Senin, 07 Mei 2018

Mawar Mewangi (13)

Serial Mafia

Mawar Mewangi (13)
Oleh Wak Amin




KEESOKAN malamnya ...

Tepat tengah malam

Taici secara kebetulan keluar dari gedung berlantai tiga sekadar untuk 'makan angin' melihat semak belukar tak jauh dari tempatnya berdiri bergerak-gerak.

Penasaran, Taici mendekat ke semak belukar tadi itu. Baru dua langkah melewati jalan bersemak itu, ada moncong senjata menem pel di leher belakangnya.

"Tiarap cepaaat ...!"

Praaak ...

Jegraaak ...

Menolak bertiarap, jatuh tersungkur kena tendang Santi di bokongnya. Muka berlepotan tanah rerumputan.

Reeet ..

Druug ...

Diseret ke dekat pohon. Karena tak juga mau mengaku, Taici jadi bulan-bulanan Santi.

Babak belur wajahnya.

"Cepat katakan. Ada berapa orang di dalam sana?" Bentak Rahman.

"Sep ... Sepuluh."

"Bohong kamu. Pasti lebih dari sepuluh," kata Santi.

"Kalau nona tak percaya, masuk sendiri ke dalam sana. Hitung .." Jawab Taici dengan hidung dan mulut berdarah-darah.

Santi naik pitam. Kembali hendak memukul kepala Taici. Dicegah Letnan Sayuti yang baru saja buang air kecil di belakang mobil.

Sempit tempatnya. Jalan setapak bersemak, lelaki periang ini harus menginjak semak agar lebih leluasa saat buang hajat kecil.

"Ikat sajalah Man." Perintah Letnan Sayuti. Diikat di pintu mobil. Supa ya tidak bergerak kemana-mana. Tangan dan kaki diikat.

"Lepaskan saya nona polisi," rengek Taici.

Dia meronta. Dia 'terajangkan' pintu mobil. Dibalas Santi dengan memukul dengkul Taici.

Uuugh ...

"Saya tembak atau diam?" Santi menempelkan moncong pistol ke alat kemaluan Taici.

"Pilih sekarang. Diam atau saya tembak rudal kamu. Paham?"

"Paham nona."

"Apa?"

"Diam nona."

"Bagus."

Mulut disempal, kedua tangan dan kaki diikat, Taici tak berdaya. Jangankan berteriak, berucap saja dia tak bisa. Mulut terkatup rapat. Ditutup dengan lakban.

"Ayo Non Santi!"

Berdua Rahman, Santi mengendap-endap menuju markas Siao Lung. Letnan Sayuti menyusul belakangan.

Dia berhenti di pintu pagar. Pintu besar terkunci amat rapat. Pintu kecil terbuka. Tidak terkunci.

Iiiiech ..

Iiiiech ..

Tak juga bisa masuk. Mencoba memanjat, tapi tak bisa. Justru terjatuh. Nyaris masuk parit.

Gedebug ....

Rahman dan Santi menoleh.

Geli bercampur kasihan ...

"Biar aku saja. Kamu awasi di sini ..," kata Rahman.

Dia berharap incaran mereka di dalam gedung tidak mengetahui kondisi terkini di luar gedung.

"Tarik Man. Cepaat!"

Sekuat tenaga ditarik, Letnan Sayuti belum juga bisa bangun dari jatuhnya.

Santi turun tangan ...

Keduanya menarik sekuat mungkin tangan Letnan Sayuti. Sampai memerah muka keduanya.

Sempat terduduk ketika berhasil menarik tangan Letnan Sayuti. Bangun dan berdiri sambil berpegangan di tiang besi pagar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar