Novel ...
Lantak (3)
Oleh Wak Amin
6
RATUSAN anak buah Jojo bersorak-sorai kegirangan saat diberitahu oleh beberapa teman mereka yang baru saja pulang dari berburu, ada bangsa manusia tengah beristira hat di sebuah tempat tak jauh dari tanah perbukitan.
"Makaaaaan!" Teriak mereka. Su dah tak tahan ingin memakan daging manusia.
Mereka katagihan. Selain lembut, dagingnya Siska dan teman-teman nya yang mereka makan beberapa hari lalu itu benar-benar lezat.
Tak heran jika hampir tak diketemu kan sisa sedikit pun tulang belu lang yang berserakan di semak belantara.
"Sabar ... Sabar," kata Jajak, salah seorang anak buah dan sekaligus tangan kanan Jojo, menenangkan teman-temannya yang tampak kece wa karena sampai detik ini belum juga mengejar Letnan Salam cs.
"Wuuuuu ...!" Dengan nada kecewa pengikut Jojo melampiaskannya dengan menendang apa saja yang ada di sekitar mereka.
Malah ada di antaranya yang ber kelahi, penesan dan beragam prila ku sebagai pelampiasan rasa kece wa dan kesal. Masih untung mereka tidak mengamuk dan saling bunuh satu sama lain.
"Kita tunggu aja, kata Bos." Sahut Jojon sambil melirik Sang Bos yang mulai mendekat ke tempatnya ber diri dengan wajah seram tapi tidak menakutkan.
"Silakan Bos!" Kata Jajak. Bersama Jojon, keduanya berdiri di belakang Jojo.
"Para pengikutku. Dengaar ...Sekarang kita sama berkumpul di sini. Dan seperti yang kalian sudah tahu ... Kita sudah disiapkan hidangan lezat. Daging yang benar-benar luar biasa ..."
Ratusan pengikut Jojo hanya menunduk. Mereka tekun menyimak kata per kata yang diucapkan pimpinan mereka.
"Sekarang ... Dengarkan! Ayo kita kejar mereka. Siaaaaap?"
"Siaaap komandan." Teriak mereka. Dari semula duduk langsung berdiri dan siap melakukan apa yang diperintahkan Jojo.
"Serbuuuu ...!"
"Serbuuuu ...!"
Di bawah kendali dan arahan Jojo, ratusan makhluk belantara ini mu lai meninggalkan lokasi. Mereka mengejar dengan menyebar dari segala arah dan ingin secepatnya melumat habis Letnan Salam cs.
"Letnan. Coba dengar suara itu!" Ucap Miss Nancy. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh orang berteriak.
"Jangan-jangan mereka adalah makhluk yang memakan teman-teman satu penumpang dengan Mr Clean, Letnan ..."
"Mungkin juga. Oke, kalau begitu kita siap berangkat. Eeeem.. Miss, tolong kontak Clean. Katakan, kita kini dikejar makhluk asing."
"Siap Letnan Salam!"
Sementara Letnan Salam, Mr Jodi, Miss Nancy yang masih mengontak Mr Clean, dan anggota Tim I dan II mulai bergerak menghindari serbu an Jojo beserta pengikutnya, hujan mulai turun.
Walau tidak lebat, cukup menggang gu langkah kaki kedua tim penyela mat karena tanah yang mereka pijak dan lalui menjadi licin karena tersiram air hujan.
Mr Clean dan Mrs Sabrina, setelah mendapat kontak dan pemberitahu an dari Miss Nancy, bersiap hen dak meninggalkan lokasi yang mereka tempati saat ini.
Namun keinginan itu tak terealisasi setelah Mrs Sabrina berubah piki ran. Dia keberatan meninggalkan lokasi tempat tinggal mereka se karang karena sampai kini belum menemukan tempat lain selain berumah di tepian pantai ini.
"Apa tidak sebaiknya kita pikir ulang Clean untuk meninggalkan tempat ini," kata Mrs Sabrina di tengah hujan yang turun mulai lebat sore hari ini.
" Saya cuma kuatir, mereka akan menemukan kita. Nah, kalau sam pai mereka menemukan kita disini, habislah kita," jelas Mr Clean.
Keselamatan, kata Mr Clean, lebih utama dan penting ketimbang rasa aman dan nyaman karena sudah ada tempat berlindung di tepian pantai.
"Apa tidak sebaiknya kita tunggu Letnan Salam lebih dulu. Baru se telah itu kita pikirkan langkah selan jutnya," ujar Mrs Sabrina. Mulai di hinggapi rasa takut. Tak sepadan melawan Jojo dan anak buahnya yang kekuatannya justru jauh lebih besar.
"Baiklah kalau memang itu keinginanmu Mrs Sabrina. Saya coba kontak Letnan Salam lebih dulu ..."
Mrs Sabrina setuju, dengan demi kian mereka meminta Letnan Sa lam memberikan saran dan ma sukan menghadapi situasi seperti saat ini. Sayang, keinginan itu tak terpenuhi karena telepon seluler tak juga diangkat.
"Mungkin mereka sudah menuju ke kita, Sab." Kata Mr Clean. Dia ma suk rumah. Mengambil senjata yang berhasil ia selamatkan saat pesawat jatuh.
"Punya saya juga Mr Clean," teriak Mrs Sabrina. Yakin senjata merupa kan salah satu cara untuk melindu ngi diri dari marabahaya.
7
"TEMBAAAK ...!" Perintah Letnan Salam. Perintah mendadak ini di maksudkan setelah posisi Tim I dan Tim II pencari jatuhnya pesa wat Z1 kian terdesak. Kini mereka sudah berada di tepi bibir yang curam.
Hanya ada satu dari dua pilihan. Terjun dari tebing atau mela
wan dengan kekuatan penuh. Disepakati, Jojo cs harus dilawan dengan senjata. Karena lawan yang mereka hadapi ini adalah makhluk liar yang belum mengenal senjata modern.
Suara tembakan pertama kali terde ngar dari senjata Miss Nancy. Disu sul dengan berondongan peluru ya ng dilesakkan Mr Jodi dan anggota Tim I lainnya.
Hasilnya sungguh luar biasa. Lebih dari lima puluh pengikut Jojo tewas seketika dalam posisi berbeda. Mu lai dari tertelungkup, terlentang hi ngga mata terbelalak di bawah pohon besar.
Melihat banyaknya korban yang berjatuhan, Letnan Salam mengins truksikan pasukannya untuk mena han diri. Menunggu beberapa saat sebelum melepaskan tembakan berikutnya.
Sesaat taktik ini membawa hasil. Jojo dan anak buahnya belum juga menyerang, apalagi melepaskan anak panah dan tombak beracun.
Namun, ketika Letnan Salam mem balikkan badan untuk berbicara se jenak dengan Miss Nancy, sebuah anak panah melintas sangat cepat di depan matanya. Beruntung tidak mengenai kepala, hanya 'nuncep' di batang pohon
"Munduuuur!" Perintah Letnan Sa lam. Mereka memutuskan mundur beberapa langkah, lalu tiarap de ngan senjata siap ditembakkan.
"Seraaaang ..!" Teriak Jajak dan Jojon sambil berlari menuju ke persembunyian Letnan Salam cs.
Trot .. Toot .. Trot .. Toot
Tooot .. Tooot ...
Jegaaar ...
Trot .. Toot .. Trot ..
Toot .. Toot ..
Seluruh senjata Tim I dan Tim II di tembakkan secara terarah, lurus ke depan. Satu-satu anak buah Jojo berjatuhan. Anak panah yang dile paskan belum mengenai sasaran.
Jojo marah besar. Ketika tiarap sambil mengamati pergerakan Letnan Salam cs, dia menjewer telinga Jojon. Hanya diam dan pasrah. Siap menerima hukuman dari Sang Bos.
"Arahkan anak panahmu sekarang!" Perintah Jojo dengan nada marah dan setengah membentak.
"Lihat ke depan!"
"Siap Bos."
"Tungguuu!"
Belum ada gerak mencurigakan beberapa puluh meter dari depan mereka. Jojo baru memerintahkan Jojon melepaskan anak panah sete lah ada gerakan mencurigakan di dekat batang pohon besar.
Dia adalah Sersan Alif. Dia hanya menggerakkan tangannya untuk mengisi pelor. Lain tidak. Setelah pelor masuk ke sarang pistol, sebu ah anak panah meluncur cepat bagaikan kilat.
Druuuup ...
Peeek ...
Tepat mengenai tangannya. Saat itu juga lemas seluruh persendian badan Sersan Alif. Kejang-kejang dan dari mulutnya mengeluarkan busa, sebelum akhirnya tewas dengan tubuh membiru.
Letnan Salam tampak terpukul me lihat satu dari empat anak buahnya tewas kena panah beracun. Begitu juga dengan Miss Nancy dan Mr Jodi.
Mereka seakan tak percaya, dalam radius yang tidak dekat dengan po sisi sasaran yang antara kelihatan dan tidak, bisa melumpuhkan Ser san Alif yang sama sekali tidak menduga terkena serangan anak panah.
Letnan Salam tak sempat melaku kan tindakan lebih lanjut terhadap anak buahnya itu, lantaran puluhan anak panah meluncur ke arah me reka. Mereka harus berguling-gu lingan di rerumputan yang menye mak dan bersembunyi di balik pohon yang besar lagi tinggi.
Menyaksikan lawan mulai kewala han, Jojo memerintahkan anak bu ahnya maju ke depan. Berkali-kali berteriak .."Bunuh dan makan sampai habis."
Teriakan itu berhasil memompa se mangat pengikut Jojo yang sema kin beringas. Aksi heroik mereka perlihatkan dengan terus memukul mundur pasukan penyelamat.
Posisi mereka kini semakin tersu dut. Beruntung, di sebelah kanan bibir jurang ada jalan setapak yang menyemak. Dari sinilah mereka berlari dan menghindari kejaran Jojo dan pengikutnya.
Sepertinya Jojo dan pasukannya bakal kehilangan jejak jika tidak melihat sekelebat bayang-bayang Sersan Joni, Fredi dan Sersan Cha iri berlari paling belakang.
Jojo memerintahkan beberapa anak buahnya yang mahir melempar ba tu untuk lebih mendekat. Langkah cepat di tengah belantara mereka perlihatkan. Tanpa diperkirakan se belumnya, mereka kini semakin dekat ke tempat persembunyian Sersan Joni cs.
Mereka memutuskan untuk meman jat pohon, lalu melompat ke pohon satunya, berayun dan persis di atas kepala lawan, Jajak cs melompat dan memukuli secara bertubi-tubi anggota pasukan terlatih itu.
Sempat memberikan perlawan, na mun dengan bertambahnya jumlah anak buah Jojo yang datang untuk membantu rekan mereka, membuat Sersan Joni, Fredi dan Sersan Chai ri tak berkutik. Mereka akhirnya tertawan.
Setelah dipukuli sampai babak be lur dan tak sadarkan diri, ketiganya digotong rame-rame ke sebuah tem pat menyerupai tanah lapang de ngan gubuk-gubuk liar berdiri puluhan di sekitarnya.
Markas mereka ini belum banyak di ketahui pihak lain karena ditutupi semak belantara dan sisa dedau nan serta batang pohon yang biasanya dirobohkan untuk dijadikan kayu bakar.
Tobe continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar