Ya (10)
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ...
"Bu Rani .. Ada telepon." Agak ter gesa-gesa Bu Lim dari ruang tamu menuju teras.
Bu Rani, siang itu baru saja pulang dari mengajar. Mendorong sepeda motor masuk ke halaman rumah.
"Bu Rani .. Bu Rani. Baru saja ada telepon dari seseorang," kata Bu Lim sambil tersenyum sumringah.
"Laki atau perempuan Bu?"
"Laki lah ..."
"Siapa ya?"
"Bu Rani pura-pura tak tahu atau memang benar tidak tahu..Ayo jujur."
"Menurut Bu Lim gimana?"
"Menutut ibu Nak Raninya pura-pura enggak tahu. Masa sama calon sendiri enggak tahu ..."
"Eeem coba saya tebak ya Bu."
Berpikir sejenak ...
"Dokter Handoko."
He he he he ...
"Betul sekali. Seratus buat Bu Rani."
"Terima kasih."
"Nanti katanya mau telepon lagi. Enggak sore, malam hari."
"Baik Bu. Terima kasih ya."
"Sama-sama. Oh ya, semua sudah disiapkan Bu Rani. Lauk pauk ada di panci, nasi di dandang dan la lapan di mangkuk."
"Terima kasih Bu Lim."
"Kalau begitu saya pamit dulu. Ibu harus kerjakan tugas yang lain."
"Baik Bu."
Lepas salat zuhur dan makan sia ng, Bu Rani tertidur. Pulas sekali tidurnya.
Dalam tidurnya ia bermimpi ber te mu dengan Effendi. Pemuda lajang yang amat menyintainya.
Effendi mengajak Rani pergi. Tapi, karena tak diberitahu kemana me reka pergi, Rani menolaknya.
Terjadilah silang pendapat. Sempat terjadi tarik-tarikan dan saat itulah Rani terbangun ...
"Astaghfirullah," ucapnya. Dia ber doa di dalam hati semoga mimpi buruk yang baru saja dialaminya tidak menimpa dirinya.
Kriiiing ...
Kriiing ...
Kriiiing ...
"Halo ..."
"Mas Handoko say."
"Kok mesra kali ..."
"Ya sebagai calon harus mesralah. Betul kan?"
Bu Rani cerita dia baru saja menga lami mimpi buruk. Mau diajak per gi Effendi ke suatu tempat yang me nurut pengakuannya jauh lebih te nang, aman dan menjanjikan.
"Kok bisa ya say. Kan Effendi itu sudah lama meninggal. Kenapa kamu bisa diganggunya ya. Aneh bin ajaib."
"Enggak aneh Mas. Memang kenya taan ... Hampir setiap malam dia menampakkan dirinya ..."
"Kamu enggak cerita sih sama Mas?"
"Takutnya Mas kenapa-kenapa gi tu. Lagian Dik Fendinya enggak macam-macamlah sama aku. Cuma pernah ..."
Hik hik hik ...
"Kok ketawa. Lucu ya. Mas makin penasaran nih. Coba ceritakan sa yang ..."
"Pernah suatu kali dia bilang .. Aku mencintai Mbak Rani."
"Lalu apa jawabanmu?"
"Enggak dijawab Mas."
"Enggak marah dia?"
"Kayaknya sih enggak. Cuma ya itu ..."
"Apa lagi?"
"Suka jahil dan ganggu murid-mu ridku Mas."
"Wah-wah .. Gawat itu say ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar