Kisah di Balik Berita (13)
Oleh aminuddin
Percakapan seorang wartawan Muslim dengan anggota ISIS
NAMA samarannya adalah Muthen na Abu Taubah, asal Inggris, ber darah setengah Irlandia, dan setengah Nigeria.
Banyak orang sulit membayangkan apa yang terlintas di benak seorang anggota ISIS. Namun seorang war tawan Muslim bernama Nina Arif berkesempatan berbincang melalui media sosial dengan seorang rela wan ISIS bernama Abu Taubah yang berusia 24 tahun asal Inggris.
Beberapa bulan sudah berlalu sejak saya mendengar kabar dari Muthen na Abu Taubah.
Dia adalah seorang Muslim Inggris yang, seperti saya, bersekolah di pusat London. Seperti saya, dia juga menyukai seni bela diri. Tapi tidak seperti saya, dia pergi ke Su riah dan bergabung dengan ISIS.
Muthenna Abu Taubah adalah na ma samaran pria yang nama asli nya tidak pernah saya ketahui, na mun telah menjadi teman mengob rol saya selama beberapa bulan.
Dia berdarah setengah Irlandia dan setengah Nigeria dan berpindah agama menjadi Islam.
Ketika pekan lalu saya berbicara dengan seseorang yang mengenal nya di Suriah, saya mendapatkan kabar bahwa dia telah meninggal, terbunuh dalam kecelakaan di se buah pabrik pembuatan bom di Raqqa, “ibukota” ISIS yang mengk laim dirinya sebagai Negara Islam.
Saya pertama mengontak Taubah pada akhir 2014, setelah bertanya sana-sini dan menghabiskan waktu berjam-jam di jejaring sosial.
- Percakapan enam bulan
Saya mendekatinya sebagai seo rang wartawan Muslim yang ingin memberikan perspektif berbeda dari cerita kebanyakan tentang sepak-terjang ISIS.
Dia setuju menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan kami akhirnya berkomunikasi – melalui aplikasi WhatsApp – selama hampir enam bulan.
Awalnya, Taubah berbicara dengan formal dan memposisikan dirinya sebagai pejuang jihadi.
Dia mengarahkan saya ke halaman Twitter-nya yang memiliki banyak pengikut. Di halaman Twitter milik nya, dia menuliskan pengalaman nya di Suriah, mengunggah foto-fo to dirinya berpose dengan senjata AK-47 serta memberi saran kepada calon-calon jihadi.
Taubah telah “menandatangani kon trak darah” untuk membantu warga Suriah. Penderitaan mereka dan umat Muslim lainnya, menurutnya, adalah alasan yang mendorongnya untuk bergabung dengan kelompok itu.
“Lihat saja di Cina – para pria tidak boleh memelihara janggut dan umat Muslim dilarang berpuasa. Di Prancis – para perempuan tidak boleh memakai niqab (cadar). Lihat di AS dan Inggris – Anda bahkan tidak boleh membicarakan jihad.”
Mengapa memilih jalan Jihad?
Saya tidak mengacuhkan tautan-tautan yang dia kirimkan, yang ke banyakan berisi cerita mengenai dunia yang baik dan buruk, tetapi saya berempati terkait penderitaan kaum Muslim yang kebebasannya dibatasi.
Saya juga setuju bahwa banyak umat Muslim yang tidak bersalah harus menderita karena konflik di luar negeri.
Namun kenapa Taubah (yang dalam bahasa Arab artinya “bertobat”) memilih jalan jihad untuk menanggapi ketidakadilan?
Bukankah ISIS juga melakukan keti dakadilan?
Dalam waktu dekat, saya akan me nanyakan hal itu kepadanya. Na mun sebelum itu, saya ingin menge tahui kehidupan masa lalunya.
Setengah bercanda, saya bertanya berdasarkan apa yang saya ketahui mengenai jihadi lainnya:
“Coba saya tebak...dalam kehidupanmu sebelum menganut Islam, Anda anggota geng, mengonsumsi narkoba dan pernah dipenjara?”
Dia menjawab, “no comment”.
- Mengadopsi Kucing
Dia hanya mengatakan masa lalu nya “buruk” dan bahwa dia sekara ng hanya melihat ke depan.
Taubah mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia berkuliah di Inggris, menggemari Muay Thai dan catur, dan pernah memelihara anjing.
Dia mengatakan keluarganya tidak mengerti dirinya, namun dia sayang dan merindukan mereka – pihak ke luarganya dari Nigeria (dia tidak kenal dengan keluarganya dari Irlandia).
Di Suriah, dia memasak bersama teman-temannya, mengadopsi seekor kucing dan menyukai “berpesta dengan halal” pada saat Idul Fitri, yang artinya “makan dan bersenang-senang dengan para ikhwan [saudara-saudaranya]”.
Taubah juga belajar bahasa Arab dan bergaul dengan pejuang-pe juang lain. Dia mengatakan banyak pejuang asing hidup bersama kelu arga mereka di Raqqa, di mana “lebih mudah untuk tidak melakukan dosa”.
Terlepas dari penampilannya dalam dunia maya, saya tidak yakin Tau bah benar-benar terlibat dalam per tempuran.
- Mengirim Artikel Jihadi
Ketika saya bertanya apa yang dilakukannya untuk ISIS, dia mengatakan: “Kami bekerja untuk Allah pada pagi hari dan beristirahat pada malam hari.”
Dia mengatakan tidak bisa menceritakan detil karena alasan keamanan, dan dia juga tidak ingin membahayakan keluarganya.
Namun saya sempat menduga dia tidak memberikan banyak infor masi mungkin karena dia beren cana pulang suatu saat.
Selain mengirimkan saya artikel-artikel jihadi, Taubah juga menanyakan saya pertanyaan seperti “berapa negara yang telah Anda kunjungi?” dan “apa hal terburuk yang pernah Anda lihat?”
Dia mengukur pengalaman dirinya dan membandingkannya dengan saya untuk membuktikan bahwa dia telah melalui banyak hal, walaupun berusia lebih muda.
- Diwarnai Perdebatan
Waktunya hampir jam 3 pagi dan saya sudah sangat mengantuk na mun Taubah ingin mengetahui lebih banyak tentang saya.
“Satu pertanyaan lagi…” katanya.
Dia ingin tahu apakah saya mempelajari Islam, ulama-ulama siapa saja yang saya ikuti, dan pendapat saya mengenai ISIS.
Saya membalas: “Saya tidak tahu, maka itu saya berbicara denganmu.”
Dia bertanya lagi: “Apa pendapatmu tentang saya?”
Saya mencoba menjawab dengan netral, mengatakan saya pikir dia sangat bersemangat mengenai pekerjaannya.
“Itu saja? Bukan hal-hal buruk? Saya rasa Anda tidak jujur,” tuduhnya.
- Abu Taubah di atas Kudanya
Dia benar. Karena itu saya mencoba lebih jujur: “Beberapa hal yang Anda katakan...itu bukanlah cara pandang yang seimbang. Saya khawatir Anda akan melakukan se suatu yang nanti Anda sesalkan. Anda sangat muda dan akan mela lui perubahan, cara berpikir Anda juga akan berubah. Al-Quran mengatakan Anda harus berpikir, merenungi, dan bertanya. Saya rasa Anda hanya melihat hitam dan putih.”
Ini pertama kalinya saya merasa Taubah kesal bahwa semua propa ganda yang dia berikan kepada saya tampak tidak efektif.
Setelah mengatakan bahwa saya harus mempelajari agama saya, dia mulai mengeluh mengenai umat Muslim di Barat:
“Mereka tidak menghargai para mujahidin. Malah mereka meng hina dan mengatakan mereka kasar. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai para kuffar [kafir, non-Muslim]. Mereka sangat suka hidup dengan peraturan kafir...”
- 'Saya ingin meradikalisasi Anda'
Tidak lama setelah itu, saya meneri ma pesan pendek: “Saya harus me ngatakan sesuatu. Sebaiknya kita tidak saling berbicara lagi.”
Dan dengan permintaan maaf un tuk hal-hal yang “tidak pantas”, Taubah mengakhiri perbincangan kami.
Saya menghormati keinginannya untuk tidak berkomunikasi, namun hanya untuk empat hari. Perasaan saya mengatakan dia ingin berbi cara, namun dilarang.
Saya membuka percakapan dengan bertanya kepada Taubah mengapa dia berubah pikiran, dan untuk pertama kalinya, merasakan bahwa dia ragu.
“Saya tidak sempurna, saya bukan orang terbaik untuk mewakili ISIS,” katanya.
Namun meskipun itu, dia masih mengirimkan tautan ke sejumlah situs jihadi. “Propaganda lagi untukmu. Saya ingin meradikalisasi Anda kalau Anda belum sadar...saya tahu Anda pikir saya seorang teroris.”
Kali ini, saya memutuskan untuk mengirimkannya artikel-artikel oleh pemuka agama dan ulama yang menentang ISIS.
“Saya juga ingin menderadikalisasikan Anda”.
- Ditulis oleh "Kafir"
Namun Taubah menepis semua itu, mengatakan semua pembahasan itu ditulis oleh “kafir” dan mulai lelah melihat saya tidak setuju dengan pandangan hidupnya.
“Tidak ada manfaat berbicara denganmu. Saya membenci perbincangan ini...saya mengasihani pria yang harus hidup denganmu.”
Taubah mengirim foto yang menun jukkan ketua kelompok Boko Ha ram asal Nigeria yang bersumpah setia dengan ISIS.
“Apakah kamu setuju dengan tin dakan mereka?”, tanya saya mengacu pada aksi Boko Haram yang menculik siswi-siswi sekolah.
“Boleh menculik perempuan kafir selama kita tidak memiliki perjan jian dengan mereka.”
“Islam membolehkan penculikan dan penjualan gadis-gadis muda tak bersalah? Serius? Itu bisa saja adikmu,” saya bertanya.
“Jangan biarkan naff-mu [perasaan pribadi] merusak pandangan Anda.”
Saya bertanya lagi, "Anda memiliki anggota keluarga non-Muslim...Jadi, jujurlah kepada saya, bila ISIS ingin menculik dan menjual keluargamu yang non-Muslim ke dunia prostitusi, Anda tidak keberatan?”
Taubah marah ketika saya mena nyakan ayat Al -Quran yang membo lehkan perdagangan manusia, dia mengatakan saya harus mencarinya sendiri dan mempelajari agama saya.
“Saya lelah berdebat.”
'Apakah kamu intel?'
Pada saat itu akun Twitter Taubah ditutup dan dia tampak khawatir ketika saya mengatakan telah me nemukan artikel tentang dia di internet.
Saya tidak mengerti kenapa dia khawatir dan mengatakan seha rusnya dia tidak perlu merasa he ran, karena akun Twitter-nya dulu terbuka untuk umum dan tampak jelas dia sangat pro-ISIS.
Dia tidak setuju: “Tidak jelas bahwa saya anggota ISIS, bisa saja saya seorang pendukung.”
Taubah mulai was-was. Dia curiga, “apakah kamu intel? Saya sudah tahu mengenai Anda…dan kesimpulannya tidak bagus”.
Perbincangan kami makin tidak jelas sejak Taubah menjadi enggan berdebat. Malah dia menyerah:
“Kita melihat dunia dengan berbeda karena kita memiliki pengertian yang berbeda mengenai deen [agama].”
Kemudian saya tidak mendengar lagi darinya.
Beberapa bulan berlalu dan saya sering memikirkan nasib Taubah. Saya akhirnya berhasil menghubungi seseorang yang mengenalnya dan saya menanyakan pertanyaan pertama yang terlintas di benak saya, “Apakah Abu Taubah masih hidup?”
Dia sudah meninggal dunia. Dia terbunuh dengan sahabatnya di sebuah pabrik produksi bom di Raqqa.
Saya diberitahu pria berusia 24 ta hun itu sudah bertunangan dan be rencana menikah sebelum kecela kaan itu terjadi.
Namun dia pernah mengatakan: “Kematian Anda sudah tertulis. Ketika waktunya datang, Anda tidak bisa menghindarinya.”
Selain menerima tanggapan ala jihadi yang sudah diatur, perbincangan kami memberikan saya pemahaman mengenai seseorang yang mungkin tidak lagi memiliki keyakinan mutlak yang dibawanya pada awal percobaan.
Dia membuat saya berpikir, berapa banyak lagi anggota ISIS yang tam pak kokoh namun juga mulai ragu-ragu.
_____
BBC News Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar