Cerita Rakyat (12)
Oleh aminuddin
12. KALBAR
- Legenda Batu Menangis*
DI sebuah bukit yang jauh dari de sa di Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.
Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempu nyai prilaku yang amat buruk.
Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan peker jaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti.
Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.
Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan.
Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang di jalan yang melihatnya akan mengagumi kecantikannya.
Sementara ibunya berjalan di bela kang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil.
Karena mereka hidup di tempat terpencil, tak seorangpun menge tahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu.
Namun ketika melihat orang yang berjalan di belakang gadis itu, su ngguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda, ia mendekati dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan di belakang itu ibumu?”
Namun, apa jawaban anak gadis itu?
“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
“Hai, manis. Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?”
“Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budak!”
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabanny seperti itu.
Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya ..
Pada mulanya, mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri.
Namun setelah berulang kali di dengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri.
Si ibu berdoa ...
“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu.
Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
” Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..”
Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibu nya.
Akan tetapi, semuanya telah ter lambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu.
Meskipun menjadi batu, orang dapat melihat kedua matanya ma sih menitikkan air mata seperti se dang menangis.
Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis
Uniknya, cerita berbentuk legenda ini, oleh masyarakat setempat, di percaya benar-benar pernah terjadi.
--.Asal Usul Sungai Landak
DAHULU kala, hiduplah seorang petani bersama isterinya. Walau pun tidak kaya, mereka suka menolong orang lain.
Suatu malam, petani sedang duduk di tempat tidur. Di sampingnya, isterinya sudah terlelap. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kelabang putih yang muncul dari kepala isterinya.
Kelabang putih itu berjalan mening galkan rumah petani. Petani itu me ngikutinya hingga tiba di sebuah kolam tak jauh dari rumah mereka.
Kelabang itu lalu menghilang. Pe tani itu berjalan pulang. Isterinya masih pulas.
Esok paginya, isteri petani mence ritakan mimpinya semalam ..
“Aku sedang berjalan di padang rumput, dan ada sebuah danau di sana. Aku melihat seekor landak raksasa di dalam danau itu. Ia me lotot kepadaku, maka aku lari.”
Petani itu lalu pergi lagi ke kolam. Di dalamnya ia melihat suatu benda yang berkilau.
Ia mengambilnya, ternyata sebuah patung landak dari emas. Patung itu sangat indah, matanya dari berlian.
Si petani membawanya pulang ...
Malam harinya, petani didatangi seekor landak raksasa dalam mimpinya.
“Ijinkan aku tinggal di rumahmu. Sebagai balasannya, aku akan memberikan apa saja yang kau minta.”
Landak itu mengajarkan untuk mengusap kepala patung landak emas dan mengucapkan kalimat untuk meminta sesuatu.
Jika yang diminta sudah cukup, petani harus mengucapkan kalimat untuk menghentikannya.
Petani menceritakan mimpinya itu kepada isterinya ..
Mereka ingin membuktikan mimpi itu ..
Petani mengusap kepala patung dan mengucapkan kalimat per mintaan.
Ia meminta beras ..
Seketika dari mulut patung keluar lah beras! Beras itu terus mengalir keluar hingga banyak sekali. Petani segera mengucapkan kalimat ke dua dan beras berhenti keluar dari mulut patung landak.
Mereka berdua kemudian meminta berbagai benda yang mereka bu tuhkan. Mereka menjadi sangat kaya. Namun mereka tetap tidak sombong dan makin gemar menolong. Banyak orang datang untuk meminta tolong.
Seorang pencuri mengetahui ra hasia patung landak. Ia berpura-pura minta tolong dan mencuri patung itu.
Pencuri membawa patung itu pu lang. Desanya sedang dilanda kekeringan. Pencuri mengatakan kepada tetangga-tetangganya bahwa ia dapat mendatangkan air untuk kampung mereka.
Pencuri memohon air sambil me ngusap kepala patung dan mengu capkan kalimat permintaan. Air keluar dari mulut patung.
Penduduk desa itu sangat senang. Tak lama kemudian, air yang keluar sudah mencukupi kebutuhan pen duduk desa, namun terus mengalir sehingga terjadi banjir.
Pencuri itu tidak tahu bagaimana menghentikan air yang keluar dari patung.
Penduduk desa lari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Pencuri juga ingin menyelamatkan diri, namun tidak bisa menggerak kan kakinya. Ia melihat seekor landak raksasa memegangi kaki nya.
Akhirnya ia tenggelam dalam air yang makin lama makin tinggi. Air itu kemudian membentuk sungai yang disebut sungai Landak.
- Asal Usul Sungai Kawat**
SEORANG nelayan miskin pergi mencari ikan di sungai. la berharap mendapat ikan agar keluarganya bisa makan.
Kemudian, ia mendayung perahu nya ke tengah sungai. Setelah sekian lama ia melempar umpan, tak satu pun termakan ikan.
Padahal, persediaan makanan di rumah sudah habis. Lalu, ia mendayung perahunya lebih ke tengah saat hari mulai gelap.
Saat hari semakin malam, nelayan ini sudah sampai ke hulu, Sampai saat itu, tidak satu pun ikan memakan umpannya.
Ketika hendak kembali, tiba-tiba ia merasa ada yang menarik pancingnya. Ini pasti ikan besar, pikirnya.
la terus mengulur pancingnya, tetapi lama-kelamaan tarikan dari bawah semakin melemah.
Dengan perlahan ia menarik pancingnya, ternyata di ujung pancingnya hanya tersangkut seutas kawat.
Malam semakin larut, nelayan ini bersiap untuk pulang. Namun, ia dikejutkan oleh sesuatu hal. Sinar bulan yang terang menerangi kawat yang tersangkut di ujung tali pancingnya.
Kawat tersebut bersinar kekuni ngan diterpa sinar bulan.
“Astaga! Bukankah ini emas?" seru nelayan itu.
la memastikan penglihatannya, ternyata memang benar yang dilihatnya itu adalah kawat emas.
la berteriak kegirangan ...
Dengan cepat ditariknya terus ujung kawat tersebut hingga bergulung-gulung di perahunya.
"Aku akan menjadi orang kaya!" serunya bersemangat. la terus menarik kawat tersebut.
Kawat itu seolah-olah tak habis habis ditarik. Si nelayan semakin kesenangan. la tidak menyadari gulungan kawat di perahunya semakin lama semakin berat.
"Hentikanlah. Sudah cukup emas yang kau ambiL"" sebuah suara dari dalam sungai mengejutkannya.
Namun, keserakahan telah mera suki si nelayan. la terus menarik kawat emas itu.
"Hentikanlah! Jika tidak, kau akan celaka," suara gaib itu kembali memperingatkan.
Si nelayan tidak perduli ..
Lama-kelamaan perahunya oleng karena beban yang semakin berat. Air sungai mulai masuk ke dalam perahu.
Si nelayan baru menyadari kesalahannya. Namun terlambat, perahu itu terbalik dan tenggelam ke dasar sungai, tubuh si nelayan pun ikut tenggelam tertimpa perahu dan kawat emas itu.
Semenjak saat itu, masyarakat menyebut sungai tempat tengge lamnya sang nelayan dan kawat emas itu menjadi Sungai Kawat.
Sungai tersebut adalah salah satu anak Sungai Kapuas di Kota Sin tang, Kalimantan Barat
- Bujang Beji***
DAHULU kala, hiduplah dua orang pemimpin yang bernama Bujang Beji dan Tumenggung Marubai. Kedua orang ini mempunya sifat yang sangat bertolak belakang.
Tumenggung Marubai adalah orang yang baik hati dan tidak sombong. Sementara Bujang Beji adalah orang yang sakti, tetapi serakah dan sombong.
Keduanya mempunyai mata pencaharian sebagai pencari ikan dan mempunyai wilayah sendiri-sendiri.
Tumenggung Marubai dan pengikut nya mencari ikan di Sungai Sim pang Melawi, sedangkan Bujang Beji di Sungal Simpang Kapuas.
Wilayah Sungai Simpang Melawi mempunyai banyak sekali jenis ikan, lebih banyak daripada ikan-ikan di Sungal Simpang Kapuas. ltulah sebabnya, basil tangkapan Tumenggung Marubai selalu lebih banyak daripada Bujang Beji.
Tumenggung Melawi menggunakan bubu atau sejenis perangkap besar untuk menangkap ikan. Setelah terkumpul dalam perangkap, ia hanya memilih ikan-ikan yang besar, sementara ikan-ikan kecil dilepaskan kembali sehingga ikan-ikan di Sungal Simpang Melawi selalu berkembang biak dan tidak pernah habis.
Melihat hasil tangkapan Tumenggung Marubai, Bujang Beji merasa iri. la pun mencari cara mengalahkan Tumenggung Melawi.
Lalu, ia menempuh cara yang kurang baik. la mulai menangkap ikan dengan cara menuba, yaitu meracun ikan-ikan tersebut dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan.
Pada awalnya, ia mendapatkan ikan yang sangat banyak. Lebih banyak dari hasil tangkapan Tumenggung Marubai.
Namun, karena cara yang digunakan adalah membunuh ikan-ikan dengan racun, lama-kelamaan ikan-ikan di sungai Simpang Kapuas menjadi sangat berkurang.
Sementara itu, Tumenggung Marubai tetap mendapatkan banyak hasil tangkapan. Ini membuat Bujang Beji menjadi semakin iri.
"lni tidak bisa dibiarkan!" pikir Bujang Beji, "Harus ada cara supaya Tumenggung Marubai tidak mendapatkan banyak ikan."
Kemudian, Bujang Beji mulai berpikir keras. la menemukan cara yang menurutnya terbaik.
"Aku harus menutup aliran Sungai Melawi dengan sebuah batu besar di hulu sungai, dengan demikian ikan-ikan akan menetap di sana," pikir Bujang Beji.
Bujang Beji bermaksud menggunakan puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kapuas Hulu untuk menyumbat Sungai Melawi.
Dengan kesaktiannya, ia memotong puncak Bukit Batu tersebut dan membawanya menggunakan tujuh lembar daun ilalang.
Ketika sedang membawa bukit ba tu tersebut, tiba-tiba terdengar su ara gadis-gadis sedang menerta wakannya. Mereka adalah dewi-dewi di negeri khayangan.
Ketika sampai di persimpangan antara Kapuas dan Malawi, Bujang Beji melongok ke atas untuk melihat siapa yang menertawakannya.
Tanpa sengaja, kakinya menginjak duri beracun hingga la melompat dan menjerit kesakitan. Akibatnya, tujuh lembar daun ilalang yang dipakainya terputus.
Puncak bukit batu tersebut pun terjatuh di sebuah aliran sungai yang disebut dengan jetak.
Bujang Beji sangat marah kepada dewi-dewi khayangan yang menertawakannya.
"Aku akan membalas kalian!" teriaknya sambil menghentakkan kakinya yang tertusuk duri beracun di salah satu bukit di dekatnya.
Kemudian, Bujang Beji berusaha mengangkat Bukit Batu yang sudah terendam di jetak dengan cara mencongkelnya menggunakan sebuah bukit memanjang.
Namun, karena bukit batu tersebut sudah melekat di jetak, usahanya tidak berhasil. Bukit memanjang itu pun patah.
Patahannya kini dinamakan Bukit Liut. Dengan demikian, gagallah usaha Bujang Beji menutup Sungai Melawi.
"Semua karena dewi-dewi khaya ngan. Aku akan membalas den dam," kata Bujang Benji.
Bujang Benji merencanakan untuk menggapai negeri khayangan de ngan menggunakan pohon kum pang mambu, yaitu sejenis pohon kayu raksasa yang ujungnya menju lang ke langit.
la mulai menanam pohon kumpang mambu. Dalam beberapa hari saja pohon tersebut sudah tumbuh ting gi sekali, sampai puncaknya tidak terlihat mata.
Sebelum memanjat kumpang mam bu, Bujang Beji melakukan ritual adat, yaitu memberi sesaji kepada roh-roh halus dan binatang-bina tang di sekitarnya agar tidak meng ganggu usahanya untuk mencapai negeri khayangan.
Namun, ada dua jenis hewan yang lupa diberi sesaji oleh Bujang Beji, mereka adalah kelompok rayap dan beruang.
Rayap dan beruang merasa marah, karena tidak diberi sesaji. Mereka pun berunding untuk menggagalkan usaha Bujang Beji.
"Kita gerogoti saja pohon kumpang mambu itu hingga terputus!" usul beruang.
Kelompok Rayap pun setuju ..
Ketika Bujang Beji mulai memanjat pohon kumpang mambu, segerombolan rayap dan beruang datang menyerbu dan menggerogoti pohon tersebut di bagian bawah hingga pohon tersebut terputus.
Pada saat itu, Bujang Beji sudah hampir mencapai negeri khaya ngan. la pun terhempas jatuh ke tanah dan tewas seketika.
Dengan demikian, usaha Bujang Beji mencelakai dewi-dewi khayangan pun gagal. Tumenggung Marubai pun terhindar dari niat jahat Bujang Beji.
Sementara itu, puncak Bukit Nanga Silat yang terlepas dari pukulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam.
Kini Bukit Kelam menjadi salah satu objek wisata di daerah Sin tang, Kalimantan Barat, dan men jadi kawasan hutan wisata dengan pemandangan yang sangat indah.
______
* Pesan moralnya ...Barang siapa mendurhakai ibu kandung yang te lah melahirkan dan membesarkan pasti kita maka tunggulah perbua tan laknat kita itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
- resourceful-parenting.blogspot.com > asa ...
- https://dongeng ceritarakyat.com
** Pesan moral dari cerita rakyat 'Asal Usul Sungai Kawat' adalah sifat serakah merupakan sifat yang sangat buruk dan akan merugikan mu di masa yang akan datang.
*** Kisah Bujang Beji memberi pe san moral bahwa jauhilah sifat iri karena akan merugikan diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar