Ya (14)
Oleh Wak Amin
"MENURUTKU, apa tak sebaiknya tunda dulu kepulanganmu ke Desa Kita Bahagia untuk beberapa hari ke depan," saran Dokter Handoko.
Paling tidak, kata Handoko, saat pulang benar-benar fits. "Mas per caya, kamu sekarang belum fit seratus persen ..."
dd
"Kok tau Mas kalau Rani belum fits seratus persen?"
"Ya ialah. Karena penyakit yang ka mu alami itu bukan tergolong me
dis, tapi non medis."
"Mas Han ke gee .. eran ..."
Rani tertawa.
"Ke ge .. eran kenapa say?"
"Ya ialah enggak fits. Sarapan aja belum."
Ha ha ha ha ...
Gantian Dokter Handoko yang tertawa.
"Kamu pandai melucu juga rupanya Ran .."
"Rani enggak melucu Mas Han. Rani serius. Belum sarapan pagi. Sekarang masih ngebersihin teras. Di sapu, dipel dan ngerapiin bunga-bunga kesayangan Mama seperti mawar dan anggrek."
"Gimana kalau Mas Handoko me luncur ke rumahmu sekarang. Boleh ya?"
"Buat apa Mas?"
"Ya bantuan kamu lah. Mas kuatir kamu nanti sakit lagi."
"Enggak usah Mas."
"Lho kenapa emangnya?"
"Mas urusinlah orang sakit. Kasi han mereka. Rani enggak apa-apa kok ..."
Kriiing ..
Kriiing ...
Telepon berdering. Panggilan dari pihak rumah sakit. Dokter Handoko diminta secepatnya datang karena banyak pasien yang harus dirawat.
"Benar katamu Ran. Mas baru saja dapat panggilan dari pihak rumah sakit. Banyak pasien yang memer lukan pertolongan."
"Udah. Pergi sana cepet ah. Rani enggak apa-apa ..."
"Oke say. Peluk sayang dari jauh ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar