Cerita Fiksi
Yang Hilang
Ditulis oleh
aminuddin
1
TAMAN Makam Pahlawan tak seramai hari biasanya. Ada beberapa
mobil parkir di luar areal taman yang sangat sederhana itu. Ada pintu gerbang
terbikin dari kayu bertuliskan ‘Taman Makam Pahlawan Negeri Permata.’
Ada lebih dari lima puluh batu nisan. Dihuni oleh para
prajurit dan pejuang yang gugur di medan pertem puran. Ada yang sudah lama
wafat, sebaliknya juga ada yang belum genap setahun dimakamkan di tem pat
peristirahatan terakhir itu.
Empat di antarahya adalah makam Letnan Basri, Sersan Wini,
Kopral Agus dan Kopral Hanafi. Mereka gu gur saat melakukan penangkapan
Jenderal Kick di kediamannya beberapa bulan yang silam. Sempat ter jadi baku
tembak. Mereka terluka, juga akibat ledakan keras dari bom lempar asap.
Mereka berempat
sempat dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama. Karena luka yang
mereka ala mi cukup parah, sementara peralatan medis belum memadai, nyawa empat
anak buah Kolonel Madi ini tak tertolong lagi. Mereka menghembuskan nafas terakhir
dengan tenang di damping anggota keluarga, sanak saudara dan teman dekat.
Kolonel Madi sangat terpukul atas kepergian Sersan Wini dan
ketiga rekannya yang terlalu cepat dan tak pernah diduga sebelumnya itu. Selama
satu hari dia tak mau bicara dan tertawa sebagaimana biasanya. Dia menyesali
kenapa operasi penyergapan yang telah direncanakan begitu apik dan matang itu masih
menelan korban nyawa.
Namun satu hari kemudian, sebagai manusia biasa dan beriman,
Kolonel Madi baru menyadari betapa kematian seseorang itu tak ada yang tahu
selain Dia. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Se tiap manusia pasti
akan mati. Tapi tak seorang pun dari kita yang mengetahuinya. Juga tak seorang
ma nusia pun yang kuasa menunda, apalagi memajukannya barang sesaaat.
Bukan hanya Kolonel Madi seorang yang merasa kehilangan
orang terdekat dan seperjuangan. Sersan Ipung, Sersan Kifli dan Kopral Murti
juga merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka bertiga bisa de ngan cepat
mengalihkannya dengan saling curhat dan membagi rasa sedih secara bersama-sama.
Kenangan manis selama mereka bergabung dalam tim memang
teramat berat dilupakan. Senda gurau, nyaris adu jotos dan perat mulut sering
terjadi, walau pada akhirnya bisa diakhiri dengan cara baik-baik. Musyawarah,
saling memaafkan dan mengingatkan.
“Saya ingat dia saat bilang sesuatu kepada saya, Kopral
Murti,” kata Sersan Kifli saat keduanya turun dari mobil Jeep Willys hendak
menuju pintu gerbang Taman Makan Pahlawan.
“Apa yang dikatakannya sersan?” Tanya Kopral Murti kemudian.
“Kalau boleh saya izin dua hari, saya akan ambil waktu untuk
cari pacar. Karena saya memang belum pu nya pacar,” ujar Sersan Kifli.
Ha ha ha ha …
“Apa jawab sersan kemudian?” Kopral Murti bertanya lagi.
Ketika menunggu Kolonel Madi dan Sersan Ipung turun dari mobil.
“Kenapa enggak sama saya saja Sersan Wini?”
“Apa jawab dia sersan?” Kopral Murti tampak makin
bersemangat mendengarnya.
“Dia cuma tersenyum saja kopral,” jawab Sersan Kifli, agak
kecewa dengan jawaban Sersan Wini.
“Ayo kopral, Sersan Kifli!” Ajak Kolonel Madi yang ketika
sampai di depan pintu gerbang meminta dua anak buahnya itu lebih dulu masuk ke
areal pemakaman.
Di areal Taman Makam Pahlawan ada beberapa orang peziarah. Mereka terdiri
dari satu keluarga, pa sangan suami isteri dan beberapa wanita serta pria yang
sudah lanjut usia.
Kolonel Madi dan tiga
anak buahnya ini berbelok ke kanan. Setelah melewati beberapa batu nisan,
mereka berhenti di nisan ke delapan.
Delapan, sembilan, sepuluh dan sebelas. Empat nisan ini
dihuni Sersan Wini, Kopral Agus, Kopral Hanafi dan Letnan Basri.
Belum genap setahun mereka dimakamkam di tempat ini.
Beberapa bekas taburan bunga di atas tanah masih terlihat. Sebelum ini keluarga
almarhum dan almarhumah melakukan ziarah ke tempat ini.
Mereka sengaja datang dari
jauh hanya untuk menyaksikan upacara pemakaman anak, isteri, kakak dan
adik mereka yang telah gugur membela tanah air.
Mereka kembali lagi ke Taman Makam Pahlawan ini beberapa
bulan kemudian. Mereka hanya ingin me lepas kangen setelah merasa kehilangan
setelah ditinggal wafat orang yang mereka cintai, kasihi dan sa yangi.
2
DI depan nisan Letnan Basri, Kolonel Madi terdiam sejenak.
Sambil berjongkok ia mengenang kembali kenangan manis bersama anak buahnya ini.
Setelah itu ia membaca doa dalam hati …
“Ya Allah ya Tuhanku
Ampunilah dosa temanku ini
Baik yang tampak maupun tidak
Baik yang kecil maupun yang besar
Baik yang disengaja maupun tidak
Dosa kepada orang tua
Dosa kepada anak dan isteri tercinta
Dosa kepada sanak saudara
Dosa kepada teman jauh dan teman
dekat
Dosa kepada kaum muslimin dan
muslimat
Dosa kepada kaum mukminin dan
mukminat
Serta dosa kepada-Mu ya rabb …
Hanya Engkaulah Maha Pengampun dosa
Maha Pengasih dan Penyang
Ya Allah ya Tuhanku
Terimalah amal perbuatannya
Masukkanlah ia ke dalam surga
Yang telah Engkau janjikan …
Terangilah kuburnya Ya
Allah ya Tuhanku
Ringankanlah siksa kuburnya
Karena hanya Engkaulah yang
kuasa
meringankan siksanya
Hanya Engkaulah yang bisa
menerangi
alam kuburnya
Ya Allah ya
Tuhanku
Kuatkanlah mereka
yang ia tinggalkan
Murahkanlah rezeki mereka
Mudahkanlah segala
urusan mereka
Berilah mereka
bimbingan ya Allah
Tunjukilah mereka
jalan yang lurus
Capaikanlah cita-cita mereka
Jadikanlah mereka
ya rabb
Sebagai hamba-Mu
yang saleh
sabar menghadapi
segala rintangan
dan cobaan
Bermanfaat bagi
sesama manusia
Tetap berada di
jalan yang lurus
Yang Engkau ridhai
sampai akhir hayat …
Ya
Allah ya Tuhanku
Ampunilah
dosa kami
Dosa ibu bapa kami
Dosa kakek nenek kami
Dosa buyut kami
Dosa kaum muslimin dan muslimat
Dosa kaum mukminin dan mukminat
Terimalah amal baik mereka
Ya Allah ya
Rabb
Robbana atina fiddunya hasanah
Wa fil akhirati hasanah
Wa qina azaaban naaar
Washallallahu ala sayyidil mursalin
Walhamdulillahi rabbil alamin …”
Dengan kepala yang menunduk, Sersan Kifli masih berdoa di
pusara Sersan Wini. Kolonel Madi yang semula berdekatan jaraknya, sedikit
menjauh.
Dia tak ingin mengganggu konsentrasi tiga anak buahnya yang
belum juga beranjak dari pusara rekan-rekan seperjuangan yang telah mendahului
mereka.
Satu persatu ia pandangi. Ia tetap berdoa semogalah arwah
Kopral Hanafi, Kopral Agus dan Sersan Wini tenang di alam sana dan tentunya
mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
“Amin ya Allah,” ucap Sersan Kifli dengan suara nyaris tak
kedengaran.
“Aku memohon
kepada-Mu sekali lagi ya Allah
Lapangkanlah alam
kuburnya
Terimalah
seluruh amal perbuatan baiknya
Dan ampunilah dosa dan kesalahannya
Semasa hidup di alam dunia
Engkau Maha Pengasih
Hanya Engkau yang Maha Tahu
Dan Maha Pengampun
Serta Maha Penyayang …”
3
SAMBIL menahan haru, Sersan Ipung yang duduk bersila di
sebelah kanan nisan Kopral Hanafi, memo hon agar teman seperjuangannya itu
mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
“Ya Allah, aku memohon kepadamu, terimalah amal kebaikannya
dan ampunilah dosa-dosanya,” ucap Sersan Ipung dengan suara yang hanya dia
sendiri dapat mendengarnya.
Sementara Kopral Murti tiada henti-hentinya menahan isak
tangis. Seandainya saja Kopral Agus masih hidup dengan selamat hingga saat ini
tentu suasananya akan lain.
“Ya Allah, kuatkanlah mereka yang ia tinggalkan. Berilah
mereka pengharapan yang lebih baik. Selamat kanlah mereka di dunia dan
akherat,” ujar Kopral Murti dalam hati.
“Aku relakan temanku ini pergi menghadap-Mu yang Rabb. Aku
ikhlas dan aku rela serta kuatkanlah ha tiku ini agar tetap teguh
mempertahankan negeri ini sampai titik darah penghabisan,” kata Sersan Ipung
kemudian.
Sesekali dia menyeka peluh di seputar lehernya, untuk
kemudian merapikan posisikan duduknya sehing ga bukan saja kelihatan lebih enak
dipandang, tapi juga terkesan santai
namun bersungguh-sungguh.
Sesaat kemudian, Kopral Murti dan Sersan Ipung hanya diam.
Sebelum bersama Kolonel Madi dan Ser san Kifli menaburkan bunga di tanah pusara, dari kepala ke ujung kaki,
dan dari ujung kaki ke kepala, tentu dengan pelan dan berurutan.
Setelah itu, petekon kecil yang mereka bawa, secara
berganian menyiramkan air dengan rata di atas tebaran bunga sambil berharap
semoga mayit yang berada di dalam kubur tenang dan mendapat per lindungan dan
kasih sayang dari Allah SWT.
Sore belum juga beranjak malam. Beberapa peziarah mulai
meninggalkan areal pemakaman. Sebagian besar raut wajah mereka menunjukkan
kelegaan walau tersirat rasa sedih yang sulit dibingkai dengan kata-kata.
Hanya mata yang sedikit sembab dan memerah dengan sesekali
menyeka hidung dengan sapu tangan. Kedua kaki seakan berat melangkah pergi,
meninggalkan areal pemakaman. Ada rasa ingin kembali, bersua meski hanya dalam
doa, mimpi dan harapan.
Entah bagaimana perasaan Kolonel Madi, Sersan Ipung, Sersan
Kifli dan Kopral Murti setelah berziarah ke pusara empat teman seperjuangan
mereka.
Yang sepintas terlihat, ketika mereka beranjak pergi menuju
pintu gerbang taman bersejarah itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut
mereka. Mereka terus berjalan sampai ke areal parkir kenda raan.
Ada Jeep Willys yang biasa digunakan Kolonel Madi ke mana
pergi. Jeep ini sudah akrab dengan anak
bu ahnya karena sering digunakan mendampinginya dalam melakukan operasi lapangan.
Sebagai penghormatan sesama teman dan satu pasukan, Sersan
Ipung yang sudah terbiasa mengemu dikan
Jeep Willys ini, menyerahkan kunci mobil kepada Sersan Kifli. Sersan
Kifli menolak secara halus. Karena ia belum terbiasa mengemudikan mobil Jeep
Willys.
“Mulai sekarang, biasakanlah sersan,” kata Kolonel Madi
sambil menyunggingkan senyuman. Sungguh manis dan menawan hati senyuman itu.
“Semua mobil sama saja sersan. Cuma yang membedakannya, cara
kita menggunakannya,” kata Kopral Murti sambil ketawa.
“Saya harap sersan mau menerima kunci ini. Dengan begitu
senanglah hati saya Sersan Kifli,” harap Sersan Ipung, juga sambil ketawa.
Dia berharap Sersan Kifli mau menerima kunci mobil antik
ini, dan segera naik untuk kemudian memba wa mereka meninggalkan Taman Makam
Pahlawan Negeri Permata.
4
DI tengah perjalanan, Kolonel Madi mendapat laporan Jenderal
Kutch dan pasukannya sudah berada di
kawasan perbatasan. Mereka bersiap masuk dan menyerbu markas pasukan militer
Permata.
“Saya juga dapat laporan Jenderal Kutch mencari anda,
komandan.” Kata Kopral Lewis dari persimpa ngan markas militer.
“Ada lagi kopral?”
“Dia juga akan membebaskan Jenderal Kick dari tempat
persembunyiannya, Komandan,” lapor Kopral Lewis.
“Oke kopral. Siagakan pasukan, siaga di tempat masing-masing
dan pantau situasi terkini. Tunggu perintah dari saya berikutnya. ” Perintah
Kolonel Madi.
“Siap laksanakan Komandan.”
Kepada Sersan Ipung dan Kopral Murti, Kolonel Madi
memerintahkan keduanya segera menuju tempat penahanan Jenderal Kick.
“Saya dan Sersan Kifli bersiap menuju markas.”
“Siap Kolonel,” jawab Kopral Murti yang tampak mulai memerah
mukanya karena menahan geram dan marah setelah tahu Jenderal Kutch beserta
pasukannya akan menyerbu maras militer dan membebas kan Jenderal Kick.
Suasana di dalam mobil Jeep Willys sudah tidak setenang
seperti tadi. Santai dan diwarnai canda ria dengan sesama. Masing-masing kini tertuju
pada satu tekad memukul mundur Jenderal Kutch dan pasukannya keluar dari Negeri
Permata.
“Kopral Murti!”
“Siap Komandan.”
“Sudah dekat.”
“Ya Komandan.”
Kopral Murti dan Sersan Ipung, keduanya turun dengan
melompat ke balik semak belukar. Berjalan kira-kira dua puluh meter, berhenti
dekat sebuah pohon. Ada lubang yang ditutupi batu cadas dan belukar, disanalah
mereka masuk.
Di mana Jenderal Kick?
Di dalam terowongan bawah tanah alami itu ada ruang tahanan yang dipagari besi di
sekelilingnya. Besi membentuk persegi empat itu sangat kokoh dan sulit untuk
dirusak, apalagi dibongkar paksa dengan tu juan mereka yang ada di dalamnya
bisa keluar dengan selamat.
Ruang tahanan Jenderal Kick dijaga dua tentara berpangkat
kopral. Keduanya berjaga sepanjang hari,
bergantian dengan anggota pasukan dari satuan lain.
Jenderal Kick tampak tertidur pulas. Dia baru saja makan
malam. Dia sama sekali tak tahu dengan keda tangan Kopral Murti dan Sersan
Ipung. Dia hanya tahu di depan sel tempat dia ditahan saat ini ada dua lelaki
berbadan tegap bersenjatakan lengkap silih berganti menjaganya.
Kendati dijaga ketat oleh anggota pasukan Permata, Jenderal
Kick diperlakukan dengan baik. Tidak per nah disiksa dan diberi makan selayaknya
manusia makan.
Sesuai instruksi Kolonel Madi, agar menjaga sebaik mungkin
Jenderal Kick, tak satu pun petuga jaga sel berbuat macam-macam dengan jenderal
yang dulunya dikenal gagah berani di medan pertempuran itu.
Jadi tak heran ketika Kopral Murti dan Sersan Ipung datang
menjenguknya seorang diri di tahanan, Jen deral Kick tetap bisa melanjutkan
tidur malamnya.
Sang Jenderal memang kurang tidur. Padahal selama ditahan
dan dalam pengawasan Kolonel Madi, dia diperlakukan secara manusiawi. Meski diakui sejak diculik dia memang tidak
diperkenankan keluar dari terowongan.
Kolonel Madi tak mau
ambil risiko. Lebih baik tetap di dalam tahanan bawah tanah, diperlakukan de ngan
baik ketimbang misalnya, memberi kesempatan pada jenderal dari Negeri Biru itu
leluasa berada di luar terowongan, karena bisa saja yang bersangkutan melarikan
diri di saat petugas jaga lengah walau hanya sesaat.
5
SETIAP warga yang ditemui Jenderal Kutch dan pasukannya
selalu menanyakan keberadaan Kolonel Ma di dan Jenderal Kick. Tentu warga tak
tahu menahu jika ditanya keberadaan dua orang penting dari ne geri yang sama
sekali berbeda itu.
Namun tidak bagi Jenderal Kutch. Baginya Jenderal Kick dan
Kolonel Madi harus diketemukan secepat nya. Tak mungkin seluruh warga yang ia
temui tak tahu di mana keberadaan keduanya.
“Letnan. Bawa mereka sekarang kepadaku,” perintah Jenderal
Kutch pada bawahannya, Letnan Alexan der.
Beberapa warga yang coba berlari dari kejaran Letnan
Alexander dan beberapa anak buahnya,
terpaksa diseret paksa. Dan karena melewan, ada beberapa di antaranya
terkena bogem mentah di kepala, hidu ng dan dagu.
Meski mengalami siksaan yang hebat dan pedih dengan cara
dicambuk, diinjak kaki menggunakan sepa tu bot besar dan beberapa bentuk
siksaan lainnya, warga tetap tak mau membuka mulut.
“Cari saja sendiri .. Puiiih!” Jawab lelaki berkulit hitam
legam berambut keriting dengan ketus sambil me ludahi muka Letnan Alexander.
Letnan Alexander naik pitam.
Ditariknya kerah baju si Keriting.
“Letnan!” Jenderal Kutch mencegahnya. Dia meminta sang
letnan menyeret paksa wanita muda yang duduk bersimpuh dengan warga lain di
dekat si keriting.
“Ampun Pak. Jangan
siksa saya.” Jerit si wanita yang tak lain isteri si keriting. Memohon pada
Letnan Alexander agar jangan menyiksanya dan melukai suaminya.
Tapi Jenderal Kutch tak ambil peduli. Dia tak memberi ampun.
Si wanita, oleh Letnan Alexander, dicam buk
sampai puluhan kali sampai tewas secara mengenaskan.
Sang suami yang dalam keadaan kedua tangan terikat di kayu
hanya bisa menyumpah serampahi Jen deral Kutch dan Letnan Alexander.
Berulangkali ia berteriak-teriak … ‘Anjing .. anjing .. babi
.. binatang … bangsat .. biadab.’ Jenderal Kutch hanya tersenyum. Dia mendekati si keriting sambil membawa
gunting kecil runcing di depan.
“Belum mau mengaku, haaa?” Sergah Jenderal Kutch dengan
tatapan mata tajam menyeramkan.
“Puiiih!” Kena ludah, Jenderal Kutch meminta bantuan Letnan
Alexander membuka paksa mulut si Keriti ng.
Dibantu beberapa anggota pasukan lain, si keriting akhinya
tak kuasa menahan tangan-tangan kekar itu membuka paksa mulutnya lebar-lebar.
“Tarik lidahnya letnan!” Perintah Jenderal Kutch dengan
suara lantang.
Chressss …
Reeesss …
Reeees …
Kurang dari setengah menit, lidah si Keriting sudah
terpotong. Darah segar memuncrat dari mulut, tum pah ke tanah. Mengerang
kesakitan dengan disaksikan warga lain dalam todongan senjata anak buah
Jenderal Kutch.
Beberapa di antara mereka yang coba menolong si keriting,
harus menerima nasib tragis. Didor
hingga tewas.
“Bagaimana Tuan Keriting? Enak tidak ada mulut tapi tak ada
lidah?” Letnan Alexander mengangkat da gu si keriting sambil menggigit
hidungnya sampai mengeluarkan darah.
Karena tak juga mengaku, malah terus menantang Letnan
Alexander berkelahi secara jantan, Jenderal Kutch meminta salah satu orang
kepercayaannya itu membuka celana si keriting.
Si keriting mencoba melawan dengan menggerak-gerakkan kedua
kakinya seperti hendak menendang. Namun perlawanan itu sia-sia karena beberapa
tangan kekar dari depan, belakang, kanan dan kiri de ngan cepat mempelorotkan
celana panjangnya.
Letnan Alexander menempelkan gunting kecil kepunyaan
Jenderal Kutch tadi di selangkangan keriting. Dia naik turunkan gunting itu
dengan pelan. Tujuannya agar si keriting mau meru bah pikirannya. Mau
memberitahu di mana gerangan Kolonel Madi dan Jenderal Kick berada.
“Buka letnan!” Perintah Jenderal Kutch yang mulai kesal dan
murka melihat ulah si keriting yang sema kin keras kepala.
Celana dalam keriting dipelorotkan dan …
“Gunting letnan!”
Kurang dari lima detik, putuslah penis si keriting, terbelah
dua. Sebagian masih tergantung dekat buah zakarnya, separo lagi
menggelepar-gelepar di tanah.
6
“CEPAT Jenderal …!” Kata Kopral Murti. Dia ulurkan
tangannya. Jenderal Kick tampak kepayahan. Harus dibantu untuk bisa keluar dari
mulut terowongan. Sudah lama dia tidak
melihat sinar matahari di pagi hari.
Pagi hari ini dia sangat senang berada di luar pintu
terowongan. Dia melihat ke sekitar. Burung-burung beterbangan, meski tak satu
pun rumah lain di sana.
“Mari Jenderal,” ucap Sersan Ipung.
Jenderal Kick sebenarnya ingin bertanya mau dibawa kemanakah
dia oleh Kopral Murti dan Sersan Ipung.
Namun, melihat keduanya telah memperlakukannya dengan baik,
perasaan Sang Jenderal jadi tenang. Dia menurut ketika diajak Kolonel Madi yang
baru tiba bersama Sersan Kifli, menaiki Jeep Willys untuk kemudian di bawa ke
suatu tempat.
Cukup jauh memang, menghabiskan waktu tempuh sekitar satu
jam lebih, mobil yang disopiri Sersan Kifli ini tiba di sebuah tempat di pinggiran
hutan. Sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggal pergi pemiliknya.
Bangunan bertingkat dua itu tampak seram. Hampir di setiap
bangunannya, terutama kamar, dipenuhi sarang laba-laba, berbagai kotoran dan
tempat singgah kelelawar.
Dari luar, rumah antik ini terlihat sangat menakutkan.
Mungkin karena posisinya yang berada di pinggir an hutan, sementara di
sekelilingnya tak satu pun rumah
terkecuali areal perbukitan, pepohonan besar dan hutan belantara.
Rumah ini memiliki bunker. Terletak di ujung rumah. Dekat
kamar mandi. Ruang bawah tanah ini sering digunakan oleh pemilik rumah yang
saat ini tak tahu keberadaannya di mana, untuk bersantai, menger jakan sesuatu
pekerjaan dan aktivitas lain yang memerlukan keuletan dan kecermtan.
Dinding ruangan bawah tanah dilapisi marmer di kanan
kirinya. Ada kamar, ruang kerja, dapur dan tem pat bermain tenis meja, bulu tangkis dan catur.
Karena sudah laman ditinggalkan pemiliknya, lantainya
berdebu dan berwarna hitam dari semula putih. Uniknya, tak satupun yang
mengalami retak-retak, apalagi sampai hancur.
Rumah inipun tak pernah diinapi oleh siapapun kecuali
pemiliknya. Pernah beberapa orang yang melaku kan perjalanan jauh menyempatkan
diri mampir. Mereka beristirahat sejenak, setelah itu melanjutkan perjalanan
kembali.
Seringkali terdengar suara orang ketawa, menangis
sesunggukan dan menjerit histeris. Suara-suara
an eh dan menyeramkan itu tak terdengar sama sekali ketiga pagi datang.
Berganti menjadi suara cicit bu rung, serangga, harimau dan singa serta nyamuk
hutan.
Selebihnya adalah pemandangan yang menakjubkan. Dari
kejauhan terdengar gemuruh air terjun de ngan airnya yang sangat dingin.
Di rumah inilah Jenderal Kick diungsikan. Kolonel Madi
berharap tempat persembunyian Jenderal Kick kali ini tidak diketahui Jenderal Kutch beserta
pasukannya
Jenderal Kick sangat senang di tempat yang baru ini. Walau
jauh dari bising dan keramaian, dibanding kan di tempat yang lama, harus mendekam
di dalam tahanan, di rumah tak berpagar ini ia bisa tidur dengan pulas di
kamarnya.
“Jenderal tidur saja di kamar ini,” ujar Sersan Ipung.
Mengantar masuk ke kamar tengah. Ada
lima ka mar, kamar nomor tigalah yang ditempati Jenderal Kick.
Kolonel Madi juga mempersilakan Jenderal Kick duduk di ruang
tamu. Tak suka dengan kursi tamu yang mulai rusak, bisa memilih dengan duduk
lesehan.
“Tapi maaf beribu maaf
Jenderal, anda harus tetap dalam pengawasan kami,” terang Kolonel Madi,
me nemaninya duduk lesehan di lantai sambil menikmati air putih yang dibawa
Sersan Kifli dari markas mili ter.
7
“KOLONEL. Kalau boleh saya tahu, kenapa saya dibawa kemari,
ke tempat ini?” Tanya Jenderal Kick seu sai Kolonel Madi dan Sersan Kifli
mengajaknya makan siang bersama.
“Jenderal Kutch, Jenderal.” Jawab Kolonel Madi sembari
mempersilakan Jenderal Kick mencicipi kuda pan ubi bakar.
Kolonel Madi pun bercerita secara singkat tentang Jenderal
Kutc hyang ia ketahui. Seorang jenderal yang
gagah berani dari Negeri Biru.
“Dia secara khusus mencari
saya Jenderal,” kata Kolonel Madi.
“Oh ya? Mau menghabisi anda kah Kolonel?”
“Boleh jadi begitu Jenderal Kick. Tapi yang pasti,
sebagaimana yang saya ketahui, beliau akan mengambil anda dari kami,” terang
Kolonel Madi. Usai melahap sepotong ubi bakar, badan terasa lebih segar. Dia ta
mpak sangat menikmati penganan rakyat ini.
“Anda kenal beliau, Jenderal.” Sersan Kifli ikut bicara
setelah mendapat restu bicara dari Kolonel Madi selaku atasannya.
Jenderal Kick menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Saya tak begitu kenal
dengan beliau, Kolonel. Boleh jadi beliau juga begitu. Mungkin antara saya dengan beliau tidak
seakrab dengan jenderal-jenderal yang lain di tempat saya mengabdi,” jelas
Jenderal Kick.
Kifli,” aku Jenderal Kick yang mulai menyenangi ubi bakar
hasil olahan Sersan Ipung dan Kopral Murti.
“Jenderal, sekiranya Jenderal Kutch betul-betul ingin
mengambil anda dari kami, apa Jenderal bersedia?”
“Tidak Kolonel,” jawab Jenderal Kick terus terang. Dia mulai
menyenangi kudapan ubi bakar hasil olahan Sersan Ipung dan Kopral Murti.
“Kenapa demikian Jenderal?”
“Saya tak ingin lagi kembali ke negeri saya, Kolonel.” Ujar
Jenderal Kick. Dia menarik nafas sejenak, kemu dian melanjutkan perkataannya
tadi.
“Tapi kalau Kolonel memang meminta saya kembali ke negeri
saya, dengan senang hati saya akan mempertimbangkannya.”
Kolonel Madi dan Sersan Ipung saling lempar pandang.
Jenderal Kick melepas senyum karena dia merasa mantap tidak akan kembali lagi
ke negeri asalnya.
“Kolonel dan Sersan Kifli. Bolehkah saya bertanya sesuatu
pada kalian berdua?”
“Boleh Jenderal. Silakan …!” Jawab Sersan Kifli.
“Bolehkan saya menghabiskan sisa hidup saya di negeri ini?”
Kolonel Madi dan Sersan Kifli, keduanya terdiam. Keduanya belum memberikan tanggapan. Berat
untuk menjawabnya, karena di satu sisi keberadaan Jenderal Kick belum diterima
sepenuhnya oleh rakyat Ne geri Permata.
Walaupun pada sisi lain Kolonel Madi beserta anggota pasukan sudah bisa menerima ke hadirannya dan telah
diperlakukan sangat baik selama ini.
“Secara pribadi saya tak keberatan dengan permintaan anda,
Jenderal Kick. Walaupun sebenarnya ke
beradaan anda disini juga akan menimbulkan masalah baru. Rakyat kami belum
sepenuhnya menerima kehadiran Jenderal karena perang belumlah usai,” jelas
Kolonel Madi.
“Terima kasih Kolonel.
Saya puas mendengar penjelasan anda. Saya senang karena Kolonel secara
priba di telah membolehkan saya tinggal di tempat ini. Walau saya juga tahu
rakyat di negeri ini pasti sangat marah kalau saya jadi menetap disini.”
Suasana berubah hening. Di luar rumah sinar matahari masih
menerangi pepohonan, tembus ke per bukitan, hutan belantara dan keriangan hewan
lucu seperti kancil dan kijang mencari makan.
“Tapi Kolonel, berilah saya kesempatan untuk bisa tetap di
sini. Negeri anda berdua ini.” Harap Jenderal Kick. Dia tak tertarik sama
sekali untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya
di Negeri Permata ini.
“Jenderal.”
“Ya Kolonel.”
“Sekiranya anda mau kembali tentu anda akan diperlakukan
sangat baik. Dihormati, disanjung dan hidup Jenderal pasti lebih enak dan
sejahtera. Bisa ketemu anak dan isteri, kerabat dan handai tolan. Sementa ra
jika Jenderal tetap bersikukuh memilih
menetap di sini, Jenderal akan kesepian. Jauh dari anak isteri, hidup di tengah
belantara, dan boleh jadi selalu was-was karena merasa dikejar-kejar Jenderal,”
kata Kolonel Madi memberikan alasan dan sedikit pandangan.
8
LAMA terdiam. Kolonel Madi tak tega melihat Jenderal Kick
terdiam berlama-lama. Begitu juga dengan Sersan Kifli, lalu Sersan Ipung dan
Kopral Murti yang datang beberapa saat kemudian.
Mereka sama berharap Jenderal Kick berpikir matang sebelum
memutuskan untuk tidak kembali ke ne geri kelahirannya. Walaupun mereka juga
tak bisa memaksakan kehendak karena menjadi hak siapa pun untuk tinggal di
Negeri Permata, asal sesuai dan mengikuti aturan yang berlaku.
“Saya ingin menebus kesalahan dan dosa yang telah saya
lakukan di masa lalu, Kolonel,” kata Jenderal Kick penuh harap.
“Dengan cara apa anda akan menebus dosa dan kesalahan yang
telah dilakukan di masa lalu itu, Jende ral?” Tanya Kolonel Madi.
“Bergabung dengan anda semua di sini. Saya ikut berjuang
bersama kalian di sini. Tentunya berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Tapi Jenderal …”
“Ini pilihan hidup saya, Kolonel. Saya siap menanggung
akibatnya,” kata Jenderal Kick penuh semangat.
Kenapa Sang Jenderal tidak memilih kembali ke tanah
kelahirannya dengan memenuhi permintaan Jen deral Kutch, karena tiga alasan
utama.
“Pertama, saya pasti akan diperlakukan tidak adil. Karena
saya adalah jenderal yang gagal perang. Tidak sukses memimpin pasukan. Tentu
perlakuan pun akan berbeda dengan kolega saya sesama jenderal ya ng sukses
menjalankan misi perang di negeri lain, Kolonel. Jadi tidak ada jaminan saya
bisa hidup lebih baik di negeri saya. Bisa jadi sebaliknya, dan peluang itu
lebih besar agaknya.”
Yang kedua, kata Jenderal Kick, “Sekiranya saya pulang, saya
kuatir tidak akan bisa berbuat apa-apa
lagi buat negeri saya. Mereka tidak bakalan mengirim saya ke negeri lain,
karena saya dianggap bukan siapa-siapa lagi. Jenderal gagal, jenderal tua dan
tak berprestasi apa-apa. Saya akan dikucilkan. Sampai akhir nya saya hanya bisa
duduk melamun seorang diri. Saya sangat
tersiksa Kolonel. Bukan karena saya diku cilkan tetapi peran dan sumbangsih
saya untuk negeri saya sudah tidak ada
lagi. Saya tak mau itu …”
Lalu yang ketiga, masih kata Jenderal Kick, “Meluruskan yang
telah bengkok. Walaupun sulit bakal lurus kembali, tapi paling tidak sudah ada
niat dan usaha untuk meluruskannya kembali. Anda semua kan tahu berapa besar
dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu. Berapa banyak bangunan
berse jarah yang hancur, dan berapa banyak pula nyawa orang yang tak bersalah
lenyap tak berkesan. Kubur an tak bernama ada di mana-mana. Keluarga mereka
yang ditinggalkan, entah bagaimana nasib mereka kini. Saya ingin menebus
semuanya itu, walau saya tahu itu tak seberapa, Kolonel.” Kata Jenderal Kick
dengan suara lirih.
“Tapi itu tetap berisiko Jenderal.”
“Maksud Kolonel?”
“Seperti yang telah kita bicarakan tadi, rakyat masih tetap
menaruh dendam dan curiga pada anda Jen deral. Tidak mungkin anda berjuang
tidak bersama rakyat. Suatu kali pasti bertemu mereka, atau paling tidak ikut
berjuang bersama-sama kita. Karena mereka sudah terlanjut men-cap anda sebagai
orang ja hat, tak berprikemanusiaan, saya tak bisa bayangkan bagaimana sikap
mereka pada anda kemudian, Jenderal.”
“Saya akan yakinkan mereka, dan saya akan berusaha semampu
saya Kolonel,” jawab Jenderal Kick. Dia merasa yakin rakyat suatu saat nanti
akan menerimanya dengan tangan terbuka dan lapang dada.
“Caranya Jenderal?”
“Selain meminta bantuan kalian, saya juga akan melakukan dua
cara. Pertama, saya akan temui orang-orang yang
berpengaruh di kalangan rakyat. Saya akan jelaskan kenapa saya mengambil
keputusan de ngan tetap berada di negeri ini dan berjuang bersama rakyat. Kedua,
sebagai jaminannya diri saya sen diri Kolonel. Saya siap dipancung bila
terbukti nantinya saya berkhianat.”
“Kalau mereka tetap menolak gimana Jenderal?”
“Saya siap mati Kolonel. Bila mereka menginginkan saya mati,
saya siap mati,” ujar Jenderal Kick tanpa ragu.
Mati atau hidup bagi saya, jelas Jenderal Kick, sama saja.
Tidak lagi penting untuk saat ini dan seterus nya. Pengabdian saya di militer
telah habis.
“Saya ingin mengabdi ke rakyat. Saya akan bela mereka sampai
kapan pun. Bila perlu ada cap jempol,” kata Jenderal Kick terus terang.
Cap Jempol yang dimaksud Jenderal Kick adalah semacam
hara-kiri. Siap menanggung risiko apa pun bila gagal nantinya.
“Maaf Jenderal. Kami tidak mengenal apa yang namanya
hara-kiri. Sebab bagi kami, gagal atau sukses ku rang lebih sama saja. Mereka
yang sukses terus berperang. Sebaliknya yang gagal pun demikian. Tetap ikut
berjuang,” terang Kolonel Madi.
“Atau dengan cara lain Kolonel?”
“Nantilah kita pikirkan soal itu, Jenderal …”
TAMAT (Sambungan
dari SANG JAGOAN)