Serial Mafia
Mawar Mewangi (4)
Oleh Wak Amin
"BELUM keluar mereka Man." Kata Santi. Merasa haus. Dia keluar sebentar. Membeli minuman dan se telah itu masuk lagi ke dalam mobil.
Rahman menelepon atasannya, Letnan Komar ...
"Apa kamu sudah pikir matang-matang Man?" Tanya Letnan Komar.
"Sudah Pak."
"Maksud saya, sebaiknya kamu ikuti saja dulu. Setelah tahu posisi persis
mereka dimana, kamu lepas dan baru kita kepung keesokan harinya atau
di hari yang kita tentukan kemudian ..."
"Lama Let," kata Rahman.
"Enggak apa-apa Man."
Pembicaraan terhenti sejenak ketika mobil yang dikemudikan Taici keluar dari areal pemakaman.
"Maaf Let. Saya harus secepatnya menyusul mereka," ujar Rahman. Menutup telepon, dia mengejar mobil Taici.
Setelah agak dekat, Rahman memperlambat laju mobilnya ..
Di lampu merah ...
Rahman sengaja mendekatkan mobilnya karena mobil di depannya berbelok arah ke kanan.
Kini mobil keduanya dalam posisi sejajar ...
Lampu masih merah ...
Rahman membuka separo kaca mobilnya ...
Rahman menoleh ...
"Sore Ooom ..." Sapanya sambil melempar senyum. Yang disenyumi, Taici, membalasnya dengan sinis dan marah.
"Keparat ..."
"Kenapa Ci?" Tanya Tauco. Wajar dia bertanya. Pasalnya, cuma Taici
sendiri yang melihat Rahman, se mentara ketiga rekannya tidak sama
sekali.
"Tembaaaak ...!"
Door ...
Dooor ...
Dooor ...
Tauco mengeluarkan kepalanya, lalu melepaskan tembakan sebanyak tiga kali.
Tidak kena. Justru yang kena ada lah pengemudi becak. Becak terbalik, berguling-guling sebelum masuk parit besar.
Taici semakin bernafsu mengejar Rahman dan Santi. Saking bernafsunya,
dia menambah kecepatan maksimal dengan melewati beberapa mobil dan
motor di depannya.
Sempat memepet tiga menit kemudian, hanya dipisahkan sebuah mobil di
depan, ketika Tainen dan Taisek hendak melepaskan tembakan, Rahman
membelokkan mobilnya ke lajur kiri.
"Busyet tuh orang .." Tauco geram.
"Gila. Benar-benar gila," sahut Taisek, tak kalah geramnya.
"Kampang ..' Ujar Tainen. Tak bisa lagi menahan rasa geramnya. Tak ada
kata-kata ia pilih lagi untuk diu capkan selain sumpah serapah dan
kata-kata kotor menjijikkan.
" Gantian gue yang nyetir Ci." Tainen ingin mobil lebih cepat lagi melaju. Bila perlu terbang ke udara kayak pesawat terbang.
"Gila kamu Nen. Kalau kita mati gimana coba?" Taisek mengingatkan.
"Dikubur saja. Beres ..."
Hua ha ha ha ..
Di depan sebuah ruko ...
Ueeeekh ...
Ueeeekh ...
Santi tiba-tiba muntah. Rahman membantu mengurut bagian belakang teman sekerjanya itu.
"Terus .. Terus muntahkan."
Santi terpaksa jongkok agar lebih mudah mengeluarkan paksa isi perut.
Tapi tidak bisa. Bukan karena tidak mau keluar, sementara Taici cs kian mendekat.
"Cepat masuk San!"
"Oke. Oke .."
Mobil melaju, Santi meneruskan muntahnya dengan diwadahi kantong plastik hitam berukuran sedang.
"Sorry ya Santi."
"Ya, enggak apa-apa."
Guuuar ...
Dooor ...
Kali ini tepat sasaran. Bodi belakang mobil pecah dan retak. Untunglah, peluru yang dilesakkan tidak berhasil menembus kaca.
Justru terpental ke aspal dan mengenai ban motor yang sedang berbelok, terjatuh menyusur ke pinggir jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar