Minggu, 09 Desember 2018

Mangkuk (14)

Mangkuk (14)
Oleh Wak Amin




"HALO Bos. Apa kabar?" Tanya Mr Jango, terheran-heran karena tak biasanya Mr Rahman menelepon. Paling, jika ketemuan di suatu tem pat, entah itu hotel rumah makan, lapangan tenis dan lapangan golf, senyum sambil lalu.

"Kabarku tak baik Bro, kebetulan har ini," kata Mr Rahman, sambil utak-atik layar komputer.

"Wah .. Wah. Kenapa bisa tak baik itu Bos. Apa Bos mau bangkrut?"

"Huussy kamu. Rahman ini. Mana ada dalam kamus Rahman nama nya bangkrut .."

Ha ha ha ha ...

"Lantas, kalau bukan bangkrut, apa Bos?"

Berceritalah Mr Rahman ...

Tiga  temannya tewas terbunuh di tempat yang berbeda. Belum jelas siapa pelakunya.

Belakangan ada penelepon gelap. Bikin teror dan takut Mr Rahman. Bukan cuma tebar ancaman via telepon, tapi juga menembak dan melempar bahan peledak.

"Kamu tahu maksud aku kan Bro?"

"Kurang lebih .."

"Maksudnya?"

"Bos surah aku tangkap dia orang kan?"

"Betul sekali. Aku yakin kamu bisa Bro. Aku yakin itu ..."

Hua ha ha ha ...

"Mudah-mudahan bisa Bro, asalkan tentunya ..."

"Pulus Bro?"

"Nah, sudah tau kan yang kumak sud ..."

He he he he ...

"Beres. Berapa kamu minta aku bayar. Katakan saja Bro."

Ha ha ha ha ...

"Aku tak minta banyak Bro. Secu kupnyalah ..."

Ha ha ha ha ..

"Ya oke. Secukupnya itu berapa Bro?"

Ha ha ha ...

"Kamu ini tak berubah dari dulu Bos. Terlalu serius. Santailah .. San tai aja .."

"Bagaimana kubisa santai Bro. Aku terus diteror ..."

Ha ha ha ..

"Eeem begini saja Bos. Aku minta persekot dululah. Terserah berapa. Aku tak maksa ... "

"Oke .."

"Kutunggu di kafe simpang lima. Se pakat?"

"Sepakat ..."

"Hari ini?"

"Besok. Jamnya terserah kamu. Kamulah yang ngatur. Kamu kan Bos. Tapi menurutku, enaknya jelang tengah malam."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar