Dua Menara (9)
Oleh Wak Amin
(Bagian ketiga)
"TOLOONG ...!"
"Toloooong ..." Teriak Firdaus sam bil memegang kepalanya yang ber darah akibat dipukuli dua lelaki tak dikenal saat masuk ke sebuah loro ng tak jauh dari kediaman Bu Aida.
Sambil meringis menahan sakit, dia terus berlari. Sampai di depan jem batan kayu dia terjatuh. Namun se telah itu dia bangun lagi dan berlari meniti jembatan sepanjang lima meter itu.
"Itu dia," kata si brewok menunjuk ke sebuah jembatan kayu. Firdaus dengan bersusah payah sampai ju ga akhirnya di seberang.
"Tembak saja Wok!"
"Tak usah Tos. Ketahuan kita. Terus kalau dia mati gimana. Coba ...!"
"Terus gimana dong?"
Brewok berpikir sejenak. Eheeem, katanya, "Kita kejar saja dia."
"Oke."
Firdaus duduk sebentar di bawah pohon nangka. Melihat Brewok dan Pelontos mengejarnya, dia segera berdiri.
"Aduh. Kenapa kedua kakiku tiba-tiba terasa berat," ucap Firdaus da lam hati.
Dia menoleh ke belakang, Brewok dan Pelontos sudah berada di te ngah jembatan.
Firdaus semakin takut dan geme taran ketika Brewok melihat sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
"Ya Allah, gimana ini. Tolong aku ya Allah, hamba-Mu yang lemah ini," ucap Firdaus.
Lirih sambil meneteskan air mata. Berserah diri kepada-Nya semata.
Sebuah mobil pick-up lewat ...
"Ayo kita ngopi
Jangan lupa merokok pula
Abis itu kita menari
Biar senang hati ini ...
Kami semua ini petani
Kalau panen kami bernyanyi
Lupakan susah di hati
Biar kita tak cepat mati ...
Ha ha ha ha ...
He he he he ..
Hu hu hu hu ...
Syiiiit ...
Sopir pick-up ngerem. Yang di bela kang pada kaget. Ada apa gera ngan.
" Coba lihat di semak itu," kata si sopir. Kalau bukan orang pasti hewan.
Tak mungkinlah semak bisa berge rak sendiri. Angin tak ada.
Cobaaa ...
Sepakat tidak turun. Melanjutkan perjalanan lebih baik.
Betul?
"Toloooong saya Pak!"
"Tolong Pak.
" Turun semuanya," teriak si pe ngemudi.
Firdaus tak sadarkan diri.
Nyaris kehabisan darah ...
Dia dibawa kelompok tani unggul ini ke rumah sakit cabang terdekat.
Sementara itu ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar