Jumat, 09 November 2018

Satu Tiang (6)




Satu Tiang (6)
Oleh Wak Amin



SATU jam kemudian ...

Telepon berdering di pos jaga ..

"Pak Lim. Suruh mereka masuk sekarang!"

"Siap Pak!" Jawab Pak Lim. Berdiri tegap sambil memberi hormat.

Tidak mudah bagi Pak Lim untuk membangunkan Nasrul dan Alif. Bukan karena tak mau.

Tapi ngan tuk berat ...

"Ada apa Pak Lim?" Tanya Nasrul
Mata melek mejam.

"Dipanggil Pak Bos sekarang."

"Bilang sama Pak Bos. Kalau mau ketemu Nasrul langsung saja kemari."

"Iya Pak Lim," sahut Alif, "Bilang sama Pak Bos, kalau mau ketemu beliau yang harus kesini, bukan kami yang kesana. Paham?"

"Pa .. Paham Pak Alif. Tapi ..." Pak Lim jadi bingung. Nasrul sama Alif serius apa tidak ya. Ini kan Pak Bos yang minta. Bukan orang lain.

"Gimana ya?"

"Sudah, temui lagi Pak Bos. Kata kan kalau mau ketemu kami beliau yang harus datang menemui kami di sini," kata Nasrul.

"Baik Pak. Baik ..." Jawab Pak Lim bergegas ke pos jaga.

Pak Lim menyampaikan pesan Nas rul dan Alif kepada Pak Bos. Sudah bisa ditebak.

Belum habis Pak Lim bicara, dia pukul meja kerjanya. Bergegas ke teraz menemui dua anak buahnya
yang 'kurang ajar' dengan muka merah dab marah besar.

Traaak ...

Gaaaar ...

Kaki kursi ditendang, Nasrul dan Alif terjatuh dari kursi ...

"Bangun ...!" Bentak Bos Besar.

"Siap Pak Bos," jawab keduanya serempak. Berdiri saksi menun dukkan kepala.

Plaaaak ...

Plaaak ...

Kena tampar masing-masing sebanyak dua kali ...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar