Oleh amin
SELAMA dalam perjalanan Mr Rah man memohon pada William untuk melepaskannya karena dia tidak se ngaja menghabisi nyawa The Big Bos.
"Dia itu sahabat saya. Masa saya tega-teganya mau menghabisi sa habat," ucap Mr Rahman dengan suara terbata-bata minta belas kasihan.
Syuuuuut ...
Mobil berhenti mendadak ..
William menoleh ke belakang. Geram bukan main.
"Anda telah mengkhianati abang saya Tuan Rahman."
"Tidak. Saya tidak berkhianat," jaw ab Mr Rahman sambil menangis sesunggukan.
Praaak ...
Bug .. Bug ...
"Adoow ... Ampun. Ampun. Ampun. Saya mengaku salah," jerit Mr Rah man sambil menutup mukanya de ngan telapak tangan agar tidak ter kena pukulan yang dilepaskan Wil liam secara membabi-buta.
Mobil melaju ...
Dari balik kaca spion, William meli hat Mr Rahman tertidur. Tidak me nangis lagi.
Seperempat jam kemudian mobil berhenti di sebuah gudang. Lalu be lok kanan memasuki halaman de pan gedung yang diapit jejeran po hon besar dan kecil itu.
Usai masuk garasi belakang, Willi am turun dari mobil dan menurun kan paksa Mr Rahman.
"Dimana ini?" Mr Rahman terheran-heran. Ada dimana dia saat ini.
"Jangan banyak ngomong. Cepat turun taun!" Hardik William sambil menarik paksa tangan Mr Rahman.
Bruuug ...
"Adoooow."
Saking kencangnya tarikan, Mr Rah man ter hempas di aspal. Pantatnya terasa nyeri dan sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar