Novel ...
Lantak (8)
Oleh Wak Amin
17
INSPEKTUR Polisi Smith pada akhirnya memutuskan untuk mengirim tim khusus guna mencari keberadaan dua anak buahnya, Mr Jodi dan Miss Nancy.
Tim beranggotakan empat orang itu berangkat menuju lokasi pencarian menggunakan pesawat kecil berke mampuan besar yang sudah sering digunakan dan teruji dalam mela kukan pencarian di kawasan pegu nungan, bukit dan hutan belantara.
"Jadi tugas utama kalian adalah menemukan mereka," jelas Inspektur Smith pada tim pencari yang dipimpin Kapten Budi dengan tiga anak buahnya masing-masing Sersan Mulia, Prawira dan Sersan Darma.
"Saya Inspektur." Sersan Mulia menanyakan ikhwal pesawat yang jatuh, keadaannya sekarang dan kemungkinan untuk melakukan tindakan pengamanan lebih lanjut.
"Itu tak usah kau pikirkan Sersan Mulia. Yang penting sekarang kalian fokus menemukan Miss Nancy dan rekan-rekan yang lain."
"Target kita berapa lama Inspektur?" Tanya Sersan Prawira.
"Secepatnya," kata Inspektur Smith. "Lebih cepat lebih baik."
"Apakah sudah diketahui posisi mereka sekarang, Inspektur?"
"Belum Sersan Darma. Tapi diperkirakan mereka sekarang berada di titik ini," terang Inspektur Smith, menunjuk ke titik putih yang tertera dalam peta dunia.
Titik putih itu diapit gunung, hutan belantara dan lautan lepas.
"Ada kemungkinan mereka sekarang berada di lautan," beber Inspektur Smith. "Soalnya ada sinyal samar-samar sebuah kapal meninggalkan titik biru."
Titik biru itu posisinya tak begitu jauh dari titik putih. Titik biru adalah daratan yang bisa digunakan untuk mela buhkan kapal bila memang tidak ada pelabuhan dengan syarat kedalaman air sangat memungkinkan bagi kapal untuk berlabuh.
"Sayangnya, sinyal itu kemudian hilang. Sudah dicoba cari tahu, tapi hasilnya nihil," kata Inspektur Smith
"Kapan terakhirya terlihat Inspektur?"
"Kemarin pagi Kapten." Makanya, kata Inspektyr Smith, "Saya ambil keputusan mengumpulkan kalian disini untuk menemukan titik temu dan titik sepakat."
"Baiklah kalau begitu Inspektur. Kapan kita segera memulai ...?"
"Sekarang juga Kapten."
"Siap laksanakan Inspektur," jawab Kapten Budi, Sersan Mulia, dan Sersan Prawira serempak.
Tersirat kepercayaan diri yang be sar dari personil tim besutan In spektur Smith ini. Mereka yakin bisa menemukan Miss Nancy cs secepatnya. Tak ada kata gagal, apalagi pulang dengan tangan kosong.
Sementara itu, Mr Clain dan Mr Jodi sudah selesai mengutak-atik mesin kapal. Kini kapal sudah bisa melaju lagi. Tidak hanya berputar-putar seperti sebelumnya.
Namun masalah baru muncul. Kompas kapal tiba-tiba ngadat. Kini Letnan Salam hanya mengandalkan keker. Sejauh ini berjalan lancar. Karena cuaca cerah dan siang hari ..."
Bagaimana jika malam hari?
Lampu kapal tiba-tiba padam. Baik lampu luar maupun lampu penerang bagian dalam kapal. Diambil keputusan, semua berkumpul di ruang kemudi. Tak boleh terpisah karena akan sulit berkoordinasi dan melakukan koordinasi.
"Kita coba alat ini," kata Mr Jodi. Dia nyalakan korek api dan dengan korek api itu dia turun ke lantai dua.
Rekan-rekannya yang semula mencegahnya hanya bisa pasrah setelah tahu Mr Jodi akan mencari belor atau apalah di lantai dua. Mungkin saja ada. Sebab, kalau tidak ada lampu berarti sepanjang malam, dalam dan luarbkapal, serba gelap gulita.
"Kamu disini saja Clain," pinta Miss Nancy.
"Duileee. Takut ya?!" Ledek Sabrina. Sementara Letnan Salam yang pegang kemudi hanya senyum-senyum saja, walau tersamar karena gelap.
"Kita tunggu Mr Jodi. Mudah-nudahan dia menemukan ap yang kita bersama inginkan," kata Mr Clain.
"Kalau tidak ketemu Mr Clain?" Pancing Sabrina sambil melirik rekannya Nancy yang duduk di lantai mengutak-atik hape yang tak juga mau menyala.
"Gantian saja mencarinya," jawab Mr Clain sekenanya.
"Saya ikut Clain," sahut Miss Nancy.
Ha ha ha ha ...
"Horeeee ... Dapaaat." Teriak Mr Jodi berkali-kali . Baru berhenti.berteriak setelah sampai di ruang kemudi.
18
"INSPEKTUR Smith ..."
"Halo Inspektur Smith."
Kapten Budi melaporkan sampai pagi ini kondisi cuaca sangat tidak memungkinkan dilandasi pesawat. Sangat berisiko.
Namun ketiga anak buahnya, Sersan Mulia, Darma dan Sersan Prawira menyarankan unatuk memilih cara lain.
"Tapi itu sangat jauh Inspektur," kata Kapten Budi menjawab komentar sang pimpinan atas saran yang diajukan Sersan Mulia dan kedua rekannya.
"Sejauhmana Kapten?"
"Diperkirakan dua sampai tiga kali jika menempuh jalan lurus ke depan," jelas Kapten Budi.
"Baik. Apa bisa dipastikan jalan pintas yang kalian tempuh itu nantinya lebih aman?"
"Untuk riilnya belum bisa dipastikan Kapten. Tapi diperkirakan cukup aman."
Kapten Budi berpendapat akan lebih baik menunggu beberapa jam sampai cuaca kembali normal.
"Oke ..."
"Bagaimana Inspektur?"
"Tunggulah beberapa saat, apa yang bakal terjadi. Tapi saya sarankan untuk cepat mengambil keputusan dan bertindak jika situasinya sangat membahayakan ..."
"Baik Inspektur."
Setengah jam kemudian, langit tiba-tiba gelap. Hujan turun lebat. Ombak bergulung-gulung menghempas pantai. Petir sambar menyambar.
Kapten Budi memutar pesawatnya ke kanan. Tetapi kemudian pesawat oleng setelah disambar petir. Dia berusaha memacu pesawat ke tepi pantai, agar aman.
Craaaash...
Triiiing ...
Duaaaar ...
Gaaaar ...
Celedug ..
Ekor pesawat terbakar. Sersan Mulia coba mendekati ekor pesawat. Sayang tersapu ombak yang me ninggi. Menjungkalkan pesawat. Tenggelam bersamaan sambaran petir berulangkali dan hujan yang turun semakin lebat.
Inspektur Smith masih mendengar suara Kapten Budi yang melaporkan kondisi pesawat yang kurang baik.
Setelah dipastikan tewas, karena hampir setengah jam komunikasi terputus, Inspektur Smith kembali menggelar rapat darurat. Rapat fokus membahas nasib Miss Nancy dan Mr Jodi.
"Kita akan bentuk tim baru," kata Inspektur Smith. "Kita tidak boleh menyerah. Kita harus kuat. Mati empat, tumbuh lagi lebih dari empat."
Tim baru ini punya tiga tugas. Pertama, menemukan keberadaan Kapten Budi cs. Kedua, menemukan Miss Nancy dan tim pencari pesawat yang jatuh. Ketiga, menemukan bingkai dan sisa badan pesawat yang jatuh di hutan belantara.
"Ketiga-tiganya diusahakan harus dapat," harap Inspektur Smith.
"Saya mengusulkan lima orang Inspektur. Satu orang perwakilan dari masyarakat," usul Kopral Jono yang disambut tepuk tangan teman-temannya.
Kopral Jono memang pelit bicara. Apalagi mengusulkan sesuatu kecuali diminta.
"Hidup Kopral Jono ..."
"Hidup Kopral Jono." Teriak teman-temannya dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangan memberi semangat.
"Sudah ... Sudah. Ini bukan kampanye. Ini rapat kilat dan darurat." Inspektur Smith meminta anak buahnya menyiapkan kelima nama yang akan bergabung dalam Tim Batik.
"Saya usulkan Pak Inspektur," kata Sersan Rudi, "Kopral Jono ketua timnya. Setuju kawan-kawan?"
"Setujuuu .."
"Setujuuuu ..."
Kopral Jono sendiri, ketika dimintai pendapatnya, tak keberatan ditunjuk sebagai komandan Tim Batik. Hanya dia menyarankan empat teman yang akan mendampinginya bisa diajak bekerja sama.
"Ini adalah tim. Tidak boleh bertindak sendiri-sendiri. Jadi harus satu dalam sikap, bertindak dan memutuskan," terang Kopral Jono.
"Terima kasih Kopral Jono. Saya sangat gembira atas kesediaan anda menjadi ketua tim Batik ini. Mudah-mudahan sukses menyertai anda dan tim anda nantinya ..."
Sebelum diakhiri, peserta rapat memutuskan empat nama yang akan mendampingi Kopral Jono. Mereka adalah Kopral Paiman, Anwar, Kopral Daud dan Ki Saleh.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar