Selasa, 25 September 2018

Yaman dan Pertemanan (8)

Yaman dan Pertemanan (8)
Oleh aminuddin

Perang Yaman VI

- Terancam Habis

SANA'A ---Hasil pengamatan  lem baga amal CARE International, me nyebut ketersediaan pasokan ba han pangan di Yaman hanya mampu bertahan setidaknya dua bulan ke depan, menyusul blokade pelabuhan utama di negara tersebut seiring meningkatnya serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Jika pelabuhan Hodeidah  (Huday dah) -pelabuhan utama di Yaman-- ditutup atau diberhentikan, Direktur Yaman CARE, Johan Mooij, menghitung pasokan makanan Yaman hanya akan mampu bertahan dua hingga tiga bulan, dengan mempertimbangkan stok yang dimiliki World Food Programme (WFP), dan perkiraan tingkat makanan komersial yang bersumber dari pedagang setempat.

"Begitu pelabuhan diblokir, kami berbicara tentang jutaan orang yang akan kesulitan memiliki sum ber makanan," kata Mooij, sebagai mana dikutip dari Independent.co.uk pada Senin lalu.

Lebih dari 8 juta orang berada di ambang kelaparan di Yaman, dalam apa yang PBB sering gambarkan sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Pelabuhan Hodeidah mencakup lebih dari 70 persen akses masuk semua barang impor, menawarkan pasokan vital makanan, bahan bakar, dan persediaan medis. Bahkan sebelum perang, 90 persen makanan Yaman diimpor di sini.

Hodeidah saat ini dikuasai oleh pemberontak Houthi, yang didukung Iran dan telah mengalami blokade koalisi selama tiga tahun terakhir.

Pelabuhan tersebut terakhir kali ditutup pada bulan November 2017, di mana lebih dari 3,2 juta orang jatuh ke dalam bahaya kelaparan, WFP memperkirakan.

Pasukan koalisi saat ini mencoba untuk mendapatkan kembali kendali atas Pelabuhan Hodeidah, dalam apa yang bisa menjadi pertempuran terbesar selama perang Yaman hingga saat ini.

Pertempuran sengit itu mulai kerap terjadi di bentangan jalan utama sepanjang tiga kilometer ke arah ibu kota konstitusi Yaman, Sana'a, yang menghambat transportasi antara kedua kota.

Banyak organisasi kemannusiaan telah memperingatkan bahwa meningkatnya serangan udara di Pelabuhan Hodeidah, dan meningkatnya pertempuran untuk mengendalikan jalur transportasi utama, berisiko memotong pasokan penting ke seluruh Yaman.

"Bahkan gangguan terkecil terhadap makanan, bahan bakar dan pasokan bantuan melalui pelabuhan vitalnya, di mana bisa berarti kematian bagi ratusan ribu anak-anak yang kekurangan gizi, tidak dapat memperoleh makanan yang mereka butuhkan untuk tetap hidup," kata Tamer Kirolos, Direktur Save the Children cabang Yaman.

Pekan lalu, Save the Children memprediksi melonjaknya harga makanan dan bahan bakar --sebanyak 45 persen-- dapat memicu meningkatnya jumlah anak-anak Yaman yang terancam kelaparan, menjadi sekitar 5 juta orang.

Laporan itu menyatakan setiap penutupan di Hodeidah "berisiko membunuh seluruh generasi" tumbuh kembang di Yaman.

Direktur Yaman CARE, Johan Mooij berkata: "Pada saat kasus kolera meningkat tajam, ribuan orang telah meninggal karena penyakit dan kelaparan, dan rial Yaman telah kehilangan hampir seperempat dari nilainya, ini benar-benar hal terakhir yang dibutuhkan rakyat Yaman. . Harus ada penghentian segera kekerasan di dalam dan di sekitar Hodeidah".

Kekurangan gizi berarti  anak-anak 12 kali lebih mungkin meninggal karena penyakit seperti kolera, radang paru-paru dan campak, yang dapat menyebabkan kerusakan fisik dan kognitif jangka panjang.

- Sembunyi di Superyacht

RIYADH - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktunya di superyacht (kapal pesiar mewah)-nya demi keamanan.

Kebijakan agresif yang dia ambil membuat putra Raja Salman ini memiliki banyak saingan di negaranya dan di sekitar wilayah Timur Tengah.

Pangeran Mohammed resmi diangkat sebagai Putra Mahkota pada tahun 2017 lalu. Sejak itu, pangeran yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan ini mengejar kebijakan agresif termasuk meluncurkan agresi di Yaman untuk memerangi pemberontak Houthi.

Laporan tentang ketakutan Mohammed akan keselamatannya itu muncul dari Bruce Riedel, Direktur Brookings Institution’s Intelligence Project.

Menurutnya, perubahan pada garis keturunan suksesi dan keputusan oleh putra mahkota berusia 32 tahun di dalam dan luar negeri telah merusak stabilitas kerajaan.

Menurutnya, Pangeran Mohammed sadar akan permusuhan yang sedang tumbuh.

"Takut untuk keamanannya, putra mahkota dikatakan menghabiskan banyak malam di kapal pesiar (senilai) setengah miliar dolar yang ditambatkan di Jeddah," tulis Riedel untuk Al-Monitor, di mana dia adalah seorang kolumnis.

Mengutip laporan Business Insider, Selasa (25/9/2018), Pangeran Mohammed tertarik pada superyacht senilai 0,5 miliar dolar yang panjangnya 440 kaki. Kapal pesiar mewah itu bernama Serene.

Dia tertarik memilikinya setelah melihatnya pada akhir 2016 ketika berlibur di wilayah selatan Prancis.

Dia membelinya dari miliarder Rusia. Kapal pesiar mewah itu mencakup dua helipad, dinding panjat dalam ruangan, spa lengkap, dan tiga kolam renang.

Namun, sang pangeran membelinya saat dia mendorong penghematan negara, di mana pemerintah telah memotong anggaran belanja besar-besaran dan pembekuan kontrak pemerintah.

"Ini adalah istana terapung yang lebih panjang dari lapangan sepak bola dan dengan banyak keistimewaan," tulis Riedel mengacu pada kapal pesiar Serene. "Ini juga merupakan pintu keluar potensial."

Isu-isu utama kebijakan luar negeri yang telah membangkitkan kemarahan terhadap Pangeran Mohammed antara lain perang di Yaman dan blokade terhadap Qatar.

Menurut Riedel, kritik terhadap perang berdarah di Yaman—yang telah menyebabkan banyak orang kelaparan dan menderita penyakit—telah berkembang di Arab Saudi selama berbulan-bulan.

Sebuah video dari Pangeran Ahmed bin Abdulaziz—saudara tiri Raja Salman—secara terbuka menyalahkan Pangeran Mohammed soal perang di Yaman. Video itu viral di kerajaan pada bulan ini.

Kebijakan blokade terhadap Qatar atas tuduhan Doha mendukung terorisme dan dekat dengan Iran juga memicu kritik di dalam negeri Saudi.

Menurut Riedel, seorang ulama telah ditangkap dan menghadapi eksekusi karena mengkritik kebijakan itu. Sikap Dewan Kerja Sama Islam (OKI), menurut Riedel, juga terbelah gara-gara kebijakan itu.

Kebijakan lain adalah penangkapan massal para eksekutif bisnis dan anggota keluarga kerajaan pada musim gugur lalu.

Penangkapan massal itu dilakukan terkait operasi anti-korupsi. Langkah itu membuat investor waswas dan mengurangi kepercayaan pada kemampuan Pangeran Mohammed untuk mengelola masalah ekonomi Saudi.

Di antara lusinan pebisnis dan pangeran yang ditangkap adalah Pangeran Mutaib bin Abdullah, pemimpin pasukan tempur Saudi yang ikut terlibat dalam agresi di Yaman.

Tak hanya ditangkap, Pangeran Mutaib juga dipecat. Langkah itu dikhawatirkan bisa mengasingkan Pangeran Mohammed dari militer Saudi.

Rosie Bsheer, seorang profesor sejarah di Yale, mengatakan pemecatan Pangeran Mutaib akan menimbulkan ketidakpuasan, dan gerakan anti-Salman.

Riedel menambahkan proses penggantian Raja Salman bisa berubah menjadi kekerasan.

"Administrasi Trump telah memberikan cek kosong kepada Arab Saudi dan mendukung perangnya di Yaman," tulis Riedel.

“Putra mahkota telah dipuji oleh Gedung Putih. Ini pendekatan yang bodoh dan berbahaya."

- Unik

LAGI, cerita saya tentang Yaman. Kali ini tentang orang-orangnya. Sana’a adalah ibukota Yaman, layaknya Jakarta kalau disini.

Karena itu, orang-orang yang berada di Sana’a bukanlah hanya orang asli Sana’a. Orang-orang dari berbagai pelosok Yaman tentunya ada di kota ini. Mahasiswa, pedagang, profesional, sopir, dan pengemis sekalipun.

Salah satu bukti bahwa sangat banyak orang dari daerah yang tinggal di Sana’a adalah ‘matinya’ kota ini pada Hari Raya Idul Adha, karena sebagian besar orang mudik ke daerahnya masing-masing.

Idul Adha di Yaman, sebagaimana pula di hampir seluruh negara Arab, menyerupai Idul Fitri di negeri kita ini. Saat Idul Adha, mereka saling meminta maaf, saling bersilatura him, dan juga mudik.

Karena orang dari berbagai daerah ada di Sana’a, kesan saya tentang orang-orang di Sana’a mungkin cukup mewakili untuk bisa dikatakan sebagai kesan saya tentang penduduk Yaman itu sendiri.

Memang ada yang bilang  pendu duk propinsi Hadramaut, yang cu kup jauh dari Sana’a, jauh lebih lem but dan santun daripada orang-ora ng yang ada di Sana’a ataupun propinsi yang lainnya.

Namun, saya juga tidak mendapat kesan bahwa orang-orang di Sana’a itu kasar. Mungkin ada juga yang kasar sih, tapi alhamdulillah saya tidak menjumpainya.

Orang-orang Yaman, sebagaimana kebanyakan orang Arab, masih biasa berjubah dan bersurban dalam kehidupan sehari-hari, utamanya saat datang ke masjid.

Tapi yang bercelana juga tidak sedikit, setidaknya di Sana’a. Dan ada beberapa hal yang saya rasa khas Yaman.

Yang pertama, mereka itu sangat terbiasa mengenakan jas dalam keseharian. Bahkan, tukang penjual sayur atau pedagang kaki lima juga pakai jas sewaktu menjajakan dagangan mereka.

Kayaknya, jas sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Tidak seperti disini, yang baru pakai jas kalau hadir dalam seminar, pesta pernikahan, atau acara-acara resmi lainnya.

Karena saking biasanya jas bagi mereka, pakaian inipun dijual di jalan-jalan oleh banyak pedagang kaki lima. Tapi, yang dijual di toko-toko atau butik juga ada, yang tentunya lebih mewah dan lebih mahal.

Khas yang kedua adalah kebiasaan memakai jambiyyah dalam keseharian mereka. Jambiyyah adalah sebilah pisau atau belati yang disarungkan, kemudian dibelitkan pada sebuah sabuk yang dilingkarkan pada pinggang.

Mirip keris dalam tradisi Jawa. Hanya saja, jambiyyah selalu diletakkan di bagian depan badan, dan tidak pernah diletakkan si bagian belakang sebagaimana keris.

Jambiyyah merupakan bagian dari pakaian tradisional penduduk Yaman. Orang-orang disana menganggap jambiyyah ini sekadar ‘silah abyadh’ alias senjata hiasan saja. Dan karenanya, jambiyyah banyak dijual di pasar-pasar, dengan ukuran, corak dan motif yang beragam.

Jadi, jangan heran kalau di jalan-jalan dan dimana saja Anda akan menemui mereka membawa belati tipis bernama jambiyyah ini. Tapi Anda tidak perlu takut, karena mereka tidak suka berbuat nekat dan gila, sebagaimana orang-orang di negeri kita yang tidak jarang menggunakan senjata tajam untuk kejahatan.

Masih tentang pakaian, penduduk Yaman memiliki satu kesamaan dengan orang Jawa: masih suka memakai sarung. Setidaknya orang-orang dusun (badui) di Yaman masih biasa memakai sarung dalam keseharian mereka.

Namun, sarung mereka lebih tebal dan mereka biasanya memakainya sebatas betis dan tidak sampai mata kaki sebagaimana kebiasaan kita disini.

Orang-orang Yaman konon memiliki banyak dialek bahasa Arab. Dan menurut saya, tidak mudah memahami dialek-dialek mereka.

Mungkin kita bisa memahami sekian persen, tapi untuk bisa memahami dialek tersebut seratus persen rasanya tidak mudah.

Namun demikian, bahasa Arab standar (al-‘arabiyyah al-fusha) tetap merupakan bahasa resmi, yang lazim dipakai dalam forum-forum resmi.

Bagaimana dengan para wanita Ya man? Tidak seperti di negeri kita ini, para wanita di Sana’a senantiasa mengenakan pakaian serba tertutup berwarna hitam.

Yang tampak dari mereka hanyalah kedua mata dan telapak tangan mereka. Jadi, jangan berharap di Sana’a Anda bisa menyaksikan wanita berpakaian seksi di jalan-jalan.

Anda bahkan tidak bisa berharap para wanita itu mengenakan jenis pakaian yang berbeda-beda atau warna yang bermacam-macam.

Pakaian mereka hanya satu jenis, dan warnanya pun hanya satu: hitam. Mungkin, akan sulit ya mengenali seorang wanita disana, lha wong semuanya serba hitam dan hanya kelihatan matanya saja.

Tapi, saya rasa itu lebih bisa menjaga hati kaum laki-laki. Dan wanita menjadi lebih dihormati. Walhasil, kehidupan pun menjadi lebih relijius.

Mungkin, akan sulit ya mengenali seorang wanita disana, lha wong semuanya serba hitam dan hanya kelihatan matanya saja. Tapi, saya rasa itu lebih bisa menjaga hati kaum laki-laki. Dan wanita menjadi lebih dihormati. Walhasil, kehidupan pun menjadi lebih relijius.

* Kuliah Tanpa Tas
Oh ya, ada hal unik lain yang saya temui di Sana’a.  Kebetulan tempat pemondokan saya berada tepat di depan Universitas Sana’a.

Tak heran lalu lalang para mahasis wa – dan mahasiswi – menjadi pemandangan yang setiap hari saya lihat.

Uniknya , para mahasiswa dan mahasiswi itu hampir semuanya tidak membawa tas ke kampus. Mereka hanya membawa beberapa buku.

Demikian pula para mahasiswinya, hanya membawa beberapa buku yang mereka letakkan di depan dada mereka sembari berjalan.

Saya jadi bertanya, apa mereka tidak butuh buku teks yang tebal-tebal, yang membutuhkan sebuah tas untuk membawanya?

Atau, buku-buku teks tersebut ada di kampus dan tidak mereka bawa pulang. Nggak tahu lah.

Ada lagi yang paling khas dari penduduk Yaman, yaitu kebiasaan mengonsumsi satu jenis dedaunan yang bernama qat.

Biasanya mereka mengunyah dedaunan ini pada sore hari. Asal tahu saja, dedaunan ini memiliki sedikit efek psikotropika. Tidak sampai membuat seseorang ‘on’, namun sudah pasti menyebabkan efek kecanduan.

Orang-orang disana menganggap bahwa dedaunan ini meningkatkan gairah kerja, dan membuat mereka tidak mudah capek. Dan yang menarik, dedaunan ini legal di Yaman, namun sepertinya tidak legal di luar Yaman.

Ketika seseorang sedang mengunyah dedaunan ini, salah satu bagian pipinya kelihatan menggelembung, seperti orang yang sedang mengulum sebuah permen sebesar bola pingpong.

Dan jangan heran jika pada sore hari Anda akan menjumpai banyak orang-orang di Yaman yang pipinya menggelembung, karena sedang mengkonsumsi qat.

* Mayoritas Muslim

Umat Islam adalah mayoritas di Yaman. Mereka terbagi dalam dua madzhab besar: Syafi’iyah dan Zaidiyah. Madzhab yang terakhir ini sering dimasukkan dalam sekte Syi’ah, namun sebetulnya madzhab tersebut sangat dekat dengan madzhab Sunnah.

Saya mungkin bisa mengatakan perbedaan antara keduanya hanya cara bershalawat, kalimat iqamat, dan kalimat adzan.

Ketika bershalawat, mereka menambahkan ‘wa ‘ala aalihi’ sesudah menyebut nama Rasulullah SAW.

Ketika adzan, mereka menambahkan kalimat ‘Hayya ‘alaa khairil ‘amal’ sesudah ‘Hayya ‘alal falah’.

Demikian pula dengan kalimat iqamat mereka, disamping mereka melafalkan semua kalimat iqamat dua kali dua kali, persis seperti adzan.

Selain perbedaan kecil ini, saya tidak melihat mereka berbeda. Dan dalam kenyataannya, merekapun bisa hidup berdampingan satu dengan yang lainnya.



_____

- Liputan 6.com

- Abdur rasyid's blog

-  SindoNews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar