Anak Berbakat (14)
Oleh aminuddin
WITTY (1985) menyatakan bahwa kekurangan perhatian pada anak berbakat intelektual ini karena ada nya kepercayaan akan adanya ta khayul tentang anak berbakat intelektual yang tidak dapat dijelaskan secara hukum.
Juga adanya anggapan bahwa ke cepatan matang secara intelektual adalah suatu hal yang bersifat pato logis. Bahkan sampai dengan tahun 70-an, menurut Vernon (1977), ang gapan tentang anak berbakat ma sih juga dikaitkan dengan neurosis dan keadaan gila (Vernon, 1977).
Oleh karena itu pula, banyak orang tua yang tidak ingin memiliki anak yang tergolong anak berbakat inte lektual bahkan menutupi keberba katan mereka.
Demikian pula dinyatakan oleh Reynold dan Brich (1977), Hallahan dan Kauffman (1978) dalam Sellin dan Brich (1980), bahwa miskon sepsi yang ada meningkatkan citra yang negatif pada masyarakat dan menimbulkan kecemasan pada orang tua.
Penelitian Lange Euchbaum (1932) yang dikutip dari Laycock (1979) menunjukkan bahwa di antara sera tus anak jenius, hanya ada bebera pa saja yang bebas dari abnormal.
Hubungan yang ada mungkin, me nurut Lange-Eichbaum, adalah ke mampuan mental yang begitu he bat membawa pada tanggung ja wab emosi yang juga lebih besar, kepekaan, kekayaan fantasi, dan mungkin perasaan rendah diri.
Laycock juga mengambil kesim pulan bahwa orang-orang yang begitu pintar ini tidak saja tidak sama, tetapi penyimpangan yang terjadi juga sering menunjukkan adanya tanda dari keadaan sakit.
Penelitian yang dilakukan Lita Hollingworth (1926), yang meneliti anak-anak dengan IQ di atas 180 juga menghasilkan pandangan bahwa ada kebingungan yang khas dalam kehidupan anak berbakat. Semakin inteligen seorang anak, semakin ia menjadi terlibat dalam kesulitan yang membingungkan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar