Minggu, 22 Juli 2018

Entar Ya (4)

Entar Ya (4)
Oleh Wak Amin

HIIIK ...

Suara ringkik kuda ...

Mengagetkan warga Desa Sumber Alam ...

Kuda bendi Ki Doyok berputar arah. Berhenti sejenak. Menoleh ke keru munan warga di belakangnya.

Hiiiik ...

"Ayo semua!" Teriak lelaki berpostur tinggi tegap.

Bersama puluhan remaja lainnya, ia berlari mengikuti kemana arah per gi si kuda bendi.

Semak belukar dilewati ...

"Awas batu!" Teriak remaja ceking bergigi ompong.

"Loncat aja," jawab beberapa rema ja.

Satu-satu melompat. Giliran remaja terakhir yang melompat, badan ge muk besar, tak terlompati.

Kakinya menyentuh batu dan terjadilah ...

Bruuuug ...

He he he he ...

Teman-temannya pada tertawa ge li. Lebih geli ketika si gendut mau berdiri. Tapi tak bisa.

Kenapa?

Karena kaki kanannya berada tepat di bawah batu. Terjepit sih tidak. Ta pi bagi mereka yang berbadan ge muk susahnya minta ampun.

Buktinya, beberapa temannya ter paksa membantunya dengan cara mendorong batu dan menarik kaki si gendut.

Tak mudah. Perlu waktu lima menit lebih sedikit. Semua berkeringat, ter masuk si gendut. Lepas itu, baru
menyusul teman-teman lain yang sudah mendahului mereka tadi.

Di tempat berbeda ...

"Rasakan jurusku ini orang sab leng."

Pak Bendo berputar-putar sambil berteriak lantang ...

"Hancurkan ...!"

Sebuah mata pisau melesat cepat dari tangannya mengarah ke dada Ki Doyok.

Bleeesh ...

Praag ...

Dengan satu tangkisan menggu nakan tangan kanan, mata pisau itu pun jatuh ke tanah ...

Pak Bendo kaget ...

"Keparat ..."

Dia pandangi wajah Ki Doyok de ngan pandangan tajam. Ingin seka li rasanya ia menelan bulat-bulat musuh di depannya ini.

"Cuma segitu kehebatanmu kisanak?"

Ha ha ha ha ...

"Lebih baik pulanglah kau sebelum besok kau tak bisa melihat cahaya sinar matahari lagi ..."

Hua ha ha ha ...

Merasa terhina. Naik pitam Pak Bendo jadinya.

"Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini Pak Bendo."

Semula, karena gengsinya, Pak Bendo bersikeras meladeni tan tangan Ki Doyok.

Namun, ajakan si gondrong meru bah pikirannya setelah tahu pulu han warga Desa Sumber Alam da tang sambil menunjuk-nunjuk  Ki Doyok yang berdiri tegap meman dang teduh Pak Bendo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar