Senin, 15 Oktober 2018

Kisah di Balik Berita (6)

Kisah di Balik Berita (6)
Oleh aminuddin




KISAH TIGA ...


Greates Virtue ...



CERITA kali ini lumayan panjang. Penulis mau berbagi pengalaman sewaktu menjadi wartawan. Sudah mencoba berbagai pekerjaan yang awal mulanya nyemplung di dunia jurnalistik pindah ke pekerjaan lain hingga akhirnya kembali lagi ke du nia jurnalistik.

Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh harus klik di hati, nyaman, nyambung, sepemikiran dan kalau dipikir-pikir penampilan lebih cocok jadi jurnalis saja.

Tahun 2014, setelah menganggur 5 bulan akhirnya keterima kerja men jadi wartawan. Awal mula menjadi wartawan sangat berat selain fisik harus kuat, otak juga harus terasah.

Satu minggu pertama kami para calon wartawan mulai ditraining dengan dua cara pelatihan materi dan lapangan. Kami para junior harus bisa beradaptasi dengan wartawan senior dan teman seang katan.

Pelatihan kelas berupa penyampaian materi oleh wartawan senior dan diskusi. Ini membuat shock dan kagum karena penyampaian materi dan pengalaman para wartawan senior sungguh menarik, sementara feedback dari teman-teman seangkatan juga menawan.

Sempat merasa minder dan tidak yakin apakah akan bisa bertahan lama. Mereka mempunyai pengetahuan yang luas serta sangat antusias, itu yang membuat mereka banyak bahan untuk berbicara dalam forum diskusi.

Minggu awal kami diperkenalkan beberapa desk (terminologi atau bagian redaksi) yaitu desk metropolitan (Politic n Government, Education, Criminal, Around City, Life Style, Healthy); desk National (Economy, politic n government, International); desk Sports and Entertainment atau Showbiz.

Sebelum dimasukkan ke dalam desk, para calon wartawan akan terjun langsung ke semua desk at au istilahnya tandem.

Kami dibagi beberapa kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 3-4 orang. Tandem awal desk ekonomi yang kebetulan waktu itu sedang ada agenda liputan untuk Seminar International Integrated Financial Economy Syariah.

International Conference on Islamic Finance 2014. Di Hotel JW. Marriot dengan pembicara lima wakil dele gasi pimpinan bank Internasional.

Penulis belum membawa kendara an sehingga menggunakan moda transportasi umum. Saat menuju lokasi penulis beserta kelompok janjian di depan kantor.

Kami berangkat bersama karena masih buta tempat dan salah satu anggota kelompok ada yang berdo misili disana sehingga akan lebih mudah aksesnya.

Acaranya sungguh menarik,  diikuti oleh 15 negara, berisi OJK (Otoritas Jasa Keuangan). OJK menangani sentral keuangan baik teknik maupun non teknik, misal Bank Indonesia, BTN, BRI, koperasi.

Dalam Ekonomi Bisnis dibagi men jadi tiga sektor: Makro, mikro, sek toral. Misalnya, makro mena ngani seperti seminar, pertemuan delega si beberapa negara tentang sistem perekonomian dan lain-lain.

Mikro lebih ke pangsa pasar yang lebih kecil. Sedangkan sektoral le bih spesifik. Seminar disertai disku si tanya jawab tentang perban kan syariah antara Indonesia dan Malaysia.

Semua penyampaian mengguna kan bahasa internasional. Ada ba nyak orang penting berkumpul di sini. Penulis bisa belajar mengenai masalah ekonomi dan perbankan secara gratis.

Ini memang sungguh membingung kan karena penulis tidak tahu sama sekali tentang hal ini. Wartawan senior yang menjadi tandem penulis mengajari cara menghandle liputan yang berbau permasalahan ekonomi.

Sebelum meliput baca dahulu me ngenai apa saja yang akan diliput, biar tidak kosong pengetahuan. Se hingga, saat akan mewawancarai narasumber lebih bisa mengimba ngi dalam pembicaraan.

Meliput bagian ekonomi itu enaknya rata-rata meliput di tempat yang sejuk (indoor) seperti dihotel, gedung, perkantoran dan lainnya.

Tentu ada susahnya. Berita ekono mi merupakan berita yang cukup rumit, apalagi menggunakan istilah-istilah perekonomian.

Kalau melihat isu yang harus dikembangkan dalam berita cukup menguras otak, tetapi bila sudah terbiasa dan tahu ritmenya pasti lebih mudah dalam me-running news beritanya.

Tandem berikutnya politik dan pemerintahan kota oleh Kepala Perencanaan dan Pembangunan Kota. Kebetulan sang senior sudah membuat janji wawancara dengan pihak yang bersangkutan.

Penulis belajar etika cara mewawan carai pejabat pemerintahan. Saat itu sedang membicarakan tentang Green Building Awarness Award (Penghargaan bagi pemilik gedung-gedung akan kesadarannya dalam mengatur tempat agar ramah ling kungan).

Misalnya diberi vertical garden, tanaman-tanaman didalam rua ngan. Ini juga sebagai sarana edu kasi pemerintah secara perlahan agar masyarakat sadar akan pen tingnya ramah lingkungan.

Di beberapa bangunan di Surabaya sudah mulai diterapkan. Green building council Indonesia. Politik ruang lingkupnya luas, biasanya ngepost di pemkot, balaikota, juga kadang di lapangan memantau situasi keadaan kota.

Sistem jalanan, transportasi, yang berhubungan dengan masyarakat umum. Para wartawan biasanya banyak yang melakukan wawancara dengan menggunakan media perekam handphone dan sejenisnya.

Tetapi akan lebih baik mencatat menggunakan kertas atau note. Berbicaralah menggunakan bahasa yang sopan dan mudah dimengerti, menanyakan hal yang mengandung unsur 5W+1H itu sangat penting.

Senior sudah kenal akrab dengan narasumber sehingga lebih mudah dalam mendapatkan informasi. Pe nulis bisa kenal dan belajar dari pe jabat pemerintahan, walaupun ma sih tingkat kota, tetapi sudah mem banggakan karena tidak setiap orang dapat berbincang atau bersalaman dengan pejabat daerah.

Ada hal yang menegangkan juga saat menjadi wartawan desk ini, harus sangat berhati-hati dalam pemberitaan karena jika salah se dikit atau memihak ke salah satu pihak, urusannya akan sangat panjang karena berhubungan dengan kalangan atas.

Tandem kriminal, ini seru dan mene gangkan. Kami menempati post di markas kepolisian, bisa polres ta bes, polresta dan sebagainya.

Setiap hari pasti ada saja kasus yang terjadi, entah itu pencurian, narkoba, pembunuhan, pemukulan dan banyak lagi.

Jujukan awal para wartawan adalah bagian humas tiap post. Saat itu kami langsung menuju ruang humas polrestabes dan bertemu kepala humas.

Sistem kerja kepolisian investigasi telisik kasus, wartawan harus akrab dengan dunia kriminalitas ini berbe da dengan post ekonomi dan politik misalnya.

Cara berbicaranya pun terkesan nakal karena ini merupakan dunia kriminal. Jika ingin tahu lebih da lam maka kita harus bisa berbaur dengan semua kalangan mulai dari kepolisian, kepala humas, bagian narapidana hingga pengadilan.

Tips yang diberikan oleh mas war tawan senior adalah ngeloni post. Maksudnya jika kita ingin menge tahui informasi maka kita harus lebih dekat dengan narasumber.

Intinya, berbaurlah dan kamu akan dapatkan beritanya. Kami memang masih canggung dan pasif mungkin karena masih adaptasi tapi mena rik juga berada di post ini.

Wartawan terkadang ikut turun langsung bersama tim investigasi, misalnya saat melakukan penggere bekan klub malam, dan olah TKP kecelakaan


Cara menulis berita juga tidak boleh sembarangan, misal korban pelecehan seksual harus menggunakan nama samaran.

Tidak nyamannya di post ini keba nyakan wartawannya membicara kan ke arah hal yang berbau nakal. Kalau untuk wartawan cewek kura ng sesuai dan sreg mungkin.

Tandem olahraga, ini post yang le bih santai tetapi harus selalu standby. Postnya di stadion, lapangan, gelora atau tempat-tempat pertandingan olahraga.

Penulis tandem ketika kejuaraan badminton tingkat daerah. Wartawan menuju ke tempat panitia perlombaan untuk mendapatkan informasi jadwal pertandingan.

Ruangan yang penuh asap rokok dan pengap, memang kebanyakan yang menempati post olahraga juga cowok rata-rata.

Wartawan harus mengamati per tandingan yang berlangsung. Tidak perlu semua pertandingan. Cukup mencari dan melihat angle kejadian untuk dijadikan berita.

Penulis juga sempat memperha tikan saat senior sedang melaku kan wawancara dengan salah satu pemain.

Penulis agak heran senior ini niat membimbing atau tidak. Awal jan jian terkesan misterius dan seperti tidak berniat, mungkin karena penu lis masih sangat amatir dan belum paham ritme kerjanya.

Setelah terjun kelapangan, sore ha rinya para calon wartawan kembali ke kantor untuk pelatihan kelas. Ada forum diskusi, masing-masing kelompok menjelaskan apa yang mereka peroleh selama tandem.

Dua minggu berlalu mulai masuk kerja, para calon wartawan mendapatkan meja kerja. Ruang kerja media sungguh unik tidak ada sekat antar desk. Semua satu rua ngan, bahkan saat di kantor tidak menggunakan nama asli melainkan nama pena.

Penulis bersebelahan dengan mas fotografer senior yang sangat jahil dan mas layouter yang baik. Penu lis mendapat desk pendidikan mungkin sesuai background kali ya.

Saat berada di kantor penulis seper ti mendapat ospek istilahnya. Ham pir setiap hari pasti dikerjain, terka dang tas diumpetin di dinding atas ya ampun, dikentutin, keyboard dico pot, Hp diumpetin sampai ke desk olahrahga.

Kalau diingat-ingat lucu juga sebenernya kenapa dulu penulis bisa frustasi ya mungkin belum bisa beradaptasi dan masih takut kali ya.

Fotografer senior yang sudah ke berbagai tempat di Indonesia, se kilas penulis melihat beliau masih menyelesaikan tesisnya.

Penulis juga tanpa sengaja pernah membaca poster ada pelatihan jurnalistik kampus dengan HTM yang cukup mahal, salah satu pembicara ya mas fotografer di samping. Hebat juga ya, tidak menyangka orangnya jahil tapi keren juga.

Layouter samping terkadang suka ngajarin caranya bikin desain, edit gambar, olah data gambar di koran tapi karena terlalu cepat ngajarinn ya, terkadang penulis bingung juga.

Ada juga editor yang satu ramah dan judes juga tetapi wajar pengalaman mereka sudah sangat banyak. Penulis seharusnya bisa belajar dari mereka.

Jadi inget dulu, temen pernah bi lang kenapa gak dipikirin dulu, kan kamu bisa belajar banyak disini se belum keluar. Tetapi beberapa bu lan memang pengalaman yang sungguh nano-nano.

Sementara meja depan desk eko nomi ada mas lumayan tapi lebih muda sebenarnya, tapi cukup buat cuci mata.

Seminggu satu kali ada rapat desk untuk menentukan boks dan lap sus, itu bikin sport jantung. Karena pasti semua harus mempresenta sikan untuk mengisi boks.

Tidak bisa sembarang juga dalam presentasi. Kenapa? Karena harus sudah wawancara, mempunyai data yang jelas lengkap dan tidak terkesan biasa.

Rata-rata teman penulis sudah mempresentasikan boks, hanya penulis yang belum. Bahkan ba nyak yang ingin membantu dengan memberikan cp informasi agar bisa dijadikan boks.

Mencari berita kesana kemari belum ada satupun yang terbit. Ini seperti magabut (makan gaji buta) dan bikin down kenapa susah sekali. Coba lagi dan lagi, alhamdulillah akhirnya terbit juga walau telat.

Redaktur penulis orang yang sabar dan bijaksana, beliau sudah lama berkecimpung di dunia media cetak sehingga sudah sangat hafal dengan ragam berita.

Penulis membuat sebuah berita mengenai karya mahasiswa, re daktur mengatakan kamu harus menulis secara obyektif bukan sub yektif.

Ada masukan-masukan positif dan banyak sekali pembelajaran ten tang tata cara menulis berita. Wak tu deadline adalah waktu terhoror untuk para wartawan dan redaktur. Kami harus bekerjasama menyele saikan tepat waktu sebelum dikirim ke editor untuk segera diterbitkan.

Saat meliput dimanapun desknya pasti akan bertemu dengan warta wan dari media lain. Mereka sama tujuannya:  memburu berita dan mencari celah untuk mendapatkan yang pertama atau secara eksk lusif.

Ada ruang khusus bagi para media di setiap desk. Bisa saling bertukar no Hp atau bergabung di group untuk mendapatkan informasi.

Mereka bisa jadi teman bisa jadi musuh terselubung juga. Disini juga rawan salam tempel atau wartawan amplop jadi harus kuat iman, tidak semua juga yang mau menerima te tapi tidak sedikit pula yang meneri ma.

Ada istilah wartawan bodrex atau wartawan palsu, ya dalam dunia media istilah tersebut tidak asing. Harus hati-hati dengan wartawan seperti ini, mereka mencari berita mengatasnamakan media tertentu atau membuat media sendiri yang abstrak.

Setelah mendapat berita mereka meminta sejumlah uang sebagai imbalannya.

Mejadi seorang wartawan itu sa ngat seru dan menantang, siapa yang tidak suka jalan-jalan gratis ke berbagai tempat, memperoleh ilmu dengan berbagai profesi secara cu ma-cuma, bebas akses masuk ke event festival, bertemu dengan ber bagai pejabat penting dan bertemu dengan berbagai macam orang me narik.



"The less you know, the more you believe ....

Journalism can never be silent, that is greatest virtue and its greatest fault ...

It must speak and speak immediately while the echoes of wonder, the claims of triumph and the signs of horror are still in the air."
           (Henry Anatole Grunwald)





____

My Life My Journey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar