Senin, 24 September 2018

Dua Menara (6)

Dua Menara (6)
Oleh Wak Amin



*****
RUMAH Bu Aida tampak sepi ke tika mobil yang kukendarai tiba de ngan selamat tepat tengah hari.

Kuturun dari mobil ...

Kudekati pintu pagar. Karena ter kunci, aku telepon Lia. Tak lama setelah itu pintu rumah terbuka.

Lia memandangku ...

Setengah berlari dia mendekatiku. Membuka pintu pagar, lalu mem bukanya ...

Treeeng ...

"Bang Mamaaat!"

Kubiarkan Lia memelukku. Kubiar kan dia terisak. Kubelai rambutnya. Lalu kuberkata ...

"Jangan menangis lagi ya," kataku, dan setelah kubuka pintu pagar le bar-lebar, kuajak Lia naik ke mo bilku, masuk menuju teras.

Ngeooong ...

Ngeooong ...

Ngeoooong ...

Puspus melompat ke pelukan Lia sesaat setelah turun dari mobi. Lia menciumnya.

"Ini ..."

"Iya Bang Mamat. Kucing yang dulu itu. Masa lupa."

Kubaru ingat ..

Ah, tak ada yang berubah dari Pus pus. Bulunya halus,  bersih berkilau dan manja pada Lia.

Saking manjanya, saat kubelai, me ngeong sedikit, lalu melompat ke pelukan Lia.

"Turun ya say .."

Ngeooong ...

Puspus berdiri sebentar di depan pintu, menoleh ke depan seolah me ngisyaratkan aku dan Lia segera menyusulnya masuk ke dalam rumah.

"Bantu Bang Mamat dulu ya Lia." Kubuka pintu belakang mobil.

Riuuung ..

Haaa ...

"Bang Mamat, banyak kali," komentar Lia.

Selain buah-buahan segar, juga ku bawakan beberapa pakaian anyar yang kubeli di toko pakaian batas kota.

Tanpa kuduga, oleh-oleh yang ku bawa ini membikin senang hati Lia. Berulangkali dia mencoba sepatu pemberianku sambil mengucapkan terima kasih kepadaku.

"Mat. Lain kali tak usahlah kau ba wa macam-macam. Kamu datang menengok ibu saja sudah senang," kata Bu Aida.

Merasa haus, kucepat-cepat tuang kan air putih ke dalam gelas por
selen.

"Sekali-kali tak mengapa Ma. Lagi an Bang Mamat sekarang sudah ja di orang kaya," kata Lia, ikut bang ga punya kakak tak hidup seng sara.

"Lia, kok gitu."

"Begitulah adikmu Lia, Mat," ucap Bu Aida selepas menghabiskan separo gelas air putih.

"Dulu waktu kecil belum kelihatan. Sekarang, setelah besar, tampak si fat aslinya. Manja. Mandi jarang."

He he he he ..

Sempat cemberut, tapi setelah itu tertawa karena senang melihat ibu nya tertawa.

Sudah dua minggu lebih Bu Aida tidak tertawa karena sakit ...

"Mudah-mudahan cepat sembuh," bisik Lia dalam hati.

Selama ibundanya sakit, Lia me ma ng tak bisa konsentrasi mengikuti agenda perkuliahan.

Pikiran yang muncul pada yang eng gak-enggak. Misalnya saja, kalau
sang mama sampai meninggal du nia, gimana coba. Sudah tak punya ayah, harus merelakan ibunda ter cinta untuk pergi selama-lamanya.

Kan ada Bang Hasan?















Tidak ada komentar:

Posting Komentar