Menulis Buku (2)
Oleh aminuddin
1.2. Sulitnya Mengatur Waktu
SEORANG penulis tidak boleh me nyia-nyiakan waktu. Dia harus me manfaatkan peluang untuk me nindaklanjuti apa yang telah dikerjakannya.
Banyak sekali calon penulis menya takan dirinya tidak mempunyai wak tu untuk menulis. Justru seorang penulis dapat menulis di sela-sela waktu di mana orang lain tidak melakukan apa-apa.
1.3. Disiplin Menjalankan Rencana
Pertama-tama yang harus kita tata adalah rencana. Rencana sebaik nya dikelompokkan menurut skala prioritas dan dilakukan sesuai de ngan waktu yang tersedia dan kemampuan kita.
Hal kedua yang harus kita lakukan adalah kedisiplinan. Kita harus berani mengatakan tidak pada aktivitas yang tidak bermanfaat dan perlu memberikan prioritas pada aktivitas yang penting.
Menghindarkan diri dari aktivitas yang membuang waktu sangat di perlukan oleh seorang penulis ...
1.4. Menganggap Remeh Ide
Ide yang berlimpah, tapi tidak ditulis dan dikelola bisa mem bingungkan.
Kita perlu menuliskan ide-ide acak kita untuk kemudian dikelompok kan ..
Lalu dipilah-pilah, dan akhirnya ide-ide yang tidak relevan dising kirkan ...
Setelah kita mendapatkan baya ngan apa yang hendak kita tulis, pikirkan topik atau judul yang co cok untuk ide-ide itu.
Alirkan ide-ide itu dalam bentuk tulisan dengan mengacu pada ju dul-judul bab atau bagian dan sub babnya ...
1.5. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Untuk menjadi orang yang percaya diri, memang diperlukan proses yang bertahap.
Keberanian mencoba mengirimkan naskah ke penerbit adalah indikasi awal adanya rasa percaya diri.
Rasa percaya diri ini akan semakin meningkat bila dilatih ...
1.6. Kemalasan
"A lazy person is as bad as someone who is destructive."
Pemalas itu sama buruknya de ngan perusak. Kemalasan akan merusak hubungan kita dengan keluarga kita, lingkungan tempat kita bekerja dan tinggal, serta bangsa dan negara.
Pernahkah kita merasakan akibat kemalasan kita sendiri, kawan-ka wan sejawat kita, atasan kita, ora ng-orang di sekitar kita, anggota ke luarga kita, dan lain sebagainya?
Apa yang telah rusak sebagai aki bat kemalasan tersebut?
Mari kita renungkan jawabannya dan mulai dari diri kita terlebih dahulu untuk menyingkirkan bibit-bibit kemalasan dalam diri kita.
1.7. Terlalu Perfeksionis
Kita sebaiknya tidak menunda naskah sampai sempurna untuk diterbitkan.
Jika karya kita dianggap bagus oleh pihak penerbit, sudah pasti mereka akan membantu kita me nyempurnakan naskah kita.
Dan, dengan terbitnya buku kita, un tuk sementara karya kita sudah dianggap sempurna ..
2. Rintangan Eksternal
Rintangan eksternal adalah rinta ngan yang berasal dari luar diri kita...
Karena berasal dari luar diri kita, rintangan ini umumnya lebih mu dah diatasi ketimbang rintangan internal.
Berikut kami tampilkan beberapa rintangan eksternal ...
2.1. Kurangnya Sarana
"Saya tidak punya komputer," kata seorang penulis.
Seorang penulis yang benar-benar ingin menulis tidak akan meman dang ketiadaan sarana seperti ini sebagai sebuah rintangan yang besar.
Rintangan itu mudah sekali dia tasi. Setelah mencatat konsep atau ide yang berseliweran di benaknya, seorang penulis bisa melanjutkan proses berkaryanya di penyewaan (rental) komputer.
Bagi orang-orang yang berpikiran kreatif, komputer atau laptop dan sejenisnya bisa dimiliki dengan ca ra selain membeli tunai, misalnya dengan kredit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar