Serial Mafia
Mawar Mewangi (11)
Oleh Wak Amin
"ADUH ... Menges gue Co." Kata Taisek, kepayahan. Bersandar di dinding sebuah ruko yang sudah tutup.
Magrib tiba ...
Azan berkumandang ...
"Kemana Sek? Mau shalat?"
Ssssst ...
"Kencing tau .."
Selang beberapa menit kemudian, Rahman sudah tiba di kediaman Santi. Dia
ingin mengajak rekan se kerjanya itu memburu Taisek dan Tauco.
"Sepertinya mereka kesana Man," ucap Santi menunjuk ke sebelah kanan, simpang empat menuju jalan protokol.
"Ayo cepat!"
Kletek ... Kletek ...
Mengunci rapat pintu.
Malam datang. Lampu mulai menyala. Menyinari terang di setiap sudut
jalan. Suara klakson mobil sesekali terdengar, seolah bersahut-sahutan.
Cuaca cerah. Tak ada tanda-tanda bakal turun hujan malam ini.
"Letnan Sayuti. Ini saya, Rahman."
"Terus kejar Man. Mana Santi?"
"Lagi melamun Let."
Ha ha ha ...
"Oke .. Kejar terus dan laporkan kepada saya perkembangannya."
"Siap Let."
Rahman mulai memacu mobilnya. Melewati lorong-lorong kecil di pusat
kota. Setiap warung mereka sing gahi. Sekadar ingin memastikan apa
mungkin Taisek dan Tauco melewati lorong beraspal mulus itu.
Sepuluh lorong mereka lalui. Tapi keberadaan Taisek dan Tauco tak juga diketahui.
"Kita lanjutkan besok saja Man." Usul Santi, yang kelihatan masih belum fit setelah berduel seru dengan Taisek dan Tauco.
"Tanggung San. Coba kita ke kafe-kafe ya ... Please."
"Oke."
Di perempatan jalan ...
Taisek menghentikan mobil yang dia sopiri di pinggir jalan dekat beberapa warung jajanan. Keduanya mau ngopi sejenak sebelum menemui Sang
Bos.
Sedangkan dua rekannya yang lain, Taici dan Tainen baru kembali dari
pelabuhan, mengawasi pengiriman barang yang didatangkan dari luar
negeri.
Sambil bercengkrama, Taisek mengatakan pada Tauco bahwa impiannya kelak ingin sekali menjadi The Big Bos.
Hua ha ha ha ...
"Tak bakalan terwujud Bro."
"Kenapa?"
"Dari tampangmu saja enggak ada," ledek Tauco.
"Memang tampangku ini kurang pas apa Bro?"
"Ya ialah. Kalau calon Bos itu kan ... Enggak pelit. Suka membantu teman dan cepat bertindak, mengambil keputusan."
"Tapi boleh saja aku bermimpi Bro."
Ha ha ha ha ...
"Ya ialah. Kalau cuma bermimpi, siapa yang larang."
"Yuk kita sikat."
Selain kopi hangat, Taisek juga memesan nasi goreng panggang ayam dan soto serta beberapa tusuk sate kambing dan ayam.
Dari dalam mobil seberang jalan ...
"Kamu yakin mereka San?" Rahman 'mengeker' ulang posisi Taisek dan Tauco
yang tengah melahap nasi goreng bersama pengunjung yang lain.
"Coba kau lihat lagi," pinta Rahman, supaya lebih jelas dan meyakinkan hati.
"Kalau seperti ini, gemuk juga kita Bro," kata Tauco sambil menyeruput kopi.
Ha ha ha ha ...
"Tul Bro. Tapi ya itulah .."
"Itulah kenapa Bro?"
"Dompetnya bolong .."
He he he he ..
Santi tersenyum lega.
"Tak salah lagi Man. Mereka lah yang mengeroyok saya tadi," aku Santi.
Darahnya mulai mendidih. Ingin sekali dia menghajar Taisek dan Tauco.
"Tahan emosimu San." Rahman beranggapan akan lebih baik menunggu
incaran mereka meninggalkan warung jajanan ketimbang harus turun sekarang dari
mobil, mengamankan Tauco dan Taisek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar