Tumbal (6)
Oleh aminuddin
Kisah Warga Yang Pernah Jadi Tumbal Pesugihan Di Ciamis
ADA seorang warga yang pernah jadi tumbal pesugihan di Ciamis. Sekitar lima puluh tahun lalu, cerita ini pernah menjadi buah bibir masyarakat Ciamis.
Setelah sempat dinyatakan meninggal, tiba-tiba ia kembali lagi ke rumahnya, tepat tujuh hari sejak ia dikuburkan.
“Jangan menyebut nama ya, saya yakin anak cucunya masih ada sekarang. Inisialnya Be, waktu kecil kami biasa memanggilnya Mang Be,” terang Jaja (68), warga Bojongsari Cijeungjing ini salah seorang saksi hidup yang pernah bertemu dengan korban pesugihan.
Saat kejadian, Jaja masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, tersiar kabar Mang Be meninggal.
Seperti lumrahnya, jenazah kemudian dimandikan, dishalatkan lalu dikuburkan. Puluhan warga turut mengantar jasad Mang Be ke pemakaman. Semua meyakini, Mang Be sudah wafat, berpulang ke rahmatullah.
Sejak hari pertama sepeninggal Mang Be, keluarganya menggelar tahlilan di rumah duka. Seperti biasanya, tahlilan digelar tiap hari, selama tujuh hari berturut-turut.
Tidak ada kejangggalan apapun dari hari pertama hingga keenam. Namun pada hari ketujuh, tepat ketika warga sedang tahlilan di rumah duka, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi.
Mang Be tiba-tiba datang ke rumah. Sontak, puluhan warga yang sedang tahlilan pun dibuat panik dan ketakutan.
“Kata paman saya, namanya Mang Hambali, saat Mang Be datang, tahlilan langsung bubar. Mang Be terdengar beberapa kali berteriak menjelaskan bahwa dia belum meninggal, dia masih hidup, dia bukan hantu,” terang Jaja.
Singkat cerita, kepanikan akhirnya mereda. Mang Be yang datang tan pa sehelai pun kain itu kemudian diterima oleh keluarganya.
Sejak itu, cerita tentang pengalaman Mang Be mulai tersebar dari mulut ke mulut.
Ternyata, sejak dinyatakan meninggal hingga dikuburkan, Mang Be mengaku menyadarinya.
Ia bisa mendengar semua yang terjadi, sampai ketika tumpukan tanah menimpa kayu penutup jasad dalam kuburnya.
“Katanya semua bisa dia dengar. Tapi dia tidak bisa bergerak. Jangankan bergerak, membuka mata saja tidak bisa,” terang Jaja.
Namun ketika sudah di dalam kubur, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Mang Be merasa berada di sebuah daerah yang belum pernah ia temui.
Yang jelas, ia menyadari kalau dirinya berada di dunia lain, bukan dunia manusia.
“Katanya ukuran-ukuran bendanya jauh lebih besar dibanding yang ada di dunia manusia. Misalnya cabe, pepohonan, jembatan, dan lain-lain. Yang lebih menakutkan, Mang Be juga melihat banyak sekali manusia yang dipekerjakan secara paksa, sampai tubuh mereka berdarah-darah,” tutur Jaja.
Jaja tidak mengetahui persis, siapa yang mempekerjakan orang-orang di dunia aneh tersebut.
Terlalu banyak pemandangan aneh yang dilihat Mang Be. Dan setiap melihat hal aneh, Mang Be selalu mengucap kalimat-kalimat toyyibah.
Mungkin takbir, atau istighfar. Gara-gara selalu mengucap istighfar inilah, konon jadi alasan Mang Be dipulangkan ke dunia manusia.
“Ya sudah jelas ceritanya Mang Be jadi wadal (tumbal pesugihan). Tapi karena Mang Be orang shaleh, dia inget terus Allah, jadi dikembalikan lagi. Itu pengakuan Mang Be, dia dianggap membuat situasi panas, diangggap membuat kekacauan di sana,” terang Jaja.
Walhasil, Mang Be dikembalikan ke dunianya. Saat tersadar, ia su dah ada di areal pemakaman, tempat sebelumnya ia dikuburkan warga sekitar.
Ia kemudian memotong beberapa lembar pohon pisang untuk menu tupi sebagian tubuhnya. Lalu pu lang ke rumah, tepat di hari ketujuh sejak ia dinyatakan meninggal.
Warga kemudian membuktikan dengan menggali kuburan Mang Be, ternyata yang dikubur itu pohon pisang.
Saat kejadian, Mang Be adalah salah seorang warga di Desa Su kamaju, saat ini masuk ke wilayah Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.
Satu hal yang tidak pernah diung kap Mang Be, meski ketika itu ba nyak sekali warga yang bertanya. Siapa sebenarnya yang menyebab kan Mang Be jadi tumbal pesugihan di Ciamis?
Hanya Mang Be yang tahu ..
“Kalau orang-orang tua seusia saya, pasti banyak yang tahu peristiwa ini. Dua orang kakak kandung saya juga tahu, di kampung saya juga ba nyak yang tahu, bahkan pernah jadi berita di RRI ketika itu,” pungkas Jaja.
____
Wartapriangan.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar