Entar Ya (5)
Oleh Wak Amin
"KAMPRET ... Kuat juga Ki Doyok itu rupanya. Tak sangka aku," puji Pak Jaya saat mereka terengah-engah usai melarikan diri.
"Bukan lagi kuat. Tapi sakti mandra guna," kata Sofan. Diam-diam me ngagumi Ki Doyok. Berkharisma dan berilmu tinggi.
"Apa kalian bilang?" Bentak Pak Bendo. Pengakuan jujur itu telah menyinggung perasaannya seka ligus menurunkan pamornya di mata Pak Jaya dan Sofan.
"Anu Bos. Anuuu ..." Sofan terbata-bata.
"Ki Doyok itu bukan orang semba rangan Bos rupanya." Pak Jaya co ba menjelaskan duduk soalnya.
"Siapa bilang orang sembarangan? Kalian kan?"
"Iya Bos. Kami ," aku Pak Jaya, "Kami kira ilmu beliau biasa-biasa saja. Eee ternyata luar biasa ..."
He he he he ...
"Kenapa ketawa?"
"Lucu Bos," kata Sofan.
"Lucu kenapa?"
"Ya lucu Bos. Kami kecele. Dikira lawan sepadan kami. Eee taunya lebih hebat dari kami. Buktinya sa lah seorang jawara kita disikat habis."
Ha ha ha ha ...
Gondrong tertawa ...
"Hanya kebetulan saja Ki Doyok itu bisa ngebunuh temanku. Lah aku? Kan masih hidup. Itu artinya ilmu yang dimiliki beliau masih satu tingkat di bawah aku ..."
Hua ha ha ha ....
"Andai tarung ulang, kupastikan akulah pemenangnya ..."
He he he he ...
"Bagaimana menurutmu Pak Ben do? Aku kan pemenangnya?"
Pak Bendo ketawa.
Rerumputan di sekitar mereka seolah tertawa juga.
"Tapi menurutku kita harus secepat nya tinggalkan tempat ini sebelum warga tahu."
"Apalagi sebentar lagi malam. Gelap semuanya."
Tak jauh dari mereka ...
Door ...
Dooor ...
Suara tembakan ke udara terdengar dua kali ...
"Itu mereka Mr Clean ..." Kata Letnan Susan.
Dia menunjuk ke sebelah kanan. Jejak persembunyian Pak Bendo dan kaki tangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar