Dua Menara (8)
Oleh Wak Amin
SEBELUM kukembali ke kota tem pat tinggalku, ditemani Lia, aku sempatkan diriku membezuk Ha san, sore hari.
Lapas tempat Hasan disel berada di pinggiran kota. Suasananya nya man dan asri. Saat masuk kita di suguhi aneka tanaman yang di te ngahnya ada tanah lapang.
Tanah lapang ini biasa digunakan para napi untuk bermain bola kaki, bola voli, tenis meja dan bulutang kis.
Ada mushalla. Selain rutin shalat berjamaah, para napi selalu men dapat siraman rohani dari ustaz ya ng datang silih berganti di lapas ini.
Ketika aku dan Lia membezuk, ba nyak anggota keluarga napi yang lain membezuk. Beragam raut mu ka mereka. Ada sedih, tegang dan gembira.
Tangis pun pecah ketika aku ber sua Hasan. Bukan cuma Hasan yang menangis. Aku juga me nangis.
Kami berpelukan tangan ... Kami tumpahkan kerinduan. Hampir lima menit kami menangis. Belum sepa tah katapun yang meluncur dari mulut kami.
Sebelum akhirnya ...
"Aku malu, Mat." Ucapnya lirih. Terisak pilu.
"Kenapa mesti malu San?"
"Karena aku sudah jadi pembunuh Mat," jawabnya sesunggukan.
"Sabar ya San. Suatu saat nanti kita akan tahu kejadian sebenarnya," ka taku menenangkan hati Hasan.
"Kamu ...?!"
Aku mengangguk ...
"Aku tahu dari cerita ibumu San. Juga adikmu Lia."
Hasan tampak gelisah. Aku putus kan untuk mengakhiri pertemuan kami ini karena kondisinya amat tidak memungkinkan untuk meng analisa kejadian sebenarnya yang menimpa Hasan.
Aku baru meninggalkan lapas sete lah Lia bersua Hasan. Tak lama. Ha nya lima menit. Saat keluar dari ru ang temu napi dan pembezuk, ku lihat mata Lia memerah.
Dia menangis tadinya ...
"Lia sedih Bang Hasan," ucapnya se sunggukan.
"Abang juga," jawabku sambil mem belai rambut Lia yang hitam berge lombang.
Dalam hati kuberjanji akan menja ga Lia dan ibunya sesanggup yang kubisa.
Tapi bagaimana caranya?
"Tak usah kau pikirkan itu Mat. Lia dan ibu ada yang jaga. Firdaus na manya, kakak sepupu Lia. Ibunya Hasan adik ibu," terang Bu Aida.
Bersikukuh bangkit dari tempat ti durnya hanya ingin melihatku pu lang dengan hati senang dan lapa ng.
Lia menggandengnya berjalan hing ga ke teras. Kemudian dia duduk di kursi kayu. Kucium tangannya. Ag ak lama baru kulepaskan.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar