Selasa, 28 Agustus 2018

Mata Pisau (2)

Mata Pisau (2)
Oleh Wak Amin



SEMENTARA itu ...

Kelima terduga pelaku pengebo man singgah sebentar di sebuah desa. Yauman nama desanya.

Penduduknya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar tujuh ratusan kepala keluarga (KK). Mereka hidup dari bercocok tanam.

Mereka hidup rukun dan damai. Ada beberapa rumah sekolah di sana. Mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas

Tentu saja, karena sudah terbiasa hidup aman dan jauh dari bising apalagi keributan, kehadiran lima lelaki besar bertampang seram ber senjatakan lengkap, amat menga getkan warga Yauman.

Namun mereka tak sempat lagi berlari dan menyelamatkan diri. Di bawah todongan senjata laras pan jang, para lelaki paruh baya diseret paksa. Mereka dikumpulkan di ta nah lapang depan balai desa.

Sementara kaum perempuan, teru tama remaja muda usia, mereka perkosa secara bergantian. Sedang kan anak-anak sudah dihabisi lebih dahulu di sebuah tanah lapang tak jauh dari balai desa.

Jerit tangis pecah seketika. Sum pah serapah keluar dari mulut ke banyakan para remaja yang dipak sa cuma mengenakan celana da lam.

Sayangnya, sumpah serapah itu di balas oleh lima anggota kelompok bersenjata yang sudah banyak me mbunuh warga desa yang tak ber salah ini dengan tembakan.

Trot .. tot ...

Trot .. tot ...

"Dasar binatang,' maki seorang le laki beranak dua dengan geram.

"Ulangi lagi."

"Dasar binatang ..."


Praaak ...

Bruuug ...

Cebraaash ...

Darah mengucur deras dari mulut dan kepala bapak berambut keriti ng. Beberapa temannya coba me nolong. Tapi tak bisa karena saat itu juga mereka dipukul bagian ke pala, perut dan dengkul menggu nakan senjata.

Auuuuugh ...

"Habisi mereka Sersan Hiden!" Pe rintah Letnan Robert pada anak buahnya.

"Siap Letnan!"

"Bantu Sersan Hiden!"

"Siap Letnan," jawab Sersan James, Sersan Paul, dan Sersan George serempak.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar