus menantang Letnan Alexander berkelahi secara jantan, Jenderal Kutch meminta salah satu orang kepercayaannya itu membuka celana si keriting.
Si keriting mencoba melawan dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti hendak menendang. Namun perlawanan itu sia-sia karena beberapa tangan kekar dari depan, belakang, kanan dan kiri de ngan cepat mempelorotkan celana panjangnya.
Letnan Alexander menempelkan gunting kecil kepunyaan Jenderal Kutch tadi di selangkangan keriting. Dia naik turunkan gunting itu dengan pelan. Tujuannya agar si keriting mau meru bah pikirannya. Mau memberitahu di mana gerangan Kolonel Madi dan Jenderal Kick berada.
“Buka letnan!” Perintah Jenderal Kutch yang mulai kesal dan murka melihat ulah si keriting yang sema kin keras kepala.
Celana dalam keriting dipelorotkan dan …
“Gunting letnan!”
Kurang dari lima detik, putuslah penis si keriting, terbelah dua. Sebagian masih tergantung dekat buah zakarnya, separo lagi menggelepar-gelepar di tanah.



6
“CEPAT Jenderal …!” Kata Kopral Murti. Dia ulurkan tangannya. Jenderal Kick tampak kepayahan. Harus dibantu untuk bisa keluar dari mulut terowongan.  Sudah lama dia tidak melihat sinar matahari di pagi hari.
Pagi hari ini dia sangat senang berada di luar pintu terowongan. Dia melihat ke sekitar. Burung-burung beterbangan, meski tak satu pun rumah lain di sana.
“Mari Jenderal,” ucap Sersan Ipung.
Jenderal Kick sebenarnya ingin bertanya mau dibawa kemanakah dia oleh Kopral Murti dan Sersan Ipung.
Namun, melihat keduanya telah memperlakukannya dengan baik, perasaan Sang Jenderal  jadi tenang.  Dia menurut ketika diajak Kolonel Madi yang baru tiba bersama Sersan Kifli, menaiki Jeep Willys untuk kemudian di bawa ke suatu tempat.
Cukup jauh memang, menghabiskan waktu tempuh sekitar satu jam lebih, mobil yang disopiri Sersan Kifli ini tiba di sebuah tempat di pinggiran hutan. Sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggal pergi pemiliknya.
Bangunan bertingkat dua itu tampak seram. Hampir di setiap bangunannya, terutama kamar, dipenuhi sarang laba-laba, berbagai kotoran dan tempat singgah kelelawar.
Dari luar, rumah antik ini terlihat sangat menakutkan. Mungkin karena posisinya yang berada di pinggir an hutan, sementara di sekelilingnya  tak satu pun rumah terkecuali  areal perbukitan,  pepohonan besar dan hutan belantara.
Rumah ini memiliki bunker. Terletak di ujung rumah. Dekat kamar mandi. Ruang bawah tanah ini sering digunakan oleh pemilik rumah yang saat ini tak tahu keberadaannya di mana, untuk bersantai, menger jakan sesuatu pekerjaan dan aktivitas lain yang memerlukan keuletan dan kecermtan.
Dinding ruangan bawah tanah dilapisi marmer di kanan kirinya. Ada kamar, ruang kerja, dapur dan tem pat  bermain tenis meja, bulu tangkis dan catur.      
Karena sudah laman ditinggalkan pemiliknya, lantainya berdebu dan berwarna hitam dari semula putih. Uniknya, tak satupun yang mengalami retak-retak, apalagi sampai hancur.
Rumah inipun tak pernah diinapi oleh siapapun kecuali pemiliknya. Pernah beberapa orang yang melaku kan perjalanan jauh menyempatkan diri mampir. Mereka beristirahat sejenak, setelah itu melanjutkan perjalanan kembali.
Seringkali terdengar suara orang ketawa, menangis sesunggukan dan menjerit histeris. Suara-suara  an eh dan menyeramkan itu tak terdengar sama sekali ketiga pagi datang. Berganti menjadi suara cicit bu rung, serangga, harimau dan singa serta nyamuk hutan.
Selebihnya adalah pemandangan yang menakjubkan. Dari kejauhan terdengar gemuruh air terjun de ngan airnya yang sangat dingin.
Di rumah inilah Jenderal Kick diungsikan. Kolonel Madi berharap tempat persembunyian Jenderal Kick kali ini  tidak diketahui Jenderal Kutch beserta pasukannya
Jenderal Kick sangat senang di tempat yang baru ini. Walau jauh dari bising dan keramaian, dibanding kan di tempat yang lama, harus mendekam di dalam tahanan, di rumah tak berpagar ini ia bisa tidur dengan pulas di kamarnya.
“Jenderal tidur saja di kamar ini,” ujar Sersan Ipung. Mengantar masuk  ke kamar tengah. Ada lima ka mar, kamar nomor tigalah yang ditempati Jenderal Kick.
Kolonel Madi juga mempersilakan Jenderal Kick duduk di ruang tamu. Tak suka dengan kursi tamu yang mulai rusak, bisa memilih dengan duduk lesehan.
“Tapi maaf beribu maaf  Jenderal, anda harus tetap dalam pengawasan kami,” terang Kolonel Madi, me nemaninya duduk lesehan di lantai sambil menikmati air putih yang dibawa Sersan Kifli dari markas mili ter.     


 7

“KOLONEL. Kalau boleh saya tahu, kenapa saya dibawa kemari, ke tempat ini?” Tanya Jenderal Kick seu sai Kolonel Madi dan Sersan Kifli mengajaknya makan siang bersama.
“Jenderal Kutch, Jenderal.” Jawab Kolonel Madi sembari mempersilakan Jenderal Kick mencicipi kuda pan ubi bakar.
Kolonel Madi pun bercerita secara singkat tentang Jenderal Kutc hyang ia ketahui. Seorang jenderal  yang gagah berani dari Negeri Biru.
“Dia secara khusus mencari  saya Jenderal,” kata Kolonel Madi.
“Oh ya? Mau menghabisi anda kah Kolonel?”
“Boleh jadi begitu Jenderal Kick. Tapi yang pasti, sebagaimana yang saya ketahui, beliau akan mengambil anda dari kami,” terang Kolonel Madi. Usai melahap sepotong ubi bakar, badan terasa lebih segar. Dia ta mpak sangat menikmati penganan rakyat ini.
“Anda kenal beliau, Jenderal.” Sersan Kifli ikut bicara setelah mendapat restu bicara dari Kolonel Madi selaku atasannya.
Jenderal Kick menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Saya tak begitu kenal  dengan beliau, Kolonel. Boleh jadi beliau juga begitu.  Mungkin antara saya dengan beliau tidak seakrab dengan jenderal-jenderal yang lain di tempat saya mengabdi,” jelas Jenderal Kick.
Kifli,” aku Jenderal Kick yang mulai menyenangi ubi bakar hasil olahan Sersan Ipung dan Kopral Murti.
“Jenderal, sekiranya Jenderal Kutch betul-betul ingin mengambil anda dari kami, apa Jenderal bersedia?”
“Tidak Kolonel,” jawab Jenderal Kick terus terang. Dia mulai menyenangi kudapan ubi bakar hasil olahan Sersan Ipung dan Kopral Murti.
“Kenapa demikian Jenderal?”
“Saya tak ingin lagi kembali ke negeri saya, Kolonel.” Ujar Jenderal Kick. Dia menarik nafas sejenak, kemu dian melanjutkan perkataannya tadi.
“Tapi kalau Kolonel memang meminta saya kembali ke negeri saya, dengan senang hati saya akan mempertimbangkannya.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung saling lempar pandang. Jenderal Kick melepas senyum karena dia merasa mantap tidak akan kembali lagi ke negeri asalnya.
“Kolonel dan Sersan Kifli. Bolehkah saya bertanya sesuatu pada kalian berdua?”
“Boleh Jenderal. Silakan …!” Jawab Sersan Kifli.
“Bolehkan saya menghabiskan sisa hidup saya di negeri ini?”
Kolonel Madi dan Sersan Kifli, keduanya terdiam.  Keduanya belum memberikan tanggapan. Berat untuk menjawabnya, karena di satu sisi keberadaan Jenderal Kick belum diterima sepenuhnya oleh rakyat Ne geri Permata.  Walaupun pada sisi lain Kolonel Madi beserta  anggota pasukan  sudah bisa menerima ke hadirannya dan telah diperlakukan sangat baik selama ini.
“Secara pribadi saya tak keberatan dengan permintaan anda, Jenderal Kick.  Walaupun sebenarnya ke beradaan anda disini juga akan menimbulkan masalah baru. Rakyat kami belum sepenuhnya menerima kehadiran Jenderal karena perang belumlah usai,” jelas Kolonel Madi.
“Terima kasih Kolonel.  Saya puas mendengar penjelasan anda. Saya senang karena Kolonel secara priba di telah membolehkan saya tinggal di tempat ini. Walau saya juga tahu rakyat di negeri ini pasti sangat marah kalau saya jadi menetap disini.”
Suasana berubah hening. Di luar rumah sinar matahari masih menerangi pepohonan, tembus ke per bukitan, hutan belantara dan keriangan hewan lucu seperti kancil dan kijang mencari makan.
“Tapi Kolonel, berilah saya kesempatan untuk bisa tetap di sini. Negeri anda berdua ini.” Harap Jenderal Kick. Dia tak tertarik sama sekali untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya di Negeri Permata ini.
“Jenderal.”
“Ya Kolonel.”
“Sekiranya anda mau kembali tentu anda akan diperlakukan sangat baik. Dihormati, disanjung dan hidup Jenderal pasti lebih enak dan sejahtera. Bisa ketemu anak dan isteri, kerabat dan handai tolan. Sementa ra jika Jenderal  tetap bersikukuh memilih menetap di sini, Jenderal akan kesepian. Jauh dari anak isteri, hidup di tengah belantara, dan boleh jadi selalu was-was karena merasa dikejar-kejar Jenderal,” kata Kolonel Madi memberikan alasan dan sedikit pandangan.

8
LAMA terdiam. Kolonel Madi tak tega melihat Jenderal Kick terdiam berlama-lama. Begitu juga dengan Sersan Kifli, lalu Sersan Ipung dan Kopral Murti yang datang beberapa saat kemudian.
Mereka sama berharap Jenderal Kick berpikir matang sebelum memutuskan untuk tidak kembali ke ne geri kelahirannya. Walaupun mereka juga tak bisa memaksakan kehendak karena menjadi hak siapa pun untuk tinggal di Negeri Permata, asal sesuai dan mengikuti aturan yang berlaku.
“Saya ingin menebus kesalahan dan dosa yang telah saya lakukan di masa lalu, Kolonel,” kata Jenderal Kick  penuh harap.
“Dengan cara apa anda akan menebus dosa dan kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu itu, Jende ral?” Tanya Kolonel Madi.
“Bergabung dengan anda semua di sini. Saya ikut berjuang bersama kalian di sini. Tentunya berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Tapi Jenderal …”
“Ini pilihan hidup saya, Kolonel. Saya siap menanggung akibatnya,” kata Jenderal Kick penuh semangat.
Kenapa Sang Jenderal tidak memilih kembali ke tanah kelahirannya dengan memenuhi permintaan Jen deral Kutch, karena tiga alasan utama.
“Pertama, saya pasti akan diperlakukan tidak adil. Karena saya adalah jenderal yang gagal perang. Tidak sukses memimpin pasukan. Tentu perlakuan pun akan berbeda dengan kolega saya sesama jenderal ya ng sukses menjalankan misi perang di negeri lain, Kolonel. Jadi tidak ada jaminan saya bisa hidup lebih baik di negeri saya. Bisa jadi sebaliknya, dan peluang itu lebih besar agaknya.”
Yang kedua, kata Jenderal Kick, “Sekiranya saya pulang, saya kuatir tidak akan bisa  berbuat apa-apa lagi buat negeri saya. Mereka tidak bakalan mengirim saya ke negeri lain, karena saya dianggap bukan siapa-siapa lagi. Jenderal gagal, jenderal tua dan tak berprestasi apa-apa. Saya akan dikucilkan. Sampai akhir nya saya hanya bisa duduk melamun seorang diri.  Saya sangat tersiksa Kolonel. Bukan karena saya diku cilkan tetapi peran dan sumbangsih saya  untuk negeri saya sudah tidak ada lagi. Saya tak mau itu …”
Lalu yang ketiga, masih kata Jenderal Kick, “Meluruskan yang telah bengkok. Walaupun sulit bakal lurus kembali, tapi paling tidak sudah ada niat dan usaha untuk meluruskannya kembali. Anda semua kan tahu berapa besar dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu. Berapa banyak bangunan berse jarah yang hancur, dan berapa banyak pula nyawa orang yang tak bersalah lenyap tak berkesan. Kubur an tak bernama ada di mana-mana. Keluarga mereka yang ditinggalkan, entah bagaimana nasib mereka kini. Saya ingin menebus semuanya itu, walau saya tahu itu tak seberapa, Kolonel.” Kata Jenderal Kick dengan suara lirih.
“Tapi itu tetap berisiko Jenderal.”
“Maksud Kolonel?”
“Seperti yang telah kita bicarakan tadi, rakyat masih tetap menaruh dendam dan curiga pada anda Jen deral. Tidak mungkin anda berjuang tidak bersama rakyat. Suatu kali pasti bertemu mereka, atau paling tidak ikut berjuang bersama-sama kita. Karena mereka sudah terlanjut men-cap anda sebagai orang ja hat, tak berprikemanusiaan, saya tak bisa bayangkan bagaimana sikap mereka pada anda kemudian, Jenderal.”
“Saya akan yakinkan mereka, dan saya akan berusaha semampu saya Kolonel,” jawab Jenderal Kick. Dia merasa yakin rakyat suatu saat nanti akan menerimanya dengan tangan terbuka dan lapang dada.
“Caranya Jenderal?”
“Selain meminta bantuan kalian, saya juga akan melakukan dua cara. Pertama, saya akan temui orang-orang yang  berpengaruh di kalangan rakyat. Saya akan jelaskan kenapa saya mengambil keputusan de ngan tetap berada di negeri ini dan berjuang bersama rakyat. Kedua, sebagai jaminannya diri saya sen diri Kolonel. Saya siap dipancung bila terbukti nantinya saya berkhianat.”
“Kalau mereka tetap menolak gimana Jenderal?”
“Saya siap mati Kolonel. Bila mereka menginginkan saya mati, saya siap mati,” ujar Jenderal Kick tanpa ragu.
Mati atau hidup bagi saya, jelas Jenderal Kick, sama saja. Tidak lagi penting untuk saat ini dan seterus nya. Pengabdian saya di militer telah habis.
“Saya ingin mengabdi ke rakyat. Saya akan bela mereka sampai kapan pun. Bila perlu ada cap jempol,” kata Jenderal Kick terus terang.
Cap Jempol yang dimaksud Jenderal Kick adalah semacam hara-kiri. Siap menanggung risiko apa pun bila gagal nantinya.
“Maaf Jenderal. Kami tidak mengenal apa yang namanya hara-kiri. Sebab bagi kami, gagal atau sukses ku rang lebih sama saja. Mereka yang sukses terus berperang. Sebaliknya yang gagal pun demikian. Tetap ikut berjuang,” terang Kolonel Madi.
“Atau dengan cara lain Kolonel?”
“Nantilah kita pikirkan soal itu, Jenderal …”   

TAMAT  (Sambungan dari  SANG JAGOAN)                                    
                          

Pusy Cat (5)





Cerita Berseri

Pusy Cat (5)
Edisi Kelima
Oleh Wak Amin


XIII
“LOLA .. Lolaaa!” Sambil berkeliling dari depan ke belakang, Mpok Surti mencari Lola yang sedari tadi tak kelihatan batang hidungnya.
Kemana dia?
Padahal Pusy ada. Tengah duduk manis di sofa ruang tamu. Mpok Surti heran, biasanya dimana ada Pusy pasti disitu ada Lola. Begitu juga sebaliknya. Ada Lola, di dekatnya pasti ada Pusy.
Tapi sejak kemarin malam, hanya Pusy seorang yang tidur di kamar Mpok Surti. Dicari ke kamar Nyonya tak ada. Karena sibuk merapikan rumah, Mpok Surti tak begitu memperdulikannya. Karena bisa saja lagi menyendiri di teras atau taman belakang rumah.
Namun, ketika ada waktu senggang keesokan harinya, Mpok Surti penasaran lagi. Dia melanjutkan pencariannya. Kali ini ia minta bantuan Pusy. Herannya Pusy tak mau.
Kenapa ya?
Pusy hanya duduk manis di pangkuan Mpok Surti.  Dia tak ingin perempuan murah hati ini pergi mencari Lola. Karena dia juga sudah mencarinya ke setiap sudut rumah, Lola tak berhasil diketemukan.
Mpok Surti terenyuh juga melihat Pusy menatapnya sendu. Tampak matanya berkaca-kaca. Sayang tak bisa berkata sepatah kata. Andaikata bisa, tentulah bisa tahu apa yang dirasakan Pusy saat ini.
“Pusy!” Bisik Mpok Surti. Setelah mencium lembut pipi kucing kesayangan Sang Nyonya itu, Pusy turun sambil melompat dari pangkuannya. Dia berjalan menuju pintu depan.
Mpok Surti mengikutinya dari belakang. Dengan cekatan Pusy membuka pintu rumah. Lalu keluar dan duduk di kursi teras. Lepas itu dia berlari menuju pintu pagar. Mpok Surti menyusul dari belakang.
Dia baru mengerti sekarang.
Bukankah Nyonya dan Tuan sedang tidak berada di rumah saat ini?
Mpok Surti menggendong Pusy, kembali ke teras. Setelah itu masuk rumah, mengunci pintu sebelum masuk ke kamarnya. Mencari  hapenya di laci lemari, tapi tak diketemukan.
Ngeooong …
Pusy menggigit hape. Lalu memberikannya kepada Mpok Surti.
He he he he …
Mpok Surti ketawa geli. Dia menertawai dirinya sendiri. Belum tua sudah pelupa. Ternyata Pusy lebih ingat ketimbang dia.
“Ma kasih ya sayaaang …”
Pusy mencium-cium bodi hape, mengisyaratkan Mpok Surti segera menelepon Mrs Bram. Sang Nyonya dan Tuan tadi diam-diam memang mengajak serta Lola. Sambil mengantar suaminya kerja, perempuan muda anggun ini mampir ke dokter hewan.
Ada apa?
Memeriksakan kesehatan Lola. Mrs Bram menduga kucing kesayangan suaminya itu tak enak badan. Sepanjang malam selalu mengeong. Padahal selama ini, jangankan mengeong, kalau sudah di kamar pasti diam dan tak banyak ulah.
Kemarin malam Pusy dan Lola tidur terpisah. Pusy tidur di kamar Mpok Surti, sedangkan Lola baringan bersama Mr Bram dan isteri. Pusy tidurnya nyenyak sekali. Tidak mengeong sepanjang malam.
Sebaliknya Lola justru beruba.  Sering turun naik dari tempat tidur. Mengeong dan gelisah. Sebentar ke dekat mukanya Mr Bram, sebentar lagi duduk manis di samping Sang Nyonya.
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
Ketika Lola sembunyi di bawah meja rias , Mrs Bram  membangunkan suaminya. Dia membisikkan sesua tu di telinga suaminya itu. Lalu keduanya memandang lekat ke bawah meja jati berkaca bening itu.
“Sakit kali ya Mas?”
Mr Bram tak langsung percaya. Dia mengajak isterinya turun dari tempat tidur. Pelan-pelan, jangan sam pai ketahuan Lola yang rebahan sambil pejamkan mata.
“Mas … Mas!” Sang Isteri mengingatkan. Pasalnya di dekat kaki Mr Bram ada kursi. Kalau tersentuh bisa ketahuan. Lola pasti terkejut dan bangun.
“Sebelah sini say …” Bisik Mr Bram. Melihat isterinya ingin mendahuluinya dari sebelah kanan, dicegah nya agar mendekat saja ke kakinya.
Ssssst …
Jari telunjuk Mr Bram menempel ke mulut Sang Nyonya. Pertanda diam. Melihat dan menunggu saja apa gerangan yang dilakukan Lola.
Lola masih memejamkan mata. Dua menit tak bangun, tiga menit berselang bertambah pulas. Lima me nit kemudian Mr Bram memberanikan diri mendekati Lola.
Tak ada reaksi. Kedua suami isteri ini pun sepakat untuk menggendong Lola. Mulanya Mr Bram yang coba menarik pelan badan Lola. Tapi tak bisa karena badannya ‘ngepas’ masuk kolong meja. Dia me ngurungkan niatnya.
Gantian Sang Isteri. Walaupun harus bersusah payah, pada akhirnya bisa menarik badan Lola, lalu meng gendongnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
“Panas Mas Bram,” ucap Sang Isteri dengan raut muka cemas.
“Ah, yang benar Ma?” Mr Bram tak percaya.  Setahu dia kucing itu tak pernah demam. Kalau pun de mam, hanya batuk-batuk kecil. Flu kucing kata orang kebanyakan menyebutnya.
“Bawa ke dokter ya Mas?!”
“Besok ajalah. Udah malem nih. Ini kan hewan, ya dokter hewan lah.”
“Rumah sakit  biasa apa enggak bisa Mas?”
“Setahuku tidak Ma.”
“Ah masa?”
“Buktinya kebanyakan yang dibawa berobat ke rumah sakit itu kan manusia. Orang. Kalau hewan setahuku ya dokter hewan …”
“Jadi gimana selanjutnya Mas Bram?”
“Tunggu besok lah ya.” Setelah mencium kening isterinya, Mr Bram tidur lagi karena ia memang mengantuk berat.
Mrs Bram meletakkan Lola di lantai beralaskan karpet dengan kepala ditaruh di atas bantal kecil, diselimuti agar tak kedinginan. Kepalanya dikompres dengan air hangat.
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Kemudian mencuci tangan, muka dan kaki. Ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang sudah terlelap.
Keesokan harinya, atas inisiatif Mrs Bram, dibawalah Lola ke dokter hewan. Lama juga ia menemani Lola diperiksa dokter hewan. Hampir satu jam.
Sang dokter bukan cuma memeriksa kesehatan Lola, tapi juga menyeluruh. Mulai dari kuku, kaki hingga bulunya yang indah memesona itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berjangkitnya virus yang tentunya sangat mengganggu kenyamanan kucing beraktivitas sehari-hari.
Sang Dokter tidak menemukan penyakit yang serius pada Lola. Hanya demam biasa. Setelah disuntik dan diberi obat, Lola diperbolehkan pulang. Mrs Bram senang mendengarnya. Walaupun masih dalam tahap perawatan, Pusy pasti sudah tak sabar menunggu kepulangannya di rumah.
Hanya Sang Dokter mengingatkan buat sementara Lola tak usah dulu berdekatan dengan Pusy, termasuk Mpok Surti, Mr Bram dan isteri. Selain memudahkan perawatan, menghindari menularnya penyakit de mam yang dialami Lola.
Mulanya, Pusy merajuk karena tak boleh dekat-dekat dengan Lola. Tapi setelah diberi pengertian de ngan isyarat bahasa kucing, oleh Mpok Surti, lambat laun dia menerimanya dengan senang hati.
Setelah disepakati, Lola dirawat di taman belakang. Selama ini aman dan udaranya sejuk ketimbang di dalam rumah. Pasti Lola akan dengan mudah tidur. Tanpa terganggu kehadiran Pusy dan Mpok Surti.
Ketika Mr Bram tiba di rumah setelah pulang dari tempatnya bekerja, usai mencium hangat pipi isteri nya, dia menemui Lola di taman belakang rumah. Seolah tahu dengan kehadiran tuannnya, Lola pun bangun dari tidurnya.
Ngeoooong …
“Mas!” Mrs Bram mengingatkan pesan dokter bahwa jangan terlalu dekat dulu dengan Lola sebelum penyakitnya sembuh.
“Apa kata dokter lagi Ma?”
“Enggak ada. Cuma itu Mas.”
 Mr Bram, dari balik kandang, melepas senyum dan menyebut-nyebut nama Lola. Tentu saja Lola sena ng. Meski masih dalam keadaan sakit, dia berusaha menyenangkan hati tuannya dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya di lantai beralaskan tikar.
Ha ha ha ha …
Lola mengibas-ngibaskan ekornya, lalu berjoget-joget di hadapan Mr Bram dan isteri yang tertawa geli menyaksikan kelucuannya beraksi di dalam kandang kucing terbikin dari besi itu.
“Udah ya Lola. Selamat bobok …” Ucap Mrs Bram melambaikan tangan mengajak suaminya bertukar pakaian dan beristirahat sejenak di kamar sebelum santap malam.
Usai bersantap malam. Setelah kembali ke kamarnya masing-masing, Pusy rupanya penasaran dengan Lola, temannya sepermainan. Sambil mengendap-endap, dia keluar dari pintu kamar Mpok Surti.
Kemana dia?
Rindu tak tertahankan. Sejak kedatangan Lola tadi, Pusy belum sempa berkomunikasi dengan teman se kamarnya itu.  Ingin rasanya dia memeluk Lola. Semalam tidak tidur bersama berat rasanya. Bukan apa-apa. Karena su dah terbiasa berdua.
Sejak kehadiran Lola, gairah hidup Pusy semakin meningkat. Makan banyak, badan segar dan bugar, ser ta selalu riang gembira karena tak henti-hentinya berkejar-kejaran dengan Lola se panjang pagi, siang dan sore hari.
Pusy tak ingin gairah hidupnya kembali  ‘down’ setelah Lola sakit. Dia ingin Lola cepat sembuh. Makanya dia nekat menemui Lola untuk menghiburnya, memberinya semangat hidup. Paling tidak cepat sembuh dan bisa bermain  kembali.
Ngeoooong …
“Lolaaa!”
Lola terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar. Tidak ada siapa pun di sana. Tapi sepertinya suara Pusy tadi. Dia ingat betul suara itu.
Nyeeet …
Kriiiiik …
Pintu terbuka …
“Lola sayang!” Sapa Pusy. Sebelum Lola menjawab sapaannya, ia lebih dulu menempelkan mulutnya ke dinding kandang.
“Apa kabar sayang?”
Ngeoooong.
“Kabar baik wahai Pusy,” jawab Lola malu-malu karena harus dirawat di dalam kandang.
“Semoga lekas sembuh ya sayang …” Ucap Pusy dengan suara pelan. Dia pandangi lekat mukanya Lola. Sebaliknya Lola hanya menunduk.
“Pusy. Cepatlah kembali, nanti ketahuan Tuan dan Nyonya,” kata Lola mengingatkan karena jika ketahu an Tuan dan Nyonya bakal kena marah.
Ngeooong …
Plak .. pak .. plak ..  pak …
Mpok Surti bertepuk tangan, diikuti Mr Bram dan isteri. Menepuki Pusy lagi berduaan dengan Lola.

                                     “Yeee duaan pasang lampu tigaan
                                       Pusy rupawan si Lola menawan

                                       Ye duaan masuk kamar gendongan
                                       Makan ikan rebusan
                                       Akhirnya gocohan …”

“Yeeee … yeeee …”
Plak .. pak .. plak .. pak …


XIV
KETIKA berjalan-jalan ke pantai, mobil sedan yang disopiri Mr Bram dikuntit dari belakang oleh dua se peda motor. Mulanya tak begitu mencolok. Namun ketika mobil belok kanan menuju jalan menanjak, empat lelaki berhelm itu mempercepat laju motor mereka.
“Hati-hati Mas!” Mrs Bram mulai kuatir karena suaminya semakin mempercepat laju mobil dari semula berkecepatan enam puluh, kini mendekati seratus.
“Pegangan yang kuat ya Ma.” Pesan Mr Bram.
Dia membelokkan mobilnya ke kanan saat jalan menurun. Melewati jalan tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan cemara dan pinus.
Syiiiiiit …
Mr Bram menghentikan laju mobilnya. Bersembunyi di balik semak belukar. Dia sengaja menunggu dua sepeda motor itu lewat. Tapi sampai lima menit ditunggu belum terlihat batang hidung pengendara mo tor itu.
Kenapa?
Keempat pria tinggi tegap itu sengaja mematikan mesin motor.   Sambil menunggu Mr Bram dan mobil yang dikendarainya terlihat dari jalan. Sebab, mereka menduga Mr Bram tak jauh dari tempat mereka berhenti sekarang ini.
“Tunggulah sebentar,” kata Ran, sang bos pada anak buahnya Win yang sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan uang banyak dengan merampok Mr Bram.
“Mereka orang kaya, saya tahu itu. Tak mungkin tak bawa duit. Tunggu apalagi, Bos.” Kata Vid, geram sambil menepuk nyamuk hitam keputih-putihan yang beberapa kali singgah di tangannya, dan sempat beberapa kali menggigitnya.
“Tunggu dia keluar,” jawab Sang Bos meyakinkan. “Saat keluar itulah kita kejar mereka.”
“Kalau tetap tidak keluar Bos?” Sin yakin Mr Bram bukan orang sembarangan. Dia pasti berpikir seribu kali untuk keluar dari persembunyiannya.
Ngeooong …
Lola mengeong. Namun secepatnya Mpok Surti  memeluknya agar tidak mengeong lagi.
“Kau dengar barusan kan Vid?”
“Enggak Sin,” jawab Vid yang memang tidak mendengar suara apa pun di sekitar mereka berdiri saat ini.
“Kucing,” kata Sin. Kucing mengeong. “Tak salah lagi aku. Kupingku biasanya tak salah kalau untuk uru san dengar mendengar …”
“Ah, egois lu,” sebut Win membuang rokoknya ke bawah pohon kayu.
“Benar.” Sin tetap bersikeras yang dia dengar barusa adalah suara kucing. Tak salah lagi.
“Ya sudah,” potong Ran. Tak ingin teman-temannya itu berkelahi hanya gara-gara suara kucing menge ong. “Sekarang coba tunjukkan kepada kami Sin, dari arah mana suara itu berasal …!”
“Disana Bos!” Sin menunjuk sebuah batu besar yang sudah menyemak.
“Coba kalian berdua periksa sana,” perintah Ran pada Sin dan Win. Mungkin saja benar, dan jika me mang benar, selesailah tugas mereka ini.
Ha ha ha ha …
Ran ketawa sendiri. Vid yang duduk di sebelahnya juga ingin ketawa sebenarnya. Namun tak bisa karena tak pula tahu apa yang akan ditertawakan.
“Bagaimana?”
Sin dan Win sama-sama menggelengkan kepala. Sang Bos agak kecewa. Tapi dia yakin anak buahnya itu tidak berbohong padanya. Mereka kini harus mengatur strategi baru. Caranya? Mereka duduk lesehan dulu.
Syuuuur …
Reeen …
Pin .. pin …
Sebuah mobil sedan meluncur dari semak belukar dekat batu besar. Tentu saja kemunculannya yang tiba-tiba itu mengagetkan empat penjahat muda usia ini. Mereka tampak geram dan marah besar ka rena merasa telah kena tipu daya Mr Bram.
“Setan alas.” Umpat Ran.
Kletek …
Kletek …
Ren .. ren .. ren …
Mereka segera mengejar mobil sedan keluaran terbaru itu. Mereka tak melihat sebenarnya di belakang mereka juga ikut mengejar Pusy dan Lola.
Pusy dan Lola menumpang mobil pick up yang sempat berhenti di pinggir jalan karena pengemudinya mengganti ban depan yang pecah.
Tanpa sepengetahuan si pengemudi, keduanya melompat cepat ke bak belakang yang memang kosong, tak memuat  barang bawaan. Tadinya diisi sembako untuk diantar ke pelanggan. Pulangnya melenggang kangkung. Bak belakang kosong, uang dapat dan santai dengan mobil tetap melaju dengan kecepatan se dang.
Dimana Mr Bram?
Pusy dan Lola melihat tuannya itu masih berkejar-kejaran dengan empat penjahat tadi. Mereka tidak melalui jalan raya beraspal, tetapi melewati  jalan tanah yang dinaungi aneka pepohonan dan semak belukar di kanan kirinya. Pusy dan Lola hanya berharap majikannnya itu selamat dari kejaran empat begundal itu.
“Tapi Pusy … kita tak boleh tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu,” kata Lola, kuatir sekali ia.
“Sesuatu apa?”
“Apa saja …”
Pusy ketawa.
“Kenapa tertawa Pusy?”
“Sejak kita turun dari mobil Tuan tadi aku sudah tahu harus berbuat apa.”
“Lho .. kenapa enggak bilang-bilang dari tadi sama aku.”
“Surprise aja buatmu Lol. Enggak marah kan?”
Lola mengeong.
“Lepaskan tembakan saja Bos,” bisik Win dari belakang. Ran yang membonceng sempat kepikiran juga mau menembak, tapi takut terdengar warga.
“Matilah kita kena keroyok,” kata Ran sambil menambah kecepatan motornya, dari sedang kini melaju sangat kencang.
Berbeda dengan Sang Bos, Vid justru sudah tidak sabar menembak mobil incarannya itu. Supaya tidak berlarut-larut, capek dan pegal seluruh anggota badan, Mr Bram bisa jadi lepas dari kejaran.
“Tapi sebaiknya ngomong dululah sama Bos,” bisik Sin, agar tak salah paham. Soal tepat sasaran atau tidak tembakan yang dilepaskan itu nantinya, tak jadi masalah.
“Terserah kaulah caranya.” Akhirnya Ran mengizinkan anak buahnya itu melepaskan tembakan dengan catatan dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Kejar-kejaran masih terus berlangsung. Saat Mr Bram hendak memasuki jalan raya, saat itulah terdengar letusan keras yang mengarah ke ban mobilnya.
Mobil masih melaju, tapi sudah oleng karena  ban belakang sebelah kanan pecah kena dor. Ketika mem perlambat kecepatan terdengar tembakan lagi. Kali ini mengenai ban belakang sebelah kiri.
Mobil oleng sebelum akhirnya terbalik. Empat penjahat tadi berusaha mendekati. Namun tanpa mereka duga sebelumnya, Lola dan Pusy melompat dan berhasil melukai Ran, menjatuhkan pistol kecil dari geng gaman Vid.
Pistol itu ditangkap Pusy. Lalu dibawanya lari kencang, diberikan kepada tuannya yang berhasil keluar de ngan selamat dari dalam mobil.
Setelah itu, Pusy membantu Lola ‘menumpas’ Ran dan Win. Pistol yang hendak diletuskan Sang Bos, sukses dirampas Lola dengan cara melompat sambil menjatuhkannya ke tanah.
“Bawa lari La,” kata Pusy. Dia lengah, berhasil ditangkap Ran. Lalu dilemparnya ke bawah pohon.
Guuuup …
Bruuuk …
Ngeooong …
Pusy pingsan. Lola, setelah membawa lari pistol dan diberikannya kepada Sang Nyonya, kembali mene mui  Pusy. Dia tak ingin Pusy cedera. Dia sempat melihat teman serumahnya itu ditangkap Ran. Namun setelah itu dia tak tahu menahu lagi nasib Pusy selanjutnya.
Ngeooong …
Pusy belum juga sadar. Lola mendekatinya. Ia mencium-cium mukanya Pusy. Belum juga ada tanda-tanda bakal siuman. Lola duduk sejenak. Lepas itu dia menemui majikannya.
Mr Bram dan isteri berhasil melumpuhkan empat penjahat itu. Mereka diikat di bodi sepeda motor, agar tak bisa melarikan diri.
Mpok Surti yang tahu dengan isyarat yang diberikan Lola, berlari menemui Pusy yang masih tak sadar kan diri.
“Pusy …”
“Pusy …”
“Pusy …”
Pusy pun digendong. Setelah berada dalam gendongan Mpok Surti, Pusy berangsur-angsur sadar kem bali.
Ngeooong …
Dibalas Lola dengan mengeong pula.
“Sini sama Nyonya ya sayang,” ucap Mrs Bram, dengan penuh kasih sayang menggendong Lola yang keki melihat kelakuan Pusy yang bermanja-manja dengan Mpok Surti.

XV
“PUSY …!” Lola mendekati  sebuah bak sampah besar di depan  salah satu gedung perkantoran yang hari itu tutup karena bertepatan dengan hari libur.
Ngeooong …
Lola menciun-cium jejak kaki Pusy. Dia tahu Pusy pasti ada di sekitar bangunan megah itu. Cuma dima na, dia tak tahu persis karena hingga kini belum diketemukan keberadaannya.
Ia beristirahat sebentar. Duduk manis dekat bak sampah. Dia menoleh ke atas gedung. Megah nian. Tapi sepi. Tak seorang pun yang terlihat mondar-mandir di depan gedung.
Sementara petugas keamanan gedung berjaga-jaga di dalam gedung. Suasana di dalam jauh berbeda dengan di luar gedung. Selain lantainya berkarpet warna-warni, suhu di dalam gedung sangat sejuk ka rena ada pendingin ruangan.
Dari dalam gedung kita bisa menyaksikan keadaan di luar. Orang lalu-lalang, kendaraan roda dua dan empat parkir berbaris serta aktivitas petugas parkir yang mengatur keluar masuk ruangan gedung ber lantai tiga puluh tujuh itu.
Petugas keamanan juga bisa leluasa  menyaksikan Lola dari dalam gedung. Mereka yang jumlahnya lebih dari tiga orang itu tampak senyum-senyum saja. Namanya juga hewan kucing, mereka tak pula hiraukan. Anjing pun yang acapkali mampir di bak sampah, mereka biarkan sepanjang itu tidak mengganggu ke amanan dan kenyamanan mereka yang  beraktivitas dan keluar masuk gedung.
Guk … guk .. guk …
Seekor anjing besar mendekati gedung dimana Lola beristirahat disitu. Berjalan lambat. Sambil menci um-cium tanah dan mendekati kotoran yang terserak di sepanjang parit, si anjing betina itu menghen tikan langkahnya ketika melihat Lola.
Lola yang semula santai berpikir bagaimana menemukan Pusy, tersentak kaget. Dia tahu, dari tatapan matanya, si anjing  bakal mengusik ketenangannya.
Guk … guk … guk …
Benar saja. Si anjing menyalak. Menjulur-julurkan lidahnya hendak menggigit Lola. Dengan cekatan Lola melompat ke atas bak. Dikejar anjing. Karena terlalu bernafsu melompat, Lola tak dapat. Si anjing malah masuk ke dalam parit dekat bak sampah.
Hitam semua badannya. Kena air parit berwarna hitam. Saat itulah, Pusy keluar dari persembunyiannya, menyelinap ke bak sampah, lalu berlari kencang menyusul Lola.
Ngeooong …
“Lolaaa … Tungguuu!”
Teriakan Pusy menghentikan langkah kaki Lola. Dia menoleh ke belakang. Dia sangat gembira dan berm aksud mendekati teman sepermainannya itu. Tapi hal itu ia urungkan karena di belakang Pusy, si anjing tadi mengejarnya dengan berlari sangat kencang .
“Di belakangmu Pusy …” Teriak Lola. Kasihan dan merasa kuatir dengan keselamatan Pusy. Andaikata dia berhasil dikejar si anjing, tentulah babak belur dan jadi bulan-bulanan anjing karena kena gigitan dengan badan yang jauh lebih besar.
“Cepaaat …!” Sambil berteriak Lola mempercepat larinya. Namun secepat-cepat ia berlari, masih kalah cepat dengan larinya anjing. Ia merasakan itu. Makanya dia berharap Pusy bisa menempuh jalan pintas yang lebih kecil yang memungkinkan si anjing tidak leluasa lagi mengejar mereka.
Sreeeeet …
Pusy mengerem. Lalu belok kanan. Memasuki sebuah lorong kecil yang diapit perumahan warga di ka nan kirinya. Dia terus berlari.  Begitu juga dengan anjing yang harus bersusah payah mengejar Pusy ka rena sempitnya gang kecil itu.
Ke mana Lola?
Dia juga belok kanan. Memasuki gang sempit hanya seukuran orang berbadan kurus. Dia terus berlari sampai ke ujung gang. Di sini ada jalan tanah yang bisa dilalui kendaraan roda dua.
Lola memperlambat larinya. Kemudian dia memutuskan untuk  berjalan saja sambil menunggu Pusy. Sekitar lima menit dia sampai ke mulut gang dimana Pusy berlari menyelamatkan diri.
Ngeooong …
“Pusy!”
Teriakan Lola ini menambah semangat Pusy untuk lebih mempercepat larinya. Tak hiraukan batu kerikil di depan, ia mempercepat larinya, sampai akhirnya bersua Lola dari dekat.
“Cepat Pusy.”
 Lola memutuskan untuk menaiki sampan yang ditambatkan di dekat tiang pinggiran sungai kecil. Tak ada orang di sana, keduanya leluasa melepaskan tali tambatan.
Sampan melaju pelan ke tengah. Tak lama kemudian si anjing tiba di mulut gang dengan nafas turun naik amat kencang.
Guk .. guk .. guk …
Uuuukh .. uuuukh .. uuuuukh …
Si anjing berubah murka. Dia berlari turun ke pinggiran sungai. Dia hanya berlari mondar-mandir di tepi an sungai. Tak bisa mengejar Pusy dan Lola. Karena tidak ada lagi sampan selain sampan yang dinaiki sepasang kucing piaraan Mr Bram.
“Kasihan deh lu,” ucap Pusy, lega melihat anjing bengon sendiri , tak tahu hendak kemana dia mengejar seterunya itu.
He he he he …
Lola ketawa lebar.
“Tunggu aja disitu, Jing.” Pekik Lola. Dia berharap si anjing tak bisa lagi mengejar mereka.
Ternyata si anjing nekat juga. Dia memutuskan berenang ke dalam air. Karena belum begitu jauh ke tengah sungai, masih ada harapan terkejar.
Pek .. pek …
Krepek .. krepek …
Anjing terus berenang. Sedangkan Lola dan Pusy mulai ketar-ketir. Tak sebanding dengan lajunya sam pan. Sebab, kekuatan mereka berdua mengayuh terbatas sementara si anjing jauh lebih cepat.
“Gimana nih Pus?” Lola mulai ketakutan.
“Tenang sayang,” kata Pusy menenangkan hati Lola yang mulai tidak tenang. Padahal dia sendiri justru tidak tenang karena masih bingung apa yang harus diperbuat.
“Kamu punya ide Lol?”
Lola berpikir sebentar …
“Kita pentung saja dia dengan pengayuh ini,” bisik Lola. Yakin dengan hanya sekali pentung kepala anjing langsung pusing dan pingsan dalam air.
Bisakah?
Bisa memang.  Sampai tiga kali pentung, tentu tak sekuat pentungan yang dilakukan manusia, tidak begi tu dirasakan oleh anjing. Dia terus mendekat.
Huuup …
Tangannya mulai menyentuh pinggiran sebelah kanan sampan. Sampan miring ke kiri, Pusy tak tinggal diam. Dia menggigit tangan anjing, mengaduh kesakitan.
Guuuuk …
Lola berhasil mencakar kepala anjing yang mulai menyentuh pinggiran sampan. Entah kenapa, si anjing tiba-tiba menghilang.
“Awas Pusy …!” Lola mengingatkan karena bukan tidak mungkin anjing masih hidup dan bersembunyi di bawah sampan.
Byuuur …
Guuuk …
Kepala anjing nongol dari permukaan air sungai. Lola panik. Lalu terjatuh ke dalam air. Dikejar anjing, namun keburu ditarik Pusy tangan Lola, sehingga sudah berada di atas sampan lagi.
“Auuuw Pusy!”
Lola menjerit kesakitan setelah ekornya dipegang anjing. Masih melilit di ‘bibir’ sampan, Pusy memban tunya dengan mementung kepala anjing dengan pengayuh. Tidak keras memang. Tapi ekornya Lola ter lepas dari cengkraman si anjing.
“Cepat kayuh Pus!”
“Di depan aku,” kata Pusy. Jangan terlalu pinggir karena akan dengan mudah anjing mencederai kita, nasehat Pusy.
Sampan terus ke tengah. Keduanya tak lagi menengok ke belakang. Lurus ke depan. Ingin secepatnya sampai di seberang.
“Sepertinya ada orang di sana,” kata Lola merasa senang. Jika mereka selamat sampai seberang pastilah anjing bakal takut mengganggu mereka lagi.
Guuuuk …
Entah dengan cara apa, si anjing sudah berada di atas sampan. Pusy dan Lola segera terjun ke dalam air. Anjing hanya bisa melongo. Dia tidak mengejarnya karena sudah menggigil kedinginan lantaran terlalu lama di dalam air.
Guk … guk .. guk …
Gantian anjing yang mengayuh sampan. Menyusul dan berhasil mendekati Pusy dan Lola yang terus be renang. Badan mulai kedinginan, nafas mulai berat dihela.
“Sudahlah .. menyerah sajalah.” Bujuk si anjing ketawa mengejek.
“Sorry ya,” jawab Lola cemberut.
“Ayolah sayang. Kalau kamu mati gimana dong?” Goda anjing dengan suara mendesah merayu.
“Dikubur dong Jing.”
“Dimana?”
“Dimana saja,” kata Lola mulai kesal. Ingin rasanya dia melompat naik ke atas sampan itu. Tapi melihat Pusy jauh darinya,  berisiko besar. Anjing akan dengan mudah menjinakkannya.
Akhirnya Lola memutuskan mengejar Pusy. Anjing kecewa berat. Bukan soal tangkap menangkap, tapi Lo la sudah meremehkannya. Perasaannya meradang. Dia ingin melumat habis Pusy. Karena menurutnya Lola lebih tertarik pada Pusy ketimbang dirinya.
Guuuk … guk .. guk ..
Tanpa terasa sudah hampir mendekati daratan seberang sungai. Lola dan Pusy mempercepat renang mereka agar bisa dilihat sekumpulan anak-anak yang sedang mandi di tepian sungai.
“Mad. Lihat!” Tunjuk seorang anak berkepala gepeng pada rekannya.
“Kucing?” Ahmad seolah tak percaya. Ramai-ramai mereka berenang, mengamankan Lola dan Pusy dari kejarang seeekor anjing.
“Cepat sedikit!” Teriak anak bertelinga lebar.
Mereka sepakat, setelah menyelamatkan Pusy dan Lola, kemudian melepaskannya, dan membiarkan anjing menggigil kedinginan di atas sampan yang terbalik.
Sampan itu sengaja mereka balikkan. Kemudian memberi kesempatan pada anjing untuk naik. Lalu sam pan itu dihanyutkan ke tengah sungai.
Guk … guk … guk …
Guk .. guk .. guk …
“Sy, coba kau tengok anjing itu,” bisik Lola seraya menghadapkan mukanya ke tengah sungai. Anjing du duk lemas di atas sampan yang terbalik. Dibawa hanyut air sungai yang mulai pasang.