Kamis, 13 Desember 2018

Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (2)

Kenapa Keluarga Nabi Dihabisi (2)
Oleh aminuddin



1.1. Detik-detik wafatnya Ali bin Abi Thalib


MALAM Jumat, 17 Ramadhan adalah waktu yang direncanakan Ibnu Muljam untuk membunuh Ali bin Abi Thalib.

Keluarlah orang yang paling celaka ini untuk mewujudkan kebinasaa nnya...

Di tengah keheningan akhir malam, dia dapati Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berjalan ..


Dengan penuh ketawadhu’an kepa da Allah dan penuh kecintaan pa da Rabbul ‘alamin, Ali bin Abi Thalib keluar untuk menunaikan shalat shubuh.

Beliau berjalan menuju saat-saat yang telah Allah SWT tetapkan ..

Dengan tiba-tiba Ibnu Muljam menebaskan pedangnya dengan penuh kekuatan ke arah Ali bin Abi Thalib, tepat mengenai kening yang diisyaratkan Rasulullah SAW dengan telunjuk beliau yang mulia.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Pedang beracun tepat mengenai kening Ali bin Abi Thalib . Bukan sekadar goresan, namun luka yang demikian dalam hingga mencapai ubun-ubunnya.

Kening yang senantiasa bersujud kepada Allah SWT, kening yang di pandang Rasulullah dengan penuh cinta dan kasih sayang, kening ya ng telah penuh dengan debu jihad bersama Rasul, kening yang telah dijamin selamat dari api neraka, ki ni disambar pedang Ibnu Muljam.

Darah pun bersimbah… Awan kelabu meliputi Kufah, menorehkan kesedihan dalam catatan sejarah.


Allah SWT tetapkan syahadah bagi beliau dan Allah tetapkan kecela kaan bagi Ibnu Muljam Al-Khariji, sebagaimana sabda Rasulullah :

وَأَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَطْعَنُكَ يَا عَلِيُّ

“Dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai ‘Ali!”


Ketika pedang mengenai Ali, beliau berseru: “Jangan biarkan orang ini lepas!”

Orang-orang yang mendengar seru an Ali bergegas menangkap Ibnu Muljam. Saat itu datanglah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib.

Ummu Kultsum berkata: “Wahai musuh Allah, engkau telah mem bunuh Amirul Mukminin!”

Ibnu Muljam berkata: “Dia hanya sekadar bapakmu.” (bukan Amirul mukminin, pen.).

Kata Umu Kultsum: “Demi Allah, aku benar-benar berharap semoga Amirul Mukminin tidak apa-apa.”

Tetes-tetes air mata cinta dan kesedihan pun mengalir memba sahi pipi Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib.” Ya, tetes air mata rahmah…

Dengan ketus Ibnu Muljam berka ta: “Kenapa kau menangis? Demi Allah, aku telah rendam pedangku ini dalam racun selama sebulan, sungguh tidak mungkin dia akan hidup setelah aku mati, aku pasti berhasil membunuhnya!”

Malam Ahad, sebelas hari tersisa dari bulan Ramadhan tahun 40 H, wafatlah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Beliau dimandikan kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain , dua cucu Rasulullah dan Abdullah bin Ja’far (keponakannya), dan dikafani dengan tiga lembar kain tanpa me makai gamis, sebagaimana Rasulullah SAW dikafani.

Meninggal dunia setelah 4 tahun 8 bulan 22 hari masa kekhilafahan, di umur beliau yang ke-63.

Hasbunallah wani’mal wakil.


- Tangisan Aisyah untuk Ali

KETIKA Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah ketiga menggantikan Utsman, Aisyah terlibat dalam gerakan orang-orang yang menuntut balas atas pembunuhan khalifah kedua itu. Sesuatu yang belum dilakukan oleh pemerintahan Ali.

Konflik inilah yang kelak dikenal dengan Perang Jamal (unta) ..

Pada saat terjadi pertempuran, pasukan Aisyah kalah. Setelah itu, Ali memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar, saudara Aisyah, untuk mengantarkan Ummul Mukminin.

Muhammad mengantar Aisyah ke rumah Abdullah bin Khalaf Al-Khuza’i, salah seorang yang gugur dalam pertempuran hari itu.

Kemudian Ali menyiapkan segala sesuatu, berupa tunggangan, perbekalan, dan makanan untuk Aisyah.

Pada hari Aisyah hendak meninggalkan kota Basrah, Ali datang padanya dan berdiri di sampingnya.

Banyak pula orang yang datang, lalu Aisyah keluar menemui mereka untuk mengucapkan salam perpisahan.

Aisyah berkata, “Wahai anak-anakku, kita saling menegur satu sama lain dengan santun dan sopan untuk mencari kebenaran, maka janganlah kalian saling bermusuhan satu sama lainnya yang dapat menimbulkan perpecahan. Sungguh demi Allah, apa yang terjadi antara diriku dan Ali di masa lalu merupakan sesuatu yang terjadi antara perempuan dan kawan karibnya. Sesungguhnya bagi diriku merupakan teguran dari orang-orang yang terpilih.”

Ali menambahkan, “Wahai manusia, benar ucapan Aisyah, demi Allah apa yang disampaikannya merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Apa yang telah terjadi antara diriku dan dirinya sebagaimana yang telah diucapkannya. Sesungguhnya dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan akhirat.”

Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib terbunuh, berita duka terse but sampai ke Madinah.

Kesedihan melanda kota Madinah, persis saat kesedihan mereka menghadapi wafatnya Rasulullah SAW.

Aisyah juga teramat sedih dan ber linang air mata, bukan tangisan yang dibuat-buat ...

Keesokan harinya,  Aisyah pergi menuju makam Rasulullah. “Wahai Rasulullah, dan juga para sahabatmu,” kata Aisyah.

“Aku datang membawa berita duka padamu. Orang yang paling kau sa yangi, orang yang selalu kau ingat sepanjang hidupmu, orang yang pabling mulia di sisimu telah terbu nuh. Demi Allah, orang yang mem punyai istri terbaik diantara para wanita itu telah terbunuh. Demi Allah, orang yang beriman dan memegang teguh amanah telah wafat. Sungguh diriku merasa sedih dan banyak orang yang menangis karena kepergiannya.”









_____

- https://www.republika.co.id>sirah-sahabat

-Asysyariah.com> manusia> paling>celaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar