Kamis, 29 November 2018

Sekuntum Bunga (14)

Sekuntum Bunga (14)
Oleh aminuddin






Mengapa Makam Fatimah Az-Zahra Dirahasiakan?


TARIKH ini dicatat dalam catatan-catatan lintas mazhab, utamanya dalam Syi’ah dan Sunni, baik dari kalangan muhaddits hingga para sejarawan yang semasa atau yang hidup di jaman berikutnya.

Memang, ada satu kejanggalan, ketika mayoritas ummat Islam barangkali tidak pernah bertanya ‘di mana gerangan makam Fatimah Az-Zahra as?’

Tetapi, marilah kita mulai saja ba hasan ini ...

Sebuah rombongan (kafilah) kecil yang terdiri dari orang-orang yang setia dan patuh pada Rasulullah SAW tampak berjalan gontai.

Segukan tangis lirih yang terasa mengiris-iris hati yang pilu terdengar dari mereka ..

Wajah-wajah mereka lusuh tertun duk tersembunyi dalam tutup-tutup kepala yang jatuh menaungi kepala-kepala mereka ...


Rombongan (kafilah takziah) itu berjalan tanpa mengeluarkan bunyi berarti ke sebuah tempat sunyi yang khusus untuk menguburkan salah seorang manusia suci yang mereka cintai.

Mereka berjalan dalam kegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun 11 Hijriah ..

Rombongan itu menyusuri jalan-jalan kota Madinah ...

Terasa segar dalam ingatan, baru beberapa lama lewat mereka melakukan hal yang sama untuk manusia suci lainnya, Muhammad Al-Mustafa.

Sekarang giliran puterinya yang tercinta, Fatimah Az-Zahra (as) ........

Dalam rombongan itu ada anak-anak dengan ayah mereka beserta teman-teman dekat dari sang ayah. Mereka semua berjalan dalam kebisuan dan kesabaran.

Pada wajah-wajah mereka tampak kepasrahan dan keridhaan akan apa yang telah menimpa mereka selama beberapa hari ini.

Akan tetapi, meskipun begitu, sese kali masih terdengar tangis yang tertahan di tenggorokan, meski air mata yang mengucur deras dengan tangisan yang lirih sekali hampir tak terdengar, seakan ingin menyembunyikan kepedihan yang telah menimpa mereka agar tidak ada orang yang mendengar mereka di kegelapan malam, karena memang mereka tidak ingin seorangpun tahu di kota Madinah itu bahwa mereka sedang melakukan sebuah perbuatan yang akan direkam baik oleh sejarah.

Seorang ayah yang tadi disebutkan di atas ialah Imam Ali (as), sementara anak-anak yang turut bersamanya ialah putera-puterinya.

Ada Imam Hasan (as) di sana, ada Imam Husain (as), ada Zainab, dan ada Umm Kultsum yang berjalan gontai dalam kebisuan di belakang ayahnya.

Bersama mereka ada para sahabat pilihan yang sangat setia kepada Nabi SAW, baik ketika Nabi masih hidup atau ketika sudah wafat.

Mereka adalah Abu Dzar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad al-Aswad, dan Salman Al-Farisi ...

Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup, ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali (as) membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fatimah Az-Zahra (sa).

Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan ...

Akan tetapi di manakah ribuan penduduk kota Madinah yang seharusnya ada di tempat?

Ketika iringan pengantar jenazah puteri Nabi itu lewat, mengapa tak seorangpun dari mereka datang melawat?

Mengapa pemakamannya dilangsu ngkan pada saat dianggap sangat tidak tepat?

Mengapa pemakaman itu harus dilangsungkan di kegelapan malam yang pekat?

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (sa) memang merencanakan itu semua sebelum wafatnya, dan telah memberi wasiat kepada Imam Ali bin Abi Thalib as agar para penduduk kota Madinah itu tidak datang ke pemakamannya.

Ia ingin dikuburkan pada malam hari dan ingin agar kuburannya disembunyikan dari pengetahuan penduduk kota Madinah ...

Ada kesunyian dan keheningan yang mencekam di sana, namun tiba-tiba terdengar tangisan agak keras dan parau memecah kesunyian tersebut.

Tangisan itu datang dari pahlawan padang pasir yang musuh mana pun pasti akan ngeri dan menying kir saat berhadapan dengannya.

Tapi tangisan itu tiba-tiba terdengar lebih keras seakan ingin menuntas kan rasa penasaran, setelah sebe lumnya berusaha ditahan sekuat tenaga dan perasaan.

Sang pahlawan itu berkata dalam tangisannya ...

“Ya, Rasulullah! Salam bagimu, wahai kekasihku. Salam dariku dan dari puterimu yang sekarang ini akan datang kepadamu dan ia sangat bergegas meninggalkanku untuk sampai kepadamu ...

Ya, Rasulullah, rasa luluh lantak terasa pada diriku dan rasa lemah tak berdaya telah menggerogoti di riku. Itu tak lain karena engkau dan puterimu telah meninggalkanku ..

Tapi aku sadar semua ini milik Allah dan kepada-Nyalah segala sesuatu itu kembali." (Al-Quran Surah Al-Baqarah [2] Ayat 156)

Semua yang telah dititipkan itu akan diambil kembali ..

Semua yang pernah kita miliki itu akan diambil lagi oleh pemiliknya yang sejati ...

Sementara itu, kepedihan dan kese dihan Imam Ali, sang washinya Muhammad SAW itu, tetap berse mayam dalam dirinya, baik siang maupun malam.

Tak ada batasan yang jelas bagi Imam Ali kapan ia bersedih dan kapan ia terbebas dari kesedihannya itu.

Kepergian dua orang yang dicintai nya sangat mengguncang dirinya. Perasaan itu akan tetap pada dirinya hingga dirinya nanti bertemu lagi dengan yang dicintainya, yaitu pada hari dimana ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap-Nya.

Imam Ali kembali mengadu kepada Rasulullah SAW dalam rintihan yang lirih ...

”Ya, Rasulullah, puterimu pastilah akan mengadukan kejadian yang sedang menimpa umat ini. Puteri mu ingin umat ini bersatu kembali. Puterimu ingin agar engkau datang kembali agar bisa mempersatukan umat yang sudah bercerai berai ini.

Dan engkau nanti akan bertanya padanya secara rinci. Engkau akan bertanya mengapa umat ini menentang keluarga Nabi ...

Mengapa mereka mengkhianati apa-apa yang telah ditentukan oleh Nabi ...

Dan mengapa mereka melakukan hal ini, padahal kematianmu itu ba ru saja terjadi dan umat masih me rasakan kejadian ini!

Salam untuk kalian berdua .!

Salam perpisahan dariku yang sedang berduka bukan dariku yang telah tak suka kepada kalian berdua.

Kalau aku pergi dari pusara kalian, itu bukan karena aku merasa bosan kepada kalian. Dan kalau aku berlama-lama di pusara kalian, itu bukan karena aku tak lagi percaya dengan kuasa Tuhan dan apa yang telah Tuhan janjikan kepada orang-orang yang tengah ditimpa kepedihan.”

Setelah menguburkan Fatimah Az-Zahra (as), rombongan berisi keluaga dekat Nabi dan para sahabat pilihannya itu pun segera bergegas kembali ke rumahnya masing- masing, sehingga tidak ada satu orangpun di kota Madinah yang tahu di mana Fatimah Az-Zahra as dikuburkan (dimakamkan).

Sesampainya mereka di rumah, anak-anak dengan segera sadar bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ibunya ...

Mereka merasakan kesepian yang mencekik ..

Imam Ali segera menghibur mereka supaya kesedihan tak terlalu larut membawa pikiran mereka.

Akan tetapi memang pada kenyata annya hal itu tidak mudah dilaku kan.

Imam Ali mencoba menenangkan diri mereka dan kemudian ia sendiri masuk ke dalam kamar dan kemudian larut dalam tangisan yang sendu.

Sang pahlawan Badar, Uhud, Khaybar, Khandaq dan beberapa perang lainnya itu merasakan kelelahan yang luar biasa dalam menahan kepedihan dan akhirnya ia lampiaskan dalam tangisan.

Tangisan karena rasa cinta dan kehilangan, bukan tangisan manja dan penuh keputus-asaan.

Mereka semua telah melalui serang kaian kejadian yang menyesakkan sepeninggal Rasulullah SAW ..

Pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah yang hak dan yang sesung guhnya, pemimpin dalam agama dan masyarakat atau pemimpin umat sebagai Imam sekaligus pemegang hak kekhalifahan yang dicuri saat beliau dan keluarganya sedang memakamkan Rasulullah, dan washi (sebagai pengemban wasiatnya) Muhammad SAW di Ghadir Khum telah dilupakan secara sengaja oleh banyak orang, ketika sebagian sahabat tergiur kekuasaan untuk menjadi khalifah.

Tanah Fadak warisan Rasulullah SAW pun sudah dirampas semasa Abu Bakar berkuasa ..

Rumah mereka telah diserang oleh para utusan khalifah pertama demi memaksakan bai’at bagi ke-Khalifahan Abu Bakar ...

Pintu rumah keluarga Nabi yang dibakar itu pun menimpa Fatimah Az-Zahra as —pintu itu mematahkan beberapa tulang iganya dan menggugurkan kandungannya.

Isteri sang Imam harus terbaring sakit di ranjangnya selama bebe rapa hari setelah itu ..

Terbaring sendirian dan terisolasi dari dunia luar dan kemudian me ninggal dalam kepedihan yang menyesakkan!

Malam hari itu, setiap anak terpaksa saling menghibur untuk meredakan kesedihan mereka.

Mereka berkumpul dalam satu ka mar dan tidur kelelahan, sungguh memang hari-hari yang berat akan masih menyambangi mereka satu demi satu.

Sementara itu Bunda Fatimah Az-Zahra as menyaksikan mereka dengan wajah sendu ...



Mengapa Dirahasiakan?

Hingga detik ini, tidak ada seorang pun yang tahu persis di manakah makam (kuburan) Sayyidah Fati mah Az-Zzahra (as), yang kepada nya Rasulullah SAW selalu membe rikan pernghormatan yang penuh takzim.

Rasulullah SAW selalu senantiasa berdiri menyambut apabila Fatimah Az-Zahra as datang menjenguk ...

Rasulullah SAW seringkali berkata (yang acapkali didengar langsung oleh sejumlah para sahabat dan kaum muslim):

“Fatimah itu adalah bagian dari diriku. Siapapun yang menyakiti diri Fatimah akan berarti menyakiti diriku.”

Sejarah telah mencatat bahwa Fati mah dikuburkan di sekitar Jannat al-Baqi di Madinah, akan tetapi tidak ada seorangpun yang tahu tempat persisnya.

Tak ada seorangpun yang bisa me nunjukkan dengan pasti di mana makam dari puteri Nabi yang suci itu ...











_____

sulaimandjaya.blogspot.com > 2015/07

Tidak ada komentar:

Posting Komentar