KUMPULAN PUISI (4)
By Wak Amin
Puisi I
Monolog Sunyi
Karya Intan Sari L
Izwar
MAK,
Lapar …!
Kenapa kita tak bisa makan seperti orang
yang di dalam rumah berdinding kaca?
Mak,
Dingin …!
Kenapa kita tidak bisa tidur di atas permadani
Busa?
Mak,
Panas ..!
Kenapa kita tidak bisa berteduh di istana?
Mak,
Capek …!
Kenapa kita tidak bisa naik mobil kemana suka?
Mak,
Jawablah …!
Kenapa sudah tiga hari, Mak tidak bangun-bangun
juga …?
(Surakarta, Mei 1998)
Puisi II
Jalan Khianat
Karya Dzu Nun Al-Mishri
Ia berpakaian ahli tasawuf
dengan pakaian bulu itu
ia berbangga karena kebodohannya
sementara itu sebagian manusia
mengenakannya sambil bergurau.
Ia memperlihatkan kepadamu
kehinaan dirinya
namun sering pula mempertunjukkan kesombongannya
Memang kesombongan
Tidaklah sama dengan kehinaan diri.
Ia memang memakai baju bulu
agar dikatakan sebagai orang yang terpercaya
padahal ketasawufannya tidak bermaksud amanah
Ia berbuat demikian bukan karena Allah,
melainkan sebagai jalan
untuk khianat.
Puisi III
Seandainya Mampu
Kugores Langit
Karya Ameer Hamzah
SEANDAINYA mampu kugores langit
akan kucoret tinta darah merah
di rentang khattulistiwa
Kutulis kalimat protes
tentang penindasan dan pembantaian di Bumi Aceh
agar semua bangsa di dunia membacanya
lalu turut belasungkawa
Jika perlu semua korban yang hilang
kupasang fotonya di awan
agar malaikat melapor pada Tuhan
bahwa di ujung Sumatera
ada ladang pembantaian
Seandainya mampu kutungging air laut
akan kugantikan dengan air mata janda
dan anak yatim yang malang
agar ikan-ikan tahu
ada yang tak beres di daratan
Seandainya mampu kagali lubang kuburan
tulang belulang itu
Kuharap bisa menjadi saksi kekejaman
tangan-tangan biadab tanpa iman
(Banda Aceh, 2 Syawal
1419 H)
Puisi IV
Luka Rindu
Karya Siti Zainab
BIARKAN aku istirahat bersama ilusiku
menggores kata akanmu
mengukir bayangku bayangmu menjadi satu
Biarkan aku diam dalam bening malamku
Menyimpulkan hari-hari lalu menjadi satu
dengan luka parahku
dengan memar merah hatiku
Malam Dentang Dua
di simpang hati kau gayuti dia
dingin hati saat itu
bagai tiada arti aku dalam bayangmu
selama ini
Ingin kulupa
Dua malam kulewati dengan berlari
sepi hati, semakin sepi
Peka jiwa menyadarkanku
ada tenaga yang tersisa
‘tuk berucap, aku rindu
(Dentang Dua, April
1997)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar