Novel …
El-Maut (7)
Oleh Wak Amin
14
DARI perbatasan kota, tiga hari kemudian, Mr Clean, Mr Jodi
dan Miss Nancy, melakukan razia ke tempat hiburan malam. Ada beberapa kafe yang
menjadi target. Satu di antaranya Kafe Jempol.
Kafe ini sangat ramai dikunjungi. Pengunjungnya sebagian
besar wanita muda, kaum bapak dan lelaki berjiwa muda.
Kafe Jempol menyediakan aneka makanan lezat. Hampir semua
jenis makanan ada di kafe ini. Mulai dari tradisional hingga modern. Mulai dari
yang murah hingga mahal.
Pengunjug juga, supaya betah berlama-lama di kafe ini,
disuguhi hiburan berupa musik dan tembang-tembang pilihan serta favorit
pengunjung.
Tak heran jika Kafe Jempol selalu ramai sampai tengah malam.
Sayangnya, berbagai insiden seringkali terjadi. Walau tidak sampai meresahkan,
keributan kecil itu, jika dibiarkan bisa semakin besar dan me luas.
Atas dasar itulah, Mr Jodi cs secara diam-diam datang ke
Kafe Jempol. Supaya tidak ketahuan mereka ada lah polisi, mengenakan pakaian
bebas. Bersikap sopan dan tidak memperlihatkan gelagat berlebi han, apalagi
sampai berbuat kasar kepada pengunjung yang lain.
Malam itu pengunjung asyik menikmati tembang syahdu
‘Kuasamu.’ Tembang religius, di luar perkiraan sebelumnya, mampu menyedot dan
menyihir ratusan mata pengunjung yang terus berdatangan sejak Kafe Jempol
dibuka pukul tujuh malam.
Dilanjutkan dengan adegan lawakan, sulap dan pantonim.
Dimeriahkan juga dengan penampilan kelom pok band ternama, Jempol Band.
Sekelompok anak muda ini mampu menghibur pengunjung yang rela tak beranjak dari
tempat duduk mereka hanya untuk menikmati suatu penampilan.
“Hentikan!” Teriak dua pemuda. Naik ke atas panggung dan
meminta personil Jempol Band untuk segera turun dari arena pertunjukan
secepatnya.
Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Jempol
Band. Karena mereka manggung malam ini diundang secara khusus oleh pihak
panitia.
“Kalau memang mau dibatalkan harus resmilah Bang. Harus
profesional. Jangan ngancem-ngancem gitulah,” kata Janu, pimpinan Jempol Band,
sekaligus penyanyi merangkap pemetik gitar.
Praaak …
Buk …
Ceplaaash …
Janu ditarik paksa, lalu dilempar jauh dari atas panggung.
Hampir mengenai Miss Nancy. Tiga teman Ja nu yang bermaksud menolong, ikut kena
bogem mentah sampai termuntah di tengah arena pemen tasan.
Mr Jodi cs melompat ke atas panggung. Dua lawan tiga. Duel
berlangsung seru. Sepertinya tak ada yang kalah sehingga sulit rasanya untuk
menentukan siapa yang memenangi duel malam ini.
Memasuki menit
ketiga, disaksikan anggota security Kafe Jempol, Miss Nancy berhasil mematahkan
tangan salah seorang di antaranya yang diketahui bernama Somed.
Begreeek …
Eeeeugh …
Bruuuk …
Eeeegh …
Melihat temannya tak sadarkan diri, pria berjambang tipis,
bukannya ngacir. Dia malah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan
Mr Clean dan Mr Jodi.
Berbagai jurus ia peragakan. Mr Clean dan Mr Jodi hanya
menunggu, termasuk Miss Nancy. Mereka hanya menghindar dan lebih banyak
menonton.
Plak .. pak .. plak … pak ..
Merasa ditepuki, bukannya tersinggung, si pemuda rambut
gondrong ini makin menjadi-jadi. Koprol ke sana kemari. Melepaskan tendangan, pukulan
ke samping dan depan dengan kepala diliuk-liukkan seakan mengelakkan
tendatangan gledek yang dilepaskan lawan.
Hiyaaat …
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Mister, biar aku yang meladeninya,” kata Miss Nancy. Mr
Clean dan Mr Jodi, keduanya bergegas turun dari atas panggung.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Ayo Mbak. Sikat aja!” Teriak beberapa penonton memberi
semangat pada Miss Nancy untuk tidak takut dan kalah gertak pada lelaki pembuat
onar itu.
Ha ha ha ha …
Draaag …
Gedebug …
Hua ha ha ha …
Dengan satu kali tendangan menyusur tanah, lawan jatuh
terlentang. Baru akan berdiri, sudah disikat habis Miss Nancy dengan menghantam
kepala si pemuda dengan tendangan keras
menggunakan se patu.
15
KELUAR dari Kafe Jempol, Miss Nancy, Mr Clean dan Mr Jodi
belum langsung pulang ke rumah. Mereka masih harus singgah dan memeriksa satu
kafe lagi di simpang empat pusat kota.
Kafe dimaksud bernama Kafe Lima Jari. Sama dengan Jempol
Kafe, kafe ini cukup ramai dikunjungi. Se makin malam semakin ramai. Hal ini
dikarenakan selain lokasinya yang strategis, pengunjung juga dapat memilih
aneka permainan mulai dari gaple hingga biliar. Diiringi tembang manis sambil menyeruput ko pi dan mencicipi berbagai
kudapan yang sudah melegenda.
Ketika hendak memasuki pintu gerbang Kafe Lima Jari, Miss
Nancy mencurigai seorang lelaki yang baru saja tu run dari sebuah mobil
berjenis sedan keluaran terbaru. Dia kemudian memasukkan sesuatu di tong
sampah.
“Mister, aku ke sana.” Kata Miss Nancy. Mendekat ke belakang
mobil yang dinaiki pria kurus tinggi itu.
Sesaat dia menunggu. Belum bereaksi ketika pria tadi masih
berdiri dekat sebuah pohon besar nan rindang, lalu menelepon seseorang.
Dua menit kemudian, lelaki berkumis tipis itu menuju mobilnya. Saat hendak membuka pintu depan,
Miss Nancy mencegatnya.
“Maaf Tuan. Boleh saya bertanya sesuatu?” Tegur Miss Nancy
ramah.
Keramahan Miss Nancy dijawab dengan menyikut muka perempuan
tinggi semampai itu. Sempat di tangkis, saking kuatnya sikutan itu, tersandar
ke pintu belakang mobil.
Miss Nancy tak tinggal diam. Dia kejar pria tadi ke kanan
gedung Kafe Lima Jari. Kali ini dia tak sendirian. Dibantu Mr Clean dan Mr Jodi,
aksi kejar-kejaran itu berlangsung singkat, setelah Miss Nancy sukses me nyudahi pergumulan seru itu dengan membenturkan kedua
tangan laki-laki tadi ke badan jalan yang
beraspal.
Menjerit kesakitan.
Praaak …
“Berdiri cepat!” Hardik Miss Nancy. Mr Clean dan Mr Jodi,
menarik paksa tangan si pria, kemudian ditepikan ke dekat gerobak sampah.
“Hei taun, lagi ngapain kamu di dekat kotak sampah itu?”
Bentak Mr Jodi.
“Lagi buang kulit pisang
Bos,” jawab si tahi lalat di pipi itu sekenanya sambil tertawa pula.
“Bohong kamu,” sergah Miss Nancy, merasa tersinggung
mendengar jawaban pria barusan.
“Miss. Periksa saja mobilnya. Biar kami berdua amankan dia
disini,” kata Mr Clean. Meminta koleganya itu berhati-hati memeriksa mobil,
sementara Mr Jodi mengambil dompet si pria, melihat beberapa kartu identitas
diri untuk keamanan dan kepentingan penyelidikan.
Miss Nancy dengan sangat hati-hati membuka pintu mobil. Dia
periksa beberapa tempat di bagian dalam mobil, terutama laci, termasuk tempat
duduk otomatis di belakang kemudi.
Kreeek …
Nyiiitt …
Kursi ditarik ke atas. Di bawah kursi ada sebuah kotak dan di dalam kotak itu ada
sebuah alat menyeru pai remote control.
“Yaaach. Dapat kau,” ucap Miss Nancy kegirangan. Dia bergegas
menemui Mr Clean dan Mr Jodi.
Sesaat ketiganya memperhatikan dengan seksama alat peledak
jarak itu.
“Hei apa ini?” Tanya Mr Jodi baik-baik dengan harapan pria di depannya ini mau jujur dan mengakui
apa yang disimpannya di dalam mobil.
“Untuk tivi Pak Polisi,” jawab si pria dengan santai. Miss
Nancy naik pitam. Dia tarik kerah bajunya, lalu mengambil pisau kecil di balik
saku celananya.
“Ngaku atau saya putuskan burung perkutut kamu.” Ancam Miss
Nancy. Ancaman ini tidak main-main.
Kenapa?
Miss Nancy membuka reuisliting celana si pria, lalu
memasukkan pisau itu hingga menyentuh penis, dan …
“Aduh …!”
“Ngaku atau tidak?”
“Aduuuh. Putus perkututku!”
“Ngaku tidak?”
Setelah penis berdarah, si pria baru mengaku terus terang dia
memang menaruh sebuah bom di dalam tong
sampah. Bom itu baru akan meledak setelah dia pergi dengan cara memencet remote
dari jarak jauh.
Targetnya adalah membuat panik pengunjung Kafe Lima Jari,
dan tentu saja mencederai banyak orang serta hancurnya sebagian atau seluruh
bangunan kafe.
Si pria mengaku dia hanya orang suruhan. Setelah bom
meledak, dia akan mendapat bayaran sepe nuhnya sesuai pemufakatan kedua belah
pihak.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar