Minggu, 23 September 2018

Yaman dan Pertemanan (6)

Yaman dan Pertemanan (6)

Perang Yaman IV


--- Kekalahan Saudi-UEA

HARI ini (23/9) banyak media global berbicara tentang kekalahan Saudi di Yaman. Masalah ini muncul ketika Arab Saudi terus membunuhi warga sipil tak berdosa di Yaman, terutama waita dan anak-anak.

Selama ini, pembunuhan warga sipil Yaman bukan hanya tidak dikutuk oleh Amerika Serikat dan sekutu Eropanya (terutama Inggris dan Perancis), tetapi masyarakat dunia justru disuguhi adegan mengerikan semacam ini yang berkelanjutan.

Tidak diragukan lagi, salah satu pecundang utama dari perang Yaman adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saat ini, kejahatan otoritas Arab dan Emirat di Yaman meningkat dari hari ke hari.

Meskipun nyata-nyata telah terjadi pembunuhan brutal puluhan ribu orang Yaman oleh Riyadh, PBB masih menolak untuk mengutuk Saudi.

PBB bahkan menolak untuk menyebut kejahatan yang dilakukan Saudi sebagai kejahatan perang (yang pantas dihukum).
Hal ini tentu saja mengundang kemarahan publik dunia, dan teru tama orang-orang di kawasan Timur Tengah.

Mereka marah dengan perang yang berkelanjutan ini, publik mengecam peran terbalik yang dimainkan oleh PBB dalam perang Yaman.

Mereka juga marah dengan dukungan langsung dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB yaitu AS, Inggris dan Perancis terhadap perang yang dipaksakan Koalisi Saudi itu. Sejak dimulainya perang, puluhan ribu orang telah tewas.

Menurut data PBB di Yaman, sekitar 8,4 juta orang beresiko kelaparan, dan ada banyak korban kolera di negara itu. Tetapi Arab Saudi dan sekutunya melanjutkan pertumpahan darah mereka, dan membombardir orang-orang yang tak berdaya di negara itu.

Pertanyaan utamanya, bagaimanapun, adalah bahwa meskipun mengetahui kondisi mengerikan dari orang-orang Yaman, mengapa PBB menghindar dari menghadapi kejahatan Arab Saudi?

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kedua negara yang menyerbu orang-orang Yaman itu kini berada dalam kondisi yang buruk! Riyadh dan Abu Dhabi gagal dalam perang Yaman dan di masa depan mereka juga akan mengalami masalah lebih besar.

Para analis dalam urusan internasional mengakui  keluarga Al Saud dan rombongannya tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan perang Yaman, dan mereka harus secara resmi menyatakan kekalahan mereka dalam perang ini segera.

Surat kabar yang bermarkas di Inggris, The Times, telah menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Michael Burleigh yang menyebutkan bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman hanya memiliki beberapa hari tersisa dalam kekuasaan.

Burleigh memulai artikelnya dengan mengatakan: “Harapan bahwa Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman untuk menjadi seorang pembaharu yang dapat menyembuhkan kawasan menjadi tidak berarti.”

Dalam artikel tersebut, sang penulis menyoroti bagaimana media barat telah melaporkan secara luas tur dunia pangeran Maret lalu yang menggambarkan dirinya sebagai orang kuat Saudi yang bekerja untuk reformasi politik dan ekonomi.

Namun, beberapa keraguan kemudian muncul sebagai akibat dari keputusan baru-baru ini yang diambil oleh ayahnya, Raja Salman.

Sementara itu, perang Putra Mahkota di Yaman dan sejumlah besar uang kerajaan yang dikurasnya, di samping perang dingin yang ia lancarkan melawan Qatar, menunjukkan tanda-tanda kegagalan yang jelas.

Artikel itu menciptakan reaksi besar-besaran di dunia Arab. Beberapa orang Saudi bergegas membela Putra Mahkota mereka yang berusia 32 tahun tersebut.

Kegagalan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman adalah ketika Amerika Serikat mendukung perang untuk Riyadh dan Abu Dhabi.

Di sisi lain, beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Jerman dan Perancis, bungkam dihadapan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang telah membunuhi orang-orang Yaman, dan bahkan mendukung Arab Saudi dengan mengirimkan senjata.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga, dengan kebungkamannya terhadap pembunuhan brutal rakyat Yaman, sekali lagi mengungkapkan kurangnya kredibilitasnya terhadap opini publik dunia.

Hingga saat ini, sudah tiga tahun lebih orang-orang Yaman yang tak berdaya hidup di bawah agresi Al Saud dan sekutu-sekutunya.


Tiga tahun agresi Saudi ini menyebabkan kekalahan besar Riyadh, kematian sejumlah besar pasukan mereka yang agresif dan, yang paling penting, adalah semakin kuatnya revolusi Yaman (yang dipimpin Houthi). Sanaa, Aden dan Ma’rib telah menjadi simbol kekalahan Al Saud di Yaman.

Arab Saudi bahkan kehilangan kekuatan untuk mengatur hubungan dengan sekutu-sekutunya di Yaman. Kontroversi yang telah terbentuk antara Riyadh dan Uni Emirat Arab di Yaman dapat dianalisis dalam nada yang sama. Konflik-konflik ini adalah hasil dari erosi perang Yaman dan kekalahan bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

- Hentikan Penyelidikan

PENGAWAS HAM (HRW) mengutuk upaya oleh rezim di Riyadh dan sekutunya Uni Emirat Arab (UEA) untuk menghentikan penyelidikan kejahatan yang mereka lakukan di Yaman.

“Arab Saudi dan UEA berusaha untuk menutup penyelidikan kejahatan perang yang didukung PBB di Yaman,”bunyi pernyataan HRW pada hari Jumat (21/09) lalu.

HRW menggambarkan upaya Saudi untuk mematikan penyelidikan atas kejahatan perang di Yaman sebagai “upaya terang-terangan untuk menghindari pengawasan.”

“Kampanye koalisi pimpinan Saudi untuk mendiskreditkan dan merongrong penyelidikan PBB terhadap pelanggaran oleh semua pihak yang berperang di Yaman adalah satu lagi upaya terang-terangan untuk menghindari pengawasan terhadap tindakan koalisi di Yaman,” ujar John Fisher, direktur HRW Jenewa, dalam pernyataan.

“Dewan Hak Asasi Manusia tidak boleh gagal untuk membela warga sipil Yaman. Dewan itu harus memperbarui mandat (penyelidikan) atau berrisiko terhadap kredibilitas Dewan,” tambahnya.

Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang beranggotakan 47 orang di Jenewa saat ini terbagi menjadi dua kelompok berbeda.

Satu kelompok yang terdiri dari negara-negara Eropa dan Kanada yang menyerukan perpanjangan satu tahun setelah para penyelidik mengeluarkan laporan yang memberatkan bahwa pemerintah Yaman yang bertikai, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab bertanggung jawab atas kejahatan perang di Yaman.

Kelompok kedua, yang dipimpin oleh negara Arab Tunisia atas nama koalisi Saudi, tidak menyebutkan perluasan penyelidikan tetapi menyerukan Komisi Nasional Penyelidikan Yaman yang hampir mati untuk terus menyelidiki konflik tersebut.

Kedua belah pihak bisa menjembatani perbedaan sebelum sidang dewan berakhir pada 28 September.

Mona Sabella, seorang petugas advokasi internasional di Institut Penelitian Hak Asasi Manusia Kairo, mengatakan  penyelidikan independen yang dipimpin oleh para ahli penting untuk kredibilitas dewan.

Ia mengatakan bahwa kegagalan untuk memperbarui atau memperkuat mandat seperti yang terjadi di PBB akan “memberdayakan pemerintahan yang represif yang ingin menghancurkan sistem hak asasi manusia PBB.”

"Pilihannya jelas bagi negara-negara anggota PBB: Mendukung pembaruan penyelidikan independen dan internasional terhadap kejahatan perang di Yaman, atau tunduk pada ancaman Saudi dan memungkinkan penyelidikan ini harus dibatalkan," tulisnya dalam sebuah e-mail.

 “Tidak ada yang akan membuat Arab Saudi dan UEA lebih bahagia selain menjauh dari penyelidikan independen terhadap kejahatan perang di Yaman.”

Pasukan yang dipimpin Saudi telah melakukan sejumlah kejahatan perang di Yaman termasuk pemboman target sipil seperti bus sekolah dan rumah sakit.


- Bombardir 2 Truk

KOALISI pimpinan Arab Saudi kembali menargetkan dua truk bermuatan bahan makanan pokok di Saada, Yaman, ditengah bencana kelaparan yang melanda negara termiskin di semenanjung Arab tersebut.

Ahmed Al-Gohbary, jurnalis lepas sekaligus pendirii yayasan hope_relief di Yaman menyebut dalam postingan twitternya pada Kamis (20/09) bahwa dua truk bermuatan gandum itu ditargetkan di wilayah AlTaher, di Saada, Yaman.

Serangan terhadap truk pengangkut bahan makanan pokok ini dilancarkan Arab Saudi hanya satu hari setelah sebuah LSM Internasional, Save The Children mengeluarkan pernyataan bahwa 5,2 Juta anak-anak Yaman terancam kelaparan akibat blokade dan serangan terus menerus yang diberlakukan terhadap negara itu.

Gangguan terhadap pasokan yang datang melalui kota pelabuhan Laut Merah, Hodeidah, dapat “menyebabkan kelaparan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”, ujar LSM yang berbasis di Inggris itu dalam sebuah laporan baru yang dikutip Middle East Eye.

Sebelumnya, seorang pejabat Ya man juga menyatakan kepada kantor berita SABA bahwa jet-jet tempur koalisi Saudi dukungan AS melancarkan serangan udara di berbagai tempat di provinsi yang sama.

Serangan-serangan itu menghantam rumah dan pertanian warga sipil di distrik Bakim dan Raza. Sementara itu, serangan lain juga menghantam distrik Shatha.

Arab Saudi dan beberapa sekutunya, termasuk Uni Emirat Arab, Maroko, dan Sudan, melancarkan perang brutal terhadap Yaman pada Maret 2015 dalam upaya untuk menginstal kembali mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Agresi yang awalnya terdiri dari kampanye pemboman udara itu kemudian digabungkan dengan blokade laut dan penyebaran pasukan darat ke Yaman. Sekitar 600.000 warga Yaman sejauh ini telah tewas dan terluka akibat agresi dan blokade koalisi Saudi.




____

Arrahmahnews.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar