Oleh Wak Amin
LETNAN Susan sangat kecewa. Ka rena, begitu dia masuk ke dalam rumah kayu dua tingkat itu, Pak Bendo cs sudah tidak ada lagi di sana.
"Pak Kades?!"
"Warga baru saja tiba Mister. Apa kita sekarang boleh masuk?"
"Cepat kemari, kita susul mereka. Mereka sudah tidak ada lagi di rumah ini."
"Siap Mister .."
"Came on ..!"
Setelah berkumpul sebentar di ru mah tak berpenghuni itu, Mr Clean menginstruksikan pada Letnan Su san untuk mengomandoi penang kapan Pak Bendo dan kawan- ka wan.
"Oke Mister." Letnan Susan memba likkan badannya. Tadinya membe lakangi, kini berhadapan langsung dendan Pak Kades dan warga.
"Kita bagi dua ya. Separo ikut saya, separonyo lagi ikut Mister Clean. Diterima?"
"Diterima Letnan," jawab Pak Kades dan sebagian kecil warga desa Kita Bahagia.
Disepakati, kelompok pertama yang dikomandoi Mr Clean bergerak ke sebelah kanan. Sedangkan kelom pok kedua yang dipimpin Letnan Susan bergerak ke kiri.
Pak Kades Marzuki yang berada di kelompok Letnan Susan, didaulat memimpin di garis depan. Karena seluk beluk jalan yang bakal dilalui, orang nomor satu di desa Kita Ba hagia ini lebih tahu dan paham.
"Santai saja Pak Kades," kata re maja berambut keriting. Obor di tangan kanan. Siap dinyalakan.
"Nanti saja nyalakan obornya Dik." Pak Kades mengingatkan.
"Gelap Pak Kades. Tak kelihatan jalan di depan," jawab si remaja, berharap Pak Kades membiarkan mereka menyalakan obor kayu.
Obor penerang yang sering diguna kan warga desa saat melewati ka wasan bersemak tak banyak jum lahnya.
Hanya sekitar lima obor. Masalah nya, sekarang mereka mengejar pe laku tindak kriminal, jadi harus di am-diam agar tidak diketahui ada di mana mereka saat ini.
"Saya minta pengertian dari adik-adik sekalian. Sementara ini kita gelap-gelapan dululah. Nanti, saat kita perlukan, obor baru dinyalakan. Gimana?"
"Siap Mbak Susan .. Ehh salah. Siap Letnan," jawab warga serempak.
Pak Kades cuma menyunggingkan senyum ..
Tak lebih ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar