Jumat, 24 Agustus 2018

Ya (15)

Ya (15)
Oleh Wak Amin

MESKI sudah diminta kedua orang tuanya untuk menunda kepulangan ke desa tempatnya mengajar, Bu Guru Rani tetap saja ngotot.

"Please Pa. Rani mau pulang. Boleh ya. Rani udah sembuh. Bosen Pa di rumah terus. Sepi. Enggak enak nganggur di rumah Pa."

Pak Sufyan mengernyitkan dahi nya.

"Pa. Boleh ya?"

"Gimana Ma?" Bu Sufyan tetap pa da pendiriannya untuk tidak menye tujui kepulangan Rani ke Desa Kita Bahagia.

"Kalau ada apa-apa gimana Pa?"

"Percayalah sama Rani Ma." Rani mengiba pada ibunya.

Memang sulit menaklukkan hati Bu Sufyan jika itu menyangkut prinsip dan keteguhan hati.

Jangankan Rani, suaminya sendiri pun tak mampu menjinakkannya. Karena menurut Bu Sufyan apa yang ia yakini benar adanya.

"Sekali Mama bilang tidak, tidak. Titik .."

"Pa. Mama kok berubah sangar begini Pa. Ada apa ya?"

"Sudah. Enggak apa-apa. Sekarang kamu istirahatlah dulu di kamar. Biar nanti Papa ngomong sama Mamamu .."

"Baik Pa."

Di kamarnya, Rani terus mencoba menghubungi Dokter Handoko le wat ponsel (HP).

Sayang, meski sudah berkali-kali di telepon, tak juga diangkat. Hanya ada jawaban ..'di luar jangkauan.'

Rani mulai kesal ...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar