Novel ...
Lantak (6)
Oleh Wak Amin
12
"LET. Sepertinya itu gua," kata Mr Clean. Dia menunjuk ke sebelah ka nan. Ada sebuah batu besar yang ditutupi semak belantara.
Sepintas tak terlihat. Tapi bila di amati dengan seksama baru tahu kalau itu gua. Posisi batu yang mi ring ke kanan, ada celah lubang.
"Kita dorong yuk Clean!" Miss Nan cy mencoba menggeser batu besar itu. Tapi tak bisa.
Namun setelah Mr Clean turun tangan, dibantu yang lain, batu malah bisa diangkat.
Dreeek ...
Cebleb ...
Lubang gua terbuka lebar ...
"Ayo Let!" Mr Clean memilih paling belakang masuk ke dalam gua. Dia hanya menutup depan lubang gua dengan ilalang sehingga tak tampak dari luar.
Di dalam gua suasanya gelap guli ta. Letnan Salam menyalakan korek api, kemudian sebilah kayu yang di bawa Mrs Sabrina saat masuk gua tadi, disulut.
Traaash ...
Jreees ...
Api agak membesar. Di depan Let nan Salam terhampar bebatuan dan dinding tanah.
Lebar gua seukuran badan orang dewasa, sehingga masih bisa leluasa meniti jalan berbatu itu.
"Mrs Sabrina. Cepetan sedikit dong." Mr Jodi kuatir jika lambat bukan mustahil akan terkejar oleh Jojo dan pengikutnya.
Karena besar kemungkinan Jojo sudah sangat hafal dengan seluk beluk belantara, dari yang besar hingga terkecil sekalipun. Apalagi hanya gua, pasti mereka sudah pernah memasukinya.
Apa iya?
Yang jelas, ketika sampai di mulut gua, Jojon dan Jajak tak langsung beranjak pergi. Keduanya meminta waktu pada Sang Bos untuk meme riksa keadaan sekitar.
Kurang lebih lima belas menit, Ja jak dan Jojon berhasil menemukan gua setelah memperhatikan dengan seksama setiap batu dan posisinya masing-masing.
"Pada lewat sini mereka Bos," kata Jajak. Menduga Letnan Salam cs belum lama masuk ke dalam gua.
"Sebaiknya kita susul sekarang Bos," kata Jojon. Mumpung belum jauh, akan lebih mudah mengejar Letnan Salam cs.
"Pasukaaaan ...!" Teriak Jojo.
"Siap komandan."
"Masuk satu ... satu." Perintah Bos Jojo. Tentu tak bisa cepat. Lima puluh orang harus masuk lubang gua yang tidak terlalu besar harus penuh dengan kesabaran.
Berkali-kali Bos Jojo meminta anak buahnya tidak saling dorong dan si kut menyikut. Semua akan keba gian. Semua akan masuk gua dengan selamat.
"Pelan-pelan." Ingat Bos Jojon sete lah melihat salah seorang anggota pasukannya buru-buru memasuk kan kepalanya, saling mendahului teman di dekatnya.
Meski gelap, Jojo dan pengikutnya, pelan tapi pasti, menelusuri jalan berbatu itu. Tak perlu alat pene rang. Mereka sudah terbiasa berja lan dan berlari tanpa penerangan.
Tepat berada di tengah gua, Letnan Salam cs berhasil keluar dari dalam gua dengan selamat. Sebelum me lanjutkan perjalanan, Mr Clean me ngambil ranting pepohonan yang su dah dibakar, lalu dimasukkan ke dalam gua.
Seketika api membesar. Saat itulah mereka menutup rapat pintu gua de ngan batu besar. Asap hitam me nyesaki ruangan dalam gua disertai ledakan kecil terdengar berulang kali.
Tak disangka sebelumnya, api yang semula kecil, semakin membesar dan membuat perih mata. Bos Jojo beserta pengikutnya dengan terpak sa kembali ke mulut gua.
Kendati tak ada korban jiwa yang berjatuhan, api dengan mudah di padamkan, Bos Jojo menunda pe ngejaran terhadap Letnan Salam cs.
"Cepaaat!"
Bos Jojo meminta anak buahnya ti dak panik. Kendalikan emosi dan mempercepat langkah kaki sebe lum asap dan sisa pembakaran menyebar lebih jauh.
13
KIRA-kira satu kilometer dari gua, Letnan Salam cs akhirnya mene mukan sebuah kapal yang bersan dar di tepian pantai yang di seki tarnya dinaungi pepohonan. Kapal besi itu lumayan besar, bertingkat tiga.
Betapa senangnya hati Mrs Sabrina dan Miss Nancy. Keduanya berlari kencang. Meninggalkan Mr Clean dan teman-teman mereka yang lain jauh di belakang.
Kapal itu masih bagus dan seperti nya masih layak pakai.
Tapi kenapa terdampar?
"Sudah ... Cepatlah kau naik Mrs Sabrina Muhsin."
"Okee ..."
Huuuup ...
Miss Nancy menarik kuat tangan Sabrina. Menaiki tangga dan sam pai di lantai paling atas.
"Clean!" Teriak Miss Nancy, me manggil-manggil sang kekasih hati dengan wajah sumringah.
"Letnan Salam. Cepaat!" Mrs Sabri na tak mau ketinggalan ikut memanggil Sang Bos.
Sambil berlari, Letnan Salam dan beberapa rekannya melambaikan tangan dan mengisyaratkan untuk secepatnya menuju kapal.
Setelah diperiksa, kapal berwarna hitam putih itu tidak berpenghuni. Tak seorang manusia pun yang ada di dalam kapal itu. Yang mengherankan, tak satu peralatan pun yang rusak.
"Sepertinya kita tak boleh berlama-lama di tempat ini." Maksud saya, kata Letnan Salam, setelah melihat Mrs Sabrina dan Miss Nancy cemberut, sebelum hari gelap, kapal ini sudah harus meninggalkan tepian pantai.
"Betul sekali Let," ujar Mr Clean. "Yang saya kuatir sekaligus yakin pasukan makhluk belantara, cepat atau lambat, akan menemukan kita di sini ..."
"Betul Let. Ayo kita jalankan kapal ini, " kata Mr Jodi. Semua sepakat, Mr Jodi buat sementara ini yang pegang kendali.
Ternyata, setelah dicoba untuk me nghidupkan mesin kapal, mudah. Tapi perlu waktu hampir lima belas menit agar kapal laut ini bisa bergerak.
Begitu kapal pelan-pelan meninggalkan tepian pantai, Miss Nancy dan Sabrina mulai bisa tersenyum ceria.
Keduanya berteriak-teriak, namun kemudian diam setelah dari kejauhan melihat rombongan pasukan Jojo.
"Let. Coba lihat!" Setelah Miss Nancy menunjuk ke depan, terlihat Jojo dan pasukannya mulai mendekat.
Semua bergegas dan berharap kapal penumpang dan barang ini bisa dengan cepat meluncur ke tengah lautan.
"Bisa gawat kita Bos," ucap Mrs Sabrina. "Mereka pasti sangat marah dan bertekad menghabisi kita semua ..."
"Mereka tak membiarkan kita bisa lolos dan selamat meninggalkan pulau ini," jelas Miss Nancy.
Dia bertekad tak akan menyerah, meski terdesak karena kalah jumlah orang.
"Lebih baik mati daripada menyerahkan diri pada mereka," lanjut Miss Nancy. Mr Clean yang berada di dekatnya hanya senyum-senyum saja.
"Aku ikut kamu aja Miss Nancy," ledek Mr Clean, disambut derai tawa serempak menghiasi ruang kemudi kapal.
Alhamdulillah, kapal, meski lambat, mulai bergerak. Beberapa anak panah mulai dilepaskan para pengikut Jojo.
Tak satu pun yang mengena. Hanya mengenai badan kapal sebelum jatuh ke dalam air.
"Tembaaaak!" Pekik Letnan Salam menjawab kian bertubi-tubinya anak panah diluncurkan anak buah Jojo.
Selain Mr Jodi dan Letnan Salam, semua melepaskan tembakan ke sasaran. Ada yang kena. Tewas. Ada juga yang meleset, hanya mengalami luka ringan.
Tampak Bos Jojo marah besar. Berkali-kali dia mendorong anak buahnya untuk lebih mendekat ke kapal yang mulai meninggalkan tepian pantai itu.
"Bodoh. Yang cepat larinya." Bentak Bos Jojo. Seketika itu juga tiga puluh pengikut Jojo yang masih tersisa berhasil merapat ke kapal. Mereka melepaskan anak panah.
Tanpa diduga sebelumnya, enam anggota Tim 1, temannya Mr Jodi dan Miss Nancy, terkena anak panah beracun.
Saat itu juga mereka tewas terjatuh dari atas kapal. Jeritan Miss Nancy menambah tekad Mrs Sabrina untuk menghabisi pasukan yang dipimpin Bos Jojo.
Desingan peluru yang dilesakkan bertubi-tubi berhasil memukul mundur anak buah Jojo. Hanya menyisakan Jajak dan Jojon. Semuanya tewas bergelimpangan.
Bos Jojo marah besar ...
"Serang dengan anak panah!" Perintahnya pada Jajak dan Jojon. Meski tepat sasaran, karena kapal sudah mulai menjauh ke tengah, anak panah yang diluncurkan tak mampu mencederai Miss Nancy dan Sabrina.
Ketidak-berhasilan Jojo cs menangkap dan menghabisi Letnan Salam cs membuat Mrs Sabrina berlega hati. Tidak demikian dengan Bos Jojo.
"Bodoh semua. Coba berenang tadinya," bentak Bos Jojo, merasa keliru menerapkan taktik penyerangan.
"Riskan Bos," jawab Jajak membela diri.
"Riskan apanya haaa?" Dia cekik leher Jajak, tapi dicegah Jojon.
"Jangan Bos. Kita tinggal bertiga. Kalau dia mati berarti tinggal berdua. Nah, kalau Bos ..."
"Bos apa haaa?"
"Maksud saya, kalau saya juga mati, Bos tinggal sendirian. Ngeri Bos," kata Jojon coba mendinginkan keadaan yang mulai memanas pasca tewasnya rekan-rekan mereka yang lain. Kena tembakan yang dilepaskan Miss Sabrina dan kawan-kawan.
Tobe continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar