Mata Pisau (3)
Oleh Wak Amin
"TEMBAAK ...!"
Trot .. tot ..
Trot .. tot ..
Tembakan beruntun itu berlang su ng amat singkat. Hanya kurang dari tiga menit.
Lebih dari seratus warga Yauman tewas. Darah bercecersn. Senyap seketika. Tak ada lagi raungan, makian dan sumpah serapah.
"Sersan James. Pastikan mereka mati!" Perintah Letnan Robert.
"Siap laksanakan Letnan," jawab Sersan James. Bersama Sersan Paul, George dan Sersan Hiden, memeriksa ulang gelimpangan mayat yang mssih utuh itu.
"Sersan George."
"Masih ada nafasnya Sersan James.
Meski mukanya berdarah, remaja berbadan tegap itu belum tewas. Memejamkan mata dan menahan nafas dengan harapan kepura-pu raaannya ini tidak diketahui Sersan James cs.
Doooor ...
Dari arah belakang, sebuah temba kan yang dilepaskan Sersan Hiden berhasil menembus kepala si rema ja.
Kali ini benar-benar tewas ...
Saat bersamaan, seorang ibu men coba kabur, tapi keburu ditembak Sersan Paul bagian belakang ke palanya.
Tewas seketika.
Jatuh terjerembab ke tanah.
Setelah memastikan tewas semua nya, atas perintah Letnan Robert, Sersan James cs memasuki rumah warga.
Mereka ambil perhiasan, uang, ma kanan seperlunya untuk dibawa peri bersama mobil yang mereka parkir di depan pintu gerbang masuk Desa Yauman.
Sementara warga Yauman yang ma sih hidup dan luput dari pencu likan bersembunyi di hutan tak jauh dari kediaman mereka.
Mereka baru keluar dari persembu nyian pagi hari setelah memastikan pasukan bersenjata yang dipimpin Letnan Robert sudah meninggalkan Desa Yauman.
Letnan Robert dan empat anak bu ahnya melanjutkan perjalanan ke utara. Mereka sangat senang kare na misi yang mereka usung, salah satunya membuat keonaran, suk
ses besar.
Sangat berbeda keadaannya deng an warga Yauman yang selamat. Be gitu menyaksikan anak, isteri, sua mi dan orang terdekat mereka te was bersimbah darah, mereka pun menangis sesunggukan.
Bahkan ada yang menjerit histeris sebelum akhirnya pingsan, tak sadarkan diri ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar