Jumat, 29 September 2017

Lantak (1)

Novel ...

Lantak (1)
Oleh Wak Amin

1
MISS Nancy menjerit histeris ketika pesawat yang ditumpangi Mrs Sab rina Muhsin dan Mr Clean jatuh di sebuah pulau terpencil di Bumi Hi jau. Dari depan pesawat televisi, lepas Magrib, dia berlari ke ruang depan, mengangkat telepon.

Dia menghubungi koleganya Mr Jodi, yang malam ini mendapat tugas piket di mabes bersama empat teman sekerjanya. Sepanjang malam mereka bertugas, pulang pagi. Begitulah sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Ketika diberitahu Miss Nancy  pesa wat yang ditumpangi Mr Clean dan Mrs Sabrina jatuh karena cuaca buruk, Mr Jodi tak langsung percaya.

Pasalnya, selama ini antara Mr Jodi dengan Miss Nancy  acapkali ber canda, saling menyindir, namun setelah itu berbaikan kembali.

"Gue serius nich Jodi," ucap Miss Nancy seolah hendak menangis. Mendengar suara yang melemah dan terisak, Mr Jodi tak sampai hati meneruskan candaannya.

"Oke. Sekarang apa rencanamu Nancy?"

"Kita susul aja mereka," kata Miss Nancy. Dia merasa Mr Clean dan Mrs Sabrina perlu pertolongan sung guh-sungguh mengingat pulau tem pat pesawat berbadan besar itu jatuh memang terpencil.

"Kamu kan tahu Bumi Hijau itu apa. Mendengar namanya saja orang sudah merasa takut. Konon katanyan berhantu ..." Lanjut Miss Nancy, berharap Mr Jodi mau ikut dengannya menemukan jejak Mr Clean dan ratusan penumpang lain.

"Pakai apa kesana Miss?"

"Pesawat kecil," ujar Miss Nancy.

"Itu kan harus minta izin dan jelas tujuannya buat apa. Lagi pula untuk menuju ke lokasi jatuhnya pesawat tak mungkinlah ..."

"Kenapa tak mungkin Mr Jodi. Kita kan resmi. Kita ini kan abdi negara. Aparat penegak hukum. Sudah tu gas kita untuk membantu mereka," terang Miss Nancy. Sulit baginya untuk tidak pergi ke pulau yang ' tak berpenduduk' itu.

" Bukan itu masalahnya Miss. Tapi kemampuan terbang pesawat kecil itu yang diragukan. Iya kalau cuaca baik. Kalau tidak, sama saja deng an mengantarkan nyawa ke sa na ..."

"Jadi kamu tidak mau Mr Jodi?"

"Bukan Miss. Bukan begitu. Eeem
... Gimana ya?"

Berpikir sejenak ..

"Oh begini Miss." Mr Jodi akhirnya bisa tertawa. Lega karena dia su dah menemukan jawabannya.

"Kita temui saja Inspektur Smith, Miss. Mau kan?" Ajak Mr Jodi. Dia yakin atasannya itu mau memban tu karena di antara penumpang pe sawat itu ada Mr Clean dan Mrs Sabrina Muhsin.

"Saya pesimis Jod."

"Kenapa? Jangan .. Jangan begitu. Kita coba dulu ajalah. Mana tahu moncer." Kata Mr Jodi.

"Nanti saya izin. Aku jemput kamu di rumah. Kita sama-sama ke rumahnya Pak Inspektur. Enggak usah lewat telepon. Oke?"

"Oke?"

"Saya tunggu jadi?"

" Betul ..."

Sementara di pulau kecil tak bernama itu, hanya sepuluh orang yang selamat. Selebihnya tewas dengan cara mengenaskan. Ang gota badan terpisah, berserakan di sekitar area pesawat. Bahkan ba nyak juga di antara mereka sudah tidak bisa dikenali lagi.

Kesepuluh orang yang selamat itu tidak termasuk pilot dan co pilot. Mereka adalah penumpang biasa dengan beragam profesi. Mulai dari pengusaha, guru hingga ibu rumah tangga.

Kondisi mereka tidak mengkuatir kan. Hanya mengalami luka kecil di pelipis, tangan dan kaki. Masih bisa berjalan, walau tak pula tahu harus berjalan kemana. Semua hutan be lantara. Tak ada yang bisa dilihat selain langit.

Tengah malam di belantara hutan perawan bukan perkara gampang. Selain gelap, lengah sedikit jadi san tapan empuk binatang buas seperti harimau dan singa.

Mr Clean dan Mrs Sabrina, secara tak langsung ditunjuk sebagai 'ko mandan' penumpang yang selamat. Keduanya meminta rekan-rekan me reka sesama penumpang untuk na ik ke atas pohon agar terhindar dari intaian dan gangguan binatang bu as.

Karena tidak semua penumpang bisa memanjat pohon, Mr Clean dan Mrs Sabrina turun tangan membantu mereka. Satu-satu berhasil duduk di atas pohon dengan wajah tegang dan ketakutan.

Posisi mereka tidak berjauhan, lan taran antara satu pohon dengan pohon lainnya sangat berdekatan. Nyaris tidak ada jarak sama sekali.

Kepada rekan-rekannya, Mr Clean meminta untuk diam dan sedapat mungkin mengurangi pembicaraan kecuali itu mendesak sifatnya dan sangat penting.

Hal ini dimaksudkan Mr Clean agar keberadaan mereka tidak diketa hui 'penghuni baru' yang boleh jadi ada di hutan amat lebat ini.

2
KUUR .. Tekuur .. Tekuur ..
Kuur .. Tekuur .. Tekuur ..
Ciit .. Ciit ... Ciit ..

Suara cicit burung menyambut pa gi. Cerah nian. Bebatuan tampak menghijau. Mr Clean dan rombo ngan sudah turun dari pohon. Kini mereka tengah berjalan menyusuri hutan belantara. Apa yang ditemui mereka makan karena lapar. Mulai dari buah hutan hingga rusa dan manjangan.

"Ayo bapak-bapak, ibu-ibu. Kita sikat," kata Mrs Sabrina seusai me manggang seekor rusa hasil buruan mereka jelang tengah hari.

"Ayo .. Pak, Bu .. Semangat." Sahut Mr Clean. Saat itu juga mereka ra me-rame menyantap daging rusa. Karena lapar, dalam tempo kurang dari tiga puluh menit, daging rusa itu habis mereka sikat.

Salah seorang penumpang, wanita muda usia, Siska, mengaku sangat senang mendapat kesempatan melahap daging rusa.

"Dulu, di waktu kecil pernah sekali makan daging rusa. Setelah itu tak pernah lagi. Sekarang kesempatan itu ada. Cuma sayang .." Siska terdiam. Hatinya lirih.

"Sayang kenapa Dik?" Mrs Sabrina coba menghibur.

"Di hutan .."

Ha ha ha ha ..

Siska pun ikut tertawa akhirnya. Wa lau dia sendiri tidak menyangka te man-teman satu pesawat yang se lamat justru tertawa.

"Lucu saja Dik, sekaligus senang," kata Nina, seorang ibu dengan tiga anak. Dia tidak membawa serta anak-anaknya. Juga suami tercinta. Dia pergi sendirian menengok ke dua orang tuanya yang mulai sakit-sakitan belakangan ini.

"Sama dengan saya Nak Siska," lan jut si ibu berparas 'lumayan' ini. "Senang bisa menikmati daging rusa. Masih mending Nak Siska pernah mencicipinya. Kalau ibu belum sama sekali selain tahu dari buku ..."

He he he he ...

"Ada-ada saja ibu ini," komentar Mr Clean. "Tapi terus terang Bu, saya senang dengan keadaan kita seper ti ini. Seolah bukan berada di te ngah hutan belantara."

Ha ha ha ha ..

"Kalau saya lain lagi Mr Clean," sahut Lusi, pengantin baru, di dampingi suaminya, Pak Lebay.

"Dari buku juga kah Bu?" Tanya Bu Nina penasaran.

"Bukan Bu. Dari cerita orang tua," jelas Lusi. "Kalau inget itu saya jadi ketawa. Tak menyangka cerita itu kini sudah terbukti dengan makan nya saya daging ini."

Ha ha ha ha ...

"Betul sekali bapak-bapak, ibu-ibu." Timpal Pak Lebay, menambahkan cerita isterinya barusan. "Waktu kecil kita hanya taunya daging ayam, bebek dan daging sapi. Tak pernah saya tahu ada daging lain yang juga enak selain daging ketiga hewan tersebut. "

Ha ha ha ha ...

"Saya juga punya cerita lucu soal daging rusa ini. Sayang kalau tidak diceritakan," kata Ahmad, penum pang laki-laki berperawakan tinggi kurus.

"Dulu," katanya, "Ingin sekali makan daging hewan lain selain daging ay am yang saya sukai. Saya pernah cari ke mana-mana, tapi tak ada. Sa ya kecewa, iya. Marah, tidak juga. Kenapa? Karena hari ini saya telah menemukan dan memakan daging hewan lain yang tak kalah lezatnya."

Ha ha ha ha ...

"Setelah mendengar cerita kalian," potong Pak Daud, "Saya lalu kepikiran ..."

"Mau nambah lagi ya?" Sindir Rafli dan Ahmad, ketawa lebar.

"Cukuplah. Bukan apa-apa. Dagingnya sudah habis."

He he he he ...

"Begini Mr Clean dan bapak ibu sekalian. Saya kepikiran mau ter nak rusa, manjangan atau kancil
..."

Ha ha ha ha ...

"Mau berburu sendiri Pak Daud?" Ledek Rafli. Sejauh yang ia tahu, rusa dan sejenisnya sulit ditemukan di pasaran..

"Malah tidak ada Pak Daud," jelas Pak Rafli.

"Kalau berburu memang kemung kinan dapat. Tapi apa bisa? Setahu saya dia itu termasuk hewan yang dilindungi."

Ha ha ha ha ...

"Benar sekali Pak Daud," terang Mr Clean. "Kita wajib memelihara ha bitatnya. Soalnya, hewan yang da gingnya kita makan ini sudah lang ka dan dengan tidak menangkap nya berarti kita telah membantu pe merintah dan semua pihak untuk menjaga kelestarian spesies rusa."

3
"AYO Bu Sabrina. Terjuuun!" Teriak Bu Nina dalam air terjun yang menyerupai kolam.

Dingin dan sejuk. Mrs Sabrina belum beraksi. Dia hanya melambaikan tangan dan memberi isyarat baru akan terjun sebentar lagi.

"Siska! Enggak ikutan mandi?" Tanya Lusi. Buka pakaian, dan terjun ke dalam air dengan hanya mengenakan celana pendek.

Bersama Bu Nina, Lusi saling cip rat-cipratan air. Menyelam dan berenang kesana kemari. Lalu duduk di bebatuan besar.

Agak ke kanan, Mr Clean dan pe numpang laki-laki pada duduk dia atas batu. Kemudian sama-sama melompat, masuk ke dalam air.

Mereka tertawa sambil bernyanyi bersama ...

" Andai kutahu betapa
Enaknya mandi di sini
Kenapa mesti cari yang lain
Sayang jauh dari tempat
kita berdiam
Tapi dingin
Menyejukkan hati ..."

Sementara para penumpang perem puan tak mau kalah. Mereka berte puk tangan sambil berdendang di atas batu besar kecoklat-coklatan ...

"Alanglah senang hati ini
Pikiran tenang
Tak susah hati
Kalau terus-terusan begini
Bisa awet sampai
Seribu tahun lagi ..."

Tak lama setelah itu ... Mr Clean mengajak rekan-rekannya sesama lelaki untuk saling bersahutan kata dengan Mrs Sabrina cs.

Semua setuju. Dimulai dari Pak Lebay versus Siska ...

Pak Lebay :

"Jalan-jalan ke kota besar
Bawa sayuran di dalam peti
Kalau adik memang kesasar
Bolehlah abang ikut menemani"

Siska :

"Jalan-jalan kita ke kota
Singgah sejenak di pasar besi
Terima kasih abang tercinta
Biar adik pulang sendiri."

Plak .. pak .. plak ... pak ...

Selanjutnya .. Pak Ahmad dan Bu Nina ...

Pak Ahmad :

"Bangun tidur makan mentimun
Setelah itu makan nangka
Duhai ibu kenapa melamun
Sering melamun cepat tua."

Bu Nina :

"Makan mie enggak pakai bihun
Dimakan berdua dengan si abang
Kenapa ibu sekarang melamun
Memikirkan abang enggak pulang-pulang ..."

Plak .. pak .. plak .. pak ..

Berikutnya .. Pak Daud dengan Bu Lusi ...

Pak Daud :

" Makan nasi lauknya basi
Meski basi dimakan juga
Kenapa adik bersedih hati
Mari joget kita berdoa."

Bu Lusi :

"Minum es makan roti
Dimakan berdua di dalam kamar
Kenapa adik bersedih hati
Menunggu abang tak kunjung melamar ..."

Plak ... pak .. plak .. pak ..

Kemudian Pak Rafli dan Leni ...

Pak Rafli :

"Makan nangka sendirian saja
Di luar rumah terang benderang
Kenapa adik tak suka saya
Jangan malu katakan terus terang."

Leni :

"Jalan-jalan ke tanah abang
Beli sepatu roda tiga
Kenapa adik tak suka abang
Abang sih berhati dua ..."

Plak .. pak .. plak .. pak ..

Terakhir Mrs Sabrina dan Mr Clean ..

Mr Clean :

"Buah apel enak rasanya
Dimakan berdua sama pacar
Kalau adik memang cinta
Kapan abang boleh melamar."

Mrs Sabrina:

"Habis beli baju di pasar besar
Jangan ngeloyor langsung ke rumah
Bukan abang tak boleh melamar
Sebentar lagi adik menikah .."

Plak ... pak .. plak .. pak ..

Kasihan deh luuuu ...

Tobe continued












Selasa, 26 September 2017

Goh-Gohda (8-TAMAT)

Novel ...


Goh-Gohda (8-TAMAT)
Oleh Wak Amin


15

NGAHATOK radu. Tinggal lagi ngo cet  rik magor. Supayo kaliyakan holau, Mang Rolan kilu pandapat mamang pakja.

"Cuba pai. Nyak ga andongi jak kuti pakja. Kintu bagawoh pas rik sai di lom utokkuja."

"Payu mun juksina," cakdu Mang Yahya, "Amun pandapatku langgar ko jugaya. Sobab, dijasa kan lokok sopi.

" Kintu pagarna robah, mak aman dayona. Asu kuruk. Macom-macomda. Amun ya langgar, mak pacak."

"Eeem. Tuwon munih. " Cakdu Mang Rolan. Mihya kintu langgarga mak bangik munih. Juk istana. Mak merakyat. Radu sina, mun cakku mahalda ungkusna."

"Makyawat munih Mang. Pacak-pacakda kita. Mun mak haga mahal umpamana, robahko cutik. Nambunko somenna."

"Mih, api lokok bangik ngaliyakna Mang Yahya?"

"Lokokda Mang. Kan nonti dicet pagarho."

"Payu. Tarima kasihda amun juksapona. Ganta nyak kapingin andongi ide jak Mang Latif."

"Amun cakku, makinda bupagar," torang Mang Latif sambil.maha ngikik.

"Ngapi juksapona Mang?" Tanyadu Mang Yahya.

"Mihya ditanomi bunga. Jadi bungana kita sopok. Kito posai nontukona. Bunga api sai cocok. Mun cocok ompai kita diritko juk kita angguwai pagar. Naaa .. Supayo kaliyakan holau, di tongah-tongahna tanoman nontina kita pasang kawat. Jadi jak luwah kaliyakan gogah ..."

"Satuju nyak rik pandapat Mang Latif," cawadu Mang Kafi. Mihya nyopok tanomanna sai payah. Dipaya nyopokna ..
Sina sai partamo. Karuwana, rawangdu pagar juksipa. Katolu, repotda kita. Mosti rajin buborsihan.

"Tuwon munih ... ," jolasdu Mang Rolan. "Kita dongi pai pandapat Mang Nasir, juksipaya."

"Mun nyak pagor biaso jugada. Mak langgar, makwat robah. Rawangna sai jadi. Ruwa hoda jadi. Kita liyakda nonti ..."

"Modelna Mang Nasir?" Tanyadu Mang Rolan, kapalang nanya sual pagar.

"Juksipa keinginan sai dok lamba han. Biaso bagawoh misalna. To ngahna juki bosi bulat. Disomin, radu. Cet ... Mudah angguwaina. Mak uniga. Ngaliyakna totop cindo. Mun cakku."

Rokob sangarobok.

"Nyak pai." Mang Kafi kilu waktu cawa.

"Lajuda Mang ...," cawadu Mang Latif. Ngakuk punti tingguring sai jak piring. Dikanik rik wai kopi.

"Mun cakku guwai siwoan jugaya. Amun maksina .. warung."

Ha ha ha ha ...

"Tuwon munih," cakdu Mang Yahya rik Mang Latif, ngapabola-i punti tingguring.

"Mih sopi dijasa Mang Kafi." Mang Rolan ragu nonti sai dijual mak ong ka sai ambolina. Malah kona ram pok jomoh.

"Sina sai tikarabaina," cakdu Mang Rolan, ngorah anggomanna angguwai lagi wai kopi.

"Mang Yahya?"

"Holau hoda mun diguwai warung. Warung basingda. Wat ya karupuk, siyabuku, minyak tanoh. Jajanan sanak, wai handak. Ngaliyak kaadaanda Mang. Supayo mamang mak nyolsol. Kabolah kirina dang pagor pai. Sisako cutik guwai warung ..."

16
"PADOKKO nihan somennana Mang Nasir," cakdu Mang Yahya. Radu angguwai pagor, tiyan pakja angguwai warung.

Makya wat balakga warungna. Juk garasi kamonada balakna. Rencana Mang Rolan, warungsa nonti anjual barang kalontongan, mun ya maju.

Munya makwat?

Sai laku jugaya. Umpamana rukuk, gula, kopi, siyabuku, minyak tanoh, bensin. Macom-macomda. Ngaliyak kaadaan.

Modal kok wat, cakdu Mang Rolan. Tinggal lagi radu lambahan rik ra wang, langsungda tiisi. Mih mak lamunga samantarosa. Nonti, po cak nambun sai amboli, ompaida ditambah.

"Di balakangna hoda Mang Yahya?" Tanyadu Mang Nasir.

"Kaunyinna Mang. Bolang-bolingda mun sija disomen, disan makwat."

Ha ha ha ha ...

"Mun mak tigawi, yo ditulungda," guraudu Mang Kafi. Mihya Mang Latif ngaharusko somendu pagar. Mari gampang ngocetna rik mangkilat.

"Ga ditulung payu, mak ditulung payu," cakdu Mang Nasir. Pocak haga miwang.

"Bak api losuho?" Mang Latif buhodak sangarobok. Ya ngaluahko jak calanana. Rukuk jambu bol.

"Ngudut pai Mang Nasir."

"Ngapi mak jakjona Mang Latif."

Rukuk disundut. Dihisap.

Sssssst ...

"Gogah muloh," cawadu Mang Nasir. Ruwa hisap, inumko wai kopi.

"Sina hortinanayo. Losu bakdu makkung ngudut ..." Nyahut Mang Yahya jak balakang. Maha ngikik.

"Cakku buntu .."

Ha ha ha ha ...

"Amun kita sai pangudutsa, bangik da buntu daripado mak ngudut. Bo nor mak Mang Nasir?"

"Layonda lagi bonor. Tuwon."

Ha ha ha ha ...

Dibina ...

Nyomen lantai. Gampang kaliyakanna. Padohal makwat. Sobab, di sakaliling warung, rumput kaunyin-unyin. Jadi diborsihko pai.

Radu diborsihko, tanohna diratako. Mihya kaliyakan padot. Radu sina, somen diaduk. Ompai nyomen

"Buguyur jugaya Mang," cakdu Mang Yahya. Ngaliyak Mang Nasir pocak kaloh-lohan.

"Istirahatda pai sangarobok. Nonti nyak anggawikona," cakdu Mang Yahya.

Tidipaya Mang Latif rik Mang Kafi?

Ngocet pagar. Diguyuri bagawoh. Lambahan gancang radu, Mang Rolan sonang. Pacak ditinggali sapa juga ga ninggalina.

Sambil ngocet, bunyanyida tiyan ru waja mih mak gancang bosan.

Mang Latif ...

"Guwai api sambol sina
Jak jona mak dikanik-kanik
Nyak kapingin ga ancuba
Kintu bagawoh rasana bangik .."

Mang Kafi ...

"Mimang sambolda guwai mamang
Supayo kuat mak losu lagi
Dikanik rik kan dunggak ranjang
Lambahan radu dapokda gaji ..."

Ha ha ha ha ...

Ngakuk imbir Mang Nasir. Mang Yahya ngakuk botol.  Ditabuh buruwa sambil bujoget.

"Joget samapai manom," cakdu Mang Latif.

Andongi tiyan pakja bunyanyi sambil nabuh imbir rik botol, kadongiyanda bak jolma liyu.

Sai-sai bupodok. Turuk bujoget munih.

TAMAT

Kamis, 21 September 2017

Goh-Gohda (7)

Novel ...



Goh-Gohda (7)
Oleh Wak Amin




12
"GUS, dipa umakmu hanjona?" Tanyadu Mang Nasir. Biyak ga minjak. Kapingin ga nginum. Bak api mak ngorah Agus bagawoh.

Sumangda. Wai sai diakukko anggoman rik anak sumang. Mak pacak bak apiya. Mungkin bagawoh bakdu sarasiyan.

"Bak .. Oi Ubak. Umak lokok nasak. Tunggu sangarobok cakna," cawadu Agus . Bingung ngaliyak ubakna pocak kahasangan.

"Ubak ga ngopi. Onti kuguwaiko."

"Mak api-api niku Ubak korah?" Icak-icaknana kilu ikhlasna mun dikorah. Padohal kapingin nihan nginum wai tingakuk anggoman.

"Makwat Bak. Saunisa pangrasaku nyak dikorah Ubak torus. Kugawiko. Alhamdulillah pacak kan Bak?"

"Layonda sina maksud Ubakmuja Gus. Mun niku wat gawe barih, lajuda pai. "

Mang Nasir ngaharop.nihan Agus luwah jak kamar. Konaiko ya posai rik Umakna ngantak wai handak.

Mihya Agus mak haga. Ya ompai luwah jak kamar pas Ubakna ngo rah ya muloh.

"Cawako, onti usungko wai handak. Gancangda," korahdu Mang Nasir.

Tidipada Agus?

Santai bagawoh. Ngaliyak Umakna radu angguring sopat siyam, gulai joh pagi. Ya sonang bakdu wai sai dihaga Ubakna sangarobok lagi ratong ...

"Mak. Ubak kilu wai handak," cawadu Agus rik Umakna. Nuangko wai di cirik, ga dijorangko. Wai di termos tinggal cutik, mun mak dijorangko, nginum rik wai api.nonti.

"Cawadu Ubak, Umak ngantak kona," cak Agus. Kintu nihan Umakna haga.

Agus hoda kapingin ngaliyak Ubak rik Umakna muloh juk paija. Tidipa-dipa kacah buruwa. Taka kuruk wese mak ulah posai.

"Niku jugaya Gus yo. Kok diliyak umakmu lokok anjorang wai," jawabdu umakna.

"Payu mun juksapona Mak."

Sambil nyangking golas balak isina wai, Agus nomuni Ubakna di lom kamar.

Kabotulan matana tipojom. Ga ngaminjakko Ubakna Agus rabai. Mihya, mun mak tiinjakko, idanya nginumna.

Sorba salah ...

"Bak .. Oi Bak."

Digalitik cutik di bah katiyak Ubakna, ngaraso goli mungkin, tiinjakda Mang Nasir.

Untung ya mak suya ..

"Nginum pai Bak. Radu sina ompai anggulik muloh."

Mang Nasir mak cawa. Bakdu ka haosan. Ga nginum wai handak. Dikapabolana. Mak busisa lagi.

Gleeeek ..

Geeek ..

Heeeeurgh ...

"Juksipa Bak. Bangik kan?"

"Sodop Gus. Dijuki apiya wai handaksa?"

"Mak ongka dijuki-juki Bak. Sa tongah panas. Hangok kuku cak hun ho ..."

"Oooo ... Juksina munih yo Gus."

"Iyuda Bak. Hortinana Ubak layon
da kahaosan."

"Mun juksina bak apiya Gus?"

"Mih kakurangan cairan bagawoh. Bakdu sinada, Ubak losu. Cuba ganta, rasaiko dapai Bak. Lokok losu Mak?"

Rogoh jak puk turui. Lapah cutik ulang uloh. Radu sina ...

"Mak lagi Gus."

"Api cakku kan Bak?"

Rawang kamar tibuka'.

"Api lagi nganik kan panas rik sop ayam, pasti juk superman Ubak muna Gus." Gurau Bik Nasir.

Ha ha ha ha ...



13
"MOJONG kiyai mun miyoh ho," to gur anggomanna waktu ngaliyak Mang Kafi miyoh togak di kamar mandi.

Ceeeer ...

Cuuuur ...

"Mak diliyak hun hoda Dik. Mak api-api kintu ..." Cakdu Mang Kafi. Luwah jak kamar mandi.

"Anak kok mouli. Mak bangikda ..."

"Mak katahanan lagi Dik. Kok ga tikayoh," jawabdu Mang Kafi. Bugan cang kuruk kamar. Anggulik muloh.

Bik Kafi, radu ngaliyak Yulia lokok turui, ya nutup rawang kuruk kamar lakina.

Nyeeet ...

Mang Kafi lokok turui ..

Heeeergh ..

Heeergh ..

Heeeergh ..

"Mak kambih. Ompai sada kuruk, lokok turui, landok munih. Mak parcaya nyak ah .." Cak Bik Kafi di lom hati.

Ya podoki lakina. Jak kabolah kiri, jak balakang huluna. Dipasatina hirung, banguk, alis mata rik cuping.

"Lokok cindo oi lakikuja. Mak salah nyak ngamilihnya paija. "

Bik Kafi ngahusap pipidu Mang Kafi. Bulanjut di buwok.

"Halom nihan. Sai juga makkung ongka uban."

Tok ... Tok ... Tok ...

Mari lakina mak minjak, Bik Kafi sai bupodok di rawang. Pas dibuka' anakna Yulia pocak karabaian.

"Rabai nyak Mak."

"Bak api? Kuruk ... Kuruk ..!"

Mojong podok kukutna Mang Kafi, Yulia bucurita ya jona buinipi ditutul asu.

"Digigikna Mak?"

"Makkung Mak. Cutik lagi. Bakdu wat mija. Nyak cakak. Si asu mak pacak cakak bakdu langgar, kira-kira samitirda."

"Untungda mak digigikna," cak Bik Kafi.

"Ngapida Mak?"

"Hortinana niku mak api-api," torang Bik Kafi.

"Kintu digigikna?"

"Bahaya ..."

Yulia tikanjot.

"Bahaya apida Mak?" Tanyadu Yulia. Ngating pungu indokna.

"Disopok hun .." Jawabdu Mang Kafi. Tiba-tiba minjak jak turui.

"Ah Ubakmuja juksijada. Bugurau-gurau hoda. Mak ongka barih. Icak-icak turui ..."

"Turui nyak Dik. Mih ngahoning kuti ruwa bucurita nyak minjak. Nyak rokob andongi bagawoh. Matasa sangajo mak kubuka' mari mak kanahan nyak kok minjak ..."

"Oooo juksina yo .."

Pak .. Pak .. Pak ...

"Adooow .."

"Raduda Dik. Sakik," jorit Mang Kafi sambil ngilakko pungu anggoman na sai mak buhodak nopuk punggungna.

"Mak ... Mak, raduda ...Nonti Ubak.mati."  Yulia nahan pungu Umakna.

"Ubakmuja. Kacah ga bugurau hoda jak jona."

"Dang ditabuk punggungna Mak. Mun punggung holau sina lobon kabolah juksipa?"

"Konaikoda. Mariya rasako posai. Kaliwatan. Anggoman payah bugawe di sanglolak, ya kabangitan turui."

Ha ha ha ha ...

"Ngapi niku maha Yulia. Tulung Umakmuja gancang ..."

"Lucu bagawoh Mak. Amun Ubak mak bupinggang, juksipa lapah yo Mak .."

"Dikui-kui ..."

He he he he ...


14

NOM bulan kemudian ..

Kretaaak ...

Plaaak

Kleteeek ...

"Mak karasaian. Kok ngahatok .." Cakdu Mang Yahya waktu ngakuk hatok gonting jak Mang Kafi.

"Hibatna lagi, santai kita ngahatok. Mak panas ga, pangrasaku. Tuwon mak?"

"Tuwon dayona. Hujan mak, panas ga mak. Pocakna mak kolu ngali yak kita bupanas-panas."

Di kabolah kanan ..

Podok teras. Mang Latif rik Mang Nasir kok radu ngahatok. Mih tinggal ngarapikona bagawoh.

"Alhamdulillah," cakdu Mang Nasir, ngolap hiting di pudakna.

"Haos mak Mang?" Tanyadu Mang Latif, pocak ga rogoh.

"Iyu Mang ..."

"Tungguda dija. Nyak bagawoh rogoh ngakuk wai inuman."

Tinggalda posai Mang Nasir.

"Sir .. Sir."

"Oi, api adok? Kok radu api?"

"Dijada pai," ajakdu Mang Kafi. "Bucuritada pai ..."

"Payu mun juksapona. Tunggu yo!'

Waktu Mang Latif cakak muloh ngusung termos wai handak rik cangkir palastik, Mang Nasir kok andongi Mang Yahya bucurita.

Curita api ya?

"Sir ... Mang Nasir!" Mak ongka jawaban. Ngaliyak kiri kanan mak ongka. Ompai tolu langkah tidopan, maha posai. Bakdu Mang Nasir mojog rik Mang Yahya, Mang Kafi.

"Oi. Ajak nyak oi ..."

Katolu-toluna nuleh.

"Dijada," cakdu Mang Yahya.

Apiya sai dicuritako?

"Amun tiyak jak hatoksa juksipada cakmu Mang Nasir?" Tanyadu Mang Yahya. Radu bucurita sual tukang tiyak jak hatok.

"Mun mak mati, patoh mamatoh .."

"Niku Mang Kafi?"

"Ngaliyak tiyakna hoda. Mun ya langgar, radu sina sai di bahna aspal, mati dayona. Mak kayawat urung lagi."

"Mihya," lanjut Mang Kafi, "Mun di bahna lawok, atau kasur rik kalam bu, juk partunjukan sirkus, insya Allah mak api-api."

"Tuwon cakmuna Mang Kafi," cawa du Mang Latif  sambil nuangko wai handak di lom golas. Diinum Mang Nasir. Jak jona haos.

"Amun tiyakna di lom wai, waina rolom, mak api-api. Mihya kintu mak rolom pacak mati."

Ha ha ha ha ...

Di bah podok tong sampah ..

"Kayaknya mereka senang ya Seng?" Oceng ngaliyak tiyan pakja jak jona maha torus.

"Mereka senang karena sebentar lagi rumah ini selesai," jawabdu Oseng. Maha munih.

"Kenapa kau ketawa Seng?"

"Aku senang aja Ceng."

"Kenapa?"

"Kita berdua bisa numpang di rumah ini. Benar enggak Ceng?"

"Kalau tak boleh bagaimana Seng?"

"Tak mungkinlah. Sebab, seperti kita-kita ini, tidak bisa di dalam, di luar rumah jadi. Asal bisa berteduh, cukuplah. Benar enggak Ceng?"

"Benarlah itu. Mudah-mudahan saja mereka tidak mengusir kita nantinya," haropdu Oceng.

Huuup ...

Bugilir nginum di cangkir sai. Radu nginum, bugawe muloh. Jam satu istirahat. Gawean kok podok radu. Tinggal lagi ngahatok sangkolak.

Waktu mamang pakja mongan gulai pindang botuk tiusung jak lambahan, Oceng rik Oseng bupodok.

Luwah lui munih ...

"Pingin juga aku Ceng."

"Tak usahlah Seng."

"Tak apa-apa kan?"

"Coba lihat dulu mamang empat ikokni. Kelaparan kayaknya. Kita tunggu saja di sini sampai mereka selesai makan ..."

Tobe continued

Rabu, 20 September 2017

Sakratul Maut




Tausiyah Malam Tahun Baru Islam 1439 H


Sakratul Maut
By  Aminuddin

ALLAH SWT telah berfirman :
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah SWT atau yang berkata : “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”
“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu.
Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (QS Al-An’aam 93-94).
“Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS Qaaf 19).

IKHWAL sakratul maut ini, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali menukilkan dua riwayat. Pertama, sebuah ha dist yang diriwayatkan dari Ibnu Syubrumah, ia berkata: “Aku bersama-sama As-Sya’biy pernah mene ngok orang sakit keras. Di dekat orang sakit itu ada seseorang yang menuntunnya untuk membaca kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah.
As-Sya’biy berkata : “Tuntunlah perlahan-lahan.” Orang yang sakit menyahut: “Anda tuntun atau tidak, aku tetap tidak akan meninggalkan kalimat tauhid itu. Kemudian ia membaca ayat yang artinya: “ … dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimah-kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” ( QS Al-Fath 26).
Mendengar ucapanya itu, As-Sya’biy berkata : “Alhamdulilllah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan sahabatku ini.”
Kedua, cerita tentang murid Fudhail bin Iyadh, bahwa ketika tanda-tanda kematian menghampiri murid itu, Fudhail menengoknya, lalu ia duduk di dekat kepalanya dan membaca surah Yasin. Orang yang tidak lain adalah muridnya itu berkata:
“Wahai guruku, janganlah anda membaca surah Yasin.” Maka Fudhail pun diam. Kemudian, Fudhail menuntunnya dengan kalimah tauhid: Laa ilaaha illallaah. Dia justru berkata : “Aku tidak akan mengucapkannya, sebab aku berlepas diri dari kalimat tauhid itu.” Akhirnya Fudhail itu mati dalam keadaan lepas dari kalimat  tauhid.
Setelah peristiwa itu, Fudhail menangis terus menerus selama empat puluh hari, tanpa keluar dari rumah, sebentar pun. Tidak lama kemudian, Fudhail bermimpi melihat muridnya itu diseret hendak dijobloskan ke dalam neraka jahanam.
Fudhail bertanya: “Apa yang menyebabkan Allah mencabut kema’rifatan dari hati anda padahal anda adalah muridku yang paling alim.?”
Murid itu pun menjawab : “Hal itu disebabkan tiga perkara, yaitu:

1.       Sebab menghasut. Aku biasa mengatakan kepada teman-teman berlainan dengan apa yang kukatakan kepada anda.

2.       Dengki. Aku dengki pada teman-temanku

3.       Aku mempunyai penyakit, lalu aku datang ke dokter. Aku menanyakan tentang kesembuhan penyakitku itu. Dokter mengatakan: “Anda harus minum segelas arak setiap tahun. Jika tidak, penyakit anda tidak akan sembuh. Maka, aku pun selalu minum arak.”

Selanjutnya, kata Al-Ghazali, aku ceritakan kisah tentang dua orang yang lain. Pertama, konon Abdullah bin Mubarak, ketika ajalnya sudah dekat, beliau menengadahkan mukanya ke langit, lalu tersenyum seraya berkata: “Untuk ini, seharusnya orang-orang beramal.”
Dan aku pernah mendengar Imam Haramain menceritakan dari Ustad Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Sewaktu masih belajar, aku mempunyai teman yang baru mulai belajar. Ia sangat  rajin, berhati-hati dan tekun beribadah.
Namun ia hanya sedikit bisa melakukannya dengan penuh kesungguhan. Hal itu tentu membuatku he ran. Pada suatu hari ia jatuh sakit. Tetapi ia tetap tinggal di pondokan di tengah-tengah para wali. Ia tidak mau berobat ke rumah sakit. Meskipun sakit, ia tetap rajin belajar.
Sementara itu, sakitnya semakin parah dan pada saat itu, aku berada di sampingnya. Dalam kondisi yang demikian itu, tiba-tiba kedua matanya terlihat menerawang menatap ke langit, seraya berkata kepada ku: “Hai Abu Bakar bin Furak, untuk hal semacam ini, seharusnya orang-orang yang beramal.” Akhirnya ia meninggal dunia pada saat itu, semoga ia mendapat rahmat Allah SWT.
Cerita kedua, sebagaimana yang diriwayatkan dari Malik bin Dinar. Suatu hari beliau masuk ke rumah tetangganya yang sudah semakin mendekati ajalnya. Tetangga itu berkata kepada beliau: “Hai Malik, ada dua gunung dari api berada di depanku. Aku berusaha mendaki keduanya.”
Lalu aku bertanya kepada keluarganya mengenai perbuatan yang biasa dilakukan. Mereka menjaewab: “Ia mempunyai dua macam sukatan (takaran) makanan, yang satu untuk menakar pada waktu membeli dan satunya lagi untuk menakar ketika menjual.”
Mendengar penuturan itu, aku lalu meminta dua takaran itu dan memukulkannya satu sama lain, sehing ga keduaya pecah. Selanjutnya aku tanyakan kepada tetangganya yang dalam keadaan sakratul maut itu.
Ia berkata : “Perkara yang aku hadapi semakin besar saja.”
Walllahu a’lam bish-shawab.