KUMPULAN PUISI
(2)
By Wak Amin
Puisi I
Keranda
Karya Anwar Putra
Bayu
I
BUNGA-bunga membasuh diri lewat wudhu
Ingin rasanya bernyanyi dengan kalam-Mu
ketika getah meleleh
dan mengalir sesukanya
mawar tersedu-sedu: O, arwah
II
Selembar daun jadi sajadah
pokok-pokok di atasnya
sujud berubah jadi penghormatan
memberi doa tanpa lelah
tanpa senyum merekah
kenanga menjadi gundah:
keranda siapa lewat pada sebuah lorong-Mu?
III
Jasadku dalam keranda
melintas di jalan lebar
para ilalang berzikir
dalam irama angin
payung awan menahan matahari
dan bunga-bunga
bertanya-tanya
surga mana yang lebih pantas?
(1991)
Puisi II
Konser Jakarta (1)
Karya Anwar Putra
Bayu
ORANG kecil
menyandang kesempitan hidup
terpasung kemiskinan
dan tercekik
sambil berkata : “Hai! Berapa matahari menyengat
jiwa aku akan tertancap di punggung bumi”
Adalah lingkaran orang-orang senasib
Mengelilinginya
Buih-buih putih dibawa angin bersapa
sepi yang badi
(1985)
Puisi III
Konser Jakarta (II)
(kepada Ali Sadikin)
Karya Anwar Putra
Bayu
SELAGI kau berlindung
di balik rimba beton kota Jakarta
akankah makna sejarah terseret
dari satu jendela
ke jendela lain
Dan di situlah terpandang
orang-orang menggantungkan
pita nasib pada leher tugu kebesaran
dengan sepanjang tali pusarnya
O, Jakarta
keroncong kemayoran
dalam moncong kasmaran: Jangan harap ada
cinta di sini.
(Orang-orang dalam lagu penaklukan menjaring kota Jakarta
bersama jalanya)
Aku berdandan pagi, dan malam
merubah wajah
mengais sisa
mencari nasi
melumer hati
Di mana orang-orang menabur benih
dan matahari yang pecah?
Jangan tanya hati nurani di sini
O, Jakarta
keroncong kembang melur
dan lontong sayur mayur : Pedaslah rasanya
(Anak-anak pinggiran Ciliwung memainkan okulele mesteran dan
berdendang: Sudah babak belur negeri kita?
Dan kini,
aku menggantungkan tali pusar
lewat monumen-monumen sejarah: O, Jakarta
mimpi orang-orang pinggiran
Kali Ciliwung
Baumu busuk!
(1992)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar