Ya (13)
Oleh Wak Amin
ALHAMDULILLAH ...
"Akhirnya selesai juga ya Pa," ucap Bu Sufyan. Dia pegang erat tangan suaminya yang mulai bisa ter senyum lega.
"Mas ..."
"Sekarang kamu sudah aman Ran. Yuk kita ke dekat orang tuamu," kata Dokter Handoko.
Selain mengucap rasa syukur, ka rena prosesi pengusiran hantu Ef fendi berhasil, Dokter Handoko ber harap Bu Rani lebih nyaman dekat dengan kedua orang tuanya.
"Jadi bagaimana kelanjutannya sesudah ini Ustad Sodiqun?"
"Tinggal perbanyak shalat, zikir dan berbuat baik. Jadi kalau selama ini kurang kenceng, ya dikencengi lagi. Begitu Nak Handoko."
"Apakah Bu Rani bakal tidak diganggu lagi Ustad?"
"Insya Allah tidak Nak Handoko. Kita sama-sama berdoalah. Se moga Bu Rani sehat walafiat."
"Tapi," lanjut Ustad Sodiqun, "An daikata si Fendinya datang lagi, lakukan apa yang pernah saya la kukan pada Bu Rani tadi. Paham kan Nak Handoko maksud saya?"
"Paham Ustad ..."
"Kepada Bu Rani pesankan juga apa yang telah saya pesankan kepada Nak Handoko."
"Baik Ustad ..."
"Oh ya satu lagi ..."
Ustad Sodiqun memberikan sebotol air putih botol besar yang sudah diberi 'jampi'.
Air dalam botol itu diminumkan sa tu atau dua kali sehari secukup nya sampai habis, tak bersisa lagi air nya.
"Kasih pengertian pada Bu Rani bahwa air dalam botol ini juga me rupakan upaya proses penyembu han total," kata Ustad Sodiqun.
"Baik Ustad."
Sebelum pamitan Ustad Sodiqun juga memberikan sebotol minyak urut yang terbikin dari ramuan rem pah-rempah kepada Bu Rani deng an disaksikan Pak Sufyan dan isteri serta Dokter Handoko.
Dua hari kemudian, setelah Bu Ra ni bugar sediakala, dia bermaksud kembali ke Desa Kita Bahagia un tuk mengajar di sana.
Dia sudah rindu alam pedesaan. An ak-anak yang lugu dan suasana be lajar mengajar yang menyenang kan.
Desa Kita Bahagia adalah rumah kedua bagi Bu Guru Rani. Bu Lim yang ramah sudah dia anggap seperti ibunya sendiri ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar