Cerita Rakyat (10)
Oleh aminuddin
10. PAPUA
Kisah Empat Raja
TERSEBUTLAH sebuah desa yang berada tepat di Teluk Kabui. Desa itu bernama desa Wawiyai. Di sana hidup sepasang suami istri. Mereka sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai buah hati.
Untungnya, suami istri tersebut tak pernah putus asa. Mereka senan tiasa berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar suatu hari diberikan seorang anak.
Suatu hari, sang suami mengajak istrinya mencari kayu bakar di hutan. Persediaan kayu bakar mereka memang hampir habis, dan musim hujan akan tiba tak lama lagi.
Jika tak segera mencari kayu bakar, mereka tidak bisa memasak sela ma musim hujan. Kayu-kayu di hutan akan menjadi basah dan tidak bisa dinyalakan untuk memanaskan tungku.
"Kita harus segera mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya, istriku. Bisakah kau membantuku masuk hutan hari ini?"
"Tentu saja aku akan membantumu mengumpulkan kayu bakar."
Keduanya segera bersiap-siap berangkat. Ketika matahari masih di ufuk Timur, mereka pun berjalan ke tengah hutan.
Entah mengapa, hari itu tidak ada banyak kayu yang bisa dikumpulkan. Sampai dengan tengah hari, belum ada cukup kayu untuk dibawa pulang.
Setelah beristirahat sejenak, mereka pun melanjutkan pekerjaannya dan berjalan semakin jauh hingga sampai ke tepi Sungai Waikeo.
"Istriku, bagaimana kalau kita berhenti sebentar di tepi sungai ini. Aku merasa sangat haus dan penat."
"Aku setuju sebab aku juga merasa sangat lelah. Air sungai itu pasti akan terasa sangat segar." jawab istrinya.
Mereka berdua lalu duduk di tepi sungai, meminum airnya dan melepaskan lelah.
Saat sedang menikmati pemandangan tepi sungai itu, mata sang suami tertumbuk pada sebuah lubang besar.
Lubang itu tertutup dedaunan, dan dari kejauhan sang suami melihat sesuatu berwarna putih.
Ia pun penasaran dan berjalan mendekati lubang tersebut. Dipangkasnya dedaunan yang menutupi mulut lubang agar ia bisa melihat lebih jelas apa yang berada di dalamnya.
Tak lama kemudian, dilihatnya ben da putih tersebut adalah telur. Bukan sembarang telur, sebab ukurannya besar sekali.
Jumlahnya ada enam butir. Sang suami pun memanggil-manggil istrinya.
"Istriku, kemarilah. Lihat apa yang aku temukan di sini."
Istrinya mendekat dan terheran-heran melihat ukuran telur yang tak biasa itu.
"Telur apakah itu?"
"Entahlah, mungkin itu telur burung elang. Bagaimana kalau kita membawanya pulang? Pasti enak jika dimakan."
Istrinya mengangguk setuju. Mere ka pun membawa keenam telur itu pulang ke rumah. Mereka tak pula tahu sebenarnya itu adalah telur naga.
Karena hari sudah malam, mereka memutuskan untuk memasak telur-telur itu keesokan pagi. Keenam butir telur tersebut disimpan di dalam kamar.
Keesokan paginya, alangkah terke jutnya kedua suami istri itu karena lima dari enam telur sudah menetas.
Dari dalamnya keluar sosok manusia. Empat laki-laki dan satu perempuan. Suami istri itu tampak bingung dengan kehadiran mereka.
Jangan takut, kami adalah anak-anakmu." kata salah seorang dari mereka. "Apa maksud kalian?"
"Doa kalian dijawab Yang Maha Kuasa. Kami dikirim untuk menjadi anak-anakmu, maka peliharalah kami."
Betapa senangnya suami istri tersebut. Mereka pun menamai keempat anak laki-laki itu. Yang pertama bernama War, kedua Betani, ketiga Dohar, dan Mohammad. Sedangkan untuk anak perempuan diberi nama Pintolee.
Seiring berjalannya waktu, kelima anak ini tumbuh dewasa dan menja di anak-anak yang baik. Mereka senantiasa membantu kedua orangtuanya sehingga mereka tak perlu lagi susah payah bekerja.
Mereka sekeluarga hidup sangat sejahtera, dan lahan pertanian yang mereka garap berkembang luas hi ngga empat pulau besar di sekitar Teluk Kabul.
Sayangnya, sebuah kejadian membuat keluarga tersebut malu. Pintolee, satu-satunya anak perem puan yang berparas cantik jelita terpikat pada seorang pemuda dari desa lain.
Orangtua dan keempat kakak Pin tolee tak menyukai pemuda terse but. Namun Pintolee yang sedang jatuh cinta bersikeras ingin meni kah dengannya.
Karena tak mendapat restu, Pinto lee pun nekat kabur dari rumah dengan pemuda tersebut. Mereka menaiki kulit kerang besar dan berlayar hingga di Pulau Numfor dan menikah di sana.
Tinggalah keempat kakak laki-laki Pintolee yang masih tinggal dengan orangtua mereka.
Tahun berganti, dan ayah mereka semakin tua. Sebelum ajalnya tiba, sang ayah membagi warisan.
Setiap anak lelakinya mendapatkan satu buah pulau. War diberi pulau Waigeo, Betani diberi pulau Salawati, Dohar diberi pulau Lilinta, dan Mohamad mendapatkan pulau Waiga.
Sang ayah berpesan agar keempat anaknya menjaga warisannya itu...
..
Setelah ayahnya meninggal, keem pat anak lelaki itu mematuhi perin tah tersebut. Mereka menjaga pulau masing-masing dan mengelolanya dengan baik hingga akhirnya mereka menjadi raja dari setiap pulau.
Dari sinilah sebutan Raja Ampat, yang berarti empat orang raja, mu lai dikenal. Sedangkan satu butir telur naga yang tidak menetas hi ngga saat ini masih disimpan dan mendapat penghormatan khusus dari masyarakat setempat.
________
- Pesan moral dari kisah ini adalah berbakti kepada orangtua dan men jalankan nasihat mereka akan men jadikan kita orang-orang yang berha sil dalam kehidupan.
- dongengceritarakyat.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar